• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fungsi dan Tujuan Bintal

DISKURSUS PEMBINAAN MENTAL TENTARA

B. Fungsi dan Tujuan Bintal

Jiwa atau mental manusia perlu dididik atau dibina guna menanamkan nilai-nilai agama pada dirinya. Allah SWT menciptakan jiwa manusia, yang mempunyai potensi untuk melakukan kebaikan atau keburukan. Allah SWT juga menjadikan manusia mampu untuk menggunakan anggota tubuh yang dikaruniakan-Nya tanpa ketentuan arah jalan tertentu. Manusia diberi jalan yang di kehendaki-Nya.

Sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Syams [91] :7-9

ُاََّٰىََْشُاَيَوُ ٖسۡفَجَو ٧

اًَََّّ ۡ ل َ أَف

ُ

ُاََّٰىَْۡقَتَوُاََِرْهجهف ٨

ُاََّٰى كَزٌَُيَُحَوۡف َ َ أُۡدَق ٩

....dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.

Pembinaan mental merupakan suatu kemestian dan pasti dapat dilakukan. Oleh karena itu, pembinaan mental pasti mempunyai fungsi bagi orang yang mendapatkan pembinaan. Soli Abimanyu sebagaimana

116 Djoko Suyanto, Buku Induk Pembinaan Mental TNI,(Jakarta: Mabes TNI,2008),hlm.41. Maksudnya, Pinaka Baladika merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem pembinaan personel TNI bahkan menjadi sebu ah doktrin yang harus di pedomani setiap pimpinan dalam membina anak buahnya.

dikutif oleh Adz-Dzaky menyatakan bahwa fungsi pembinaan mental meliputi :

Pertama, fungsi remidial atau rehabilitative. Secara psikologis, pembinaan mental lebih banyak menekankan pada fungsi remidial, karena sangat dipengaruhi oleh psikologis klinis dan psikiatri. Peran rehabilitatif pada pembinaan mental berfokus pada penyesuaian diri, menyembuhkan masalah psikologis yang dihadapi, mengembalikan kesehatan mental dan mengatasi gangguan emosional.

Kedua, fungsi edukatif. Peran edukatif pada pembinaan mental terfokus pada peningkatan keterampilan, mengidentifikasi dan memecahkan masalah-masalah hidup dan membantu meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi transisi kehidupan untuk keperluan jangka pendek. Pembinaan mental juga membantu dalam menjelaskan nilai-nilai, menjadi lebih tegas, mengendalikan kecemasan, meningkatkan keterampilan keterampilan komunikasi antar pribadi, memutuskan arah hidup, menghadapi kesepian dan semacamnya.

Ketiga, Fungsi preventif haruslah mendahului munculnya kebutuhan atau masalah. Upaya ini meliputi pengembangan strategi-strategi dan program-program yang dapat digunakan untuk mencoba mengantisipasi dan mengelekan resiko-resiko hidup yang tidak perlu terjadi.117

Menurut Mubarok fungsi kegiatan mental agama yaitu:

Pertama, pembinaan mental sebagai langkah pencegahan (preventif). Pembinaan mental ini ditujukan kepada orang-orang yang di duga memiliki peluang untuk menderita gangguan kejiawaan (kelompok berisiko) misalnya orang-orang yang terlalu berat penghidupannya, orang-orang yang bekerja amat sibuk seperti mesin, orang-orang yang tersingkir oleh sistem sosial. Pembinaan mental yang bersifat preventif ini harus dilakukan secara aktif, terprogram, dan bersistem dengan mengadakan program-program kegiatan semacam

117 Hamdan Bakran Adz-Dzaky, Psikologi dan Pembinaan mental Islam, (Yogyakarta:Fajar Pustaka Baru,2001),hlm,217.

81 pengajian, kunjungan sosial, olah raga, kerja bakti sosial. Yang kesemuanya dapat berfungsi sebagai bentuk pencegahan.

Kedua, pembinaan mental sebagai langkah kuratif atau korektif.

Pembinaan mental dalam fungsi ini sifatnya memberi bantuan kepada anggota untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Dalam hal ini informasi perlu disebarluaskan bahwa pembinaan mental agama dapat membantu memecahkan masalah kejiwaan yang dihadapi orang.

Informasi ini dapat disebarluaskan melalui media komunikasi atau melalui majelis taklim.

Ketiga, Pembinaan mental sebagai langkah pemeliharaan (preventif). Pembinaan mental ini membantu anggota agar tetap bahagia, tidak mengalami problem yang dihadapi. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan membentuk club yang anggotanya para anggota atau ex anggotadengan program yang terjadwal, seperti ceramah-ceramah keagamaan atau keilmuan, program aksi sosial untuk kelompok masyarakat yang tidak mampu, misalnya secara aktif mnghimpun dana bagi pasien tidak mampu di rumah sakit, panti asuhan, panti jompo atau menawarkan program produktif berupa penghimpunan dana bagi beapeserta didik mahapeserta didikberprestasi tapi tidak mampu, menawarkan program wisata ziarah dan lain-lain.

Keempat, fungsi pengembangan (developmental). Pembinaan mental ini berfungsi membantu klien agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya pada kegiatan yang lebih baik. Kegiatannya dilakukan dengan mendirikan club dengan penekanan program yang terarah, yang melibatkan anggotanya baikdalam perencanaan, pelaksanaan, maupun pengembangan. Anggota yang sudah senior dapat menjadi pengurus dari lembaga-lembaga yang melakukan kegiatan sosial, pendidikan dan keagamaan. Denganaktif sebagai pengurus, diharapkan dapat membantu orang lain yang sedang menghadapi masalah.118

Tujuan pembinaan mental spiritual pada dasarnya berangkat

118 Ahmad Mubarok, Al-Irsyad an-Nafsy; Pembinaan mental Agama Teori dan Kasus, (Jakarta:Bina Rena Pariwara,2000), hlm, 91-93.

dari landasan religius yang terdapat pada surat at-Taubah QS [9]::122

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

Sesuai dengan pengertiannya, pembinaan bertujuan untuk mengubah pribadi menjadi lebih baik atau menuju sempurna. Seorang pembina bertugas untuk memberikan arahan yang baik kepada yang dibina. Sesuai dengan firman Allah dalam surat asy-Syura QS [42]:52

َُكِلََٰذَكَو

“Dan demikian Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Quran) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki. Dan sesungguhnya kamu benar-benarmemberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

Sedangkan tujuan pembinan mental dalam Islam menurut Al-Dzaky adalah: Pertama, untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan, kesehatan dan kebersihan jiwa serta mental. Jiwa menjadi tenang dan damai (muthmainnah), bersikap lapang dada (radhiyah) dan mendapatkan pencerahan taufik dan hidayah Tuhannya (mardhiyyah);

Kedua, untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan dan kesopanan tingkah laku yang dapat memberikan manfaat baik pada diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan kerja maupun lingkungan sosial dan alam sekitarnya;

83 Ketiga, untuk menghasilkan kecerdasan rasa (emosi) pada individu sehingga muncul dan berkembang rasa toleransi, kesetiakawanan, tolong menolong dan rasa kasih sayang;

Keempat, untuk menghasilkan kecerdasan spiritual pada diri individu sehingga muncul dan berkembang rasa keinginan untuk berbuat taat kepada Tuhannya, ketulusan mematuhi segala larangan-Nya, serta ketabahan menerima ujian-Nya;

Kelima, untuk menghasilkan potensi ilahiyah, sehingga dengan potensi itu individu dapat melakukan tugasnya sebagai kholifah dengan baik dan benar. Ia dapat menanggulangi berbagai persoalan hidup dan memberikan kemanfatan dan keselamatan bagi lingkungannya pada berbagai asfek kehidupan.119

Menurut Mubarok pembinaan mental agama mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Adapun tujuan umum dari pembinaan mental agama ialah membantu anggota agar ia memiliki pengetahuan tentang posisi dirinya dan memiliki keberanian mengambil keputusan untuk melakukan suatu perbuatan yang dipandang baik, benar, dan bermanfaat untuk kehidupannya di dunia dan untuk kepentingan akhiratnya. Sedangkan tujuan khusus pembinaan mental agama yaitu: 1) untuk membantu agar anggota tidak menghadapi masalah; 2) jika seseorang terlanjur bermasalah, maka pembinaan mental dilakukan dengan tujuan membantu anggota agar dapat mengatasi masalah yang dihadapi; 3) kepada anggota yang mentalnya sudah kuat, maka pembinaan mental agama bertujuan agar potensi dirinya dioptimalkan supaya bisa menjadi sumber kebaikan bagi dirinya dan bagi orang lain.120

Fungsi dan tujuan pembinaan mental tersebut dapat mencapai yang diharapkan jika dilakukan sesuai dengan kerangka yang tepat dan dijalankan menurut kenyataan yang ada serta memperhatikanbeberapa faktor yang mempengaruhi pembinaan mental tersebut.

119 Hamdan Bakron Adz-Dzaky, Psikoterapi, hlm,221

120 Achmad Mubarak, Al-Irsya an-Nafsiy, hlm,102