PEMBINAAN MENTAL MASA RASULULLAH SAW
G. Pembinaan Militer dalam Dakwah Rasulullah Saw
Pembinaan mental yang disampaikan Rasulullah Saw, pada hakikatnya adalah sebuah dakwah yang memproklamirkan kebebasan manusia, semua manusia di atas permukaan bumi.
Dakwah ini telah mendapat tantangan yang keras dan rintangan yang bertubi-tubi, terutama sekali pada masa-masa periode Makkiyah yang berlangsung selama 13 tahun. Akan tetapi masa-masa sulit yang penuh dengan cobaan dan siksaan ini di jalani dengan tabah dan sabar oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya yang setia tanpa sedikitpun kesempatan untuk membela diri atau membalas terhadap semua siksaan keji yang ditimpakan kepada mereka.79
77 Kaelani, Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, (Jakarta:Bumi Aksara,2000), hlm.159-160.
78 M.Qurash Shihab, Wawasan Al-Qur‟an, (Bandung:Mizan,1996), hlm. 270.
79 Debby Nasution, Kedudukan Militer dalam Islam dan peranannya pada Masa Rasulullah, (Jakarta:Yayasan Amanah Daulatul Islam,2001),hlm,49
175 Kemudian turunlah perintah Allah kepada Rasulullah Saw, dan para sahabatnya untuk hijrah ke Madinah yang sebagian besar penduduknya telah memeluk Islam.
Sebelum hijrah, Rasulullah Saw, membuat perjanjian dengan tokoh-tokoh penduduk Madinah yang datang ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Perjanjian itu dibuat pada malam hari dari pertengahan hari tasyriq, di dekat jumrah Aqabah di Mina. Peristiwa ini di dalam sejarah di kenal dengan sebutan “Perjanjian Aqabah ke Dua”
karena pada tahun sebelumnya di tempat yang sama telah dilakukan
“Perjanjian “Aqabah Pertama”80
Adapun isi perjanjian itu sebagaimana yang diucapkan oleh Rasulullah SAW kepada mereka:
“Aku mengambil janji kalian untuk melindungiku ketika aku datan hijrah kepada kalian, seperti kalian melindungi isteri-isteri dan anak-anak kalian”.
Maka orang yang pertama kali mengikrarkan janji itu ialah Bara‟
bin Ma‟rur, ia berkata:
“Demi Allah Yang telah mengutusmu dengan benar, niscaya kami pasti akan melindungimu seperti kami melindungi diri dan keluarga kami, maka ambillah perjanjian dari kami wahai Rasulullah, kami adalah kaum yang ahli berperang dan memiliki persenjataan yang kami warisi dari orang-orang tua kami sejak kami masih muda”.81
Dalam peristiwa ini Rasulullah Saw, sempat melontarkan ucapan yang tegas untuk menjawab kekhawatiran salah seorang mereka yaitu Abul Haitsam bin Tihan yang merasa khawatir apabila Rasulullah Saw,
80 Debby Nasution, Kedudukan Militer dalam Islam dan peranannya pada Masa Rasulullah,...hlm,50
81 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Mukhtashar Sirat al-Rasul,... hlm.89
mendapat kemenangan, Beliau akan kembali pulang kepada keluarganya di Mekkah dan meninggalkan mereka yang telah melindungi Beliau dengan kekuatan militer. Ucapan Rasulullah itu ialah:
ّل
“Tidak akan, demiAllah, aku tidak akan meninggalkan kalian bahkan darah-darah dan keruntuhan-kruntuhan, kalian adalah bagian diriku dan akupun bagian dari kalian,. Aku akan memerangi orang yang kalian perangi, daaku pun akan bndamai dengan orang yang berdamai dengan kalian”82
Jadi inti perjanjian yang diikrarkan oleh tokoh-tokoh Madinah itu kepada Rasulullah Saw, ialah bahwa mereka akan melindungi Beliau dan dakwah Beliau dengan kekuatan senjata atau militer yang mereka miliki seperti layaknya mereka melindungi diri dan keluarga mereka sendiri.
Dari sinilah awal pembinaan mental militer dalam dakwah Rasulullah Saw, membina keyakinan atau menanamkan kepercayaan kepada mereka, dan dari sini pula dimulainya profesi militer Beliau.
Al-Ustadz Sayyid Quthub (rahimahullah) mengatakan, bahwa jihad dengan menggunakan kekuatan senjata atau militer merupakan sesuatu keharusan bagi dakwah Islam yang bertujuan membebaskan manusia dari perbudakan manusia. Adalah sangat dangkal sekali jika orang membayangkan adanya sebuah dakwah yang memproklamirkan kebebasan manusia diatas bumi ini, kemudian ia bersikap diam saja pada saat menghadapi rintangan-rintangan yang senantiasa memeranginya.
Jadi sudah pasti Islam harus mempertahankan diri dengan senjata terhadap setiap orang yang menyerangnya dengan senjata.83
Hanya beberapa bulan atau tepatnya 7 bulan setelah Rasulullah Saw hijrah dan menetap di Madinah, Beliau mulai membentuk satuan-satuan atau pasukan khusus untuk memulai kegiatan militer dalam rangka memantau situasi musuh diluar. Pasukan-pasukan khusus ini dikenal
82 Debby Nasution. Kedudukan Militer dalam Islam dan Perannannya Pada masa Rasulullah,...hlm.52
83Ibnu Hisyam dan Ath-Thabari menyebut perjanjian (bai‟at) „Aqabah yang kedua ini dengan sebutan “Bai‟at al-Harb” atau “Bai‟at untuk maju berperang”. Isma‟il al-Kilani mengatakan, bahwa ini merupakan langkah politis sebagaimana perang yang termasuk praktek politik, (Fashl al-Din „an al-Daulah, terjemahan; Halaman,72)
177 dengan istilah “sariyah”.84 Beliau sendiri yang menentukan personel, mengangkat komandan, menentukan sasaran serta mengatur jadwal operasi pasukan itu. Diantara pasukan-pasukan tersebut sebagai berikut:
1. Komando Sariyah Hamzah bin „Abdul Muthalib
Pasukan atau sariyyah yang pertama Beliau bentuk adalah pasukan Hamzah bin Abdul Muthalib, pada bulan Ramadhan bulan ketujuh hijrahnya Beliau. Bendera pasukan itu berwarna putih dan di pegang oleh Abu Martsad Kanaz bin Hushaim al-Ghanawi yang merupakan sahabat Hamzah. Pasukan itu terdiri dari 30 orang khusus dari kalangan Muhajirin dan Beliau tugaskan untuk mencegat rombongan (kafilah) dagang Quraisy yang datang dari Syam. Kafilah itu terdiri dari 300 orang laki-laki dan diantara mereka ada Abu Jahal bin Hisyam musuh Islam yang paling utama. Maka kedua rombongan itu bertemu di sebuah pantai di daerah Al-Ish, maka masing-masing menyusun barisan untuk bertempur. Dalam situasi yang mulai memanas tiba-tiba datang Majda bin „Amer Al-Jahni yang bersahabat dengan kedua rombongan yang bermusuhan itu. Dan dengan upaya Majda bin „Amer pertempuran itu dapat dihindari.85
2. Komando Sariyah Ubaidah bin Harits bin Muthalib
Kemudian Rasulullah Saw, membentuk pasukan yang kedua pada bulan Syawwal, bulan kedelapan hijrahnya, yang dipimpin oleh
„Ubaidah bin Harats bin Muthalib. Pasukan itu Beliau berangkatkan ke Bathnur Rabigh. Bendera psukan ini juga berwarna putih dan di pegang oleh Misthah bi Atsashah bin Muthalin bin “Abdi Manaf, jumlah personel pasukan 60 orang khusus dari kalangan Muhajirin, tidak melibatkan seorangpun dari kalangan Anshar.
Maka mereka menjumpai Abu Sufyan di dalam rombongan yang berjumlah 200 orang di Bathnur Raghib, yang berjarak 10 mil dari Al-Juhfah. Maka terjadi saling memanah di antara mereka, namun tidak sampai menghunus pedang dan menyusun barisan. Jadi, hanya saling menyerang dengan panah. Dan pada saat itu Sa‟ad bin
84Hafizh Muftisany, Perbedaan antara Ghozwah dengan Sariyya, www.google.com, di akses pada tanggal 10 Juni 2019. Arti “Sariyyah” , secara bahasa dari kata sara-yasri-suran,saryah,sirayah dan sarayanan yang bermakna berjalan di waktu malam. Kata sariyyah semakna dengan sara yang bermakna sekelompok tentara. Sariyyah secara pengertian bermakna kegiatan memata-matai sekelompok sehingga ada yang menang dan kalah.
85 Debby Nasution, Kedudukan Militer dalam Islam dan peranannya pada Masa Rasulullah, (Jakarta:Yayasan Amanah Daulatul Islam,2001), hlm, 52.
Abi Waqash ada di tengah-tengah pasukan Islam. Sa‟ad adalah orang yang pertama melepaskan panah di jalan Allah. Kamudian kedua rombongan itu membubarkan diri ke tempat masing-masing.
Ibnu Ishaq mengatakan, bahwa rombongan Qurasy pada waktu itu dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal. Dan Ibnu Ishaq juga mengatakan bahwa pasukan pimpinan „Ubaidah bin Harats ini lebih dulu sampai di Madinah daripada pasukan Hamzah.86
3. Komando Sariyah Sa‟ad bin Abi Waqash
Lalu, pada bulan Dzul-Qa‟dah, bulan ke sembilan hijriahnya, Rasulullah Saw, mengirim Sa‟ad bin Abi Waqash dengan satu pasukan Kavaleri yang berjumlah 20 orang, sedangkan pemegang bendera pasukan yang juga berwarna putih ialah Miqdad bin „Amer.
Mereka di tugaskan untuk mencegat rombongan dagang Quraisy, namun Rasulullah Saw berpesan kepada mereka agar jangan melampaui daerah yang bernama Al-Hazar.
Pasukan itupun berangkat untuk mendahului kafilah Quraisy.Dan mereka bergerak sembunyi-sembunyi, yaitu sembunyi di siang hari dan bergerak di malam hari.Mereka sampai di tempat tujuan pada waktu subuh hari kelima, namun kafilah Quraisy telah berangkat duluan meninggalkan tempat itu sehari sebelum kedatangan mereka.
4. Komando Sariyah Muhammad bin Abdillah
Kemudian, pada bulan shafar bulan kedua belas hijriyah, Rasulullah berangkat memimpin satu pasukan ke al-Abwa‟ dan pemegang bendera putih diserahkankepada Hamzah bin Abdul Muthalib, sedangkan kepemimpinan Madinah di serahkan kepada Sa‟ad bin „Ubadah.
Beliau keluar bersama pasukan yang beranggotakan khusus di kalangan Muhajirin, dengan tujuan menghadang kafir dagang Quraisy, namun tidak sampai terjadi pertemputan. Dalam operasi militer ini, Beliau sempat membuat perjanjian damai dengan Bani
86 Debby Nasution, Kedudukan Militer dalam Islam dan peranannya pada Masa Rasulullah,... , hlm, 53.