• Tidak ada hasil yang ditemukan

G Metode Analisis Data

Dalam dokumen Dinamika Harapan pada Penderita Kanker (Halaman 15-135)

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

III. G Metode Analisis Data

Beberapa tahapan dalam menganalisis data kualitatif menurut Poerwandari (2007), antara lain :

a. Koding

Koding adalah proses membubuhkan pada materi yang diperoleh. Koding dimaksudkan untuk dapat mengorganisasikan dan mensistematisasi data secara

lengkap dan mendetail sehingga dapat memunculkan dengan lengkap gambaran tentang topik yang dipelajari.

Semua peneliti kualitatif menganggap tahap koding sebagai tahap yang penting, meskipun peneliti yang satu dengan peneliti yang lain memberikan usulan prosedur yang tidak sepenuhnya sama. Pada akhir penelitilah yang berhak dan bertanggung jawab memilih cara koding yang dianggapnya paling efektif bagi data yang diperolehnya.

b. Organisasi Data

Highlen dan Finley (dalam Poerwandari,2007) menyatakan bahwa organisasi data yang sistematis memungkinkan peneliti untuk:

1. memperoleh data yang baik.

2. mendokumentasikan analisis yang berkaitan dengan penyelesaian penelitian.

Hal-hal yang penting untuk disimpan dan diorganisaskan adalah data mentah (data lapangan dan hasil rekaman), data yang sudah selesai diproses, data yang sudah ditandai/dibubuhi kode-kode khusus dan dokumentasi umum kronologis mengenai pengumpulan data dan langkah analisis.

c. Analisis Tematik.

Penggunaan analisis tematik memungkinkan peneliti menemukan pola yang pihak lain tidak bisa melihatnya secara jelas. Pola atau tema tersebut tampil seolah secara acak dalam tumpukan informasi yang tersedia. Analisis tematik merupakan proses mengkode informasi yang dapat menghasilkan daftar tema,

model tema, atau indikator yang kompleks, kualifikasi yang biasanya terkait dengan tema itu atau hal-hal diantara gabungan dari yang telah disebutkan. Tema tersebut secara minimal dapat mendeskripsikan fenomena, dan secara maksimal memungkinkan interpretasi fenomena.

d. Tahapan Interpretasi

Kvale (dalam Poerwandari, 2007) menyatakan interpretasi mengacu pada upaya memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam. Peneliti memiliki perspektif mengenai apa yang sedang diteliti dan menginterpretasi data melalui perspektif tersebut. Proses interpretasi memerlukan distansi (upaya mengambil jarak) dari data, melalui langkah-langkah metodis dan teoritis yang jelas serta memasukkan data ke dalam konteks konseptual yang khusus.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN IV.A Hasil Penelitian

IV.A.1 Hasil Penelitian per Partisipan IV.A.1.1 Partisipan Pertama 1. Data Diri Partisipan:

Nama : Aisyah (bukan nama sebenarnya) Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 33 tahun

Pekerjaan : Perawat

Agama : Islam

Status Perkawinan : Menikah

Jenis Kanker : Kanker Payudara Stadium Kanker : 2A

Diagnosa Pertama : Oktober 2013

2. Laporan Observasi

Pada awalnya, Aisyah direkomendasikan oleh seorang perawat di rumah sakit yang sudah dikenal oleh peneliti. Kemudian, perawat tersebut menghubungi Aisyah terlebih dahulu untuk menanyakan apakah ia bersedia diwawancara oleh mahasiswa yang sedang melakukan penelitian. Ia pun langsung bersedia. Selanjutnya, ia pun mengatur jadwal bertemu dan langsung disetujui oleh peneliti.

Wawancara pertama dilakukan ketika ia hendak menjalani dinas sore. Sekitar pukul 15.00, ia memasuki ruangan tempat peneliti sudah menunggu. Ruangan tersebut cukup besar, ditengahnya ada meja persegi dengan kursi-kursi yang mengelilingi meja tersebut. Ruangan tersebut tertutup dan memiliki alat pendingin ruangan. Ketika memasuki ruangan, ia tersenyum melihat peneliti yang memang sendiri di ruangan tersebut. Ia mengenakan pakaian dinas berwarna hijau dengan jilbab putih yang disematkan bros. Ia berperawakan kecil, dengan tinggi badan sekitar 155 cm dan berat badan proporsional, kulitnya berwarna sawo matang. Peneliti langsung berdiri dan menjabat tangan partisipan, kemudian mempersilakannya duduk. Ia mengatur kursi sehingga kami duduk berhadapan. Peneliti kembali mengutarakan tujuan dari wawancara ini dan partisipan bersedia untuk terlibat hingga selesai. Aisyah terlihat ramah walaupun belum lama mengenal peneliti, hal ini terlihat karena ia selalu tersenyum kepada peneliti. Secara keseluruhan, Aisyah menjawab pertanyaan dengan cukup detail dan terkesan terbuka sehingga tidak menyulitkan peneliti untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut. Posisi duduknya lebih sering tegak dengan tidak bersandar pada kursi dan tangannya selalu bergerak untuk membantunya dalam memberikan penjelasan. Sesekali ia meletakkan sikunya diatas meja. Hanya ketika pertanyaan terkait dengan suaminya ia bersandar, menundukkan wajahnya, tersenyum dan tidak menatap peneliti secara langsung. Ia terlihat ekspresif dalam merespon pertanyaan peneliti, terutama ketika ia merespon pertanyaan mengenai apa yang ia fikirkan ketika mendapatkan diagnosa kanker, ia menjawab “kematian” dengan cepat, intonasi suara tinggi, mata membesar dan

arah tubuh menjadi condong ke peneliti. Intonasi suaranya pun akan menjadi rendah ketika merespon pertanyaan terkait suaminya, anak-anaknya serta harapannya. Tidak ada yang mengganggu selama proses wawancara berlangsung. Pada akhir wawancara, peneliti mengemukakan rencana jadwal pertemuan berikutnya yang langsung disetujui oleh partisipan.

Pada saat wawancara kedua, ia mengenakan jilbab putih dan pakaian dinas berwarna biru. Kami bertemu sekitar pukul 15.00 dan langsung mencari tempat yang nyaman untuk melakukan wawancara. Ruangan yang dipakai untuk wawancara berukuran sekitar 3m x 2m, memiliki meja kecil dan satu sofa panjang. Ketika wawancara berlangsung, arah tubuh partisipan mengarah kepada peneliti, walaupun partisipan duduk di sebelah kiri peneliti. Tidak banyak perbedaan dari wawancara pertama dalam merespon pertanyaan peneliti. Aisyah tetap terlihat ekspresif dalam memberikan respon pertanyaan. Ia tidak banyak mengubah posisi tubuhnya yang cenderung menyamping mengarah ke peneliti. Sesekali, ia mengarahkan pandangannya keatas seolah-olah menerawang ketika memberikan respon pertanyaan mengenai masa lalunya, tidak banyak gerakan tangan yang dilakukannya.

Ketika merencanakan untuk melakukan wawancara ketiga, peneliti mengalami kendala dalam mengatur jadwal dengan Aisyah. Kendala ini dikarenakan peneliti tidak membalas pesan dan telepon dari peneliti. Kemudian, peneliti mencoba menghubungi rekan sekerjanya untuk mengetahui keadaan dari Aisyah. Ia mengatakan bahwa Aisyah mengalami penurunan kesehatan setelah menjalani kemoterapi dan dianjurkan istirahat total oleh dokter selama seminggu.

Menurut rekan sekerjanya tersebut, biasanya beberapa hari setelah menjalani kemoterapi, Aisyah akan opname untuk sekedar pasang infus karena asupan makanan dan minumannya kurang. Hari kerjanya pun semakin berkurang karena Aisyah selalu merasa sakit dan lemas yang berlangsung berhari-hari setelah kemoterapi, ia biasanya hanya bekerja sehari dua hari, kemudian mengambil cuti hingga pelaksanaan kemoterapi selanjutnya. Tetapi, ketika akan menjalani kemoterapi, ia dengan semangatnya mengurus surat-suratnya sendiri, bahkan mengambil obatnya sendiri.

Beberapa hari setelah peneliti mencoba untuk menghubungi Aisyah, akhirnya ia memberikan respon dan mengijinkan peneliti menemuinya ketika ia kembali masuk kerja. Peneliti mengajukan waktu bertemu pukul 15.00 dan disetujui oleh Aisyah. Pada hari yang telah ditentukan, peneliti telah sampai di rumah sakit sekitar pukul 11.00 dan mengetahui bahwa Aisyah juga memiliki janji bertemu dengan ibu peneliti yang merupakan direktur rumah sakit tersebut untuk berdiskusi, dikarenakan ibu peneliti adalah seorang penderita kanker yang telah melewati seluruh pengobatan kanker. Aisyah datang sekitar pukul 13.30 dan pertemuan berlangsung di ruangan yang sama digunakan ketika wawancara pertama. Ia langsung menjabat tangan peneliti dan ibu peneliti. Setelah duduk, Aisyah mulai mengeluhkan sakitnya kemoterapi dan menanyakan bagaimana ibu peneliti bisa kuat menjalani proses pengobatan. Diskusi tersebut berlangsung sekitar tiga puluh menit. Selama proses diskusi berlangsung, intonasi suaranya cenderung tinggi, arah tubuhnya condong ke depan mengarah ke ibu peneliti, sesekali ia menggerakkan tangan, tertawa dan tersenyum ketika mendengarkan

respon yang diberikan oleh ibu peneliti, ia juga jarang melakukan kontak mata langsung dengan ibu peneliti. Intonasi suaranya akan menjadi rendah ketika ia menegaskan efek kemoterapi yang memang ia alami setelah mendapatkan peringatan dari ibu peneliti sebelumnya. Pada saat ini juga, arah matanya melihat ke bawah seolah merenungi apa yang sedang terjadi padanya. Setelah diskusi ini selesai, dilanjutkan dengan peneliti melakukan wawancara dengan partisipan.

Ketika melakukan wawancara, peneliti meminta Aisyah untuk berpindah ruangan. Ruangan yang digunakan sama dengan ruangan ketika wawancara kedua berlangsung. Pada wawancara ketiga ini, partisipan mengenakan pakaian dinas berwarna hijau dengan jilbab putih dan disematkan bros. Sedikit berbeda dari dua wawancara sebelumnya, Aisyah cenderung kurang bersemangat dan tidak ekspresif dalam merespon pertanyaan peneliti. Walaupun peneliti tidak mengalami kesulitan dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut, tetapi kontak mata yang dilakukan Aisyah berkurang dibandingkan dua wawancara sebelumnya, kali ini ia lebih sering mengarahkan pandangannya keatas seolah menerawang. Ia hanya menatap peneliti, menyunggingkan senyuman dan intonasi nadanya meningkat ketika ia merespon pertanyaan terkait dengan apa yang akan ia rencanakan selanjutnya

3. Laporan Wawancara a. Riwayat Kehidupan

Aisyah, lahir di Binjai 33 tahun yang lalu, merupakan anak ketiga dari lima orang bersaudara. Ia dan saudara-saudaranya berasal dari keluarga menengah

ke bawah. Dari kecil, ia dan saudara-saudaranya diajarkan untuk mandiri. Mereka terbiasa berbagi tugas untuk menyelesaikan segala sesuatunya. Bahkan, ketika mereka menginginkan sesuatu dari orangtuanya, mereka akan dengan sabar menunggu, hingga orang tua mereka bisa mengabulkan permintaan mereka.

Ia menghabiskan masa kecilnya di kota Binjai hingga akhirnya ia pindah ke Medan untuk melanjutkan pendidikannya ke Akademi Keperawatan. Pada awalnya, ia tidak pernah berifikir untuk melanjutkan sekolah di akper, malah ia ingin melanjutkan sekolah ke Akademi Pariwisata. Tetapi, ketika menamatkan bangku sekolah menengah atas, ia diajak salah seorang temannya untuk melanjut diakademi keperawatan. Ia pun berfikir dan akhirnya menyetujui hal tersebut. Ia meminta ijin kepada orang tuanya untuk melanjutkan ke akademi keperawatan.

Pada masa awal pendidikannya di akademi keperawatan tersebut, ia mengalami stress dan tidak betah. Tetapi, ia tetap bertahan hingga berhasil menyelesaikan pendidikannya. Ia pun bertemu dengan suaminya di tempat itu. Ia pun sekarang menikmati profesinya sebagai perawat. SA sekarang telah memiliki anak sebanyak dua orang. Anak yang paling besar adalah seorang laki-laki yang masih berusia sembilan tahun dan sedang menduduki bangku kelas tiga di salah satu sekolah dasar di kota Medan, sedangkan anaknya yang kedua adalah seorang perempuan yang masih menduduki bangku taman kanak-kanak. Suaminya bekerja di luar kota dan pulang sebulan sekali untuk menemui keluarganya.

b. Riwayat Penyakit

Sekitar bulan April atau Mei tahun 2013, ia sedang menelfon ketika ia merasakan ada benjolan kecil di bawah ketiak kanannya disamping payudara. Langsung ia menelfon suaminya untuk berkonsultasi, dan suaminya menyarankan agar ia segera memeriksakannya. Karena perasaan takut, ia pun menunda melakukan pemeriksaan terhadap benjolan tersebut.

Kemudian, di awal bulan Juni 2013, ia merasakan benjolan tersebut sudah mulai berdenyut sekali-sekali. Ia menceritakan hal ini kepada teman-teman seprofesinya yang mengatakan bahwa kalau benjolan tersebut berdenyut berarti tidak berbahaya. Ia pun sempat merasa tidak khawatir terhadap benjolan tersebut. Tetapi, yang membuat ia khawatir adalah benjolan tersebut semakin keras, berdenyut, tidak mobile dan garis batasnya tidak jelas. Hingga bulan Oktober 2013, karena sudah merasa tidak nyaman, ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Dokter langsung mendiagnosa kalau benjolan tersebut adalah tumor dan tidak jinak. Dokter pun menyarankan untuk melakukan USG. Dari hasil USG didapati bahwa benjolan tersebut memang tumor walaupun cenderung tidak ganas. Ia pun membawa hasil USG untuk kembali berkonsultasi dengan dokter yang mengatakan bahwa dari hasil foto, benjolan tersebut merupakan kanker payudara dan harus segera dilakukan operasi masektomi untuk membuang semuanya dan perlu dilakukan kemoterapi. Ia pun melakukan operasi pada pertengahan bulan November 2013.

Akhir bulan Desember, ia menjalani kemoterapi yang pertama. Ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Bahkan, beberapa hari setelah

kemoterapi pertama selesai, ia dilarikan ke unit gawat darurat karena kurangnya cairan yang masuk disertai dengan mual dan muntah yang berkelanjutan. Ia tetap melanjutkan kemoterapi yang kedua. Pada kemoterapi yang kedua, kesulitan muncul ketika venanya sulit terlihat dan rasa sakit itu kembali dialaminya. Hal ini sempat membuatnya enggan untuk melanjutkan ke kemoterapi yang selanjutnya. Dengan dukungan dari orang-orang terdekatnya, ia kembali memutuskan untuk terus melaksanakan proses kemoterapi hingga selesai. Bahkan kemoterapi ketiga, yang membuat ia kemblai dilarikan ke unit gawat darurat, tidak menyurutkan semangatnya untuk terus menjalani pengobatan walaupun fisiknya sudah semakin lemah.

62

4. Dinamika Harapan HOPE

Tidak ingin terus menerus merasa sakit.

Menjalani proses pengobatan hingga selesai.

KESEMBUHAN

Keinginan mendampingi anak-anak

Menjalani pengobatan medis

Merasakan sakit hingga ingin berhenti berobat

Keinginan untuk menjalani hidup hingga tua bersama

dengan suami

Rasa iri melihat rekan kerjanya menimbulkan semangat untuk sembuh sehingga bisa kembali bekerja

Keyakinan bahwa pemikiran yang postif akan berdampak positif juga bagi kesehatan

Keyakinan bahwa dengan berdoa, Allah akan meringankan penyakit yang ia

derita Membandingkan diri

dengan orang lain yang berhasil berjuang

melawan kanker

Secara aktif mencari informasi terkait

penyakit dan pengobatan

Menjalani pengobatan medis

Tidak ingin mengecewakan orang-orang terdekat yang sudah mendukungnya untuk

terus berobat Mendapatkan

Kematian merupakan hal yang pertama kali terbersit di benak Aisyah ketika ia didiagnosa kanker. Sempat menunda pemeriksaan karena ia takut benjolan yang ia miliki benar kanker dan akhirnya ia juga didiagnosa kanker, memunculkan amarah pada dirinya sendiri. Sebagai seorang perawat, ia seharusnya segera memeriksakan diri begitu ia merasakan benjolan tersebut. Tetapi sebaliknya, pengetahuannya di bidang medis yang diikuti oleh rasa takut malah menahannya untuk segera memeriksakan diri. Akhirnya, hanya penyesalan lah yang muncul karena ia ternyata harus menjalani kemoterapi juga walaupun kanker yang ia derita masih berada pada stadium awal. Padahal, opsi kemoterapi mungkin bisa dihindari jika ia segera memeriksakan dirinya begitu ia merasakan adanya benjolan tersebut. Hal ini ia nyatakan sebagai berikut:

“Awalnya sih sebenarnya gak sadar ya kan, sekitar bulan empat ntah bulan lima itu kan, lagi nelfon di kamar, terasa gatal, pas diginikan, langsung teraba benjolan itu, sebelah kanan, pas di bawah ketiak ini tapi agak mendekati mammae, teraba, takut juga ya kan, tapi dia masih kecil ada teraba... siap nelfon, langsung nelfon suami, ceritakanlah ada terasa benjolan, dibilang suami periksakanlah, karena rasa takut tadi tu ga berani periksakan, cuman diceritain juga sama kawan-kawan kerja, periksa lah periksa... kemudian, sekitar bulan enam, kok kayaknya agak besar gitu, keras dia kan, udah lah mungkin ini gak papa, karena kan mulai dari bulan enam, mulai timbul rasa nyeri, sekali-sekali...” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)

“Eee, kalau sangkaan ke kanker itu sih, ada, memang ada, itulah makanya, kita kan karena kita kerja di medis ini, pasti pikiran kita menuju kesana terus ya kan, nanti tumor, tapi iyaa, kok dia gak mobile, kok dia keras, kok diam aja di tempat, kok batasnya gak tegas.. udah berfikir kesitu, terus setelah divonis, yaudah lah makin” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)

“Takut, takut hasilnya itu, ternyata memang itu juga toh hasilnya, kadang -kadang timbul juga penyeselan, coba pas baru tau langsung gitu diperiksakan, pastii.. walaupun dimastek, tapi kan hasilnya pasti lebih terdeteksi awal, walaupun kata dokter yang sekarang ini masih stadium

dua, cuman kan stadium dua pun ternyata harus kemo...” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)

“Mati pikirannya (tanpa berpikir panjang, langsung mengucapkan “mati” dengan nada tinggi dan mata membesar menatap peneliti, badan juga menjadi condong ke arah peneliti), aduh, udahlah nggak selamat lagi ini, itu aja pikirannya, mana anak-anak masih kecil, pikirannya pas pertama kali di vonis itu ya itu, mati lah, aduh mati, aduh nggak panjang umur, begini begitu, banyaklah segalam macam, cuman yang kepikiran tadi yah itu, padahal bukan kita yang ngatur semua itu, tapi itu lah, karena divonis penyakitnya bukan penyakit yang biasa, pikirannya udah langsung kesana saja..” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)

“Pernah awalnya, ya Allah kok harus aku ya kan.. iss, kenapa aku..”

(Wawancara Personal, 9 Desember 2013)

Benjolan yang semakin membesar dan rasa tidak nyaman lah yang pada akhirnya memaksa Aisyah untuk memeriksakan dirinya dan mengesampingkan rasa takutnya. Rasa takut itu muncul kembali ketika ia harus menghadapi opsi pengobatan yang disarankan oleh dokter yang menanganinya. Keputusan untuk melakukan operasi mastektomi (operasi pengangkatan payudara) untuk menghilangkan kankernya dan meminimalisir kemungkinan kanker akan muncul kembali di kemudian hari merupakan suatu keputusan yang sulit baginya. Aisyah harus ikhlas untuk menghilangkan salah satu anggota tubuhnya yang merupakan simbol kecantikan bagi banyak wanita, apalagi dengan memperimbangkan usianya masih belum cukup tua. Untungnya, suaminya tidak berkeberatan dengan keputusan tersebut karena yang terpenting baginya adalah kesembuhan Aisyah. Keberadaan anak-anaknya yang masih kecil, yang belum mengerti mengenai penyakit yang diderita oleh ibunya, semakin menguatkan keputusannya untuk menjalani pengobatan. Kesibukannya sebagai seorang perawat dan dukungan-dukungan yang ia dapat dari rekan sekerjanya berkontribusi untuk menghilangkan

rasa takutnya terhadap pengobatan yang akan ia hadapi. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa mencapai kesembuhan, agar bisa mendampingi anak-anaknya hingga besar, menikmati hidupnya dengan suaminya serta terus melakukan aktivitas sebagaimana yang ia biasa lakukan sehari-hari. Hingga pada akhirnya, ketika menjalani pengobatan, ia menjadi ikhlas dengan apa yang dia alami, ia menganggap hal ini sebagai cobaan yang pasti dapat ia atasi, walaupun sebelumnya rasa takut dan tidak percaya terus membayangi dirinya. Hal ini ia ungkapkan sebagai berikut:

“Syok... Iyaa.. Menangis.. tapi setelah selang beberapa hari lagi operasi bisa menjadi lebih tegar, apalagi setelah operasi ini, rasanya kok bisa lebih ikhlas, jadi ya udah, dijalani aja lah sekarang..” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)

“Pasti anak, ya kan, nengok mereka, ditambah lagi motivasi dari suami, suami pun dukung, karena susah kan ya, apalagi untuk ngambil keputusan mastek, untuk diri kita sendiri aja susah ya kan, tapi karena suami pun mendukung, ya udahlah kalau itu nya, istilahnya dia, suami nggak berfikir kesana-sini, yang penting sembuh, nggak peduli gimana caranya, apapun yang dilakukan yang penting harus sembuh, ditambah lagi liat anak-anak yang masih kecil-kecil, jadi itu lah motivasinya, itu yang buat semangat, apalagi support dari kawan-kawan, apalagi kalau lagi kerja gini, hilang stress nya, yang ada ketawa, nggak ada kepikiran kesana, yang ada jadinya lebih santai lah menghadapinya..” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)

“Waktu begitu tau hasil PA, kita kasi tau ke dokter, saya sudah tau langsung itu bakal kemo.. nah, cuman jenis kemonya kemaren kan belom tau, sekarang sudah tau, ya udah, rasanya pas dibilang dokter kemo, langsung, iya dok.. langsung bisa bilang iya.. walaupun kadang-kadang pas lagi sendiri, kepikir, aduh kok kemo sih, takut juga.. tapi sebenarnya kan lebih besar rasa ingin sembuh saya dibandingkan rasa takut saya, jadi ya udahlah, kalau kemo ya kemo, apalagi banyak yang bilang, nggak papanya kemo itu, nanti habis kemo, uda bersih, balik laginya ke awal, yang penting persiapan fisik kita untuk kemo..” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)

“Suami, kebetulan orang medis juga, yang sikit banyaknya pahamlah tentang penyakit seperti ini, jadi ya udahlah, dia sebenarnya support aja apapun dijalanin asal itu bisa sembuh, ya memang semuanya atas ijin Allah

ya kan, cuman kan kita usaha, kalau suami mendukung aja apapun itu...”

(Wawancara Personal, 9 Desember 2013)

“Harapan kedepannya sih.. yang pasti.. ingin lebih tau lah, lebih tau untuk menjaga, yah pola hiduplah, pola makan, kedepannya sih kalau bisa sembuh, bersih, jangan timbul lagi penyakit begini-begitu, ya kepengennya, apapun nanti kata dokter, kalaupun itu memang untuk kedepannya, ntah nanti ada pemeriksaan ini ini ini ya udah dijalanin aja.. pokoknya intinya gimana supaya bisa sembuh, itu aja” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)

“...tapi ya tadi itu, balik lagi, kita nggak bisa nyalahin siapa-siapa ya kan, sekarang yang harus dijalanin adalah berobat, gimana caranya supaya sembuh, jangan salahin orang, menyalahkan Allah, mungkin Allah mengasi cobaan, mungkin dibalik ini, Allah kan ngasi cobaan pasti ada jalan keluarnya, itu aja, jalan keluarnya yah tadi itu, berobat, hidup sehat dan semangat..” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)

Operasi mastektomi ia jalani dengan lancar dan tidak ada kendala. Tetapi, tindakan pengobatan tersebut tetap memberi dampak psikologis terhadap dirinya. Ia menjadi kurang percaya diri terhadap bentuk tubuhnya, salah satu payudaranya sudah tidak ada lagi. Ketika menghadapi kesulitan saat mandi dan berpakaian, ia bahkan menolak suaminya yang ingin membantunya. Ia merasa malu dan tidak ingin suaminya melihat kondisinya yang sekarang setelah menjalani operasi pengangkatan. Rasa kurang percaya diri ini juga terbawa hingga ke tempat ia bekerja. Ia menggunakan jilbab yang lebih lebar dari yang ia biasa gunakan untuk menutupi daerah payudaranya yang sudah diangkat tersebut. Beruntung, hal ini tidak berlangsung lama. Suaminya tetap membantu Aisyah saat mandi dan

Dalam dokumen Dinamika Harapan pada Penderita Kanker (Halaman 15-135)

Dokumen terkait