DAFTAR PUSTAKA
Abdullah-zadeh, Farahnaz., Agahosseine, Shima., Asvadi-Kermani, Iraj., & Rahmani, Azad. (2011). Hope in Iranian Cancer Patients. IJNMR; 16(4): 288-291.
Allifni, Maya. (2011). Pengaruh Dukungan Sosial dan Religiusitas terhadap
Motivasi untuk Berobat pada Penderita Kanker Serviks. Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah.
Bellizi, Ketih M., Blank, Thomas O., & Oakes, Claudia E. (2006). Social
Comparison Processes in Autobiographies of Adult Cancer Survivors.
Journal of Health Psychology. SAGE Publications.
Cavanaugh, John C & Blanchard-Fields, Fredda. (2006). Adult Development and
Aging. 5th Edition. Thomson Wadsworth: International Student Edition. Cohen, Sheldon. (2004). Social Relationship and Health. Carnegie Mellon
University.
Eliott, J. & Oliver, I. (2009). Hope, Llife and Death: a Qualitative Analysis of
Dying Cancer Patients' Talk about Hope. Death Studies, 33(7), 609-638.
Esbensen, Bente Appel & Thomsen, Thordis. (2011). Quality of Life and Hope in
Elderly People with Cancer. Open Journal of Nursing, 1, 26-32.
Falvo, Donna. (2005). Medical and Psychosocial Aspects of Chronic Illness and
Disability. 3rd Edition. Jones and Bartlett Publishers.
Farran, Carol J., Herth, Kaye A & Popovich, Judith M. (1995). Hope and
Hopelessness: Critical Clinical Constructs. Sage Publications.
Fitriana, Nimas Ayu & Ambarini, Tri Kuniarti. (2012). Kualitas Hidup pada
Penderita Kanker Serviks yang Menjalani Pengobatan Radioterapi.
Universitas Airlangga.
Folkman, S. (2010). Stress, Coping, and Hope. Psycho-Oncology, 19(9), 901– 908.
Gordon, Elisa J & Daugherty, Christopher K. (2003). „Hitting You Over the
Head‟: Oncologist‟ Disclosure of Prognosis to Advanced Cancer Patients. Bioethics 17(2): 142-168.
Helgeson, Vicki S. & Cohen, Sheldon. (1996). Social Support and Adjustment to
Jacoby, Rebecca & Keinan, Giora. (2003). Between Stress and Hope: from a
Disease-Centered to Health-Centered Perspective. Praeger Publishers.
United States of America.
Kodish, Eric & Post, Stephen G. (1995). Oncology and Hope. Journal of Clinical Oncology, Vol 13, No.7 (July), pp 1817-1822.
Lubis, Namora Lumongga dan Hasnida. (2009). Dukungan Sosial pada Pasien
Kanker, Perlukah?. USU Press. Medan, Indonesia.
McGonigal, Kelly. (2012). The Willpower Instinct: How Self-Control Works, Why
It Matters, and What You Can Do to Get More of It. Penguin Group (USA)
Inc. New York.
Oemiati, Ratih., Rahajeng, Ekowati., & Kristianto, AY. (2011). Prevalensi Tumor
dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhinya di Indonesia. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Online. http://digitaljournal.com/article/317470. Tanggal akses: 27 Oktober 2012.
Online.http://health.kompas.com/read/2013/03/21/19425358/Penderita.Kanker.di.
Indonesia.Meningkat. Tanggal akses: 30 Januari 2014
Online.http://thedailybeast.com/newsweek/blogs/the-gaggle/2010/12/06/elizabeth-edwards-stops-cancer-treatment.html. Tanggal akses: 16 September 2013.
Online. www.cancer.org. Tanggal akses: 20 Desember 2012.
Online. www.youngadultcancer.ca/community/profiles_archive/elizabeth_bonnie. Tanggal akses: 30 Oktober 2012.
Pendley, Jennifer Shroff., Dahlquist, Lynnda M., & Dreyer, ZoAnn. (1997). Body
Image and Psychosocial Adjustment in Adolescent Cancer Survivor.
Journal of Pediatric Psychology.
Poerwandari, E, Kristi. (2007). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku
Manusia. LPSP3 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Rizkiana, Ulfa & Retnaningsih. (2009). Penyesuaian Diri pada Remaja Penderita
Leukimia. Universitas Gunadarma.
Sanatani, Michael., Schreier Gil., & Stitt, Larry. (2007). Level and Direction of
Hope in Cancer Patients: an Exploratory Longitudinal Study.
Springer-Verlag.
Sarafino, Edward P & Smith, Timothy W. (2011). Health Psychology:
Scioli, Anthony., Samor, Cindy M., Campbell, Tamara L., Chamberlin, Christine M., Lapointe, Anne B., Macleod., Alex R., & Mclenon, Jennifer. (1997). A
Prospective Study of Hope, Optimism and Health. Pyschological Reports,
81, 723-733).
Sebastian, Julia., Manos Dimitra., Bueno, Ma Jose., & Mateos, Nuria. (2008).
Body Image and Self-Esteem in Women with Breast Cancer Participating in a Psychosocial Intervention Program. Psychology in Spain.
Snyder, C. R. (1994). The Psychology of Hope “You can Get There From Here”. The Free Press
Snyder, C. R & Lopez, Shane J. (2002). Handbook of Positive Psychology. Oxford University Press.
Stanton, Annette L., Danoff-Burg-Sharon., Cameron, Christine L., Michelle Bishop., Collins Charlotte A., Kirk, Sarah B., Sworowski Lisa A., & Twillman, Robert. (2000). Emotionally Expressive Coping Predicts
Psychological and Physical Adjustment to Breast Cancer. Journal of
Consulting and Clinical Psychology, Vol. 68, No. 5, 875-882
Zhang Jing., Gao Wei., Wang Ping., & Wu Zhong-hui. (2010). Relationships
among hope, coping style and social support for breast cancer patients.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
III. A. Pendekatan Kualitatif
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini dengan
tujuan untuk menggali dan mendapatkan gambaran yang luas serta mendalam
berkaitan dengan dinamika terbentuknya harapan pada penderita kanker.
Poerwandari (2007) mengatakan bahwa pendekatan yang sesuai untuk
penelitian yang tertarik dalam memahami manusia dengan segala
kekompleksitasannya sebagai makhluk subjektif adalah pendekatan kualitatif.
Maksudnya, melalui pendekatan ini, keunikan partisipan sebagai seorang individu
yang berbeda dengan individu yang lain dapat lebih dipahami. Penelitian ini juga
bersifat terbuka dan luwes serta berfokus pada kedalaman dan prosesnya,
penelitian ini juga cenderung dilakukan dengan jumlah kasus yang sedikit.
Dalam penelitian kualitatif perlu menekankan pada pentingnya kedekatan
dengan orang-orang dan situasi penelitian, agar peneliti memperoleh pemahaman
jelas tentang realitas dan kondisi kehidupan nyata (Patton dalam Poerwandari,
2007)
Penelitian ini juga memungkinkan peneliti untuk dapat memahami dan
mengerti gejala sebagaimana subjek mengalaminya, memahami proses-proses
yang terjadi pada diri individu dan memandang individu dan lingkungannya
sebagai satu kesatuan. Dengan demikian, diharapkan bahwa penelitian ini bisa
mendapatkan gambaran utuh dari penghayatan partisipan terhadap situasi yang
untuk mengembangkan pemahaman dan membantu untuk memahami dan
mengintepretasikan apa yang ada dibalik suatu kejadian, bagaimana latar belakang
pemikiran manusia yang terlibat di dalamnya dan bagaimana manusia meletakkan
makna pada peristiwa yang terjadi (Poerwandari, 2007).
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat studi
kasus. Disini, yang didefenisikan sebagai kasus (Poerwandari, 2007) adalah
fenomena khusus yang hadir dalam suatu konteks yang terbatasi (bounded
context), meski batas-batas antara fenomena dan konteks tidak sepenuhnya jelas.
Studi kasus dapat dibedakan dalam beberapa tipe. Dalam penelitian ini tipe yang
digunakan adalah studi kasus intrinsik, yaitu penelitian dilakukan karena
ketertarikan atau kepedulian pada suatu kasus khusus. Penelitian dilakukan untuk
memahami secara utuh kasus tersebut, tanpa harus dimaksudkan untuk
menghasilkan konsep-konsep/teori ataupun tanpa ada upaya untuk
menggeneralisasi. Dalam penelitian ini, peneliti tertarik untuk memahami dan
mendalami bagaimana dinamika harapan pada penderita kanker.
III.B Metode Pengambilan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara dan
observasi sebagai metode tambahan selama wawancara berlangsung. Wawancara
yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara dengan pedoman umum
dimana dalam proses wawancara ini, peneliti dilengkapi pedoman wawancara
yang sangat umum, yang mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa
eksplisit. Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan peneliti mengenai
aspek-aspek yang harus dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek (checklist)
apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan (Patton, 1990
dalam Poerwandari, 2007).
Selama wawancara berlangsung akan dilakukan obervasi sebagai metode
pendukung pengambilan data wawancara. Istilah observasi diarahkan pada
kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul,
mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut
(Poerwandari, 2007). Patton (dalam Poerwandari, 2007) menegaskan observasi
merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian, apalagi
penelitian dengan pedekatan kualitatif.
III.C Responden Penelitian
III.C. 1 Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini adalah penderita kanker baik wanita
maupun pria yang sedang menjalani pengobatan.
III.C. 2 Jumlah Responden
Menurut Patton (dalam Poerwandari, 2007), desain kualitatif memiliki
sifat yang luwes, oleh karena itu tidak ada aturan yang pasti mengenai jumlah
sampel yang harus diambil dalam penelitian kualitatif. Jumlah sampel sangat
tergantung pada apa yang dianggap bermanfaat dan dapat dilakukan dengan waktu
Prosedur penentuan subjek atau sumber data dalam penelitian kualitatif
umumnya menampilkan karakteristik sebagai berikut (Sarakantos, dalam
Poerwandari, 2007):
a. Diarahkan tidak pada jumlah sampel besar, melainkan pada kasus-kasus
tipikal sesuai kekhususan masalah penelitian.
b. Tidak ditentukan secara kaku sejak awal, tetapi dapat berubah baik dalam
hal jumlah maupun karakteristik sampelnya, sesuai dengan pemahaman
konseptual yang berkembang dalam penelitian.
c. Tidak diarahkan pada keterwakilan arti jumlah atau peristiwa acak,
melainkan kecocokan konteks.
Pada penelitian ini, jumlah sampel yang diteliti adalah sebanyak tiga orang
penderita kanker yang sedang menjalani pengobatan.
III.C. 3 Prosedur Pengambilan Sampel
Prosedur pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah berdasarkan
pengambilan sampel kasus kritikal. Teknik pengambilan sampel kasus kritikal ini
dimaksudkan untuk memperoleh penjelasan melalui kasus-kasus yang dianggap
kritis. Kritis disini yang dimaksudkan adalah istimewa, baik karena keunggulan
maupun karena keterbelakangannya.
III.C. 4 Lokasi Penelitian
Pengambilan data untuk penelitian ini dilakukan di Medan. Pengambilan
daerah penelitian tersebut adalah untuk kemudahan dalam pengambilan data,
III.D. Alat Bantu Pengumpulan Data
Menurut Poerwandari (2007) bahwa yang menjadi alat terpenting dalam
penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri. Namun, untuk memudahkan
pengumpulan data, peneliti membutuhkan alat bantu, seperti alat perekam (tape
recorder), pedoman wawancara dan pedoman observasi. Alat bantu yang
digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Alat perekam (tape recorder)
Alat perekam digunakan untuk memudahkan peneliti untuk mengulang
kembali hasil wawancara yang telah dilakukan. Dengan adanya hasil
rekaman wawancara tersebut akan memudahkan peneliti apabila ada
kemungkinan data yang kurang jelas sehingga peneliti dapat bertanya
kembali kepada sampel. Penggunaan alat perekam ini dilakukan setelah
memperoleh persetujuan dari sampel. Selain itu, penggunaan alat perekam
memungkinkan peneliti untuk lebih berkonsentrasi pada apa yang
dikatakan subjek, alat perekam dapat merekam nuansa suara dan bunyi
aspek-aspek wawancara seperti tertawa, desahan, sarkasme secara tajam
(Padget, 1998).
2. Pedoman wawancara
Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan peneliti mengenai
aspek-aspek yang harus dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek
(checklist) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau
ditanyakan (Poerwandari, 2007). Pedoman wawancara bertujuan agar
juga sebagai alat bantu untuk mengkategorisasikan jawaban sehingga
memudahkan pada tahap analisa data nantinya.
3. Pedoman Observasi
Pedoman observasi diperlukan untuk memudahkan peneliti mengamati
bahasa non verbal partisipan yang mengungkapkan informasi yang tidak
didapatkan saat percakapan berlangsung. Lembar observasi berisi
informasi yang dapat melaporkan segala bentuk bahasa tubuh yang terlihat
dari partisipan. Dimana hal ini akan sangat membantu pemahaman analisis
data.
III.E. Kredibilitas Penelitian
Kredibilitas adalah istilah yang digunakan dalam penelitian kualitatif
untuk menggantikan konsep validitas (Poerwandari, 2007). Deskripsi mendalam
yang menjelaskan kemajemukan (kompleksitas) aspek-aspek yang terkait (dalam
bahasa kuantitatif: variabel) dan interaksi dari berbagai aspek menjadi salah satu
ukuran kredibilitas penelitian kualitatif.
Menurut Poerwandari (2007), kredibilitas penelitian kualitatif juga
terdapat pada keberhasilan mencapai maksud mengeksplorasi masalah dan
mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang
Patton (dalam Poerwandari, 2007) mengungkapkan bahwa
langkah-langkah yang digunakan untuk meningkatkan kredibilitas penelitian dapat
dilakukan dengan cara :
a. Mencatat bebas hal-hal penting serinci mungkin, mencakup pengamatan
objektif terhadap setting, partisipan ataupun hal lain yang terkait dengan
data. Catatan ini sangat penting dalam memudahkan mengembangkan
analisis dan interpretasi.
b. Mendokumentasikan data yang terkumpul, proses pengumpulan data
maupun strategi analisisnya secara lengkap.
c. Memanfaatkan langkah-langkah dan proses yang diambil peneliti-peneliti
sebelumnya sebagai masukan bagi peneliti untuk melakukan pendekatan
penelitian dan menjamin pengumpulan data yang berkualitas untuk
penelitiannya sendiri.
d. Menyertakan partner atau orang-orang yang dapat berperan sebagai
pengkritik yang memberikan saran-saran pembelaan yang akan
memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap analisis yang dilakukan
peneliti.
e. Melakukan upaya konstan untuk menemukan kasus-kasus negatif:
pemahaman tentang pola dan kecenderungan yang telah diidentifikasi akan
meningkat apabila peneliti memberikan perhatian pada kasus-kasus yang
tidak sesuai dengan pola umum.
f. Melakukan pengecekan dan pengecekan kembali data (checking and
Peneliti perlu mengembangkan pengujian-pengujian untuk mengecek
analisis dan mengaplikasikannya pada data, serta mengajukan
pertanyaan-pertanyaan tentang data.
Pada penelitian ini, hal-hal yang digunakan untuk meningkatkan
kredibilitas penelitian yaitu berupa mencatat bebas hal-hal penting serinci
mungkin, mencakup pengamatan objektif terhadap setting, partisipan ataupun hal
lain yang terkait. Peneliti juga mendokumentasikan semua data-data yang
terkumpul selama penelitian.
III.F Prosedur Penelitian
1. Tahap Persiapan Penelitian
Tahap persiapan penelitian yang dilakukan dalam penelitian adalah:
a. Mengumpulkan data yang berhubungan dengan dinamika harapan
pada penderita kanker.
Peneliti mengumpulkan informasi dan teori-teori yang berkaitan
dengan dinamika terbentuknya harapan, khususnya pada penderita
kanker yang sedang menjalani pengobatan. Selanjutnya, peneliti
menentukan karakteristik responden yang akan disertakan dalam
penelitian ini. Peneliti juga mengumpulkan fenomena-fenomena
b. Menyusun pedoman wawancara dan pedoman observasi.
Agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan
penelitian, peneliti menyusun butir-butir pertanyaan berdasarkan
kerangka teori yang ada untuk menjadi pedoman wawancara.
c. Persiapan untuk mengumpulkan data.
Mengumpulkan informasi tentang calon responden penelitian.
Setelah mendapatkannya, lalu peneliti menghubungi calon
responden untuk menjelaskan tentang penelitian yang dilakukan
dan menanyakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam
penelitian.
d. Membangun rapport dan menentukan jadwal wawancara.
Setelah memperoleh kesediaan dari responden penelitian, peneliti
kemudian menghubungi responden, membangun rapport dan
menentukan jadwal wawancara.
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
Setelah tahap persiapan penelitian dilakukan, maka peneliti memasuki
tahap pelaksanaan penelitian.
a. Mengkonfirmasi ulang waktu wawancara.
Sebelum wawancara dilakukan, peneliti mengkonfirmasi ulang
waktu dan tempat yang sebelumnya telah disepakati bersama
b. Melakukan wawancara berdasarkan pedoman wawancara.
Sebelum melakukan wawancara, reponden diminta untuk
memahami tujuan wawancara, bersedia menjawab pertanyaan yang
diajukan serta memahami bahwa hasil wawancara adalah rahasia
2013 16.30 Wadir RS
c. Memindahkan rekaman hasil wawancara ke dalam bentuk transkrip
verbatim.
Setelah hasil wawancara diperoleh, peneliti memindahkan hasil
wawancara ke dalam verbatim tertulis. Pada tahap ini, peneliti
melakukan koding dengan memberikan kode-kode pada materi
yang telah diperoleh. Koding dilakukan untuk dapat
mengorganisasi dan mensistematisasi data secara lengkap dan
mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang
topik yang dipelajari.
d. Melakukan analisa data.
Bentuk transkrip verbatim yang telah selesai dibuat kemudian
dibuatkan salinannya. Peneliti kemudian menyusun dan
koding menjadi sebuah narasi yang baik dan menyusunnya
berdasarkan alur pedoman wawancara yang digunakan saat
wawancara.
e. Menarik kesimpulan, membuat diskusi dan saran.
Setelah analisa data selesai, peneliti menarik kesimpulan untuk
menjawab rumusan permasalahan. Kemudian peneliti menuliskan
diskusi berdasarkan kesimpulan dan data hasil penelitian. Setelah
itu, peneliti memberikan saran-saran sesuai dengan kesimpulan,
diskusi dan data hasil penelitian.
3. Tahap Pencatatan Data
Semua data yang diperoleh pada saat wawancara direkam dengan alat
perekam dengan persetujuan partisipan penelitian sebelumnya. Dari hasil
rekaman ini kemudian akan ditranskripsikan secara verbatim untuk dianalisa.
Transkrip adalah salinan hasil wawancara dalam pita suara yang dipindahkan ke
dalam bentuk ketikan di atas kertas.
III. G. Metode Analisis Data
Beberapa tahapan dalam menganalisis data kualitatif menurut Poerwandari
(2007), antara lain :
a. Koding
Koding adalah proses membubuhkan pada materi yang diperoleh. Koding
lengkap dan mendetail sehingga dapat memunculkan dengan lengkap gambaran
tentang topik yang dipelajari.
Semua peneliti kualitatif menganggap tahap koding sebagai tahap yang
penting, meskipun peneliti yang satu dengan peneliti yang lain memberikan
usulan prosedur yang tidak sepenuhnya sama. Pada akhir penelitilah yang berhak
dan bertanggung jawab memilih cara koding yang dianggapnya paling efektif bagi
data yang diperolehnya.
b. Organisasi Data
Highlen dan Finley (dalam Poerwandari,2007) menyatakan bahwa organisasi data
yang sistematis memungkinkan peneliti untuk:
1. memperoleh data yang baik.
2. mendokumentasikan analisis yang berkaitan dengan
penyelesaian penelitian.
Hal-hal yang penting untuk disimpan dan diorganisaskan adalah data
mentah (data lapangan dan hasil rekaman), data yang sudah selesai diproses, data
yang sudah ditandai/dibubuhi kode-kode khusus dan dokumentasi umum
kronologis mengenai pengumpulan data dan langkah analisis.
c. Analisis Tematik.
Penggunaan analisis tematik memungkinkan peneliti menemukan pola
yang pihak lain tidak bisa melihatnya secara jelas. Pola atau tema tersebut tampil
seolah secara acak dalam tumpukan informasi yang tersedia. Analisis tematik
model tema, atau indikator yang kompleks, kualifikasi yang biasanya terkait
dengan tema itu atau hal-hal diantara gabungan dari yang telah disebutkan. Tema
tersebut secara minimal dapat mendeskripsikan fenomena, dan secara maksimal
memungkinkan interpretasi fenomena.
d. Tahapan Interpretasi
Kvale (dalam Poerwandari, 2007) menyatakan interpretasi mengacu pada
upaya memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam. Peneliti
memiliki perspektif mengenai apa yang sedang diteliti dan menginterpretasi data
melalui perspektif tersebut. Proses interpretasi memerlukan distansi (upaya
mengambil jarak) dari data, melalui langkah-langkah metodis dan teoritis yang
jelas serta memasukkan data ke dalam konteks konseptual yang khusus.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.A Hasil Penelitian
IV.A.1 Hasil Penelitian per Partisipan
IV.A.1.1 Partisipan Pertama
1. Data Diri Partisipan:
Nama : Aisyah (bukan nama sebenarnya)
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 33 tahun
Pekerjaan : Perawat
Agama : Islam
Status Perkawinan : Menikah
Jenis Kanker : Kanker Payudara
Stadium Kanker : 2A
Diagnosa Pertama : Oktober 2013
2. Laporan Observasi
Pada awalnya, Aisyah direkomendasikan oleh seorang perawat di rumah
sakit yang sudah dikenal oleh peneliti. Kemudian, perawat tersebut menghubungi
Aisyah terlebih dahulu untuk menanyakan apakah ia bersedia diwawancara oleh
mahasiswa yang sedang melakukan penelitian. Ia pun langsung bersedia.
Wawancara pertama dilakukan ketika ia hendak menjalani dinas sore.
Sekitar pukul 15.00, ia memasuki ruangan tempat peneliti sudah menunggu.
Ruangan tersebut cukup besar, ditengahnya ada meja persegi dengan kursi-kursi
yang mengelilingi meja tersebut. Ruangan tersebut tertutup dan memiliki alat
pendingin ruangan. Ketika memasuki ruangan, ia tersenyum melihat peneliti yang
memang sendiri di ruangan tersebut. Ia mengenakan pakaian dinas berwarna hijau
dengan jilbab putih yang disematkan bros. Ia berperawakan kecil, dengan tinggi
badan sekitar 155 cm dan berat badan proporsional, kulitnya berwarna sawo
matang. Peneliti langsung berdiri dan menjabat tangan partisipan, kemudian
mempersilakannya duduk. Ia mengatur kursi sehingga kami duduk berhadapan.
Peneliti kembali mengutarakan tujuan dari wawancara ini dan partisipan bersedia
untuk terlibat hingga selesai. Aisyah terlihat ramah walaupun belum lama
mengenal peneliti, hal ini terlihat karena ia selalu tersenyum kepada peneliti.
Secara keseluruhan, Aisyah menjawab pertanyaan dengan cukup detail dan
terkesan terbuka sehingga tidak menyulitkan peneliti untuk memberikan
pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut. Posisi duduknya lebih sering tegak dengan
tidak bersandar pada kursi dan tangannya selalu bergerak untuk membantunya
dalam memberikan penjelasan. Sesekali ia meletakkan sikunya diatas meja.
Hanya ketika pertanyaan terkait dengan suaminya ia bersandar, menundukkan
wajahnya, tersenyum dan tidak menatap peneliti secara langsung. Ia terlihat
ekspresif dalam merespon pertanyaan peneliti, terutama ketika ia merespon
pertanyaan mengenai apa yang ia fikirkan ketika mendapatkan diagnosa kanker, ia
arah tubuh menjadi condong ke peneliti. Intonasi suaranya pun akan menjadi
rendah ketika merespon pertanyaan terkait suaminya, anak-anaknya serta
harapannya. Tidak ada yang mengganggu selama proses wawancara berlangsung.
Pada akhir wawancara, peneliti mengemukakan rencana jadwal pertemuan
berikutnya yang langsung disetujui oleh partisipan.
Pada saat wawancara kedua, ia mengenakan jilbab putih dan pakaian dinas
berwarna biru. Kami bertemu sekitar pukul 15.00 dan langsung mencari tempat
yang nyaman untuk melakukan wawancara. Ruangan yang dipakai untuk
wawancara berukuran sekitar 3m x 2m, memiliki meja kecil dan satu sofa
panjang. Ketika wawancara berlangsung, arah tubuh partisipan mengarah kepada
peneliti, walaupun partisipan duduk di sebelah kiri peneliti. Tidak banyak
perbedaan dari wawancara pertama dalam merespon pertanyaan peneliti. Aisyah
tetap terlihat ekspresif dalam memberikan respon pertanyaan. Ia tidak banyak
mengubah posisi tubuhnya yang cenderung menyamping mengarah ke peneliti.
Sesekali, ia mengarahkan pandangannya keatas seolah-olah menerawang ketika
memberikan respon pertanyaan mengenai masa lalunya, tidak banyak gerakan
tangan yang dilakukannya.
Ketika merencanakan untuk melakukan wawancara ketiga, peneliti
mengalami kendala dalam mengatur jadwal dengan Aisyah. Kendala ini
dikarenakan peneliti tidak membalas pesan dan telepon dari peneliti. Kemudian,
peneliti mencoba menghubungi rekan sekerjanya untuk mengetahui keadaan dari
Aisyah. Ia mengatakan bahwa Aisyah mengalami penurunan kesehatan setelah
Menurut rekan sekerjanya tersebut, biasanya beberapa hari setelah menjalani
kemoterapi, Aisyah akan opname untuk sekedar pasang infus karena asupan
makanan dan minumannya kurang. Hari kerjanya pun semakin berkurang karena
Aisyah selalu merasa sakit dan lemas yang berlangsung berhari-hari setelah
kemoterapi, ia biasanya hanya bekerja sehari dua hari, kemudian mengambil cuti
hingga pelaksanaan kemoterapi selanjutnya. Tetapi, ketika akan menjalani
kemoterapi, ia dengan semangatnya mengurus surat-suratnya sendiri, bahkan
mengambil obatnya sendiri.
Beberapa hari setelah peneliti mencoba untuk menghubungi Aisyah,
akhirnya ia memberikan respon dan mengijinkan peneliti menemuinya ketika ia
kembali masuk kerja. Peneliti mengajukan waktu bertemu pukul 15.00 dan
disetujui oleh Aisyah. Pada hari yang telah ditentukan, peneliti telah sampai di
rumah sakit sekitar pukul 11.00 dan mengetahui bahwa Aisyah juga memiliki janji
bertemu dengan ibu peneliti yang merupakan direktur rumah sakit tersebut untuk
berdiskusi, dikarenakan ibu peneliti adalah seorang penderita kanker yang telah
melewati seluruh pengobatan kanker. Aisyah datang sekitar pukul 13.30 dan
pertemuan berlangsung di ruangan yang sama digunakan ketika wawancara
pertama. Ia langsung menjabat tangan peneliti dan ibu peneliti. Setelah duduk,
Aisyah mulai mengeluhkan sakitnya kemoterapi dan menanyakan bagaimana ibu
peneliti bisa kuat menjalani proses pengobatan. Diskusi tersebut berlangsung
sekitar tiga puluh menit. Selama proses diskusi berlangsung, intonasi suaranya
cenderung tinggi, arah tubuhnya condong ke depan mengarah ke ibu peneliti,
respon yang diberikan oleh ibu peneliti, ia juga jarang melakukan kontak mata
langsung dengan ibu peneliti. Intonasi suaranya akan menjadi rendah ketika ia
menegaskan efek kemoterapi yang memang ia alami setelah mendapatkan
peringatan dari ibu peneliti sebelumnya. Pada saat ini juga, arah matanya melihat
ke bawah seolah merenungi apa yang sedang terjadi padanya. Setelah diskusi ini
selesai, dilanjutkan dengan peneliti melakukan wawancara dengan partisipan.
Ketika melakukan wawancara, peneliti meminta Aisyah untuk berpindah
ruangan. Ruangan yang digunakan sama dengan ruangan ketika wawancara kedua
berlangsung. Pada wawancara ketiga ini, partisipan mengenakan pakaian dinas
berwarna hijau dengan jilbab putih dan disematkan bros. Sedikit berbeda dari dua
wawancara sebelumnya, Aisyah cenderung kurang bersemangat dan tidak
ekspresif dalam merespon pertanyaan peneliti. Walaupun peneliti tidak
mengalami kesulitan dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut,
tetapi kontak mata yang dilakukan Aisyah berkurang dibandingkan dua
wawancara sebelumnya, kali ini ia lebih sering mengarahkan pandangannya
keatas seolah menerawang. Ia hanya menatap peneliti, menyunggingkan
senyuman dan intonasi nadanya meningkat ketika ia merespon pertanyaan terkait
dengan apa yang akan ia rencanakan selanjutnya
3. Laporan Wawancara
a. Riwayat Kehidupan
Aisyah, lahir di Binjai 33 tahun yang lalu, merupakan anak ketiga dari
ke bawah. Dari kecil, ia dan saudara-saudaranya diajarkan untuk mandiri. Mereka
terbiasa berbagi tugas untuk menyelesaikan segala sesuatunya. Bahkan, ketika
mereka menginginkan sesuatu dari orangtuanya, mereka akan dengan sabar
menunggu, hingga orang tua mereka bisa mengabulkan permintaan mereka.
Ia menghabiskan masa kecilnya di kota Binjai hingga akhirnya ia pindah
ke Medan untuk melanjutkan pendidikannya ke Akademi Keperawatan. Pada
awalnya, ia tidak pernah berifikir untuk melanjutkan sekolah di akper, malah ia
ingin melanjutkan sekolah ke Akademi Pariwisata. Tetapi, ketika menamatkan
bangku sekolah menengah atas, ia diajak salah seorang temannya untuk melanjut
diakademi keperawatan. Ia pun berfikir dan akhirnya menyetujui hal tersebut. Ia
meminta ijin kepada orang tuanya untuk melanjutkan ke akademi keperawatan.
Pada masa awal pendidikannya di akademi keperawatan tersebut, ia
mengalami stress dan tidak betah. Tetapi, ia tetap bertahan hingga berhasil
menyelesaikan pendidikannya. Ia pun bertemu dengan suaminya di tempat itu. Ia
pun sekarang menikmati profesinya sebagai perawat. SA sekarang telah memiliki
anak sebanyak dua orang. Anak yang paling besar adalah seorang laki-laki yang
masih berusia sembilan tahun dan sedang menduduki bangku kelas tiga di salah
satu sekolah dasar di kota Medan, sedangkan anaknya yang kedua adalah seorang
perempuan yang masih menduduki bangku taman kanak-kanak. Suaminya bekerja
b. Riwayat Penyakit
Sekitar bulan April atau Mei tahun 2013, ia sedang menelfon ketika ia
merasakan ada benjolan kecil di bawah ketiak kanannya disamping payudara.
Langsung ia menelfon suaminya untuk berkonsultasi, dan suaminya menyarankan
agar ia segera memeriksakannya. Karena perasaan takut, ia pun menunda
melakukan pemeriksaan terhadap benjolan tersebut.
Kemudian, di awal bulan Juni 2013, ia merasakan benjolan tersebut sudah
mulai berdenyut sekali-sekali. Ia menceritakan hal ini kepada teman-teman
seprofesinya yang mengatakan bahwa kalau benjolan tersebut berdenyut berarti
tidak berbahaya. Ia pun sempat merasa tidak khawatir terhadap benjolan tersebut.
Tetapi, yang membuat ia khawatir adalah benjolan tersebut semakin keras,
berdenyut, tidak mobile dan garis batasnya tidak jelas. Hingga bulan Oktober
2013, karena sudah merasa tidak nyaman, ia memutuskan untuk memeriksakan
diri ke dokter. Dokter langsung mendiagnosa kalau benjolan tersebut adalah
tumor dan tidak jinak. Dokter pun menyarankan untuk melakukan USG. Dari
hasil USG didapati bahwa benjolan tersebut memang tumor walaupun cenderung
tidak ganas. Ia pun membawa hasil USG untuk kembali berkonsultasi dengan
dokter yang mengatakan bahwa dari hasil foto, benjolan tersebut merupakan
kanker payudara dan harus segera dilakukan operasi masektomi untuk membuang
semuanya dan perlu dilakukan kemoterapi. Ia pun melakukan operasi pada
pertengahan bulan November 2013.
Akhir bulan Desember, ia menjalani kemoterapi yang pertama. Ia
kemoterapi pertama selesai, ia dilarikan ke unit gawat darurat karena kurangnya
cairan yang masuk disertai dengan mual dan muntah yang berkelanjutan. Ia tetap
melanjutkan kemoterapi yang kedua. Pada kemoterapi yang kedua, kesulitan
muncul ketika venanya sulit terlihat dan rasa sakit itu kembali dialaminya. Hal ini
sempat membuatnya enggan untuk melanjutkan ke kemoterapi yang selanjutnya.
Dengan dukungan dari orang-orang terdekatnya, ia kembali memutuskan untuk
terus melaksanakan proses kemoterapi hingga selesai. Bahkan kemoterapi ketiga,
yang membuat ia kemblai dilarikan ke unit gawat darurat, tidak menyurutkan
semangatnya untuk terus menjalani pengobatan walaupun fisiknya sudah semakin
Kematian merupakan hal yang pertama kali terbersit di benak Aisyah
ketika ia didiagnosa kanker. Sempat menunda pemeriksaan karena ia takut
benjolan yang ia miliki benar kanker dan akhirnya ia juga didiagnosa kanker,
memunculkan amarah pada dirinya sendiri. Sebagai seorang perawat, ia
seharusnya segera memeriksakan diri begitu ia merasakan benjolan tersebut.
Tetapi sebaliknya, pengetahuannya di bidang medis yang diikuti oleh rasa takut
malah menahannya untuk segera memeriksakan diri. Akhirnya, hanya penyesalan
lah yang muncul karena ia ternyata harus menjalani kemoterapi juga walaupun
kanker yang ia derita masih berada pada stadium awal. Padahal, opsi kemoterapi
mungkin bisa dihindari jika ia segera memeriksakan dirinya begitu ia merasakan
adanya benjolan tersebut. Hal ini ia nyatakan sebagai berikut:
“Awalnya sih sebenarnya gak sadar ya kan, sekitar bulan empat ntah bulan lima itu kan, lagi nelfon di kamar, terasa gatal, pas diginikan, langsung teraba benjolan itu, sebelah kanan, pas di bawah ketiak ini tapi agak mendekati mammae, teraba, takut juga ya kan, tapi dia masih kecil ada teraba... siap nelfon, langsung nelfon suami, ceritakanlah ada terasa benjolan, dibilang suami periksakanlah, karena rasa takut tadi tu ga berani periksakan, cuman diceritain juga sama kawan-kawan kerja, periksa lah periksa... kemudian, sekitar bulan enam, kok kayaknya agak besar gitu, keras dia kan, udah lah mungkin ini gak papa, karena kan mulai dari bulan enam, mulai timbul rasa nyeri, sekali-sekali...” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
“Eee, kalau sangkaan ke kanker itu sih, ada, memang ada, itulah makanya, kita kan karena kita kerja di medis ini, pasti pikiran kita menuju kesana terus ya kan, nanti tumor, tapi iyaa, kok dia gak mobile, kok dia keras, kok diam aja di tempat, kok batasnya gak tegas.. udah berfikir kesitu, terus setelah divonis, yaudah lah makin” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
dua, cuman kan stadium dua pun ternyata harus kemo...” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
“Mati pikirannya (tanpa berpikir panjang, langsung mengucapkan “mati” dengan nada tinggi dan mata membesar menatap peneliti, badan juga menjadi condong ke arah peneliti), aduh, udahlah nggak selamat lagi ini, itu aja pikirannya, mana anak-anak masih kecil, pikirannya pas pertama kali di vonis itu ya itu, mati lah, aduh mati, aduh nggak panjang umur, begini begitu, banyaklah segalam macam, cuman yang kepikiran tadi yah itu, padahal bukan kita yang ngatur semua itu, tapi itu lah, karena divonis penyakitnya bukan penyakit yang biasa, pikirannya udah langsung kesana saja..” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
“Pernah awalnya, ya Allah kok harus aku ya kan.. iss, kenapa aku..”
(Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
Benjolan yang semakin membesar dan rasa tidak nyaman lah yang pada
akhirnya memaksa Aisyah untuk memeriksakan dirinya dan mengesampingkan
rasa takutnya. Rasa takut itu muncul kembali ketika ia harus menghadapi opsi
pengobatan yang disarankan oleh dokter yang menanganinya. Keputusan untuk
melakukan operasi mastektomi (operasi pengangkatan payudara) untuk
menghilangkan kankernya dan meminimalisir kemungkinan kanker akan muncul
kembali di kemudian hari merupakan suatu keputusan yang sulit baginya. Aisyah
harus ikhlas untuk menghilangkan salah satu anggota tubuhnya yang merupakan
simbol kecantikan bagi banyak wanita, apalagi dengan memperimbangkan
usianya masih belum cukup tua. Untungnya, suaminya tidak berkeberatan dengan
keputusan tersebut karena yang terpenting baginya adalah kesembuhan Aisyah.
Keberadaan anak-anaknya yang masih kecil, yang belum mengerti mengenai
penyakit yang diderita oleh ibunya, semakin menguatkan keputusannya untuk
menjalani pengobatan. Kesibukannya sebagai seorang perawat dan
rasa takutnya terhadap pengobatan yang akan ia hadapi. Bagaimanapun caranya,
ia harus bisa mencapai kesembuhan, agar bisa mendampingi anak-anaknya hingga
besar, menikmati hidupnya dengan suaminya serta terus melakukan aktivitas
sebagaimana yang ia biasa lakukan sehari-hari. Hingga pada akhirnya, ketika
menjalani pengobatan, ia menjadi ikhlas dengan apa yang dia alami, ia
menganggap hal ini sebagai cobaan yang pasti dapat ia atasi, walaupun
sebelumnya rasa takut dan tidak percaya terus membayangi dirinya. Hal ini ia
ungkapkan sebagai berikut:
“Syok... Iyaa.. Menangis.. tapi setelah selang beberapa hari lagi operasi bisa menjadi lebih tegar, apalagi setelah operasi ini, rasanya kok bisa lebih ikhlas, jadi ya udah, dijalani aja lah sekarang..” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
“Pasti anak, ya kan, nengok mereka, ditambah lagi motivasi dari suami, suami pun dukung, karena susah kan ya, apalagi untuk ngambil keputusan mastek, untuk diri kita sendiri aja susah ya kan, tapi karena suami pun mendukung, ya udahlah kalau itu nya, istilahnya dia, suami nggak berfikir kesana-sini, yang penting sembuh, nggak peduli gimana caranya, apapun yang dilakukan yang penting harus sembuh, ditambah lagi liat anak-anak yang masih kecil-kecil, jadi itu lah motivasinya, itu yang buat semangat, apalagi support dari kawan-kawan, apalagi kalau lagi kerja gini, hilang stress nya, yang ada ketawa, nggak ada kepikiran kesana, yang ada jadinya lebih santai lah menghadapinya..” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
“Waktu begitu tau hasil PA, kita kasi tau ke dokter, saya sudah tau langsung itu bakal kemo.. nah, cuman jenis kemonya kemaren kan belom tau, sekarang sudah tau, ya udah, rasanya pas dibilang dokter kemo, langsung, iya dok.. langsung bisa bilang iya.. walaupun kadang-kadang pas lagi sendiri, kepikir, aduh kok kemo sih, takut juga.. tapi sebenarnya kan lebih besar rasa ingin sembuh saya dibandingkan rasa takut saya, jadi ya udahlah, kalau kemo ya kemo, apalagi banyak yang bilang, nggak papanya kemo itu, nanti habis kemo, uda bersih, balik laginya ke awal, yang penting persiapan fisik kita untuk kemo..” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
ya kan, cuman kan kita usaha, kalau suami mendukung aja apapun itu...”
(Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
“Harapan kedepannya sih.. yang pasti.. ingin lebih tau lah, lebih tau untuk menjaga, yah pola hiduplah, pola makan, kedepannya sih kalau bisa sembuh, bersih, jangan timbul lagi penyakit begini-begitu, ya kepengennya, apapun nanti kata dokter, kalaupun itu memang untuk kedepannya, ntah nanti ada pemeriksaan ini ini ini ya udah dijalanin aja.. pokoknya intinya gimana supaya bisa sembuh, itu aja” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
“...tapi ya tadi itu, balik lagi, kita nggak bisa nyalahin siapa-siapa ya kan, sekarang yang harus dijalanin adalah berobat, gimana caranya supaya sembuh, jangan salahin orang, menyalahkan Allah, mungkin Allah mengasi cobaan, mungkin dibalik ini, Allah kan ngasi cobaan pasti ada jalan keluarnya, itu aja, jalan keluarnya yah tadi itu, berobat, hidup sehat dan semangat..” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
Operasi mastektomi ia jalani dengan lancar dan tidak ada kendala. Tetapi,
tindakan pengobatan tersebut tetap memberi dampak psikologis terhadap dirinya.
Ia menjadi kurang percaya diri terhadap bentuk tubuhnya, salah satu payudaranya
sudah tidak ada lagi. Ketika menghadapi kesulitan saat mandi dan berpakaian, ia
bahkan menolak suaminya yang ingin membantunya. Ia merasa malu dan tidak
ingin suaminya melihat kondisinya yang sekarang setelah menjalani operasi
pengangkatan. Rasa kurang percaya diri ini juga terbawa hingga ke tempat ia
bekerja. Ia menggunakan jilbab yang lebih lebar dari yang ia biasa gunakan untuk
menutupi daerah payudaranya yang sudah diangkat tersebut. Beruntung, hal ini
tidak berlangsung lama. Suaminya tetap membantu Aisyah saat mandi dan
berpakaian, tidak pernah mengeluhkan keadaan Aisyah yang sekarang. Hal ini
membuat kepercayaan diri Aisyah perlahan-lahan muncul kembali. Bahkan,
setelah beberapa hari menggunakan jilbab yang lebih lebar daripada yang biasa ia
menyadari bahwa anggapannya tentang orang-orang selalu memperhatikan
kekurangannya setelah operasi pengangkatan hanya berada dibenaknya saja.
Kekurangannya tidak akan terlihat dari baju kerjanya yang memang tidak ketat di
tubuh Aisyah serta orang-orang di sekitarnya memang sudah memahami bahwa ia
baru saja menjalani operasi pengangkatan dan tidak ada yang menyinggung
mengenai hal tersebut. Oleh karena itu, Aisyah merasa tidak perlu lagi untuk
menutup-nutupi kekurangannya. Kepercayaan dirinya pun meningkat kembali.
Hal ini, ia ungkapkan sebagai berikut:
“Suami sih nggak ada, nggak ada komen, mungkin karena suami juga orang medis ya kan dan mungkin support suami itu kan ya.. sedikit pun dia nggak ngeluh, padahal kadang saya sendiri yang kurang percaya diri, malu” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
“Iya.. kakak juga malu kalau diliat suami, pernah gitu kan pas habis operasi, mau mandi kan ngangkat tangan susah, didengar suami kakak kesakitan, tapi pas ditanya, gak papa kakak bilang, gak usah masuk. Tapi, suami tetap masuk ajah, ga peduli dia. Padahal kakak malu juga.. malu”
(Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
“Awal-awal iyaa.. awal-awal selesai operasi mulai masuk kerja, mulai pakai baju kerja, ih nampak kali yaa.. kurang percaya diri ya kan.. kalau bisa pakai jilbab yang besar-besar... lama-lama udah biasa gitu.. yaudahlah.. toh mereka juga udah tau apa penyakit saya, udah dibuang.. jadi ngapain harus malu..” (Wawancara Personal, 9 Pebruari 2014)
“Sehari-dua hari ajah.. ngerasa kayaknya orang ngeliatin, padahal nggak... sekarang udah biasa” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
Pengobatan yang harus Aisyah jalani tidak berhenti sampai disitu.
Kemoterapi merupakan tahapan pengobatan selanjutnya yang ia harus hadapi.
Kemoterapi lah pemicu utama yang memunculkan rasa takut Aisyah terhadap
pengobatan kanker. Oleh karena itu, ia rajin mencari informasi terkait kemoterapi.
dirinya untuk menghadapi kemoterapi nantinya. Tak jarang informasi-informasi
tersebut malah membuat ia takut dan ragu untuk menjalani kemoterapi, bahkan
suaminya hampir melarangnya untuk mencari informasi-informasi lagi jika hal
tersebut hanya menguatkan rasa takut Aisyah. Tetapi, rasa penasarannya tidak
membuat Aisyah berhenti mencari informasi-informasi terbaru yang bermanfaat
untuknya. Nasihat suaminya terhadap Aisyah agar tidak terlalu memikirkan
dampak dari kemoterapi karena jika Aisyah ingin sembuh, ia harus menghadapi
hal tersebut, semakin menguatkan tekad Aisyah untuk terus menjalani
pengobatan. Dukungan-dukungan yang ia dapatkan dari keluarga, suami serta
keberadaan anak-anak yang masih kecil merupakan kontribusi terbesar yang
membantu Aisyah untuk melawan rasa takutnya. Hal yang harus ia fikirkan adalah
bagaimana caranya agar ia dapat mencapai kesembuhan. Hal ini ia ungkapkan
sebagai berikut:
“Ada juga sih.. tanya-tanya gitu kan.. kayak orang-orang yang kena kanker, ada juga kan tante, tapi dia CA paru, paru itu kan istilahnya alat vital ya kan, dia ajah bisa bertahan udah umur sekian, kenapa aku nggak bisa, buka-buka internet berbagai macam cara ditengok.. nanti setelah, nanti, ee operasi mastektomi itu kek mana, CA itu macam mana tanda dan gejalanya, persiapan untuk kemo itu gimana, pokoknya udah saya baca lah banyak-banyak itu di internet, kadang-kadang malah setelah baca internet itu jadi sedih lagi, aduh ternyata ngeri kali membayangkan yang gitu-gitu, karena bahasa-bahasa itu kan kadang berlebihan, kadang begini ya kan, marah juga suami, udah jangan dibuka lagi internet, habis baca internet pasti tarik nafas panjang... yah wajarlah mas, namanya dibadan kita ada penyakit kanker, pasti kan kita juga mau tau gimana caranya, istilahnya buka-buka, karena rasa ingin tahu, rasa ingin sembuh yang besar itu tadi, jadi kemanapun dicari informasinya macem mana pun..” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
antioksidannya kayak wortel, tomat, buah bit, gitulah untuk persiapannya.. ..” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
“Iya.. apalagi nanti kemo, sering saya ngeluh, nanti mas saya kemo, gundul, jelek, kayak mana itu... Tuti kok mikirin itu, kan udah dibilang, sekarang harus sembuh, apapun itu, nanti kalau udah siap kemo, udah kata dokter bersih, pastikan balik lagi keawal, yang penting persiapan kita itu tadi, siapa sih yang mau jelek, siapa sih yang mau sakit, cuman kalau kayak gini ceritanya, udah gak mikirin yang tadi itu, gimana caranya saya ingin sembuh, gimana caranya jalanin ajah..” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
“Pengen sembuh yah pasti karena satu itu anak-anak, anak-anak masih kecil, mereka masih butuh mamaknya, suami.. tambah lagi.. kepengenlah, karena kan belom sempet, belom ini, gimana lah, kalau kita nggak semangat kan, kita belom sempat liat anak itu senang, menikahkan orang itu, nikmatin hidup sama suami...” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
“Sebenarnya saya orangnya lemah ya, lemah sih, gak usahkan kena penyakit yang gini, kadang, suami jauh, kami pisah yah, kadang untuk menghadapi semuanya sendiri ajah, kadang saya tidak sanggup menghadapi sendiri, tapi ntah kena apa, setelah ini, saya menjadi lebih kuat, lebih dekat sama yang di atas, paling nggak setiap hari saya doa, ya Allah, beri saya kesembuhan.. kalau ditanya saya sebenarnya orangnya lemah.. makanya, keluarga, suami, betul-betul ngasi support ke saya, keluarga begitu dengar saya kena kanker, nggak ada yang, biasanya kan ada keluarga yang bilang berobat dulu kesini, berobat ini, ini, ini, jangan di buang, sayang.. ini keluarga nggak ada, ya udah, yang namanya penyakit kata dokter, apa pun itu, dibuang ya dibuang, gitu supportnya, makanya , mereka ajah support saya, kenapa saya nggak semangat buat sembuh gitu..” (Wawancara Personal, 9 Desember 2013)
Setelah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kemoterapi
berdasarkan informasi-informasi yang ia dapat, akhirnya Aisyah pun harus
menjalani pengobatan kemoterapi tersebut. Tidak seperti operasi mastektomi yang
berjalan dengan lancar, setelah kemoterapi yang kedua ia pun menghadapi sebuah
hambatan, yaitu rasa sakit. Rasa sakit yang luar biasa yang ia rasakan hampir
membuat Aisyah tidak ingin lagi melanjutkan pengobatan kemoterapi tersebut.
berkali-kali lagi hingga proses kemoterapi itu selesai. Melihat hal tersebut, suami Aisyah
tidak membiarkan rasa takut Aisyah menguasai pikirannya. Suami Aisyah serta
rekan-rekan kerja Aisyah terus memberikan dukungan kepada Aisyah agar ia mau
melanjutkan pengobatan, bahwa rasa sakit itu lah yang harus ia hadapi untuk
mencapai kesembuhan yang ia inginkan. Bersamaan dengan itu, setelah rasa sakit
berangsur-angsur berkurang beberapa hari setelah kemoterapi selesai,
keinginannya untuk kembali melanjutkan pengobatan pun timbul. Walaupun,
tetap saja ia terus menerus mengeluhkan rasa sakit ketika obat kemoterapi itu
dimasukkan ke dalam tubuhnya hingga beberapa hari setelah itu. Beberapa hari
setelah menjalani kemoterapi pertama dan ketiga, Aisyah sempat dirawat di unit
gawat darurat dikarenakan ia tidak mengonsumsi makanan maupun cairan
sehingga ia pingsan ketika sedang beristirahat di rumah. Suaminya yang pada saat
itu masih berada di rumah untuk mendampinginya bergegas membawanya ke
rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Hal ini ia ungkapkan
sebagai berikut:
“Setelah kemo kedua mau berhentilah, nggak mau menjalaninya lagi, karena luar biasa kali sakitnya.” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
“Karena sakit (suara meninggi), sakit kali, terus takut nanti pas kemo ketiga pasti kek gini lagi, terus dibilang juga sama suami, sama kawan-kawan, kan udah ngalamin sakitnya, udah tau, udah dijalanin, yaudah, nanti kemo ketiga kayak gitu juga, jalanin ajah, rasakan ajah sakitnya, toh gitu juga, emang itu yang harus dijalanin... tapi kalo udah siap selesai, udah enam hari, kayak gini kan, timbul semangatnya, kalo gak kemo gak bisa nih...” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
“Nggak ada cairan yang masuk, makanan nggak ada yang masuk, muntahnya luar biasa, tambah lagi haid, jadi kayaknya, sempet sih pingsan, pas ngambil air minum, berdiri, pingsan, karena pakek cangkir gitu kan, cangkirnya jatuh, suami keluar, sempet juga teriak, tapi diaaam gitu, air udah beserak dibawah, di tolong juga sama suami, karena kalau apapun pasti suami yang nolong, dipapahkan, nggak bisa jalan sendiri.”.
(Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
Semenjak menjalani kemoterapi, pergerakan Aisyah semakin terbatas. Ia
bahkan harus sering mengambil cuti bekerja. Di rumah, Aisyah dibantu oleh
suaminya untuk melakukan aktivitas-aktivitas pribadi. Ibu Aisyah yang tinggal di
rumah yang berbeda, sejak Aisyah menjalani kemoterapi, ia pun ikut tinggal
bersama dengan Aisyah untuk membantu Aisyah mengurus anak-anak Aisyah dan
rumahnya, dikarenakan suami Aisyah yang bekerja di luar kota sehingga tidak
bisa menjaga Aisyah terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Hal ini ia
ungkapkan sebagai berikut:
“Orangtua mamak ajah.. cuman kan mamak, nggak tinggal sama kami, cuman nemenin, kalau suami pulang, mamak datang..” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
“Iyaa.. tapi kalau pas kayak gini, mamak di rumah juga.. biar ada yang bantuin, karena kan nggak ada yang masak,” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
Pengobatan kemoterapi yang sedang ia jalani, tidak ia anggap sebagai
penghalang, tetapi ia anggap sebagai satu-satunya cara untuk mencapai tujuannya,
yaitu untuk sembuh. Penting baginya untuk mencapai kesembuhan tersebut karena
ia tidak ingin terus menerus merasakan sakit. Rasa sakit yang ia rasakan sebagai
dampak dari kemoterapi harus ia hadapi sebagai satu-satunya cara untuk mencapai
kesembuhan tersebut. Jika ia berhenti menjalani pengobatan, maka rasa sakit juga
ia inginkan sangat mungkin tercapai dan ia mampu mencapainya. Anggapan ini
muncul karena ia menanamkan pemikiran positif di dalam dirinya, ia percaya
bahwa pemikiran yang positif akan mengarahkan kita kepada hasil yang positif
pula. Hal ini ia ungkapkan sebagai berikut:
“Sebenarnya nggak jadi penghalang sih, yah tadi itu, dialah memang jalan satu-satunya untuk sembuh, jadi yang memang harus dijalanin, memang udah itu lah pengobatannya, kalau kanker dimanapun kita tahu, memang ada yang kemo ada yang nggak, sesuai dengan hasil ya kan, tapi kalau memang hasilnya udah harus kemo, ya udah, malah dulu pas dibilang dokter harus kemo, eee... nggak ada sikitpun batin nolak, kemo dok, iya kemo, langsung meng-iya-kan gitu, karena mungkin kan belom tau sakitnya, setelah udah tau sakitnya pun ternyata sakitnya itu hanya sekian hari sajanya, habis itu biasa lagi, walaupun sakitnya memang luar biasa.. memang itu jalan satu-satunya buat sembuh, kan nggak mungkin motong jalan ya kan (tertawa)..” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
“Penting lah, penting kali, karena itu tadi, kepengen sembuhny itu kan karena nggak mau terus-terusan sakit, toh kalau kita biar-biarkan penyakit itu, bakal nyiksa ke diri kita juga, bakal sakit juga yang kita rasakan, jadi kenapa kita nggak ngerasakan sakit, toh efeknya untuk penyembuhan kita, daripada kita berdiam diri, membiarkan penyakit itu kemana-mana yang berujungkan toh sakit juga, yang ujungnya kehilangan nyawa, kan gitu, itu yang dipikiran sekarang, jadi memang lebih bagus, yaudah dijalanin memang kek gini lah, untuk sembuh itu memang harus sakitlah seperti ini pengobatannya, ya udahlah dijalanin ajah” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
“Mungkin, sangat mungkin, karena itu tadi ya kan, semua itu pasti berawal dari pikiran kita, kita bisa pasti bisa, kita berpikir sehat pasti sehat, kalaupun kita sebelumnya sudah, walaupun memang awal-awalnya, belum menjalani udah pasti sakit pasti gini, karena kalau pikiran kita gitu pasti jadi sakit betul kita, tapi kalau kita berpikir bisa lah ini bisa, walaupun akhirnya mungkin sempat syok ya kan, tapi kan mungkin yang penting kita kan udah usaha.. intinya ginilah, sehat itu berawal dari pikiran ajah..”. (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
Keinginan untuk sembuh berasal dari dalam dirinya, muncul begitu saja
segera setelah ia divonis kanker. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, yang
Aisyah, dengan dukungan dari suaminya, bahkan tidak ragu untuk menghilangkan
salah satu anggota tubuhnya yang dianggap sebagai simbol kecantikan bagi
wanita, jika menghilangkan anggota tubuh tersebut memang berkontribusi
terhadap pencapaiannya untuk sembuh. Hal ini ia ungkapkan sebagai berikut:
“Dari pertama itu divonis sama dokter kanker, hati kecil kepikiran harus sembuh,” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
“Harus sembuh, malah memang sempet, divonis kanker.. biasa kan orang divonis kanker langsung down atau apa gitu, saya malah nggak, divonis kanker emang down tapi cuman harus, kata dokter kalau itu emang positif kanker, harus dibuang, yaudah buang, karena itu penyakit, buat apa disimpen-simpen, buang ya buang... karena kebanyakan, itu istilahnya apa kita yaa, itu kan kecantikan kita, apalah kata orang, kata suami, tapi saya nggak berpikir gitu, berpikir, ya udahlah kalau memang itu dibuang yah dibuang yang penting sehat.” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
Oleh karena itu, rencana Aisyah untuk mencapai kesembuhan adalah
menjalani proses kemoterapi ini hingga selesai. Setelah ia dinyatakan bebas
kanker, maka ia ingin menjalani pola hidup sehat, agar penyakit ini tidak terulang
lagi. Segera setelah pengobatan kemoterapi selesai, ia juga berkeinginan untuk
melakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit khusus kanker yang berada di
Jakarta. Keinginannya ini mendapatkan dukungan dari seluruh keluarganya.
Walaupun ada tetangga sekitar tempat tinggalnya yang merasa kasihan dan
menyarankan Aisyah untuk pengobatan alternatif yang tidak melibatkan rasa
sakit, Aisyah tetap berpegang teguh pada pendiriannya, bahwa ia ingin
pengobatan yang sedang ia jalani ini benar-benar selesai terlebih dahulu. Bahkan
jika di kemudian hari penyakit tersebut muncul kembali, ia siap untuk
melanjutkan pengobatan yang dapat menghilangkan penyakitnya.
ada baca-baca buku, nggak harus sakit untuk menjadi lebih sehat.. itu ajah patokan, jadi memang harus hidup sehat, nggak mau lagi ngulang yang dulu-dulu” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
“Ada, kemaren sempat cerita sama suami, sama mertua juga... nanti kalau udah selesai kemo pengenlah kontrol kayak ibu, ke darmais, alhamdulillah suami itu respon, ya udah nanti kalau mau kesana dikawanin, yang penting sembuh dulu, semangat, nanti kalau memang mau kesana dikawanin, alhamdulillahnya mereka support, alhamdulillahnya pun orang-orang pun support, kayak orang tua, kakak, tetangga gitu kan... karena kasian kali ya liat itu sakit, udahlah nggak usah kemo... berobat alernatif ajah kesini.. kasian liat asal habis kemo mual muntah, tapi ada penolakan sendiri, nggak mau lah yang gitu, selesai dulu semua, banyak yang datang ke rumah menawarkan ini itu, cuman kan nggak mungkin kita bilang, nggak mau itu bukan obat, kita tolak ajah, nantilah bu, selesai kemo kita coba, pokoknya setiap yang menawarkan gitulah jawabannya, karena dokternya menyarankan nggak boleh campur-campur... itu aja.” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
“Aduh kalau itu nggak bisa berpikir lah.. tapi yang pasti berobat terus, kalau nanti katanya eh masih ada, ya pasti konsultasi harus gimana, kalau memang harus menjalani ntah apalagi, yah harus dijalanin dulu lah, nantinya pokoknya dijalanin dulu untuk penyembuhannya...” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
Aisyah menyadari bahwa untuk mencapai tujuannya ia tidak bekerja
sendiri. Mulai dari suami yang selalu berusaha menyempatkan untuk pulang dan
mendampingi istrinya ketika akan menjalani operasi, kemoterapi bahkan tetap
tinggal hingga beberapa hari setelah Aisyah menjalani kemoterapi. Keluarga,
yaitu ibu dan saudara-saudara kandungnya, yang selalu mendukung dan tidak
menghalang-halangi keinginannya untuk menjalani pengobatan, walaupun merasa
kasihan ketika melihat Aisyah kesakitan ketika menjalani kemoterapi. Hingga
anak-anak sedikit banyaknya mulai memahami bahwa ibu mereka sedang sakit
sehingga mereka tidak banyak mengeluh ketika harus ditinggal ibunya ke rumah
sakit menjalani pengobatan. Kerinduan untuk bekerja dan dukungan yang ia dapat
sedang ia hadapi. Hal-hal ini lah yang berkontribusi untuk terus mempertahankan
semangat Aisyah untuk mencapai tujuannya. Dukungan yang paling ia rasakan
ialah tenaga yang suaminya habiskan selama ia menjalani pengobatan ini.
Suaminya yang harus bolak-balik rumah dan tempat kerja, membelikan apa saja
yang Aisyah inginkan walaupun itu sudah tengah malam hingga mengajak Aisyah
jalan-jalan ketika Aisyah merasa bosan berada di rumah terus menerus, setelah
sebelumnya memastikan kondisi Aisyah memang bisa untuk diajak jalan-jalan,
walaupun Aisyah tidak menghabiskan waktu yang lama di luar. Tentu saja hal ini
semakin menambah semangat Aisyah untuk sembuh. Tak lupa ia berdoa kepada
Allah untuk diberikan kesembuhan dan terus mencari informasi-informasi yang
dapat membantunya mengurangi rasa sakit ataupun menguatkannya secara fisik.
Hal ini ia ungkapkan sebagai berikut:
“Yang pasti keluarga lah.. suami, suami yang begitu semangatnya untuk menyembuhkan istrinya ini yang sakit, sampai-sampai nggak waktunya pulang pun diusahakan dia untuk pulang, karena sangking kepengen dia itu liat istrinya sembuh, keluarga, kakak-kakak mereka pun selalu support.. dari pertama divonis, mereka nggak yang jangan dioperasi, jangan dibuang, kesini ajah, nggak begitu, yaudah operasi ya operasi, yah mereka semua support, yah memang pas mereka liat saya habis kemo, yah kasian mereka liat saya, sampek kakak yang pertama bialng juga ya udahlah nggak usah kemo, tapi kalau udah liat semangat gini, sehat nya yaah, ya udahlah kemo ajah lagi, jadi semangat lagi, jadi kemo lagi lah ya, ya iya lah, bilang sama suami pun, aku kemo lagi yah mas, nah gitu lah semangat, mas ajah semangat masa tuti nggak, terakhir timbul juga semangat, ditambah lagi anak-anak, mereka pun udah ngerti, mama mau kemo, iyaa.. buat sembuh kan ma.. iyaa.. sedih rasanya gitu kan, mereka ajah ditinggal gitu nggak nangis, itu lah semangat itu, makanya nanti ni tanggal 25 ini, kemo keempat dijalanin ajah...” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
ngajak refreshing biar ga bosan di rumah, biar ga nampak kali sakitnya, yah itu tadi, finansial di luar pengobatan, semua diusahakan, yang penting nggak bileh berpikir banyak, padahal kadang-kadang berpikir juga, kasian kali, malam-malam nanti, mas pengen ini, dibeli, padahal bukan dimakan, yang dimakan pun sikit, karena yang dimakan sikit, mungkin pun suami berpikiran, capek aku beliknya yang dimakan pun cuman segini, tapi dia nggak menunjukkannya, yaudah kalau nggak mau lagi udah, walaupun kita tahu gitu... itu lah rasanya tadi, semangatnya buat kita, nggak kenal waktu, nggak kenal capek, ngurusin anak, masa kita nggak mau ya kan, orang itu ajah udah berusaha, ya udahlah, walaupun sakit harus dijalanin, itu pula lah jalan satu-satunya” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
“Anak-anak, dukungan dari keluarga, dukungan teman-teman, tambah lagi, pengen sembuh, pengen cepat-cepat kerja gini, udah berapa hari di rumah ajah, rindu sama situasi kerja, sama kawan-kawan, itu yang buat semangat, apalagi kalau opname, liat orang itu kerja, aduh, cepatlah aku sembuh, kayak orang itu enak,” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
“Iyah, lebih banyak yang buat semangat, itu lah tadi mungkin enaknya kita kerja, kalau kita di rumah aja, situasinya ajah, apalagi anak-anak ya kan, anak-anak ini kan labil, bandel, apalagi pas kita sakit pun emosi kita labil ya kan, apa nggak semakin down kita, liat tetangga lagi yang mengasihani, kita sebenarnya nggak kepengen sih dikasihani, pengennya disemangatin, kalau kerja gini kan situasinya ganti, jumpa kawan, semangat lagi, pulang liat anak, semangat lagi, nanti liat hari-hari jelang suami pulang, semangat lagi,” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
“Yang pertama pasti doa ya, minta dikasi yang terbaik, dimudahkan jalannya, dikasi kekuatan, keikhlasan, sabar, yah walaupun sabar nggak ada batas, tapi kita minta lah yang lebih lagi.. selain itu, pengobatan, minum obat, walaupun kadang-kadang, bosan juga minum obat, untuk nelannya ajah susah, dengan mulut yang sariawan, sakit, tapi kan kalau bukan kita yang semangat buat diri kita sembuh, siapa lagi” (Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
Penyakit kanker yang ia derita ini ia anggap sebagai berkah dari Yang
Maha Kuasa, teguran agar Aisyah lebih mendekatkan diri kepadaNya. Banyak
hikmah yang ia rasakan, antara lain: suami yang semakin sayang, keluarga yang
semakin dekat, hubungan silaturahmi antar saudara yang terjalin kembali setelah
sebelumnya mereka disibukkan dengan urusan keluarga masing-masing, sekarang
mulai sering berkunjung ke rumah Aisyah ataupun menyempatkan diri untuk
menanyakan keadaan Aisyah di tengah-tengah kesibukan mereka. Semua hal ini
ia dapatkan, setelah ia menderita kanker. Hal ini ia ungkapkan sebagai berikut:
“Yah kanker itu mungkin dianggap sebagai berkah, rejeki, ujian..”
(Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
“Yah mungkin, Allah ngasi ini karena ini yang terbaik, ini ada rencana lain, mungkin dengan adanya penyakit ini, bisa lebih dekat ke Dia, otomatis kan kita selalu doa ke Dia, minta yang terbaik, amaknya kita jadi dekatlah sama dia, kita terus menjalani hidup sehat, yah mungkin ini lah, rejekinya, dikasi ini biar tau bahwasanya kalau nggak hidup sehat itu yah beginilah jadinya, berkahlah, memang ada lah hikmahnya, memang dirasakan hikmahnya itu, suami makin sayang makin perhatian, anak-anank makin pengertian, keluarga makin dekat, karena silaturahmi terus, ke rumah terus liat kondisi, itu tadi, terkadang kalau lagi sendiri, ini lah hikmahnya, berkahnya...”
(Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
“Nggak jarang, cuman kan ita jauh-jauhan, kalau datang cuman pas lagi ada acara, nanti kita pun sibuk kerja, tapi dengan sakit gini, apalagi habis kemo, rutin itu, nelfon, dateng gitu, jadi istilahnya, karena kita kalau udah bekeluarga gini kan beda, masing-masing punya urusan sendiri-sendiri, nanti pas malem dateng gitu kan kakak, seneng gitu, ada waktunya liat adeknya sakit, kalau dulu kan nggak, main yah main sesekali aja, banyak urusannya masing-masing, kalaupun memang sebenarnya selama ini bukannya nggak dekat dalam arti lain, tapi karena sibuk ajah sama urusan masing-masing, kalau sekarang sibuk pun masih disempat-sempatin”
(Wawancara Personal, 19 Pebruari 2014)
Pada akhirnya, dengan semua hal ini, ia merasa mampu untuk mencapai
yang sejak dulu ia idam-idamkan dan menghabiskan sisa waktunya dengan suami
berdua.
IV.A.1.2 Partisipan Kedua
1. Data Diri Partisipan
Nama : Ratna (bukan nama sebenarnya)
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 46 tahun
Pekerjaan : Pedagang
Agama : Islam
Status Perkawinan : Menikah
Jenis Kanker : Kanker Payudara
Stadium Kanker : 2B
Diagnosa Pertama : sekitar tahun 2005
2. Laporan Observasi
Pada pagi hari, tanggal 13 November 2013, sekitar jam 10.00, peneliti
sudah berada di rumah sakit untuk mencari pasien kanker lagi. Setelah meminta
izin dan dengan bantuan perawat yang sedang bertugas, peneliti mencari
pasien-pasien kanker yang sedang menjalani pengobatan pada hari itu. Terdapat empat
pasien kanker yang sedang menjalani pengobatan. Dari keempat pasien tersebut,
hanya ibu Ratna ini lah yang bersedia untuk menjadi partisipan.
Ketika bertemu, ibu Ratna sedang berbaring di tempat tidurnya, seperti