• Tidak ada hasil yang ditemukan

T Gambar 6. Analisis SWOT, 2009

Dalam dokumen BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 45-53)

W

0,964

S

KUADRAN III KUADRAN IV

T

Gambar 6. Analisis SWOT, 2009

Sehubungan dengan itu, maka peneliti merekomendasikan strategi agresif dengan menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang (SO) sebagai alternatif yang baik untuk upaya pemasaran kerajinan tenun ikat Dayak di Desa Ensaid Panjang Kabupaten Sintang. Adapun alternatif utama strategi pemasaran strategi SO yaitu:

1. Mempertahankan orginalitas ( keaslian ) produk

Nilai keaslian ( Orginalitas ) suatu produk tenun ikat Dayak dapat dilihat dari penggunaan bahan baku dan zat pewarna yang digunakan. Mempertahankan nilai keaslian produk tenun ikat dayak dengan cara menggunakan kapas produksi lokal yang dipintal sendiri oleh pengrajin, bahan pewarna alami dengan memanfaatkan tumbuh – tumbuhan alam disekitar lingkungan tempat tinggal para pengrajin serta motif-motif

klasik. Upaya – upaya tersebut bertujuan untuk memenuhi permintaan pasar khususnya para kolektor seni, pemerhati budaya dan untuk keperluan ritual budaya.

2. Mengoptimalkan berbagai alat/media promosi dalam mempromosikan produk tenun ikat dayak.

Strategi ini bermanfaat untuk memanfaatkan berbagai macam media promosi untuk mempromosikan produk sehingga dapat dikenal oleh masyarakat luas. Media promosi yang dapat digunakan adalah dengan mengikutsertakan para pengrajin dalam setiap kegiatan pameran seni dan budaya yang diselenggarakan baik tingkat lokal, nasional serta mancanegara. Selain bertujuan untuk mempromosikan produk tenun ikat Dayak kegiatan pameran juga sebagai media komunikasi antar pengrajin untuk memperoleh pengetahuan tentang upaya pengembangan usaha yang dilakukan. Selain kegiatan pameran, media promosi yang dapat digunakan adalah media internet.

Media internet dapat dengan mudah mempromosikan produk tenun ikat Dayak melalui pembuatan situs atau alamat e-mail sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengakses dalam mendapatkan informasi mengenai kerajinan tenun ikat Dayak. Peran Lembaga Swadaya Masyarakat sangat diperlukan dalam melakukan kegiatan promosi melalui media internet dan dapat membuat situs yang memberikan kemudahan kepada konsumen dalam transaksi jual-beli produk tenun ikat Dayak. Alat promosi lain yang dapat digunakan adalah dengan memberikan paket

harga kepada konsumen dengan penghematan dari harga biasa suatu produk. Paket harga dapat berbentuk paket pengurangan harga, misalnya beli satu produk tenun ikat Dayak dapat dua atau paket ikatan.

3. Meningkatkan hubungan kerjasama dari berbagai lembaga yang berkaitan dengan upaya pemasaran produk kerajinan tenun ikat Dayak.

Strategi ini bermanfaat untuk meningkatkan pola hubungan kerjasama yang intensif dan akan memberikan dampak yang baik dalam pengembangan dan pemasaran produk tenun ikat Dayak. Lembaga pemasaran dalam hal ini Koperasi JMM memberikan peran yang penting dalam memasarkan produk tenun ikat dan sebagai media promosi kerajinan tenun ikat Dayak. Hal ini dibuktikan dengan adanya galeri mini milik koperasi JMM yang dapat memudahkan kepada para pengunjung untuk melihat koleksi-koleksi produk kerajinan yang khususnya tenun ikat Dayak. Selain dalam upaya pemasaran, lembaga-lembaga swadaya masyarakat seperti PRCF, Kobus Center, Dekranasda, Desperindagkop Kabupaten Sintang serta lembaga – lembaga lainnya turut berperan penting dalam memberikan pelatihan-pelatihan kepada pengrajin dalam bentuk kerjasama yang baik serta saling mendukung.

4. Memanfaatkan kemajuan komunikasi dalam memperoleh informasi. Strategi ini bermanfaat dalam proses pemasaran produk tenun ikat Dayak sehingga pengrajin dapat mengetahui informasi untuk pemasaran produk. Pemesanan langsung produk dapat menghubungi pengrajin

melalui telepon atau handphone jika ingin memesan produk tenun ikat Dayak yang diinginkan atau dapat langsung menghubungi koperasi JMM jika menginginkan produk dalam jumlah yang cukup besar.

5. Mengoptimalkan fasilitas-fasilitas pojok promosi (outlet/counter) di berbagai tempat.

Strategi ini bertujuan untuk memperkenalkan produk-produk kerajinan tenun ikat Dayak dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada seperti ruang tunggu di instansi-instansi pemerintah dengan cara memajang hasil produk tenun ikat Dayak agar dapat dilihat oleh pengunjung atau tamu yang datang. Selain itu, adanya kerjasama dengan berbagai kios-kios yang menyediakan berbagai produk kerajinan memberikan peluang untuk memperluas jaringan pasar serta kegiatan promosi yang dilakukan.

Alternatif strategi kedua yang direkomendasikan adalah strategi Weaknesses – Opportunities (WO) dengan nilai sebesar 4,452 :

1. Merintis hubungan kerjasama (kemitraan) dengan berbagai pihak yang terkait dalam memperluas pangsa pasar produk tenun ikat

Strategi ini bertujuan untuk mengembangkan pola kemitraan dengan berbagai lembaga yang terkait dengan pemasaran produk kerajinan tenun ikat Dayak. Selama ini lembaga yang berperan penting dalam memasarkan produk tenun ikat Dayak adalah koperasi JMM sehingga diperlukan adanya peran lembaga lain selain koperasi JMM dalam memasarkan produk kerajinan tenun ikat Dayak dari para pengrajin.

2. Memanfaatkan informasi pasar untuk menghasilkan berbagai jenis produk yang sesuai dengan selera pasar

Strategi ini bertujuan untuk menghasilkan produk yang dapat memenuhi selera pasar. Selama ini para pengrajin memproduksi produk dalam beberapa jenis dan bentuk yang kurang bervariasi. Dengan adanya informasi pasar yang dapat diakses melalui koperasi JMM, Lembaga Swadaya Masyarakat, Instansi Pemerintah serta media cetak dan elektronik (Koran, Majalah, Internet dan Televisi) pengrajin dapat dengan mudah menyesuaikan produk tenun ikat Dayak yang akan dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Informasi pasar yang diperoleh bertujuan juga untuk pencegahan sekaligus memecahkan masalah yang dihadapi dalam pemasaran produk tenun ikat Dayak.

3. Memberikan pelatihan-pelatihan media komunikasi pemasaran kepada para pengrajin

Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para pengrajin untuk memanfaatkan berbagai media komunikasi pemasaran seperti: periklanan produk melalui berbagai media cetak maupun media elektronik sehingga dapat memudahkan pengrajin dalam mengakses permintaan pasar lebih luas serta sebagai media promosi yang efektif. Kegiatan pelatihan media komunikasi pemasaran dapat dilakukan melalui seminar – seminar maupun lokakarya yang difasiltasi oleh pemda dan Lembaga Swadaya Masyarakat.

4. Merintis peningkatan usaha perorangan kerajinan tenun ikat dayak menjadi usaha industri

Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan skala usaha pengrajin yang selama ini kurang terkoordinir dan cenderung bersifat individu (perorangan). Upaya untuk menjadikan usaha kerajinan tenun ikat Dayak menjadi usaha industri membutuhkan bantuan dari semua pihak terutama dari pihak pemerintah daerah dalam memberikan pendampingan dan bantuan modal kepada para pengrajin secara berkesinambungan. Upaya ini juga diarahkan untuk memperluas pangsa pasar produk tenun ikat Dayak dalam bentuk barang jadi.

5. Menciptakan inovasi variasi produk yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas dan pemerhati seni dan budaya

Strategi ini bertujuan untuk menghasilkan suatu keragaman produk tenun ikat Dayak yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan pemerhati seni dan budaya baik dalam tingkat harga maupun selera yang diinginkan yang dapat dilihat dari motif serta bentuk yang dihasilkan. Para pengrajin memerlukan pola pendampingan yang menyeluruh dari berbagai pihak yang terkait dalam menciptakan suatu inovasi variasi produk yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Alternatif strategi ketiga yang dapat dilakukan adalah strategi Strenghts – Threats (ST) dengan nilai sebesar 3,45 :

1. Meningkatkan kerjasama dengan berbagai LSM dalam memperoleh bahan baku

Strategi ini bertujuan untuk mencukupi kebutuhan bahan baku selama proses produksi tenun ikat Dayak berlangsung. Selama ini para pengrajin memperoleh bahan baku dengan membeli di koperasi JMM berupa zat pewarna dan benang katun. Penggunaan bahan pewarna kimia lebih sering digunakan pengrajin dikarenakan lebih praktis dan mudah dalam mendapatkannya. Akan tetapi, zat pewarna kimia masih relatif mahal dan harus dipesan terlebih dahulu dari luar negeri. Oleh karena itu, bentuk peningkatan kerjasama dengan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat diarahkan dalam upaya pengembangan tanaman zat pewarna alami disekitar tempat tinggal penenun dan mencoba mencari alternative dari bahan baku lain. Hal tersebut mutlak dilakukan untuk menjaga ketersediaan bahan baku sehingga proses produksi tetap dapat berlangsung.

2. Menetapkan standar harga yang kompetitif dengan para pesaing produk sejenis

Strategi ini bertujuan untuk menetapkan harga yang bersaing diantara produk tenun ikat dipasaran. Penetapan standar harga untuk berbagai jenis produk tenun ikat Dayak dapat dilihat dari tingkat kehalusan, kerumitan pembuatannya dan citra rasa seni yang dimiliki. Selain itu juga dengan memperhatikan kondisi harga pasar agar harga produk yang dijual tidak terlalu tinggi atau tidak terlalu rendah dari harga pasar yang berlaku. Alternatif lain dari penetapan harga adalah dengan

cara penetapan harga psikologis (Odd Pricing), penetapan harga Price Linning serta potongan harga.

3. Memanfaatkan bahan baku dari alam agar produk yang dihasilkan relatif tahan lama

Strategi ini bertujuan untuk mempertahankan kualitas produk tenun ikat Dayak. Ketahanan produk tenun ikat Dayak relative lama apabila bahan baku yang digunakan kesemuanya bersifat alami, walaupun warnanya tidak terlalu cerah jika dibandingkan dengan pewarna kimia. Selain itu juga kolektor – kolektor seni lebih tertarik pada produk tenun ikat Dayak yang kesemua bahan bakunya berasal dari alam .

Alternatif strategi keempat yang dapat dilakukan adalah strategi Weaknesses – Threats (WT) dengan nilai sebesar 2,486 :

1. Memperkuat citra produk dengan pemberian merek untuk produk-produk tenun ikat

Strategi ini bertujuan untuk memudahakan konsumen dalam mengenal produk kerajinan tenun ikat Dayak yang akan ditawarkan. Adanya pemberian merek dari setiap jenis produk yang dihasilkan akan memberikan nilai jual tersendiri karena dianggap memiliki daya saing jika dibandingkan dengan produk – produk sejenis di pasaran. Konsumen cenderung lebih tertarik pada produk yang sudah memiliki merek dan cukup dikenal oleh masyarakat luas.

2. Memperhitungkan biaya produksi untuk setiap jenis produk tenun ikat Dayak

Strategi ini bertujuan untuk menetapkan standar harga jual antara pengrajin dan lembaga – lembaga pemasaran yang terlibat. Harga jual

yang ditetapkan kurang memperhatikan keseluruhan komponen biaya – biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi sehingga para pengrajin mengalami kerugian untuk beberapa jenis produk tenun ikat tertentu, hal itu dikarenakan tidak adanya standar harga jual yang jelas. Komponen – komponen biaya yang seharusnya diperhitungkan dalam setiap proses produksi tenun ikat Dayak seperti : Upah per unit, Biaya benang yang digunakan serta Biaya pewarna.

3. Membuat brosur/catalog produk tenun ikat Dayak sebagai bagian dari kegiatan promosi

Strategi ini bertujuan untuk memudahkan kegiatan promosi produk tenun ikat Dayak pada masyarakat luas agar lebih dikenal. Adanya media promosi dalam bentuk katalog/brosur produk disertai penjelasan yang rinci mengenai karakteristik produk tenun ikat akan memberikan gambaran yang jelas mengenai produk tenun ikat yang ditawarkan sehingga masyarakat / konsumen menjadi tertarik untuk membelinya.

4. Membuat hak cipta tenun ikat yang difasilitasi oleh pemda

Strategi ini bertujuan untuk mempertahankan keberadaan tenun ikat Dayak sebagai produk unggulan asli daerah Kabupaten Sintang sehingga hak ciptanya tidak diakui oleh pihak lain. Belum adanya pemberian hak cipta produk tenun ikat Dayak akan menyulitkan dalam proses produksi massal sehingga diperlukan peran Pemerintah Daerah dalam memegang kendali hak cipta tersebut.

Dalam dokumen BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 45-53)

Dokumen terkait