• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil

A B Gambar 10 (A) Bintil akar yang masih berada di akar, (B) Bintil akar yang telah

terpisah dari akar

4.2 Pembahasan

Benih dan planlet sengon yang digunakan berasal dari provenan yang sama yaitu provenan Kediri. Benih diunduh 1 bulan sebelum digunakan, sehingga persentase perkecambahan benihnya masih tinggi. Teknik aklimatisasi planlet sengon yang diterapkan dalam penelitian ini mampu meningkatkan persentase keberhasilan aklimatisasi menjadi 67,5%, dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya yaitu 40% (Imelda et al. 2010). Menurut Sukarutiningsih et al. (2002) persentase keberhasialan aklimatisasi planlet sengon dapat mencapai 100%, jika proses pengakarannya dilakukan di dalam media kultur jaringan dalam kondisi aseptik. Daniel et al. (1987) menyatakan bahwa ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan pertumbuhan semai yaitu kondisi lingkungan berupa ketersediaan air dan suhu lingkungan mikro, serta kondisi internal semai yaitu berupa kesiapan fisiologis semai untuk beradaptasi pada saat penyapihan.

Bibit sengon yang dikembangkan dari kultur jaringan mempunyai tinggi dan diameter yang lebih baik bila dibandingkan dengan bibit yang dikembangkan dari benih. Namun, bibit sengon yang dikembangkan dari benih dan kultur jaringan memiliki berat basah dan berat kering yang sama. Hal ini dapat terjadi karena bibit sengon yang yang dikembangkan dari benih memiliki tajuk yang lebih besar bila dibandingkan dengan bibit sengon yang dikembangkan dari kultur jaringan. Jadi, untuk memperoleh bibit sengon yang pertumbuhannya cepat dapat digunakan teknik kultur jaringan. Untuk melakukan teknik kultur jaringan dibutuhkan biaya yang cukup mahal bila dibandingkan dengan perbanyakan generatif (benih), sehingga perbanyakan dengan teknik kultur jaringan dapat

diterapkan untuk tanaman sengon yang mempunyai sifat unggul, seperti: pohon sengon yang mempunyai ketahanan terhadap serangan hama boktor (Xystrocera festivan Pascoe) (Siregar et al. 2009), dan pertumbuhannya cepat.

Pertumbuhan tanaman adalah proses terjadinya peningkatan jumlah dan ukuran daun dan batang. Pertumbuhan tanaman tidak hanya terjadi pada bagian atas (tajuk) tanaman, tetapi juga terjadi pada bagian bawah (akar) tanaman. Akar menentukan kemampuan tanaman untuk menyerap nutrisi dan air, pertumbuhannya ditentukan oleh area daun yang aktif melakukan fotosintesis karena akar bergantung pada penangkapan energi oleh daun. Pada saat suplai energi terbatas, maka energi yang ada digunakan oleh jaringan tanaman yang paling dekat dengan lokasi fotosintesis. Oleh karena itu, akar menerima energi hanya pada saat ada kelebihan energi yang diproduksi melalui fotosintesis yang tidak digunakan untuk pertumbuhan tajuk tanaman (Dewi 2007).

Nisbah pucuk akar (NPA) mencerminkan keseimbangan antara pucuk dan akar. Nisbah pucuk akar harus relatif seimbang karena nilainya menandakan keseimbangan antara transpirasi dan kemampuan daya isap akar terhadap jumlah air yang berada di dalam tanah. Nilai NPA juga merupakan ukuran dan nilai penting bagi bibit dalam proses pemindahannya ke lapangan, karena tanaman yang baru dipindahkan harus mempunyai laju transpirasi sekecil mungkin untuk menghindari dehidrasi (Sari 2002).

NPA terendah terdapat pada bibit sengon yang ditanam pada media 2 dengan nilai sebesar 1,56. Menurut beberapa penelitian nilai nisbah pucuk akar yang mendekati 1 lebih baik untuk daerah tropis dengan intensitas cahaya matahari cukup tinggi. NPA yang rendah memberikan indikasi ketahanan dan pertumbuhan yang baik (Sari 2002). Hal ini menunjukkan media 2 dapat menghasilkan bibit sengon dengan keseimbangan pertumbuhan pucuk-akar yang baik serta memiliki tingkat survival yang lebih tinggi dibandingkan dengan media 1 dan 3.

Salisbury dan Ross (1995) menyebutkan bahwa lebih besarnya biomassa tajuk dibanding akar memungkinkan terjadinya pengendalian penyerapan hara oleh tajuk. Tajuk akan meningkatkan penyerapan hara oleh akar dan secara cepat menggunakan hara tersebut dalam produk pertumbuhan (protein, asam nukleat,

dan klorofil). Selain itu tajuk dapat memasok karbohidrat yang digunakan akar untuk menghasilkan ATP yang membantu penyerapan hara.

Secara keseluruhan bibit sengon yang ditanam pada media 2 memberikan pengaruh yang sangat baik pada peubah diameter, berat basah pucuk, berat basah akar, berat basah total, berat basah pucuk, berat basah akar, berat basah total, nisbah pucuk akar, dan jumlah bintil akar. Media 2 merupakan campuran dari tanah dan arang sekam, disertai penambahan inokulum FMA yang diberikan pada lubang tanam. FMA akan berasosiasi dengan akar bibit sengon untuk membantu meningkatkan penyerapan hara. Bibit yang diinokulasi dengan FMA biasanya mempunyai pertumbuhan yang lebih baik. Sebagai contoh, inokulasi FMA dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi bibit sengon (Putri 1998), tanaman blueberry

(Scagel et al. 2005), bibit Acacia mangium dan sengon (Ekyastuti 1998), bibit

Gmelina arborea (Hidayat 2003), bibit Lamtoro (Verawati 2003). Pada penelitian ini inokulasi FMA dapat meningkatkan pertumbuhan bibit sengon sampai 110% dibandingkan dengan kontrol. FMA berperan meningkatkan serapan P oleh akar tanaman. Pada saat P (Phosfor) berada di sekitar rambut akar, maka hifa membantu penyerapan P di tempat-tempat yang tidak dapat lagi dijangkau rambut akar (Li et al. 2005).

Selain dapat meningkatkan penyerapan unsur hara, FMA juga dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah, contohnya Rhizobium. Bibit sengon yang diinokulasi oleh FMA mempunyai jumlah bintil akar yang lebih banyak bila dibandingkan dengan bibit sengon yang tidak diinokulasi oleh FMA, walaupun bibit sengon tersebut tidak diinokulasi dengan Rhizobium. Bintil akar yang berisi Rhizobium membantu fiksasi N dari udara. Atmosuseno (1998) menyatakan bahwa bintil akar yang berisi Rhizobium dapat memfiksasi nitrogen bebas dari udara yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman inang untuk pertumbuhan. Pada penelitian Nusantara (2002), inokulasi Rhizobium dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi bibit sengon sampai 40% dan diameter sampai 90% bila dibandingkan dengan kontrol. Inokulasi ganda Rhizobium dan FMA dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi bibit sengon sampai 40% dan diameter 100% dibandingkan dengan kontrol.

Bibit sengon yang dikembangkan dari kultur jaringan lebih mampu beradaptasi dengan baik pada semua komposisi media bila dibandingkan dengan bibit yang dikembangkan dari benih. Secara keseluruhan, bibit sengon yang dikembangkan dari kultur jaringan dan ditanam pada media 2 mempunyai pertumbuhan yang lebih baik.

Media 1 juga memberikan hasil yang baik bila dibandingkan dengan media 3 yang digunakan sebagai kontrol. Media 3 merupakan campuran dari tanah, kompos, dan pasir. Media 3 merupakan media yang umum digunakan untuk bibit sengon sehingga media 3 ditetapkan sebagai kontrol. Komposisi media 1 merupakan campuran dari tanah, kompos, dan arang sekam. Pada semua peubah yang diamati media 1 yang menggunakan arang sekam menunjukkan rata-rata yang lebih baik bila dibandingkan dengan media 3 yang menggunakan pasir. Hal ini menunjukkan bahwa arang sekam dapat dapat digunakan sebagai campuran media tanam untuk pengganti pasir. Penggunaan arang sekam dapat menyebabkan akar lebih berkembang sehingga penyerapan hara dan air berjalan baik dan berpengaruh pula pada pertumbuhan tanaman. Menurut Djatmiko et al. (1985) arang adalah suatu bahan padat yang berpori-pori dan merupakan hasil pembakaran dari bahan yang mengandung unsur C (Carbon). Secara morfologi arang memiliki pori yang efektif untuk mengikat dan menyimpan hara tanah. Aplikasi arang sekam terutama pada lahan yang miskin hara dapat meningkatkan kesuburan tanah, karena dapat meningkatkan beberapa fungsi antara lain: sirkulasi udara dan air tanah, pH tanah, dan menyerap kelebihan CO2 tanah (Pari 2002). Selain itu, arang sekam juga mudah didapat, ringan, dan harganya lebih murah dibandingkan dengan pasir.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Bibit sengon yang dikembangkan dari kultur jaringan dan ditanam pada media 2 memiliki pertumbuhan yang lebih baik bila dibandingkan bibit sengon yang dikembangkan dari benih dan ditanam pada media 2.

5.2 Saran

Media 2 dapat digunakan sebagai media tanam untuk bibit sengon yang dikembangkan dari benih dan kultur jaringan.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2007. http://www.wikipedia.org/wiki/peat_moss. [10 Juni 2010].

Atmosuseno BS. 1998. Budidaya, Kegunaan, dan Prospek Sengon. Jakarta: Penerbar Swadaya.

Bhojwani SS, Razdan MK. 1983. Plant Tissue Culture Theory and Parctice. Amsterdam: Elsevier.

Daniel TW, Helms JA, Baker FS. 1987. Prinsip-Prinsip Silvikultur. Volume ke-2 Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Darjadi L, Harjanto R. 1976. Sendi-sendi Silvikultur. Jakarta: Direktorat Jendral Kehutanan, Depatremen Kehutanan.

Dewi IR. 2007. Rhizobacteria Pendukung Pertumbuhan Tanaman. Sumedang: Universitas Padjadjaran.

Djatmiko B, Ketaren S, Setyahartini S. 1985. Pengolahan Arang dan kegunaannya. Bogor: Agro Industri Press.

Ekyastuti W. 1998. Pengaruh Perbaikan Kualitas Media Tailing Terhadap Pertumbuhan Semai Acacia mangium Willd. dan Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen yang Diinokulasi Rhizobium dan Mikoriza [skripsi] Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Hidayat MF. 2003. Pemanfaatan Asam Humat dan Omega Pada Pemberian Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan Gmelina arborea Roxb. yang Diinokulasi Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) [skripsi] Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Imelda M, Sastrapradja S, Sumiasri N, Deswina P, Kuswara T, Setyowati T, Isnindaryati, Mulyana, Sanusi, Burhana N, et al. 2010. Teknik perbanyakan in vitro skala laboratorium. http://www.google.co.id/url?sa= t&rct=j&q=imelda%20m%2C%20sastrapradja%20s%2C%20sumiasri%20 n%2C%20deswina%20p%2C%20kuswara%20t%2C%20setyowati%20t% 2C%20isnindaryati%2C%20mulyana%2C%20sanusi%2C%20burhana%2 0n%2C%20et%20al.%20teknik%20perbanyakan%20in%20vitro%20skala %20laboratorium&source=web&cd=2&ved=0CB4QFjAB&url=http%3A %2F%2Felib.pdii.lipi.go.id%2Fkatalog%2Findex.php%2Fsearchkatalog% 2FdownloadDatabyId%2F7431%2F7431.pdf&ei=vs_WTvaKOYj4rQeVic yWDg&usg=AFQjCNG0ZQeSdb5io2L__ErZFkp_oyknKQ&cad=rja. [1 Desembar 2010].

Killham K. 1996. Soil Ecology. United Kingdom: Cambridge University Press. Li M, Liu R, Christie P, Li X. 2005. Influence of three arbuscular mycorrhizal

fungi and phosphorus on growth and nutrient status of taro.

Comminications in Soil Science and Plant Analysiss (36):2383-2396. Nandakwang P, Elliott S, Youpensuk S, Lumyong S. 2008. Effects of arbuscular

mycorrhizal inoculation and fertilizer on production in Northerdam Thailand. Res J of Microbiol 3(4):225-236.

Nusantara AD. 2002 Tangap semai sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) terhadap inokulasi ganda cendawan mikoriza arbuskular dan

Rhizobium sp. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia 4(2):62-67.

Pari G. 2002. Teknologi Alternatif Pemanfaatan Limbah Industri Pengolahan Kayu. http://tumoutou.net [1 Agustus 2010].

Putri ER. 1998. Uji Keefektifan Beberapa Isolat Mikoriza Arbuskula Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Semai Paraserianthes falkataria (L.) Nielsen,

Acacia crassicarpa A. Cunn. Ex Benth, dan Acacia mangium Willd Pada Media Tailing [skripsi] Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Quilambo OA, Weissenhorn I, Doddema H, Kuiper PJC, Stulen I. 2005. Arbuscular mycorrhiza inoculation of peanut in low-fertile tropical soil. II. Alleviation of drought stress. Journal of Plant Nutrition 28:1645-1662. Salisbury FB, dan Ross CW. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid 1. Lukman DR,

Sumaryono, penerjemah. Bandung: Penerbit ITB. Terjemahan dari: Plant Physiologi.

Sari LP. 2002. Pengaruh Media Campuran Tanah Latosol dan Kompos dengan Menggunakan Beberapa Jenis Tumbuhan Obat Terhadap pertumbuhan semai Gmelina arborea Linn [skripsi] Bogor. Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Scagel CF, Wagner A, Winiarski P. 2005. Frequency and intensity of root colonization by ericoid mycorrhizal fungi in nursery production of bluberry plants. Small FruitsReview 4(4):95-111.

Sikes BA, Cottenia K, Kliromost. 2009. Plant and fungisida identity determines pathogen protection of plant roots by arbuscular mycorrhizas. Jurnal of ecology 97:1274-1280.

Siregar UJ, Haneda NF, Wulandari AS. 2009. Perakitan klon sengon tahan hama boktor dalam rangka pengembangan social forestry. Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian IPB. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/ 45056 [21 November 2011].

Siregar UJ, Wulandari AS. 2010. In vitro propagation of improved sengon tree (Paraserianthes falkataria) from solomon island to overcome its limited seed production [poster]. Korea: IUFRO World Congress.

Street HE 1973. Plant Tissue and Cell Cultures. London: Blackweell Scientific Publications.

Suhaendi H. 1993. Laporan Kegiatan Penelitian Seleksi Pohon Plus [Laporan kegiatan penelitian]. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan.

Sukarutiningsih, Saito Y, Ide Y. 2002. In vitro planlet regeneration of

Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen. Bull Tokyo Univ For 107:21-28. Turnau K, Anielska T, Ryszka P. 2008. Establishment arbuscular mycorrhizal

plants originating from xerothermic grasslands on heavy metal rich industrial wastes-new solution for waste revegetation. Plan Soil 305:267-280.

Verawati N. 2003. Penambahan Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) Kultur Tunggal Pada Kondisi Salinitas Dengan Media Zeloit Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Lamtoro [skipsi] Bogor. Departemen Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Lampiran 1 Hasil uji lajut Duncan dengan menggunakan sofware SAS 9.1 untuk peubah diameter

The GLM Procedure Class Level Information

Class Levels Values

Asal bibit 2 Benih Kultur jaringan Komposisi Media 3 1 2 3

Number of Observations Read 24 Number of Observations Used 24

The GLM Procedure Dependent Variable: diameter

Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model 5 12.36295475 2.47259095 20.18 <.0001

Error 18 2.20592922 0.12255162

Corrected Total

23 14.56888397

R-Square Coeff Var Root MSE Diameter Mean 0.848586 21.27746 0.350074 1.64528

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for Diameter

Alpha 0.05 Error Degrees of Freedom 18 Error Mean Square 0.122552

Number of Means 2 Critical Range 0.3003

Means with the same letter are not significantly different.

Duncan Grouping Mean N Asal Bibit

A 1.8662 12 Kultur jaringan

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for Diameter

Number of Means 2 3 Critical Range .3677 .3858

Means with the same letter are not significantly different.

Duncan Grouping Mean N Komposisi media

A 2.5583 8 2 B 1.2508 8 1 B B 1.1268 8 3 Number of Means 2 3 4 5 6 Critical Range .5201 .5457 .5618 .5730 .5812

Means with the same letter are not significantly different.

Duncan Grouping Mean N Asal bibit x Komposisi media

A 2.6410 4 Benih Media2

A

A 2.4755 4 Kultur jaringan Media 2

B 1.5865 4 Kultur jaringan Media 1 B

B 1.5365 4 Kultur jaringan Media 3

C 0.9151 4 Benih Media 1 C C 0.7171 4 Benih Media 3

Lampiran 2 Hasil uji lajut Duncan dengan menggunakan sofware SAS 9.1 untuk peubah berat basah pucuk

The GLM Procedure Class Level Information

Class Levels Values

Asal bibit Komposisi media 6 Benih Media 1 Benih Media 2 Benih Media 3 Kultur jaringan Media 1 Kultur jaringan Media 2 Kultur jaringan Media 3

Number of Observations Read 24 Number of Observations Used 24

The GLM Procedure

Dependent Variable: Berat basah pucuk

Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model 5 46.51800133 9.30360027 11.31 <.0001

Error 18 14.80628400 0.82257133

Corrected Total 23 61.32428533

R-Square Coeff Var Root MSE respon Mean 0.758558 35.20341 0.906957 2.576333

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for Berat basah pucuk Alpha 0.05 Error Degrees of Freedom 18 Error Mean Square 0.822571

Number of Means 2 3 4 5 6 Critical Range 1.347 1.414 1.456 1.485 1.50

Means with the same letter are not significantly different.

Duncan Grouping Mean N Asal bibit x Komposisi media A 5.0615 4 Benih Media 2

B 3.4590 4 Kultur jaringan Media 2 B

C B 2.5410 4 Kultur jaringan Media 1 C B

C B D 2.1985 4 Kultur jaringan Media 3 C D

C D 1.3865 4 Benih Media 1 D

Lampiran 3 Hasil uji lajut Duncan dengan menggunakan sofware SAS 9.1 untuk peubah berat basah total

The ANOVA Procedure Class Level Information

Class Levels Values

Asal bibit 2 Benih Kultur jaringan Komposisi Media 3 1 2 3

Number of Observations Read 24 Number of Observations Used 24

The GLM Procedure

Dependent Variable: Beratb asah total

Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model 5 283.0560533 56.6112107 17.96 <.0001

Error 18 56.7216180 3.1512010

Corrected Total 23 339.7776713

R-Square Coeff Var Root MSE Mean 0.833063 34.93612 1.775162 5.081167

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for Berat basah total

Alpha 0.05 Error Degrees of Freedom 18

Error Mean Square 3.151201

Number of Means 2 Critical Range 1.523

Duncan Grouping Mean N Asal bibit A 5.4095 12 Kultur jaringan A

A 4.7528 12 Benih

Number of Means 2 3 Critical Range 1.865 1.957

Duncan Grouping Mean N Komposisi media A 9.6980 8 2

B 3.0810 8 1 B

Lampiran 4 Hasil uji lajut Duncan dengan menggunakan sofware SAS 9.1 untuk peubah berat kering pucuk

The GLM Procedure Class Level Information

Class Levels Values

Asal bibit 2 Benih Kultur jaringan Komposisi Media 3 1 2 3

Number of Observations Read 24 Number of Observations Used 24

The GLM Procedure

Dependent Variable: Berat kering pucuk

Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F

Model 5 0.68213696 0.01668377 8.18 0.0004

Error 18 0.30030783 0.01668377

Corrected Total 23 0.98244479

R-Square Coeff Var Root MSE Mean 0.694326 11.86968 0.129166 1.088199

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for Berat kering pucuk

Alpha 0.05 Error Degrees of Freedom 18 Error Mean Square 0.016684

Number of Means 2 Critical Range .1108

Means with the same letter are not significantly different.

Duncan Grouping Mean N Asal bibit

A 1.1314 12 Kultur jaringan A

Number of Means 2 3 Critical Range .1357 .1424

Means with the same letter are not significantly different.

Duncan Grouping Mean N Komposisi media

A 1.2800 8 2 B 1.0328 8 1 B B 0.9516 8 3 Number of Means 2 3 4 5 6 Critical Range .1919 .2013 .2073 .2114 .2144

Means with the same letter are not significantly different.

Duncan Grouping Mean N Asal bibit x Komposisi media A 1.35135 4 Benih Media 2

A

B A 1.20880 4 Kultur jaringan Media 2

B

B C 1.10658 4 Kultur jaringan Media 1 B C

B C 1.07903 4 Kultur jaringan Media 3

C D C 0.95918 4 Benih Media 1 D D 0.82425 4 Benig Media 3 The GLM Procedure Level of Asal bibit Level of Komposisi media N Respon

Mean Standar Devasi

Benih 1 4 0.96650000 0.66455674 Benih 2 4 3.34700000 0.39095268 Benih 3 4 0.53400000 0.41873460 Kultur jaringan 1 4 1.71900000 1.12138070 Kultur jaringan 2 4 2.14900000 0.32627800 Kultur jaringan 3 4 1.39300000 0.44758761

Lampiran 5 Hasil uji lajut Duncan dengan menggunakan sofware SAS 9.1 untuk peubah berat kering total

The GLM Procedure Class Level Information

Class Levels Values

Asal bibit Komposisi media 6 Benih Media 1 Benih Media 2 Benih Media 3 Kultur jaringan Media 1 Kultur jaringan Media 2 Kultur jaringan Media 3

Number of Observations Read 24 Number of Observations Used 24

The GLM Procedure

Dependent Variable: Berat kering total

Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model 5 18.01876333 3.60375267 16.53 <.0001

Error 18 3.92433000 0.21801833

Corrected Total 23 21.94309333

R-Square Coeff Var Root MSE Mean 0.821159 34.09036 0.466924 1.369667

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for Berat kering total Alpha 0.05 Error Degrees of Freedom 18 Error Mean Square 0.218018 Number of Means 2 3 4 5 6 Critical Range .6937 .7278 .7493 .7643 .7752

Means with the same letter are not significantly different.

Duncan Grouping Mean N Asal bibit x Komposisi media A 2.7700 4 Benih Media 2

A

A 2.2655 4 Kultur jaringan Media 2 B 1.1330 4 Kultur jaringan Media 1 B

C B 1.0840 4 Kultur jaringan Media 3 C B

C B 0.6060 4 Benih Media 1 C

Lampiran 6 Hasil uji lajut Duncan dengan menggunakan sofware SAS 9.1 untuk peubah jumlah bintil akar

The GLM Procedure Class Level Information

Class Levels Values

Asal bibit Komposisi media 6 Benih Media 1 Benih Media 2 Benih Media 3 Kultur jaringan Media 1 Kultur jaringan Media 2 Kultur jaringan Media 3

Number of Observations Read 24 Number of Observations Used 24

The GLM Procedure

Dependent Variable: Jumlah bibtil akar

Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model 5 2458.253333 491.650667 11.61 <.0001

Error 18 762.360000 42.353333

Corrected Total 23 3220.613333

R-Square Coeff Var Root MSE Mean 0.763287 34.01364 6.507944 19.13333

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for Jumlah bintil akar Alpha 0.05 Error Degrees of Freedom 18 Error Mean Square 42.35333 Number of Means 2 3 4 5 6

Critical Range 9.67 10.14 10.44 10.65 10.80 Means with the same letter are

not significantly different.

Duncan Grouping Mean N Asal bibit x Komposisi media A 38.350 4 Benih Media 2

B 25.350 4 Kultur jaringan Media 2 B

C B 16.650 4 Kultur jaringan Media 1 C

C 15.100 4 Benih Media 1 C

C 11.300 4 Kultur jaringan Media 3 C

Lampiran 1 Hasil uji lajut Duncan dengan menggunakan sofware SAS 9.1 untuk peubah diameter

The GLM Procedure Class Level Information

Class Levels Values

Asal bibit 2 Benih Kultur jaringan Komposisi Media 3 1 2 3

Number of Observations Read 24 Number of Observations Used 24

The GLM Procedure Dependent Variable: diameter

Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model 5 12.36295475 2.47259095 20.18 <.0001

Error 18 2.20592922 0.12255162

Corrected Total

23 14.56888397

R-Square Coeff Var Root MSE Diameter Mean 0.848586 21.27746 0.350074 1.64528

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for Diameter

Alpha 0.05 Error Degrees of Freedom 18 Error Mean Square 0.122552

Number of Means 2 Critical Range 0.3003

Means with the same letter are not significantly different.

Duncan Grouping Mean N Asal Bibit

A 1.8662 12 Kultur jaringan

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for Diameter

Number of Means 2 3 Critical Range .3677 .3858

Means with the same letter are not significantly different.

Duncan Grouping Mean N Komposisi media

A 2.5583 8 2 B 1.2508 8 1 B B 1.1268 8 3 Number of Means 2 3 4 5 6 Critical Range .5201 .5457 .5618 .5730 .5812

Means with the same letter are not significantly different.

Duncan Grouping Mean N Asal bibit x Komposisi media

A 2.6410 4 Benih Media2

A

A 2.4755 4 Kultur jaringan Media 2

B 1.5865 4 Kultur jaringan Media 1 B

B 1.5365 4 Kultur jaringan Media 3

C 0.9151 4 Benih Media 1 C C 0.7171 4 Benih Media 3

Lampiran 2 Hasil uji lajut Duncan dengan menggunakan sofware SAS 9.1 untuk peubah berat basah pucuk

The GLM Procedure Class Level Information

Class Levels Values

Asal bibit Komposisi media 6 Benih Media 1 Benih Media 2 Benih Media 3 Kultur jaringan Media 1 Kultur jaringan Media 2 Kultur jaringan Media 3

Number of Observations Read 24 Number of Observations Used 24

The GLM Procedure

Dependent Variable: Berat basah pucuk

Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model 5 46.51800133 9.30360027 11.31 <.0001

Error 18 14.80628400 0.82257133

Corrected Total 23 61.32428533

R-Square Coeff Var Root MSE respon Mean 0.758558 35.20341 0.906957 2.576333

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for Berat basah pucuk Alpha 0.05 Error Degrees of Freedom 18 Error Mean Square 0.822571

Number of Means 2 3 4 5 6 Critical Range 1.347 1.414 1.456 1.485 1.50

Means with the same letter are not significantly different.

Duncan Grouping Mean N Asal bibit x Komposisi media A 5.0615 4 Benih Media 2

B 3.4590 4 Kultur jaringan Media 2 B

C B 2.5410 4 Kultur jaringan Media 1 C B

C B D 2.1985 4 Kultur jaringan Media 3 C D

C D 1.3865 4 Benih Media 1 D

Lampiran 3 Hasil uji lajut Duncan dengan menggunakan sofware SAS 9.1 untuk peubah berat basah total

The ANOVA Procedure Class Level Information

Class Levels Values

Asal bibit 2 Benih Kultur jaringan Komposisi Media 3 1 2 3

Number of Observations Read 24 Number of Observations Used 24

The GLM Procedure

Dependent Variable: Beratb asah total

Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model 5 283.0560533 56.6112107 17.96 <.0001

Error 18 56.7216180 3.1512010

Corrected Total 23 339.7776713

R-Square Coeff Var Root MSE Mean 0.833063 34.93612 1.775162 5.081167

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for Berat basah total

Alpha 0.05 Error Degrees of Freedom 18

Error Mean Square 3.151201

Number of Means 2 Critical Range 1.523

Duncan Grouping Mean N Asal bibit A 5.4095 12 Kultur jaringan A

A 4.7528 12 Benih

Number of Means 2 3 Critical Range 1.865 1.957

Duncan Grouping Mean N Komposisi media A 9.6980 8 2

B 3.0810 8 1 B

Lampiran 4 Hasil uji lajut Duncan dengan menggunakan sofware SAS 9.1 untuk peubah berat kering pucuk

The GLM Procedure Class Level Information

Class Levels Values

Asal bibit 2 Benih Kultur jaringan Komposisi Media 3 1 2 3

Number of Observations Read 24 Number of Observations Used 24

The GLM Procedure

Dependent Variable: Berat kering pucuk

Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F

Model 5 0.68213696 0.01668377 8.18 0.0004

Error 18 0.30030783 0.01668377

Corrected Total 23 0.98244479

R-Square Coeff Var Root MSE Mean 0.694326 11.86968 0.129166 1.088199

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for Berat kering pucuk

Alpha 0.05 Error Degrees of Freedom 18 Error Mean Square 0.016684

Number of Means 2 Critical Range .1108

Dokumen terkait