• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

Gambar 12 Frekuensi aktivitas agonistik pada berbagai perlakuan

0 5 10 15 20 25 30 35 40

Ulangan I Ulangan II Ulangan III

Jumlah 0 Mg 6000 Mg 8000 Mg 10000 Mg Gambar 12 Frekuensi aktivitas agonistik pada berbagai perlakuan.

Pola perilaku agonistik dapat diterangkan sbb:

1. Pejantan yang lebih tinggi libidonya akan mendekati lawannya yaitu jantan lain yang lebih rendah tingkat libidonya. Pejantan yang lebih kuat adalah jantan yang tingkat intensitas libidonya tinggi dan ranggahnya lebih keras. 2. Dengan langkah tegap (kaki depan diangkat lebih tinggi dari berjalan biasa

dan kepala diangkat tinggi-tinggi) jantan tersebut mendekati lawannya.

3. Jantan lain atau lawan yang lebih rendah akan lari menghindar dan tidak melayani untuk beradu ranggah, tetapi apabila lawannya hampir sama tingkat libidonya maka akan terjadi adu ranggah . Adu ranggah ini terjadi dengan waktu antara satu sampai 6 menit, dengan frekuensi per hari dapat mencapai 17 sampai 20 kali pada saat puncak libidonya.

Pada peristiwa agonistik, dua rusa jantan yang beradu ranggah pada umumnya mempunyai kondisi libido yang hampir sama, walau kadang-kadang ukuran ranggah maupun tubuhnya tidak sama. Apabila terjadi agonistik pada rusa dalam kondisi libido yang tidak sama, maka agonistik tidak akan berlangsung lama dan biasanya sebelum beradu, musuhnya sudah menghindar lebih dulu.

Perbedaan perilaku agonistik tersebut disebabkan perbedaan tingkat libidonya dari masing-masing rusa. Telah diketahui bahwa sanrigo merupakan salah satu dari

tanaman yang berpotensi sebagai afrodisiaka yang mengandung senyawa steroid yang akan berpengaruh terhadap nafsu seksualnya. Dengan demikian semakin tinggi dosis yang diberikan akan semakin tinggi nafsu seksualnya dan berakibat frekuensi agonistik samakin tinggi pula.

Menurut Masyud (1997), rusa jantan yang sedang mengalami birahi sering terjadi perkelahian antar pejantan untuk memperebutkan betina birahi. Hal yang serupa dikemukakan juga oleh Semiadi dan Nugraha (2004) bahwa semangat untuk bertarung di saat ranggah dalam keadaan keras adalah sangat tinggi dan ini berhubungan dengan sifat untuk mempertahankan daerah kekuasaan dan betina yang diinginkannya sebanyak mungkin. Gambar 20. dibawah ini menunjukkan rusa dalam perilaku agonistik.

Perilaku Menaiki Punggung Betina

Hasil analisis statistika melalui uji F rancangan acak lengkap (RAL) terhadap perilaku menaiki punggung betina menunjukkan berbeda nyata (P<0,05). Pada Tabel 7,8 dan 9 memperlihatkan bahwa T3 mempunyai perilaku menaiki betina yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan aktivitas perilaku menaiki terpanjang yaitu tiga hari (hari ke 9-11), frekuensi menaiki tertinggi (30,3 kali), lama menaiki betina tertinggi (34 detik) dan penampakan menaiki betina yang lebih awal ( hari ke 9) daripada perlakuan lainnya.

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

Ulangan I Ulangan II Ulangan III

Jumlah (kali)

0 Mg 6000 Mg 8000 Mg 10000 Mg

Pada tingkat libido seksual mencapai puncaknya, proses mendekati dan menciumi alat kelamin betina tersebut akan diikuti dengan perilaku menaiki punggung betina. Pada saat itu kegiatan menaiki punggung betina sering dilakukan. Pada hasil pengamatan mencapai 39 kali sebelum terjadi kopulasi. Hal ini bisa terjadi karena betina masih dalam kondisi pro estrus dan belum mencapai puncak birahinya. Pada kondisi tersebut betina masih menghindar dan lari apabila ingin dinaiki pejantan. Apabila pejantan belum dapat melakukan kopulasi maka pejantan tersebut akan berusaha terus untuk mendapatkannya, sampai akhirnya si betina akan diam dan memberi respon untuk dinaiki.

Selama betina masih dalam kondisi estrus, maka lama menaiki cukup singkat yaitu antara satu sampai dua detik. Hal ini terjadi karena betina selalu menghindar dan lari atau maju melangkah ke depan sehingga kopulasi tidak terjadi.Wibowo (1985) dalam hasil penelitiannya dikatakan bahwa perilaku rusa jantan menaiki betina berlangsung hanya sekitar satu sampai dua detik. Demikian juga dari hasil penelitian Andijarso (1988) yang mengatakan puncak dari perilaku kawin adalah rusa jantan akan mencoba menaiki betina.

Perilaku Kopulasi

Hasil analisis statistika melalui uji F rancangan acak lengkap (RAL) terhadap perilaku kopulasi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). Pada Tabel 7,8 dan 9 memperlihatkan bahwa hanya T3 (dosis 10.000 mg) saja yang sampai melakukan aktivitas kopulasi. Perilaku kopulasi terjadi setelah hari ke 9 perlakuan, dalam waktu 4 detik. Tabel 6 menunjukkan perlakuan dengan dosis 10000 mg (T3) saja yang mau menunjukkan perilaku kopulasi, yaitu pada ulangan pertama ( rusa J ). Gambar 14 dibawah ini menunjukkan bahw a intensitas perilaku seksual pada rusa J (ulangan pertama) lebih besar daripada rusa K dan rusa L (ulangan ke2 dan 3). Hal ini merupakan faktor utama mengapa rusa K dan rusa L tidak sampai menunjukkan perilaku kopulasi, disamping factor-faktor lain yang kemungkinan

menyebabkan rusa K dan L tidak ada kesempatan untuk melakukan perkawinan atau kopulasi. 0 50 100 150 200 250 300 350 400 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 hari ke

jumlah nilai skor

ulangan I (rusa J) II (rusa K) III(rusa L)

Gambar 14 Intensitas perilaku seksual pada T3 (ulangan1, 2 da 3).

Intensitas perilaku seksual pada rusa J (ulangan pertama) yang ditunjukkan pada Gambar 14 terlihat lebih besar daripada rusa K dan rusa L (ulangan ke2 &3). Hal ini merupakan faktor utama mengapa rusa K dan rusa L tidak sampai menunjukkan perilaku kopulasi, disamping faktor-faktor lain yang kemungkinan menyebabkan rusa K dan L tidak ada kesempatan untuk melakukan perkawinan atau kopulasi. Dalam Gambar 14 dapat dilihat bahwa intensitas perilaku seksual pada rusa J lebih tinggi dibandingkan dengan rusa K maupun L. Rusa J mempunyai intensitas perilaku seksual yang lebih tinggi daripada rusa K maupun L. Hal ini bisa dijelaskan bahwa intensitas perilaku seksual ditentukan oleh dua faktor yaiu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam terdiri atas faktor hormonal dan syaraf saling bekerjasama, berinteraksi dan saling membutuhkan dimana sistim kerja kedua faktor tersebut biasa dikenal neurohormonal. Sedangkan faktor luar yang juga berperan dalam mengendalikan perilaku seksual adalah adanya betina berahi. Rangsangan tersebut dapat melalui penglihatan, penciuman dan perabaan.

Faktor lain kemungkinan tidak terjadinya kopulasi pada rusa K dan L adalah : 1. Dalam penelitian ini, antara rusa perlakuan dengan rusa yang ada di

penangkaran tidak dipisahkan, sehingga kesempatan untuk mendapat betina berahi tidak sama

2. Imbangan kelamin antara jantan dengan betina dewasa tidak seimbang. (jantan: 25 ekor; betina: 20 ekor) sehingga sangat kompetitif dalam memperebutkan betina berahi.

3. Kondisi ranggah antara rusa perlakuan dengan rusa penangkaran tidak sama, sehingga bagi rusa yang mulai mengelupas akan kalah bersaing dalam mendapatkan betina yang mempunyai ranggah lebih keras.

4. Intensitas seksual selain diengaruhi oleh faktor dalam yaitu hormon dan syaraf juga dipengaruhi oleh faktor luar. Disamping itu kepekaan individu terhadap sesuatu zat (steroid) kemungkinan tidak sama.

Hasil pengamatan diketahui pula bahwa lama waktu kopulasi adalah 4 detik. Hal ini sesuai yang dikatakan oleh Joebearden and Fuquay (1984) yang mengatakan bahwa tujuan utama dari perilaku kawin adalah kopulasi baik itu terjadi pada hewan jantan maupun hewan betina. Sedangkan Andijarso (1988) dalam penelitiannya melaporkan bahwa Puncak perilaku kawin adalah menaiki dan menusukkan penisnya dengan hentakan yang cukup kuat, dimana kejadian tersebut berlangsung antara 2 – 3 detik saja. Hal ini didukung oleh Siregar (1983) yang mengatakan bahwa pada tingkahlaku reproduksi pada rusa jantan lebih binal daripada rusa betina dimana perkawinan dilakukan secara alami dengan waktu koitus relatif cepat dan singkat. 0 50 100 150 200 250 300 350 400

hari 9 hari 10 hari 11 hari 12 hari 13

hsri perlakuan diberhentikan

jum lah nilai skor

I (rusa J) II (rusa K) III (rusa L)

Gambar 15 Intensitas perilaku seksual sejak pemberian sanrego dihentikan pada T3.

Gambar 15 memperlihatkan bahwa stelah perlakuan pemberian sanrego diberhentikan, rusa perlakuan (rusa J, K dan L) masih menunjukkan perlaku seksual. Pada Gambar 15 terlihat jelas bahwa rusa J masih menunjukkan perilaku seksual selama 2 hari, dimana pada hari ke 9 yaitu setelah terjadi kopulasi, maka perilaku seksual terlihat turun secara drastis bila dibanding dengan rusa K dan rusa L. Hal ini bisa dijelaskan bahwa diantara ketiga rusa (T3) maka hanya pada ulangan pertama (rusaJ) saja yang menunjukkan perilaku kopulasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Semiadi dan Nugraha 2004) yang mengatakan bahwa setelah terjadi perkawinan, maka si jantan akan memisahkan diri dan rusa pejantan akan berusaha memisahkan diri, memulihkan kembali energi dan berat badannya yang hilang selama perlakuan.

Perilaku teritori sering ditunjukkan pada rusa jantan di musim kawin. Area teritori terletak di sekitar rusa betina yang akan dikawini. Daerah teritori ini ditandai dengan bau-bauan atau tanda lain pada vegetasi. Dari hasil pengamatan rusa yang ada di penangkaran rusa Jonggol, ternyata tidak memperlihatkan daerah teritorinya.

Tidak adanya perilaku teritori ini ke mungkinan karena jumlah betina yang cukup kecil. Dari hasil pengamatan, dalam satu hari maksimal hanya ada satu atau dua betina yang menunjukkan birahi. Dengan demikian rusa yang paling dominan tersebut dengan mudah dapat menguasai dan mengusir jantan lain yang ingin mendekat. Menurut Hoogerwerf (1970) bahwa teritori ini terletak disekitar rusa betina yang bertujuan untuk mempertahankan betina-betina yang akan dikawininya dari jantan lain yang berusaha untuk mendekatinya. Lebih lanjut dikatakan bahwa perilaku teritori ini biasanya hanya terjadi di habitat aslinya, tetapi tidak dilakukan di penangkaran.

Pola Perilaku Kawin

Pola Perilaku Kawin (kopulasi). Dari hasil pengamatan terhadap pola perilaku kawin yang terjadi pada salah satu dari rusa yang diberi perlakuan pemberian bubuk daun sanrego selama waktu 9 hari dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Tahapan proses perilaku kawin

____________________________________________________________________ Tahapan ____________________Diskripsi Perilaku_______________________ Jantan Betina

____________________________________________________________________ - pra percumbuan - berusaha mendekati betina - vulva bengkak, kemerah

- berkubang an dan mengeluarkan - menggosok-gosokkan cairan/lendir ranggah pada pohon - berjalan/ berlari kecil - velvet mengelupas - mulut agak terbuka - terjadi peningkatan libido - kondisi pro estrus - Percumbuan - memisahkan betina yang birahi - mengeluarkan suara - mengejar pejantan yang lebih khas

rendah tingkat libidonya - banyak pejantan yang Lanjutan

___________________________________________________________________ Tahapan ____________________Diskripsi Perilaku_______________________ Jantan Betina

____________________________________________________________________ - agonistik mengikutinya

- mencium alat kelamin betina - melangkah/berjalan - flehmen(berdiri tegang,me- ke depan

rentangkan kepalanya pada posisi horisontal)diteruskan nyengir

- mengendus-endus, leluasa - menanggapi, meng- menjilati dan menciumnya angkat ekornya - menaruh moncongnya di- - kadang-kadang me- bawah tetesan air kencing ngeluarkan air kencing - ereksi - pengeluaran atau penonjolan - pro estrus

penis dari selubungnya

- libido terus meningkat

____________________________________________________________________ - penunggangan - menaiki punggung betina - lari/ berjalan kedepan beberapa kali

- pejantan meletakkan dagunya - diam dan memberi respon pada bagian belakang dengan berdiri atau - pejantan tsb. naik, memfikser kaki memberi tekanan pada depannyanya pada pinggul betina, punggung.

mendekapnya erat-erat dan meng- adakan dorongan- dorongan pelvis ritmik ke depan.

____________________________________________________________________ - Intromisi - penis dimasukkan ke dalam vagina

____________________________________________________________________ - Ejakulasi - kaki belakang berkontraksi

- pernafasan bertambah cepat - kepala menunduk

- terjadi hentakan yang cukup kuat selama 3 detik

- pejantan turun

- penis beretraksi ke dalam preputium

____________________________________________________________________ - Refraktorinese -tidak menunjukkan aktivitas seksual

- berjalan menyendiri (menjauhi betina tsb)

____________________________________________________________________

Gambar 16 menunjukkan pola perilaku kawin secara lengkap dari mulai pra percumbuan, menggosok-gosokkan velvet, berkubang, mencium dan menjilati urine betina berahi, agonistik, menaiki punggung betina sampai terjadi aktivitas kopulasi yang terjadi pada T3. Pola perilaku kawin ini dalam waktu 9 hari.

Dokumen terkait