• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

Gambar 1. Proses mordan pada kain

Gambar 1. Proses mordan pada kain Proses mordan kertas linen

Proses mordan dilakuakan dengan cara sebagai berikut: Bahan mordan dengan berat yang telah ditentukan dilarutkan ke dalam 2 liter air. Kemudian

kemudian kertas dimasukkan selama 10 menit ke dalam larutan mordan.

Kemudian ditiriskan hingga kertas dalam keadaan lembab dan dilanjutkan proses ecoprint.

Gambar 2. Proses mordan pada kertas Proses Ecoprint

Ecoprint merupakan pewarnaan alam langsung yang pewarna dapat secara langsung menembus serat selulosa. Teknik ecoprint merupakan suatu proses untuk mentransfer warna dan bentuk ke kain melalui kontak langsung antara kain dan daun (Flint, 2008 dalam Masyitoh dan Ernawati (2019). Adapun proses pembuatan ecoprint sebagai berikut: direndam kain katun ke dalam larutan pewarna dari serbuk mahoni, kain katun yang telah diberi warna disebut kain blanket, kemudian diletakkan plastik dan ditata media (kain sutera atau kertas linen) pada plastik, kemudian disusun daun dengan posisi tulang daun menghadap media. dilapisin media dengan kain blanket, kemudian ditutup dengan plastik, diratakan dan digulung menggunakan pipa kecil, kemudian diikat dan dikukus selama 1 jam. Buka gulungan, kain atau kertas hasil ecoprint dikeringkan.

(a) (b) (c) (d) (e)

(f) (g) (h)

Gambar 3. Proses ecoprint, (a) kain blanket yang sudah diberi warna dasar, (b) penataan daun pada kain, (c) penataan daun pada kertas, (d) pelapisan dengan kain

blanket, (e) ecoprint yang digulung, (f) proses pengkukusan ecoprint, (g) pengeringan kertas, (h) pengeringan kain.

Proses Fiksasi pada Kain Sutera

Fiksasi merupakan proses penguncian warna atau penguatan warna setelah proses pewarnaan pada kain sutera. Dalam proses fiksasi bahan yang digunakan adalah larutan tawas. dilarutkan 2 sendok makan (29 g) tawas ke dalam 2 liter air kemudian diaduk hingga tawas larut. Kain yang telah diecoprint dimasukkan ke dalam larutan dan dibiarkan selama 5 menit. Kemudian kain diangkat dan diangin-anginkan tanpa diperas.

Pengujian

Skrining Fitokimia

Skrining fotokimia dilakukan terhadap simplisia kulit kayu akasia meliputi pemeriksaan senyawa alkaloid, glikosida, saponin, flavonoid, tanin, dan triterpenoid/steroid.

Pemeriksaan alkaloid

Sampel ditimbang sebanyak 0,5 g ditambahkan asam klorida 2 N dan 9 ml aquades, dipanaskan selama 2 menit di atas penangas air, didinginkan dan disaring. Filtrat yang diperoleh dipakai untuk percobaan berikutnya:

a. Diambil 0,5 ml filtrat, lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi Meyer, akan terbentuk endapan berwarna putih/kuning

b. Diambil 0,5 ml filtrat ,lalu ditambahkan dengan 2 tetes pereaksi Bouchardat, akan terbentuk endapan cokelat sampai kehitaman

c. Diambil 0,5 ml filtrat, lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff, akan terbentuk endapan berwarna cokelat atau Jingga cokelat.

Alkaloid positif jika terbentuk endapan atau keruhan paling sedikit dua dari tiga percobaan di atas(Depkes RI, 1995).

Pemeriksaan glikosida

Sebanyak 3 g sampel ditimbang, diekstrak dengan 30 ml campuran dari 7 bagian etanol 95% dan 3 bagian akuades, ditambahkan HCl 2 N hingga pH 2, direfluks selama 10 menit, dinginkan, dan disaring. Sebanyak 20 ml filtrat ditambahkan 25 ml aquades dan 25 timbal (II) asetat 0,4 M. Filtrat diekstraksi dengan 20 ml campuran kloroform dan isopropanol (3:2) dan dilakukan

pengulangan sebanyak 3 kali. Dikumpulkan sari air dan diuapkan pada suhu yang tidak lebih dari 50°C, sisanya dilarutkan dalam 2 ml metanol, larutan ini digunakan untuk percobaan berikutnya: larutan sisa dimasukkan ke dalam tabung reaksi, diuapkan di atas pemanas air, sisanya ditambahkan 2 ml air dan 5 tetes pereaksi Molisch kemudian ditambah 2 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung, jika terbentuk cincin ungu menunjukkan adanya gula (Depkes RI, 1995).

Pemeriksaan saponin

Ditimbang sampel sebanyak 0,5 g dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, di tambakan 10 ml air panas dan disaring. Filtrat yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabung reaksi, dikocok kuat selama 10 detik, jika terbentuk buih dengan tinggi buih 1-10 cm yang stabil pada tabung reaksi tidak kurang dari 10 menit 54 serta dengan penambahan beberapa tetes asam klorida 2 N buih tidak hilang menunjukkan adanya saponin(Depkes RI, 1995)

Pemeriksaan flavonoid

Ditimbang sampel sebanyak 10 g ditambahkan 10 ml air panas, dididihkan selama 5 menit kemudian disaring, sebanyak 5 ml filtrat diambil dan ditambahkan 0,1 g serbuk magnesium, 1 ml asam klorida pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok dan dibiarkan hingga memisah. Jika terdapat warna merah,atau kuning, atau jingga pada lapisan amil alkohol maka sampel dinyatakan mengandung flavonoid (Farnsworth, 1996).

Pemeriksaan tanin

Ditimbang sampel sebanyak 0,5 g, diekstrak dengan 10 ml aquades selama 15 menit dan disaring. Filtrat yang diperoleh diencerkan dengan aquades sampai tidak berwarna. Diambil sebanyak 2 ml larutan dan ditambahkan 1-2 tetes pereaksi besi (III) klorida 10%. Jika terbentuk warna biru atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin(Farnsworth, 1996)

Pemeriksaan Triterpenoid/Steroid

Ditimbang sampel sebanyak 1 g, direndam dengan 20 ml n-heksana selama 2 jam kemudian disaring. Filtrat yang diperoleh diuapkan dalam cawan penguap. Sisanya ditambahkan pereaksi Liebermann-Burchard (LB), jika muncul

warna merahungu atau hijau biru menunjukkan adanya triterpenoid/steroid (Harborne, 1984)

Penetapan Kadar Tanin Kulit Akasia secara Spektrofotometri Penentuan panjang gelombang maksimum

Ditimbang asam galat sebanyak 10 mg. Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml, ditambahkan aquades sampai garis batas. Larutan dipipet sejumlah tertentu ke dalam labu ukur 10 ml, ditambahkan 1 ml reagen folin-ciocalteu dikocok dan dibiarkan selama 5 menit kemudian ditambahkan 2 ml Na2CO3 15%

dikocok hingga homogen. Kemudian ditambahkan aquades sampai tanda batas dan didiamkan selama 90 menit. Selanjutnya diukur pada panjang gelombang 400 sampai 800 nm.

Pembuatan kurva kalibrasi asam galat

Larutan induk asam galat kemudian dipipet sebanyak 0,1 ml, 0,2 ml, 0,3 ml, 0,4 ml dan 0,5 ml kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml (untuk mendapatkan konsentrasi 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm dan 50 ppm).

Kemudian ke dalam masing-masing labu ukur ditambahkan 1 ml reagen folin-ciocalteu dikocok dan dibiarkan selama 5 menit kemudian ditambahkan 2 ml Na2CO3 15% dikocok hingga homogen. Kemudian ditambahkan aquades sampai tanda batas dan didiamkan selama 90 menit. Kemudian diukur absorbansi pada panjang gelombang maksimum.

Penetapan kadar tanin total

Sebanyak 50 mg ekstrak kulit akasia dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml. Ditambahkan aquades sampai dengan tanda batas. Larutan ekstrak yang diperoleh dipipet sejumlah tertentu ke dalam labu ukur 10 ml dan ditambahkan 1 ml reagen folin-ciocalteu dikocok dan dibiarkan selama 5 menit kemudian ditambahkan 2 ml Na2CO3 15% dikocok hingga homogen. Kemudian ditambahkan aquades sampai tanda batas dan didiamkan selama 90 menit.

Absorbansi diukur pada panjang gelombang maksimum. Dilakukan pengulang sebanyak 3 kali. Kadar tanin dihitung equivalen dengan asam galat.

Nilai Retensi Zat Warna

Pengukuran retensi zat warna dilakukan untuk mengukur banyaknya zat warna yang diserap oleh media. Nilai retensi zat warna dapat dihitung dengan

Nilai perbedaan warna diukur dengan menggunakan colorimeter CS-10 kemudian menggunakan program Colorimeter 2008 yang akan menghasilkan nilai L*, a* dan b*(Muflihati et al., 2014). Untuk memperoleh nilai perbedaan warna , dilakukan menggunakan nilai L*, a* dan b* pada ruang warna CIELab dengan rumus :

∆E=√(L*)2+(a*)2+(b*)2 ... (3)

Keterangan:

∆E = Perbedaan Warna

∆L* = Perbedaan kecerahan = L*akhir – L*awal

∆a* = Perbedaan merah atau hijau = a*akhir – a*awal

∆b* = Perbedaan kuning atau biru = b*akhir – b*awal

Tabel 1. Pengaruh perbedaan nilai ∆E

Perbedaan warna Pengaruh

1. Ketahanan terhadap pencucian dengan larutan sabun (SNI 105-C06-2010).

Pencucian dilakukan dengan larutan sabun yang mengandung 5gr detergen/liter aquades. Pengujian dilakukan dengan suhu 40°C selama 45 menit. Sampel kemudian dikeringudarakan dan diukur perubahan warna dengan metode CIELab.

2. Ketahanan terhadap Penyetrikaan (SNI 105-X11-2010).

Pengujian dilakukan dengan cara menyetrika kain pada pola warna. Setiap pola warna disetrika selama 15 detik. Dengan suhu 121°C - 135°C. Setelah proses penyetrikaan diukur perubahan warna dengan metode CIELab.

3. Ketahanan terhadap sinar terang hari (SNI 105-B01-2010).

Pengujian dilakukan dengan cara menjemur kain contoh uji pada sinar matahari langsung yaitu pada pukul 9.00-15.00 WIB. Setelah proses penjemuran diukur perubahan warna dengan metode CIELab.

Analisis Data

Analisis data menggunakan metode statistika rancangan acak lengkap (RAL) Non Faktorial .Adapun perlakuan yang digunakan terdapat 5 taraf perlakuan, yaitu kontrol (tidak memakai mordan), mordan tawas, mordan alumunium asetat,mordan tanin oak gall, mordan tanin akasia, setiap taraf perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Data hasil penelitian diolah menggunakan program SPSS. Apabila diperoleh hasilnya berbeda nyata maka dilakukan uji lanjutan Duncan. Model linier yang digunakan adalah:

Y

ij

=μ+τ

i

ij

...

(4) Keterangan:

Yij : Nilai pengamatan pada mordan yang digunakan ke-i, ulangan ke-j.

µ : Rataan umum.

Ʈi : Pengaruh aditif perlakuan jenis mordan ke-i.

εij : Pengaruh acak dari jenis mordan yang digunakan ke-i, ulangan ke-j.

Dokumen terkait