• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. SPIRITUALITAS HATI BERDASARKAN PENGALAMAN AKAN

C. Pengalaman akan Allah

2. Gambaran Akan Allah

Berbagai peristiwa hidup dan pengalaman iman yang di alami setiap orang dapat berbeda pula dalam memberi gambaran akan Allah itupun senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan intelek, jiwa, dan pengalaman iman seseorang. Dan pengalaman iman itupun bisa beraneka ragam, tergantung bagaimana ia mengenal dan mengalami Allah dalam hidupnya. Begitupun dengan Pendiri Konggregasi PBHK yang bernama Jules Chevalier.

a. Pendiri Konggregasi PBHK.

Jules Chevalier lahir pada 15 Maret 1824. Ia anak bungsu dari tiga bersaudara, yang keesokkan harinya langsung dibaptis dengan nama Jean-Jules, di

Richelieu. Bapaknya bernama Charles Chevalier. Ibunya bernama Louise Orly. Pada tahun 1841 di bulan Oktober, dalam usia agak terlambat 17 tahun, ia masuk seminari kecil di St Gaultier, wilayah keuskupan Bourges. Pada tahun 1846 sampai 1851 Jules melanjutkan masuk seminari tinggi di Bourges. Tanggal 14 Juni 1851, Jules ditahbiskan di katedral St Stefanus, Bourges.

Tulis Pater Chevalier: “ Saya merayakan perayaan misa pertama dalam kapel kecil di taman. Kapel itu dipersembahkan pada Bunda Perawan. Pada saat konsekrasi, misteri yang agung serentak ketaklayakanku, benar-benar membuat saya mencucurkan air mata. Agar saya dapat menyelesaikan misa itu, saya harus dikuatkan kembali oleh imam konselebranku. Itu hari yang tak pernah kulupakan.” Pater Jules mengalami ketersentuhan akan misteri Kasih Allah yang sungguh menggugah hatinya dan sekaligus menyadari akan ketaklayakan dihadapan Allah. Ia mengalami Allah yang penuh kasih. Allah adalah Kasih, Deus Caritas est (Tostain, 1997: 47; Le Sacre Coeur de Jesus, 1900: 3).

Chevalier juga menyebut Allah sebagai “Samudera yang merangkul segala-galanya” (Kwakman, 2009: 2; Le Sacre Coeur de Jesus, 1900: 330). Dengan kasih yang tak terbatas Allah memandang makhluk-makhluk-Nya yang paling kecil yang paling hina. Ia memandang seluruh alam ciptaa-Nya dengan tatapan kasih yang tak habis-habisnya (Le Sacre Coeur,1900: 66). Allah tidak menciptakan dari jauh seperti matahari mengirim sinar-sinarnya dari atas, akan tetapi Allah hadir di dalam diri kita, dalam batin kita yang terdalam, lebih dekat pada diri kita daripada kita pada diri kita sendiri.(Le Sacre’Coeur, 281; Daily Reading Aug.6) (Bovenmaars, 1993: 133).

Allah adalah kasih inilah, yang merupakan inti pandangan Chevalier atas pengalaman studi dan meditasinya tentang misteri inkarnasi,khusus tentang Hati Kudus yang terbuka (Yoh 19: 37) dan penghampaan diri Allah dalam Yesus Kristus (Fil 2: 5-8) yang menghantar Chevalier pada inti inkarnasi: Allah adalah kasih (1Yoh 4:16) Chevalier menulis bahwa sejak awal mula Allah mempunyai rencana untuk mewahyukan kepada kita jati dirinya sendiri,yang adalah kasih. Caranya lewat peristiwa inkarnasi. Sabda menjadi Putera yang adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah (Ibr 1:3) (Murphy, 1996: 45).

Bagi Chevalier “Hati Yesus” adalah seluruh pribadi Yesus seluruh hidup dan pribadi Yesus seutuhnya merupakan ungkapan Kasih Allah kepada dunia dan manusia. Dalam diri Yesus ia bertemu dengan seorang Allah yang menjadi manusia (bdk.Jules Chevalier,The Sacred Heart of Jesus,19). Chevalier menulis bahwa tulang-tulangnya yang kokoh dan rapuh adalah tulang-tulang Allah; daging yang melekat pada tulangnya adalah daging Allah; sensansi dan naluri dalam diri Yesus, termasuk pikiran dan perasaannya merupakan hidup Allah sendiri.

Yesus yang berpikir, berbicara dan berjalan adalah Allah sendiri yang berpikir,berbicara,dan berjalan; darah dan dinamika yang menggerakkan diri Yesus serta segala yang ada dalam diri-Nya adalah milik Allah (Murphy, 1996: 46).

Pengalaman iman Pater Jules Chevalier telah mengantarnya kepada suatu kepercayaan yang amat mendalam akan cinta Allah yang lemah lembut terhadap umat manusia. Tindakan pembebasan manusia Israel dari perbudakan di Mesir, merupakan tindakan cinta Allah terhadap manusia perjanjian Lama. Dalam perjanjian Baru yaitu dalam diri Yesus Kristus, pernyataan cinta Allah itu mencapai

puncaknya. Pater Jules Chevalier percaya bahwa Allah mencintai manusia lebih daripada dia sendiri sebagai manusia mampu mencintai. Kemampuan Allah mencintai itu menjadi nyata dalam manusia Yesus Kristus yang mencintai. Cinta Allah adalah cinta manusia Yesus; Allah mencintai manusia Jules Chevalier adalah “Kita telah mengenal dan telah percaya akan cinta Allah kepada kita “(1 Yoh 4:16) (Ohoitimur, 1986: 31).

Oleh karena itu bersama dengan iman pendiri para suster bisa mewartakan Kasih dan kebaikan Allah jika pernah mengenal Allah dan mengalami akan kasih Allah itu sendiri. Tanpa pengenalan dan mengalaminya maka apa yang akan diwartakan.

b. Menurut Konstitusi PBHK

Sebagai Putri –Putri Bunda Hati Kudus yang di panggil dalam gereja untuk ambil bagian dalam visi iman pendiri Jules Chevalier. Bahwa seperti pater pendiri suster Putri Bunda Hati Kudus berkat relasi intim dengan Hati kudus mampu menyakini bahwa dalam Hati Yesus pewahyuan kelembutan tak terbatas cinta kasih Allah, Bapa kita dengan segala konsekwensi yang selaras dengan sikap,tindakan dan perkataan dalam tugas perutusan untuk membantu orang-orang lain agar mereka menginsafi bahwa betapa besar cinta kasih Allah kepada mereka (Kons, 1983:no. 1). Ini berarti Putri Bunda Hati Kudus pertama-tama mengenal dan mengalami terlebih dahulu akan cinta Allah setelah mengenal dan mengalami baru bisa membagikan kepada orang lain sehingga merekapun bisa menyelami bahwa Allahpun mengasihi mereka dengan cinta yang sama.

Putri Bunda Hati Kudus berkontemplasi bersama Maria Bunda Hati kudus masuk ke dalam misteri Hati kudus, berarti menerima anugerah Roh-Nya dalam iman mengenal dan mengalami pengalaman akan Allah, pengalaman pengampunan sehingga melalui cinta-Nya yang berdaya mengubah dapat mengubah hati PBHK menjadi menyerupai Hati-Nya yang rendah hati,lemah-lembut dan berbelaskasih, agar cinta kasih PBHK satu sama lain menjadi kesaksian bahwa suster PBHK adalah murid-murid-Nya (Kons, 1983:no. 5).

Ini bisa terlaksana jika suster PBHK dengan penuh kesadaran dan dengan hati terbuka membiarkan diri dikuasai oleh Roh Allah, biar Allahlah yang mengubah dan membentuk hati suster PBHK menjadi serupa dengan Hati-Nya. Membiarkan hati PBHK menjadi tanah yang subur bagi tumbuhnya sabda Allah, agar tanah hati PBHK tetap subur maka diperlukan pembersihan terus-menerus dengan pembaharuan dan pertobatan yang radikal.

Suster PBHK sebagai seorang yang menyerahkan hidupnya secara utuh, menyeluruh, radikal, tidak terbagi, kepada cinta Hati Kudus melalui hidup doa, hidup komunitas, hidup kaul,adorasi,pemulihan dan tugas kerasulan (Konst,1983:no. 4). Dan juga mewarisi semangat Pater Chevalier ikut ambil bagian dalam gerak keprihatinan Hati Kudus yang tertusuk dan Hati Maria yang terbuka serta siap-sedia dengan menjadi rasul cinta hati-Nya (Konst, 1983:no. 3) untuk menaburkan hidup, mewartakan dan membagikan kasih-Nya serta menjadi santapan bagi semua orang,terutama mereka yang kecil,menderita,tersingkir agar Hati Kudus dikasihi dimana-mana (Konst, 1983:no. 4).

Keterpesonaan kepada Allah yang berbelarasa dan maharahim dalam Hati Yesus dan Bunda penebus,mendorong suster PBHK menjadi tanda atau sakramen untuk menyelamatkan umat manusia dengan menjadi santapan dan menabur hidup yang memancar dari Hati Kudus Yesus dan Maria. Seperti yang dikutip (Yeh,36:26,28) dinyatakan: “kamu akan Kuberikan hati yang baru,dan roh yang baru di dalam batinmu dan aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat…kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku menjadi Allahmu.”

Dokumen terkait