• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran alergen dari hasil uji tusuk pada anak dengan dermatitis atopik

Dalam dokumen GAMBARAN ALERGEN PADA ANAK DENGAN DERMAT (Halaman 32-39)

Dermatitis Atopik

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2. Gambaran alergen dari hasil uji tusuk pada anak dengan dermatitis atopik

Uji tusuk kulit pada penelitian ini menggunakan reagen Alyostal produksi Hollister Stier (France) dengan limit hasil positif apabila dijumpai indurasi ≥3 mm. Semua subjek dalam penelitian ini menunjukkan hasil UTK yang positif, minimal dengan satu jenis alergen hirup.

Hasil uji tusuk kulit pada anak dengan dermatitis atopik dapat dilihat padatabel 4.3. Tabel 4.3 Hasil uji tusuk kulit pada anak dengan dermatitis atopik

No .

Reagen

Hasil uji tusuk positif

Frekuensi persentase(%) 1. Histamine 43 100 2. Thiamin negative 0 0 3. Putih telur 9 20,9 4. Ayam 15 34,9 5. Kacang tanah 16 37,2 6. Terigu 11 25,6 7. Udang 17 39,5 8. Mosquito (Nyamuk) 21 48,8 9. Blatella germanica (kecoa) 27 62,8 10. D. pteronyssinus (Tungau debu rumah)

28 65,1

Berdasarkan tabel 4.3 di atas didapatkan alergen yang menunjukkan reaksi positif paling banyak secara berurutan adalah alergen hirup yaitu tungau debu rumah sebanyak 28 orang (65,1%), kecoa sebanyak 27 orang (62,8%), nyamuk sebanyak 21 orang (48,8%), diikuti alergen makanan yaitu udang sebanyak 17 orang (39,5%), kacang tanah sebanyak 16

orang (37,2%), ayam sebanyak 15 orang (34,9%), terigu sebanyak 11 orang (25,6%), putih telur sebanyak 9 orang (20,9%). Secara keseluruhan tungau debu rumah merupakan alergen yang positif terbanyak dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Natallya dan Barakbah pada tahun 2007 terhadap pasien dermatitis atopik di RSUD dr. Soetomo Surabaya didapatkan alergen terbanyak positif pada UTK adalah tungau debu rumah.44 Penelitian Wistiani dan Notoatmojo pada tahun 2011 di RSUP Kariadi Semarang terhadap anak yang memiliki penyakit alergi didapatkan hasil UTK yang paling banyak adalah tungau debu rumah.45 Penelitian Baldacara pada tahun 2013 di Brazil, pada anak yang memiliki penyakit atopi didapatkan tungau debu rumah sebagai alergen terbanyak positif.1 Demikian pula dari penelitian Kokandi pada tahun 2013 di Arab Saudi, didapatkan alergen terbanyak yang positif pada pasien DA adalah tungau debu rumah.46

Dari berbagai penelitian, sebagian besar pasien DA menunjukkan hasil yang positif terhadap alergen tungau debu rumah.

Pada penelitian ini alergen kedua terbanyak adalah kecoa yaitu sebanyak 27 orang (62,8%). Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yaitu penelitian Wistiani dan Notoatmojo pada tahun 2011 di RSUD Kariadi Semarang, didapatkan kecoa adalah alergen ketiga yang terbanyak positif setelah tungau debu rumah dan human dander, dengan persentase 65,0%.45 Penelitian Kokandi pada tahun 2013 di Arab Saudi, didapatkan kecoa adalah alergen terbanyak positif pada pasien DA setelah tungau debu rumah yaitu sebesar 37%.46 Kecoa merupakan salah satu dari alergen indoor yang paling umum ditemukan di seluruh dunia. Protein yang berasal dari feses, saliva, telur dan lapisan kutikula kecoa berperan dalam penyebab penyakit alergi. Alergenisitas ekstrak kecoa telah ditunjukkan terutama dengan uji tusuk kulit, tes provokasi bronkial, dan radioallergosorbent test (RASTs).47

Pada penelitian ini didapatkan alergen ketiga terbanyak yaitu nyamuk sebanyak 21 orang (48,8%). Alergi nyamuk disebabkan sensitisasi terhadap alergen nyamuk yang berasal dari protein dalam saliva nyamuk, dimana menimbulkan respon IgE spesifik sehingga dapat didiagnosis dengan uji tusuk kulit. Pada penelitian Thaha pada tahun 2014 di poliklinik IKKK RSUP dr Mohammad Hoesin Palembang, didapatkan UTK alergen nyamuk positif ditemukan pada 75% pasien DA yang ikut dalam penelitian.48

Alergen hirup dibagi atas aeroalergen dalam rumah dan diluar rumah. Di daerah tropis seperti Indonesia lebih berpengaruh aeroalergen dalam rumah, misalnya tungau debu rumah yang umumnya terdapat pada kasur, bantal, karpet bulu dan gorden.49 Kecoa umumnya berada di tempat yang hangat dan lembab seperti dapur, kamar mandi dan tempat mencuci.50 Peran aeroalergen pada atopik dilaporkan lebih banyak pada anak yang berusia diatas 2 tahun.12

Alergen makanan yang paling banyak menunjukkan hasil positif dalam penelitian ini adalah udang yaitu sebanyak 17 orang (39,5%). Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Candra dan kawan-kawan, pada tahun 2011 di poli Alergi dan Imunologi RSCM, mendapatkan udang adalah alergen makanan positif terbanyak pada anak. Menurut kepustakaan, udang merupakan seafood yang paling sering menyebabkan reaksi alergi di Malaysia, Thailand dan Cina.51

Penelitian Takumansang pada tahun 2002 yang melakukan uji tusuk kulit dengan alergen makanan pada anak dengan dermatitis atopik yang berusia 2-12 tahun di RSUP Manado, didapatkan hasil yang sedikit berbeda, pada penelitian ini telur adalah alergen makanan tersering (53%) kemudian diikuti dengan udang dan ikan masing-masing sebesar 40%.52

Kacang tanah merupakan alergen makanan dengan hasil positif kedua terbanyak dalam penelitian ini, yaitu sebanyak 16 orang (37,2%). Penelitian yang dilakukan oleh Faridian B, dan kawan-kawan dengan studi deskriptif metode potong lintang pada tahun 2008

di Semarang, menyatakan bahwa dari 48 pasien DA didapatkan 23 orang (43%) yang alergi kacang tanah dari hasil uji tusuk kulit.53

Hasil uji tusuk alergen ayam menunjukkan hasil positif sebanyak 15 orang (34,9%). Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Candra dan kawan-kawan yang mendapatkan anak yang sensitif dengan daging ayam sebanyak 7,4%. Penelitian Likura et al didapatkan data anak Jepang yang alergi dengan daging ayam adalah 4,5%.55 Pada penelitian Natallya pada tahun 2007-2012 di Semarang, pasien dermatitis atopik yang hasil UTK positif terhadap ayam sebanyak 15,8%.44

Dalam penelitian ini juga didapatkan, hasil UTK yang positif terhadap terigu sebanyak 11 orang (25,6%). Dalam penelitian Candra dan kawan-kawan didapatkan hasil positif terhadap terigu sebanyak 10,3%.54

Yang paling sedikit persentase positif dalam penelitian ini adalah putih telur yaitu sebanyak 9 orang (20,9%). Pada penelitian Candra dkk, pada tahun 2007 di RS Cipto Mangunkusumo, didapatkan anak yang hasil uji tusuk kulitnya positif terhadap putih telur yaitu sebesar 8,8%.54 Pada penelitian Sidabutar dkk pada tahun 2011 di RS Cipto Mangunkusumo mendapatkan anak dengan dermatitis atopik yang positif terhadap putih telur yaitu 8 orang, sedangkan yang positif terhadap kuning telur hanya sebanyak 3 orang dari 29 sampel.55 Protein telur yang alergenik terutama terdapat pada bagian putih telur, yaitu ovomucoid, ovalbumin, ovotransferin, dan lisozim.56

Jenis alergen tersering yang ditemukan pada tiap penelitian berbeda-beda, dipengaruhi oleh usia, pola diet atau makanan yang dikonsumsi, jenis pajanan di suatu daerah, dan metode penelitian yang dipergunakan.12

Peran makanan untuk mencetuskan dermatitis atopik masih kontroversial. Bila anak dengan DA secara kronik makan makanan yang menyebabkan mereka alergi, maka akan dijumpai peningkatan pelepasan histamin secara spontan dari basofil dibandingkan dengan

anak tanpa alergi makanan. Terdapat kira-kira 40% bayi dan anak usia muda dengan DA sedang dan berat yang disertai dengan alergi makanan. Banyak laporan mengemukakan DA akan membaik secara klinis setelah menghindari protein makanan penyebab.57

4.3 Karakteristik alergen berdasarkan distribusi kelompok usia dan jenis kelamin

4.3.1 Karakteristik alergen berdasarkan distribusi kelompok usia

Tabel 4.4 Karakteristik distribusi alergen terhadap kelompok usia Kelompok usia Alergen

hirup Alergen makanan Alergen makanan dan alergen hirup 2.5 tahun 44,4% 0% 32,4% 6-15 tahun 55,6% 0% 67,6%

Bila subjek dalam penelitian dibagi dalam kelompok usia 2-5 tahun dan 6-15 tahun, maka didapatkan kelompok usia 2-5 tahun yang positif terhadap alergen hirup adalah 44,4%, sedangkan yang positif terhadap alergen makanan dan hirup adalah sebesar 32,4%. Pada kelompok anak yang berusia 6-15 tahun didapatkan yang positif terhadap alergen hirup saja sebesar 55,6%, sedangkan yang positif terhadap alergen makanan dan hirup yaitu 67,6%. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa semua subjek penelitian positif terhadap alergen hirup, namun tidak semua alergi terhadap alergen makanan. Dari kedua kelompok tidak ada yang hanya positif terhadap alergen makanan saja. Pada kelompok anak yang lebih besar (6-15 tahun), persentase anak yang tersensitasi dengan alergen hirup saja lebih besar dibandingkan dengan kelompok anak 2-5 tahun.

Hal ini sesuai dengan Wang et all, pada tahun 2004 yang meneliti kaitan umur dengan alergen pada anak dengan DA, didapatkan anak yang berusia kurang dari 2 tahun paling sering positif alergi terhadap alergen makanan, anak umur 2-5 tahun positif terhadap alergen hirup dan makanan, sedangkan anak yang berusia diatas 5 tahun lebih sering positif terhadap alergen hirup. Hasil serupa juga didapatkan oleh Sidabutar dkk, pada tahun 2011 Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. 55,58

Pada penelitian Fiocchi et al terhadap anak 0-15 tahun, pada tahun 2015 di Italia, mendapatkan kelompok anak yang berusia dibawah 5 tahun lebih cenderung positif terhadap alergen makanan dibandingkan dengan anak yang lebih besar.59

4.3.2 Karakteristik alergen terhadap distribusi jenis kelamin Tabel 4.5 Karakteristik distribusi alergen terhadap jenis kelamin

Jenis kelamin Alergen hirup Alergen makanan Alergen makanan dan alergen hirup Laki-laki 66,7% 0 % 32,4% Perempuan 33,3% 0 % 67,6%

Dari tabel 4.5 distribusi jenis kelamin terhadap kepositifan UTK, didapatkan jenis kelamin laki-laki positif terhadap alergen hirup saja sebesar 66,7%, dan positif terhadap alergen makanan dan hirup sebesar 32,4%. Sedangkan perempuan positif terhadap alergen hirup saja 33,3% dan positif terhadap alergen makanan dan hirup sebesar 67,6%. Tidak terdapat subjek penelitian yang positif terhadap alergen makanan saja.

Seluruh subjek penelitian baik laki-laki dan perempuan sama-sama menunjukkan hasil uji tusuk kulit yang positif. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Natallya yang juga tidak menemukan perbedaan reaktifitas terhadap alergen.44 Pada penelitian Bordignon pada tahun 2006, yang melakukan uji tusuk dengan histamin, didapatkan bahwa subjek laki-laki

lebih banyak menunjukkan hasil positif.60 Demikian pula, penelitian Haahtela et al pada tahun 2007 di Imatra, mendapatkan hasil uji tusuk kulit pada remaja usia 15-17 didapatkan jenis kelamin laki-laki lebih reaktif.61

Pada penelitian ini didapatkan, kepositifan terhadap alergen hirup saja lebih banyak pada kelompok anak laki-laki, sedangkan pada kelompok anak perempuan ditemukan lebih banyak jumlah yang alergi terhadap baik alergen makanan serta alergen hirup. Belum ada penelitian yang menjelaskan distribusi jenis kelamin terhadap jenis alergen pada anak dengan dermatitis atopik. Namun pada penelitian Govaere et al pada tahun 2007 yang menguji sensitifitas alergen hirup pada anak sekolah yang berumur 3-15 tahun di Belgia, mendapatkan kelompok anak jenis kelamin laki-laki lebih banyak secara signifikan yang positif terhadap alergen hirup.61 Dari penelitian Kim J et al pada tahun 2010, yang melakukan uji tusuk kulit 18 alergen hirup kepada anak sekolah di Korea, mendapatkan kelompok jenis kelamin laki-laki lebih banyak positif dibandingkan perempuan pada kelompok umur 6-7 tahun, maupun kelompok umur 12-13 tahun.62

BAB 5

Dalam dokumen GAMBARAN ALERGEN PADA ANAK DENGAN DERMAT (Halaman 32-39)

Dokumen terkait