BAGIAN 4. BELANJA KESEHATAN PROGRAM PRIORITAS PADA SEKTOR PUBLIK
4.1 Gambaran Belanja menurut Penyakit dan/atau Program Spesifik pada Skema Pembiayaan
4.2.4 Gambaran Belanja Program Penyakit Menular pada Skema Pembiayaan Publik
Transisi epidemiologi di Indonesia telah memicu pergeseran profil beban penyakit dari tingginya beban penyakit menular kemudian berubah dengan adanya dominasi beban Penyakit Tidak Menular (PTM). Meskipun demikian, peningkatan penyakit menular seperti TB, HIV-AIDS, Malaria, dan berbagai penyakit terabaikan cenderung masih tinggi.57 Selain penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin atau Vaccine Preventable Diseases (VPD), terdapat setidaknya tiga penyakit menular yang
1,5 2,0
25,8
34,1
7,0 10,9
2,0 3,8
1,4 1,8
2013 2018
DM (% pada populasi >15 tahun) Hipertensi (% pada populasi >18 tahun) Stroke (kasus/1.000 penduduk >15 tahun) Ginjal (kasus/1.000 penduduk >15 tahun) Kanker (kasus/1.000 penduduk >15 tahun)
masih membutuhkan fokus perhatian dalam intervensi pengendalian penyakit, yaitu TB yang menempatkan Indonesia pada posisi kedua negara dengan beban penyakit tertinggi dunia, HIV/AIDS dengan pengalaman meningkatnya kasus baru HIV dan angka kematian karena AIDS yang cukup tinggi, serta penyakit malaria yang mengalami penurunan kasus selama dekade terakhir, tetapi pada tahun 2018 hanya separuh dari daerah di Indonesia yang telah dinyatakan bebas malaria.58
Merujuk pada dokumen RPJMN 2015-2019,43 prevalensi tuberkulosis per 100.000 penduduk ditargetkan mencapai 245 pada tahun 2019. Data menunjukkan bahwa capaian prevalensi TB tersebut pada tahun 2019 mencapai 254 per 100.000 penduduk.15 Selanjutnya, terjadi perubahan pada penetapan indikator pengendalian penyakit TB mengacu pada dokumen RPJMN 2020-2024,6 yaitu dari penentuan target angka prevalensi menjadi angka insidensi per 100.000 penduduk. Pada tahun 2024, angka insidensi TB tersebut ditargetkan dapat mencapai 190 per 100.000 penduduk. Data pada profil kesehatan Indonesia tahun 2019 mencatat bahwa angka insidensi TB pada tahun 2018 mencapai 316 per 100.000 penduduk.15
Prevalensi HIV (dalam persen) juga tercatat sebagai indikator pengendalian penyakit menular pada dokumen RPJMN 2015-2019 dengan target di tahun 2019, yaitu angka prevalensi HIV mencapai <0,50 persen.43 Indikator pengendalian penyakit HIV dalam dokumen RPJMN 2020-2024 juga mengalami perubahan menjadi angka insidensi per 100.000 penduduk yang tidak terinfeksi HIV. Target angka insidensi HIV sebesar 0,18 persen di tahun 2024.6 Meninjau dari capaian kinerja pengendalian penyakit HIV, dapat terlihat bahwa jumlah kasus positif HIV yang dilaporkan terus meningkat, sementara jumlah kasus baru AIDS cenderung menurun di tahun 2019.15
Pada dokumen RPJMN 2015-2019 maupun RPJMN 2020-2024, tidak terjadi perubahan indikator pengendalian malaria, yaitu tetap fokus pada jumlah kabupaten/kota mencapai eliminasi malaria.
Pada tahun 2019 ditargetkan terdapat sekitar 300 kabupaten/kota yang telah bebas dari malaria dan indikator tersebut telah berhasil dicapai. Sementara untuk tahun 2024 ditargetkan sebanyak 405 kabupaten/kota berhasil melakukan eliminasi malaria.
Pada tingkat daerah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota juga memiliki target kinerja dalam pengendalian penyakit menular dengan adanya Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.59 Pelayanan kesehatan orang terduga tuberkulosis serta pelayanan kesehatan orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan daya tahan tubuh manusia (HIV-Human Immunodeficiency Virus) menjadi 2 dari 12 indikator yang telah ditentukan dalam SPM kesehatan kabupaten/kota. Pelayanan kesehatan bagi orang terduga tuberkulosis tersebut mencakup pemeriksaan klinis, pemeriksaan penunjang, dan edukasi. Sementara untuk pelayanan HIV tersebut mencakup edukasi perilaku berisiko dan skrining.
Adanya tantangan dalam mencapai indikator pembangunan kesehatan seringkali berdampak pada tingginya kebutuhan pembiayaan kesehatan. Peningkatan investasi pada Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) perlu menjadi fokus perhatian untuk menekan semakin tingginya beban pembiayaan kesehatan yang saat ini lebih banyak digunakan untuk layanan kuratif/Upaya Kesehatan Perorangan (UKP).60 Oleh karena itu, isu strategis yang mendesak dalam konteks pembiayaan kesehatan adalah bagaimana mencukupi intervensi UKM, yang mencakup pendekatan promotif dan preventif. Pencapaian indikator kesehatan seperti SPM dan program prioritas lain seperti eliminasi malaria, stunting dan kurang gizi, serta ancaman pandemik penyakit menular hanya dapat diatasi melalui UKM, tidak bisa dengan pendekatan kuratif dan asuransi kesehatan.60
Estimasi dari hasil produksi akun penyakit menunjukkan bahwa belanja untuk program penyakit menular tahun 2019 sebesar Rp20,3 triliun atau 7,9 persen dari total belanja kesehatan pada skema pedanaan publik. Belanja tersebut terdistribusi untuk penyakit Infeksi Saluran Pernapasan (Rp5,2 triliun), penyakit TB (Rp3,0 triliun), penyakit Diare (Rp3,0 triliun), penyakit HIV/AIDS dan PMS (Rp2,4 triliun), program imunisasi (Rp2,0 triliun), penyakit tropis terabaikan (Rp1,8 triliun), penyakit malaria (Rp0,2 triliun), penyakit hepatitis (Rp0,2 triliun), dan penyakit menular lainnya (Rp2,5 triliun).
Belanja penyakit menular terbesar berada pada skema Askes Sosial yaitu mencapai Rp13,0 triliun atau 64,0 persen dari total belanja penyakit menular pada skema pembiayaan publik. Belanja ini mengarah pada pemberian layanan kuratif atau pengobatan pasien dengan kontribusi tertinggi untuk belanja penyakit infeksi saluran pernapasan (40,1 persen), penyakit diare (21,4 persen), dan penyakit TB (12,6 persen). Selain itu, belanja tersebut juga mencakup beban klaim untuk penyakit menular lainnya (10,8 persen), penyakit tropis terabaikan (9,2 persen), HIV/AIDS dan PMS (4,7 persen), Hepatitis (0,9 persen), malaria (0,4 persen), serta imunisasi (0,02 persen).
Kontribusi belanja Kemenkes pada program penyakit menular tahun 2019 sekitar Rp4,6 triliun atau 22,7 persen dari total belanja penyakit menular pada skema pembiayaan publik. Pada program penyakit menular, belanja Kemenkes berperan untuk melaksanakan fungsi surveilans epidemiologi &
pengendalian penyakit (37,1 persen), meliputi kegiatan surveilans epidemiologi & sistem informasi program (HIV, kusta, dsb), penguatan surveilans malaria, penyelidikan epidemiologi, dll. Terdapat sekitar 25,8 persen belanja program penyakit menular pada skema Kemenkes untuk program
*catatan:
Data pada kementerian dan pemda diidentifikasi berdasarkan nama kegiatan/output/komponen dsb yang eksplisit untuk program tertentu
Data pada skema askes sosial bersifat sementara
Gambar 35. Belanja Program Penyakit Menular pada Skema Pembiayaan Publik, 2019*
imunisasi, mencakup belanja penyediaan vaksin, advokasi, sosialisasi, koordinasi, bimbingan teknis, dan monev pelaksanaan imunisasi. Belanja untuk fungsi deteksi dini pada program penyakit menular skema Kemenkes sekitar 16,8 persen, antara lain pengadaan bahan Tes Cepat Moluker (TCM) TB, reagen pemeriksaan HIV/AIDS, pengadaan pot dahak dan tuberkulin, dsb. Belanja lainnya pada program penyakit menular skema Kemenkes meliputi belanja modal (9,2 persen), fungsi kuratif (8,0 persen), KIE (3,0 persen), dan pemantauan status kesehatan (0,1 persen).
Pada skema subnasional (pemerintah provinsi dan kabupaten/kota) serta skema K/L lainnya, belanja program penyakit menular mencapai Rp2,7 triliun atau 13,3 persen dari dari total belanja penyakit menular pada skema pembiayaan publik. Belanja pada skema subnasional antara lain berkaitan dengan kegiatan pencegahan penularan penyakit endemik/epidemik, pelayanan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular seksual, peningkatan imunisasi, peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan wabah, penyemprotan/fogging sarang nyamuk, pelacakan kasus TB, dll. Sementara untuk belanja skema K/L lain mencakup kegiatan pencegahan HIV/AIDS di tempat kerja yang terdapat pada Kementerian Ketenagakerjaan, kegiatan promosi peran perempuan dalam pencegahan penyakit menular yang terdapat pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta belanja rehabilitasi dan perlindungan sosial bagi penderita HIV/AIDS pada Kementerian Sosial.
PENUTUP
Informasi belanja kesehatan di Indonesia dapat berguna sebagai input bagi para pemangku kebijakan dalam menyusun kebijakan untuk mendukung pembangunan kesehatan. National Health Accounts, yang disusun dengan menggunakan kerangka SHA 2011, dapat memberikan gambaran tren hasil estimasi TBK di Indonesia yang komprehensif tentang deskripsi proporsi, pola pembiayaan, dan hasil capaian di bidang pendanaan kesehatan di Indonesia. Setiap tahun, tim NHA melakukan perbaikan dalam metodologi dan penyederhanaan pengumpulan data untuk penyusunan NHA.
Gambaran pola belanja kesehatan di Indonesia tahun 2019 dari NHA, dilengkapi dengan gambaran tren dari tahun 2012 hingga 2019 yang memberikan gambaran komprehensif bagi para pemangku kebijakan tentang deskripsi porsi, pola, dan capaian pembiayaan kesehatan di Indonesia yang dirangkum dalam dimensi skema, sumber, provider, fungsi, dan penerima manfaat, khususnya yaitu menurut akun penyakit. Luaran analisis akun penyakit yang dihasilkan tidak hanya mencakup program JKN, tetapi termasuk belanja dari skema publik lainnya, yaitu skema Kemenkes, K/L lainnya dan pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota).
Sebagai tindak lanjut dari hasil NHA secara makro, tim NHA membantu tim KDK dalam melakukan eksplorasi lebih dalam atas besaran belanja kesehatan untuk perawatan pasien penderita Penyakit Tidak Menular (PTM) berbiaya tinggi di rumah sakit (seperti jantung, stroke, hipertensi, gagal ginjal, kanker, dll). Dengan membandingkan biaya perawatan terhadap sumberdaya yang sudah dikeluarkan untuk pencegahan dan deteksi dini, diperlukan investasi lebih besar untuk deteksi dini dan perubahan perilaku hidup sehat, serta perawatan terkendali di tingkat FKTP. Keberlangsungan skema JKN perlu diperkuat dengan menjaga keseimbangan pembiayaan diantara fungsi kesehatan upaya preventif/promotif dengan kuratif dan lainnya, serta antara provider rumah sakit dengan FKTP.
Untuk itu, gambaran belanja kesehatan dalam dokumen NHA ini diharapkan dapat tersedia T-1 secara rutin dan tepat waktu. Kerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan terus dibangun dan diperkuat untuk penyederhanaan pengumpulan data, sehingga proses produksi dapat lebih efisien dan dapat tercipta otomatisasi data untuk mendukung penyusunan NHA. Koordinasi untuk membangun interoperabilitas sistem informasi saat ini sedang diupayakan melalui transformasi digitalisasi data kesehatan yang sedang dikerjakan unit Digital Transformation Office (DTO) Pusdatin Kemenkes.
Akhirnya, analisis NHA ke depan perlu diperkuat melalui pengkombinasian dengan data lainnya seperti data costing, data ekonomi makro, dan data status kesehatan, lalu mengkaitkan hasil NHA untuk melihat kecukupan, perbaikan efisiensi dan efektivitas untuk masukan bagi para pemangku kepentingan, dilengkapi dengan pendekatan kualitatif untuk dapat menggali informasi yang lebih rinci dari isu-isu pembiayaan kesehatan, yang didukung oleh akademisi dan peneliti yang berminat di bidang pendanaan kesehatan. Analisis kesesuaian antara besaran total belanja kesehatan dengan beban penyakit dan capaian output program oleh pemerintah lintas kementerian dan antara pusat dan daerah juga merupakan topik yang sangat bermanfaat untuk penguatan kebijakan.
REFERENSI
1. BPJS Kesehatan. Laporan Pengelolaan Program Dan Laporan Keuangan Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2019. Jakarta Indonesia; 2020.
2. Jowett M, Cylus J, Brunal MP, Flores G. Spending targets for health: no magic number. Heal Financ Work Pap No 1. 2016;(1):1-34.
3. Soewondo P, Maulana N, Adani N, Limasalle P, Pattnaik A. Pengaruh JKN Dalam Menurunkan Pengeluaran Out-of-Pocket ( OOP ) Rumah Tangga. Jakarta Indonesia; 2020.
4. Badan Pusat Statistik (BPS). Profil Penduduk Indonesia Hasil SUPAS 2015. Jakarta Indonesia; 2015.
5. Badan Pusat Statistik (BPS). Peta Jalan SDGs Indonesia Menuju 2030. Jakarta Indonesia; 2019.
6. Peraturan Presiden Republik Indonesia No 18 tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2020-2024.
7. BKKBN, Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Kesehatan. Survei Demografi Dan Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta Indonesia; 2013.
8. Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME). Global Burden Disease: Indonesia.
http://www.healthdata.org/indonesia. Accessed May 22, 2021.
9. WHO. Toolkit on Monitoring Health System Strengthening: Health System Financing. Geneva; 2008.
10. WHO. Health Financing. https://www.who.int/health-topics/health-financing#tab=tab_1. Accessed May 22, 2021.
11. Peraturan Presiden. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 Tentang Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta Indonesia: Peratura Presiden; 2021.
12. Poullier JP, Hernandez P, Kawabata K. National Health Accounts : Concepts, Data Sources and
Methodology. WHO Bull. 2002:1-25.
https://www.who.int/health-accounts/documentation/en/NHA_concepts_datasources_methodology.pdf%0Ahttps://www.who.int/he alth-accounts/documentation/en/NHA_concepts_datasources_methodology.pdf?ua=1.
13. Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (PPJK) Kementerian Kesehatan RI. National Health Accounts
Indonesia Tahun 2018. Jakarta Indonesia; 2020.
http://ppjk.kemkes.go.id/sys_syweb_page?q=blog&ctg=unduhan-lainnya&id=97.
14. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2020 Tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024. Vol 3.; 2020:54-67.
15. Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019. Jakarta Indonesia: Kementerian Kesehatan RI; 2020.
16. WHO. Global Health Expenditure Database. https://apps.who.int/nha/database/ViewData/Indicators/en.
Accessed July 15, 2021.
17. OECD E and WHO. A System of Health Accounts 2011. Paris: OECD Publishing; 2017.
doi:10.1787/9789264270985-en
18. OECD. Capital expenditure in the health sector. In: Health at a Glance 2017: OECD Indicator. Paris, France:
OECD Publishing; 2017:144-145.
19. World Bank. GDP deflator (base year varies by country) - Indonesia.
https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.DEFL.ZS?locations=ID. Accessed April 29, 2021.
20. WHO. Tuberculosis. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tuberculosis. Accessed May 22, 2021.
21. WHO. The World Health Report: Health Systems Financing— The Path to Universal Coverage. Geneva;
2010.
22. McIntyre D, Meheus F. Fiscal space for domestic funding of health and other social services. Working Papers.
23. Stenberg K, Hanssen O, Edejer TT-TT, et al. Financing transformative health systems towards achievement of the health Sustainable Development Goals: a model for projected resource needs in 67 low-income and middle-income countries. Lancet Glob Heal. 2017;5(9):e875-e887. doi:10.1016/S2214-109X(17)30263-2 24. World Bank. Official exchange rate (LCU per US$, period average) - Indonesia.
https://data.worldbank.org/indicator/PA.NUS.FCRF?locations=ID. Accessed April 29, 2021.
25. Bappenas; BPS; UNFPA. Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Jakarta Indonesia: Badan Pusat Statistik;
2013.
26. Kementerian Keuangan RI. Informasi APBN 2019. Jakarta Indonesia; 2019.
27. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82 Tahun 2015 Tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan, Serta Saran Dan Prasarana Penunjang Subbidang Sarpras Kesehatan Tahun Anggaran 2016. Indonesia; 2015.
28. Badan Pusat Statistik (BPS). Survei Sosial Ekonomi Nasional 2018.; 2019.
29. Survei Sosial Ekonomi Nasional 2019.; 2020.
30. CHEPS UI. Public Expenditure Tracking for National Health Priority Programs. Depok, Indonesia; 2018.
31. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2019 Tentang Petunjuk Operasional Penggunaan Dana Alokasi Khusus Fisik Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2019. Indonesia;
2019.
32. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2019 Tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Nonfisik Bidang Kesehatan. Indonesia; 2019.
33. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2017 Tentang Petunjuk Teknis Penggunaaan Dana Alokasi Khusus Nonfisik Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2018. Jakarta Indonesia: Kementerian Kesehatan RI; 2017.
34. Kementerian Keuangan RI. Penggunaan, Pemantauan, Dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.
Jakarta Indonesia; 2017.
35. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah. Indonesia
36. WHO. Saving Lives, Spending Less: A Strategic Response to Noncommunicable Disease. Geneva; 2018.
37. Bappenas. Tujuan 3 - Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals.
http://sdgs.bappenas.go.id/tujuan-3/. Accessed May 21, 2021.
38. Lamontagne E, Over M, Stover J. The economic returns of ending the AIDS epidemic as a public health threat. Health Policy (New York). 2019;123(1):104-108. doi:10.1016/j.healthpol.2018.11.007
39. Stack ML, Ozawa S, Bishai DM, et al. Estimated economic benefits during the “decade of vaccines” include treatment savings, gains in labor productivity. Health Aff. 2011;30(6):1021-1028.
doi:10.1377/hlthaff.2011.0382
40. Squires E, Duber H, Campbell M, et al. Health care spending on diabetes in the U.S., 1996–2013. Diabetes Care. 2018;41(7):1423-1431. doi:10.2337/dc17-1376
41. Kementerian Kesehatan RI. Diskusi Pembiayaan Kesehatan. Jakarta Indonesia; 2019.
42. Kementerian Dalam Negeri. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 90 Tahun 2019 Tentang Klasifikasi, Kodefikasi, Dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan Dan Keuangan Daerah.
Indonesia; 2019.
43. Bappenas. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019: Buku I Agenda Pembangunan Nasional. Jakarta Indonesia: Bappenas; 2014.
44. Bappenas. Matriks Pembangunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024:
Lampiran III. Jakarta Indonesia; 2020.
45. WHO, USAID. WHO Recommendations on Antenatal Care for a Positive Pregnancy Experience.
https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/259947/WHO-RHR-18.02-eng.pdf?sequence=1.
Published 2018. Accessed May 25, 2021.
46. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 97 Tahun 2014 Tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, Dan Masa Sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrsapesi, Serta Pelayanan Kesehatan Seksual. Indonesia; 2014.
https://kesga.kemkes.go.id/assets/file/pedoman/PMK No. 97 ttg Pelayanan Kesehatan Kehamilan.pdf.
47. Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2018. Jakarta Indonesia: Kementerian Kesehatan RI;
2019.
48. Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2013. Jakarta Indonesia; 2014.
49. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta Indonesia; 2014.
50. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar. Jakarta Indonesia; 2019.
51. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Studi Status Gizi Balita Terintegrasi Susenas 2019. Jakarta Indonesia; 2020. https://persi.or.id/wp-content/uploads/2020/11/event8-02.pdf.
52. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat. Arah Kebijakan dan Rencana Aksi Program Kesehatan Masyarakat Tahun 2020-2024. https://persi.or.id/wp-content/uploads/2020/11/pleno2-01.pdf. Published 2020. Accessed May 21, 2021.
53. Kementerian Kesehatan RI. HKN ke-54, Masyarakat Diminta Waspadai Segala Jenis Penyakit.
https://www.kemkes.go.id/article/view/18111200003/hkn-ke-54-masyarakat-diminta-waspadai-segala-jenis-penyakit.html. Accessed June 18, 2020.
54. BPJS Kesehatan. Buku Panduan Praktis Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis).
55. BPJS Kesehatan. Peraturan BPJS Kesehatan Nomor 2 Tahun 2019. Indonesia; 2019. https://www.bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/arsip/detail/1357.
56. BPJS Kesehatan. Peraturan BPJS Kesehatan Nomor 7 Tahun 2019. Indonesia; 2019. https://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/dmdocuments/13f2bb974ccabdd8b2bb65da2cc027e9.pdf.
57. Bappenas. Transisi Demografi Dan Epidemiologi: Permintaan Pelayanan Kesehatan Di Indonesia. Jakarta Indonesia; 2019.
58. Bappenas. The Consolidated Report on Indonesia Health Sector Review 2018: National Health System Strengthening. Jakarta Indonesia; 2018.
59. Kementerian Kesehatan RI. Eraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar Pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.
Indonesia; 2019.
60. Bappenas. Kajian Sektor Kesehatan: Pembiayaan Kesehatan Dan JKN. Jakarta Indonesia; 2019.
LAMPIRAN Lampiran 1. Total Belanja Kesehatan per Kapita Indonesia dalam US$ dan PPP, 2012-2019
Konversi 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
US$ 113.1 110.4 108.5 104.8 116.0 121.0 120.4 129.3
PPP 297.5 306.8 319.4 322.2 341.6 344.7 360.1 385.6
Lampiran 2.Tren Belanja Kesehatan Sektor Publik dan Non-Publik terhadap Total Belanja Kesehatan Indonesia, 2012-2019
Sektor/Tahun Nominal (Rp Triliun) Proporsi (%)
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Publik 76.7 93.2 121.4 154.6 195.0 213.2 235.4 255.5 29.4 32.4 37.4 43.1 48.8 50.3 51.8 52.1 Non-Publik 184.0 194.3 203.2 203.8 204.3 210.7 218.7 234.7 70.6 67.6 62.6 56.9 51.2 49.7 48.2 47.9 Total Belanja Kesehatan
(TBK)
260.7 287.5 324.6 358.3 399.3 423.9 454.1 490.3 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0
Lampiran 3.Tren Belanja Kesehatan menurut Sumber Pendanaan, 2012-2019
Sektor Skema Nominal (Rp Triliun) Proporsi (%)
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Publik
Skema Kemenkes 12.3 14.4 15.1 20.1 23.0 19.7 21.3 21.1 4.7% 5.0% 4.7% 5.6% 5.8% 4.7% 4.7% 4.3%
Skema K/L Lainnya 4.0 4.9 4.4 7.8 9.0 8.1 9.6 9.5 1.6% 1.7% 1.3% 2.2% 2.3% 1.9% 2.1% 1.9%
Skema Pemprov 9.2 11.0 11.2 13.0 16.9 18.3 19.9 22.6 3.5% 3.8% 3.5% 3.6% 4.2% 4.3% 4.4% 4.6%
Skema Pemkab/Pemkot 33.7 38.8 43.0 50.5 68.9 73.1 81.0 89.0 12.9% 13.5% 13.2% 14.1% 17.2% 17.2% 17.8% 18.2%
Skema Askes Sosial 17.4 24.1 47.6 63.2 77.2 93.9 103.6 113.3 6.7% 8.4% 14.7% 17.6% 19.3% 22.2% 22.8% 23.1%
Non-publik Skema Askes Swasta 6.5 9.7 10.2 10.0 12.2 13.7 14.1 17.2 2.5% 3.4% 3.2% 2.8% 3.0% 3.2% 3.1% 3.5%
Skema LNPRT 2.0 2.1 2.3 3.4 4.2 4.8 4.8 5.8 0.8% 0.7% 0.7% 0.9% 1.1% 1.1% 1.1% 1.2%
Skema Korporasi 40.8 43.1 49.0 46.4 45.1 49.3 49.9 54.3 15.7% 15.0% 15.1% 12.9% 11.3% 11.6% 11.0% 11.1%
Skema Pembiayaan RT 134.6 139.4 141.8 144.0 142.9 142.8 149.9 157.5 51.6% 48.5% 43.7% 40.2% 35.8% 33.7% 33.0% 32.1%
Total Belanja Kesehatan (TBK) 260.7 287.5 324.6 358.3 399.3 423.9 454.1 490.3 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
Tabel Standar SHA Berisi Total Health Expenditure (THE) Di Indonesia menurut Revenue of Health Care Financing Schemes (FS), Health Care Financing Schemes (HF), Financing Agents (FA), Health Care Provider
(HP), and Health Care Functions tahun 2019
Lampran A. 1. Total Health Expenditure by Health Care Functions (HC) and Health Care Financing Schemes (HF) (Rp billion), 2019
Lampran A. 2. Total Health Expenditure by Health Care Functions (HC) and Health Care Financing Schemes (HF) (% by Health Care Financing Schemes), 2019
Lampran A. 3. Total Health Expenditure by Health Care Functions (HC) and Health Care Financing Schemes (HF) (% by Health Care Functions), 2019
HF
Rawat Jalan 11.9% 24.8% 23.4% 23.8% 37.6% 31.4% 16.6% 40.7% 29.5% 30.3%
Barang Medis - - - - - 1.1% - 6.4% 15.9% 5.8%
Layanan Preventif 36.0% 27.7% 27.3% 31.3% 4.5% 4.1% 77.1% 5.3% 16.8% 17.1%
Tata Kelola Administrasi Kesehatan 11.9% 16.4% 8.1% 9.4% 4.2% 13.1% - - - 4.3%
Kapital 28.3% 15.3% 21.8% 19.6% 0.2% - 6.3% - - 6.2%
All HC 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
Skema
Rawat Jalan 1.7% 1.6% 3.6% 14.2% 28.6% 3.6% 0.6% 14.9% 31.2% 100.0%
Barang Medis - - - - - 0.7% - 12.1% 87.2% 100.0%
Layanan Preventif 9.1% 3.2% 7.4% 33.3% 6.0% 0.8% 5.3% 3.4% 31.5% 100.0%
Tata Kelola Administrasi Kesehatan 11.8% 7.4% 8.6% 39.4% 22.2% 10.6% - - - 100.0%
Kapital 19.7% 4.8% 16.2% 57.4% 0.6% - 1.2% - - 100.0%
Lampiran B. 1. Total Health Expenditure by Health Care Functions (HC) and Health Care Providers (HP) (Rp billion), 2019
Lampiran B. 2. Total Health Expenditure by Health Care Functions (HC) and Health Care Providers (HP) (% by Health Care Providers), 2019 HP
Tata Kelola Administrasi Kesehatan - - - 30.6% - 4.3%
Kapital 4.6% 2.9% - 16.5% 100.0% 6.2%
Lampiran B. 3. Total Health Expenditure by Health Care Functions (HC) and Health Care Providers (HP) (% by Health Care Functions), 2019 HP
% HC
Rawat Inap 96.9% 3.1% - 0.01% - 100.0%
Rawat Jalan 59.2% 40.8% - 0.001% - 100.0%
Barang Medis - - 100.0% - - 100.0%
Layanan Preventif 4.4% 51.9% - 43.8% - 100.0%
Tata Kelola Administrasi Kesehatan - - - 100.0% - 100.0%
Kapital 41.4% 10.8% - 37.8% 10.0% 100.0%
All HC 56.3% 23.0% 5.8% 14.1% 0.6% 100.0%
FKTP Provider
Pendidikan Kes Toko Obat &
Alkes
Provider Preventif dan
Administrasi
Rumah Sakit All HP
Lampiran C. 1. Total Health Expenditure by Health Care Providers (HP) and Health Care Financing Schemes (HF), (Rp billion), 2019
Lampiran C. 2. Total Health Expenditure by Health Care Providers (HP) and Health Care Financing Schemes (HF) (% by Health Financing Schemes), 2019
Lampiran C. 3. Total Health Expenditure by Health Care Providers (HP) and Health Care Financing Schemes (HF) (% by Health Care Providers), 2019
HF
Rumah Sakit 27.3% 22.4% 42.6% 34.5% 81.1% 82.4% - 76.3% 51.2% 56.3%
FKTP 14.2% 27.9% 25.2% 28.2% 14.6% 3.4% 16.6% 12.0% 33.0% 23.0%
Toko Obat & Alkes - - - - - 1.1% - 6.4% 15.9% 5.8%
Provider Preventif dan Administrasi 44.2% 49.3% 32.2% 37.3% 4.3% 13.1% 83.4% 5.3% - 14.1%
Provider Pendidikan Kes 14.3% 0.3% - - - - - - - 0.6%
All HP 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
Skema
Provider Preventif dan Administrasi 13.5% 6.8% 10.5% 47.8% 7.0% 3.2% 7.0% 4.2% - 100.0%
Provider Pendidikan Kes 98.9% 1.1% - - - - - - - 100.0%
Lampiran D. 1. Total Health Expenditure by Health Care Financing Schemes (HF) and Revenues of Health Care Financing Schemes - Reporting Item (FS.RI), (Rp billion), 2019
FS.RI Rp Miliar
HF
Skema Kemenkes 19,021.7 - - - - - 2,114.8 21,136.5 Skema K/L Lainnya 9,522.5 - - - - - 14.5 9,537.0 Skema Pemprov 14,075.0 8,542.8 - - - - - 22,617.8 Skema Pemkab/Pemkot 75,360.7 3,887.4 9,742.3 - - - - 88,990.4 Skema Askes Sosial 47,140.1 2,646.6 10,413.0 24,260.1 - 28,792.2 - 113,252.1 Skema Askes Swasta - - - 13,043.9 - 4,128.9 - 17,172.8 Skema LNPRT - - 1,746.7 686.5 307.2 2,573.6 470.3 5,784.3 Skema Korporasi - - - 54,314.4 - - - 54,314.4 Skema Pembiayaan RT - - - - - 157,466.3 - 157,466.3 All HF 165,120.0 15,076.7 21,902.1 92,304.9 307.2 192,961.1 2,599.6 490,271.6
Donor All FS.RI
APBN APBD Prov APBD
Kab/Kota Perusahaan LNPRT Rumah
Tangga
Lampiran D. 2. Total Health Expenditure by Health Care Financing Schemes (HF) and - Reporting Item (FS.RI) (% by Revenues of Health Care Financing Schemes - Reporting Item), 2019
FS.RI
% HF
Skema Kemenkes 11.5% - - - 81.4% 4.3%
Skema K/L Lainnya 5.8% - - - 0.6% 1.9%
Skema Pemprov 8.5% 56.7% - - - 4.6%
Skema Pemkab/Pemkot 45.6% 25.8% 44.5% - - - - 18.2%
Skema Askes Sosial 28.5% 17.6% 47.5% 26.3% - 14.9% - 23.1%
Skema Askes Swasta - - - 14.1% - 2.1% - 3.5%
Skema LNPRT - - 8.0% 0.7% 100.0% 1.3% 18.1% 1.2%
Skema Korporasi - - - 58.8% - - - 11.1%
Skema Pembiayaan RT - - - 81.6% - 32.1%
All HF 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
APBN APBD Prov APBD
Kab/Kota Perusahaan LNPRT Rumah
Tangga Donor All FS.RI
Lampiran D. 3. Total Health Expenditure by Health Care Financing Schemes (HF) and Revenues of Health Care Financing Schemes - Reporting Item (FS.RI) (%
by Health Care Financing Schemes), 2019 FS.RI
% HF
Skema Kemenkes 90.0% - - - 10.0% 100.0%
Skema K/L Lainnya 99.8% - - - 0.2% 100.0%
Skema Pemprov 62.2% 37.8% - - - 100.0%
Skema Pemkab/Pemkot 84.7% 4.4% 10.9% - - - - 100.0%
Skema Askes Sosial 41.6% 2.3% 9.2% 21.4% - 25.4% - 100.0%
Skema Askes Swasta - - - 76.0% - 24.0% - 100.0%
Skema LNPRT - - 30.2% 11.9% 5.3% 44.5% 8.1% 100.0%
Skema Korporasi - - - 100.0% - - - 100.0%
Skema Pembiayaan RT - - - 100.0% - 100.0%
All HF 33.7% 3.1% 4.5% 18.8% 0.1% 39.4% 0.5% 100.0%
Rumah
Tangga Donor All FS.RI
APBN APBD Prov APBD
Kab/Kota Perusahaan LNPRT
Lampiran E. 1. Total Health Expenditure by Financing Agents (FA) and Revenues of Health Care Financing Schemes - Reporting Item (FS.RI), (Rp billion), 2019
Lampiran E. 2. Total Health Expenditure by Financing Agents (FA) and Revenues of Health Care Financing Schemes - Reporting Item (FS.RI) (% by Revenues of Health Care Financing Schemes - Reporting Item), 2019
FS.RI Rp Miliar
FA
Kemenkes 18,077.8 - - - - - 2,114.8 20,192.6 K/L Lainnya 9,374.3 - - - - - 14.5 9,388.8 Pemprov 15,148.8 8,542.8 - - - - - 23,691.6 Pemkab/Pemkot 75,378.9 3,887.4 9,742.3 - - - - 89,008.6 BPJS Kesehatan & TK 47,140.1 2,646.6 10,413.0 24,260.1 - 28,792.2 - 113,252.1 Perusahaan Askes Swasta - - - 13,043.9 - 4,128.9 - 17,172.8 Korporasi (selain perusahaan askes swasta) - - - 54,314.4 - - - 54,314.4 LNPRT - - 1,746.7 686.5 307.2 2,573.6 470.3 5,784.3 Rumah Tangga - - - - - 157,466.3 - 157,466.3 All FA 165,120.0 15,076.7 21,902.1 92,304.9 307.2 192,961.1 2,599.6 490,271.6
Donor All FS.RI
APBN APBD Prov APBD
Kab/Kota Perusahaan LNPRT Rumah
Tangga
FS.RI
% FA
Kemenkes 10.9% - - - 81.4% 4.1%
K/L Lainnya 5.7% - - - 0.6% 1.9%
Pemprov 9.2% 56.7% - - - 4.8%
Pemkab/Pemkot 45.7% 25.8% 44.5% - - - - 18.2%
BPJS Kesehatan & TK 28.5% 17.6% 47.5% 26.3% - 14.9% - 23.1%
Perusahaan Askes Swasta - - - 14.1% - 2.1% - 3.5%
Korporasi (selain perusahaan askes swasta) - - - 58.8% - - - 11.1%
LNPRT - - 8.0% 0.7% 100.0% 1.3% 18.1% 1.2%
Rumah Tangga - - - 81.6% - 32.1%
All FA 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
APBN APBD Prov APBD
Kab/Kota Perusahaan LNPRT Rumah
Tangga Donor All FS.RI
Lampiran E. 3. Total Health Expenditure by Financing Agents (FA) and Revenues of Health Care Financing Schemes - Reporting Item (FS.RI) (% by Financing Agents), 2019
FS.RI
% FA
Kemenkes 89.5% - - - 10.5% 100.0%
K/L Lainnya 99.8% - - - 0.2% 100.0%
Pemprov 63.9% 36.1% - - - 100.0%
Pemkab/Pemkot 84.7% 4.4% 10.9% - - - - 100.0%
BPJS Kesehatan & TK 41.6% 2.3% 9.2% 21.4% - 25.4% - 100.0%
Perusahaan Askes Swasta - - - 76.0% - 24.0% - 100.0%
Korporasi (selain perusahaan askes swasta) - - - 100.0% - - - 100.0%
LNPRT - - 30.2% 11.9% 5.3% 44.5% 8.1% 100.0%
Rumah Tangga - - - 100.0% - 100.0%
All FA 33.7% 3.1% 4.5% 18.8% 0.1% 39.4% 0.5% 100.0%
Donor All FS.RI
APBN APBD Prov APBD
Kab/Kota Perusahaan LNPRT Rumah
Tangga
Lampiran F. 1. Total Health Expenditure by Health Care Providers (HP) and Revenues of Health Care Financing Schemes - Reporting Item (FS.RI), (Rp billion), 2019
Lampiran F. 2. Total Health Expenditure by Health Care Providers (HP) and Revenues of Health Care Financing Schemes - Reporting Item (FS.RI) (% by Revenues of Health Care Financing Schemes - Reporting Item), 2019
FS.RI Rp Miliar
HP
Rumah Sakit 80,031.0 5,871.7 11,306.6 71,684.2 - 107,353.2 - 276,246.7 FKTP 36,967.6 4,155.4 4,482.0 10,488.7 50.9 56,733.7 80.9 112,959.2 Toko Obat & Alkes - - - 3,623.5 - 25,041.1 - 28,664.6 Provider Preventif dan Administrasi 45,077.0 5,049.6 6,113.5 6,508.6 256.3 3,833.1 2,516.9 69,355.0 Provider Pendidikan Kes 3,044.4 - - - 1.8 3,046.2 All HP 165,120.0 15,076.7 21,902.1 92,304.9 307.2 192,961.1 2,599.6 490,271.6
Donor All FS.RI
APBN APBD Prov APBD
Kab/Kota Perusahaan LNPRT Rumah
Tangga
FS.RI
% HP
Rumah Sakit 48.5% 38.9% 51.6% 77.7% - 55.6% - 56.3%
FKTP 22.4% 27.6% 20.5% 11.4% 16.6% 29.4% 3.1% 23.0%
Toko Obat & Alkes - - - 3.9% - 13.0% - 5.8%
Provider Preventif dan Administrasi 27.3% 33.5% 27.9% 7.1% 83.4% 2.0% 96.8% 14.1%
Provider Pendidikan Kes 1.8% - - - 0.1% 0.6%
All HP 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
APBN APBD Prov APBD
Kab/Kota Perusahaan LNPRT Rumah
Tangga Donor All FS.RI
Lampiran F. 3. Total Health Expenditure by Health Care Providers (HP) and Revenues of Health Care Financing Schemes - Reporting Item (FS.RI) (% by Health Care Providers), 2019
FS.RI
% HP
Rumah Sakit 29.0% 2.1% 4.1% 25.9% - 38.9% - 100.0%
FKTP 32.7% 3.7% 4.0% 9.3% 0.05% 50.2% 0.1% 100.0%
Toko Obat & Alkes - - - 12.6% - 87.4% - 100.0%
Provider Preventif dan Administrasi 65.0% 7.3% 8.8% 9.4% 0.4% 5.5% 3.6% 100.0%
Provider Pendidikan Kes 99.9% - - - 0.1% 100.0%
Provider Pendidikan Kes 99.9% - - - 0.1% 100.0%