BAB VI. PEMBAHASAN
C. Gambaran dan Hubungan antara Frekuensi Mengonsumsi Jajanan,
3. Gambaran dan Hubungan antara Konsumsi Suplemen Penambah
Hasil analisis univariat diketahui bahwa responden yang tidak mengkonsumsi suplemen penambah selera makan lebih banyak (61,8 %) dibandingkan dengan yang mengkonsumsi suplemen penambah selera makan (38,2 %). Sedangkan jenis suplemen penambah selera makan yang banyak dikonsumsi diantaranya adalah sirup/ cair sebanyak 22,5%. Kemudian berdasarkan frekuensi konsumsi suplemen penambah selera
makan diantaranya yang mengkonsumsi setiap hari sebanyak 5,9%, sebanyak 21,6% yang mengkonsumsi >3 kali/seminggu, dan sebanyak 10,8% yang mengkonsumsi <3 kali/ seminggu, sedangkan yang tidak mengkonsumsi suplemen sebanyak 61,8%.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Firna (2009) di Sekolah Dasar Islam Al Azhar 17 Bintaro dan hasil penelitian Pintautami (2011) di Sekolah Dasar Negeri Tileng I yang terletak di Kecamatan Girisubo Kabupaten Gunung Kidul yang menyatakan bahwa siswa/siswi yang diberi suplementasi selama 14 hari akan meningkat selera makannya dari sebelum diberi suplemen. Sehingga ada hubungan antara konsumsi suplemen penambah selera makan dengan selera makan di rumah.
Sejalan dengan penelitian ini, berdasarkan hasil analisis hubungan antara konsumsi suplemen penambah selera makan dengan selera makan di rumah pada siswa/siswi kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Pembangunan UIN Jakarta tahun 2015 diperoleh bahwa diantara 39 responden yang mengkonsumsi suplemen penambah selera makan, terdapat 24 responden (61,5%) yang selera makanya rendah. Diantara 63 responden yang tidak mengkonsumsi suplemen penambah selera makan, terdapat 23 responden (36,5%) yang selera makanya rendah.
Berdasarkan uji chi-square diperoleh P-Value sebesar 0,016 (≤α
0,05), sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara selera makan di rumah dengan konsumsi suplemen penambah selera makan. Dengan demikian hasil penelitian ini sesuai
dengan hipotesis penelitian yang menyebutkan bahwa adanya hubungan antara mengkonsumsi suplemen penambah selera makan dengan selera makan di rumah pada siswa/siswi.
Suplemen penambah selera makan berfungsi untuk meningkatkan metabolisme, menekan atau menghambat asam lambung dan merangsang sekresi makanan sehingga meningkatkan selera makan. Pada umumnya suplemen penambah selera makan memilki kandungan utama diantaranya adalah zink dancurcumin(Handayani, 2002).
Zink umumnya ada di dalam otak, dimana mengikat protein. Zink membantu mengaktivasi area otak yang menerima dan memproses informasi yang berasal dari reseptor bau dan perasa, hal ini penting untuk menstimulasi selera makan. Selain karena aktivasi area otak dari reseptor bau dan perasa, kadar zink dalam plasma juga diketahui mempengaruhi selera makan dan sensasi rasa makanan. Hal ini dibuktikan dengan penelitian Xuan, N.X.et al., (1996) di Vietnam yang menyatakan bahwa efek pemberian suplementasi zink kemungkinan meningkatkan selera makan. Kemudian diperkuat oleh hasil penelitian Pintautami (2011) bahwa dengan memberikan sumplemen zink selama 14 hari dapat meningkat selera makan di rumah pada siswa/siswi kelas IV-VI sekolah dasar.
Curcumin adalah salah satu bahan aktif yang terkandung dari tanaman temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) dan temu ireng (Curcuma aerogenoceae Roxb). Ada beberapa penelitian yang
membuktikan bahwa curcumin dapat menambah selera makan. Rimpang temulawak dan temu ireng terdapat minyak atsiri yang diduga meningkatkan selera makan (Awalin,1996). Minyak atsiri memiliki sifat koleretik yang mempercepat sekresi empedu sehingga mempercepat pengosongan lambung serta pencernaan dan absorpsi lemak di usus yang kemudian akan mensekresi berbagai hormon yang meregulasi peningkatan selera makan (Ozaki dan Liang, 1988).
Rimpang dengan rasanya yang pahit, tajam, dan sifatnya dingin ini berkhasiat sebagai penambah selera makan, karena banyak mengandung curcumin yang bekerja dengan cara merangsang enzimatis menyebabkan relaksasi usus pada saluran pencernaan serta absorbsi bahan makanan dengan cara meningkatkan kerja lambung sehingga perut terasa kosong dan selanjutnya akan mengirim sinyal ke otak dan pada akhirnya akan menimbulkan keinginan untuk makan atau selera makan. Kemudian zat pahit (carpaine atau alkaloida pahit) yang dapat merangsang lambung anak agar berfungsi dengan baik sehingga timbul selera makannya (Handayani, 2002).
Penelitian Ni’amah (2010) yang melakukan ekperimen ekstrak
temu ireng (Curcuma Aerogenoceae.Roxb) sedangkan penelitian Awalin (1996) menggunakan ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) yang keduanya menggunakan tikus putih sebagai hewan uji. Hasil penelitianya bahwa adanya peningkatan selera makan dan bertambahnya
berat badan pada tikus setelah diberi ekstrak temu ireng maupun temulawak.
Pada penelitian ini, diketahui bahwa siswa/siswi yang mengonsumsi suplemen penambah selera makan dengan frekuensi setiap hari dan yang mengkonsumsi >3 kali/seminggu tidak baik untuk kesehatan, ada beberapa dampak jika mengkonsumsi suplemen penambah selera makan dalam jumblah banyak atau sering. Dampak yang dapat terjadi diantaranya adalah mulai dari muntah, keracunan, masalah pembekuan darah, membebani kerja ginjal sehingga fungsinya terganggu atau dapat menyebabkan penumpukan dan mengakibatkan batu ginjal. Kemudian dapat membebani hati yang bisa memicu gangguan fungsi hati (Wati, 2008).
Sebaiknya orang tua tidak selalu memberikan suplemen penambah selera makan untuk mengatasi masalah makan pada siswa/siswi. Namun dapat diatasi dengan memanfaatkan buah-buahan yang segar dan aman, selain itu mudah didapat seperti papaya. Kandungan vitamin dan mineral dalam buah pepaya akan memulihkan selera makan anak dan memperkuat daya tahan tubuh pada anak (Wijayakusuma, 2005). Hal ini di buktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh The Center for Science in the Public Interest(CSPI) di Washington AS tahun 1992 yang dikutip dari Suryani (2010) meneliti manfaat kesehatan dari 40 jenis buah. Dari penilaian tersebut, pepaya telah ditetapkan sebagai buah yang
paling menyehatkan dan salah satunya adalah untuk meningkatkan selera makan.
Menurut Villegas, ahli pepaya dari Institute of Plant Breeding, University of the Philippines at Los Banos pada tahun 1992 yang dikutip dalam Suryani (2010), mengatakan bahwa buah pepaya mengandung enzim papain. Enzim ini sangat aktif dan memiliki kemampuan mempercepat proses pencernaan protein. Papain dapat membantu mewujudkan proses pencenaan makanan yang lebih baik. Dengan cara ini sistem kekebalan tubuh dapat ditingkatkan. Lalu, Penelitian Fox et al pada tahun 1982 dalam Sasangko (1992) mengatakan bahwa enzim papain yang merupakan enzim proteolitik juga dapat meningkatkan efisiensi proses pencernaan sehingga dapat meningkatkan selera makan.
Penelitian Rika (2012) yang dilakukan pada balita di Posyandu Korong Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji, bahwa dengan mengkonsumsi 1 potong buah pepaya (100gr) perhari selama 1 bulan dapat meningkatkan selera makan dan ada perbedaan berat badan sebelum mengkonsumsi papaya yaitu rata-rata berat badan adalah 12,285 kg dan sesudah diberikan 1 potong buah pepaya perhari selama 1 bulan rata-rata berat badan adalah 12,990 kg.
Dari beberapa penelitian yang menjelaskan tentang dampak pemakaian suplemen penambah selera makan jika terlalu sering, maka orang tua dapat memanfaatkan buah papaya untuk menambah selera makan di rumah pada siswa/siswi. Karana buah papaya jauh lebih aman untuk kesehatan dan tidak mengandung bahan kimia.
BAB VII