BAB II : GAMBARAN UMUM KANTOR WILAYAH DJP
D. Gambaran Data Pegawai Kantor Wilayah DJP Sumatera Utara I 26
Adapun jumlah pegawai pada Kantor Wilayah DJP Sumatera Utara I adalah berjumlah sebanyak 111 orang sampai dengan penulis selesai melakukan penelitian ini.
Menurut Stuktur Organisasi, pegawai pada Kantor Wilayah DJP Sumatera Utara I digolongkan sebagai berikut :
Tabel I
Data Kepegawaian Menurut Stuktur Organisasi Pada Kantor Wilayah DJP Sumatera Utara I
No. Keterangan Jumlah
1. Kepala Kantor 1
2. Bagian Umum 22
3. Bidang pengurangan, Keberatan dan Banding 26 4. Bidang Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat 10 5. Bidang Dukungan Teknis dan Konsultasi 17 6. Bidang Pemeriksaan, Penyidikan dan Penagihan Pajak 13 7. Bidang Kerjasama, Ekstensifikasi dan Penilai 11 8. Kelompok Jabatan Fungsional 11
Jumlah 111 Sumber : Bagian Umum Kantor Wilayah DJP Sumatera Utara I.
3. Penggolongan Pegawai menurut Tingkat Kepangkatan
Menurut Tingkat Kepangkatan Pegawai pada Kantor Wilayah DJP Sumatera Utara I digolongkan sebagai berikut :
Tabel II
Data Kepegawaian Menurut Tingkat Kepangkatan Pada Kantor Wilayah DJP Sumatera Utara I
No. Tingkat Kepangkatan Jumlah
1. IV-c 1 2. IV-b 2 3. IV-a 7 4. III-d 14 5. III-c 16 6. III-b 10 7. III-a 10 8. II-d 12 9. II-c 19 10. II-b 9 11. II-a 11 Jumlah 111
BAB III
GAMBARAN DATA MENGENAI SUNSET POLICY 2008
A. Pengertian dan Latar Belakang Sunset Policy
Dalam sosialisasi sunset policy 2008 yang dilakukan oleh Bidang Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2 HUMAS) pada Kantor Wilayah DJP Sumatera Utara I, dikatakan bahwa ada beberapa makna dari kata sunset yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak yaitu :
a. “Menjelang berakhirnya hari yang tidak akan mungkin kembali”, yang diartikan sebagai suatu kesempatan diberikan hanya sekali oleh Undang-Undang Perpajakan. b. “Suatu yang tepat untuk merenung apa yang telah terjadi hari ini”, yang maksudnya
adalah meneliti kembali pelaksanaan kewajiban perpajakan tahun-tahun sebelumnya. c. “Menjelang pergantian waktu esok hari”, yang maksudnya adalah mewujudkan tahun
2009 sebagai awal yang baik dalam administrasi perpajakan anda.
Dari ketiga makna di atas, dapat dilihat bahwa kata sunset digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak dengan harapan bahwa fasilitas yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Pajak ini dapat digunakan sebaik-baiknya untuk mewujudkan administrasi perpajakan yang lebih baik
Sunset policy adalah kebijakan pemberian fasilitas penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga, yang diatur dalam pasal 37A Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
Fasilitas sunset policy ini dibuat oleh Direktorat Jenderal Pajak hanya berlaku satu tahun saja, dan merupakan bagian dari reformasi perpajakan khususnya dalam bidang peraturan yang secara langsung menyentuh salah satu pilar perpajakan yaitu modernisasi Undang-Undang Perpajakan, yang mana telah dilakukan tiga kali amandemen atas Undang- Undang Perpajakan yang dimulai sejak tahun 1983 kemudian pada tahun 1994, 2000, dan tahun 2007. Untuk itu diharapkan agar masyarakat wajib pajak dapat memanfaatkan fasilitas sunset policy ini dengan sebaik-baiknya.
Adapun yang menjadi latar belakang fasilitas sunset policy yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Pajak adalah, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan setiap wajib pajak (WP) yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Wajib pajak yang telah memperoleh NPWP, sesuai dengan sistem perpajakan di Indonesia yaitu self assesment diberikan kepercayaan untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang terutang. Dalam melaporkan pajak yang terutang wajib pajak menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT) yang harus disampaikan dengan benar, lengkap dan jelas atas penghitungan dan / atau pembayaran pajak, objek pajak dan bukan objek pajak, serta harta dan kewajiban. Dalam hal ini Ditjen Pajak berwewenang untuk menghimpun data perpajakan, mewajibkan instansi pemeritah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain untuk memberikan data yang berkaitan dengan perpajakan kepada Direktorat Jenderal Pajak. Sesuai dengan yang ditetapkan dalam Pasal 35A Undang-Undang KUP Nomor 28 Tahun 2007. Dengan dilakukannya modernisasi perpajakan, sekarang ini sistem informasi yang digunakan adalah Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP), dimana setiap perekaman data dan informasi melalui SIDJP di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) akan pula terekam dan diterima di Kantor Pusat seketika. Hal ini memungkinkan Ditjen Pajak untuk
masyarakat, serta Ditjen dapat menagih dan mengenakan sanksi perpajakan yang akan memberatkan. Maka, untuk menghindarkan pengenaan sanksi administrasi perpajakan akibat ketidakbenaran atas kewajiban perpajakan di masa lalu dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memulai keterbukaan pelaksanaan perpajakan di masa mendatang secara sukarela dan benar untuk itu diberikan kesempatan melalui sunset policy. Dan diharapkan setelah fasilitas sunset policy ini berakhir seluruh masyarakat telah melaporkan kewajiban perpajakannya dengan benar.
B. Yang Dapat Memanfaatkan Sunset Policy
Adapun yang dapat memanfaatkan fasilitas sunset policy adalah :
1. Orang Pribadi yang dalam tahun 2008 mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) secara sukarela ( WP Baru) termasuk hasil ekstensifikasi dan melaporkan SPT Tahunan PPh paling lambat 31 Maret 2009 untuk tahun pajak 2007 dan tahun-tahun sebelumnya.
Fasilitas yang diberikan adalah penghapusan sanksi administrasi berupa bunga atas pajak yang tidak atau kurang dibayar.
2. Wajib Pajak Orang Pribadi atau Badan yang telah memiliki NPWP sebelum 1 Januari 2008 (WP Lama) dan melaporkan pembetulan SPT Tahunan PPh untuk
tahun pajak 2006 dan tahun-tahun sebelumnya, yang mengakibatkan pajak yang harus dibayar menjadi lebih besar.
Fasilitas yang diberikan adalah penghapusan sanksi administrasi berupa bunga atas keterlambatan pelunasan kekurangan pembayaran.
Dalam pemberian fasilitas penghapusan sanksi administrasi berupa bunga ada persyaratan yang harus dipenuhi oleh WP baik itu WP Baru mauapun WP Lama. Adapun persyaratan yang harus dipenuhi yaitu :
1. Wajib Pajak Baru
a. Secara sukarela mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dalam tahun 2008
b. Tidak sedang dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan, penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan di pengadilan atas tindak pidana di bidang perpajakan.
c. Menyampaikan SPT Tahunan Tahun Pajak 2007 dan sebelumnya terhitung sejak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif paling lambat tanggal 31 Maret 2009 d. Melunasi seluruh pajak yang kurang dibayar yang timbul sebagai akibat dari
penyampaian SPT Tahunan PPh, sebelum SPT tersebut disampaikan. 2. Wajib Pajak Lama
a. Telah memiliki NPWP sebelum tanggal 1 Januari 2008
b. Terhadap SPT Tahunan PPh yang dibetulkan belum diterbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP)
c. Terhadap SPT Tahunan PPh yang dibetulkan belum dilakukan pemeriksaan atau dalam hal sedang dilakukan pemeriksaan, Pemeriksa Pajak belum menyampaikan Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP)
d. Telah dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan, tetapi Pemeriksaan Bukti Permulaan tersebut tidak dilanjutkan dengan tindak penyidikan karena tidak ditemukan adanya Bukti Permulaan tentang tindak pidana di bidang perpajakan e. Tidak sedang dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan, penyidikan, penuntutan
atau pemeriksaan di pengadilan atas tindak pidana di bidang perpajakan
f. Menyampaikan SPT Tahunan Tahun Pajak 2006 dan sebelumnya paling lambat tanggal 31 Desember 2008 dan diperpanjang lagi menjadi 28 Februari 2009
g. Melunasi seluruh pajak yang kurang dibayar yang timbul sebagai akibat dari penyampaian SPT Tahunan PPh, sebelum SPT Tahunan PPh tersebut disampaikan.
Selain persyaratan di atas, ada ketentuan lain dalam memanfaatkan fasilitas sunset policy. Ketentuan itu seperti apabila bagi WP Lama sedang dilakukan pemeriksaan pajak, maka dalam rangka pembetulan SPT Tahunan PPh Lebih Bayar dan memanfaatkan fasilitas sunset policy, pembetulan SPT dianggap sebagai pencabutan atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak. Untuk pembetulan SPT Tahunan yang sedang dilakukan pemeriksaan, pemeriksaan dihentikan kecuali tetap dilanjutkan berdasarkan pertimbangan Dirjen Pajak dalam hal pajak yang terutang lebih rendah daripada temuan sementara pemeriksaan yang didukung dengan bukti yang cukup (bukan analisis) dan disetujui atasan serta adanya indikasi pidana. Sedangkan untuk WP yang telah dilakukan pemeriksaan pajak atau tidak termasuk sunset policy, maka WP yang telah diperiksa atau diterbitkan Surat Ketetapan Pajak tidak dikenakan sanksi
adaministrasi berupa kenaikan 100% apabila Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) diterbitkan berdasarkan keterangan tertulis oleh WP dan belum dimulai pemeriksaan dalam rangka penerbitan SKPKBT.
Selain itu, untuk ketentuan dalam lingkup penyampaian dan pembetulan SPT Tahunan PPh adalah meliputi pembetulan SPT Tahunan PPh yang terkait dengan pembayaran :
a. PPh Pasal 29
b. PPh Pasal 4 ayat (2) dan c. PPh Pasal 15
Sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan, dan untuk PPh Pasal 4 ayat (2) dan PPh Pasal 15 adalah PPh yang dibayar sendiri dan dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh.