Tahun Jumlah
2.2.4 Gambaran Daya Saing Daerah
2.2.4 Gambaran Daya Saing Daerah
Salah satu indikator kinerja pembangunan suatu daerah diukur melalui indikator‐indikator makro ekonomi. Pencapaian perekonomian suatu daerah merupakan gambaran dari prestasi pemerintahan daerah dalam memanfaatkan potensi yang ada di daerah tersebut, serta usaha dalam mengatasi kendala‐kendala yang ada di daerah. Beberapa indikator pencapaian pembangunan ekonomi adalah: Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) dan tingkat inflasi. Sektor yang memiliki kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bintan tidak terlepas dari potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Bintan yaitu Industri, Pariwisata dan Pertanian, dengan uraian sebagai berikut :
Potensi Unggulan Daerah
Salah satu stimulan peningkatan potensi unggulan daerah Kabupaten Bintan adalah dengan ditetapkannya Kabupaten Bintan sebagai salah satu Kawasan Free Trade Zone. Pembentukan Free Trade Zone di Kabupaten Bintan berdasar pada Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Adapun daerah yang termasuk dalam Free Trade Zone Bintan adalah kawasan Bintan Utara dengan liputan wilayah hampir setengah Pulau Bintan. Terdapat 5 lokasi lain yang berupa
enclave yaitu kawasan Anak Lobam, kawasan Maritim Bintan Timur, kawasan
galang Batang, kawasan Galang Batang, kawasan Senggarang dan kawasan Industri Dompak Barat. Dengan adanya pemekaran wilayah, maka Kota Tanjungpinang menjadi suatu wilayah administratif yang berdiri sendiri. Dalam hal ini kawasan Senggarang dan kawasan industri Dompak Barat
RKPD Kabupaten Bintan 2016 II‐21
termasuk ke dalam Free Trade Zone Bintan wilayah kota Tanjungpinang. Kawasan Industri Lobam termasuk dalam lingkup Kawasan Bintan Bagian Utara.
Free Trade Zone Bintan dengan luas 62.017,20 Ha tersebut saat ini 23.000 Ha
merupakan kawasan wisata internasional Lagoi yang dikelola sendiri oleh Penanam Modal Asing dengan core wisata pantai dan golf. Sedangkan seluas 4.000 Ha merupakan kawasan industri Lobam.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang kawasan Batam, Bintan dan Karimun maka kawasan Free Trade Zone Batam Bintan Karimun mecakup 26 Kecamatan yang 7 kecamatan diantaranya termasuk sebagian wilayah Kabupaten Bintan. Adapun Strukutur Ruang Kawasan Free Trade Zone Bintan terdiri dari sistem pusat kegiatan (PK) Primer yaitu:
1. Pusat Kegiatan Berorientasi Ekspor, yaitu kawasan industri Galang Batang Kecamatan Gunung Kijang, Kawasan Industri Lobam di Kecamatan Seri Kuala Lobam, Kawasan Maritim Bintan Timur di Kecamatan Bintan Timur. Fungsi utama Pusat Kegiatan Berorientasi Ekspor ini adalah pengembangan industri skala besar. Sedangkan fungsi pendukungnya sebagai simpul transportasi, pemukiman karyawan, perdagangan dan jasa lokal.
2. Pusat Kegiatan Pariwisata Mancanegara dan Domestik, yaitu Kawasan Wisata Internasional Lagoi di Kecamatan Teluk Sebong, Kawasan Wisata Penghujan‐Kuala Sempang di Kecamatan Seri Kuala Lobam, Kawasan Wisata Trikora di Kecamatan Gunung Kijang, dan Kawasan Wisata Sakera di Kecamatan Bintan Utara. Fungsi utama Pusat Kegiatan Pariwisata Mancanegara dan Domestik ini adalah pengembangan kepariwisataan. Sedangkan fungsi pendukungnya sebagai pemukiman dan simpul transportasi penumpang.
3. Pusat Kegiatan Perdagangan dan Jasa, yaitu Pusat Kegiatan Perdagangan dan Jasa Bandar Seri Bentan di Kecamatan Teluk Bintan, dan Pusat
RKPD Kabupaten Bintan 2016 II‐22
Kegiatan Perdagangan dan jasa tanjung Uban di Kecamatan Bintan Utara. Fungsi utama Pusat Kegiatan Perdagangan dan jasa ini adalah perdagangan dan jasa internasional. Sedangkan fungsi pendukungnya adalah pemukiman, simpul transportasi penumpang dan wisata belanja. 4. Pusat Kegiatan Transportasi Laut, yakni pelabuhan Bandar Seri Udana dan
Pelabuhan Tanjung Uban di Kecamatan Bintan Utara, Pelabuhan Bandar Seri Bentan di Kecamatan teluk Bintan, dan Pelabuhan Kijang di Kecamatan Bintan Timur. Fungsi Utama Pusat Kegiatan Transportasi Laut ini adalah pertransportasian. Sedangkan fungsi pendukungnya adalah pelayanan perpindahan penumpng dan barang.
5. Pusat Kegiatan Pertahanan dan Keamanan Negara, yakni Mentigi di Kecamatan Bintan Utara, Gunung Bintan Kecil di Kecamatan Teluk Sebong, dan Tanjung Berakit dan Tanjung Sading di Kecamatan Teluk Sebong. Fungsi utama Pusat Kegiatan Kegiatan Pertahanan dan Keamanan Negara ini adalah pertahanan dan keamanan negara. Sedangkan fungsi pendukungnya adalah menjaaga kedaulatan KNRI yang meliputi pertahanan dan keamanan laut serta udara.
6. Pusat Kegiatan Kesehatan, Kawasan Bandar Seri Bentan di Kecamataan Teluk Bintan, dan Kawasan Perkotaan Tanjung Uban dan Kawasan Seri Kuala Lobam di Kecamatan Bintan Utara. Fungsi utama Pusat Kegiatan Kesehatan ini adalah pelayanan kesehatan berkualitas internasional. Sedangkan fungsi pendukungnya penyediaan pelayanan perkotaan.
Kabupaten Bintan masih mengandalkan sektor industri pengolahan masih sebagai penyumbang PDRB terbesar pada 5 tahun terakhir dengan kontribusi mencapai 50% lebih. Spill over effect pembangunan Singapura dan Malaysia yang merupakan kutub utama pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara telah berimbas pada perkembangan Industri di Kabupaten Bintan sebagai pendukung sektor industri Singapura. Sedangkan Sektor Pariwisata sebagai penyumbang PDRB terbesar ke dua setelah sektor industri pengolahan
RKPD Kabupaten Bintan 2016 II‐23
merupakan penyumbang Pendapatan Asli Daerah terbesar di Kabupaten Bintan dalam 5 tahun terakhir. Kontribusi sektor Pariwisata (Pajak Hotel Restoran dan Hiburan) terus mengalami peningkatan, pada tahun 2010 mencapai Rp63,2 Miliar dan terus meningkat sampai pada tahun 2014 mencapai Rp93,6 Miliar dengan rata‐rata kontribusi sebesar 54,64% dari total PAD Kabupaten Bintan pada tahun 2010‐2014. Investasi di Kabupaten Bintan juga menunjukkan peningkatan, pada tahun 2010 nilai investasi PMA US$744.94 juta dengan total 121 perusahaan sedangkan nilai investasi PMDN Rp67,06 miliar dengan total 8 perusahaan terus meningkat hingga tahun 2014 nilai investasi PMA US$916.74 juta dengan total 174 perusahaan sedangkan nilai investasi PMDN Rp1,457 trilyun,‐ dengan total 17 perusahaan. Potensi unggulan daerah yang menunjukkan tren peningkatan yang sangat signifikan juga terdapat pada sektor pertanian pada sentra produksi komoditastanaman pangan dan hortikultura unggulan antara lain padi, sayuran, buah naga, salak dan lain sebagainya. Jenis‐jenis tanaman perkebunan seperti karet, kelapa, dan cengkeh dapat dijumpai disemua kecamatan dengan luas yang bervariasi. Disisi lain terdapatnya potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar untuk kegiatan perikanan tangkap maupun budidaya juga merupakan andalan untuk dapat dikembangkan di Kabupaten Bintan.
Angka Kerja dan Ketenagakerjaan
Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Bintan berdasarkan persentase Penduduk Berumur 15 Tahun keatas yang bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Kabupaten Bintan, Mata pencaharian penduduk Kabupaten Bintan pada tahun 2013 dan tahun 2014 masih di dominasi sektor pertanian yang didalamnya termasuk sub sektor perikanan, namun pada beberapa sektor terjadi pergeseran struktur mata pencaharian penduduk Kabupaten Bintan. Sektor jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan yang pada tahun 2013 menempati peringkat ketiga mata pencaharian penduduk Kabupaten Bintan dengan 14,14% mengalami pergeseran pada tahun 2014 dengan menempati peringkat kedua mata pencaharian penduduk Kabupaten
RKPD Kabupaten Bintan 2016 II‐24
Bintan dengan angka 21,07%. Sedangkan sektor perdagangan, rumah makan dan hotel menunjukkan pada tahun 2013 yang menempati peringkat kedua terbesar dengan angka 17,92% bergeser pada tahun 2014 menjadi peringkat ketiga dengan angka 19,01%. Walaupun turun secara peringkat namun secara persentase mengalami peningkatan sebesar 1,09% hal ini sejalan dengan perkembangan sektor kepariwisataan di Kabupaten Bintan. sedangkan sektor pertambangan dan penggalian mengalami pengurunan 2,25% dari sebelumnya pada tahun 2013 mencapai 3,27% menjadi 1,02%. Tabel 2.16 : Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun keatas yang bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Kabupaten Bintan, No Mata Pencaharian Penduduk 2013 2014 1. Pertanian 32,27 25,32 2. Pertambangan dan Penggalian 3,27 1,02 3. Industri dan perdagangan 13,42 12,28 4. Listrik, Gas dan Air 1,32 1,47 5. Bangunan 10,38 8,09 6. Perdagangan, Rumah Makan dan Hotel 17,92 19,01 7. Angkutan, Pegudangan dan Komunikasi 5,60 6,59 8. Keuangan, Asuransi dan Usaha Persewaan 1,68 5,15 9. Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan 14,14 21,07 10. Lainnya ‐ ‐ Jumlah 100,00 100,00 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Bintan, 2015 Menurut data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bintan Penduduk Usia Kerja pada tahun 2014 meningkat dibandingkan dengan tahun 2013. Penduduk Usia Kerja pada tahun 2013 sejumlah 102.914 orang sedangkan pada tahun 2014 yaitu 104.312 orang. Begitu pula dengan Angkatan Kerja menunjukkan peningkatan dari 63.726 orang pada tahun 2013 menjadi 67.749 pada tahun 2014. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan perbandingan antara angkatan kerja dengan penduduk usia kerja. TPAK di Kabupaten Bintan juga menunjukkan pemingkatan dari tahun yaitu 61,92% kemudian meningkat kembali pada tahun 2014 menjadi 64,95%. Sedangkan Tingkat
RKPD Kabupaten Bintan 2016 II‐25
Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Bintan mengalami peningkatan dari 6,57% pada tahun 2013 menjadi 6,80 % pada tahun 2014. Kebijakan pemerintah tentang pelarangan ekspor mineral mentah juga berimbas pada penurunan aktivitas pertambangan sehingga berdampak langsung terhadap penurunan jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor pertambangan dan penggalian. Tabel 2.17 : Perkembangan Ketenagakerjaan di Kabupaten Bintan Tahun 2013‐2014 Uraian 2013 2014* 1. Penduduk Usia Kerja (orang) 102.914 104.312 2. Angkatan Kerja (orang) 63.726 67.749 3. Bekerja (orang) 59.537 63.142 4. Mencari Kerja (orang) 4.189 4.607 5. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%) 61,92 64,95 6. Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 6,57 6,80 * : Data Sementara Sumber : Data Diolah Tahun 2015 Daya Beli Berdasarkan data BPS pencapaian daya beli (Purchasing Power Parity) masyarakat Kabupaten Bintan yang diukur dengan pendapatan riil perkapita/tahun menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun 2013 Pendapatan riil perkapita mencapai Rp 656.590 dan pada tahun 2014 meningkat menjadi Rp 659,870. Demikian pula dengan Indeks Daya Beli penduduk Kabupaten Bintan, pada tahun 2013 Indeks Daya Beli penduduk Kabupaten Bintan meningkat menjadi 68,6 hingga pada tahun 2014 yang mencapai 69,3. Peningkatan Indeks Daya Beli tidak terlepas dari pengaruh kinerja makro dan mikro ekonomi. Hal ini tercermin dari besaran pencapaian pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang cukup terkendali.
RKPD Kabupaten Bintan 2016 II‐26 Tabel 2.18 : Pendapatan Riil Perkapita dan Indeks Daya Beli Masyarakat
Kabupaten Bintan,Tahun 2013‐2014
No Tahun Pendapatan Riil Perkapita (Rp.000) Indeks Daya Beli
1. 2013 656,68 68,6 2. 2014 659,87 69,3 Sumber : BPS Kabupaten Kabupaten Bintan, Tahun 2015 Grafik 2.6 : Indeks Daya Beli Kabupaten Bintan Tahun 2013‐2014 Sumber : BPS Kabupaten Kabupaten Bintan, Tahun 2015 Kemampuan Ekonomi Daerah Walaupun relatif lambat, namun indeks tersebut menggambarkan kondisi ekonomi khususnya daya beli masyarakat Kabupaten Bintan yang tetap terjaga dengan baik sepanjang tahun 2014 sehingga capaian ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Kabupaten Bintan pada tahun 2014 menjadi lebih baik. Kemungkinan lain yang mempengaruhi tingkat daya beli masyarakat, adalah disebabkan oleh faktor internal kondisi pasar maupun eksternal seperti kebijakan makro ekonomi Nasional, dan nilai tukar rupiah yang belum stabil serta isu ekonomi regional maupun global yang sangat erat kaitannya dengan fluktuasi tingkat inflasi sehingga berpengaruh terhadap laju peningkatan daya beli masyarakat. 68.6 69.3 68.2 68.4 68.6 68.8 69 69.2 69.4 2013 2014
RKPD Kabupaten Bintan 2016 II‐27 Luas Kawasan Produktif
Kabupaten Bintan merupakan kepulauan yang memiliki keterbatasan lahan dan lebih banyak didominasi oleh wilayah laut. Secara keseluruhan luas wilayah Kabupaten Bintan adalah 87.717,84 km2 terdiri atas wilayah daratan seluas 1.319,51 km2 (1,50%) dan wilayah laut seluas 86.398,33 km2 (98,50%). Dengan adanya pemekaran wilayah jumlah Kecamatan yang terdapat di wilayah Kabupaten Bintan bertambah dari 6 (enam) Kecamatan menjadi 10 (sepuluh) kecamatan, yaitu Kecamatan Teluk Bintan, Seri Kuala Lobam, Bintan Utara, Teluk Sebong, Bintan Timur, Bintan Pesisir, Mantang, Gunung Kijang, Toapaya, dan Tambelan. Keterbatasan lahan di daratan masih dibagi lagi menjadi kawasan produktif dan kawasan non produktif.
Kawasan produktif adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk kegiatan budidaya dengan didasarkan pada kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Luas kawasan produktif di Kabupaten Bintan mencapai 86,186 hektar atau 65,32 persen wilayah Kabupaten Bintan. Adapun perincian kawasan produktif dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 2.19
Kawasan Produktif di Kabupaten Bintan
NO. U R A I A N LUAS (Ha) (%)
1 Hutan Produksi Terbatas 9,019.00 6.84 2 Pertanian 27,673.00 20.97 3 Perkebunan 2,424.00 1.84 4 Perikanan (Tambak) 337.00 0.26 5 Pertambangan 7,636.00 5.79 6 Industri 7,510.00 5.69 7 Pariwisata 20,105.00 15.24 8 Permukiman 6,214.00 4.71 9 Perdagangan dan Jasa 803.00 0.61 10 Kawasan Militer 9.00 0.01 11 Kawasan Bandar Seri Bentan 4,447.00 3.37 12 TPA 9.00 0.01 86,186.00 65.32 Sumber : RTRW Kabupaten Bintan tahun 2011‐2031
RKPD Kabupaten Bintan 2016 II‐28
Pemanfaatan lahan di wilayah darat diatur dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bintan tahun 2011‐ 2031. Tingkat pengendalian dalam pemanfaatan ruang di Kabupaten Bintan dapat diukur melalui 3 indikator yang menunjukkan ketaatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Yang pertama adalah tingkat kesesuaian pemanfaatan ruang di kawasan strategis dan kecamatan, kedua adalah persentase rekomendasi perizinan yang memanfaatkan kesesuaian lahan. Kemudian yang ketiga adalah tingkat kesesuaian pemanfaatan ruang.