BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
D. Pembahasan Penelitian
1. Gambaran dinamika psikologis kedewasaan pribadi masing-
Gambaran dinamika psikologis kedewasaan pribadi masing- masing subjek dapat dilihat sebagai berikut:
a. Subjek 1
Subjek adalah seorang yang mempunyai perluasan diri yang baik dengan menghayati setiap perutusan yang dijalaninya sebagai suatu kesempatan dan tantangan, merupakan cara Tuhan mendidik dan mengembangkan dirinya. Perutusan sebagai perawat dihayati tidak hanya sebatas profesi sebagai perawat tetapi juga pendampingan keluarga-keluarga bagi rekan kerjanya. Jabatan subjek sebagai kepala unit di rumah sakit mengandung nilai pemberian diri dan pelayanan bagi sesamanya. Subjek berpartisipasi penuh terhadap perkembangan rekan kerja dengan memotivasi mereka untuk berani mengatakan kebenaran.1
Subjek juga mengikuti kegiatan pendampingan anak-anak muda dan Sekolah Minggu di luar tugasnya di rumah sakit, sebagai bentuk penghayatan dan pewartaan hidup sebagai seorang suster CB di tengah umat paroki. Subjek juga pernah mengikuti kegiatan yang memberikan banyak makna bagi pribadinya, yaitu mengisi siaran iman katolik.2 Subjek mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan yang mengembangkan hidupnya seperti menulis, membaca, main gitar bersama para suster atau membantu tugas suster yang lain. Kegiatan di komunitas bersama para suster yang lain, memberi makna sebagai sumber kekuatan dalam menjalani panggilan dan perutusan.3
__________________
- 1 lihat lamp. KHW S-1, no. 2, 13, 23 & 46 (hal. 131, 133. 135, & 141). - 2 lihat lamp. KHW S-1, no. 1, 16 & 17 (hal. 131 & 134).
- 3 lihat lamp. KHW S-1, no. 35 & 59 (hal. 138 & 146).
Subjek berusaha menjalin relasi yang baik dengan dengan umat di sekitarnya dan melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di rumah sakit.Prinsip hidup subjek yaitu melakukan apa yang bisa dilakukan sekarang untuk orang lain tanpa banyak berharap akan menuai hasilnya, yang merupakan wujud cinta tanpa syarat yang dimilikinya.4 Subjek berusaha membangun kerja sama yang terbuka, saling memahami dan memperhatikan satu dengan yang lain. Subjek juga memiliki rasa empati terhadap orang lain, yang nampak dalam kesungguhannya dengan sepenuh hati membantu rekan yang membutuhkan pendampingan, bahkan keprihatinan yang muncul seringkali dibawanya dalam doa.5
Subjek ingin menjalin relasi yang akrab dengan sesama suster sekomunitas, terlibat dalam kehidupan sesama suster sekomunitas dengan memahami, memberi perhatian dan dukungan. Ketika sedang mengalami konflik dengan sesama suster dan didiamkan, subjek berusaha untuk memahami dan mengampuni suster tersebut. Relasi dengan teman-teman sekelompok tetap terpelihara, subjek memiliki ketulusan membantu teman yang sedang mengalami krisis sehingga hal ini dapat saling menguatkan dalam menjalani panggilan hidup.
Subjek menerima diri apa adanya dan mampu mengenali proses psikologis maupun biologis yang ada dalam diri, sehingga __________________
- 4 lihat lamp. KHW S-1, no. 18 & 28 (hal.134 & 136).
- 5 lihat lamp. KHW S-1, no. 1, 15, 32, 38 & 40 (131, 134, 137, 139 & 140). - 6 lihat lamp. KHW S-1, no. 54 & 55 (hal. 144).
mampu mengolah dan menanggapi doronga n-dorongan emosi yang muncul dengan lebih tepat. Subjek mampu melihat pengaruh pengalaman masa lalu terhadap hidup saat ini, sehingga mampu mengontrol dan mengolah dorongan emosi yang muncul karena pengaruh pengalaman masa lalu tersebut, serta menyalurkannya ke hal- hal yang lebih konstruktif. Rasa marah yang muncul ketika sedang mengalami konflik dengan orang lain diungkapkan secara asertif, rasa jenuh disalurkan dengan mengunjungi pasien atau ngobrol dengan teman, pengalaman gagal digunakan sebagai sarana untuk semakin bersikap rendah hati.7 Subjek menyadari dan menerima bahwa dirinya mudah jatuh cinta terhadap lawan jenis, sehingga mampu mengendalikan dan mengolah dorongan-dorongan emosi yang muncul ketika sedang jatuh cinta. Meskipun begitu, ketika sedang menghadapi situasi/ masalah yang cukup berat subjek juga cenderung menyalurkan dorongan emosi yang muncul dengan ngedumel atau
ngomel-ngomel sendiri nggak karuan.8
Subjek cukup menerima realitas hidup membiara yang kadang tidak sesuai dengan yang diidealkan, meskipun melalui proses yang cukup panjang. Sebagai seorang religius, subjek bertanggung jawab untuk memelihara hidup rohaninya dengan berusaha menyeimbangkan antara waktu doa dan waktu kerja, kreatif dalam menjalani hidup panggilannya.9 Pada awal memasuki karyanya __________________
- 7 lihat lamp. KHW S-1, no.1, 4, 5, 6, 12, 25, 49, 56 & 58 (hal. 131-133, 136, 142, 144 & 145).
- 8 lihat lamp. KHW S-1, no. 22 & 23 (hal. 135). - 9 lihat lamp. KHW S-1, no. 7 & 9 (hal. 132).
sekarang, subjek merasa ada beban karena menganggap sistem dan situasi lingkungan kerja yang ada kurang baik. Meskipun begitu, subjek tetap berusaha memberikan yang terbaik dari ilmu yang dimilikinya untuk dipraktekkan di tempat karya, karena melihat realitas yang telah terjadi yaitu adanya penurunan kualitas pelayanan. Sebagai kepala unit, subjek bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya dan berusaha menyelesaikan masalah yang ada dengan cara yang asertif.10
Subjek cukup mempunyai pemahaman diri yang objektif mengenai dirinya. Pemahaman diri yang objektif ini diperoleh karena subjek cukup terbuka terhadap masukan dari orang lain dan belajar dari pengalaman hidup dalam proses pengenalan diri dan pembentukan gambaran dirinya. Subjek menyadari bahwa memiliki kekurangan, tetapi ada usaha untuk semakin mewujudkan gambaran diri yang diidealkan dalam hidup konkrit. Setelah mengalami berbagai pengalaman hidup membiara, subjek memiliki gambaran diri sebagai seorang suster yang semakin sederhana dan konkrit yaitu bahwa subjek adalah seorang yang dipanggil Tuhan untuk hadir, mendengarkan dan membantu orang-orang yang dilayani di mana pun di utus.11 Subjek cukup memiliki rasa humor yang bisa memberi penghiburan untuk diri sendiri ketika sedang stress/ menghadapi suatu masalah.12
__________________ - 10
lihat lamp. KHW S-1, no. 19, 21, 24 & 26 (hal. 134-136).
- 11 lihat lamp. KHW S-1, no. 3, 8, 39, 43 & 45 (hal. 131, 132, 139-141). - 12
Subjek berusaha menghidupi nilai- nilai kesetiaan dalam doa, sikap solider terhadap sesama dalam penghayatan hidup panggilannya. Subjek bercita-cita untuk setia melayani Tuhan, mewartakan kebenaran dan berusaha agar kehadirannya dapat membawa keharmonisan serta damai di tengah dunia yang penuh ketidakdamaian.13 Kepercayaan akan penyelenggaraan Illahi, pengalaman cinta Allah, kepasrahan pada kehendak Tuhan, kesetiaan membina diri dan mendengarkan suara hati dalam refleksi merupakan kekuatan bagi subjek dalam pergulatan penghayatan perutusannya. Hal ini nampak dalam kesaksian hidupnya baik dalam hidup karya maupun dalam hidup berkomunitas. Spiritualitas pendiri kongregasi dihayati dalam karya dan diwartakan secara konkrit dalam pelayanannya.14
Nilai kejujuran, kedisiplinan, ketaatan dan ketekunan berdoa yang diperoleh dari keluarga membentuk diri subjek menjadi orang yang beriman, setia memelihara hidup rohaninya dan teguh dalam menghidupi prinsip hidupnya. Harapan bahwa setiap kesempatan yang dialami akan memberikan sesuatu yang yang berharga dalam hidup memberi kekuatan dalam menjalani setiap tantangan yang ada. Subjek memiliki kemampuan dalam menjalin relasi yang baik dengan sesama, memahami dan mengasihi orang lain karena pengaruh pola asuh dalam keluarga, dimana subjek dibesarkan dalam keluarga yang __________________
- 13
lihat lamp. KHW S-1, no. 14, 36, 37 & 48 (hal. 133, 139 & 142).
- 14 lihat lamp. KHW S-1, no. 10, 20, 27, 42, 44, 50, 51, 57, 60 & 61 (hal. 133, 134, 135, 140-143, 145 & 146).
akrab, hangat dan penuh kasih sayang.16 Subjek mampu bersikap reflektif, mengenali diri secara objektif sehingga mampu mengolah dorongan-dorongan emosi yang muncul karena pengalaman yang diperoleh dalam masa pembinaan yang masih ditekuni sampai sekarang.17
Pengalaman disembuhkan oleh Tuhan pada saat mengalami sakit berat memotivasi subjek ingin semakin setia melayani Tuhan dengan lebih baik dalam setiap perutusannya dan siap di utus ke mana pun.18 Spiritualitas pendiri kongregasi yang dihayati memotivasi subjek berusaha menjadi seorang suster yang tangguh dan keibuan seperti Bunda Elisabeth, sehingga memberi kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup.19 Keinginan subjek menjadi suster waktu kecil karena kelihatan damai, memotivasi untuk menciptakan suasana komunitas yang penuh kedamaian.20
b. Subjek 2
Perluasan diri subjek cukup baik. Subjek menjalankan tugas perutusan sebagai seorang guru dengan gembira hati, karena subjek menyayangi anak-anak. Profesi sebagai guru merupakan kesempatan untuk mempraktekkan dan mengembangkan ilmu yang diperoleh ketika studi, serta sarana untuk menanamkan dasar baik bagi anak- __________________
- 16
lihat lamp. KHW S-1, no. k & q (hal. 148). - 17 lihat lamp. KHW S-1, no. b, d, p & u (147-149). - 18 lihat lamp. KHW S-1, no. m, n & o (hal. 148). - 19 lihat lamp. KHW S-1, no. f, g & l. (hal. 147 & 148). - 20 lihat lamp. KHW S-1, no. i & j (hal. 147 & 148).
anak dan membantu anak-anak yang bermasalah. Kebahagiaan subjek sebagai seorang guru adalah ketika anak didiknya menjadi pandai dan memiliki sikap berbagi dengan yang lain.21 Kegiatan yang diikuti subjek di sekolah selain mengajar siswa adalah sebagai seksi liturgi dan mendampingi guru yang bermasalah. Subjek juga mengikuti kegiatan di gereja yaitu membimbing misdinar. Aktifitas subjek di gereja ini dihayati sebagai wujud pengabdian diri dan sarana menjalin kerja sama dalam pelayanannya.22 Keterlibatan dan partisipasi subjek dalam kehidupan sesama suster sekomunitas dengan memberikan informasi atau membantu tugas teman, dihayati sebagai sumber kekuatan dalam menjalankan perutusan karena komunitas menjadi basis perutusan dan tempat berbagi pengalaman hidup dengan sesama suster.23
Subjek mempunyai pandangan yang positif terhadap orang lain dan berusaha memberikan cinta tanpa syarat dengan berempati, memahami, menerima kelemahan orang lain dan mau mengampuni orang yang menyakiti/ mengkhianatinya karena sadar bahwa dirinya juga memiliki kelemahan.24 Subjek cukup memiliki rasa empati terhadap orang lain yang terwujud dalam usahanya untuk memahami dan memberikan pendampingan pada orang lain sesuai dengan yang __________________
- 21
lihat lamp. KHW S-2, no. 34, 43, 53, 57 & 62 (hal. 154 -158). - 22 lihat lamp. KHW S-2, no. 43, 46 & 56 (hal. 155-157).
- 23 lihat lamp. KHW S-2, no. 48, 49, 73 & 79 (hal. 156, 160 & 161).
- 24 lihat lamp. KHW S-2, no. 3, 24, 28, 38, 68, 69, 71, 77, 84 & 99 (hal. 150, 152-154, 159-164).
dibutuhkan orang tersebut.25
Ketika menghadapi perbedaan pendapat dengan orang lain, subjek berusaha menerima perbedaan yang ada dan lebih memahami sikap serta jalan pemikiran orang lain. Subjek memiliki keterbukaan dan kerendahan hati dalam menjalin relasi serta kerja sama dengan orang lain, mampu memahami perbedaan yang ada dan mau membagikan pengalamannya pada orang lain.26 Meskipun begitu, subjek juga cenderung kurang bebas ketika berhadapan dengan figur pemimpin. Subjek memiliki kecenderungan membela diri, menuntut dan menilai negatif ketika mengalami konflik dengan figur pemimpin atau figur yang lebih berkuasa, bahkan kadang menarik diri dan bersikap cuek.27
Subjek cukup mampu menerima diri apa adanya, menyadari keterbatasan diri dan mengontrol dorongan-dorongan emosi yang muncul, sehingga mampu menanggapinya secara lebih tepat dan dapat mengungkapkan diri dengan lebih asertif. Kegagalan yang dialami tidak membuat subjek mudah menyerah, melainkan mengolah dan menjadikan pengalaman itu sebagai sumber kekuatan hidup.28 Dorongan-dorongan emosi yang kurang mendukung panggilan disalurkan subjek pada hal- hal yang lebih konstruktif. Ketika sedang __________________
- 25 lihat lamp. KHW S-2, no. 44 & 92 (hal. 155 & 163).
- 26 lihat lamp. KHW S-2, no. 1, 17, 19, 33, 44, 50, 54, 66, 77 & 92 (hal. 150-157, 159, 161 & 163).
- 27 lihat lamp. KHW S-2, no. 4, 13, 18, 22, 25, 26, 29, 52 & 60 (hal. 150 -153, 156 & 158).
- 28 lihat lamp. KHW S-2, no. 16, 23, 31, 36, 70, 85, 90 & 98 (hal. 151-154, 159, 162-164).
mengalami kekecewaan subjek menyalurkan dengan mengikuti retret, mengarahkan dorongan emosi/ rasa marah dengan menulis dan mendengarkan musik. Rasa bosan yang muncul disalurkan dengan memperhatikan lingkungan hidup atau menyapa anak didik. Dorongan seksual yang muncul disalurkan dengan membaca cerita-cerita yang penuh inspirasi dan menulis pengalaman hidup.29 Pada saat-saat tertentu subjek kurang mampu mengendalikan emosi, misalnya ketika merasa dirinya terpojok atau terpuruk dengan masalah yang dialami sehingga menjadi frustasi maupun agresif.30
Subjek cukup memiliki sikap yang objektif terhadap realitas yang kadang tidak selalu sesuai dengan yang diidealkan, sehingga tidak mudah terbawa emosi dan kreatif ketika menghadapi dan menyelesaikan suatu masalah/ tantangan hidup baik dalam karya maupun dalam hidup bersama.31 Sikap objektif itu nampak dalam pandangan subjek yang cukup realistis terhadap kemampuan dan keterbatasan dirinya, bertanggung jawab atas perutusannya dengan tidak mudah menyerah dan berusaha menyelesaikan dan mengolah secara pribadi kesulitan yang dihadapi.32 Meskipun begitu, subjek juga memiliki persepsi yang kurang baik terhadap figur pemimpin atau figur yang berkuasa, yaitu menganggap sebagai figur yang menakutkan sehingga cenderung menghindari tugas yang __________________
- 29 lihat lamp. KHW S-2, no. 37, 41, 67 & 100 (hal. 154, 155, 159 & 165). - 30 lihat lamp. KHW S-2, no. 5, 21, 39 & 51 (hal. 150, 152, 154 & 156). - 31 lihat lamp. KHW S-2, no. 7, 30, 61, 80, 81, 93 & 102 (hal. 150, 153, 158,
161, 163 & 165).
berhubungan dengan kepemimpinan. Ketakutan terhadap figur pemimpin membuat subjek kadang menarik diri atau cuek, berprasangka negatif dan hati- hati ketika menghadapi masalah yang berhubungan dengan pemimpin. Subjek juga menyadari bahwa kadang dirinya kurang tekun dalam usaha mewujudkan nilai- nilai yang dihidupi.33
Subjek cukup realistis dalam melihat gambaran dirinya. Subjek cukup mengenal kemampuan dirinya, menyadari bahwa dirinya juga memiliki kelemahan yang mungkin tidak sesuai dengan yang diharapkan orang lain, berusaha untuk meminimalisirnya dan terbuka terhadap pendapat orang lain dalam melihat gambaran dirinya.34 Humor adalah sesuatu yang penting bagi subjek sebagai penyegar rohani, karena ada unsur kegembiraan dan menyehatkan sehingga mampu untuk melihat gambaran dirinya yang sebenarnya dan mampu menertawakan dirinya sendiri. Rasa humor yang ada dalam diri subjek juga mewarnai dalam bekerja sama dengan rekan kerja, sehingga suasana kerja menjadi enak dan penuh kegembiraan.35 Subjek memiliki tujuan hidup yang jelas yaitu mengikuti Yesus, memiliki iman dan kepercayaan akan penyertaan dan bimbingan Tuhan dalam setiap kesulitan yang dihadapi, sehingga tidak tergoyahkan oleh hal lain. Iman dan tujuan hidup itu dihayati dan __________________
- 33 lihat lamp. KHW S-2, no. 10, 14, 15, 27, 64, 86 & 87 (hal. 150, 151, 153,
158, 162 & 163).
- 34 lihat lamp. KHW S-2, no. 75, 76, 82, 95 & 103 (hal. 160-162, 164 & 165). - 35 lihat lamp. KHW S-2, no. 55, 59 & 96 (hal. 157, 158 & 164).
diwartakan dalam perutusannya sehingga nampak dalam kesaksian hidupnya, misalnya sikap gembira dalam melayani, merasa bebas dan taat dipindah ke manapun dan kapanpun, sikap mengampuni orang lain.36
Subjek percaya akan kekuatan doa, sehingga berusaha tekun dalam hidup doa, jujur mendengarkan suara hati dan berdiscerment
dalam setiap peristiwa hidup agar tetap setia di jalan panggilan-Nya dan semakin memiliki kebebasan hidup.37 Spiritualitas pendiri kongregasi dihayati dan diwartakan dalam karya perutusan, dengan cara mengenalkan pendiri dan pelindung kongregasi maupun melalui kesaksian hidup dalam semangat berbagi dan berbela rasa dengan yang miskin.38 Meskipun begitu, ketika akan menghadapi suatu tugas yang dianggap berat, subjek kadang menerima perutusan sebagai suatu keharusan.39
Ketakutan subjek akan figur pemimpin karena pengalaman pola asuh dari Bapak sebagai kepala rumah tangga yang keras seperti telah diungkapkan oleh subjek sendiri. Pada masa kecilnya, subjek kurang mengalami kedekatan dengan figur Ibu karena Ibu bekerja dan jarang pulang sehingga subjek cenderung kurang memiliki sifat keibuan. Subjek mengungkapkan bahwa dirinya lebih dominan sifat __________________
- 36 lihat lamp. KHW S-2, no. 2, 6, 8, 9, 32, 40, 65, 72, 75, 78, 88 & 104 (hal. 150, 153, 154, 158, 160, 161, 163 & 165).
- 37 lihat lamp. KHW S-2, no. 88, 94, 105 & 106 (hal. 163-165). - 38 lihat lamp. KHW S-2, no. 58 & 63 (hal. 157 & 158). - 39 lihat lamp. KHW S-2, no. 12 (hal. 151).
maskulinnya. Kedekatan dengan Bapak dan saudara-saudara laki- laki juga berpengaruh terhadap pola relasi subjek yang cenderung merasa aman berelasi dengan laki—laki atau perempuan yang lebih bersifat maskulin.40
Subjek menyadari bahwa motivasi ingin membagikan kegembiraan bagi sesama yang dilayani, banyak dipengaruhi oleh pengalaman dalam keluarga yang menanamkan persaudaraan, kerukunan dan kegembiraan. Dukungan orang tua sejak awal memutuskan hidup membiara, memberi kekuatan dan menantang subjek untuk setia dalam panggilan.41 Motivasi yang memberi kekuatan dalam perjalanan panggilan sampai sekarang adalah mengikuti Tuhan Yesus yang memiliki hidupnya. Spiritualitas pendiri kongregasi yang dihidupi memotivasi subjek dan memunculkan cita-cita untuk menanamkan dasar-dasar yang baik bagi anak-anak yang dilayaninya dengan mempraktekkan ilmu yang diperoleh saat studi. Subjek juga mempunyai keinginan untuk mengenalkan visi misi karya pendidikan di lingkungan karya.42 Subjek menemukan bahwa pengalaman gagal dan terpuruk dapat menjadi kekuatan dan motivasi untuk memiliki sikap empati terhadap orang lain.43 Subjek juga mengalami bahwa lingkungan sosial dalam hidup bersama dan karya berpengaruh terhadap pembentukan kedewasaan pribadinya.44
_________________________
- 40 lihat lamp. KHW S-2, no. a, n & o (hal. 166 & 167). - 41 lihat lamp. KHW S-2, no. b, f, g, p & r (hal. 166-168). - 42 lihat lamp. KHW S-2, no. c, d, e, k, m & q (hal. 166 & 167). - 43 lihat lamp. KHW S-2, no. j & l (hal. 167).
c. Subjek 3
Perluasan diri subjek cukup baik. Perutusan subjek sebagai perawat di daerah terpencil dihayati sebagai bentuk pengabdian dirinya pada masyarakat. Subjek bahagia dengan perutusannya ini, apalagi kalau pasiennya bisa sembuh dan berbahagia bersama keluarganya. Pendampingan terhadap para calon imam, keterlibatan dalam kegiatan di paroki (kunjungan ke umat, membantu persiapan pernikahan dan membagi komuni saat ekaristi) dihayati subjek sebagai bentuk ikut ambil bagian dalam karya pelayanan Gereja, sedangkan kesempatan mengajar para aspiran CB (calon anggota) dihayati sebagai bentuk ikut ambil bagian menyiapkan generasi penerus kongregasi CB.45
Subjek terlibat sepenuhnya dalam kehidupan para suster dan mengikuti kegiatan bersama di komunitas sebagai penghayatan rasa memiliki sebagai sesama anggota komunitas. Komunitas dihayati sebagai milik bersama seluruh anggotanya.46 Ketika menerima tawaran tugas yang saat ini sedang dijalani, subjek menghayatinya sebagai kesempatan dan bekal untuk tugas selanjutnya agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik.47
Subjek cukup mampu menjalin relasi dan kerja sama yang baik dalam perutusannya, yang nampak dari keterbukaannya terhadap pendapat orang lain, memahami dan menerima orang lain apa adanya. __________________
- 45 lihat lamp. KHW S-3, no. 10, 26 & 55 (hal. 169, 174 & 181). - 46 lihat lamp. KHW S-3, no. 44 & 53 (hal. 179 & 181).
Cinta yang tanpa syarat diberikan subjek secara tulus dalam pelayanannya, meski kadang kurang dihargai orang lain tetap berusaha memperhatikan dan terlibat untuk membantu perkembangan orang lain.48 Subjek cukup memiliki rasa empati terhadap sesama yang sedang menghadapi suatu masalah atau pengalaman yang menyakitkan. Rasa empati tersebut terwujud dalam usahanya memberikan pendampingan, mendoakan dan mengunjungi orang-orang yang sedang berkesusahan.49
Subjek berusaha menerima sesama suster sekomunitas apa adanya, meski kadang-kadang mengalami konflik tetap berusaha memahami bahwa kehadiran masing- masing sebagai pribadi dapat saling memperkaya dan menguatkan dalam hidup bersama sehingga menjadi kekuatan dalam pelayanan.50 Subjek juga cukup memiliki perhatian terhadap anggota keluarga yang sedang membutuhkan bantuan, memiliki rasa empati dan ingin untuk berkorban demi membantu keluarga yang sedang terjepit masalah.51 Meskipun begitu, ketika dikhianati oleh seorang teman yang telah dipercaya subjek merasa sakit hati dan sulit untuk mengampuni teman itu. Subjek juga cenderung memilih teman yang menyenangkan dalam bekerja sama, terutama dalam memasuki situasi karya yang baru.52
___________________________
- 48 lihat lamp. KHW S-3, no. 9, 12, 17, 24, 28, 32 & 34 (hal. 170-172, 174-176). - 49 lihat lamp. KHW S-3, no. 37, 42 & 73 (hal. 177, 178 & 186).
- 50 lihat lamp. KHW S-3, no. 1,45,46 & 49 (hal. 169, 179 & 180). - 51 lihat lamp. KHW S-3, no. 63 (hal. 183).
Subjek cukup mampu menerima diri apa adanya, menyadari dan menerima kekurangan diri sebagai bagian dari dirinya, sehingga dapat menanggapi dengan lebih realistis. Subjek berusaha mengarahkan dorongan-dorongan emosi yang kurang mendukung panggilan dengan hal-hal yang lebih konstruktif bagi dirinya. Ketika merasa jatuh cinta subjek berusaha menerima tetapi tidak menuruti perasaan itu dan mengarahkan pada persahabatan yang lebih terbuka, dorongan rasa bosan diarahkan dengan menikmati pemandangan alam atau membaca buku, dorongan rasa minder diarahkan dengan kerendahan hatinya untuk bertanya pada orang yang lebih tahu.53
Pada saat-saat tertentu, ketika melayani pasien yang datang kapan saja kadang subjek masih kurang mampu mengontrol dorongan emosinya dengan menunjukkan sikap yang kurang ramah, ketika menerima kritikan yang mengena pada dirinya kadang subjek masih merasa sakit hati. Subjek juga menyadari bahwa kadang-kadang dirinya tertutup ketika menghadapi suatu masalah, menerima kritikan karena melihat kekurangan diri (kena sasaran) atau konflik dengan sikap diam sebagai bentuk penolakan atau pembelaan diri sehingga menjadi hambatan dalam bekerja sama dengan orang lain.54
Subjek cukup bertanggung jawab dan memiliki komitmen terhadap tugasnya. Komitmen dan tanggung jawab itu nampak dalam ___________________
- 53 lihat lamp. KHW S-3, no. 7, 14, 31, 38 & 41 (hal. 170, 171, 176 & 178). - 54 lihat lamp. KHW S-3, no. 5, 20, 30, 47, 52 & 54 (hal. 169, 173, 175, 180 &
kerendahan hatinya menimba pengetahuan dari orang lain untuk mengembangkan pelayanannya, berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi dalam menjalankan perutusannya. Subjek cukup bertanggung jawab dalam menggunakan fasilitas yang tersedia untuk pengembangan karya.55 Subjek juga tidak mudah menuruti keinginan pribadi karena mempunyai komitmen terhadap tugas yang sedang dilaksanakan.56
Subjek cukup terbuka terhadap masukan dari orang lain mengenai gambaran dirinya yang ternyata juga sesuai dengan yang diinginkannya, misalnya subjek menginginkan menjadi seorang perawat, ternyata orang lain melihat bahwa subjek mempunyai bakat menjadi perawat. Subjek berusaha mewujudkan dalam hidup konkrit ideal dirinya sebagai seorang suster, yaitu seorang suster yang terbuka dan rela berbagi dengan sesamanya.57
Subjek cukup memahami kelemahan diri dan pilihan hidupnya sehingga mampu menertawakan kekurangan/ kelemahan diri sendiri, misalnya ketika jatuh cinta maupun ketika memiliki keinginan yang kurang realistis (ingin keluar dari biara). Humor dihayati subjek sebagai sarana untuk mengungkapkan diri dan membuat hidup lebih rileks.58 Ketika merasa diri benar, subjek kadang tertutup terhadap masukan dari orang lain mengenai gambaran dirinya, meski __________________
- 55 lihat lamp. KHW S-3, no. 8, 11, 19, 33 & 74 (hal. 170-172, 176 & 187). - 56 lihat lamp. KHW S-3, no. 19 (hal. 172).
- 57
lihat lamp. KHW S-3, no. 4 & 59 (hal. 169 & 182). - 58
nampaknya menerima masukan tersebut namun dalam hati sebenarnya menolak.59
Pengalaman dicintai Allah membuat subjek yakin dan percaya bahwa pilihan hidup membiara adalah panggilan hidupnya, sehingga semakin merasa bahagia, dan serius dalam menjalaninya. Kepercayaan dan keyakinannya itu juga membuat subjek semakin