• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

4.5 Gambaran Efek Samping yang terjadi Selama

Penggunaan metformin dengan dosis 3 x 500 mg disamping pola hidup medik yang dilakukan pada penelitian ini hanya mendapatkan efek samping pada 4 sampel (23,52 %), dimana dua pasien mengeluhkan berupa mual-mual yang ringan dan dapat ditolerir oleh pasien. Sebagian besar efek samping saluran cerna tersebut dialami pada minggu pertama penggunaan metformin. Gangguan saluran cerna ini dapat dikurangi dengan peningkatan dosis secara bertahap pada sampel yang mengalami efek samping.. Terdapat juga 1 sampel (5,88 %) dalam kelompok ini dengan efek samping konstipasi. Tidak dijumpai adanya efek samping lain pada kelompok yang menggunakan metformin ini.

Tabel 4.5 Efek samping yang muncul selama penelitian

Efek Samping Metformin (%) Plasebo (%)

Mual-mual yang ringan (2)11,76 (1) 5,88

Mual dan muntah hebat (1)5,88 (1) 5,88

Konstipasi. (1)5,88 -

Satu dari 4 sampel pada kelompok metformin mendapatkan efek samping tersebut akhirnya tidak bersedia melanjutkan penelitian dikarenakan mempunyai keluhan mual dan muntah yang berlanjut dan hebat.

Sedangkan pada kelompok yang menggunakan plasebo, terdapat 1 sampel (5,88 %) yang mempunyai keluhan efek samping berupa mual-mual yang bersifat ringan. Hanya terdapat 1 sampel (5,88 %) yang mempunyai keluhan mual dan muntah yang berat sehingga berhenti dari penelitian pada minggu pertama. Tidak terdapat efek samping lain pada kelompok ini.

BAB V PEMBAHASAN

Obesitas merupakan suatu penyakit multifaktorial, yang terjadi akibat akumulasi jaringan lemak yang berlebihan, sehingga dapat mengganggu kesehatan juga menjadi masalah kosmetik yang menakutkan. Keadaan obesitas ini khususnya obesitas sentral meningkatkan resiko penyakit kardiovaskuler dan DM tipe 2.

Obesitas sentral merupakan tampilan terjadinya resistensi insulin (RI) yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (disglikemia), berupa peningkatan kadar glukosa darah puasa terganggu (GDPT), toleransi gula darah terganggu (TGDT) maupun diabetes melitus (DM). Kadar asam lemak bebas (ALB) yang tinggi merupakan produksi jaringan lemak (adipose tissue) pada kondisi obesitas yang diduga berperan terhadap terjadinya RI. Tingginya ALB didalam plasma akan membuat ALB masuk kedalam otot dan menghambat asupan glukosa diotot. ALB juga masuk kedalam sel hati dan memacu terjadinya proses glukoneogenesis dalam sel hati. Kedua mekanisme yang terjadi pada obesitas inilah yang juga mendasari terjadi RI pada obesitas sehingga menyebabkan terjadinya disglikemia dan dislipidemia berupa peningkatan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida dan penurunan kadar HDL.

3

Pengukuran lemak tubuh secara langsung sangat sulit dilakukan, sehingga banyak survey epidemiologi dan promosi kesehatan di masyarakat biasanya menggunakan ukuran IMT sebagai indikator dalam menentukan berat badan lebih dan obesitas secara menyeluruh. Disamping itu dilakukan juga pengukuran lingkar pinggang (LP) untuk menilai akumulasi lemak abdominal sekaligus juga sebagai indikator obesitas sentral.

25,26

Penelitian ini mendapatkan hasil adanya perbaikan antropometri pada mereka yang melakukan pola hidup medik selama 12 minggu. Perbaikan yang didapat adalah penurunan berat badan sebesar 3,3 %, penurunan lingkar pinggang sebesar 5,7 % dan penurunan IMT sebesar 3,4 % dan bermakna secara statistik. Sedangkan pada kelompok yang menambahkan metformin dengan dosis 3 x 500 mg pada pola hidup mediknya mendapatkan adanya hasil yang lebih baik. Adapun perbaikan yang didapat pada kelompok yang menggunakan metformin adalah; penurunan berat badan sebesar 5,1 %, lingkar pinggang sebesar 6,8 % dan IMT sebesar 5,7 %. Hasil ini terlihat berbeda dibandingkan dengan hasil DPP study atau IDPP study.30,32 Bahkan hasil ini melewati batasan yang ditetapkan oleh

United State Food Drugs Administration (US FDA) yang membatasi efikasi penurunan berat badan diatas 5 % pada suatu terapi anti obesitas setelah digunakan selama 12 minggu.33

Beberapa penelitian serupa yang telah dilakukan sebelumnya untuk melihat pengaruh pola hidup medik dengan metformin terhadap beberapa parameter kardiometabolik dan antropometri mendapatkankan adanya hasil yang positif.

Dimana pada penelitian ini ketika dibandingkan perubahan parameter berat badan dan IMT pada kedua kelompok setelah modifikasi pola hidup medik selama 12 minggu terlihat pada kelompok metformin lebih besar menurunkan berat badan dan IMT dibanding kelompok plasebo yang signifikan secara statistik. Kondisi ini menjadi bukti yang positif bahwa metformin kelihatannya mempunyai efek menurunkan berat badan pada pasien obesitas non diabetes.

26

Penelitian yang paling terkenal adalah Diabetes Prevention Programs

(DPP) study pada tahun 2002 yang mendapatkan adanya penurunan berat badan 5-7 % dan aktivitas fisik yang sedang (moderate) selama 2,8 tahun pada pasien prediabetes.28 Penelitian DPP juga mendapatkan hasil bahwa kelompok dengan pola hidup medik selama 2,8 tahun mendapatkan hasil yang lebih baik dibandingkan penggunaan metformin yang hanya mendapatkan penurunan berat badan 2,5 %. Penelitian lain adalah Indian Diabetes Prevention Program (IDPP)

study pada tahun 2006 yang menilai efek pola hidup medik dengan metformin terhadap populasi Asia India yang mempunyai resiko diabetes. Penelitian ini pada akhirnya mendapatkan adanya perbaikan resiko diabetes sebesar 26,4 % pada

kelompok dengan pola hidup medik dan 28,2 % pada kelompok yang ditambahkan metformin.

Di Indonesia sendiri ada beberapa penelitian serupa yang pernah dilakukan juga mendapatkan hasil yang hampir sama. Penelitian pertama adalah penelitian yang dilakukan Asman Manaf, dkk di Padang pada tahun 2008 yang mendapatkan adanya perbaikan parameter antropometri, kadar glukosa darah, profil lipid dan adiponektin setelah melakukan pola hidup medik dan penambahan metformin selama 12 minggu.

29

27

Penelitian ke dua adalah penelitian Dharma Lindarto di Medan pada tahun 2011 pada populasi sindroma metabolik mendapatkan adanya perbaikan parameter antropometri, perbaikan tekanan darah, profil lipid dan adiponektin serta chemerin.

Beberapa hal yang membedakan hasil penelitian ini dengan penelitian serupa yang dilakukan sebelumnya adalah: a). Usia populasi penelitian ini yang relatif lebih muda sehingga memiliki metabolisme basal yang lebih besar.

30

b). Batasan IMT yang digunakan pada penelitian ini adalah batasan obesitas Asia Pasifik (IMT ≥ 25 kg/m2

) dan lebih rendah batasannya dengan batasan DPP study yang menggunakan batasan obesitas menurut WHO (IMT ≥ 30 kg/m2

c). Terprogramnya kegiatan olah raga yang dilakukan populasi penelitian ini dengan seragam selama 12 minggu dan d). Dosis metformin lebih kecil dibanding DPP study. e). Sampel pada penelitian ini lebih sedikit dibandingkan penelitian sebelumnya.

).

Terjadinya peningkatan perbaikan antropometri pada populasi yang menggunakan metformin dalam modifikasi pola hidup pada penelitian ini, menjadi dukungan baru yang kuat terhadap penelitian yang menilai penggunaan metformin pada pasien obesitas tanpa diabetes yang telah dilakukan sebelumnya.

Pada penelitian ini didapatkan juga adanya perbaikan yang bermakna pada tekanan darah sistolik maupun diastolik pada kelompok dengan atau tanpa metformin dengan modifikasi pola hidupnya. Kondisi ini disebabkan karena oleh penurunan berat badan, pengurangan massa lemak dan pengurangan komposisi tubuh, juga pada kelompok dengan metformin karena terdapatnya efek yang positif dari metformin terhadap kondisi vaskuler. Dimana pada penelitian lain yaitu penelitian Abubakar di Nigeria pada tahun 2009 yang mendapatkan hasil

tidak terdapatnya korelasi pasti antara penurunan tekanan darah dengan penurunan berat badan.35 Efek positif metformin yang dapat memperbaiki vaskuler dan tekanan darah pada pola hidup medik adalah adanya efek memperbaiki fungsi endothel, hemostasis, inflamasi vaskuler dan stress oksidatif.

Pada penelitian ini dijumpai perbedaan bermakna kadar gula darah puasa setelah intervensi dengan metformin ( p: 0.029) . Sedangkan pada kelompok yang menggunakan plasebo didapat perbaikan kadar glukosa darah 2 jam post prandial yang bermakna secara statistik (0,009). Pada DPP study dan IDPP study yang mendapatkan adanya perbaikan yang bermakna terhadap parameter kadar glukosa darah setelah melakukan pola hidup medik dengan atau tanpa metformin.

35,36,37

29,30

Penelitian Dharma Lindarto di Medan pada kelompok sindroma metabolik tidak ditemukan perbedaan bermakna pada kedua kelompok.31Penelitian lain yang selaras dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Tina dkk di Australia pada tahun 2007 yang hanya mendapatkan perbaikan kadar glukosa darah puasa yang bermakna setelah melakukan pola hidup medik selama 12 minggu.38 Adanya perbedaan hasil penelitian ini dengan penelitian sebelumnya dikarenakan oleh: kadar glukosa darah populasi penelitian ini yang mayoritas masuk kedalam kategori normal, disamping alasan lain berupa terbatasnya sampel pada penelitian ini.

CRP merupakan marker inflamasi non spesifik yang berperan pada kejadian penyakit jantung, DM tipe 2 dan malignansi. Dimana CRP mempunyai korelasi yang penting dengan adipositas dan berhubungan positif dengan IMT dan lingkar pinggang, didapatkan bahwa penurunan berat badan dapat menurunkan kadar CRP.

38

41,42,

Pada penelitian ini didapatkan penurunan kadar CRP -14.83 % setelah dilakukan intervensi pola hidup medik dengan metformin setelah 12 minggu meskipun hasil ini secara statistik tidak signifikan, sementara pada kelompok intervensi pola hidup medik tanpa metformin tidak dijumpai penurunan kadar CRP malah dijumpai peningkatan kadar CRP 5,4%. Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian Djoko Hardiman tahun 2008 di Semarang, penelitian dilakukan pada populasi prediabetes dimana pada kelompok dengan metformin terjadi penurunan kadar hs-CRP, PAI-1, VCAM dan fibrinogen, dan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan semua marker inflamasi tersebut. Selvin

dkk pada tahun 2007 dalam penelitian mereka mendapatkan bahwa penurunan berat badan merupakan strategi non farmakologis yang efektif untuk menurunkan kadar CRP dan dalam penelitian mereka juga disimpulkan dengan penurunan setiap 1 kilogram berat badan dapat menurunkan kadar CRP -0,13 mg/L.43

DPP study tahun 2005 didapatkan bahwa kelompok subjek pria dengan TGT yang mendapat metformin 2 x 850 mg per hari terjadi penurunan kadar hs-CRP sebesar 7% sedangkan pada kontrol terjadi kenaikan 5%, sedangkan pada jenis kelamin wanita terjadi perbaikan hs-CRP 14% dan kontrol 0% setelah intervesi 12 bulan.

44

Romano dkk tahun 2003 dalam suatu penelitian observasional didapatkan bahwa ada korelasi negatif antara sensitifitas reseptor terhadap insulin dengan hs-CRP maupun PAI-1, F.VIIa dan TGF-1.45 Beberapa peneliti juga melaporkan adanya hubungan yang kuat antara kadar CRP dengan kadar insulin puasa.46,47 Penelitian lain di Medan oleh Dharma Lindarto tahun 2011 didapatkan penurunan yang signifikan kadar CRP pada kelompok intervensi pola hidup medik tanpa metformin sementara kelompok dengan metformin tidak didapatkan perbedaan bermakna.31 Penelitian lain tidak ditemukan penurunan kadar CRP dengan intervensi latihan fisik aerobik selama 12 bulan.48 Penurunan kadar CRP ini dikarenakan penurunan parameter antropometri termasuk berat badan, lingkar pinggang dan IMT, dimana jaringan adiposa ini akan menghasilkan

IL6, IL1 dan TNFα yang memberi sinyal kepada hepatosit untuk memproduksi

CRP dengan pengaturan diet dan aktifitas fisik yang dilakukan mengakibatkan penurunan parameter antropometri, hal ini menyebabkan penurunan pelepasan adipokin karena produksi CRP selain di hepar juga di ekstrahepatik yang distimulasi oleh resistin.49 Selain itu juga efek pleotropik dari metformin terhadap penanda inflamasi dan efeknya terhadap lipolisis .50 Dalam penelitian ini tidak didapatkan penurunan yang bermakna kadar CRP kemungkinan waktu intervensi yang singkat dimana pada penelitian sebelumnya lama intervensi dalam 5-24 bulan.43 Pada penelitian ini terjadinya penurunan kadar CRP pada akhir penelitian saat di korelasikan dengan parameter antropometri memakai uji korelasi pearson tidak dijumpai korelasi yang kuat penurunan CRP dengan parameter antropometri.

Suatu studi observasional ditemukan adanya korelasi yang kuat antara penurunan kadar CRP dengan IMT setelah 4 tahun terapi dengan metformin.51 Pada penelitian ini tidak ditemukan korelasi yang kuat dikarenakan waktu follow up yang singkat hanya 12 minggu.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait