BAB V HASIL PENELITIAN
6.3 Gambaran Efektivitas Event Marketing Talk Show dan Poster
Pada tabel 5.25 hasil menunjukkan bahwa event marketing talk show dan poster contest efektif berdasarkan experience dengan nilai rata-rata
150 sebesar 76,16 untuk talk show dan 68,8 untuk poster contest. Kefektifan tersebut menyatakan bahwa event marketing talk show dan poster contest efektif untuk melihat experience konsumen atau calon konsumen. Experience yang diharapkan tidak hanya pengalaman baik konsumen mengikuti event marketing tetapi juga rumah sakit dapat menangkap kebutuhan konsumen melalui event marketing yang dilaksanakan. Event marketing sebagai salah satu strategi pemasaran rumah sakit berusaha untuk memahami kebutuhan pelanggan terhadap pelayanan kesehatan yang tersaji dalam tema talk show dan poster contest. Hal tersebut didukung dengan adanya pandangan menurut Tjiptono (1997) bahwa pada dasarnya strategi pemasaran salah satunya memberikan arah untuk memahami kebutuhan pelanggan dan mengidentifikasi pelayanan macam apa yang dapat diberikan.
Tujuan dari pemenuhan kebutuhan konsumen adalah tercapainya kepuasan konsumen terhadap pelayanan rumah sakit yang nantinya akan berimbas kepada terciptanya loyalitas konsumen terhadap rumah sakit. Loyalitas konsumen berarti menunjukkan bahwa konsumen percaya akan pelayanan kesehatan yang diberikan rumah sakit dan pelyanan tersebut sesuai dengan kebutuhannya sehingga terjadi pembelian jasa atau produk berulang. Citra positif rumah sakit pun tercipta dan diharapkan konsumen yang memiliki loyalitas tinggi secara tidak langsung dapat menjadi marketer rumah sakit untuk menyarankan atau membuat topik mengenai RSIA
151 Kemang Medical Care dalam perbincangan dengan orang sekitar. Dalam hal ini, media pemasaran word of mouth lah yang digunakan.
Upaya menciptakan loyalitas dan penambahan jumlah konsumen di rumah sakit diharapkan dapat meningkatkan kinerja RSIA Kemang Medical Care dengan meningkatnya nilai BOR, ALOS, TOI, dan BTO rumah sakit. Kinerja RSIA Kemang Medical Care tergambarkan melalui nilai BOR, ALOS, TOI, dan BTO. Sejak tahun 2011 sampai tahun 2013 RSIA Kemang Medical Care hanya nilai BTO saja yang mencapai standar Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Sedangkan, nilai BOR, ALOS, dan TOI sejak tahun 2011 sampai 2013 belum mencapai standar Kemenkes. Perlu diteliti lebih jauh mengapa hal tersebut terjadi selama tiga tahun berturut. Lalu, rumah sakit dapat melakukan perbaikan dengan memahami bahwa pilihan pasien terhadap rumah sakit dapat didasarkan pada kebutuhan pasien, baik dari segi jenis pelayanan maupun kebutuhan dokter yang diinginkan.
Sari (2013) pun mengemukakan bahwa tujuan melakukan pemenuhan kebutuhan maupun keinginan adalah tercapainya tingkat kepuasan setinggi mungkin. Produk ataupun jasa yang dapat memberikan kepuasan tertinggi kepada konsumen akan menguatkan kedudukan produk atau jasa tersebut dalam benak atau ingatan konsumen dan akan menjadi pilihan pertama ketika terjadi pembelian di waktu yang akan datang karena pelayanan yang baik adalah dapat mengerti keinginan pelanggan dan senantiasa memberikan nilai tambah di mata pelanggan. Menurut Hartono (2010), kebutuhan konsumen atau pasien dapat dipenuhi dan keinginan konsumen atau pasien
152 dapat tersalur dengan baik melalui upaya pemasaran dimana pemberi pelayanan peduli terhadap kesejahteraan mereka karena hubungan antara pemberi pelayanan dengan konsumen atau pasien akan terjalin dengan baik melalui upaya pemasaran.
RSIA Kemang Medical Care perlu mengetahui penyebab experience dapat berdampak pada perilaku konsumen dalam jangka pendek dan dalam jangka panjang serta bagaimana lingkungan dan konteks budaya dapat membentuk pengalaman. Dalam hal tersebut, rumah sakit dapat memprediksi tren perubahan perilaku konsumen yang dilihat dari sebab-sebab yang telah diketahui sehingga RSIA Kemang Medical Care dapat lebih memahami konsumen dan bersiap menghadapi perubahan perilaku konsumen dalam memilih pelayanan kesehatan. Experience yang didapat oleh konsumen mulai dari persepsi sensorik, perasaan, dan tindakan yang dihasilkan dari pengalaman.
Husserl (1931) dan Brentano (1874/1973) dalam penelitian Schmitt (2010) menyatakan bahwa pengalaman sering tidak dihasilkan sendiri (beberapa pemikiran dan kognisi) tetapi diinduksi. Pemasaran telah berfokus tidak hanya pada proses konsumen internal berupa pengalaman psikologi konsumen tapi juga pada rangsangan yang membangkitkan pengalaman konsumen. John Dewey (1925) dalam Schmitt (2010) berpendapat bahwa pengetahuan menjadi satu bagian dari pengalaman individu. Selain penentuan intelektual, yang dihasilkan dari pengetahuan, individu memiliki persepsi sensorik, perasaan, dan tindakan yang dihasilkan dari pengalaman.
153 Event marketing talk show bukan menjadi strategi pemasaran baru di RSIA Kemang Medical Care karena sudah dilakukan sejak tahun 2013 hingga tahun 2014 dengan tema kesehatan yang berbeda-beda. Perbedaan event marketing talk show di tahun 2013 dan tahun 2014 adalah pada tahun 2013 rumah sakit dalam melakukan event marketing dengan tema tertentu tidak berusaha menangkap kebutuhan pelanggan terhadap tema pelayanan kesehatan yang disajikan melalui event marketing talk show, sedangkan pada tahun 2014 ini melalui evaluasi efektivitas event marketing, rumah sakit dapat mengidentifikasi kebutuhan pelanggan terhadap tema pelayanan kesehatan yang disajikan yang berkaitan dengan psikologi anak.
Berbeda dari event marketing talk show, event marketing poster contest menjadi bentuk event marketing baru yang dilakukan oleh RSIA Kemang Medical Care yang baru pertama kali dilakukan di tahun 2014. Event marketing poster contest memiliki tema mengenai ASI. Hasil yang didapat peneliti menunjukkan bahwa sebanyak 25 (80,6%) responden talk show merasa sangat setuju membutuhkan pelayanan kesehatan mengenai ASI atau psikologi anak bahkan 26 (83,9%) responden talk show merasa sangat setuju membutuhkan informasi lebih dalam mengenai ASI atau psikologi anak. Kebutuhan konsumen telah tersedia dimana RSIA Kemang Medical Care telah memiliki klinik laktasi dan klinik psikologi. Hal ini menjadi benar bahwa RSIA Kemang Medical Care telah berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan.
154 Tidak hanya sampai disitu saja, menurut Kotler (1985) dalam buku Hartono (2010), disebutkan bahwa apabila rumah sakit telah menerapkan konsep pemasaran maka rumah sakit akan jauh lebih sensitif dalam memahami tentang kebutuhan-kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan, lebih mampu mengembangkan dan menyelenggarakan pelayanan-pelayanan baru yang berhasil, dan dapat menciptakan kepuasan bagi para klien/pasien, dokter, perawat, dan petugas-petugas lainnya. Oleh karena itu, konsep pemasaran yang telah dibuat oleh RSIA Kemang Medical Care berupa event marketing masih dapat dimaksimalkan dalam memahami kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat agar dapat menciptakan kepuasan pelanggan.
Adanya kebutuhan pelanggan untuk mendapatkan informasi lebih dalam mengenai ASI dan psikologi anak dapat menjadi pertimbangan rumah sakit untuk lebih menggali informasi yang harus diberikan kepada pasien selain informasi yang ada dalam event marketing talk show sehingga pada saat pasien menggunakan klinik psikologi, kebutuhan mereka akan informasi lebih dalam mengenai psikologi anak akan terpenuhi.
Hasil dari event marketing poster contest berbeda dari event marketing talk show, peneliti mendapatkan hasil bahwa sebanyak 20 (64,5%) responden poster contest merasa setuju membutuhkan pelayanan kesehatan mengenai ASI atau psikologi anak, dan terdapat 7 (22,6%) responden poster contest tidak setuju merasa membutuhkan pelayanan kesehatan mengenai ASI atau psikologi. Hasil lainnya didapatkan sebanyak 19 (61,3%)
155 responden event marketing poster contest merasa setuju membutuhkan informasi lebih dalam mengenai ASI dan psikologi anak dan terdapat 1 (3,2%) menyatakan tidak setuju membutuhkan informasi lebih dalam mengenai hal tersebut. Responden event marketing talk show tidak ada yang menyatakan tidak setuju sedangkan responden event marketing poster contest ada yang menyatakan tidak setuju.
Keputusan setiap orang ada yang sama adapula yang berbeda. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa hal. Menurut Simamora (2001), keputusan seseorang dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahap daur-hidup, jabatan, keadaan ekonomi, gaya hidup, kepribadian, dan konsep diri yang bersangkutan. Peneliti mendapatkan hasil bahwa karakteristik responden talk show dan poster contest berbeda dari segi umur. Responden poster contest mayoritas memiliki rentang umur 18-23 tahun yaitu sebanyak 29 (93,5%) responden, sedangkan responden talk show mayoritas memiliki rentang umur 24-30 tahun yaitu sebanyak 20 (64,5%) responden. Oleh karena itu, keputusan jawaban antara responden event marketing talk show dan poster contest berbeda.
Peneliti juga mendapatkan hasil bahwa sebanyak 22 (71%) responden talk show memilih RSIA Kemang Medical Care sebagai rumah sakit pilihan pertama sedangkan 16 (51,6%) responden poster contest yang memilih RSIA Kemang Medical Care sebagai rumah sakit pilihan pertama bahkan terdapat 8 (25,8%) responden menyatakan tidak setuju memilih RSIA Kemang Medical Care sebagai rumah sakit pilihan pertama.
156 Menurut Simamora (2001), pilihan konsumen tidak bisa didasarkan pada hasil belajar pengalaman sendiri, akan tetapi juga dari pengalaman orang lain. Melalui experience tidak hanya dapat melihat kebutuhan responden tetapi juga pengalaman responden setelah mengikuti event marketing, sebanyak 28 (90,3%) responden talk show dan sebanyak 22 (71%) responden poster contest menyatakan bahwa event marketing tersebut mengembangkan keterampilan dan kemampuan mereka. Lalu, sebanyak 26 (83,9%) responden talk show dan sebanyak 22 (71%) responden poster contest menyatakan bahwa mereka mendapatkan pengalaman menarik dalam mengikuti event marketing tersebut. Keduanya menunjukkan hasil pengalaman yang positif dan dapat menjadi keunggulan rumah sakit dimata konsumen. Duncan (2005) dalam penelitian Prabawanti (2012) menyebutkan bahwa event marketing yang diselenggarakan harus memiliki pengaruh (impact) serta memberikan kesan mendalam kepada setiap orang yang hadir. Dan kesan mendalam yang baik dapat menjadi suatu keunggulan dari sebuah rumah sakit.
Keunggulan yang ada diharapkan kembali lagi dapat memunculkan loyalitas konsumen. Melalui usaha rumah sakit untuk melibatkan emosi antara rumah sakit dengan konsumen yang akan membentuk pengalaman tersendiri bai konsumen. Tentunya pengalaman yang didapat oleh konsumen merupakan pengalaman baik yang membuat konsumen sadar adanya perbedaan antara RSIA Kemang Medical Care dengan rumah sakit lainnya.
157 Serta diharapkan mereka merasakan pengalaman yang berbeda yang tidak mereka temukan di rumah sakit lainnya.
Dalam jurnal yang dibuat oleh Oswald A. Mascarenhas, Kesavan Ram dan Michael Bernacchi dari College of Business Administration, University of Detroit Mercy, Detroit, Michigan, USA, yang berjudul “Lasting Customer Loyalty: a Total Customer Experience Approach”, yang kemudian dijabarkan dalam penelitian Kartika (2010), dijelaskan bahwa untuk memelihara loyalitas konsumen diperlukan sebuah pendekatan yaitu dengan melakukan pendekatan pengalaman konsumen. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa sebuah pengalaman merupakan suatu keharusan bagi bisnis dan sebuah bisnis harus benar-benar mempertimbangkan bagaimana merancang, menghasilkan, dan menawarkan sebuah pengalaman bagi konsumennya. Perusahaan berlomba-lomba mengelola yang terbaik dengan cara mengkombinasikan keuntungan-keuntungan fungsional dan emosional dari apa yang mereka tawarkan kepada konsumen dimana menyentuh konsumen dari sisi emosi yang sulit ditiru oleh para pesaing.
6.4 Gambaran Efektivitas Event Marketing Talk Show dan Poster Contest di RSIA Kemang Medical Care Tahun 2014 Berdasarkan Brand Awareness (Kesadaran Merek)
Pada tabel 5.28 hasil menunjukkan bahwa event marketing talk show dan poster contest efektif berdasarkan brand awareness dengan nilsi rata-rata sebesar 25,94 untuk talk show dan 25,45 untuk poster contest.
158 Keefektifan tersebut menyatakan bahwa event marketing talk show dan poster contest efektif untuk melihat brand awareness konsumen atau calon konsumen terhadap RSIA Kemang Medical Care.
Total skor efektivitas event marketing poster contest setiap responden dari poster contest, peneliti mendapatkan hasil bahwa terdapat sebanyak 3 (9,7%) responden poster contest menghasilkan total skor yang menyatakan event marketing poster contest tidak efektif berdasarkan brand awareness, tetapi nilai akhir rata-rata menyatakan event marketing poster contest efektif berdasarkan brand awareness. Meskipun masih ada 3 responden yang menghasilkan ketidakefektifan event marketing poster contest namun hasil akhir event marketing poster contest efektif. Sitorus (2010) menyatakan salah satu fungsi dari event marketing adalah menciptakan brand awareness yang tinggi dan instan. Oleh karena itu, brand awareness konsumen atau calon konsumen bisa didapatkan melalui event marketing
Salah satu tujuan utama dari pemasaran adalah untuk menciptakan, membangun dan mempertahankan brand awareness. Langkah atau tindakan yang dilakukan dalam menciptakan brand awareness menjadi suatu jalur yang menghubungkan komunikasi antara konsumen dengan rumah sakit. Salah satunya melalui event marketing talk show dan poster contest yang dilaksanakan RSIA Kemang Medical Care yang diharapkan dapat menciptakan brand awareness dan dapat mempengaruhi keputusan konsumen atau calon konsumen untuk memilih RSIA Kemang Medical Care.
159 Rossiter dan Percey (1987) dalam Macdonald dan Sharp (2003) menyatakan bahwa brand awareness diperlukan untuk proses berlangsungnya komunikasi dan mendahului semua langkah-langkah lain dalam proses komunikasi. Seorang konsumen tidak akan membeli merek kecuali dia menyadari keberadaannya. Sebuah merek yang tidak dianggap di tempat pertama tidak dapat dipilih. Brand awareness memiliki efek yang signifikan terhadap pengambilan keputusan konsumen dengan merek mempengaruhi pertimbangan konsumen dan merek tersebut akan mereka pilih.
. Menurut Chi, dkk (2009) Keputusan pembelian konsumen dapat dipengaruhi jika produk memiliki brand awareness yang lebih tinggi. Konsumen akan memiliki niat pembelian yang lebih tinggi pada merek terkenal dan akrab bagi mereka dimana memiliki brand awareness yang lebih tinggi. Oleh karena itu, semakin tinggi kesadaran merek, semakin tinggi niat beli seseorang. Hal ini menjelaskan mengapa produk dengan nilai brand awareness yang lebih tinggi lebih mungkin untuk mempengaruhi niat pembelian dan akhirnya dipilih untuk pembelian.
RSIA Kemang Medical Care secara lebih lanjut dapat melihat brand awareness konsumen terhadap jasa pelayanan yang ada dimana akan diketahui secara spesifik jasa pelayanan apa yang ada dalam benak mereka sehingga mereka memilih RSIA Kemang Medical Care. Pelayanan yang disebutkan oleh konsumen dapat menjadi salah satu pertimbangan mengembangkan atau memperbaiki pelayanan menjadi lebih baik menuju
160 arah memenuhi kebutuhan masyarakat. Selanjutnya, niat beli konsumen dapat digunakan rumah sakit untuk mempredikai perilaku konsumen.
Hal tersebut seperti yang dikatakan oleh Fishbein dan Ajzen (1975) dalam Chi, dkk (2009) bahwa niat beli konsumen dianggap sebagai kecenderungan subjektif terhadap suatu produk dan bisa menjadi indeks penting untuk memprediksi perilaku konsumen. Dan dari sudut pandang empiris, banyak peneliti telah menunjukkan bahwa langkah-langkah brand awareness adalah prediktor kuat dari perilaku pilihan konsumen.
Menurut mantan Kepala Bagian Pemasaran RSIA Kemang Medical Care, beliau mengamati perilaku pemilihan pelayanan kesehatan konsumen RSIA Kemang Medical Care. Konsumen RSIA Kemang Medical Care memiliki perilaku suka mencoba berbagai rumah sakit dan akan berhenti mencoba sampai mereka menemukan rumah sakit yang tepat atau cocok dengan diri mereka. Namun, belum diketahui lebih lanjut bagaimana bentuk pelayanan kesehatan yang tepat atau cocok menurut konsumen. Sebab itu, hal tersebut dapat menjadi masukan bagi RSIA Kemang Medical Care untuk lebih dalam mengetahui bagaimana pandangan brand awareness konsumen atau calon konsumen terhadap RSIA Kemang Medical Care dan apa penyebab perilaku konsumen dalam memilih suatu pelayanan kesehatan.
Brand awareness juga menjadi penting karena tidak hanya dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pembelian seseorang tetapi juga dapat membentuk brand image (citra merek). Dikatakan bahwa brand image tidak akan terbentuk tanpa adanya brand awareness. Oleh karena itu,
161 melalui event marketing talk show dan poster contest RSIA Kemang Medical Care dapat membentuk citra positif rumah sakit dimulai dengan membangun brand awareness yang baik dimata konsumen atau calon konsumen.
Menurut Macdonald dan Sharp (2004) brand awareness harus menjadi fokus utama dari upaya pemasaran organisasi apapun karena memiliki sejumlah fungsi yang sangat penting. Sudah secara luas diakui bahwa tanpa terjadi brand awareness, brand image tidak dapat terbentuk.
Berdasarkan penjelasan diatas, jika dianalisis lebih lanjut, event marketing poster contest efektif digunakan untuk memperkenalkan rumah sakit atau memberikan gambaran umum rumah sakit kepada konsumen atau calon konsumen. Hal tersebut dikarenakan dalam event marketing poster contest partisipan akan mencari tahu informasi mengenai RSIA Kemang Medical Care mulai dari logo untuk ditampilkan dalam poster sampai visi dan misi rumah sakit agar poster yang dibuat sesuai dengan persyaratan. Sedangkan, event marketing talk show efektif digunakan untuk promosi klinik tertentu atau product knowledge (pengetahuan produk) kepada konsumen atau calon konsumen karena tidak semua pelayanan dalam rumah sakit cocok dipromosikan dengan event marketing talk show. Contohnya, jika rumah sakit ingin mempromosikan pelayanan bedah caesar, event marketing poster contest tidak efektif untuk dilakukan karena konsumen atau calon konsumen tidak mendapat promosi langsung dari rumah sakit. Selain itu, rumah sakit harus memiliki cara penyampaian informasi yang
162 berbeda agar mudah dimengerti, masuk dalam benak konsumen, dan sesuai dengan etika promosi rumah sakit.
Pada tahap recognition of brand, terdapat 10 (32,3%) responden poster contest baru mengetahui adanya RSIA Kemang Medical Care setelah mengikuti event marketing tersebut. Hal positif yang dapat dipahami adalah responden menjadi tahu dan mengenal RSIA Kemang Medical Care melalui event marketing poster contest. Menurut Peter dan Olson (2002) dalam penelitian Khairunnas (2011) menyebutkan bahwa brand awareness menjadi sebuah tujuan umum untuk semua strategi promosi, salah satunya event marketing. Dengan menciptakan brand awareness, rumah sakit berharap bahwa kapanpun kebutuhan konsumen muncul, brand yang akan muncul kembali dalam ingatan adalah RSIA Kemang Medical Care yang selanjutnya dijadikan pertimbangan berbagai alternatif dalam pengambilan keputusan. Mereka dapat mengingat kembali RSIA Kemang Medical Care karena mereka menempatkan RSIA Kemang Medical Care kedalam benak mereka melalui event marketing yang memiliki kekhasan tersendiri.
Event marketing dapat dijadikan sebagai media memperkenalkan suatu brand kepada konsumen yang lebih luas dan event marketing dianggap efektif dalam memasarkan produk dan untuk meningkatkan awareness. Hal tersebut dapat disebabkan karena dalam melaksanakan event marketing talk show dan poster contest RSIA Kemang Medical Care mempublikasikan event atas nama RSIA Kemang Medical Care ke berbagai media sosial dan menggunakan brosur untuk event marketing talk show.
163 Sebab itu, secara tidak langsung rumah sakit sedang melakukan promosi rumah sakit.
6.5 Gambaran Efektivitas Event Marketing Talk Show dan Poster Contest di RSIA Kemang Medical Care Tahun 2014 Berdasarkan Brand Positioning (Posisi Merek)
Pada tabel 5.31 hasil menunjukkan bahwa event marketing talk show dan poster contest efektif berdasarkan brand positioning dengan nilai rata-rata sebesar 22,32 untuk talk show dan 21,87 untuk poster contest. Keefektifan tersebut menyatakan bahwa event marketing talk show dan poster contest efektif untuk melihat brand positioning konsumen atau calon konsumen terhadap RSIA Kemang Medical Care.
Brand positioning yang ingin didapatkan oleh RSIA Kemang Medical Care melalui event marketing adalah RSIA Kemang Medical Care sebagai rumah sakit yang peduli terhadap kebutuhan wanita, anak, remaja, dan anggota keluarga, perhatian terhadap wanita dan anak, menyelenggarakan event yang berbeda dari rumah sakit lainnya, dan menunjukkan bahwa RSIA Kemang Medical Care memiliki kelebihan dibandingkan rumah sakit lainnya. Brand positioning sesungguhnya menjadi suatu jalur untuk membedakan antara brand rumah sakit yang satu dengan yang lainnya. Setiap rumah sakit sebaiknya menunjukkan keunikan dan kelebihannya kepada konsumen sehingga konsumen dapat mengingat brand suatu rumah sakit. Sebab itu pula, event marketing ini menjadi salah satu jalur dari RSIA
164 Kemang Medical Care dalam mewujudkan hal tersebut. Hasilnya pun terlihat bahwa event marketing poster contest dan talk show efektif berdasarkan brand positioning. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Gelder (2005) menyatakan bahwa brand positioning adalah suatu cara untuk mendemonstrasikan keunggulan suatu merek dan perbedaanya dari kompetitor lain.
Brand positioning yang telah terbentuk dan berhasil maka akan ada keterhubungan antara konsumen dengan brand tersebut. Konsumen akan memposisikan brand dalam pandangan atau positioning yang diharapkan atau sesuai dengan positioning yang ditetapkan oleh rumah sakit. Maka pesan tersampaikan dengan baik dimana citra dari rumah sakit pun akan baik.
Kotler dan Keller (2008) dalam Fau (2013) menjelaskan positioning sebuah brand berkaitan dengan asosiasi brand tersebut di benak konsumen, dan apabila kampanye positioning sebuah brand telah berhasil akan terbentuk asosiasi dari konsumen terhadap sebuah brand seperti yang diinginkan oleh pihak produsen.
Event marketing membuat rumah sakit secara tidak langsung melakukan promosi rumah sakit dengan memberikan sesuatu yang berbeda dari rumah sakit lainnya. Hal ini sesuai dengan tujuan penyelenggaraan event menurut kotler (2006) yaitu membuka peluang promosi, membuat pengalaman dan membangun perasaan, menunjukkan komitmen rumah sakit
165 pada masyarakat, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan nama dan image suatu rumah sakit atau produk jasa tertentu.
Brand positioning berkaitan dengan bagaimana pandangan konsumen terhadap brand rumah sakit. Tidak hanya brand awareness yang dapat ditingkatkan melalui event marketing, event marketing pun dapat meningkatkan brand positioning rumah sakit. Menurut Sitorus (2010), event marketing memiliki fungsi memperkuat positioning suatu brand. Kartajaya (2004) juga menyebutkan bahwa positioning merupakan suatu strategi mengarahkan konsumen secara kredibel. Kredibel memiliki maksud bahwa rumah sakit memposisikan brand dengan positioning yang sesuai dengan keadaan rumah sakit sehingga ketika rumah sakit menyatakan diri sebagai brand yang peduli terhadap anak dan wanita, maka harus dinyatakan atau direalisasikan dengan bentuk pelayanan kesehatan anak dan wanita yang berkualitas dan sesuai kebutuhan masyarakat. RSIA Kemang Medical Care menyatakan diri sebagai rumah sakit yang peduli terhadap anak, wanita, dan