BAB III METODOLOGI PENELITIAN
PERINGKAT PARTAI PEROLEHAN SUARA PERSENTASE
C. Gambaran Umum Harian Waspada
Harian Waspada mulai terbit pada hari Sabtu tanggal 11 Januari 1947 di Medan ketika kota yang tadinya berpenduduk sekitar 300 ribu ini sudah sepi sekali. Waktu itu de fakto atas kota Medan baru lebih kurang sebulan ditimbangterimakan Inggris pada pasukan Belanda.132 Kota Medan banyak disebut sepi sekali karena di
tengah-tengah suasana bangsa Indonesia yang sedang berjuang memertahankan kemerdekaan dari tentara sekutu.133 Mohammad Said menggambarkan banyak
rumah/gedung mewah yang kosong, kelihatan menyeramkan. Rumput pekarangan sudah meninggi, pasukan pihak mana saja bisa mengendapi orang lalu lalang dari situ. Hanyak di kamp Polonia yang masih termasuk pusat kota dan di daerah-daerah Tionghoa kelihatan manusianya, mereka diperlindungi selain oleh serdadu Belanda, juga oleh Poh An Tui.134
Mohammad Said adalah seorang wartawan dan tokoh pers nasional Indonesia yang telah memiliki banyak pengalaman dalam dunia pers sejak zaman perjuangan merebut kemerdekaan. Sebelum mendirikan Harian Waspada Mohammad Said telah mendirikan surat kabar lainnya seperti Pewarta Deli. Di tengah situasi politik
132 Mohammad Said dalam Prabudi Said, Berita Perisiwa 60 Tahun WASPADA (Medan: PT Prakarsa Abadai Press, 2006), h.180.
133 Sri Rizki, Dan Juni Wai, Kepemilikan Media Dan Ideologi Pemberitaan (Bandung: Disertasi Universitas Padjadjaran, 2013), h.98.
semakin tidak menentu di tahun 1947. Pasukan Belanda melalui aksi polisionil terus menyerang dan menguasai kota Medan dengan maksud ingin menegakkan kembali masa emas kejayaan kekuasaan kolonial. Di tengah situasi ini Mohammad Said ingin agar pers tetap terjaga kehadirannya sebagai obor pemberi kebenaran informasi. Apalagi di masa itu tidak ada koran pembela republik yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan dari penguasa asing. Karena itu, Mohammad Said bertekad kuat mendirikan surat kabar di tengah kemelut politik masa itu. Tekad itu diwujudkannya dengan mendirikan Waspada 11 Januari 1947.135 Harian Waspada
yang sampai sekarang masih tetap menjadi media paling terpandang di Sumatera Utara didirikan bersama Hj.Ani Idrus yang tidak lain merupakan istri Mohammad Said.136 Seperti halnya Mohammad Said, Ani Idrus juga merupakan tokoh pers
nasional yang memiliki rekam jejak yang tak kalah berjasanya bagi bangsa dan negara.
Kehadiran Harian Waspada yang memihak perjuangan memertahankan kemerdekaan membuat Belanda tidak merasa senang. Beberapa kali koran ini harus mengalami tantangan dari pemerintah kolonial tersebut. Pada tanggal 23 Juli 1948 tentara Belanda mengepung kantor Waspada untuk dibreidel. Tidak itu saja karena tindakan ini diikuti pembreidelan kedua pata ganggal 19 Agustus 1948. Tentara Belanda kembali mendatangi kantor Waspada dan mengancam sambil mencari dokumen yang mereka inginkan sampai-sampai tas anak sekolah tak luput diperiksa.
134 Kesatuan Poh An Tui, yaitu pasukan keamanan China yang dipersenjatai Inggris. Mereka ini meronda daerah Pecinan di Medan, Binjai, dan Pemantang Siantar. Kesatuan tersebut bersama dengan pasukan Belanda turut serta mempersiapkan berdirinya NST (Negara Sumatra Timur) yang disponsori Belanda dan bangsawan setempat. Lihat lebih jauh Rinardi, Haryono, Dari Negara Federal Menjadi Negara Kesatuan, Proses Perubahan Negara Republik Indonesia Serikat Menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (Bandung: Jurnal Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro, 2010), h.5.
135 Budi Agustono, Pemikiran Sosial Mohammad Said (Medan: Makalah Seminar The Big Thinkers; Melacak Pemikiran Mohammad Said dan Ani Idrus dalam rangka HUT Waspada ke-67, di Hotel Soechi 11 Januari 2013).
136 Ahmad Taufan Damanik, Hajjah Ani Idrus, Perempuan Pejuang Tak Kenal Lelah (Medan: Makalah Seminar The Big Thinkers; Melacak Pemikiran Mohammad Said dan Ani Idrus dalam rangka HUT Waspada ke-67, di Hotel Soechi 11 Januari 2013).
Namun tindakan ini tidak menyurutkan perjuangan di dunia pers yang dilakukan, karena setelah dibreidel selama 14 hari Waspada kembali tebit. Pada April 1949 Belanda mendalangi suatu konferensi yang dilaksanakan di Sumatera Barat. Dalam pemberitaannya, Waspada melakukan kritik terhadap konferensi tersebut hingga membuat Belanda kembali marah dan lagi-lagi membreidel koran ini.
Pendirian koran yang dilandasi semangat nasionalisme yang kental membuat Waspada selalu berpihak pada perjuangan pada keutuhan negara Indonesia. Semangat ini tetap terpelihara setelah Belanda angkat kaki dari bumi nusantara yang ditunjukkan dari sikap dan pemberitaan Waspada terhadap pemberontakan yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Hal inilah yang membuat Waspada pada tahun 1954 dinyatakan sebagai bacaan terlarang oleh pemberontak di Aceh. Selanjutnya pada tahun 1956 Waspada juga dinyatakan terlarang oleh pemberontak PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia). Begitu juga di tahun 1964 Waspada ikut dalam Barisan Pendukung Soekarno (BPS) untuk menentang Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masa itu yang mengakibatkan Waspada dan semua koran BPS di seluruh Indonesia dilarang terbit. Namun pada tahun 1967, setelah sekian lama dilarang terbit, Waspada kembali terbit dalam iklim pemerintahan yang baru yakni di masa Orde Baru.
Dalam perjalanannya kemudian Harian Waspada menjadi koran nasional yang terbit di Medan, Sumatera Utara. Selama sekian lama bersama Harian Analisa, dan Harian Sinar Indonesia Baru (SIB), koran ini menjadi terbesar di Sumatera Utara. Pembacanya juga tersebar sampai ke Provinsi Aceh. Pembaca Harian Waspada didominasi oleh umat Islam dan warga pribumi atau penduduk asli Indonesia. Titik tekan pemberitaan Waspada ada pada persoalan politik dan agama. Tampilan berita-berita di halaman pertama sering diisi dengan content berita politik baik dalam skala nasional maupun lokal, sehingga Waspada sering dijadikan barometer perkembangan politik daerah. Harian Waspada juga merupakan satu- satunya koran di Sumatera Utara yang menyediakan lima halaman khusus untuk artikel agama Islam sekaligus content yang berkenaan dengan agama Islam. Rubrik yang diberinama Mimbar Jumat ini sudah ada sejak tahun 70-an dalam bentuk kolom satu tulisan yang terbit setiap hari Jumat. Kini sejalan dengan perkembangannya, kolom Mimbar Jumat tersebut sudah menjadi lima halaman Rubrik Mimbar Jumat
yang terbit setiap hari Jumat. Selain berisi artikel agama dari penulis lepas, rubrik ini juga berisi konsultasi agama Islam, hadis-hadis Nabi serta daftar khattib Jumat yang mengisi khutbah Jumat di masjid-masjid di kota Medan maupun di daerah kabupaten/kota yang ada di Sumatera Utara.
Sekarang ini Harian Waspada menjadi perusahaan keluarga dan dikelola oleh generasi kedua yakni anak-anak pendirinya, yakni Hj.Rayati Syafrin menjabat sebagai Pemimpin Umum, H.Prabudi Said menjabat sebagai Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab, H.Teruna Jasa Said menjabat sebagai Wakil Pemimpin Umum/Wakil Pemimpin Redaksi. Sirkulasi Harian Waspada beredar dan terkonsentrasi di Provinsi Sumatera Utara pada umumnya, kemudian di Provinsi Aceh, dan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Harian Waspada terbit dari Senin sampai Minggu.