• Tidak ada hasil yang ditemukan

Qaulan Balîghâ

Dalam dokumen BAGIAN ISI DESERTASI (Halaman 45-48)

KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Implementasi Prinsip-prinsip Komunikasi Islam

4. Qaulan Balîghâ

`Artinya: Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. (QS. An-Nisâ/4: 63)

Komunikator; Komunikator ayat ini dapat dirunut dari ayat sebelumnya pada ayat sebelumnya yakni orang-orang beriman (QS.An-Nisâ/4: 59). Ayat ini berbicara kepada orang-orang beriman tentang beberapa hal, seperti menaati Rasul dan ulil amri, dan jika berbeda pendapat maka kembali kepada Al-Qur’an dan Rasul (Al-Hadis), juga berbicara tentang perkataan yang berbekas di jiwa kepada orang munafik.

Pesan; Quraish Shihab menyatakan pesan dalam ayat adalah pesan yang sampai kepada yang dituju (komunikan). Secara panjang lebar menafsirkan ayat ini. Ia menyebutkan kata balighân terdiri dari huruf bâ, lam, dan ghain. Pakar-pakar bahasa menyatakan bahwa semua kata yang terdiri huruf-huruf tersebut mengandung arti sampainya sesuatu ke sesuatu yang lain. Ia juga bermakna “cukup” karena kecukupan mengandung arti sampainya sesuatu kepada batas yang dibutuhkan. Seorang yang pandai menyusun kata sehingga mampu menyampaikan pesannya dengan baik lagi cukup dinamai baligh. Pakar-pakar sastra menekankan perlunya

Raja, orang yang memiliki kedudukan hirarki tinggi dalam strata sosial

dipenuhi beberapa kriteria sehingga pesan yang disampaikan dapat disebut Balîghâ, yaitu:

a. Tertampung seluruh pesan dalam kalimat yang disampaikan.

b. Kalimatnya tidak bertele-tele tetapi tidak pula singkat sehingga mengaburkan pesan. Artinya, kalimat tersebut, tidak berlebih atau berkurang.

c. Kosakata yang merangkai kalimat tidak asing bagi pendengaran dan pengetahuan lawan bicara, mudah diucapkan serta tidak “berat” terdengar.

d. Kesesuaian kandungan dan gbahasa dengan sikap lawan bicara. Lawan bicara atau orang kedua tersebut—boleh jadi—sejak semula menolak pesan atau

meragukannya atau—boleh jadi—telah meyakini sebelumnya, atau belum memiliki ide sedikit pun tentang apa yang akan disampaikan.

e. Kesesuaian dengan tata bahasa.

Ayat di atas mengibaratkan hati mereka sebagai wadah ucapan, sebagaimana dipahami dari kata fi anfusihim. Wadah tersebut harus diperhatikan sehingga apa yang dimasukkan ke dalamnya sesuai, bukan saja dalam kuantitasnya, tetapi juga dengan sifat wadah itu. Ada jiwa yang harus diasah dengan ucapan-ucapan halus dan ada juga yang harus dihendakkan dengan kalimat-kalimat keras atau ancaman yang menakutkan. Walhasil, disamping ucapan yang disampaikan, cara penyampaian dan waktunya pun harus diperhatikan. Bisa juga kata itu dipahami dalam arti sampaikan nasihat kepada mereka secara rahasia, jangan permalukan mereka di hadapan umum, karena nasihat atau kritik secara terang-terangan dapat melahirkan antipati, bahkan sikap keras kepala yang mendorong pembangkangan yang lebih besar lagi.72

Sedangkan Sayyid Qutbh, mengatakan qaulan balîghâ adalah sebuah ungkapan deskriptif. Seakan-akan perkataan itu memberi bekas secara langsung pada jiwa, dan menetap secara langsung di dalam hati. Itu adalah perkataan yang mempersuasi mereka untuk sadar kembali, bertobat, bersikap istiqamah, dan merasa tentang di bawah lindungan Allah dan jaminan Rasul-Nya, setelah tampak jelas dari mereka kecenderungan untuk bertahkim kepada thagut dan tidak mau mengikuti Rasulullah SAW ketika mereka diseru untuk bertahkim kepada Allah dan Rasul-Nya.73

Sementara dalam tafsir Ibnu Katsir qaulan balîghâ yaitu nasihat kepada mereka

72 Ibid,Vol.2, h.595-597.

dalam semua perkara yang terjadi antara engkau dan mereka, dengan kata-kata yang berbekas yang dapat mencegah mereka.74

Saluran; ; Seperti ayat-ayat yang merupakan prinsip komunikasi Islam sebelumnya, saluran yang digunakan dalam menyampaikan pesan melalui komunikasi interpersonal dengan face to face communication atau komunikasi tatap wajah secara langsung. Namun esensi dari komunikasi yang disampaikan juga ada pada caranya dan kepada siapa pesan itu disampaikan. Komunikator, komunikan dan bentuk pesan yang disampaikan adalah esensi kajian yang disesuaikan dengan jumlah komunikan yang dituju. Karenanya komunikasi yang ingin meraih komunikan yang jumlahnya banyak dan tak terhitung menjadi domain komunikasi massa atau komunikasi bermedia. Dengan demikian esensi komunikasi dalam prinsip komunikasi Islam juga menjadi esensi dalam bentuk komunikasi yang lainnya. Oleh karenanya komunikasi dengan menggunakan media lainnya seperti komunikasi massa menjadi relevan untuk dilakukan dengan cara yang sama sebagaimana Musa menyampaikan pesan kepada Fira’un. Bahwa kepada pemimpin yang lalim, atau lupa diri, maka komunikator harus menyampaikannya secara lemah lembut untuk membuatnya ingat dan takut.

Komunikan; Komunikan adalah mereka yang menyembunyikan niat dan motivasi mereka yang sebenarnya, dengan berargumentasi dan dengan alasan-alasan (kaum munafik). Sebagia taktik yang harus dilakukan terhadap kaum munafik—pada wkatu itu—ialah membiarkan mereka, membimbingnya dengan lemah lembut, dan memberikan nasihat dan pelajaran kepada mereka.75

Efek; Efek yang ditimbulkan dari kata-kata yang berbekas adalah yang dapat mencegah (dari kemunafikan).76 Selain itu kata-kata yang berbekas pada jiwa agar

mereka (kaum munafik) sadar kembali, bertobat, bersikap istiqamah, dan merasa

74 Alu Syaikh, Tafsir Ibnu, Jilid 2, h.438. 75 Qutbh, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.

tenang di bawah lindungan Allah dan jaminan Rasul-Nya.77 Dengan kata-kata yang

berbekas pada jiwa, diharapkan mereka kaum munafik malu dan takut sehingga menginsyafi kesalahannya.78

Seperti halnya alur unsur komunikasi seperti sebelumnya, terdiri dari lima unsur utama yakni komunikator, pesan, saluran, komunikan, dan efek. Dengan demikian, alur unsur-unsur komunikasi seperti yang digambarkan oleh Al-Qur’an Surah An-Nisâ/4: 63 dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 5: Alur Prinsip Komunikasi Qaulan Balighâ

Dalam dokumen BAGIAN ISI DESERTASI (Halaman 45-48)