Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, implementasi strategi perbaikan infrastruktur di Kawasan Prioritas 1 adalah sebagai berikut.
3.1 Identifikasi Permasalahan Infrastruktur Perumahan di Kawasan Prioritas I
Kawasan prioritas I merupakan kawasan yang terdiri dari 5 kelurahan yaitu Joyotakan, Semanggi, Pasar Kliwon, Danukusuman dan Joyosuran. Berikut merupakan tabel permasalahan infrastruktu Kawasan Prioritas I.
Tabel 3.1 Tabel Permasalahan Infrastruktur Kawasan Prioritas I
Kelurahan Permasalahan
Joyotakan Kondisi jalan secara umum baik, sudah menggunakan perkerasan
namun masih ada beberapa jalan yang terkelupas Terdapat drainase yang tidak lancar di beberapa bagian Terdapat warga yang membuang sampah dipinggir sungai Kualitas air bersih yang kurang layak
Kawasan rawan banjir Kawasan resiko sanitasi tinggi
Semanggi Terdapat kali dengan banyak sampah dan pendangkalan
Penggunaan PDAM tinggi, akan tetapi sambungan masih sedikit didaerah timur tanggul
Kawasan rawan banjir
Terdapat permukiman kumuh di kawasan bantaran Kawasan resiko sanitasi tinggi
Pasar Kliwon Terdapat permasalahan banjir
Pengunaan PDAM cukup tinggi, permasalahan kondisi air tanah terpolusi oleh keberadaan pabrik
Polusi sungai oleh pabrik
Pelebaran jalan yang menyebabkan kemacetan Kawasan resiko sanitasi sedang
Danukusuman Masih terdapat jalan yang mengelupas
Terdapat permasalahan banjir
Pengguna PDAM sedikit, kawasan agian timur bergantung pada sumur umum dengan kondisi air tanah yang kurang baik
Polusi air tanah
Kawasan resiko sanitasi tinggi
Joyosuran Masih terdapat jalan berlubang
Terdapat permasalahan banjir
Terdapat yang membuang sampah dipinggir sungai
Kualitas PDAM kurang baik, dengan permukiman yang padat, sangat sulit menambah sambungan PDAM
Kualitas air tanah Permasalahan drainase Polusi Kali jenes
37
3.2 Proses dan Mekanisme Strategi Perbaikan Prasarana di Kawasan Prioritas I
Mekanisme yang dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat dalam melaksanakan perbaikan infrastruktur kawasan prioritas I adalah sebagai berikut.
Gambar 3.1 Alur Mekanisme Strategi Perbaikan Infrastruktur Perumahan Permukiman Sumber: Wawancara
Berdasarkan bagan di atas, dapat diketahui bahwa dalam melaksanakan strategi perbaikan infrastruktur perumahan dan permukiman juga membutuhkan input dari masyarakat melalui FGD. Selanjutnya, dilakukan perumusan kebijakan dan program untuk mewadahi input yang sudah didapat dari masyarakat. Pada tahap ini direncanakan pula anggaran yang akan dialokasikan untuk melaksanakan program. Kemudian, dilakukan sosialisasi program perbaikan infratsruktur ke lokasi-lokasi yang telah ditentukan. Pada akhirnya dilakukan implementasi program oleh masyarakat dan instansi terkait, yaitu DPU, BLH, PDAM, Kecamatan, dan Kelurahan.
Pelaksanaan FGD tingkat kelurahan
Identifikasi isu-isu di kawasan tersebut
Perumusan kebijakan
Sosialisasi program perbaikan infrastruktur ke kelurahan
Implementasi program oleh masyarakat dan dinas terkait
38 BAB 4
PEMBAHASAN
4.1 Analisis Pencapaian Program di Kawasan Prioritas I
Dari identifikasi kebijakan-kebijakan serta arahan program pengembangan infrastruktur kawasan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Surakarta, selanjutya identifikasi dari temuan-temuan kondisi eksisting di lapangan terhadap program-program yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang kemudian dianalisis. Hasil Analisis tersebut digunakan untuk mengetahui apakah program-program yang dibuat oleh Pemerintah Kota Surakarta sudah benar-benar terealisasi atau belum. Dan juga apakah program tersebut bersinergi dengan arahan kebijakan diatasnya terkait pengembangan infrastruktur. Berikut merupakan tabel hasil analisis dari masing-masing kelurahan yang masuk dalam kawasan prioritas 1
Tabel 4.1 Hasil Analisis Pencapaian Program
Kelurahan Kondisi Eksisting Teori dan Kebijakan Pembahasan
Pas
ar
Kliwo
n
Sebagian besar jalan lokal di Kelurahan Pasar Kliwon
rusak parah, jalan
berlubang.
Peningkatan,perbaikan dan
pembangunan jalan, betonisasi jalan maupun paving tetapi hanya di 3 Kelurahan yaitu
Joyotakan, Danukusuman,
Semanggi
Program dari pemerintah belum mengcover seluruh kawasan prioritas, terbukti
dengan masih adanya
kelurahan dengan kondisi jalan yang rusak
Saluran drainase yang
melewati kampung banyak
yang tersumbat oleh
limbah kain.
Pemerintah telah membuat
program sosialisasi pentingnya pengelolaan limbah.
Kebijakan dan program
yang dibuat pemerintah
realisasinya masyarakat
belum pernah mendapatkan
sosialisasi terkait
pentingnya pengelolaan
limbah Terdapat MCK komunal
yang berada di kampung arab
- Pembangunan dan rehabilitasi
MCK warga miskin atau komunal berada di kelurahan joyotakan dan joyosuran
- Strategi pembangunan air
bersih: Peningkatan
identifikasi sumber-sumber
air baru,dan pemanfaatan air permukaan
Program pemerintah belum
memasukkan Kelurahan
Pasar Kliwon dalam
program pembangunan MCK komunal Jo y o tak an
Kondisi jalan sudah cukup baik, jarang dijumpai jalan berlubang tapi di beberapa kawasan RW I, II, III dan IV kondisi jalan masih belum beraspal
Jalan raya adalah jalur - jalur tanah di atas permukaan bumi
yang dibuat oleh manusia
dengan bentuk, ukuran - ukuran
dan jenis konstruksinya
sehingga dapat digunakan untuk menyalurkan lalu lintas orang, hewan dan kendaraan yang mengangkut barang dari suatu
tempat ke tempat lainnya
dengan mudah dan cepat
(Clarkson H.Oglesby,1999).
Perbaikan jalan di beberapa RW I, II, III dan IV merupakan langkah tepat, hal ini juga telah sesuai
dengan Teori Clarkson
bahwa jalan merupakan
prasarana yang
menyalurkan lalu lintas
jalan sehingga tindakan
selanjutnya adalah upaya
pemeliharaan dan
perlindungan pengguna
39
Kelurahan Kondisi Eksisting Teori dan Kebijakan Pembahasan
Prasarana Sanitasi di RW III dan IV dilengkapi dengan SANIMAS dan MCK komunal. Kondisi
SANIMAS sudah baik
namun MCK komunal
masih belum memenuhi
standar teknis
pembangunan sarpras.
Sanitasi adalah status kesehatan
suatu lingkungan mencakup
perumahan, pembuangan
kotoran, dan sebagainya.
Sanitasi juga adalah kegiatan untuk meningkatkan standar
kondisi lingkungan
mempengaruhi kesejahteraan
manusia (Notoadmojo, 2003)
Pembangunan dan
rehabilitasi MCK di RW III dan IV yang didanai oleh PNPM telah berdasarkan teori Sanitasi (Notoadmojo) karena sanitasi memiliki peranan penting terutama
bagi pengaruhnya
kesehatan masyarakat di sekitar perumahan terhadap aktivitasnya.
Sistem saluran drainase di
Kelurahan joyotakan
terdiri dari sistem drainase terbuka dan tertutup, sudah cukup baik kondisinya . Namun, beberapa sistem
drainase terbuka di
beberapa RW masih
banyak sampah dan kering
sehingga ketika terjadi
genangan justru tersumbat dan seringkali meluap ke permukaan.
Prasarana drainase yaitu saluran di sepanjang kiri kanan jalan
karena memiliki hubungan
langsung dengan kegiatan
sehari-hari dan masyarakat
memiliki kemampuan untuk
mengoperasikan dan
memeliharanya. Rendahnya
kinerja saluran akan
mengakibatkan genangan yang
berpengaruh langsung pada
aktifitas masyarakat dan kondisi lingkungan. (Sihono, 2003)
Melihat buruknya sistem
drainase, partisipasi
masyarakat menjadi acuan untuk peningkatan kualitas drainase, selain peningkatan pemeliharaan yang telah dilakukan oleh dinas terkait karena baik buruknya kinerja saluran drainase
menyangkut aktivitas umum. Dan u k u su m an
Prasarana sanitasi sudah
dibuat komunal dan
limbahnya dibuang ke
IPAL Semanggi. Akan
tetapi, masih ada yang menggunakan septic tank.
Meningkatkan pelayanan
pengolahan limbah rumah
tangga dengan sistem on site maupun off site, meningkatkan sistem sanitasi
secara komunal terutama bagi
masyarakat kurang mampu,
serta memberdayakan
masyarakat dalam pengolahan limbah. (SPPIP Kota Surakarta
Prasarana sanitasi sudah
sesuai dengan arahan
startegi SPPIP Kota
Surakarta, yaitu terdapat sistem pengolahan limbah secara on site dan off site.
Kondisi jalan sebagian
besar sudah baik.
Perbaikan jalan dilakukan atas dasar program dari pemkot.
Prasarana jalan yaitu Jalan Lokal Sekunder Tipe I dan II
karena sebenarnya
masyarakatlah yang memiliki
tanggung jawab untuk
mengelola dan tingkat layanan prasarana tersebut sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan masyarakat. (Sihono, 2003)
Dalam melakukan
perawatan terhadap jalan
masyarakat masih
membutuhkan bantuan dari pemkot khususnya terkait
dana. Untuk tenaga,
biasanya dilakukan dengan gotong royong.
Saluran drainase tertutup di RW VIII, IX, dan X
yang dibuat untuk
mengurangi bau terkadang mampet. Saluran drainase terbuka sudah cukup baik
Prasarana drainase yaitu saluran di sepanjang kiri kanan jalan
karena memiliki hubungan
langsung dengan kegiatan
sehari-hari dan masyarakat
memiliki kemampuan untuk
Menurut teori yang ada,
kinerja saluran drainase
dapat dikatakan rendah
karena terdapat endapan tanah dan sampah.
40
Kelurahan Kondisi Eksisting Teori dan Kebijakan Pembahasan
hanya perlu dibersihkan
saja karena terdapat
endapan tanah dan sampah.
mengoperasikan dan
memeliharanya. Rendahnya
kinerja saluran akan
mengakibatkan genangan yang
berpengaruh langsung pada
aktifitas masyarakat dan kondisi lingkungan. (Sihono, 2003)
Jumah RTH kurang.
Sempadan sungai belum
optimal difungsikan
sebagai RTH.
Rencana pengembangan
kawasan perlindungan setempat dengan mengembalikan fungsi sempadan sungai di seluruh wilayah kota sebagai RTH secara bertahap. (RTRW Kota Surakarta)
Kondisi eksisting belum bisa memenuhi kebijakan yang ada karena sempadan
sungai yang ada di
Kelurahan Danukusuman
jaraknya sangat dekat
dengan jalan lingkungan.
Jo y o su ran Belum terdapat
penanganan limbah yang
terpadu karena limbah
industri (batik) dan rumah tangga langsung dibuang di sungai
Mengolah air limbah pada
kegiatan-kegiatan yang
menimbulkan resiko
pencemaran, supaya tidak
mencemari air tanah (SPPIP Kota Surakarta)
Kurangnya kesadaran
masyarakat serta sosialisasi dari pemerintah sehingga pencemaran sungai karena
limbah masih tergolong
tinggi
Kondisi jaringan jalan
sebagian besar sudah baik namun beberapa masih ada yang berlubang
Perbaikan dan peningkatan
kualitas jalan akses kawasan
permukiman (SPPIP Kota
Surakarta)
Perbaikan kondisi jaringan
jalan dilakukan secara
gotong royong oleh
masyarakat dan dibantu
oleh pemerintah, sedangkan pemeliharaannya dilakukan terutama oleh masyarakat
Pada umumnya masih
menggunakan MCK umum
dengan kondisi kurang
layak
Meningkatkan sistem sanitasi secara komunal terutama bagi
masyarakat kurang mampu
(SPPIP Kota Surakarta)
Sudah sesuai dengan
kebijakan yaitu sudah
terdapatnya MCK komunal, meskipun kondisinya masih
sangat minim (kurang
layak)
Masih banyak terdapat
buangan sampah pada
sungai sedangkan TPS
yang tersedia juga masih pada kondisi yang kurang layak
Peningkatan jangkauan
pelayanan persampahan kepada
masyarakat, dengan
pengembangan sarana
persampahan, melakukan
sosialisasi dan peningkatan
peran serta masyarakat.
Pengembangan sarana
persampahan serta
sosialisasi yang dilakukan pemerintah belum tercapai dengan baik karena masih
banyak sampah yang
dibuang sembarangan
Termasuk kawasan
permukiman padat
penduduk dan rawan
terkena bencana banjir
karena permasalahan
drainase
Penanganan banjir dan
genangan, dengan menjaga
kelancaran aliran saluran
drainase primer, mengendalikan
sempadan sungai,
mengoptimalkan fungsi pintu air (SPPIP Kota Surakarta)
Saluran drainase terdapat
sedimentasi dan
penumpukan sampah
sehingga menjadi salah satu
penyebab banjir pada
kawasan Kualitas air tanah buruk
karena tercemar limbah,
Peningkatan identifikasi
sumber-sumber air baru, dan
Kebijakan untuk menambah
41
Kelurahan Kondisi Eksisting Teori dan Kebijakan Pembahasan
serta sulitnya penambahan
saluran PDAM karena
kepadatan penduduk
pemanfaatan air permukaan
serta pembangunan dan
peningkatan instalasi dan
jaringan distribusi perpipaan
distribusi perpipaan air
bersih terkendala oleh
padatnya permukiman penduduk Sem an g g i
Masih kurang efektifnya IPAL Semanggi karena masih banyak sungai yang tercemar
Pengoptimalisasi sistem
pengelolaan air limbah (SPPIP Kota Surakarta)
Jangkauan pelayanan IPAL yang masih belum bisa menampung semua limbah dari industri
Penyediaan air bersih yang masih belum mencukupi masyarakat
Penambahan kapasitas produksi air minum menjadi 1480 l/dtk
dan peningkatan cangkupan
pelayanan hingga 80% (SPPIP Kota Surakarta)
Kurangnya pompa dan
sumur galian yang
tersediakan oleh pemerintah setempat sehingga kapasitas produksinya terbatas Banyaknya sampah pada
saluran drainase dan juga sempit sehingga terjadi rawan banjir ketika debit air melebihi kapasitas
Peningkatan kebersihan dan
pengerukan saluran drainase serta pembangunan drainase primer (SPPIP Kota Surakarta)
Kurangnya sosialisasi
pembinaan terhadap
masyarakat dan juga
disebabkan pengelolaan
sampah yang terkadang
terhambat
4.2 Analisis Kebijakan dan Kelembagaan di Kawasan Prioritas I
Pada bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai gambaran umum terkait arahan kebijakan yang ada di Kota Surakarta (Tabel 2.1). Dalam tabel tersebut telah memuat arahan mengenai strategi perbaikan infrastruktur perumahan permukiman. Masing-masing muatan kebijakan yang sesuai dengan arahan mengenai strategi perbaikan infrastruktur perumahan permukiman dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.2 Muatan Kebijakan terkait Strategi Perbaikan Infrastruktur Perumahan dan Permukiman RPJP KOTA SURAKARTA TAHUN 2005-2025 RPJM KOTA SURAKARTA TAHUN 2010-2015 RTRW KOTA SURAKARTA TAHUN 2011-2031 SPPIP KOTA SURAKARTA TAHUN 2013-2022 RPKPP KOTA SURAKARTA TAHUN 2005-2025
Misi Misi, Tujuan Strategi Kebijakan,
Strategi, Program
Program
Sedangkan mekanisme yang dilakukan dalam Gambar 3.1 menunjukkan bahwa dalam melakukan perencanaan perbaikan infrastruktur perumahan dan permukiman dilakukan secara bottom up, yaitu perencanaan yang berdasarkan pada kebutuhan masyarakat. Hal ini menunjukkan adanya salah satu prinsip good governance, yaitu bahwa terdapat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan.
42 BAB 5
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1. Program yang direncanakan oleh pemerintah belum diimplementasikan secara keseluruhan di kawasan prioritas 1.
2. Kebijakan yang ada di Kota Surakarta meliputi RPJP, RPJM, RTRW, SPPIP, dan RPKPP sudah sesuai dalam mendukung strategi perbaikan infrastruktur permukiman.
3. Secara garis besar perencanaan dalam perbaikan infrastruktur perumahan permukiman dilakukan secara bottom up karena melewati proses FGD.
4. Pihak yang terlibat dalam pelaksanaan perbaikan infrastruktur perumahan permukiman yaitu, masyarakat, DPU, BLH, PDAM, Kecamatan, dan Kelurahan.
43 DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Budihardjo, E. & Hardjohubojo. 1993. Kota Berwawasan Lingkungan. Bandung: Alumni.