TUGAS MATA KULIAH KEBIJAKAN DAN KELEMBAGAAN
PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN
IDENTIFIKASI STRATEGI PERBAIKAN INFRASTRUKTUR PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN
Dosen Pengampu: Ir. Winny Astuti, M.Sc, Ph.D
Ir. Ana Hardiana, MT
Anggota Kelompok:
1. Yohanita P.S (I0611026) 2. Anggit Pratama (I0612003) 3. Dina Arifia (I0612012) 4. Erlana Citra P. K. (I0612016) 5. Fachrul Fadilla (I0612017) 6. Isandi Nurul H. (I0612025) 7. Nur Laila Fitriana (I0612033)
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
1 BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rumah dan fasilitas perumahan yang memadai merupakan kebutuhan pokok yang sangat penting bagi manusia dalam melangsungkan kehidupannya. Di beberapa negara yang sedang berkembang, masalah kualitas perumahan dan fasilitas pemukiman di kota-kota besar sangat terasa. Hal ini disebabkan oleh pertambahan penduduk kota dan terbatasnya lahan yang diperuntukkan bagi perumahan yang memadai.
Dalam dasar-dasar perencanaan perumahan harus memperhatikan standar sarana dan prasarana lingkungan perumahan. Sarana perumahan meliputi sarana pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan RTH. Sedangkan prasarana perumahan adalah drainase, persampahan, sanitasi, air bersih, listrik, telepon, dan jalan (Surtiani, 2006). Pembangunan sarana dan prasarana memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung aktivitas ekonomi, sosial, budaya, serta kesatuan dan persatuan bangsa terutama sebagai modal dasar dalam memfasilitasi interaksi dan komunikasi di antara kelompok masyarakat serta mengikat dan menghubungkan antarwilayah. Pembangunan sarana dan prasarana yang sesuai diharapkan dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan perekonomian nasional dan mendukung daya saing nasional secara global.
Kota Surakarta merupakan salah satu kota yang mengandalkan sektor perumahan untuk mengangkat perekonomian. Luas wilayah Kota Surakarta sebesar 4.404 ha yang terdiri dari lima wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Laweyan, Serengan, Pasar Kliwon, Jebres dan Banjarsari. Penggunaan lahan terbesar di Kota Surakarta digunakan untuk perumahan yaitu sebesar 2.810 ha. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat di Surakarta terhadap perumahan. Peningkatan kebutuhan tersebut yang tidak diimbangi dengan standar pelayanan perumahan dan permukiman berdampak terhadap buruknya fasilitas infrastruktur perumahan yang ada di Surakarta. Beberapa masalah terkait sarana dan prasarana di Surakarta antara lain sering terjadi banjir dan genangan akibat tidak berfungsinya saluran drainase, akses PDAM yang belum menjangkau ke berbagai kawasan yang ada di Kota Surakarta dan pelayanan air limbah yang masih buruk serta berbagai masalah yang terkait yang perlu ditangani oleh pihak yang berwenang.
2
mengurangi berbagai masalah infrastruktur perumahan dan permukiman yang ada di Kota Surakarta.
1.2 Penentuan Kawasan Prioritas
Dalam SPPIP Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012, penentuan kawasan-kawasan prioritas pembangunan permukiman dan infratsruktur perkotaan di Kota Surakarta menggunakan metode utama yaitu metode skoring/pembobotan dengan menggunakan metode delphi. Metode tersebut digunakan dengan menilai kondisi kawasan berdasarkan kriteria dan indikator yang dijadikan parameter. Adapun proses analisis dalam menentukan kawasan prioritas secara lengkap adalah sebagai berikut:
a. Hasil identifikasi isu strategis, potensi, permasalahan dan tantangan pembangunan permukiman dan infrastruktur permukiman Kota Surakarta (diuraikan pada bab sebelumnya).
b. Identifikasi tipologi dan karakteristik permukiman yang berkembang di Kota Surakarta (diuraikan dalam bab sebelumnya).
c. Merumuskan kriteria dan indikator yang digunakan dalam penentuan kawasan prioritas. Kriteria dan indikator yang digunakan didasarkan pada hasil identifikasi potensi dan permasalahan, karakteristik permukiman yang berkembang, serta mempertimbangkan kriteria dari sisi akademis (teori).
d. Melakukan analisis pembobotan (skoring) guna menentukan prioritas kawasan. dengan unit kelurahan (dianalisis seluruh kelurahan yang ada di wilayah administrasi Kota Surakarta). Hasil dari analisis ini adalah urutan prioritas kawasan kelurahan.
e. Berdasarkan hasil urutan prioritas masingspasial), selanjutnya dikelompokkan ke dalam zona atau kawasan, dengan mempertimbangkan:
Kedekatan antar kelurahan terkait dengan sistem jaringan infrastruktur permukiman,
Didasarkan urutan skor tertinggi dengan kelompok interval yang tidak terlalu jauh perbedaannya,
Kesamaan karakteristik wilayah dan permasalahan permukiman yang ada, Luas kawasan ± 500 Ha
Tipologi perkembangan kepadatan kawasan
Kebijakan pembangunan permukiman Kota Surakarta
3
Gambar 1.1 Metode Perumusan Kawasan Prioritas Sumber: SPPIP Kota Surakarta
Berdasarkan sintesa kriteria yang telah disusun dari pedoman pembangunan permukiman dan infrastruktur, disusun kriteria dan indikator penentuan kawasan permukiman prioritas yang disesuaikan dengan karakteristik perkembangan permukiman di Kota Surakarta. Adapun kriteria dan indikator penentuan kawasan permukiman prioritas SPPIP Kota Surakarta adalah sebagai berikut:
1) Urgenitas Penanganan
Dipertimbangkan sebagai penentuan penilaian kawasan berdasarkan tingkat kepentingan atau kemendesakan penanganan yang harus dilakukan. Kriteria penilaian dalam urgenitas penanganan mencakup:
Tingkat kepadatan penduduk
Tingkat kepadatan penduduk mengindikasikan tingkat kepentingan penanganan suatu permasalahan untuk dilakukan. Semakin tinggi kepadatan penduduk di suatu kawasan, maka akan semakin mendesak permasalahan untuk ditangani. Kepadatan yang dihitung merupakan kepadatan netto, yaitu jumlah penduduk (jiwa) dibagi dengan luas permukiman (Ha) yang ada di masing-masing kelurahan. Adapun klasifikasi kepadatan penduduk sebagai parameter yaitu: - kepadatan rendah < 50 jiwa/Ha
- kepadatan sedang 50 - 150 jiwa/Ha - kepadatan tinggi 150 – 250 jiwa/Ha - kepadatan sangat tinggi > 250 jiwa/Ha
Kawasan permukiman yang berada dalam kawasan rawan bencana
4
yang digunakan adalah kawasan rawan bencana sesuai dengan yang tercantum dalam RTRW Kota Surakarta 2011-2031 dalam hal ini adalah kawasan rawan banjir.
2) Kesesuaian Kawasan dengan Kebijakan Pembangunan Kota
Kawasan permukiman prioritas yang dipilih nantinya dipertimbangkan memiliki tingkat kepentingan penanganan dalam kaitannya dengan pembangunan kota secara luas, sehingga kesesuaian kawasan dengan kebijakan pembangunan kota dipandang sebagai suatu komponen penilaian yang penting. Adapun kriteria dalam komponen ini meliputi:
Kedudukan kawasan dalam pembangunan dan pengembangan kota
Kedudukan kawasan mengindikasikan tingkat kepentingan kawasan, dalam hal ini apakah kawasan merupakan kawasan strategis atau tidak, dalam lingkup pembangunan kota. Parameter penilaian didasarkan pada kawasan strategis sesuai dengan arahan dalam RTRW Kota Surakarta Tahun 2011-2031, yaitu: - Kawasan strategis kepentingan pertumbuhan ekonomi
- Kawasan strategis kepentingan sosial budaya - Kawasan strategis kepentingan lingkungan - Kawasan strategis kepentingan ilmu pengetahuan Kesesuaian kawasan dengan fungsi tata ruang
Dalam hal ini dimnilai apakah kawasan permukiman menempati lahan yang sesuai dengan fungsi peruntukan yang telah ditetapkan dalam tata ruang. Parameter penilaian didasarkan pada status lahan kawasan, apakah kawasan permukiman berada pada kawasan legal atau ilegal.
3) Karakteristik Permukiman
Didasarkan pada karakteristik perkembangan permukiman yang ada di Kota Surakarta. Parameter penilaian antara lain:
Permukiman tradisional, yang berada pada kawasan bersejarah dengan nilai historis tinggi,
Permukiman kumuh, dengan kondisi kawasan yang memiliki degradasi lingkungan,
Permukiman perbatasan Kota Surakarta dengan kabupaten disekitarnya sebagai gerbang masuk kota.
4) Dominasi Permasalahan Infrastruktur di Bidang Keciptakaryaan
Kondisi infrastruktur merupakan indikator utama penentuan kawasan permukiman prioritas. Kriteria penilaian didasarkan pada tingkat pelayanan dan permasalahannya. Adapun indikator dan parameter penilaian adalah sebagai berikut:
Kondisi jalan lingkungan permukiman
Adapun yang dinilai adalah kualitas kondisi jalan, sesuai dengan SPM jalan yaitu 60%, maka parameter penilaian jalan adalah sebagai berikut: Kondisi baik apabila 80% kondisi jalan pada kawasan berada dalam
5 Kondisi sedang, apabila 60% kondisi jalan pada kawasan baik, dan
sebagian mengalami kerusakan
Kondisi rusak, apabila kurang dari 50% kondisi jalan pada kawasan baik. Kondisi drainase kawasan permukiman
Indikator penilaian adalah tersedianya sistem jaringan drainase kawasan, kondisi saluran drainase pada kawasan, serta mempertimbangkan genangan dan banjir yang ada, sesuai dengan SPM yaitu 50%, maka parameter penilaiannya adalah sebagai berikut:
Kondisi baik apabila 80% sistem jaringan dan saluran drainase berfungsi dengan baik, dan tidak ada banjir atau genangan
Kondisi sedang, apabila 50% sistem jaringan dan saluran drainase berfungsi dengan baik
Kondisi kurang, apabila lebih dari 50% saluran tidak dapat berfungsi dengan baik, dan ada banjir atau genangan.
Kondisi persampahan kawasan permukiman
Indikator penilaian yaitu kondisi persampahan kawasan permukiman, dengan indikator yang digunakan adalah keberadaan TPS yang mampu mewadai timbulan sampah pada kawasan, serta pengelolaan sampah yang ada baik pemerintah maupun masyarakat. berdasarkan SPM persampahan adalah 70%, sehingga, parameter penilaian adalah:
Kondisi baik apabila 70% kawasan terlayani sampah, dan terdapat TPS yang memadai pada kawasan
Kondisi sedang, apabila 50% penduduk terlayani sampah
Kondisi kurang, apabila lebih dari 50% penduduk belum terlayani sampah Kondisi Infrastruktur air bersih kawasan permukiman
Berdasarkan kondisi di masing-masing kelurahan, indikator yang digunakan dalam penilaianadalah penggunaan sumber air pribadi, baik PDAM maupun sumur pribadi, dikarenakan penggunaan air pribadi dapat meminimalkan resiko gangguan kesehatan. Sesuai dengan SPM air minum adalah sangat buruk 40%; buruk 50%; sedang 70%; baik 80%; dan sangat baik 100%;maka parameter yang digunakan dalam penilaian adalah:
Kondisi baik apabila 80% penduduk terlayani air bersih Kondisi sedang apabila 50-70% penduduk terlayani air bersih Kondisi kurang apabila <50% penduduk terlayani air bersih Kondisi Infrastruktur air limbah kawasan permukiman
Indikator penilaian kondisi infrastruktur air limbah pada kawasan didasarkan pada prioritas penanganan sanitasi (priority setting penanganan sanitasi) Kota Surakarta yang ada pada kebijakan pembangunan kota. Dalam prioritas sanitasi kota, kawasan dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu: Kawasan dengan resiko sanitasi tinggi, dalam hal ini merupakan
6 Kawasan dengan resiko sanitasi sedang
Kawasan dengan resiko sanitasi kurang Kawasan dengan resiko sanitasi rendah
5) Kontribusi Penanganan terhadap Pengembangan Kota
Kawasan permukiman prioritas yang akan ditentukan, diindikasikan memiliki pengaruh terhadap pengembangan kota, sehingga indikator penanganan yang digunakan adalah seberapa besar manfaat atau pengaruh dari penanganan permasalahan yang dilakukan terhadap pengembangan kota. Adapun indikator yang digunakan adalah:
Kontribusi ekonomi, dengan parameter penanganan permasalahan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan
Kontribusi sosial, dengan parameter penanganan permasalahan akan berpengaruh terhadap peningkatan kondisi sosial kemasyarakatan.
Berdasarkan hasil kajian terhadap beberapa kebijakan serta dokumen, diperoleh kawasan prioritas yang terdiri dari beberapa kelurahan. Dimana Kawasan Prioritas yang ditetapkan merujuk pada kawasan Kota Surakarta bagian timur hingga selatan.
Gambar 1.2 Penentuan Kawasan Prioritas Kota Surakarta Sumber: SPPIP Kota Surakarta Tahun Anggaran 2012
Dari bagan dan penjelasan yang telah disebutkan di atas, maka Kota Surakarta memiliki empat Kawasan Prioritas yang terkait dengan pembangunan permukiman dan infrastruktur permukiman di Kota Surakarta. Keempat Kawasan Prioritas tersebut yaitu Kawasan Prioritas I yang meliputi Joyotakan, Semanggi, Pasar Kliwon, Danukusuman, dan Joyosuran; Kawasan Prioritas II meliputi Sangkrah, Kedunglumbu, Gadegan, Sewu, dan Pucangsawit; Kawasan Prioritas III meliputi Laweyan, Pajang, dan Bumi; serta Kawasan Prioritas IV meliputi sebagian Mojosongo dan sebagian Jebres. Dimana keempat Kawasan Prioritas tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
1.3 Pemilihan Lokasi Objek Kajian
7
penilaian kembali dengan menggunakan beberapa kriteria. Dimana kriteria tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan lokasi objek kajian yang terkait dengan perbaikan sarana dan prasarana. Alur menetapkan lokasi objek kajian terkait perbaikan sarana dan prasarana dapat dilihat seperti pada bagan berikut ini:
Gambar 1.3 Alur Penetapan Lokasi Objek Kajian Sumber: Analisa Kelompok
Dalam penetapan lokasi objek kajian terkait perbaikan sarana dan prasarana yang ada di Kota Surakarta, mempertimbangkan tiga kriteria. Dimana ketiga kriteria tersebut diharapkan mampu menghasilkan lokasi objek kajian yang sesuai dengan topik perbaikan sarana dan prasarana. Ketiga kriteria tersebut yaitu:
1) Tingkat Permasalahan
Tingkat permasalahan akan sangat penting untuk dipertimbangkan karena semakin besar tingkat permasalahannya, maka harus semakin cepat diselesaikan agar tidak menimbulkan masalah lainnya. Sehingga Kawasan Prioritas dipilih merupakan Kawasan Prioritas yang memiliki permasalahan yang kompleks dan mendesak untuk diselesaikan.
2) Potensi untuk Dimanfaatkan
Potensi yang dimiliki oleh Kawasan Prioritas akan sangat berguna bagi kawasan tersebut apabila potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan utnuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di kawasan tersebut dan mampu mengembangkan kawasan tersebut. Sehingga Kawasan Prioritas yang akan dipilih harus memiliki lebih banyak potensi untuk dimanfaatkan dalam menyelesaikan permasalahan yang ada serta mampu mendukung tercapainya arahan kebijakan yang telah ditetapkan pada kawasan tersebut.
3) Prospek yang Dimiliki
8
Gambar 1.4 Penentuan Lokasi Objek Kajian Terpilih Sumber: Analisa Kelompok
Berdasarkan kriteria penetapan lokasi objek kajian yang telah didapatkan di atas, selanjutnya dipilih Kawasan Prioritas yang paling memiliki kesesuaian dengan ketiga kriteria tersebut. Kawasan Prioritas yang dinilai paling sesuai dengan kriteria tersebut adalah Kawasan Prioritas I yang meliputi Joyotakan, Semanggi, Pasar Kliwon, Danukusuman, serta Joyosuran.
9
1.4 Rumusan masalah
a. Apa saja isu/ permasalahan infrastruktur perumahan permukiman yang ditangani di Kawasan Prioritas I?
b. Bagaimana teori dan kebijakan terkait strategi perbaikan infrastruktur perumahan permukiman di Kawasan Prioritas I?
c. Bagaimana implementasi terkait strategi perbaikan infrastruktur perumahan permukiman di Kawasan Prioritas I?
d. Apakah terjadi kesesuaian antara teori dan kebijakan dengan implementasi terkait strategi perbaikan infrastruktur perumahan permukiman di Kawasan Prioritas I?
1.5 Tujuan
Mengetahui kesesuaian antara kebijakan dan teori perumahan permukiman dengan implementasi perbaikan infrastruktur di Kawasan Prioritas I.
1.6 Sasaran
a. Mengidentifikasi isu/ permasalahan infrastruktur perumahan permukiman yang ditangani di Kawasan Prioritas I
b. Mengidentifikasi teori dan kebijakan terkait strategi perbaikan infrastruktur perumahan di Kawasan Prioritas I
c. Mengidentifikasi implementasi terkait strategi perbaikan infrastruktur perumahan di Kawasan Prioritas I
d. Membandingkan teori dan kebijakan dengan implementasi terkait perbaikan infrastruktur perumahan di Kawasan Prioritas I
1.7 Metodologi penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pemilihan pendekatan kualitatif ini didasarkan pada permasalahan yang sedang di teliti, yaitu terkait dengan infrastruktur perumahan di Kota Surakarta. Data yang dibutuhkan dalam penilitian ini diantaranya:
a. Data primer, merupakan data yang bersifat tidak tertulis dan diperoleh langsung dari sumbernya. Pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan cara wawancara dengan instansi terkait, menyebar kuisioner/angket dan observasi lapangan.
10
Tabel 1.1 Desain Survey
No. Sasaran Teori Kebutuhan Data
Jenis Data Teknik
Pengumpulan Data
Sumber
Primer Sekunder
1. Mengidentifikasi
isu/ permasalahan
Arah kebijakan dan strategi perbaikan
2. Mengidentifikasi
teori dan
kebijakan terkait strategi perbaikan infrastruktur
perumahan di
Kawasan Prioritas I
Teori perumahan
permukiman
Kondisi jaringan drainase
Sistem pengelolaan sampah
Sistem penyediaan
air bersih
Sistem pengelolaan air limbah
Perbaikan prasarana
permukiman Peraturan terkait
perumahan dan permukiman
Kebijakan dan
strategi nasional
4. Membandingkan
teori dan
Kebijakan dan
strategi nasional
Literatur DPU
11
12 BAB 2
KAJIAN LITERATUR DAN KEBIJAKAN
2.1 Teori terkait Strategi Perbaikan Infrastruktur Permukiman
Budiharjo (1993) menyatakan bahwa yang sering terabaikan padahal sangat penting artinya bagi kelayakan hidup manusia penghuni lingkungan perumahan permukiman adalah sarana dan prasarana, yang meliputi:
• Pelayanan Sosial (social services), seperti sekolah, klinik, puskesmas, rumah sakit yang pada umumnya disediakan oleh pemerintah.
• Fasilitas Sosial (social facilities), seperti tempat peribadatan, persema-yaman, gedung pertemuan, lapangan olahraga, tempat bermain/ruang terbuka, pertokoan, pasar, warung, kakilima dan sebagainya.
• Prasarana lingkungan meliputi jalan dan jembatan, air bersih, jaringan listrik, jaringan telepon, jaringan air kotor dan persampahan.
Komarudin (1997, h.92) menyatakan bahwa tujuan pembangunan prasarana permukiman adalah:
• Meningkatkan mutu kehidupan dan penghidupan, harkat, derajat dan martabat masyarakat penghuni permukiman yang sehat dan teratur.
• Mewujudkan kawasan kota yang ditata secara lebih baik sesuai dengan fungsinya sebagaimana ditetapkan dalam rencana tata ruang kota yang bersangkutan.
• Mendorong penggunaan tanah yang lebih efisien dengan pembangunan rumah susun, meningkatkan tertib mendirikan bangunan, memudahkan penyediaan prasarana dan fasilitas lingkungan permukiman yang diper-lukan serta mengurangi kesenjangan kesejahteraan penghuni dari berbagai kawasan di daerah perkotaan.
Teori mengenai perbaikan sarana dan prasarana perumahan permukiman menurut Sinulingga dalam Nova, Elly L. (2010):
• Lokasinya sedemikian rupa sehingga tidak terganggu oleh kegiatan lain, seperti pabrik, yang pada umumnya dapat memberikan dampak pada pencemaran udara atau pencemaran lingkungan lainnya.
• Mempunyai akses terhadap pusat-pusat pelayanan, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, dan perdagangan yang dapat dicapai dengan membuat jalan dan sarana transportasi di permukiman tersebut. Akses ini juga harus mencapai perumahan secara individual melalui jalan lokal.
• Mempunyai fasilitas drainase yang dapat mengalirkan air hujan dengan cepat dan tidak sampai menimbulkan genangan air walaupun hujan yang lebat sekalipun. Hal ini hanya mungkin jika sistem drainase di permukiman tersebut dapat dihubungkan dengan saluran pengumpul atau saluran utama dari sistem perkotaan.
13
harus mengadakan pembangungan jaringan distribusi dulu atau mengadakan pengolahan air sendiri.
• Dilengkapi dengan fasilitas pembuangan air kotor/ tinja yang dapat dibuat dengan sistem individual seperti tangki septik dan lapangan rembesan ataupun tangki septik komunal.
• Pemukiman harus dilayani oleh fasilitas pembuangan sampah secara teratur agar lingkungan permukiman tetap nyaman.
• Dilengkapi fasilitas umum, seperti taman bermain bagi anak-anak, lapangan atau taman, tempat ibadah, pendidikan, dan kesehatan yang disesuaikan dengan skala besarnya permukiman.
• Dilayani oleh jaringan listrik dan telepon.
Menurut Siswono Yudohusodo dalam bukunya yang berjudul Rumah Untuk Seluruh Rakyat (1991), faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan permukiman yang dapat dilihat dari 9 aspek, antara lain: letak geografis, kependudukan, sarana dan prasarana, ekonomi dan keterjangkauan daya beli, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, kelembagaan, dan peran serta masyarakat. Sedangkan kelengkapan sarana dan prasarana dari suatu perumahan dan permukiman dapat mempengaruhi perkembangan permukiman di suatu wilayah. Dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai dapat memudahkan penduduknya untuk beraktivitas sehari-hari. Semakin lengkap sarana dan prasarana yang tersedia maka semakin banyak pula orang yang berkeinginan bertempat tinggal di daerah tersebut.
2.2 Peraturan terkait Strategi Perbaikan Infrastruktur Permukiman
Dalam UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman Pasal 28, perencanaan sarana prasarana & utilitas umum perumahan meliputi:
• Rencana penyediaan kavling tanah untuk perumahan sebagai bagian dari permukiman
• Rencana kelengkapan sarana prasarana & utilitas umum perumahan
Dalam UU NO. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan Dan Permukiman, perumahan adalah Kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Permukiman adalah Bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Satuan lingkungan permukiman adalah kawasan perumahan dalam berbagai bentuk dan ukuran dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan sarana lingkungan yang terstruktur.
Dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 217/Kpts/M/2002 Ttg Kebijakan & Strategi Nasional Perumahan & Permukiman (KSNPP) menyatakan bahwa:
14
dan ekonomi, serta lingkungan. Pendekatan ini dilakukan dengan memadukan kegiatan-kegiatan penyiapan dan pemberdayaan masyarakat, serta kegiatan pemberdayaan kegiatan usaha ekonomi komunitas dengan kegiatan pendayagunaan prasarana dan sarana dasar perumahan dan permukiman sebagai satu kesatuan sistem yang tidak terpisahkan.”
• “Seluruh elemen pokok kelembagaan, seperti sumber daya manusia, organisasi, tata laksana, serta dukungan prasarana dan sarana kelembagaan harus diwujudkan sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas lokal, melalui program-program peningkatan kapasitas SDM, pengembangan organisasi dan penyusunan tata laksana yang operasional efektif.”
• “Penyelenggaraan pembangunan perumahan swadaya secara individual sering kurang optimal di dalam memenuhi kebutuhan perumahan yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana dasar lingkungan perumahan yang memadai. Dengan membentuk kelompok, maka masyarakat akan dapat menggalang kemampuan secara bersama untuk mengatur rencana pemenuhan kebutuhan perumahan dan pembangunan prasarana serta sarana dasar lingkungannya.”
• “Bantuan perumahan dapat berbentuk subsidi pembiayaan; subsidi prasarana dan sarana dasar lingkungan perumahan dan permukiman; ataupun kombinasi dari kedua bentuk subsidi tersebut. Subsidi prasarana dan sarana dasar perumahan dapat dikembangkan untuk mendukung kelengkapan standar pelayanan minimal lingkungan yang berkelanjutan, seperti ketersediaan air bersih, jalan lingkungan, saluran drainase, pengelolaan limbah, ruang terbuka hijau, fasilitas umum dan sosial serta fasilitas ekonomi lokal.”
• Pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman akibat dampak bencana alam dan kerusuhan sosial meliputi: 1) Penanganan tanggap darurat, 2) Rekonstruksi dan rehabilitasi bangunan, prasarana dan sarana dasar perumahan dan permukiman, dan 3) Pemukiman kembali pengungsi.
15
2.3 Arahan Kebijakan Pembangunan dan Penataan Ruang Kota Surakarta
Tabel 2.1 Perbandingan Arahan Kebijakan Pembangunan dan Penataan Ruang Kota Surakarta
MUATAN ANGGARAN 2012 atau
2013-2022
RPKPP KOTA SURAKARTA TAHUN
2005-2025
VISI Surakarta Kota Budaya,
Mandiri, Maju, dan Sejahtera
Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dan Memajukan
Kota Dilandasi Spirit Solo sebagai Kota Budaya
- -
MISI
1. Mewujudkan sumber daya
manusia yang berkualitas;
2. Pengetahuan dan
teknologi serta berdaya saing tinggi;
3. Mewujudkan peningkatan
kualitas pelayanan umum di berbagai aspek
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;
4. Mewujudkan keamanan
dan ketertiban ;
5. Mewujudkan
perekonomian daerah yang mantap ditandai dengan semakin meningkatnya
pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita;
6. Mewujudkan lingkungan
hidup yang sehat dan nyaman ditandai dengan semakin meningkatnya ruang-ruang publik yang dipergunakan sesuai dengan fungsinya atau
1. Mengembangkan dan
meningkatkan ekonomi kerakyatan melalui pengembangan sektor riil, pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi, penataan PKL, program revitalisasi pasar tradisional,
meningkatkan
kemampuan manajemen pedagang pasar serta mempromosikan keberadaan pasar dan pedagang;
2. Pengembangan budi
pekerti, tata krama dan tata nilai budaya Jawa melalui ranah pendidikan, keteladanan dan
penyelengaraan event-event
3. Memperkuat karakter kota
dengan aksentuasi Jawa dan melestarikan aset-aset budaya, baik yang
16 ANGGARAN 2012 atau
2013-2022 kota yang berkarakter Surakarta (city branded);
7. Mewujudkan perlindungan
sosial; 8. Mewujudkan
ketersediaan sarana dan prasarana perkotaan yang cukup dan berkualitas meliputi perumahan layak dan dapat terjangkau, sarana prasarana lingkungan seperti sanitasi, ruang hijau, air bersih dan maupun intangible (tak bendawi);
4. Meningkatkan pelayanan
dan perluasan akses masyarakat di bidang pendidikan
5. Meningkatkan pelayanan
dan perluasan akses masyarakat di bidang kesehatan
6. Meningkatkan akses ke
lapangan kerja dengan menciptakan
wirausahawan baru
7. Membuka lapangan kerja
baru dengan menciptakan iklim investasi yang makin kondusif dan suasana kota yang aman dan damai.
17 ANGGARAN 2012 atau
2013-2022
RPKPP KOTA SURAKARTA TAHUN
2005-2025
terbuka hijau dan pengelolaan persampahan.
9. Pengembangan brand
image kota dengan melakukan penataan kawasan wisata, budaya dan perdagangan serta meningkatkan event-event bertaraf nasional dan internasional.
TUJUAN -
Tujuan dijabarkan secara lebh mendetail sesuai misi. Tujuan terkait misi infrastruktur yaitu:
1. Meningkatkan daya dukung sarana dan prasarana kota. 2. Meningkatkan akses
untuk skala regional, nasional, maupn internasional.
3. Menetapkan tata guna
lahan yang sesuai daya dukung dan daya tampung
4. Menangani isu-isu
perubahan iklim
5. Memutuskan pemugaran
Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Kota Budaya yang produktif, berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan dengan berbasis pada sektor industri kreatif, perdagangan dan jasa, pendidikan, pariwisata, serta olahraga
Mewujudkan kawasan permukiman layak huni, terjangkau dan berwawasan lingkungan, yang mampu mendukung perwujudan Kota Surakarta sebagai Kota Budaya
Memberikan pendampingan kepada pemangku
kepentingan di tingkat Kota/Kabupaten untuk dapat menghasilkan rencana pembangunan kawasan permukiman prioritas dengan muatan rencana tindak yang operasional sebagai
pendukung dari dokumen rencana program investasi jangka menengah
infrastruktur bidang Cipta Karya, yang dilengkapi dengan rencana pembiayaan dan rencana teknis detail untuk pelaksanaan pembangunan pada tahun pertama.
KEBIJAKAN Kebijakan terkait dengan
infrastruktur Kota Surakarta
Kebijakan umum bidang fisik dan prasarana Kota Surakarta
Dalam kebijakan
pengembangan struktur ruang,
1. Mewujudkan permukiman yang
18 ANGGARAN 2012 atau
2013-2022
RPKPP KOTA SURAKARTA TAHUN
2005-2025
termuat dalam arah
pembangunan jangka panjang berupa penambahan jumlah dan kualitas sarana dan prasarana.
diantaranya yiatu:
1. Pembangunan fasilitas, sarana, dan prasarana kota yang ramah lingkungan, ramah diffable.
2. Pengaturan tata kota yang
maju dalam perdagangan dan jasa, berkarakter budaya lokal.
3. Pembangunan perumahan
dan pemukiman layak huni.
terdiri dari:
1. Pemantapan peran kota
dalam sistem nasional sebagai pusat kegiatan nasional (PKN), yang melayani kegiatan skala nasional.
2. Pengembangan kota
sebagai pusat pelayanan Kawasan Andalan Subosuko- Wonosraten dalam peningkatan ekonomi masyarakat kota.
3. Pengembangan sistem
pusat pelayanan yang terintegrasi dan berhirarki sebagai kota budaya yang produktif, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dengan berbasis industri kreatif, perdagangan dan jasa, pendidikan, pariwisata, serta olahraga.
layak huni, dengan didasarkan
pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat yang layak dari aspek fisik bangunan, kesehatan lingkungan dan kenyamanan serta sesuai dengan fungsi peruntukannya.
2. Mewujudkan
permukiman yang terjangkau yang dapat diakses dari semua golongan.
4. Mewujudkan budaya
sebagai identitas lokal yang kuat dalam pembangunan permukiman Kota Surakarta, dengan peningkatan kualitas dan pengembalian fungsi pada kawasankawasan permukiman tradisional
19 ANGGARAN 2012 atau
2013-2022
RPKPP KOTA SURAKARTA TAHUN
2005-2025
sebagai identitas kota budaya.
STRATEGI -
Strategi pembangunan Kota Surakarta terkait dengan infrastruktur kota yaitu pengembangan sarana dan prasarana publik.
1. Menyediakan fasilitas yang memadai pada tiap pusat pelayanan sesuai skala pelayanannya.
2. Mengembangkan sistem
Transit Oriented Development (TOD).
3. Membangun sistem park
and ride.
1. Strategi dalam peningkatan kualitas bersih, dan air limbah.
2. Memperbaiki dan
mengembalikan ruang terbuka hijau perkotaan.
-
PROGRAM
Program pembangunan dijabarkan dalam kurun waktu 20 tahun yang dibagi menjadi 4 tahap periode yang disesuaikan dengan skala prioritas pembangunan.
Program pembangunan dalam RPJM dititikberatkan
peningkatan ekonomi kerakyatan, kualitas masyarakat dan pendidikan dan pelestarian budaya. Terkait dengan pembangunan permukiman dan
infrastruktur, program yang terkait antara lain:
Pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana kota.
Didalam dokumen perencanaan tata ruang, indikasi program
pembangunan yang disusun secara komperehensif, baik pada kawasan budidaya maupun lindung. Termasuk didalamnya merupakan program peningkatan prasarana lingkungan dan perumahan, dalam skala makro, meliputi kawasan perkotaan maupun perdesaan di Kota Surakarta
1. Peningkatan kualitas dan kuantitas jalan Kota Surakarta 2. Perbaikan talud pada
kawasan yang berada pada sempadan sungai 3. Perbaikan drainase 4. Normalisasi saluran
primer drainase kawasan perkotaan 5. Perbaikan kualitas
maupun pengadaan Sarana (peralatan) pengumpul sampah
20 MUATAN
RPJP KOTA SURAKARTA TAHUN
2005-2025
RPJM KOTA SURAKARTA TAHUN
2010-2015
RTRW KOTA SURAKARTA TAHUN
2011-2031
SPPIP KOTA SURAKARTA TAHUN ANGGARAN 2012 atau
2013-2022
RPKPP KOTA SURAKARTA TAHUN
2005-2025
6. Pembangunan PS sampah terpadu 3R 7. Peningkatan kapasitas
dan kualitas air bersih 8. Peningkatan dan
pengembangan reservoir, jaringan distribusi perpipaan 9. Pembangunan PS air
limbah off-site dan on-site.
cukup infrastruktur lingkungan perumahan dan permukiman yang
dibutuhkan masyarakat.
21
2.4 Isu dan Permasalahan terkait Pemenuhan Infrastruktur Kota Surakarta
Dalam SPPIP Kota Surakarta Tahun 2011-2031, dijelaskan kondisi infrastruktur perumahan dan permukiman Kota Surakarta meliputi air bersih, persampahan, air limbah, dan drainase. Berikut profil dari masing-masing unsur infrastruktur tersebut.
2.4.1 Air Bersih
Pada tahun 2010, jumlah penduduk yang terlayani air bersih hanya 57,23%. Hal ini dapat dikatakan sangat kurang dilihat dari Instruksi Menteri Dalam Negeri RI Nomor :24/1999, yakni sebesar 80% untuk penduduk perkotaan.
Sedangkan tingkat kehilangan air tahun 2010 adalah sebesar 39,80% atau diatas tingkat toleransi air sebesar 20% seperti tertuang dalam Kepmendagri nomor 47 tahun 1999 tentang Pedoman Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum. Penyebab tingginya tingkat kehilangan air antara lain yaitu:
a. sebagian besar jaringan dibangun sejak jaman Belanda sudah melebihi umur teknis sehingga tidak dapat menerima tekanan air secara maksimal;
b. sebagian besar Water Meter pelanggan berusia diatas 4 tahun sehingga mempengaruhi akurasi pengukuran pemakaian air.
2.4.2 Persampahan
Kota Surakarta merupakan kota administratif dengan jumlah penduduk cukup besar yaitu 500.000 jiwa dengan berbagai aktivitas sosial dan fisik yang tentunya akan berpotensi untuk menimbulkan sampah padat. Ditambah lagi, terdapat 38 pasar besar dan kecil yang juga dapat menghasilkan sampah dalam jumlah besar.
22
Tabel 2.2 Jumlah Produksi Sampah, Komposisi dan Sarana Pembersih di Kota Surakarta Tahun 2004-2005
Uraian Satuan Jumlah
2004 2005
A. PRODUKSI SAMPAH
Produksi Sampah Perhari Ton 275,62 277,7
Sampah terangkut per hari Ton 221,99 224,33
Sampah terkumpul di TPA per tahun Ton 81.025,66 81.880,28
B. KOMPOSISI SAMPAH
Kertas % 10,36 10,4
Kayu % 3,80 3,84
Kain % 0,00 0,00
Karet Kulit % 0,00 0,00
Plastik % 11,05 11,06
Metal Logam % 0,60 0,58
Gelas Kaca % 1,25 1,23
Organik % 69,40 69,42
Lainnya % 1,15 1,17
C. SARANA PEMBERSIH
Pekerja Pembersih Orang 557 585
Truk sampah Unit 25 25
Truk bak kayu Unit 2 2
Pick Up Unit 2 2
Truk Kontainer Armoll Unit 8 8
Container Unit 64 64
Toilet Container Unit 3 3
Gerobak Sampah Unit 420 452
Becak Sampah Unit 205 205
TPS Unit 70 63
Transfer Depo Unit - 4
TPA Unit 1 1
Buldoser Unit 3 3
Excavator Unit 3 3
Whelloader Unit 1 1
Sumber: RPIJM Kota Surakarta 2011-2014
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa produksi sampah meningkat sebanyak 854,62 ton dari tahun 2004 ke tahun 2005. Sedangkan komposisi sampah paling banyak adalah sampah organik sebanyak 69,40%.
2.4.3 Air Limbah
Secara teknis pengelolaan air limbah di Kota Surakarta dapat dibagi menjadi dua sistem pengelolaan sebagai berikut.
a. Off-site System
23
Penyambungkan pembuangan limbah di rumah tangga (yang dibangun sendiri oleh masyarakat) dengan jaringan perpipaan air limbah skala komunal, yang selanjutnya dilakukan pengolahan di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Kapasitas pengolahan kedua IPAL ini sudah maksimum, sehingga perlu ada penambahan insatalasi pengolahan yang baru, begitu pula perlu ada penambahan sambungan rumah dan jaringan pipa baru
b. On-site System
Sistem air limbah secara on-site dilakukan dengan pengolahan melalui septik tank. Jumlah septik tank yang dimiliki warga Kota Surakarta dari data pada akhir tahun 2003 menunjukkan jumlah sebanyak 82.114 unit, atau 83% dari jumlah bangunan rumah. Adapun septik yang ada merupakan individual septik tank.
Layanan untuk sistem air limbah dari septik tank dilakukan terbatas pada penyedotan lumpur tinja rumah tangga. Pengelolaan selanjutnya dilakukan dengan mengangkut lumpur tinja dari rumah-rumah ke Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT).
c. Sanimas
Sanitasi yang Berbasis Masyarakat (SANIMAS), mempunyai prinsip Dari Masyarakat, Oleh Masyarakat dan Untuk Masyarakat. Sanimas berawal dari adanya kerjasama antara Pemerintah Kota Surakarta, Departemen Pekerjaan Umum dan BORDA (LSM dari Jerman).
24
2.4.4 Drainase
Secara umum fungsi saluran drainase adalah untuk penggelontoran air kota dan mematuskan air permukaan agar tidak terjadi banjir atau genangan air. Luas catchment area Kota Surakarta seluas 4.325 Ha, dengan panjang saluran primer 40,13 km, sekunder 129,441 km dan tersier 28,883 km. Kondisi pengaliran saluran primer dan sekunder + 50% dari kapasitas rencana serta untuk tersier ± 30%. Kawasan genangan + 273 ha, tinggi genangan 0,5-1,5 m, lama 3-24 jam dan frekuensi 1-5 kali/tahun. Menurut daerah tangkapannya dapat dibedakan menjadi:
a. Sistem makro meliputi saluran aliran sungai yang melintasi kota Surakarta dan mengalir menuju sungai Bengawan Solo yaitu Kali Tanggul/Wingko dan Kali Anyar.
b. Sistem mikro meliputi saluran drainase utama di bagian tengah kota yaitu Kali Pepe Hilir dan Kali Jenes serta saluran tersier dan sekunder/kolektor yang ada dalam kota.
Gambar 2.2 Kondisi Eksisting Drainase Kota Surakarta Sumber: SPPIP Kota Surakarta Tahun 2011-2031
25
Tabel 2.3 Fasilitas Pendukung Drainase Kota Surakarta
Fasilitas Keterangan Detail
Tanggul penangkis banjir
Bengawan Solo lama,
6,5 km
Kali anyar, 3,5 km
Bengawan Solo baru, 9
km
Kali Pepe Hulu dan
Kali Sumber, 2,5 km
Kali Wingko, 1,65 km
Bendung dam Tirtonadi (bendung
karet)
Kleco
Pintu air dan pompa Sumber Balaikambang
1 unit
Tirtonadi 4 unit,
kompresor 1 unit
Sumber Tapen 3 unit,
pompa 2 unit (rusak)
Kleco 4 unit
Tipes 2 unit, pompa 1 unit (500 lt dt)
Makam Bergolo 2 unit
Vladuck, Gilingan 4
unit, pompa 2 unit (2x500 lt dt)
Kedung Lumbu 2 unit,
pompa 2 unit (500 lt dt)
Kali Buntung 2 unit,
pompa 1 unit (rusak)
Demangan 10 unit, pompa
6 unit (12300 lt dt)
Putat Kp Sewu 3 unit
Palaln Joyotakan 3 unit
Gandekan Tengen 2 unit,
pompa 1 unit (2x100 lt dt)
Kaliwingko 6 unit, pompa
5 unit (5x100 lt dt)
Sepanjang tanggul baru
Bengawan Solo 15 unit
Sepanjang tanggul Kali
Anyar, Kali Sumber dan Kali Pepe Hilir 40 unit
Sumber: Sub Dinas Drainase Dinas Pekerjaan Umum Kota Surakarta
26
Gambar 2.3 Kawasan Genangan di Kota Surakarta Sumber: SPPIP Kota Surakarta Tahun 2011-2031
2.5 Kondisi Prasarana di Kawasan Prioritas I
Kawasan prioritas RPKPP Kota Surakarta terdiri dari 11 kelurahan, 133 RW, 562 RT dan 31.033 KK. Jumlah rukun warga (RW) paling banyak ada di Kelurahan Semanggi dengan jumlah 23 RW, sedangkan jumlah rumah tangga (RT) paling banyak ada di Kelurahan Semanggi juga dengan jumlah 131 RT.
2.5.1 Jalan
27
Gambar 2.4 Kondisi Jalan Kawasan RPKPP Kota Surakarta Sumber: RPKPP Kota Surakarta Tahun 2011
2.5.2 Drainase
Kondisi drainase yang ada di Kawasan prioritas RPKPP Kota Surakarta ini umumnya sudah ada pada setiap jalan, namun kondisinya bervariasi, seperti berikut:
1) Kondisi saluran kecil, menyebabkan kapasitas daya tampung air kecil, sehingga dalam kondisi curah hujan tinggi, air melimpah ke permukiman sekitar dan menyebabkan banjir
2) Sungai Bengawan Solo yang melintasi kawasan ini, kondisi bibir sungai yang mengalami longsor terus menerus sehingga membahayakan permukiman sekitarnya
3) Luapan Sungai Bengawan Solo dan anak sungai disaat curah hujan tinggi dan terus menerus menyebabkan banjir di kawasan permukiman sekitar bantaran sungai
Gambar 2.5 Kondisi Drainase Kawasan RPKPP Kota Surakarta Sumber: RPKPP Kota Surakarta Tahun 2011
2.5.3 Air Bersih
28
Sumber air bersih dari PDAM di kawasan prioritas RPKPP Kota Surakarta sudah melayani seluruh kelurahan di kawasan prioritas RPKPPP. Namun, kondisinya masih belum seratus persen terlayani. Berdasarkan data air bersih PDAM di kawasan prioritas jumlah prosentase yang terlayani rata-rata masih di bawah 90%. Dengan kondisi tersebut berarti jangkauan air bersih PDAM belum mampu menjangkau ke seluruh kawasan prioritas RPKPP. Berikut adalah data air bersih PDAM kawasan prioritas 1 RPKPP Kota Surakarta tahun 2011.
Tabel 2.4 Data Air Bersih PDAM Kawasan Prioritas RPKPP Kota Surakarta Tahun 2011
No Kecamatan Kelurahan
Jumlah Sambungan Pipa Distribusi Rumah/Pelanggan
(SR)
Persentase terhadap Keseluruhan
Pelayanan Kecamatan 1
Serengan Joyotakan 352 48
2 Danukusuman 888 45
3
Pasar Kliwon
Semanggi 3.053 71
4 Pasar Kliwon 587 59
5 Joyosuran 1.007 63
Total 5.887 286
Sumber: Data Air Bersih/Air Minum PDAM
2.5.4 Sanitasi
Kondisi sanitasi yang ada di Kawasan prioritas RPKPP Kota Surakarta sudah terlayani dengan adanya MCK umum komunal yang ada dikawasan ini, namun kondisinya kurang baik, dan dikelola oleh masyarakat setempat sendiri. Sebagian besar masyarakatnya menggunakan sarana MCK umum ini. Namun ada beberapa masyarakat yang sudah memiliki sarana jamban di rumah sendiri namun kondisinya juga kurang layak untuk digunakan. Dan sebagian lagi masyarakat masih melakukan aktivitas MCK di sungai.
2.5.5 Persampahan
29
Gambar 2.6 Kondisi Persampahan Kawasan RPKPP Kota Surakarta Sumber: RPKPP Kota Surakarta Tahun 2011
TPS di kawasan prioritas 1 RPKPP Kota Surakarta tersebar di beberapa lokasi dan kelurahan. TPS yang ada berupa transfer depo dan konvesional bak biasa, dimana hanya berjumlah sedikit dan tersebar di beberapa kelurahan yaitu Kelurahan Semanggi, Danukusuman, dan Joyotakan. Volume TPS yang ada mayoritas sedang dan besar, sedangkan TPS bervolume kecil hanya terdapat di Kelurahan Joyotakan. Sementara itu di masing-masing TPS terdapat 2 pemulung sampah.
Tabel 2.5 TPS di Kawasan Prioritas 1 RPKPP Kota Surakarta Tahun 2013
No Nama TPS Letak Kelurahan Volume
Transfer Depo
1 Silir Baru Jl. Serang Semanggi (2 pemulung) Besar
2 Silir Lama Jl. Serang/Ps. Notoharjo Semanggi (2 pemulung) Besar
3 Dawung Jl. Yos Sudarso/Tanggul Danukusuman (2 pemulung) Besar
Konvensional Bak Biasa
1 Joyotakan Jl. Karandan Joyotakan (2 pemulung) Kecil
Sumber: TPST Kota Surakarta, 2013
2.5.6 Ruang Terbuka Hijau
Kawasan prioritas RPKPP Kota Surakarta memiliki area hijau berupa taman/hutan kota sebagai paru-paru kota dengan luas Ha. Luas ruang terbuka hijau di kawasan prioritas 1 RPKPP Kota Surakarta dibanding dengan luas total Kota Surakarta masih rendah. Apalagi banyak sempadan sungai dan rel kereta api yang seharusnya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau beralih fungsi menjadi kawasan permukiman kumuh dan ilegal.
2.6 Strategi Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas 1
30 Potensi kawasan: kawasan perbatasan, potensi kawasan permukiman tradisional,
serta kawasan strategis lingkungan bantaran Bengawan Solo.
Permasalahan: kawasan kumuh perkotaan, resiko sanitasi tinggi, banjir, resiko persampahan tinggi, dan resiko air bersih tinggi.
Kawasan prioritas 1 merupakan bagian dari dua wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Serengan dan Pasar Kliwon. Kawasan prioritas satu ini merupakan kawasan pembangunan permukiman dan infrastruktur di Kota Surakarta. Permasalahan utama pada kawasan ini yaitu banjir dan permukiman kumuh, mengingat beberapa kelurahan dalam kawasan ini berlokasi di bantaran Sungai Bengawan Solo. Strategi Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas 1 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.6 Strategi Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas 1
POTENSI KAWASAN PERMASALAHAN ARAHAN STRATEGI
Merupakan kawasan
strategis perbatasan
Potensi adanya kawasan
permukiman tradisional pada kawasan, yang merupakan kawasan strategis sosial budaya dalam RTRW Kota Surakarta
Merupakan kawasan
strategis lingkungan bantaran Bengawan Solo
Karakteristik perdagangan
menjadi pendorong perekonomian kawasan
Terdapat kawasan permukiman kumuh rawan banjir di sepanjang kawasan bantaran sungai Bengawan Solo, terutama di Kawasan Semanggi dan Pasar Kliwon
1) Meningkatkan dan menata kawasan
permukiman kumuh, baik fisik dan non fisik, dengan peningkatan peran serta masyarakat dalam
pembangunan kualitas hunian yang sehat dan layak.
2) Merelokasi kawasan permukiman
rawan bencana banjir dan ilegal, serta mengembalikan fungsi sempadan sungai.
Permasalahan jalan akses kawasan yang mengalami kerusakan (berlubang) di RW 3 Kelurahan Joyotakan, RT 3 RW 14 Kelurahan Danukusuman, dan RT 1 RW 9 Joyosuran
Perbaikan dan peningkatan kualitas jalan akses kawasan permukiman
1) Kawasan rawan banjir meliputi RW
1 – 6 Joyotakan; Jl. Kyai Mojo dan Jl. Cilosari Semanggi; kawasan Pasar Kliwon; Jl.Mayangsari dan Jl. Pattimura Danukusuman; serta RW 3 Joyosuran.
2) Pendangkalan sungai, disebabkan
sedimentasi dan sampah yang dibuang di sungai, terutama pada: RT 5 RW 5 Joyotakan; RT 2 RW 6 Semanggi; serta di Kelurahan Joyosuran
3) Saluran drainase yang tidak
berfungsi optimal dalam
mengalirkan air, seperti pada: RT 5 RW 5 Joyotakan; serta RW 3 Joyosuran
Penanganan banjir dan genangan dengan normalisasi Sungai Bengawan Solo, mengoptimalkan pintu air, pemeliharaan saluran dan mengembangkan saluran darinase lingkungan yang belum terjangkau.
TPS yang ada belum mampu mewadahi seluruh timbulan sampah, disisi lain,
31
POTENSI KAWASAN PERMASALAHAN ARAHAN STRATEGI
masih banyak warga yang membuang sampah di sungai
dengan pengembangan sarana persampahan, melakukan sosialisasi dan peningkatan peran serta
masyarakat dalam pengolahan sampah. Penduduk masih bergantung pada
sumur gali, akan tetapi Permasalahan jalan akses kawasan yang mengalami kerusakan (berlubang) di RT 3 RW 5 Kelurahan Sangkrah, dan RW 4 Kelurahan Sewu
Peningkatan pelayanan air bersih melalui pembangunan dan Perbaikan dan peningkatan kualitas jalan akses kawasan permukiman
1) Kawasan rawan banjir meliputi
Sangkrah, Kedung Lumbu, Gandekan, Sewu, Pucang Sawit
2) Saluran drainase yang tidak
berfungsi optimal dalam
mengalirkan air, seperti pada: RT 2 RW 4 Kedung Lumbu, RW 7 Gandekan,
Penanganan banjir dan genangan dengan normalisasi Sungai Bengawan Solo, mengoptimalkan pintu air, pemeliharaan saluran dan mengembangkan saluran darinase lingkungan yang belum terjangkau.
TPS yang ada belum mampu mewadahi seluruh timbulan sampah, disisi lain, masih banyak warga yang membuang sampah di sungai, seperti pada TPS RW 7 Pucang Sawit
Peningkatan jangkauan pelayanan persampahan kepada masyarakat, dengan pengembangan sarana persampahan, melakukan sosialisasi dan peningkatan peran serta
masyarakat dalam pengolahan sampah.
1) Penduduk masi bergantung pada
sumur gali, akan tetapi kualitas air bersih yang layak dikarenakan air tanah yang tercemar limbah pabrik , antara lain pada kawasan Joyotakan; RW 8 dan 12 Pasar Kliwon; serta RW 1-15 Danukusuman.
2) Kawasan permukiman padat, sulit
akses untuk penambahan saluran dan pipa distribusi PDAM, seperti pada Semanggi dan kawasan Joyosuran
Peningkatan pelayanan air bersih melalui pembangunan dan peningkatan saluran distribusi, serta peningkatan peran serta masyarakat dalam menggunakan air bersih yang layak.
1) Kawasan dengan resiko sanitasi
tinggi, pada umumnya
menggunakan MCK umum dengan kondisi yang kurang layak,
disamping itu, saluran pembuangan limbah rumah tangga masih bercampur dengan saluran drainase, seperti pada RW 3 dan 4 Joyotakan; RW 2 Semanggi; kawasan Pasar Kliwon; RW 1 dan RW 12 Joyosuran
2) Terdapat pencemaran air tanah dan
1) Meningkatkan pelayanan
pengolahan limbah rumah tangga dengan sistem on site maupun off site, meningkatkan sistem sanitasi secara komunal terutama bagi masyarakat kurang mampu, serta memberdayakan masyarakat dalam pengolahan limbah.
2) Mengolah air limbah pada
kegiatan-kegiatan yang menimbulkan resiko pencemaran, supaya tidak
32
POTENSI KAWASAN PERMASALAHAN ARAHAN STRATEGI
polusi sungai akibat aktivitas industri, terutama pada kawasan Pasar Kliwon, Danukusuman dan Joyosuran
Penurunan kualitas pada kawasan permukiman tradisional di kelurahan Pasar Kliwon
Merevitalisasi dan merehabilitasi kawasan permukiman tradisional, serta pengendalian pembangunan baru pada kawasan cagar budaya. Sumber: RPKPP Kota Surakarta
2.7 Konsep Penanganan menurut RPKPP Kota Surakarta
Menurut RPKPP Kota Surakarta, konsep penanganan kawasan permukiman proritas adalah “Pembangunan Infrastruktur dan Pendukung Kawasan untuk Meningkatkan Kualitas Permukiman Berbasiskan Kota Eco Cultural”.
Elemen pencapaian Konsep adalah sebagai berikut: a. Penanganan Kawasan Kumuh
Penanganan prasarana drainase kawasan sehingga saluran air dapat mengalirkan air dengan baik;
Penanganan prasarana sanitasi baik itu untuk limbah maupun MCK, sehingga masyarakat mendapatkan fasilitas yang layak;
Penanganan sarana dan prasarana persampahan melalui peningkatan kinerja pengangkutan sampah, penambahan bak sampah jika diperlukan dan juga pembenahan perilaku masyarakat dalam membuang sampah yang baik;
Peningkatan kualitas air bersih, baik dari PDAM, sumur artesis, maupun dari sumber air bersih lainnya;
Penambahan dan perbaikan sarana ruang terbuka hijau (RTH), dalam rangka memberikan hidup layak dan hijau bagi masyarakat
b. Penanganan Daerah Genangan
Dengan penanganan daerah genangan, kerusakan infrastruktur daerah tergenang dapat diminimaliskan.
Pengoptimalisasian prasarana drainase yang ada di kawasan tergenang, sehingga genangan akan teratasi dan permukiman menjadi bebas genangan Genangan yang ada di kawasan ini juga dapat diatasi dengan penambahan
sarana ruang ruang resapan atau ruang terbuka hijau yang berguna untuk meresapkan air permukaan
Penanganan prasarana sistem drainase ini juga didukung dengan penanganan prasarana sanitasi, sarana dan prasarana persampahan, serta pengoptimalan sarana RTH di kawasan
c. Pembentukan Citra Kawasan Perbatasan
33
terlihat citra yang jelas sebagai ciri dari masing-masing kawasan. Pembentukan citra kawasan perlu dilakukan sebagai identitas kota, baik itu dengan pemberian gerbang, penanda lokasi atau dengan sculpture sesuai dengan potensi dan karakteristik kawasan. Hal ini harus didukung dengan aksesibilitas kawasan yang baik, jaringan jalan, sarana prasarana transportasi, prasarana drainase kawasan, sarana dan prasarana persampahan, prasarana sanitasi, dan sarana ruang tata hijau.
2.8 Program di Lokasi Objek Kajian
Terdapat program-program yang terdapat di Kawasan Prioritas I yang terkait perbaikan sarana dan prasarana yaitu meliputi aspek jalan, sanitasi, drainase, air bersih, serta persampahan. Program-program tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.7 Program Kawasan Prioritas I
ASPEK PROGRAM LOKASI INDIKATOR
Jalan Peningkatan, perbaikan dan pembangunan jalan dengan pengaspalan jalan, betonisasi jalan, maupun paving
Joyotakan (RW 1 – 4, Sepanjang
Jalan Rebab Joyotakan)
Danukusuman (Sepanjang Jalan
Patimura)
Semanggi (Jalan Kyai Mojo RW 1
– 3, Jalan Opak RW 4 dan 5, Jalan Kampung RW 10, 11, 12, 13, 18, RW 23)
Danukusuman (RT 2/ RW 5)
Peningkatan waktu tempuh
perjalanan
Memperlancar perjalana
Terhubungnya antar kawasan
permukiman
Pengadaan lampu penerangan jalan
Danukusuman Mengurangi angka
kriminalitas
Mengurangi kecelakaan lalu
lintas
Drainase Pembangunan dan perbaikan saluran drainase
Joyotakan (RW 1 – 6)
Semanggi (Jalan Kyai Mojo RW 4,
5, 6, 23, 10, 11, 12, 13, 18; Jalan Cempaka RW 14; Jalan
Sampangan RW 18, 19; Jalan Opak RW 3; Jalan KH Muzakir RW 10)
Jalan Danukusuman (Mayangsari
dan Jalan Patimura)
Joyosuran (RW 3)
Semanggi (RT 1/ RW 7 dan RT 1/
RW 2)
Saluran dapat berfungsi sesuai dengan kapasitasnya
Berkurangnya kawasan rawan
genangan
Pengembangan Kampung Iklim
Danukusuman Mengurangi Polusi kota
Menambah kesejukan kawasan
Kegiatan Prokasih sepanjang 3000 meter untuk penanganan Kali Pepe
Danukusuman,
Semanggi dan
PasarKliwon
Saluran dapat berfungsi sesuai dengan kapasitasnya
Berkurangnya kawasan rawan
genangan
Sanitasi Pembangunan dan rehabilitasi MCK warga miskin atau komunal
Joyontakan (RW 3 dan 4)
Joyosuran (RW 12)
Peningkatan jumlah rumah
bersanitasi
Perlunya penyediaan lahan
34
ASPEK PROGRAM LOKASI INDIKATOR
Pembangunan atau peningkatan jaringan IPAL
Semanggi (RW 23) Peningkatan pelayanan IPAL
Perbaikan saluran Danukusuman (RW 1,2, 3, 4, 5, 6, 8,
10)
Peningkatan pelayanan IPAL
Jangkauan pelayanan IPAL
yang lebih luas Penyambungan jaringan
sanitasi baru
Sosialisasi pentingnya pengolahan
sanitasi/limbah
Kawasan Prioritas 1 (Joyotakan,
Semanggi, Pasar Kliwon,
Danukusuman dan Joyosuran)
Masyarakat mengetahui
pentingnya pengelolaan sanitasi/limbah
Peningkatan keterlibatan
masyarakat dalam pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur sanitasi/limbah
Air Bersih Pemasangan jaringan atau pipa PDAM
Semanggi (RW 5)
Pasar Kliwon (RW 8 dan RW 12)
Penigkatan kualitas hidup masyarakat
Terpenuhinya kebutuhan air
bersih masyarakat
Peningkatan pelayanan air
bersih
Penigkatan kualitas hidup masyarakat
Pembuatan sumur resapan
Danukusuman (RW 1 – 15)
Joyotakan sebanyak 50 unit
Penigkatan kualitas hidup masyarakat
Terpenuhinya kebutuhan air
bersih masyarakat Peningkatan peran serta
masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan air bersih
Kawasan Prioritas 1 (Joyotakan, Semanggi, Pasar Kliwon, Danukusuman dan Joyosuran)
Penigkatan kualitas hidup masyarakat
Peningkatan kepedulian
masyarakat terhadap air bersih
Persampah-an
Pengadaan gerobak
sampah
Pasar Kliwon (RW 5, 10) Peningkatan pelayanan
persampahan
Peningkatan sarana
persampahan Sosialisasi pengelolaan
sampah 3R
Kawasan Prioritas 1 (Joyotakan, Semanggi, Pasar Kliwon, Danukusuman dan Joyosuran)
Pengurangan timbulan sampah
Pengelolaan sampah organik
agar lebih bermanfaat Pelatihan pengolahan
sampah menjadi kompos dan pelatihan SDM pengolahan sampah
Kawasan Prioritas 1 (Joyotakan, Semanggi, Pasar Kliwon, Danukusuman dan Joyosuran)
Pengurangan timbulan sampah
Pengelolaan sampah organik
agar lebih bermanfaat
36 BAB 3
GAMBARAN IMPLEMENTASI
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, implementasi strategi perbaikan infrastruktur di Kawasan Prioritas 1 adalah sebagai berikut.
3.1 Identifikasi Permasalahan Infrastruktur Perumahan di Kawasan Prioritas I
Kawasan prioritas I merupakan kawasan yang terdiri dari 5 kelurahan yaitu Joyotakan, Semanggi, Pasar Kliwon, Danukusuman dan Joyosuran. Berikut merupakan tabel permasalahan infrastruktu Kawasan Prioritas I.
Tabel 3.1 Tabel Permasalahan Infrastruktur Kawasan Prioritas I
Kelurahan Permasalahan
Joyotakan Kondisi jalan secara umum baik, sudah menggunakan perkerasan
namun masih ada beberapa jalan yang terkelupas Terdapat drainase yang tidak lancar di beberapa bagian Terdapat warga yang membuang sampah dipinggir sungai Kualitas air bersih yang kurang layak
Kawasan rawan banjir Kawasan resiko sanitasi tinggi
Semanggi Terdapat kali dengan banyak sampah dan pendangkalan
Penggunaan PDAM tinggi, akan tetapi sambungan masih sedikit didaerah timur tanggul
Kawasan rawan banjir
Terdapat permukiman kumuh di kawasan bantaran Kawasan resiko sanitasi tinggi
Pasar Kliwon Terdapat permasalahan banjir
Pengunaan PDAM cukup tinggi, permasalahan kondisi air tanah terpolusi oleh keberadaan pabrik
Polusi sungai oleh pabrik
Pelebaran jalan yang menyebabkan kemacetan Kawasan resiko sanitasi sedang
Danukusuman Masih terdapat jalan yang mengelupas
Terdapat permasalahan banjir
Pengguna PDAM sedikit, kawasan agian timur bergantung pada sumur umum dengan kondisi air tanah yang kurang baik
Polusi air tanah
Kawasan resiko sanitasi tinggi
Joyosuran Masih terdapat jalan berlubang
Terdapat permasalahan banjir
Terdapat yang membuang sampah dipinggir sungai
Kualitas PDAM kurang baik, dengan permukiman yang padat, sangat sulit menambah sambungan PDAM
Kualitas air tanah Permasalahan drainase Polusi Kali jenes
37
3.2 Proses dan Mekanisme Strategi Perbaikan Prasarana di Kawasan Prioritas I
Mekanisme yang dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat dalam melaksanakan perbaikan infrastruktur kawasan prioritas I adalah sebagai berikut.
Gambar 3.1 Alur Mekanisme Strategi Perbaikan Infrastruktur Perumahan Permukiman Sumber: Wawancara
Berdasarkan bagan di atas, dapat diketahui bahwa dalam melaksanakan strategi perbaikan infrastruktur perumahan dan permukiman juga membutuhkan input dari masyarakat melalui FGD. Selanjutnya, dilakukan perumusan kebijakan dan program untuk mewadahi input yang sudah didapat dari masyarakat. Pada tahap ini direncanakan pula anggaran yang akan dialokasikan untuk melaksanakan program. Kemudian, dilakukan sosialisasi program perbaikan infratsruktur ke lokasi-lokasi yang telah ditentukan. Pada akhirnya dilakukan implementasi program oleh masyarakat dan instansi terkait, yaitu DPU, BLH, PDAM, Kecamatan, dan Kelurahan.
Pelaksanaan FGD tingkat kelurahan
Identifikasi isu-isu di kawasan tersebut
Perumusan kebijakan
Sosialisasi program perbaikan infrastruktur ke kelurahan
38 BAB 4
PEMBAHASAN
4.1 Analisis Pencapaian Program di Kawasan Prioritas I
Dari identifikasi kebijakan-kebijakan serta arahan program pengembangan infrastruktur kawasan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Surakarta, selanjutya identifikasi dari temuan-temuan kondisi eksisting di lapangan terhadap program-program yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang kemudian dianalisis. Hasil Analisis tersebut digunakan untuk mengetahui apakah program-program yang dibuat oleh Pemerintah Kota Surakarta sudah benar-benar terealisasi atau belum. Dan juga apakah program tersebut bersinergi dengan arahan kebijakan diatasnya terkait pengembangan infrastruktur. Berikut merupakan tabel hasil analisis dari masing-masing kelurahan yang masuk dalam kawasan prioritas 1
Tabel 4.1 Hasil Analisis Pencapaian Program
Kelurahan Kondisi Eksisting Teori dan Kebijakan Pembahasan
Pas
ar
Kliwo
n
Sebagian besar jalan lokal di Kelurahan Pasar Kliwon
rusak parah, jalan
berlubang.
Peningkatan,perbaikan dan
pembangunan jalan, betonisasi jalan maupun paving tetapi hanya di 3 Kelurahan yaitu
Joyotakan, Danukusuman,
Semanggi
Program dari pemerintah belum mengcover seluruh kawasan prioritas, terbukti
dengan masih adanya
kelurahan dengan kondisi jalan yang rusak
Saluran drainase yang
melewati kampung banyak
yang tersumbat oleh
limbah kain.
Pemerintah telah membuat
program sosialisasi pentingnya pengelolaan limbah.
Kebijakan dan program
yang dibuat pemerintah
realisasinya masyarakat
belum pernah mendapatkan
sosialisasi terkait
pentingnya pengelolaan
limbah Terdapat MCK komunal
yang berada di kampung arab
- Pembangunan dan rehabilitasi
MCK warga miskin atau komunal berada di kelurahan joyotakan dan joyosuran
- Strategi pembangunan air
bersih: Peningkatan
identifikasi sumber-sumber
air baru,dan pemanfaatan air permukaan
Program pemerintah belum
memasukkan Kelurahan
Pasar Kliwon dalam
program pembangunan
MCK komunal baik, jarang dijumpai jalan berlubang tapi di beberapa
dengan bentuk, ukuran - ukuran
dan jenis konstruksinya
sehingga dapat digunakan untuk menyalurkan lalu lintas orang, hewan dan kendaraan yang mengangkut barang dari suatu
tempat ke tempat lainnya
dengan mudah dan cepat
(Clarkson H.Oglesby,1999).
Perbaikan jalan di beberapa RW I, II, III dan IV merupakan langkah tepat, hal ini juga telah sesuai
dengan Teori Clarkson
bahwa jalan merupakan
prasarana yang
menyalurkan lalu lintas
jalan sehingga tindakan
selanjutnya adalah upaya
pemeliharaan dan
perlindungan pengguna
39
Kelurahan Kondisi Eksisting Teori dan Kebijakan Pembahasan
Prasarana Sanitasi di RW
masih belum memenuhi
standar teknis
pembangunan sarpras.
Sanitasi adalah status kesehatan
suatu lingkungan mencakup
perumahan, pembuangan
kotoran, dan sebagainya.
Sanitasi juga adalah kegiatan untuk meningkatkan standar
kondisi lingkungan
mempengaruhi kesejahteraan
manusia (Notoadmojo, 2003)
Pembangunan dan
rehabilitasi MCK di RW III dan IV yang didanai oleh PNPM telah berdasarkan teori Sanitasi (Notoadmojo) karena sanitasi memiliki peranan penting terutama
bagi pengaruhnya
kesehatan masyarakat di sekitar perumahan terhadap aktivitasnya.
Sistem saluran drainase di
Kelurahan joyotakan
terdiri dari sistem drainase terbuka dan tertutup, sudah cukup baik kondisinya . Namun, beberapa sistem
drainase terbuka di
beberapa RW masih
banyak sampah dan kering
sehingga ketika terjadi
genangan justru tersumbat dan seringkali meluap ke permukaan.
Prasarana drainase yaitu saluran di sepanjang kiri kanan jalan
karena memiliki hubungan
langsung dengan kegiatan
sehari-hari dan masyarakat
memiliki kemampuan untuk
mengoperasikan dan
memeliharanya. Rendahnya
kinerja saluran akan
mengakibatkan genangan yang
berpengaruh langsung pada
aktifitas masyarakat dan kondisi lingkungan. (Sihono, 2003)
Melihat buruknya sistem
drainase, partisipasi
masyarakat menjadi acuan untuk peningkatan kualitas drainase, selain peningkatan pemeliharaan yang telah dilakukan oleh dinas terkait karena baik buruknya kinerja saluran drainase
menyangkut aktivitas
umum.
Prasarana sanitasi sudah
dibuat komunal dan
limbahnya dibuang ke
IPAL Semanggi. Akan
tetapi, masih ada yang menggunakan septic tank.
Meningkatkan pelayanan
pengolahan limbah rumah
tangga dengan sistem on site maupun off site, meningkatkan sistem sanitasi
secara komunal terutama bagi
masyarakat kurang mampu,
serta memberdayakan
masyarakat dalam pengolahan limbah. (SPPIP Kota Surakarta
Prasarana sanitasi sudah
sesuai dengan arahan
startegi SPPIP Kota
Surakarta, yaitu terdapat sistem pengolahan limbah secara on site dan off site.
Kondisi jalan sebagian
besar sudah baik.
Perbaikan jalan dilakukan atas dasar program dari pemkot.
Prasarana jalan yaitu Jalan Lokal Sekunder Tipe I dan II
karena sebenarnya
masyarakatlah yang memiliki
tanggung jawab untuk
mengelola dan tingkat layanan prasarana tersebut sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan masyarakat. (Sihono, 2003)
Dalam melakukan
perawatan terhadap jalan
masyarakat masih
membutuhkan bantuan dari pemkot khususnya terkait
dana. Untuk tenaga,
biasanya dilakukan dengan gotong royong.
Saluran drainase tertutup di RW VIII, IX, dan X
yang dibuat untuk
mengurangi bau terkadang mampet. Saluran drainase terbuka sudah cukup baik
Prasarana drainase yaitu saluran di sepanjang kiri kanan jalan
karena memiliki hubungan
langsung dengan kegiatan
sehari-hari dan masyarakat
memiliki kemampuan untuk
Menurut teori yang ada,
kinerja saluran drainase
dapat dikatakan rendah