BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
B. Gambaran Karakteristik Responden
Karakteristik responden yang diamati dalam penelitian ini berdasarkan jenis kelamin, usia, dan pendidikan usahawan jasa kecantikan di Surakarta.
commit to user
1. Jenis Kelamin
Deskripsi responden berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.7 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
1 Wanita 62 82,7 %
2 Pria 13 17,3 %
total 75 100 %
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari responden yang berjumlah 75 orang yang berjenis kelamin wanita berjumlah 62 orang atau 82,7% dari jumlah keseluruhan. Sedangkan untuk jenis kelamin pria berjumlah 13 orang atau 17,3% dari jumlah responden. Hal ini menunjukkan wanita mendominasi dalam berwirausaha jasa kecantikan dibandingkan dengan pria.
2. Usia
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner kepada responden, maka klasifikasi responden menurut kelompok tingkat usia dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel IV.8 Distribusi Frekuensi Usia
No Usia Frekuensi Persentase
1 ≤ 20 tahun 1 1,3 2 21 – 30 tahun 20 26,7 3 31 – 40 tahun 37 49,3 4 41 – 50 tahun 15 20,0 5 > 50 tahun 2 2,7 Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden terbesar dari usahawan adalah mereka yang berumur antara 31 – 40 tahun yang
berjumlah 37 responden atau 49,3% dari jumlah keseluruhan. Sementara itu pada posisi kedua diduduki oleh responden yang berusia antara 21 – 30 tahun sebanyak 20 orang atau 26,7%. Posisi ketiga adalah responden yang berusia 41 – 50 tahun sebanyak 15 atau 20,0%. Posisi kempat adalah responden yang berusia lebih dari 50 tahun sebanyak 2 atau 12,7%. Posisi kelima adalah responden yang berusia kurang dari 20 tahun sebanyak 1 atau 1,3%.
3. Pendidikan
Berdasarkan data yang diperoleh dari jawaban responden, maka didapat komposisi responden menurut tingkat pendidikan, sebagai berikut:
Tabel IV.9 Distribusi Frekuensi Pendidikan
No Tingkat Pendidikan (Tahun Sukses) Frekuensi Persentase 1 7 sd 9 2 2,7% 2 10 sd 12 44 58,7% 3 12 keatas 29 38,7% Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden yang berada pada tingkat pendidikan SMA merupakan kelompok terbanyak yaitu berjumlah 44 orang atau 58,7% dari keseluruhan jumlah responden. Sedangkan pada urutan kedua adalah mereka yang berada pada tingkat pendidikan Diploma dan Sarjana sebanyak 14 orang atau 18,7%. Posisi ketiga ditempati oleh mereka yang memiliki tingkat pendidikan SMP sebayak 2 orang atau 2,7%. Posisi terakhir ditempati oleh tingkat pendidikan Pascasarjana sebanyak 1 orang atau 2,7%.
commit to user
4. Pengalaman Usaha
Deskripsi responden berdasarkan tanggapan mengenai lama menjadi usahawan jasa kecantikan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.10 Pengalaman Usaha
No Pengalaman Usaha Frekuensi Persentase
1 1-7 tahun 49 65.3% 2 8 - 14 tahun 8 10,7% 3 15 - 21 tahun 9 12,0% 4 22 - 28 tahun 7 9,3% 5 > 28 tahun 2 2,7% Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden responden terbesar adalah mereka yang lama menjadi usahawan 1-7 tahun sebanyak 49 orang atau 65,3% dari keseluruhan jumlah responden. Sedangkan pada urutan kedua adalah mereka yang lama menjadi usahawan 15-21 tahun sebanyak 9 orang atau 12,0%. Urutan ketiga mereka yang lama menjadi usahawan 8- 14 tahun sebanyak 8 orang atau 10,7%. Urutan keempat mereka yang lama menjadi usahawan 22-28 tahun sebanyak 7 orang atau 9,3%. Dan yang terakhir > 28 tahun sebanyak 2 orang atau 2,7%.
5. Lokasi Usaha
Deskripsi responden berdasarkan lokasi usaha atau yang dapat disebut juga dengan letak usaha dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.11 Distribusi Frekuensi Lokasi Usaha
No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
1 Tidak Strategis 8 10,7%
2 Strategis 67 89,3%
Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari responden yang berjumlah 75 orang yang berlokasi dekat dengan jalan utama berjumlah 67 orang atau 89,3% dari jumlah
keseluruhan. Sedangkan yang belokasi jauh dari jalan utama berjumlah 8 orang atau 10,7% dari jumlah responden. Hal ini menunjukkan lokasi usaha yang dekat dengan jalan utama mendominasi dalam berwirausaha jasa kecantikan dibandingkan lokasi usaha yang tidak strategis.
6. Status Kepemilikan Usaha
Deskripsi responden berdasarkan kepemilikan usaha jasa kecantikan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.12 Distribusi Frekuensi Status Kepemilikan Usaha
No Status Kepemilikan Frekuensi Prosentase
1 Milik sendiri 69 92,0%
2 Menyewa 5 6,7%
3 Milik orang lain 1 1,3%
Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari responden yang berjumlah 75 orang bahwa status kepemilikan usaha jasa kecantikan yang status milik sendiri berjumlah 69 orang atau 92,0% dari jumlah keseluruhan. Urutan kedua status kepemilikan menyewa berjumlah 5 orang atau 6,7% dari jumlah responden. Sedangkan yang terakhir status kepemilikan milik orang lain sebanyak 1 orang atau 1,3%. Hal ini menunjukkan status kepemilikan usaha yakni milik sendiri mendominasi dalam berwirausaha jasa kecantikan dibandingkan menyewa maupun milik orang lain.
7. Awal Usaha
Deskripsi responden berdasarkan kepemilikan usaha jasa kecantikan dapat dilihat pada tabel berikut.
commit to user
Tabel IV.13 Distribusi Frekuensi Awal Usaha
No Awal usaha Frekuensi Prosentase
1 Usaha sendiri 69 92,0%
2 Usaha keluarga 6 8,0%
Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari responden yang berjumlah 75 orang bahwa mereka yang memulai usaha jasa kecantikan atas usahanya sendiri yaitu berjumlah 69 orang atau 92,0% dari jumlah keseluruhan. Urutan kedua mereka yang memulai usaha sendiri karena warisan orang tua berjumlah 6 orang atau 8,0% dari jumlah responden. Hal ini menunjukkan yang memulai usaha tersebut yakni usaha sendiri mendominasi dalam berwirausaha jasa kecantikan dibandingkan usaha keluarga/warisan keluarga.
8. Status Pekerjaan
Deskripsi responden berdasarkan kepemilikan usaha jasa kecantikan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.14 Distribusi Frekuensi Status Pekerjaan
No Status pekerjaan Frekuensi Prosentase
1 Pekerjaan pokok 56 74,7%
2 Pekerjaan sampingan 19 25,3%
Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari responden yang berjumlah 75 orang bahwa mereka yang menjadikan usaha jasa kecantikan menjadi pekerjaan pokoknya ialah berjumlah 56 orang atau 74,7% dari jumlah keseluruhan. Urutan kedua mereka yang menjadikan usaha jasa kecantikan menjadi pekerjaan sampingannya berjumlah 19 orang atau 25,3% dari jumlah responden. Hal ini menunjukkan yang memulai usaha tersebut yakni pekerjaan pokok
mendominasi dalam berwirausaha jasa kecantikan dibandingkan pekerjaan sampingan.
9. Usaha Lain
Deskripsi responden berdasarkan kepemilikan usaha jasa kecantikan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.15 Distribusi Frekuensi Usaha Lain
No Usaha lain Frekuensi Prosentase
1 Ya/ada 18 24,0%
2 Tidak/tidak ada 57 76,0%
Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari responden yang berjumlah 75 orang bahwa mereka yang tidak mempunyai usaha lain selain usaha jasa kecantikan berjumlah 57 orang atau 76,0% dari jumlah keseluruhan. Urutan kedua mereka yang mempunyai usaha lain selain usaha jasa kecantikan berjumlah 18 orang atau 24,0% dari jumlah responden. Hal ini menunjukkan mereka yang tidak mempunyai usaha lain selain usaha kecantikan mendominasi dalam berwirausaha jasa kecantikan dibandingkan mereka yang memiliki usaha lain.
10.Pendorong Usaha
Deskripsi responden berdasarkan kepemilikan usaha jasa kecantikan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.16 Distribusi Frekuensi Pendorong Usaha
No Pendorong usaha Frekuensi Prosentase
1 Melanjutkan usaha orangtua
commit to user
Dari responden yang berjumlah 75 orang bahwa yang mendorong mereka untuk menjadi usahawan jasa kecantikan karena hal lain berjumlah 68 orang atau 90,7% dari jumlah keseluruhan. Urutan kedua bahwa yang mendorong mereka melanjutkan jasa kecantikan orangtuanya berjumlah 7 orang atau 9,3% dari jumlah responden. Hal ini menunjukkan hal lain yang mendorong berwirausaha jasa kecantikan lebih dominan dibandingkan mereka yang melanjutkan usaha jasa kecantikan dari orangtuanya.
11.Modal
Deskripsi responden berdasarkan tanggapan mengenai modal untuk memulai usaha jasa kecantikan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.17 Distribusi Frekuensi Modal Usaha
No Modal usaha Frekuensi Persentase
1 ≤ 5 jt 8 10,7% 2 6 - 10 juta 8 10,7% 3 11 - 15 juta 9 12,0% 4 16 - 20 juta 21 28,0% 5 > 20 juta 29 38,7% Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden terbesar adalah mereka yang memiliki modal untuk mendirikan usaha sebesar >20 juta sebanyak 29 orang atau 38,7% dari keseluruhan jumlah responden. Sedangkan pada urutan kedua adalah mereka yang memiliki modal untuk mendirikan usaha sebesar 16-20 juta sebanyak 21 orang atau 28,0%. Urutan ketiga mereka yang memiliki modal untuk mendirikan usaha 11-15 juta sebanyak 9 orang atau 12,0%. Selanjutnya urutan keempat dan
terakhir adalah mereka yang memiliki modal untuk mendirikan usaha sebesar ≤ 5 jt serta yang memiliki modal sebesar 6-10 juta sebanyak 8 orang atau 10,7%.
12. Sumber Modal Usaha
Deskripsi responden berdasarkan tanggapan mengenai cara mendapatkan sumber modal dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.18 Distribusi Frekuensi Asal Modal Usaha
No Sumber Modal Frekuensi Persentase
1 Modal sendiri 50 66,7%
2 Pinjaman 25 33,3%
Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden yang dalam mendapatkan sumber modal sendiri/pribadi dalam mendirikan usaha jasa kecantikan merupakan kelompok terbanyak yaitu berjumlah 50 orang atau 66,7% dari keseluruhan jumlah responden. Sedangkan pada urutan kedua adalah mereka yang mendapatkan sumber modal dari pinjaman dalam mendirikan usaha jasa kecantikan sebanyak 25 orang atau 33,3% dari seluruh jumlah responden.
13.Tenaga Pembantu
Deskripsi responden berdasarkan tanggapan mengenai adanya tenaga pembantu dalam menjalankan usaha jasa kecantikan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.19 Distribusi Frekuensi Tenaga Pembantu
No Tenaga Pembantu Frekuensi Persentase
commit to user
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden yang memiliki tenaga pembantu atas usaha jasanya merupakan kelompok terbanyak yaitu berjumlah 65 orang atau 86,7% dari keseluruhan jumlah responden. Sedangkan pada urutan kedua adalah mereka yang tidak memiliki tenaga pembantu atas usahanya sebanyak 10 orang atau 13,0% dari seluruh jumlah responden.
14.Cara Merekrut Tenaga Pembantu
Deskripsi responden berdasarkan tanggapan mengenai adanya tenaga pembantu dalam menjalankan usaha jasa kecantikan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.20 Distribusi Frekuensi Merekrut Tenaga Pembantu
No Perekrutan Tenaga Pembantu Frekuensi Persentase
1 Saudara 5 6,7% 2 Teman 24 32,0% 3 Tetangga 6 8,0% 4 Iklan Lowongan 28 37,3% 5 Lainnya 12 16,0% Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden yang merekrut tenaga pembantu melalui iklan lowongan merupakan kelompok terbanyak yaitu berjumlah 28 orang atau 37,3% dari keseluruhan jumlah responden. Sedangkan pada urutan kedua adalah mereka yang merekrut dengan melalui teman sebanyak 24 orang atau 32,0%. Urutan ketiga mereka yang merekrut dengan melalui lowongan lainnya sebanyak 12 orang atau 16,0%. Urutan keempat mereka yang merekrut dengan melalui tetangga
sebanyak 6 orang atau 8,0%. Urutan terakhir mereka yang merekrut dengan melalui saudara 5 orang atau 6,7% seluruh jumlah responden.
15.Jumlah Hari Kerja dalam Seminggu
Deskripsi responden berdasarkan tanggapan mengenai lama menjual saham kembali dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.21 Distribusi Frekuensi Hari Kerja dalam Seminggu
No Hari Kerja Dalam Seminggu Frekuensi Persentase
1 6 hari 46 61,3%
2 7 hari 29 38,7%
Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden terbesar adalah mereka yang menggunakan waktu 6 hari dalam menjalankan usaha jasa kecantikan sebanyak 46 orang atau 61,3% dari keseluruhan jumlah responden. Sedangkan pada urutan terakhir yaitu meraka yang menggunakan 7 hari kerja dalam menjalankan usaha jasa kecantikan sebanyak 29 orang atau 38,7% dari jumlah keseluruhan responden.
16.Jumlah Gaji Tenaga Pembantu Perbulan
Deskripsi responden berdasarkan tanggapan mengenai jumlah gaji tenaga pembantu perbulan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.22 Distribusi Frekuensi Jumlah Gaji Tenaga Pembantu Perbulan
No Jumlah Gaji Tenaga Pembantu Frekuensi Persentase
1 ≤ 500.000 21 28%
2 600 ribu – 1 juta 48 64%
3 Lainnya 6 8,0%
Total 75 100%
commit to user
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden dengan memberikan gaji kepada tenaga pembantu sebesar 48 orang atau 64% dalam satu bulan merupakan kelompok terbanyak dari keseluruhan jumlah responden. Kemudian urutan kedua adalah mereka yang memberikan gaji kepada tenaga pembantu sebesar ≤ 500.000 sebanyak 21 orang atau 28% dalam satu bulan. Urutan ketiga dan terakhir adalah mereka yang tidak mempunyai tenaga kerja sebanyak 6 orang atau 8,0% dari jumlah keseluruhan.
17.Rata-rata Pendapatan
Deskripsi responden berdasarkan tanggapan mengenai besar rata- rata keuntungan satu bulan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.23 Distribusi Frekuensi Besar Rata-rata Pendapatan per Bulan
No Rata-rata keuntungan Frekuensi Persentase
1 ≤ 5 juta 27 36,0%
2 6 – 10 juta 28 37,3%
3 11 – 15 juta 12 16,0%
4 16 – 20 juta 8 10,7%
Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden dengan besar omset rata-rata pendapatan sekitar 6 - 10 juta dalam satu bulan merupakan kelompok terbanyak dengan jumlah 28 orang atau 37,3% dari keseluruhan jumlah responden. Kemudian urutan kedua adalah mereka yang memiliki omset rata-rata sebesar ≤ 5 juta dalam satu bulan sebanyak 27 orang atau 36,0%. Urutan ketiga adalah merekayang memiliki omset rata-rata pendapatan sebesar 11- 15 juta sebanyak 12 orang atau 16,0%. Urutan
terakhir mereka yang memiliki rata-rata omset pendapatan sebesar 16 – 20 juta sebesar 8 orang atau 10,7% dari jumlah keseluruhan.
18.Laba Bersih
Deskripsi responden berdasarkan tanggapan mengenai total laba bersih perbulan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.23 Total Laba Bersih Dalam Satu Bulan
No Total Laba Bersih Frekuensi Persentase
1 < 1 juta 4 5,3% 2 1 - <5 juta 45 60,0% 3 5 - <10 juta 11 14,7% 4 10 - <15 juta 13 17,3% 5 >15 juta 2 2,7% Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden mengenai total laba bersih dalam satu bulan dengan total laba bersih 1 - <5 juta merupakan kelompok terbanyak dengan jumlah 45 orang atau 60,0% dari keseluruhan jumlah responden. Kemudian urutan kedua adalah mereka dengan total laba bersih satu bulan 10 - <15 juta sebanyak 13 orang atau 17,3%. Urutan ketiga adalah mereka dengan total laba bersih satu bulan 5 - <10 juta sebanyak 11 orang atau 14,7%. Dan yang keempat adalah mereka yang dengan total laba bersih <1 juta atau 5,3% dari jumlah keseluruhan. Selanjutnya yang terakhir mereka yang dengan total laba bersih >15 juta sebanyak 2 orang atau 2,7%.
19.Penentuan Harga Jasa Dalam Usaha Jasa Kecantikan
commit to user
Tabel IV.24 Distribusi Frekuensi Cara Menentukan Harga Jasa
No Menentukan Harga Jasa Frekuensi Persentase
1 Menentukan sendiri 57 76,0%
2 Mengikuti usaha jasa kecantikan lainnya
18 24,0%
Total 75 100%
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dari responden yang berjumlah 75 orang, mereka yang cara menentukan harga jasa kecantikan dengan cara menentukan sendiri pada usahanya berjumlah 57 orang atau 76,0% dari jumlah keseluruhan. Sedangkan untuk mereka yang cara menentukan harga jasa kecantikan dengan cara mengikuti usaha jasa kecantikannya lainnya pada usahanya berjumlah 18 orang atau 24,0% dari jumlah responden. Hal ini menunjukkan bahwa dalam menentukan harga dengan cara menentukan sendiri oleh usahawan jasa kecantikan ternyata lebih dominan dibandingkan dengan cara mengikuti usaha jasa kecantikan lainnya.
C. Analisis Data
1. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
Untuk menjawab permasalahan dan pengujian hipotesis yang ada pada penelitian ini perlu dilakukan analisis statistik terhadap data yang telah diperoleh. Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi. Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda menggunakan bantuan komputer program Eviews 6 diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel IV.25 Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
Dependent Variable: Y Method: Least Squares Date: 04/07/11 Time: 11:54 Sample: 1 75
Included observations: 75
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -5817817. 2481314. -2.344652 0.0219
X1 0.203547 0.051427 3.957935 0.0002
X2 232158.9 193798.2 1.197941 0.2350
X3 172538.7 60201.37 2.866027 0.0055
X4 2866982. 1030103. 2.783200 0.0069
R-squared 0.449862 Mean dependent var 4854000.
Adjusted R-squared 0.418425 S.D. dependent var 3877985.
S.E. of regression 2957392. Akaike info criterion 32.70185
Sum squared resid 6.12E+14 Schwarz criterion 32.85635
Log likelihood -1221.320 Hannan-Quinn criter. 32.76354
F-statistic 14.31019 Durbin-Watson stat 1.916130
Prob(F-statistic) 0.000000
Sumber: Data Primer Diolah, 2010
Persamaan regresi yang diperoleh dari hasil pengujian tersebut adalah:
Y = -5817817 + 0,20354X1 + 232158,9X2 + 172538,7X3 + 2866982X4 Keterangan :
Y = Keberhasilan Usaha Jasa Kecantikan X1 = Modal Usaha
X2 = Tingkat Pendidikan X3 = Lama Usaha X4 = Lokasi Usaha
Besarnya pengaruh variabel bebas yaitu modal usaha, tingkat pendidikan, lama usaha, dan lokasi usaha terhadap keberhasilan usaha jasa
commit to user
Jika X1, X2, X3, dan X4 nilainya = 0 maka nilai Y = 5817817
Koefisien regresi sebesar 0,20354 menyatakan bahwa setiap penambahan satu skor atau nilai Modal Usaha (X1) dapat meningkatkan nilai atau skor keberhasilan usaha jasa kecantikan sebesar 0,20354 rupiah.
Koefisien regresi sebesar 232158,9 menyatakan bahwa setiap penambahan satu skor atau nilai Tingkat Pendidikan (X2) dapat meningkatkan nilai atau skor keberhasilan usaha jasa kecantikan sebesar 232158,9 rupiah.
Koefisien regresi sebesar 172538,7 menyatakan bahwa setiap penambahan satu skor atau nilai Lama Usaha (X3) dapat meningkatkan nilai atau skor keberhasilan usaha jasa kecantikan sebesar 172538,7 rupiah.
Koefisien regresi sebesar 2866982 menyatakan bahwa setiap penambahan satu skor atau nilai Lokasi Usaha (X4) dapat meningkatkan nilai atau skor keberhasilan usaha Jasa Kecantikan sebesar 2866982 rupiah.
2. Uji Asumsi Klasik a. Multikolinieritas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat masalah multikolinearitas. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolineritas dapat dilihat pada nilai r2 regresi parsial dan R2 regresi utama. Apabila nilai r2 < R2, maka tidak terjadi multikolinearitas.
Tabel IV.27 Hasil Uji Multikolinearitas
Variabel r2 R2 Kesimpulan
Modal Usaha 0,195 0,449 Tidak terjadi multikolinearitas Tingkat Pendidikan 0,129 0,449 Tidak terjadi multikolinearitas Lama Usaha 0,112 0,449 Tidak terjadi multikolinearitas Lokasi Usaha 0,121 0,449 Tidak terjadi multikolinearitas Sumber: Data primer diolah, 2010.
Tabel IV.27 di atas menunjukkan bahwa semua variabel bebas yaitu modal usaha, tingkat pendidikan, lama usaha dan lokasi usaha mempunyai nilai R-squared di bawah R-squared regresi utama (<0,449), sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi pada penelitian ini tidak terjadi multikolinearitas.
b. Heteroskedastik
Salah satu asumsi pokok dalam regresi linear adalah bahwa variansi residual dari suatu pengamatan ke pengamatan lain adalah tidak sama. Apabila variansi tersebut tidak sama, maka berarti telah terjadi masalah heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas untuk mengetahui adanya heteroskedastisitas dengan menggunakan Uji White, dengan bantuan program Eviews 6.0 perintah yang dapat dilakukan adalah dengan meregresi variabel bebas dan variabel terikat, kemudian dari hasil dari hasil regresi OLS akan diperoleh nilai Obs*R-
squared. Nilai Obs*R-squared tadi lalu dibandingkan dengan nilai chi- squared tabel dengan df sesuai jumlah regresor dan level of significant
yang dipakai.
Berikut ini adalah ringkasan hasil uji heteroskedastisitas pada penelitian ini.
commit to user
Tabel IV.28 Hasil Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedasticity Test: White
F-statistic 1.600063 Prob. F(13,60) 0.1105
Obs*R-squared 19.05006 Prob. Chi-Square(13) 0.1216
Scaled explained SS 21.84289 Prob. Chi-Square(13) 0.0578
Sumber: Data primer diolah, 2010.
Dengan df = 13 (jumlah regresor) dan α= 5% didapatkan X2 tabel yaitu 22,362.
Nilai OBS*R-squares = 19,05006 < 22,362
Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat masalah heteroskedastiksitas
c. Autokorelasi
Untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara variabel gangguan sehingga penaksiran tidak lagi efisien baik dalam sampel kecil maupun sampel besar. Salah satu cara yang digunakan dalam pengujian autokorelasi adalah B-G Test. Dengan menggunakan program Eviews6.0 didapat hasil pada tabel IV.29 sebagai berikut:
Tabel IV.29 Hasil Uji Autokorelasi Dengan B-G Test
Variabel Probabilitas Modal Usaha 0,9735 Tingkat Pendidikan 0,9029 Lama Usaha 0,8554 Lokasi Usaha 0,9858 RESID (-1) 0,7708 F-statistic 0,312561 Obs*R-squared 0,683192 Sumber: Analisis data primer diolah, 2010.
Apabila dari hasil uji autokorelasi, diketahui bahwa nilai probalitas lebih besar dari 5%, maka hipotesis yang terdapat pada model tidak terdapat autokorelasi (autokorelasi ditolak).
3. Uji Statistik
a. Uji Statistik F-test
Berdasarkan hasil analisis regresi dapat diketahui hasil uji F (uji
Fisher) digunakan untuk menguji signifikansi model regresi. Tujuan dari uji F ini adalah untuk membuktikan secara statistik bahwa keseluruhan koefisien regresi yang digunakan dalam analisis ini signifikan. Apabila nilai signifikansi F lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05) maka model regresi signifikan secara statistik. Dari hasil pengujian diperoleh nilai F hitung sebesar 14,31019 dengan signifikansi sebesar 0,000. Nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05), berarti bahwa model regresi dengan variabel modal, tingkat pendidikan, lama usaha, lokasi usaha tingkat model signifikan secara statistik
b. Nilai Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi diperlukan untuk mengetahui berapa persen variasi variabel-variabel bebas yang ada dalam model, dalam hal ini pengalaman investor, lama menjual saham kembali, tingkat pendidikan, dan tingkat modal dapat menjelaskan variabel dependen yaitu keberhasilan investor dalam berinvestasi saham. Berdasarkan tabel IV.25 diperoleh hasil bahwa nilai Adjusted R Square sebesar 0,418425 yang berarti 41% variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel-variabel bebas. sedangkan sisanya sebesar 59% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
commit to user
c. Uji t-test
Uji ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel bebas dalam mempengaruhi variabel dependen. Kriteria pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai signifikan pada tingkat 0,05 dengan nilai signifikan hasil uji t, jika nilai signifikan uji t lebih kecil dari batas signifikan 0,05 maka nilai koefisien regresi variabel mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
a. Variabel Modal Usaha
Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh nilai probabilitas t statistik variabel modal usaha sebesar 0,0002 yang berarti signifikan pada tingkat signifikansi 5% (0,05). Oleh karena itu variabel modal usaha dikatakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan usaha jasa kecantikan di Surakarta.
b. Variabel Tingkat Pendidikan
Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh nilai probabilitas t statistik variabel tingkat pendidikan sebesar 0,2350 yang berarti tidak signifikan pada tingkat signifikansi 5% (0,05). Oleh karena itu variabel tingkat pendidikan dikatakan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan usaha jasa kecantikan di Surakarta.
c. Variabel Lama Usaha
Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh nilai probabilitas t statistik variabel lama usaha sebesar 0,0055 yang berarti signifikan pada tingkat signifikansi 5% (0,05). Oleh karena itu variabel lama
usaha dikatakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan usaha jasa kecantikan di Surakarta.
d. Lokasi Usaha
Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh nilai probabilitas t statistik variabel lokasi usaha sebesar 0,0069 yang berarti signifikan pada tingkat signifikansi 5% (0,05). Oleh karena itu variabel lokasi usaha dikatakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan usaha jasa kecantikan di Surakarta.
4. Pengujian Hipotesis a. Hipotesis 1
1) Pernyataan hipotesis yang menunjukan bahwa ”Diduga ada pengaruh yang signifikan antara variabel modal usaha terhadap keberhasilan usaha jasa kecantikan di Surakarta”. Hasil statistik uji t untuk menguji pengaruh variabel modal usaha diperoleh t statistik sebesar 3,957935 dengan tingkat signifikansi 0,0002. Oleh karena signifikansi kurang dari 5% (p < 0,05), maka hipotesis diterima. Dengan demikian hasil ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara variabel modal usaha