BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1.2 Gambaran Kecamatan Kabanjahe
Jumlah penduduk Kecamatan Kabanjahe sebanyak 72.246 jiwa yang mendiami wilayah seluas 44,65 . Sehingga kepadatan penduduk diperkirakan sebesar 1.618 jiwa/ . Penduduk laki-laki lebih sedikit dari perempuan. Laki-laki berjumlah 35.346 jiwa dan perempuan berjumlah 36.900 jiwa (Profil Kecamatan Kabanjahe, 2016).
Jika dilihat jumlah penduduk, maka Kelurahan Gung Negeri memiliki jumlah penduduk terbanyak dengan jumlah 12.574 jiwa (17,41%). Sedangkan jumlah penduduk terkecil ada di Desa Lau Simomo sebanyak 710 jiwa (0,97%).
Komposisi penduduk di Kecamatan Kabanjahe didominasi oleh penduduk muda/dewasa (Profil Kecamatan Kabanjahe, 2016).
Berdasarkan jumlah penduduk usia kerja yakni dari orang (penduduk berumur 15 tahun keatas terdapat sekitar 46.593 atau 94,20 persen penduduk
bekerja pada lapangan usaha pekerjaan yang ada di Kecamatan Kabanjahe. Jika dilihat dari jumlah penduduk yang ada menurut lapangan pekerjaan yang digeluti, maka sebagian besar penduduk usia kerja yakni 29.293 atau 62,86 persen bekerja pada lapangan usaha pertanian, sedangkan lapangan pekerjaan lainnya sebanyak 9.838 lainnya, PNS/ABRI sebanyak 4.856 orang. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian masih merupakan primadona bagi penyerapan tenaga kerja di Kecamatan Kabanjahe (Profil Kecamatan Kabanjahe, 2016).
Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo terdiri dari 8 desa yaitu desa Sumber Mufakat, Ketaren, Kacaribu, Kandibata, Kaban, Rumah Kaban, Samura dan Lau Simomo. Desa Sumber mufakat merupakan desa pertama yang dijumpai ketika akan ke Kabanjahe dari Medan dan desa Lau Simomo merupakan desa terjauh yaitu 15 km dari pusat Kecamatan Kabanjahe. Jenis tanaman yang terdapat pada 8 desa di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1 Jenis Tanaman pada 8 Desa di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
No. Desa Jenis Tanaman
1. Sumber Mufakat Bunga, bunga kol, cabe, tomat
2. Ketaren Kopi, brokoli, selada, bunga kol, terong belanda, cabe, tomat
3. Kacaribu Tomat, ubi rambat, cabe, jagung
4. Kandibata Kentang, cabe, selada, kopi, jagung, sawi
5. Kaban Tomat, cabe, sawi putih, bunga kol, brokoli, selada
6. Rumah Kaban Cabe, sawi, selada, tomat 7. Samura Selada, wortel, cabe, tomat 8. Lau Simomo Jeruk, kopi, jagung
Berdasarkan wawancara bersama Kepala Desa, petani di Desa Sumber Mufakat atau yang biasa dikenal Desa Sumbul lebih banyak memiliki tanaman
bunga daripada tanaman seperti tomat, sayur dan lain-lain. Walaupun ada beberapa petani yang dijumpain memiliki tanaman tomat dan cabe.
Desa Ketaren merupakan desa kedua yang dijumpai setelah Desa Sumber Mufakat. Berdasarkan wawancara dengan Kepala Desa bahwa petani di Desa Ketaren banyak yang menanam kopi, brokoli, selada, bunga kol, terong belanda dan cabe. Tetapi beberpa petani juga menanam tanaman tomat walaupun hanya sedikit.
Desa Kacaribu merupakan desa yang paling dekat dari pusat Kabanjahe.
Desa ini berada di jalan lintas Kotacane. Berdasarkan wawancara dengan Kepala Desa Kacaribu, tanaman yang banyak ditanam oleh petani adalah tomat. Beberapa petani juga menanam ubi rambat, cabe dan jagung.
Berdasarkan wawancara dengan Kepala Desa Kandibata, jenis tanaman yang banyak ditanam oleh petani adalah kentang, cabe, selada, kopi, jagung dan sawi. Hanya beberapa petani yang menanam tomat didesa tersebut. Sehingga peneliti susah untuk medapatkan petani tomat saat dilapangan.
Berdasarkan wawancara dengan kepala Desa Kaban, petani di Desa Kaban lebih banyak menanam tanaman hortikultura seperti cabe, tomat, sawi putih, bunga kol, brokoli, dan selada. Untuk Desa Kaban sendiri lebih dominan pada tanaman tomat. Desa ini lebih banyak menggunakan pekerja buruh harian sebagai petani.
Desa Rumah Kabanjahe berdekatan dengan desa Kaban. Berdasarkan hasil wawancara bersama Kepala Desa, tanaman yang banyak ditanam oleh petani juga
merupakan tanaman hortikultura, seperti cabe, sawi, selada dan tomat. Tanaman tomat cukup banyak di Desa Rumah Kabanjahe.
Desa Samura merupakan desa yang juga cukup dekat dari pusat kota.
Berdasarkan wawancara bersama Kepala Desa, jenis tanaman yang banyak ditanam oleh petani adalah selada, wortel, cabe dan tomat. Tanaman tomat di desa ini juga tidak begitu banyak.
Desa Lau Simomo merupakan desa terjauh dari pusat Kabanjahe. Jaraknya mencapai 15 km dari kantor Kecamatan Kabanjahe. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Desa, Desa ini sudah sangat jarang menanam tanaman hortikultura. Petani lebih banyak menanam tanaman jeruk, kopi dan jagung. Hal ini disebabkan karena Kelurahan/Desa disekeliling Desa Lau Simomo juga sudah banyak menanam tanaman keras seperti kopi dan jeruk. Jika petani menanam tanaman hortikultura maka akan mudah diserang hama. Hama lebih dominan berada pada tanaman muda seperti tanaman hortikultura.
3.2 Karakteristik Petani Penyemprot Pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
3.2.1 Umur Petani Penyemprot Pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
Karakteristik petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo memiliki umur termuda 26 tahun dan tertua 50 tahun. Distribusi frekuensi umur pada petani penyemprot pestisida dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2 Distribusi Umur pada Petani Penyemprot Pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
5. 46-50 tahun 4 20
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa dari 20 orang petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo terdapat 2 orang (10%) petani berumur 26-30 tahun, 4 orang (20%) petani berumur 31-35 tahun, 2 orang (10%) berumur 36-40 tahun, 8 orang (40%) petani berumur 41-45 tahun, dan 4 orang (20%) petani berumur 46-50 tahun.
3.2.2 Pendidikan Petani Penyemprot Pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
Distribusi frekuensi pendidikan pada petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Distribusi Pendidikan pada Petani Penyemprot Pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
No. Pendidikan Jumlah Persentase (%)
1. Sekolah Menengah Pertama 4 20
2. Sekolah Menengah Atas 14 70
3. Perguruan Tinggi 2 10
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa dari 20 orang petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo terdapat 4 orang (20%) petani dengan pendidikan Sekolah Menengah Pertama, 14 orang (70%) petani dengan pendidikan Sekolah Menengah Atas, dan 2 orang (10%) petani dengan pendidikan Perguruan Tinggi.
3.2.3 Masa Kerja Petani Penyemprot Pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
Berdasarkan kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu memiliki masa kerja minimal 5 tahun. Hasil penelitian menunjukkan masa kerja terlama yang terdapat pada petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo yaitu
33 tahun dan masa kerja tercepat yaitu 8 tahun. Distribusi frekuensi masa kerja pada petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo dapat dilihat pada tabel berikut: penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo terdapat 8 orang (40%) petani memiliki masa kerja 9-13 tahun, 3 orang (15%) petani memiliki masa kerja 14-18 tahun, 5 orang (25%) petani memiliki masa kerja 19-23 tahun, 3 orang (15%) petani memiliki masa kerja 24-28 tahun, dan 1 orang (5%) petani memiliki masa kerja 29-33 tahun.
4.3 Proses Penyemprotan Pestisida pada Petani Pestisida Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
Kegiatan pada penyemprotan pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo memiliki bebera proses kerja. Adapun proses penyemprotan pestisida di Kecamatan Kabanjahe sebagai berikut:
1. Proses Persiapan
a. Menyiapkan alat dan bahan untuk penyemprotan pestisida, adapun alat dan bahannya sebagai berikut:
- Alat: ember, sendok, kayu - Bahan: Air dan pestisida
Pada metode kerja ini seluruh petani yang diteliti menggunakan peralatan yang sederhana. Menyiapkan bahan dilakukan pada pagi hari yaitu pukul 06.30-07.00 WIB.
Gambar 4.2 Metode Kerja Persiapan Bahan dan Alat
b. Memeriksa alat penyemprotan, petani akan memastikan dengan cara memeriksa adakah kebocoran pada tangki dengan mengencangkan sambungan-sambungan pada alat semprot, melihat adakah lubang-lubang kecil pada tangki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa petani melakukan peniupan pada ujung alat semprot untuk memastikan ada atau tidak sumbatan. Distribusi frekuensi memeriksa alat penyemprotan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.5 Distribusi Memeriksa Alat Penyemprotan Pestisida pada Petani Penyemprot Pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo No. Memeriksa Alat Penyemprotan Jumlah Pesrsentase (%)
1. Meniup ujung alat semprot 10 50
2. Mengetuk ujung alat semprot 10 50
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa dari 20 petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo terdapat 10
orang (50%) petani meniup ujung alat semprot dan 10 orang (50%) petani mengetuk ujung alat semprot.
Gambar 4.3 Metode Kerja Pemeriksaan Alat
c. Pencampuran pestisida, pencampuran pestisida dilakukan pada ember dengan ukuran ± 5 liter dengan menggunakan sendok makan sebagai alat takar pestisida. Petani akan menyiapkan air bersih pada ember dan kemudian memasukkan beberapa pestisida ke dalam air yang berada di ember. Pencampuran beberapa jenis pestisida yaitu insektisida dan fungisida yang disesuaikan dengan keadaan hama yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani sedikitnya menggunakan 2 pestisida berdasarkan nama dagang untuk satu kali pencampuran dan terbanyak 6 pestisida berdasarkan nama dagang yang digunakan untuk satu kali pencampuran. Distribusi frekuensi pemakaian minimum pestisida berdasarkan nama dagang pada petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.6 Distribusi Pemakaian Minimum Pestisida Berdasarkan Nama Dagang pada Petani Penyemprot Pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
No. Pemakaian Minimum Jenis Pestisida (Merek Dagang)
Jumlah Persentase (%)
1. 2 jenis 3 15
2. 3 jenis 9 45
3. 4 jenis 4 20
4. 5 jenis 3 15
5. 6 jenis 1 5
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa dari 20 petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo terdapat 3 orang (15%) petani menggunakan sedikitnya 2 jenis untuk satu kali pencampuran, 9 orang (45%) petani menggunakan sedikitnya 3 jenis untuk satu kali pencampuran, 4 orang (20%) petani menggunakan sedikitnya 4 jenis pestisida untuk satu kali pencampuran, 3 orang (15%) petani menggunakan sedikitnya 5 jenis pestisida untuk satu kali pencampuran, dan 1 orang (5%) petani menggunakan sedikitnya 6 jenis pestisida untuk satu kali pencampuran.
Hasil penelitian menunjukkan masih ada petani yang melakukan pencampuran dengan sendok makan tanpa alat bantu seperti kayu untuk mengaduk. Distribusi frekuensi pencampuran pestisida pada petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.7 Distribusi Pencampuran Pestisida pada Petani Penyemprot Pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
No. Pencampuran Pestisida Jumlah Persentase (%) 1. Pencampuran dengan sendok
makan
5 25
2. Pencampuran dengan kayu 15 75
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.7 dapat diketahui bahwa dari 20 petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo terdapat 5 orang (25%) petani melakukan pencampuran pestisida dengan sendok makan dan 15 orang (75%) melakukan pencampuran pestisida dengan kayu.
Gambar 4.4 Metode Kerja Pencampuran Pestisida 2. Proses Kalibrasi
a. Menyiapkan alat, memeriksa apakah alat bisa dipakai atau tidak dengan cara mengisi tangki dengan air bersih kemudian setelah tangki tertutup alat aplikasi akan diberi tekanan atau sampai mecapai tekanan yang dianjurkan.
Selanjutnya air dalam tangki disemprotkan ke dalam ember beberapa kali.
Pada metode ini sebagian besar petani memeriksa alat setelah memasukkan larutan pestisida untuk melihat jalan keluarnya pestisida
Gambar 4.5 Metode Kerja Menyiapkan Alat
b. Memasukkan air yang telah bercampur dengan pestisida ke dalam tangki.
Setelah diaduk hingga rata kemudian larutan tersebut dimasukkan kedalam tangki dan disaring terlebih dahulu dengan kain saringan berupa baju bekas pakai untuk mencegah sumbatan ketika menyemprot. Kemudian ditambahkan air hingga tangki penuh. Tangki penyemprotan berukuran 16 liter. Sebagian besar petani menggunakan kain bekas untuk menyaring larutan pestisida.
Gambar 4.6 Metode Kerja Memasukkan Air Yang Telah Bercampur Dengan Pestisida Kedalam Tangki
c. Mengatur kecepatan jalan saat menyemprot, petani melakukan gerakan
menggunakan kecepatan maksimal ketika menyemprot sehingga semprotan yang keluar begitu deras dan cepat merata pada tumbuhan. Menurut petani ini merupakan usaha untuk meminimalkan waktu penyemprotan.
Gambar 4.7 Metode Kerja Mengatur Kecepatan Alat Semprot 3. Proses Aplikasi
Pada proses aplikasi atau penyemprotan pestisida petani tidak melihat arah angin yang ada pada saat ingin melakukan penyemprotan. Seluruh petani menyemprot tanaman sesuai dengan ledeng-ledeng tanaman. Gerakan menyemprot disesuaikan dengan tinggi rendahnya tanaman tomat tersebut.
Penyemprotan dilakukan pagi hari pada pukul 7-11 dan sore hari pada pukul 3-6 sore. Penyemprotan pada tanaman tomat dilakukan hanya satu kali dalam sehari dengan frekuensi penyemprotan 3 kali dalam seminggu. Seluruh petani tidak menggunakan alat pelindung diri. Sebagian besar petani menggunakan baju bekas untuk menutup mulut dan hidung. Distribusi frekuensi dari frekuensi penyemprotan pestisida pada petani di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Penyemprotan Pestisida pada Petani Penyemprot Pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
NoNnNNo. Frekuensi Penyemprotan Pestisida Per Minggu
Jumlah Persentase (%)
1. 2 Kali 4 20
2. 3 Kali 16 80
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.8 dapat diketahui bahwa dari 20 orang petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo terdapat 4 orang (20%) petani melakukan penyemprotan 2 kali dalam satu minggu dan 16 orang (80%) petani melakukan penyemprotan 3 kali dalam satu minggu.
Gambar 4.8 Metode Kerja Penyemprotan Pestisida 4. Proses Pembuangan Sisa
a. Pembuangan sisa penyemprotan, hasil penelitian menunjukkan bahwa sisa penyemprotan dibuang langsung ketanah atau disemprot hingga habis pada tanaman oleh petani. Distribusi frekuensi pembuangan sisa penyemprotan pada petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.9 Distribusi Pembuangan Sisa Penyemprotan pada Petani Penyemprot Pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
No. Pembuangan Sisa Penyemprotan Jumlah Persentase (%)
1. Dibuang di tanah 5 25
2. Disemprotkan pada tanaman 15 75
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui bahwa dari 20 petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo terdapat 5 orang (25%) petani membuang sisa penyemprotan di tanah dan 15 orang (75%) menyemprotkan pada tanaman hingga habis.
Gambar 4.9 Metode Kerja Pembuangan Sisa Penyemprotan b. Penyimpanan peralatan, sebagian besar petani menyimpan peralatan seperti
tangki dan pestisida disimpan di rumah petani, tidak ditinggal di gudang ladang, tetapi beberapa petani juga menyimpan pestisida dan peralatan lainnya pada gudang yang ada diladang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa petani menyimpan pestisida dirumah dan beberapa petani menyimpan diladang. Distribusi frekuensi penyimpanan pestisida pada
petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.10 Distribusi Penyimpanan Pestisida pada Petani Penyemprot Pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
No. Penyimpanan Pestisida Jumlah Persentase (%)
1. Di rumah 5 25
2. Di ladang 15 75
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.10 dapat diketahui bahwa dari 20 petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo terdapat 5 orang (25%) petani menyimpan pestisida di rumah dan 15 orang (75%) petani menyimpan pestisida di ladang.
Gambar 4.10 Metode Kerja Penyimpanan Alat- alat dan Pestisida c. Pembuangan kemasan pestisida, kemasan pestisida dibuang sembarangan
diladang tersebut. Ketika mulai mengganggu dan menumpuk petani kemudian membakar kemasan pestisida tersebut. Beberapa petani juga mengumpulkan pada keranjang sampah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 cara pembuangan sisa kemasan pestisida yang dilakukan oleh petani yaitu dikumpulkan pada keranjang sampah, dibakar di ladang dan dibuang sembarangan di ladang. Distribusi frekuensi pembuangan sisa
kemasan pada petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.11 Distribusi Pembuangan Sisa Kemasan Pestisida pada Petani Penyemprot Pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
No. Pembuangan Sisa Kemasan Pestisida Jumlah Persentase (%) 1. Dikumpukan pada keranjang sampah 11 55
2. Dibakar di ladang 7 35
3. Dibuang sembarangan di ladang 2 10
Jumlah 20 100
Berdasarkan tabel 4.11 dapat diketahui bahwa dari 20 petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo terdapat 11 orang (55%) mengumpulkan sisa kemasan pestisida pada keranjang sampah, 7 orang (35%) membakar sisa kemasan di ladang, dan 2 orang (10%) membuang sisa kemasan secara sembarangan di ladang.
Gambar 4.11 Metode Kerja Pembuangan Kemasan Pestisida 4.4 Hasil Identifikasi Bahaya dan Risiko pada Petani Penyemprot Pestisida
Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
4.4.1 Hasil Identifikasi Bahaya dan Risiko pada Petani Penyemprot Pestisida Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada Proses Persiapan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat bahaya dan risiko pada petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada proses persiapan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.12 Hasil Identifikasi Bahaya dan Risiko pada Petani Penyemprot Pestisida Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada Proses Persiapan
No. Proses Kerja Identifikasi Bahaya
Posisi janggal Cedera otot Posisi yang janggal saat mengangkat air
mata tangan. Terdapat beberapa keluhan seperti rasa sesak nafas, pusing dan mata perih.
4.4.2 Hasil Identifikasi Bahaya dan Risiko pada Petani Penyemprot Pestisida Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada Proses Kalibrasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat bahaya dan risiko pada petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada proses kalibrasi dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.13 Hasil Identifikasi Bahaya dan Risiko pada Petani Penyemprot Pestisida Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada Proses Kalibrasi
No. Proses Kerja Identifikasi Bahaya saringan tidak dicuci dan meninggalkan
Posisi janggal Nyeri Petani mengangkat
back pain), nyeri otot
dengan larutan pestisida dari bawah tanh ke atas meja tangki dengan posisi janggal. Terdapat
Nyeri otot Melakukan gerakan berulang untuk
4.4.3 Hasil Identifikasi Bahaya dan Risiko pada Petani Penyemprot Pestisida Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada Proses Aplikasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat bahaya dan risiko pada petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada proses aplikasi dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.14 Hasil Identifikasi Bahaya dan Risiko pada Petani Penyemprot Pestisida Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada Proses Aplikasi
No. Proses Kerja Identifikasi Bahaya
Tanah yang Terpeleset Petani tidak
lahan curam boot, keadaan ladang keluhan seperti nyeri pada pinggang, bahu,
Iritasi mata Menyemprot tanaman tomat yang sudah tua
Posisi janggal Nyeri otot Menyemprot tanaman tomat yang sudah tua memiliki tinggi ± 2 meter sehingga membuat petani mengangkat tangan keatas melebihi tinggi bahu, terdapat pestisida terpajan ke kulit punggung ketika melakukan
penyemprotan.
4.4.4 Hasil Identifikasi Bahaya dan Risiko pada Petani Penyemprot Pestisida Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada Proses Pembuangan Sisa
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat bahaya dan risiko pada petani penyemprot pestisida di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada proses pembuangan sisa dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.15 Hasil Identifikasi Bahaya dan Risiko pada Petani Penyemprot Pestisida Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada Proses Pembuangan Sisa
No. Proses Kerja Identifikasi Bahaya
keluhan seperti rasa panas dan gata pada
peralatan yang tidak
rapi dapat
4.5 Analisis Risiko Keselamatan Dan Kesehatan Kerja pada Petani Penyemprot Pestisida Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo
Keberadaan potensi bahaya tersebut dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja yang berdampak terhadap petani itu sendiri, orang lain, dan lingkungan. Potensi bahaya sendiri menimbulkan risiko terhadap petani yang dapat ditentukan dari kemungkinan, konsekuensi dan paparan. Risiko tersebut kemudian dianalisa berdasarkan observasi dengan petani sesuai dengan proses kerja untuk melihat seberapa besar tingkat risiko yang dialami oleh petani. Risiko ini dinilai dan dikelompokkan kedalam beberapa tingkat risiko.
Tabel 4.16 Jumlah Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Petani Penyemprot Pestisida Berdasarkan Tingkat Risiko
No. Proses Kerja Tingkat Risiko Total Risiko
A P3 S P VH
Keterangan : - A : Acceptable (Lakukan kegiatan seperti biasa) - P3 : Priority (Memerluakan perhatian).
- S : Substantial (Mengharuskan perbaikan).
- p : Priority (Memerlukan penanganan secepatnya).
- VH : Very High (Penghentian aktivitas sampai tingkat risiko dikurangi).
Berdasarkan analisa dan penilaian risiko yang diperoleh dari lapangan, didapatkan sebanyak 21 risiko termasuk diantaranya 7 risiko kedalam kategori acceptable (33%), 11 risiko kedalam kategori priority 3 (53%) dan 3 risiko
kedalam kategori substantial (14%). Melalui penilaian risiko maka akan ditemukan pengendalian yang sesuai dengan risiko yang ada.
Gambar 4.12 Persentase Tingkat Risiko
4.5.1 Analisis Risiko Keselamatan Dan Kesehatan Kerja pada Petani Penyemprot Pestisida Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada Proses Persiapan
Proses persiapan memiliki 3 metode kerja yang dimulai dari menyiapkan bahan-bahan, memeriksa alat dan pencampuran pestisida. Dari hasil observasi pada metode kerja menyiapkan bahan-bahan terdapat bahaya permukaan tanah yang licin ini dikarenakan saat mengambilkan terjadinya tumpahan air dari ember.
Ini dapat menyebabkan petani terpeleset dan menyebabkan luka ringan. Hal ini selalu terjadi pada setiap persiapan bahan-bahan. Kemudian posisi janggal juga terjadi saat pengambilan air dari tampungan air. Ini dapat menyebabkan cedera otot ringan yang dapat terjadi saat melakukan pengangkatan.
[CATEGORY
Kemudian metode kerja memeriksa alat terdapat bahaya meniup ujung saluran semprot. Bahaya ini dapat menimbulkan risiko keracunan pestisida mulai dari akut hingga kronis. Hal ini dapat terjadi jika petani selalu melakukan kebiasaan menyemprot ujung saluran semprot.
Metode kerja selanjutnya yaitu pencampuran pestisida. Pada metode kerja ini terdapat bahaya mengaduk pestisida dengan sendok makan dan debu pestisida.
Mengaduk pestisida dengan sendok makan menyebabkan tangan petani terpajan pestisida. Ini dapat menyebabkan cedera ringan seperti gata-gatal dan panas pada tangan petani. Hal ini selalu terjadi ketika petani melakukan metode kerja tersebut. Debu pestisida berasal dari pestisida dengan bentuk tepung. Saat mengambil pestisida terjadi gepulan debu pestisida. Petani akan terpajan pestisida yang dapat menyebabkan cedera ringan berupa sesak nafas dan mata perih.
Dikarenakan petani tidak menggunakan alat pelindung diri. Hal ini selalu terjadi saat pencampuran pestisida.
Gambar 4.12 Keadaan Tanah yang Basah dan Pengadukan Menggunakan Sendok Makan
Tabel 4.17 Analisis Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Petani Penyemprot Pestisida Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada Proses Persiapan
5. Debu pestisida Terpajan pestisida,
4.5.2 Analisis Risiko Keselamatan Dan Kesehatan Kerja pada Petani Penyemprot Pestisida Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo pada Proses Kalibrasi
Proses kalibrasi memiliki 3 metode kerja dimulai dari menyiapkan alat, memasukkan air yang telah bercampur dengan pestisida kedalam tangki, dan mengatur kecepatan jalan saat menyemprot.
Metode kerja menyiapkan alat memiliki bahaya meniup ujung saluran semprot ini dapat menimbulkan risiko keracunan pestisida mulai dari keracunan kronis maupun akut. Ini dapat terjadi terjadi pada saat petani meniup ujung saluran semprot menyebabkan tertelan pestisida. Jika terjadi membutuhkan
Metode kerja menyiapkan alat memiliki bahaya meniup ujung saluran semprot ini dapat menimbulkan risiko keracunan pestisida mulai dari keracunan kronis maupun akut. Ini dapat terjadi terjadi pada saat petani meniup ujung saluran semprot menyebabkan tertelan pestisida. Jika terjadi membutuhkan