STATUS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA
3.2 Gambaran Pendidikan Kabupaten Penajam Paser Utara
Kecamatan Loa Janan Kabupaten Kutai, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Samboja Kota Balikpapan dan Selat Makasar, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Long Kali Kabupaten Paser, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Bongan Kabupaten Kutai Barat dan Kecamatan Long Kali Kabupaten Paser. Luas
Kabupaten Penajam Paser Utara adalah 3.333,06 km2 yang
terdiri dari empat kecamatan yaitu Kecamatan Babulu, Waru, Penajam dan Sepaku.
3.2 Gambaran Pendidikan Kabupaten Penajam Paser Utara
untuk memperoleh pendidikan sehingga tercapai tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal yang sama juga tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2002 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Di dalam Sistem Pendidikan Nasional dapat dibedakan atas struktur pendidikan yaitu pendidikan umum, pendidikan masyarakat dan pendidikan kedinasan. Pada bahasan ini lebih ditekankan pada pendidikan umum, yang terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Pendidikan dasar adalah pendidikan yang bertujuan untuk memberikan dasar pengembangan kehidupan, baik untuk pribadi maupun untuk masyarakat. Pendidikan dasar juga dipersiapkan untuk dapat mengikuti pendidikan menengah. Dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), dibidang pendidikan telah
dicanangkan program wajib belajar (Wajar) pendidikan dasar 9 tahun sejak tahun 1994.
Pasal 31 ayat 2 UUD 1945 beserta amandemennya menyatakan bahwa setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Landasan ini memberikan gambaran bahwa pemerintah serius dalam upaya meningkatkan kualitas SDM bidang pendidikan. Di tingkat regional, khususnya di Kabupaten Penajam Paser Utara, untuk menambah tingkat kesejahteraan dan peningkatan mutu pendidikan, pemerintah kabupaten juga memberikan honor tambahan bagi tenaga pendidik dan administrasi untuk semua jenjang pendidikan baik negeri maupun swasta, termasuk Taman Kanak-Kanak serta melakukan pelatihan-pelatihan terhadap tenaga pendidik.
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat yang berperan meningkatkan kualitas hidup. Semakin tinggi tingkat pendidikan suatu masyarakat, semakin baik pula kualitas sumber daya manusianya. Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar manusia untuk mengembangkan kepribadian di dalam maupun di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Oleh karenanya agar pendidikan dapat dimiliki oleh seluruh rakyat sesuai dengan kemampuan masing-masing individu, maka pendidikan adalah tanggung jawab keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Strategi pembangunan pendidikan dijabarkan melalui empat sendi pokok yaitu pemerataan kesempatan, relevansi pendidikan dengan pembangunan, kualitas pendidikan dan efisiensi pengelolaan. Pemerataan kesempatan pendidikan diupayakan melalui penyediaan
sarana dan prasarana belajar seperti gedung sekolah baru dan penambahan tenaga pengajar mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Relevansi pendidikan merupakan konsep ‘link and match’, yaitu pendekatan atau strategi meningkatkan relevansi sistem pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja. Kualitas pendidikan adalah menghasilkan manusia terdidik yang bermutu dan handal sesuai dengan tuntutan zaman. Sedangkan efisiensi pengelolaan pendidikan dimaksudkan bahwa pendidikan diselenggarakan secara berdaya guna dan berhasil guna.
Pemerintah sampai saat ini dan juga di masa-masa mendatang akan terus berusaha meningkatkan pendidikan bangsanya agar cita-cita kemerdekaan dapat menjadi kenyataan. Dalam pelaksanaannya tercermin pada pasal 31 ayat 1 Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang
menyatakan, “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”.
Pemerintah sadar, bahwa untuk mendapatkan pendidikan yang memadai harus ditunjang dengan kemampuan masyarakat. Rendahnya pendapatan keluarga selalu menjadi kendala untuk tidak menyekolahkan anaknya. Realita ini senantiasa ditemui di sekeliling kita. Banyak anak yang mestinya belajar, namun sudah harus bekerja untuk membantu menambah penghasilan keluarga. Kondisi ini mendorong Pemerintah membuat kebijaksanaan wajib belajar sekolah dasar enam tahun yang kemudian disusul dengan wajib belajar pendidikan sembilan tahun. Kebijaksanaan lain adalah melalui program sekolah terbuka.
Program atau kebijakan pemerintah dewasa ini dalam bidang pendidikan pada hakekatnya adalah bertujuan untuk menampung jumlah murid sebanyak-banyaknya.
Penekanan program adalah pada aspek kuantitas. Hal ini sangat dimaklumi karena pemerintah ingin agar penduduk Kalimantan Timur khususnya dan penduduk Indonesia pada umumnya terbebas dari masalah buta huruf, buta bahasa Indonesia dan buta pendidikan dasar.
Selain itu aspek kualitas juga harus mendapat perhatian. Hal ini dalam rangka menyongsong abad globalisasi, dimana berbagai pengaruh dari luar masuk dengan bebas ke negeri ini. Kualitas harus dimiliki untuk siap bersaing dengan pihak luar.
Semakin tinggi akses terhadap fasilitas pendidikan, diharapkan semakin banyak pula penduduk yang dapat bersekolah, sehingga pemerataan pendidikan dapat terwujud. Salah satu indikator untuk mengukur pemerataan akses pendidikan adalah Angka Partisipasi Kasar (APK).
Dari Tabel 3.2.1 di bawah ini dapat kita ketahui bahwa APK SD tahun 2010 menunjukkan angka 114,28 persen, sedangkan APM SD hanya mencapai 95,69 persen. Selisih sekitar 19 persen antara APK dan APM disebabkan oleh adanya penduduk yang seharusnya tidak bersekolah di SD tetapi sudah/masih bersekolah di SD. Penduduk tersebut terdiri atas penduduk yang seharusnya belum bersekolah di SD atau usianya kurang dari 7 tahun dan penduduk yang seharusnya sudah menyelesaikan pendidikannya di SD atau penduduk yang berusia di atas 12 tahun. Besarnya proporsi ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kecenderungan orang tua untuk menyekolahkan anaknya lebih dini atau sebaliknya, terdapat pula orang tua yang terlambat menyekolahkan anaknya.
Pada jenjang pendidikan SLTP, APK mencapai 89,97 persen dan APM mencapai 75,97 persen. Selisih ini
disebabkan oleh banyaknya penduduk berumur kurang dari 13 tahun dan penduduk berumur di atas 15 tahun yang bersekolah di SLTP. Uraian di atas perlu dilakukan kajian lebih mendalam untuk melihat keterersediaan fasilitas pendidikan lanjutan dengan jarak dari Lokasi SD, serta melihat motifasi dan dukungan orang tua. Sementara itu APK dan APM SLTA sebesar 68,86 dan 56,10 persen.
Tabel 3.2.1 Angka Partisipasi Kasar (APK) Kabupaten Penajam Paser Utara
Tahun 2010
Sumber : Susenas Kabupaten Penajam Paser Utara, Tahun 2010
Indikator penting lainnya yang dapat dipakai untuk
Jenjang Pendidikan APK APM
SD 114,28 95,69
SLTP 89,97 75,97
tertinggi yang ditamatkan. Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk, semakin baik kualitas sumber dayanya.
Kualitas sumber daya manusia Kabupaten Penajam Paser Utara masih rendah. Walaupun demikian jika dilihat perkembangan dari tahun 2006 ke tahun 2010, pendidikan masyarakat Kabupaten Penajam Paser Utara mengalami perubahan yang cukup bagus. Berdasarkan Susenas tahun 2009, lebih dari setengah penduduk usia 10 tahun ke atas berpendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah.
Pada tahun 2010, persentase penduduk yang berpendidikan SD ke bawah sekitar 59,34 % (tidak memiliki ijazah SD sebanyak 28,04 persen dan tamat SD/sederajat 31,30 %)
Pada jenjang pendidikan menengah dimana persentase pendidikan penduduk tahun 2010 yang
menamatkan pendidikan tingkat SLTP/sederajat 17,35 persen dan persentase pendidikan penduduk tahun 2010 yang menamatkan pendidikan tingkat SMU/sederajat sekitar 18,34 persen. sedangkan untuk tahun 2010 penduduk yang menamatkan pendidikan Perguruan Tinggi mengalami kenaikan dibandingkan dengan Tahun 2009 menjadi sekitar 4,97. Hal ini diduga terjadi karena adanya keharusan bagi Tenaga Pendidikan dan Tenaga Kesehatan yang diwajibkan mengikuti peendidikan di Perguruan Tinggi.
Tabel 3.2.2 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Di Kabupaten Penajam Paser Utara, Tahun 2010
Sumber : Susenas Kabupaten Penajam Paser Utara, Tahun 2010
3.3 Gambaran Kesehatan Kabupaten Penajam Paser