• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Gambaran Penggunaan Antihipertensi

4. Gambaran penggunaan antihipertensi berdasarkan diagnosa

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh dua kelompok kasus yang

dikategorikan berdasarkan diagnosa ada atau tidaknya indikasi penyakit penyulit,

yaitu kasus hipertensi tanpa penyulit dan kasus hipertensi yang disertai penyakit

penyulit berupa diabetes mellitus.

a. Hipertensi tanpa penyakit penyulit

Distribusi penggunaan antihipertensi pada pasien rawat jalan tanpa

penyakit penyulit di RSUD Muntilan periode Januari sampai April 2010 dapat

dilihat pada tabel IX.

Tabel IX. Distribusi Penggunaan Antihipertensi Berdasarkan Klasifikasi Hipertensi

JNC 7 Pada Kasus Hipertensi Tanpa Penyakit Penyulit di RSUD Muntilan Periode

Januari-April 2010

Diagnosa Berdasarkan

Klasifikasi Hipertensi JNC 7

Golongan Antihipertensi Jumlah

Kasus

Rata-rata

Biaya (Rp)

Normal (Hipertensi Terkontrol)

ACEI+Diuretik 1 37.392

CCB+Diuretik 1 51.396

Rata-rata total biaya 2 44.394

Pre-hipertensi

ACEI 1 21.720

CCB 3 41.100

ACEI+CCB 1 60.720

ACEI+Diuretik 1 37.392

ARB+CCB 1 252.600

CCB+Diuretik 1 36.996

ARB+CCB+Diuretik 1 178.092

ACEI+CCB+Diuretik+BB 1 138.792

Rata-rata total biaya 10 76.741,2

Hipertensi tingkat I

ACEI 1 61.500

CCB 4 42.150

Diuretik 2 2.082

ACEI+CCB 1 72.420

ACEI+Diuretik 5 52.017,4

ARB+CCB 1 252.600

BB+CCB 2 127.140

BB+Diuretik 2 76.632

CCB+Diuretik 4 43.989

ARB+CCB+Diuretik 1 235.692

Rata-rata total biaya 23 42.009,67

Hipertensi tingkat II

ACEI 9 32.537,33

ARB 2 136.204

CCB 3 20.100

ACEI+ARB 1 130.920

ACEI+CCB 5 102.126,6

ACEI+Diuretik 6 39.264

ARB+Diuretik 1 129.372

CCB+Diuretik 4 55.887

ACEI+CCB+Diuretik 2 152.892

ARB+CCB+Diuretik 4 165.483

ACEI+CCB+Diuretik+BB 1 138.792

Rata-rata total biaya 38 29.041,52

TOTAL RATA-RATA BIAYA BERDASARKAN

KLASIFIKASI JNC 7 73 48.046,60

Keterangan: ACEI=ACE-inhibitor, CCB=calcium channel blocker, BB=β-bloker, ARB=

angiotensin II reseptor blocker. Dari 106 kasus hipertensi, terdapat 73

kasus hipertensi tanpa disertai penyakit penyulit.

Berdasarkan tabel IX dapat diketahui bahwa kasus yang terdiagnosa

hipertensi tanpa penyakit penyulit berjumlah 73 kasus. Dari hasil yang diperoleh

ternyata terdapat dua kasus yang tekanan darahnya dinyatakan normal yaitu 97/60

mmHg dan 114/74 mmHg pada saat dilakukan pemeriksaan tekanan darah. Pada

kasus hipertensi yang tekanan darahnya dinyatakan normal tersebut telah

mendapatkan terapi farmakologi berupa kombinasi CCB dengan diuretik dan

ACEI dengan diuretik. Terapi kombinasi antihipertensi ini diberikan karena pada

kasus tersebut dimungkinkan pasien telah lama menjalani terapi dengan

antihipertensi sehingga tekanan darah pasien kembali normal dengan

antihipertensi yang digunakannya.

Pada penelitian ini juga terdapat 10 kasus pre-hipertensi tanpa penyakit

penyulit. Pada tabel IX menunjukkan adanya kasus pre-hipertensi yang

mendapatkan terapi farmakologi berupa antihipertensi baik dalam bentuk terapi

tunggal maupun dengan terapi kombinasi antihipertensi. Terapi yang paling

banyak digunakan pada kasus pre-hipertensi ini yaitu golongan CCB sebanyak 3

kasus, sedangkan untuk golongan antihipertensi yang lain baik dalam terapi

tunggal maupun kombinasi antihipertensi lain masing-masing hanya terdapat 1

kasus. Dalam kasus pre-hipertensi tanpa penyakit penyulit ini apabila

dibandingkan dengan kesesuaian yang terdapat dalam JNC 7, maka pada kasus

pre-hipertensi tersebut tidak sesuai. Hal ini ditinjau dari JNC 7 yang menyatakan

bahwa pasien yang dikategorikan sebagai pre-hipertensi tanpa penyakit penyulit

tidak direkomendasikan mendapat terapi farmakologi berupa antihipertensi

malainkan hanya memodifikasi gaya hidup saja. Akan tetapi, ada beberapa kasus

pasien dalam klasifikasi tersebut yang melakukan kontrol ke dokter sehingga

dapat dinyatakan tekanan darahnya sudah terkontrol dengan antihipertensi yang

digunakannya dan pada saat melakukan pemeriksaan rutin, pasien tersebut oleh

dokter diklasifikasikan kedalam pre-hipertensi, ini dikarenakan tekanan darahnya

yang telah mendekati rentang normal.

Terdapat 23 kasus hipertensi tingkat I tanpa penyakit penyulit pada

penelitian ini. Antihipertensi yang paling banyak digunakan dalam bentuk tunggal

adalah golongan CCB sebanyak 4 kasus. Sedangkan untuk penggunaan kombinasi

antihipertensi yang paling banyak adalah golongan ACEI dengan diuretik dan

CCB dengan diuretik sebanyak 5 kasus dan 4 kasus. JNC 7 merekomendasikan

diuretik thiazide sebagai obat pilihan pertama pada hipertensi tanpa penyakit

penyulit sedangkan ACE-Inhibitor merupakan terapi lini kedua. Apabila tekanan

darah tidak mencapai target, maka dapat dipertimbangkan penggunaan CCB, β

-bloker, atau kombinasi (Chobanian et al., 2003).

Dalam tabel IX dapat diketahui bahwa terdapat 38 kasus hipertensi tingkat

II tanpa penyakit penyulit. Antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah

golongan ACEI sebanyak 9 kasus dalam bentuk terapi tunggal serta ACEI dalam

bentuk kombinasi dengan diuretik sebanyak 6 kasus, dan ACEI dengan CCB

sebanyak 5 kasus. Untuk penggunaan kombinasi 3 antihipertensi terdapat 4 kasus

berupa ARB, CCB, diuretik dan 2 kasus berupa ACEI, CCB, diuretik. Selain itu,

terdapat 1 kasus yang menggunakan kombinasi 4 antihipertensi berupa ACEI,

CCB, diuretik dan BB. JNC 7 merekomendasikan terapi untuk pasien hipertensi

tingkat II tanpa penyakit penyulit dengan menggunakan 2 kombinasi

antihipertensi yang mana salah satunya menggunakan diuretik. Adapan golongan

diuretik yang biasanya digunakan adalah golongan thiazide yang dikombinasikan

dengan ACE-inhibitor, ARB, BB, atau CCB.

Berdasarkan tabel IX, diketahui bahwa untuk kasus tekanan darah normal

membutuhkan rata-rata total biaya Rp 44.394 untuk membeli obat antihipertensi,

kasus pre-hipertensi membutuhkan rata-rata total biaya Rp 76.741,20, kasus

hipertensi tingkat I membutuhkan rata-rata total biaya Rp 42.009,67, dan untuk kasus

hipertensi tingkat II membutuhkan rata-rata total biaya Rp 29.041,52.

b. Hipertensi dengan penyakit penyulit berupa Diabetes mellitus

Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok gejala penyimpangan

metabolisme lemak, karbohidrat, dan protein, karena kurangnya sekresi insulin,

sensitivitas tubuh terhadap insulin atau keduanya dan ditandai dengan naiknya

kadar gula dalam darah. Diabetes mellitus dapat berakibat pada komplikasi kronik

meliputi penyakit mikrovaskular, makrovaskular dan neuropatik (Triplitt et al.,

2005). Tekanan darah target pada pasien hipertensi dengan diabetes adalah 130/80

mmHg (Dipiro et al., 2008).

Penggunaan golongan ACE-inhibitor lebih menguntungkan daripada

golongan CCB jenis dihidropiridin yang efektivitasnya lebih rendah pada pasien

hipertensi dengan diabetes mellitus. Pada pasien dengan hipertensi sedang

maupun berat dan diabetes mellitus tipe 1 maupun 2, pemilihan ACE-inhibitor

sebagai lini pertama terapi pada pasien dengan diabetes mellitus merupakan

pilihan yang rasional. Golongan antihipertensi lain seperti ARB, BB, atau diuretik

dapat digunakan pada pasien diabetes mellitus yang berfungsi dalam menurunkan

timbulnya penyakit jantung dan menurunkan perkembangan penyakit ginjal.

Sedangkan untuk golongan CCB sebaiknya digunakan sebagai lini kedua untuk

pasien yang tidak bisa menerima golongan lain yang direkomendasikan atau

memerlukan antihipertensi tambahan untuk mencapai tekanan darah yang

diharapkan (ADA, 2002).

Dari tabel X menunjukkan bahwa teradapat 33 kasus hipertensi yang

disertai penyakit penyulit berupa diabetes mellitus, 16 kasus diantaranya

menggunakan golongan ACE-Inhibitor. 4 kasus menggunakan ACE-Inhibitor

dalam bentuk tunggal, 8 kasus dikombinasikan dengan CCB, 4 kasus

dikombinasikan dengan CCB dan diuretik. Sembilan kasus menggunakan CCB

tunggal, 2 kasus menggunakan diuretik tunggal, 2 kasus menggunakan kombinasi

CCB dan diuretik, 2 kasus menggunakan kombinasi ARB dan CCB, serta 2 kasus

menggunakan kombinasi ARB dan diuretik.

Tabel X. Distribusi Penggunaan Antihipertensi Pada Kasus Hipertensi

yang Disertai Penyakit Penyulit Berupa Diabetes Mellitus di RSUD Muntilan

Periode Januari-April 2010

Diagnosa Golongan Antihipertensi Jumlah

Kasus

Hipertensi dengan Diabetes Mellitus

ACEI 4

CCB 9

Diuretik 2

ACEI+CCB 8

ARB+CCB 2

ARB+Diuretik 2

CCB+Diuretik 2

ACEI+CCB+Diuretik 4

Total 33

Keterangan: ACEI=ACE-inhibitor, CCB=calcium channel blocker, BB=β-bloker, ARB=

angiotensin II reseptor blocker. Dari 106 kasus hipertensi, terdapat 33

kasus hipertensi yang disertai penyakit penyulit berupa diabetes mellitus.

C. Analisis Biaya

Dalam penelitian ini dilakukannya analisis biaya yaitu untuk mengetahui

rata-rata biaya medik langsung yang dikeluarkan oleh pasien hipertensi rawat

jalan di RSUD Muntilan untuk terapi setiap bulannya. Selain itu, analisis biaya

dilakukan untuk melihat keefektifan pengobatan hipertensi yang dilakukan dan

melihat efisiensi sumber daya yang digunakan.

Komponen biaya yang dianalisis yaitu biaya medik langsung yang

meliputi biaya antihipertensi, biaya non hipertensi, biaya pemeriksaan

laboratorium, dan biaya administrasi. Harga obat yang digunakan yaitu untuk

kasus Askes dengan melihat harga yang terdapat di DPHO tahun 2010 sedangkan

untuk kasus non-Askes dengan melihat harga jual obat yang telah ditetapkan oleh

instalasi farmasi, apotek rawat jalan RSUD Muntilan tahun 2010. Pada penelitian

ini dari 130 kasus hipertensi yang dievaluasi, terdapat 99 kasus hipertensi yang

menggunakan Askes mendapat terapi antihipertensi dan kasus hipertensi

non-Askes yang mendapatkan terapi antihipertensi sebanyak 7 kasus. Terdapat 46

kasus hipertensi yang menggunakan Askes dengan data pembelian obatnya tidak

ditemukan di Instalasi Farmasi seperti yang tercantum dalam lampiran 1.

Dokumen terkait