• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN PENYAKIT MENULAR 1 Penyakit Menular langsung

Dalam dokumen profil kesehatan kota depok tahun 2012 (Halaman 40-47)

Tabel IV.2. POLA 10 BESAR PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT JALAN DIPUSKESMAS KOTA DEPOK TAHUN 2012

C. GAMBARAN PENYAKIT MENULAR 1 Penyakit Menular langsung

C.1.1 TB PARU

Angka penemuan kasus baru TB Paru (BTA+) di Kota Depok tahun 2012 sebanyak 1110 yang dilaporkan Puskesmas sebesar 910 kasus dan 200 kasus dilaporkan oleh Rumah Sakit(Sumber laporan dari Seksi P2P) dengan perkiraan penderita TBBTA+ yaitu sebanyak 1940 kasus. Case Detection Rate (CDR) puskesmas tahun 2011 adalah 52,2%% dan tahun 2012 adalah 57,2%. Berikut akan disajikan jumlah kasus BTA+ di Kota Depok tahun 2007-2012.

Gambar IV.A.5

Jumlah kasus BTA+ di Kota Depok tahun 2007-2012

Sumber : Laporan data seksi P2P

Dari gambar di atas terlihat bahwa angka kejadian kasus baru BTA+ dari tahun 2007-2012 mengalami peningkatan yakni dari 1.092 pada tahun 2007 menjadi 1.155 di tahun 2008, namun menurun pada tahun 2009 dan 2010, dimana pada tahun 2010 mencapai 915 dan menurun di tahun 2011 menjadi 897 kasus dan mengalami peningkatan dari tahun 2011 ke tahun 2012 meningkat menjadi 1110 kasus, hal ini memperlihatkan bahwa adanya peningkatan manajemen data yang dibuktikanpada tahun 2012 laporan yang masuk bukan hanya dari Puskesmas saja terdapat laporan dari Rumah sakit . Pada gambar IV.A.6 terlihat bahwa angka kesembuhan pada tahun 2012 di 11 Kecamatan dengan jumlah kasus BTA+ terbesar terdapat di Kecamatan Pancoran Mas sebesar 257 kasus dengan tingkat kesembuhan tertinggi sebesar 185 kasusdan 2 orang mendapatkan pengobatan lengkap. Hal Bila dilihat secara global terdapat sebanyak 872 kesembuhan atau 90,36%.

Gambar IV.A.6

Jumlah kasus BTA+ di Kota Depok yang tersebar di Kecamatan di Kota Depok tahun 2012

Sumber Laporan data seksi P2P

C.1.2 Pneumonia

Pneumonia merupakan sebuah penyakit pada paru-paru di mana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer meradang dan terisi oleh cairan. Radang paru-paru dapat disebabkan oleh beberapa penyebab, termasuk infeksi oleh bakteria, virus, jamur, atau pasilan (parasite). Radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri biasanya diakibatkan oleh bakteri streptococcus danmycoplasma pneumoniae. Radang paru-paru dapat juga disebabkan oleh kepedihan zat-zat kimia atau cedera jasmani pada paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya, seperti kanker paru-paru atau berlebihan minum alkohol.

Cakupan penemuan kasus pneumonia di Kota Depok tahun 2009-2012 berkisar 11,12%-28,44% hal ini masih sangat jauh dari target yaitu 68% dengan rincian sebagai berikut:

Gambar IV.A.7

Cakupan Penemuan Kasus Pneumonia di Kota Depok Tahun 2009- 2012

Sumber : Laporan Data Seksi P2P

Tahun 2012 jumlah perkiraan penderita sebesar 14.392 sedang penderita yang ditemukan dan ditangani sebesar 1.341. Bila kita lihat penemuan kasus setiap kecamatan sebagai berikut:

Gambar IV.A.8

Jumlah Kasus Pneumonia Yang Ditemukan dan Ditangani Tahun 2012

C.1.3 DIARE

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan, dimana sarana air bersih dan BAB serta perilaku manusia yang tidak sehat merupakan faktor dominan penyebab penyakit tersebut. Peningkatan kasus sangat dipengaruhi oleh adanya perubahan cuaca/musim, terutama terhadap ketersediaan air bersih di masyarakat. Kasus diare dapat menyebabkan kematian terutama pada saat Kejadian Luar Biasa (KLB).Pada tahun 2011 di Kota Depok terdapat 41.269 kasus diare ditangani dengan proporsi sebesar 51,16% dan tahun 2012 terdapat 20.604 kasus yang ditangani. (Sumber : Laporan data seksi P2P)

Gambar IV.A.9

Jumlah kasus Diare yang ditangani tahun 2007-2012

Sumber : Seksi P2P 2013

Kasus diare dapat dikorelasikan dengan perbaikan hygiene sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat, karena secara umum penyakit diare sangat berkaitan dengan kedua faktor tersebut. Upaya penanggulangan diare dilakukan dengan pemberian oralit dan penggunaan infus pada penderita, penyuluhan kepada masyarakat agar meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari serta melibatkan peran serta kader dalam tatalaksana diare karena dengan penanganan yang tepat dan

cepat ditingkat rumah tangga maka diharapkan dapat mencegah terjadinya kasus dehidrasi berat yang dapat mengakibatkan kematian. Tindakan penanganan segera dilaksanakan dengan melibatkan lintas sektor dan lintas program serta dengan meningkatkan kesiagaan melalui kegiatan surveilans kasus diare yang dilaporkan setiap minggu dari laporan puskesmas dan rumah sakit yang ada di wilayah Kota Depok.

C.1.4.KUSTA

Penyakit Kusta adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae yang ditandai dengan adanya bercak putih atau kemerahan pada kulit yang disertai matirasa/anastesi, penebalan syaraf tepi

juga disertai gangguan fungsi syaraf berupa mati rasa

dankelemahan/kelumpuhan pada otot tangan, kaki dan mata, kulit kering serta pertumbuhan rambutyang terganggu dan adanya kuman Mycobacterium Lepraepada pemeriksaan kerokan padajaringan kulit(silt-skin smears).

Menurut World Health Organisation (WHO) Penyakit kusta dapat diklasifikasikan menjadi 2 tipe PB (Pausi Basiler) dan MB (Multi Basiler), dengan kriteria sebagai berikut :

KLASIFIKASI KUSTA PB MB

Jumlah Bercak Kulit 1-5 >5 1-5 >5

Kerusakan Syaraf Tepi Hanya 1 Syaraf Lebih dari 1 Syaraf

Skin Smear (BTA) Negatif (-) Positif (+)

Hasil evaluasi program P2P kusta menunjukan bahwa jumlah penderita baru tipe PB dan MB sampai akhir bulan Desember 2012 sebanyak 66 penderita, dengan type PB 5 penderita dan type MB 61penderita. Gambaran penderita kusta di Kota Depok tahun 2007-2012 berdasarkan type penyakit Kusta dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar IV.A.10

Jumlah kasus Kusta tipe PB dan MB tahun 2007 2012

Sumber : Laporan data seksi P2P

Jumlah penderita kusta baru untuk tipe PB di tahun 2012 mengalami peningkatan sebanyak 3 kasus akan tetapi tipe MB di tahun 2012 mengalami penurunan, yang semula 65 di tahun 2011 kemudian di tahun 2012 menjadi 62 kasus. CDR kusta tahun 2010 adalah 3,41/100.000 penduduk, tahun 2011 adalah 4,24/100.000 penduduk, tahun 2012 adalah 3,64/100.000 penduduk.

Angka kecacatan kusta tahun 2010 adalah sebesar 14 kasus ( 29%), di tahun 2011 sebesar 11 kasus (18%) dan tahun 2012 sebesar 12 kasus(18 %). Yang dimaksudkan dengan angka kecacatan disini adalah kecacatan kusta yang menyebabkan 2 syaraf atau lebih yang terserang kusta.

Tabel penderita kusta yang masuk dalam kategori cacat II

Sumber : Seksi P2P 2012 C.1.5. HIV-AIDS dan IMS

Berdasarkan hasil evaluasi program HIV/AIDS menunjukkan bahwa penyakit ini tidak hanya menyerang pada usia produktif tetapi sudah meningkat pada usia non produktif (anak-anak bahkan bayi), hal ini menunjukan bahwa trend penyebaran penyakit ini sudah berubah sehingga program harus mengupayakan program penanggulangan yang lebih tepat agar penderita yang terinfeksi pada usia non produktif dapat terjaring.

Jumlah Kasus HIV-AIDS Tahun 2009 sebanyak 9 Kasus, tahun 2010 sebanyak 15 kasus, tahun 2011 sebanyak 16 kasus dan tahun 2012 sebanyak 29 kasus.Kasus HIV 29 kasus dan kasus AIDS 24 kasus dan IMS 2 kasus.kasus AIDS dilaporkan oleh RS Simpangan Depok sebanyak 5 kasus dan Kasus IMS sebanyak 2 orang berasal dari Kelurahan Cimpaeun Kecamatan Tapos.

Pada dasarnya jumlah penderita HIV /AIDS yang tidak dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota Depok jumlahnya lebih banyak, seperti fenomena gunung es, bahwa yang terlaporkan jumlahnya lebiih sedikit dibandingkan kejadian yang sebenarnya.

Tahun 2012 sistem pencatatan dan pelaporan sudah sudah lebih baik/lebih bagus dari tahun sebelumnya sehingga mempermudah dalam

Dalam dokumen profil kesehatan kota depok tahun 2012 (Halaman 40-47)

Dokumen terkait