• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERILAKU HIDUP MASYARAKAT

Dalam dokumen profil kesehatan kota depok tahun 2012 (Halaman 98-107)

Tabel .V.5 DAFTAR PPK II Provider JAMKESDA Kota Depok Tahun 2012

C. PERILAKU HIDUP MASYARAKAT

Banyaknya penyakit yang ada saat ini tidak bisa dilepaskan dari perilaku yang tidak sehat. Dimana untuk mengubah perilaku masyarakat merupakan sesuatu yang tidak mudah namun mutlak diperlukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sehingga diperlukan upaya penyuluhan kesehatan yang terus menerus guna mendorong masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat.Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat, digunakan 10 indikator antara lain :

1. Rumah tangga sehat (ber-PHBS)

Rumah tangga sehat/berPHBS adalah rumah tangga yang seluruh anggota keluarganya telah berperilaku hidup bersih dan sehat yang meliputi 10 indikator.Dari laporan profil, pada tahun 2011 telah dilakukan pengkajian PHBS pada 349.445tangga diantaranya (74,83%) sudah ber PHBS. Pada tahun 2012 Jumlah Rumah Tangga Ber PHBS sebanyak 264.569 (70%) untuk lebih jelas tergambar perkecamatan.Perlu adanya intervensi dari berbagai

komponen baik lintas program, lintas sektor, LSM, swasta dan tokoh masyarakat untuk berperan aktif dalam membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat.

Gambar V.19Persentase Rumah Tangga Ber PHBS Di Kota Depok Tahun 2012

Sumber : Seksi Promkes dinkes Kota Depok D. KEADAAN LINGKUNGAN

Kegiatan upaya penyehatan lingkungan lebih diarahkan pada peningkatan kualitas lingkungan melalui kegiatan yang bersifat promotif dan preventif. Adapun pelaksanaannya bersama masyarakat diharapkan mampu memberikan kontribusi bermakna terhadap kesehatan masyarakat karena kondisi lingkungan yang sehat merupakan salah satu cara untuk mewujudkan Misi yang ingin dicapai oleh Pusat yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani, sehingga Visi Rencana Strategis Pusat yakni Masyarakat Yang Mandiri dan Berkeadilan dapat tercapai. Untuk memperkecil risiko terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan yang kurang sehat, telah dilakukan berbagai upaya peningkatan kualitas lingkungan antara lain :

1. Rumah Sehat

Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga. Rumah

dikategorikan sehat jika memenuhi syarat kesehatan yaitu memiliki jamban sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, pembuangan air limbah, ventilasi baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah.

Jumlah rumah di Kota Depok Tahun 2011 berdasarkan profil sebanyak 301. 381 rumah dan 238. 713 diantaranya (79,21%) telah diperiksa serta 200.004 rumah (83,78%) dinyatakan memenuhi syarat kesehatan. Capaian tersebut sudah memenuhi target Indonesia Sehat sebesar 80%, hal ini tentunya harus tetap dilakukan upaya pembinaan yang lebih intensif kepada masyarakt agar memperhatikan kesehatan rumahnya karena rumah yang sehat dan nyaman akan berdampak bagi penghuninyadalam meningkatkan produktivitasnya. Cakupan tertinggi di kecamatan cimanggis (94,32%) dan terendah di kecamatan Limo (71,60%).

Pada tahun 2012 jumlah Rumah Sehat jumlah Rumah yang ada sebesar 343.048 ,jumlah yang diperiksa 227.678 (66,4%) dan Jumlah Rumah Sehat 197.485 (86,74%). Berikut ini gambaran perbandingan Rumah Sehat Tahun 2011 dan tahun 2012.

Bila kita bandingkan tahun 2011 dan tahun 2012 pada tahun 2012 jumlah rumah yang ada mengalami peningkatan tetapi jumlah rumah yang diperiksa dan jumlah rumah sehat mengalami penurunan hal ini disebabkan oleh karena pada tahun 2011, pendataan dilakukan oleh kader, dimana waktu tidak berbatas oleh jam kerja dan ditahun 2012, pendataan dilakukan oleh petugas kesehatan lingkungan puskesmas, yang terbentur oleh jam kerja.Sehingga data yang dihasilkan kurang optimal.

Gambar V.20Jumlah Rumah sehat Di Kota Depok Tahun 2011-2012

Sumber : Seksi PL Dinkes Kota Depok

3. Akses terhadap jenis sarana air bersih yang digunakan

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk maka kebutuhan akan air bersih semakin bertambah. Berbagai upaya dilakukan agar akses masyarakat terhadap air bersih meningkat, salah satunya melalui pendekatan partisipatori yang mendorong masyarakat berperan aktif dalam pembangunan perpipaan air bersih didaerahnya.

Seperti diketahui sumur gali merupakan satu konstruksi sumur yang paling umum dan luas dipergunakan untuk mengambil air tanah bagi masyarakat kecil dan rumah-rumah perorangan sebagai air minum dengan kedalaman 7-10 meter dari permukaan tanah.

Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) merupakan air yang diolah dengan teknologi khusus seperti teknologi sterilisasi kemudian dikemas dalam botol plastik atau wadah lainnya. Izin untuk perusahaan ini biasanya baru akan dikeluarkan bila hasil uji laboratorium baik. Agar mendapat air minum yang baik, perusahaan perlu selalu melakukan kontrol terhadap hasil air minum dan merawat peralatan produksinya dengan baik.

Sumur Pompa Tangan (SPT) merupakan sarana penyediaan air bersih berupa sumur yang dibuat dengan membor tanah atau menggali pada kedalaman tertentu dilengkapi dengan pompa tangan.

Pada tahun 2012 di Kota Depok dalam mengakses air bersih keluarga yang di data sebesar 400.220 keluarga, kemudian keluarga yang diperiksa sumber air bersihnya oleh petugas kesehatan lingkungan sebanyak 259.616, diketahui bahwa 3.793 (0,9%) keluarga memanfaatkan air kemasan, sebanyak 34,125 (13,1%) menggunakan air ledeng, kemudian sebanyak 71,628 (27,6%) menggunakan SPT(Sumur Pompa Tangan), sebanyak 93.501 (36%) menggunakan SGL (Sumur Gali Langsung).

Persentase keluarga menurut air minum yang digunakan, yang menggunakan air kemasan sebanyak 9.910(1,1%) dari 231.938, yang menggunakan ledeng meteran 8,6 %, penggunaan ledeng eceran 18,5%, pengguna pompa 20,3%,pengguna sumur terlindung 20,3%.

Untuk melihat persentasenya dpat terlihat dari gambar dibawah ini :

Gambar V.21 Persentase keluarga menurut jenis air bersih yang digunakandi Kota Depok Tahun 2012

4. Sarana Sanitasi Dasar

Upaya peningkatan kualitas air bersih akan berdampak positif apabila diikuti oleh upaya perbaikan sanitasi yang meliputi kepemilikan jamban, pembuangan air limbah dan sampah dilingkungan sekitar kita, karena pembuangan kotoran baik sampah, air limbah maupun tinja yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menyebabkan rendahnya kualitas air serta dapat menimbulkan penyakit menular di masyarakat.

Pada tahun 2011 telah dilakukan pemeriksaan pada 381.768 keluarga dan diketahui 96,25% keluarga telah memiliki jamban dan 101,80% diantaranya memiliki jamban sehat. Untuk kepemilikan tempat sampah, dari 220.833 keluarga yang diperiksa, diketahui 80,56% keluarga telah memiliki tempat sampah dan 74,31% diantaranya termasuk sehat. Pada tahun 2012 jumlah keluarga 407,732 dilakukan pemeriksaan, jumlah keluarga yang memilki jamban sehat 227.800(90,2%),jumlah keluarga yang memilki tempat sampah sehat sebanyak 145.339 (74,8%) dan Jumlah pengelolaan air limbah sehat berjumlah 174.773 (81,3%). Seperti terlihat pada gambar dibawah ini:

Gambar V.22 Persentase Keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar

di Kota Depok Tahun 2012

Sumber : Seksi PL Dinkes Kota Depok

digunakan untuk membuang air buangan dari kamar mandi, tempat cuci, dapur dan yang lainnya dan bukan dari jamban, dimana SPAL yang sehat hendaknya memenuhi persyaratan antara lain : tidak mencemari sumber air bersih, tidak menimbulkan genangan air yang dapat digunakan untuk sarang nyamuk, tidak menimbulkan bau.

5. Pengawasan Tempat-Tempat Umum dan Tempat Pengolahan Makanan a. Pengawasan Tempat-tempat Umum

Kegiatan-kegiatan pengawasan Tempat-Tempat Umum dilakukan secara rutin oleh sanitarian Puskesmas dan petugas dari Dinas Kesehatan Kota Depok. Jenis TTU yang diperiksa antara lain, meliputi Hotel, Pasar, Terminal, Sekolah, Sarana Ibadah, Sarana kesehatan dan lain-lain. Jumlah TTU yang ada di Kota Depok tahun 2011 sebanyak 1594 buah, jumlah yang sehat atau memenuhi syarat kesehatan 155 buah (58,71%). Pada tahun 2012 jumlah TTU di Kota Depok berjumlah 3.925 (36,48%) dan yang memenuhi syarat kesehatan 995 (69,5%). Jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang ada saat ini di Kota Depok bila dilihat dari segi kuantitas, baik milik Pemerintah, BUMN, maupun swasta, dinilai telah cukup memadai bila dibandingkan dengan jumlah dan persebaran penduduk Kota Depok. Hal ini merupakan suatu potensi yang perlu mendapat pembinaan dalam hal mutu pelayanan, sehingga dapat memberikan kontribusi dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan baik individu maupun masyarakat Kota Depok.

Petugas sedang mengenakan kaos Promosi 7 Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

terus diupayakan mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat. Penyediaan, pemeliharaan dan pengembangan sarana kesehatan dilakukan seoptimal mungkin dengan memobilisasi peran serta masyarakat, termasuk swasta baik dalam hal sarana kesehatan dasar maupun sarana kesehatan rujukan. Untuk jumlah hotel yang dibina di Kota Depok sebanyak 9 dari 9(100%) Hotel yang ada, jumlah pasar yang dibina 11 dari 12 dengan presentase yang sehat sebanyak 18,18%, dan jumlah TPUM lainya yang dibina 736 dari 1838 dengan presentase yang sehat 70,24% seperti terlihat pada gambar berikut ini:

Gambar V.23 Persentase Tempat Umum dan Pengelolaan makanan SehatDi Kota Depok Tahun2012

Sumber : Seksi PL Dinkes Kota Depok

6. Institusi yang Dibina Kesehatan Lingkungannya

Institusi yang dibina kesehatan lingkungannya meliputi sarana kesehatan, sarana pendidikan, sarana ibadah, perkantoran dan sarana lainnya. Jumlah institusi yang dibina di Kota Depok tahun 2011 berdasarkan laporan profil sebanyak 4.142 institusi dan 909 diantaranya (21,95%) telah dibina. Pada tahun 2012 institusi yang di bina kesehatan lingkungannya antara lain: sarana kesehatan 221(39,05%), instalasi pengolahan air minum sebanyak 1(33,3), jumlah sarana pendidikan yang dibina 548 (47,94%), Jumlah sarana ibadah yang dibina sebanyak 565 (28,11%), jumlah perkantoran yang dibina sebanyak 62 buah(39,49%), Jumlah sarana lain

(kolam renang) yang dibina sebanyak 36 buah (78,3%)

Sidak gabungan pemerintah kota Depok bersama Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail

Sumber : Seksi POM, 2012

Gambar V.24 Persentase Institusi yang dibina kesehatan lingkungannya

Di Kota Depok Tahun 2012

BAB VI

SITUASI SUMBER DAYA

Dalam dokumen profil kesehatan kota depok tahun 2012 (Halaman 98-107)

Dokumen terkait