• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PEMBAHASAN

3. Gambaran perilaku agresif remaja di SMPN 129 Jakarta

Untuk mendapatkan data mengenai perilaku agresif, peneliti melihat

dari buku catatan hitam guru bimbingan konseling yang menyimpan

data-data tentang siswa bermasalah dan juga bertanya dengan beberapa wali

kelas tentang siswa yang bermasalah. Hal ini bermanfaat untuk

mencocokan antara kuesioner yang telah diberikan kepada responden dan

disi, dengan catatan hitam milik guru. Sehingga siswa yang dipilih

menjadi responden merupakan siswa-siswa yang diduga berperilaku

agresif. Perilaku agresif selalu dipersepsikan sebagai kekerasan terhadap

pihak yang dikenai perilaku tersebut baik verbal ataupun nonverbal yang

dengan sengaja ditujukan untuk melukai orang lain baik fisik ataupun

nonfisik (Anantasari, 2006).

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa dari 43

responden yang diteliti ternyata 100% berperilaku agresif dengan tingkat

agresifitas dari ringan hingga berat. Hasil ini berbeda dengan penelitian

Pangestu (2010) yang berjudul hubungan pola asuh orang tua dengan

agresivitas remaja awal: studi korelasional pada siswa SMP Mutiara 4

Bandung tahun ajaran 2009/2010 pada 75 siswa kelas VII didapatkan hasil

terdapat 40 remaja (53%) memiliki agresivitas yang tinggi.

Perbedaan dari hasil kedua penelitian tersebut dapat terjadi karena

perbedaan karakteristik dari kedua tempat penelitian. Pada penelitian ini

tepatnya di SMPN 129 Jakarta merupakan salah satu sekolah yang

berstandar nasional atau lebih dikenal dengan sebutan SSN. Sehingga daya

mempunyai kemampuan kognitif yang baiklah yang akan berhasil masuk.

Menurut Santrock (2003) sejalan dengan kematangan remaja secara

kognitif, sebagian remaja lebih mampu memikirkan perilaku mereka dan

memperhatikan akibat panjang dari tindakan mereka. Hal ini yang menjadi

alasan bahwa pada siswa SMPN 129 Jakarta lebih dapat memikirkan

akibat dari perilaku mereka sehingga siswa yang berperilaku agresif berat

pun lebih sedikit.

Psikologis individu dalam kenyataan juga memiliki peranan untuk

memunculkan perilaku agresif. Hal ini remaja dalam fasenya, mereka

seringkali mengalami gangguan psikis (misalnya tersinggung) sehubungan

dengan perkembangan pribadi yang semakin pesat, karena menghadapi

berbagai hal yang dapat menjadikan hambatan baginya. Akibatnya, ini

akan menjadi salah satu penyebab yang mendukung terjadinya perilaku

agresif. Kondisi ini diantaranya adalah frustasi dan marah (Mutadin,

2002).

Ketika masa remaja, kemampuan mengontrol diri sangat diperlukan

karena dorongan-dorongan dan nafsu-nafsu keinginannya semakin

bergejolak terutama dorongan seksual dan dorongan agresif. Jika seorang

remaja tidak mempunyai kontrol diri yang baik, dia akan dikuasai oleh

dorongan-dorongan ini sehingga timbulah bentuk kenakalan remaja yang

salah satunya adalah gangguan tingkah laku (Sukmono, 2011). Menurut

Videbeck (2008) individu yang mengalami gangguan tingkah laku

mempunyai sedikit rasa empati terhadap orang lain dan marah yang

Kemarahan merupakan reaksi sehat dan normal yang dapat terjadi

dalam merespon situasi atau keadaan yang tidak adil, ketika hak seseorang

tidak dihormati, atau ketika harapan individu tidak terpenuhi. Namun

kemarahan dapat menjadi konsep negatif ketika individu menyangkal atau

menekan perasaan marah atau ketika seseorang mengungkapkannya secara

tidak tepat yang dapat menimbulkan permusuhan dan agresif. Hal ini

sering terjadi pada anak-anak dan remaja karena mereka tidak dapat

mengungkapkan perasaan yang intens secara verbal dan ketika

menghadapi konflik emosional sehingga terjadilah perilaku agresif baik

verbal ataupun fisik (Videbeck, 2008).

Menurut Anantasari (2006) Perilaku agresif selalu dipersepsikan

sebagai kekerasan terhadap pihak yang dikenai perilaku tersebut baik

verbal ataupun nonverbal yang dengan sengaja ditujukan untuk melukai

orang lain baik fisik ataupun nonfisik. Menurut DSM IV American

Psychiatric Association, perilaku agresif merupakan salah satu gangguan

tingkah laku yang merupakan pola perilaku berulang dan menetap, dimana

perilaku tersebut melanggar norma sosial atau aturan-aturan yang sesuai

dengan umurnya atau menyimpang dari kebenaran (Soetjiningsih dan

Windiani, 2007).

Menurut Behrman et al (2000) hampir secara umum anak laki-laki

lebih agresif daripada anak perempuan. Perilaku agresif pada anak

laki-laki relatif tetap sejak masa prasekolah sampai masa remaja. Begitu pula

menurut Videbeck (2008) laki-laki tiga kali lebih sering mengalami

50% dari mereka didiagnosa mengalami gangguan kepribadian antisosial

saat dewasa. Hal ini pun serupa dengan penelitian ini, dari 43 responden

yang diteliti, responden laki-laki jauh lebih banyak daripada perempuan

yaitu sebesar 86 % (37 responden).

Dalam penelitian ini ada tiga bentuk perilaku agresif yang diteliti,

yaitu bullying, agresif kolektif, dan agresif seksual. Berdasarkan hasil

penelitian dari 43 responden didapatkan nilai rata-rata sebesar 23,25 untuk

bentuk agresif kolektif atau sebesar 54,07 %. Hal ini di dukung masih

maraknya kasus tawuran antar pelajar terutama di Jabodetabek pada Tahun

2011 sebanyak 339 kasus (Komnaspa, 2011). Angka ini meningkat tajam

bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya 128 kasus

tawuran. Selain itu, pada penelitian Manalu (2010) dengan judul pola asuh

orang tua dan perilaku agresif remaja di STM Raksana Medan didapatkan

hasil bahwa dari 50 siswa terdapat 29 siswa (58,0 %) melakukan perilaku

agresif membantu teman melakukan perlawanan dimana perilaku agresif

ini merupakan salah satu kriteria dari agresif kolektif.

Agresif kolektif merupakan tindakan yang mencakup berbagai

macam bentuk perilaku agresif yang dilakukan kelompok atau individu

sebagi bagian kelompok. Bentuk-bentuk agresif kolektif diantaranya

adalah aksi huru-hara dan kekerasan geng (Krahe, 2005). Menurut

Zulkarnaen (2011) salah satu faktor mengapa remaja lebih banyak

bertindak agresif kolektif adalah faktor keluarga. Dimana ketika anak

meningkat remaja, mereka belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari

kekerasan. Sebaliknya, orang tua tidak memberikan kebebasan kepada

anak untuk mengembangkan dirinya sehingga anak merasa terkekang.

Ketika remaja bergabung dengan teman-temannya, maka ia akan

menyerahkan dirinya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian

dari identitas yang dibangunnya.

Selain itu, menurut Az-za’balawi (2007) salah satu karakteristik

perilaku sosial remaja adalah setia kepada teman sebaya. Dimana remaja

terikat sangat erat dengan kelompok teman sebaya sehingga dia berupaya

keras untuk bergabung dan berjuang mengokohkan kedudukannya seta

mengadopsi nilai-nilai perilaku yang dipegang oleh kelompoknya dengan

sepenuh jiwa, perasaan, dan kesetiaannya. Hal inilah yang dapat menjadi

alasan mengapa siswa lebih memilih agresif kolektif karena mereka

merasakan adanya persamaan dan kesatuan tujuan dan perasaan.

B. Analisa Bivariat

Analisa bivariat yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji chi

square karena peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan antara verbal

abuse orang tua dengan perilaku agresif remaja di SMPN 129 Jakarta.

Keputusan diambil dengan membandingkan p-value dengan signifikan alpha

0,05. Apabila p-value lebih kecil dari alpha (0,05) maka ada hubungan yang

bermakna antara variabel independen dengan variabel dependen dan apabila

p-value lebih besar dari alpha (0,05) maka tidak ada hubungan antara variabel

independen dengan variabel dependen.

Dari hasil analisis cross tabel terlihat bahwa dari remaja yang

agresif berat yaitu sekitar 55,9 %, sedangkan yang tidak mendapatkan verbal

abuse hanya 11,1 % yang berperilaku agresif berat. Hal ini juga dibuktikan

dari hasil uji statistik yang menunjukkan bahwa nilai p-value lebih kecil dari

alpha 0,05 yaitu 0,024 yang berarti ada hubungan yang sangat bermakna

antara verbal abuse orang tua dengan perilaku agresif pada remaja. Selain itu,

dalam penelitian ini juga didapatkan hasil odd ratio sebesar 10,133 yang

berarti seseorang yang mendapatkan verbal abuse dari orang tuanya memiliki

peluang 10,133 kali lebih besar untuk berperilaku agresif dibanding remaja

yang tidak mendapatkan tindak verbal abuse dari orang tuanya.

Hal ini sesuai dengan yang dituliskan oleh Rusmil (2007) tentang

kekerasan dan penelantaran terhadap remaja, ia mengatakan bahwa akibat dari

verbal abuse dapat menimbulkan problem perilaku yang terjadi pada remaja

berupa perilaku agresif serta melawan hukum, dan pada remaja pun lebih

potensial berperilaku merusak diri. Ditambah lagi dengan penelitian

Suryaningsih dan Anggraini (2004) tentang hubungan kekerasan orang tua

terhadap anak dengan perilaku agresif dengan subjek siswa SMP Negeri 2

Ungaran. Dalam penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa semakin tinggi

kekerasan orang tua terhadap anak maka semakin tinggi pula perilaku agresif

anak. Dimana salah satu jenis kekerasan yang diteliti yaitu verbal abuse yang

diteliti dalam penelitian ini.

Soetjiningsih (1999) mengatakan bahwa anak yang mendapat perlakuan

salah seperti verbal abuse lebih agresif terhadap teman sebayanya. Sering

tindakan agresif tersebut meniru tindakan orang tua mereka atau mengalihkan

Hal serupa dinyatakan pula oleh Anantasari (2006) kekerasan yang dialami

oleh anak, baik secara langsung maupun tidak, cenderung mendorong

munculnya kekerasan atau perilaku agresif oleh anak. Behrman et al (2000)

pun mengatakan bahwa perilaku kemarahan dan agresif atau hukuman yang

kasar dari orang tua dapat ditiru oleh anak bila mereka tersakiti baik secara

fisik ataupun psikologis karena secara tidak langsung mereka juga mengajari

anaknya menggunakan kekuatan untuk menyelesaikan konflik.

Monks et al (2004) pun sependapat bahwa salah satu penyebab dari

timbulnya perilaku agresif pada remaja adalah karena faktor orang tua dimana

mereka tidak menaruh perhatian terhadap anak, tidak sempat menanamkan

kasih sayang dan tidak pula dapat menyatakan penghargaan atas prestasi yang

diperoleh anak di sekolah yang merupakan salah satu bentuk dari verbal

abuse.

Oleh karena itu verbal abuse pada orang tua harus dicegah, karena akan

berdampak buruk pada remaja seperti timbulnya perilaku agresif. Sedangkan

dampak utama dari perilaku agresif adalah anak tidak mampu berteman

dengan teman sebaya atau lingkungan. Padahal dengan hal ini, perilaku agresif

akan semakin ditampilkan karena mereka tidak dapat diterima oleh

teman-temannya (Saefi, 2010). Sehingga apabila kedua masalah ini tidak ditangani

lingkaran setan akan terjadi terus-menerus dimana orang tua yang agresif akan

melahirkan anak yang agresif pula.

Dokumen terkait