• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja yang Pernah Mengalam

BAB II LANDASAN TEORI

C. Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja yang Pernah Mengalam

Child Abuse

Hubungan romantis sering juga disebut dengan pacaran. Individu ini juga tidak ingin dipisahkan dengan orang yang disukai oleh mereka (Aron, Paris, & Aron dalam Fiske, 2008). Harapan individu untuk tidak dipisahkan dari orang tersebut akan membuat individu ingin mengekspresikan cinta atau rasa sukanya, dan akhirnya individu tersebut juga ingin memiliki ikatan yang disebut dengan pacaran atau dating (Connolly dkk dalam Furman, Mc Dunn & Young, 2005). Menurut Tucker (2004) dating dimulai dari berkenalan, berteman dan kemudian pacaran. Pacaran atau dating didefinisikan sebagai interaksi dyadic, termasuk didalamnya adalah mengadakan pertemuan untuk berinteraksi dan melakukan aktivitas bersama dengan keinginan secara eksplisit atau implisit untuk meneruskan hubungan setelah terdapat kesepakatan tentang status hubungan mereka saat ini (Straus, 2004). Kasus-kasus yang sehubungan dengan kekerasan yang dilakukan oleh pacar disebut dengan dating violence.

Dating violence adalah serangan seksual, fisik, maupun emosional yang dilakukan kepada pasangan, sewaktu berkencan (Kelly 2006). National Teen Dating Violence Awareness and Prevention Month mengatakan bahwa dating violence sering dimulai pada masa remaja. Dating violence bisa terjadi dalam berbagai bentuk,

termasuk penggunaan kata-kata dan tindakan-tindakan yang berbahaya. Meskipun secara terbatas dikonsepkan sebagai kekuatan fisik, dating violence sekarang lebih luas dikenal sebagai sebuah kontinum dari kekerasan dimana mulai dari kekerasan verbal dan emosional sampai pada perkosaan dan pembunuhan (Hickman et al, 2004). Kekerasan verbal dan emosional adalah ancaman yang dilakukan pasangan terhadap pacarnya dengan perkataan maupun mimik wajah. Misalnya adalah mengatakan pacarnya gendut, jelek, malas, bodoh, tidak ada seorangpun yang menginginkan pacarnya, mau muntah melihat pacarnya, menunjukkan wajah yang kecewa tanpa mengatakan alasan mengapa ia marah atau kecewa dengan pacarnya,

mengatakan sesuatu mengenai organ tubuh pribadi pacarnya kepada pacarnya di depan teman-temannya, atau mempermalukan pacarnya di depan teman-temannya.

Kekerasan seksual adalah pemaksaan untuk melakukan kegiatan atau kontak seksual sedangkan pacar mereka tidak menghendakinya (Murray, 2007). Melakukan hubungan seks tanpa ijin pasangannya atau dengan kata lain disebut dengan pemerkosaan, mencium pasangannya tanpa persetujuan pasangannya, hal ini bisa terjadi di area publik atau di tempat yang tersembunyi, sentuhan yang dilakukan tanpa persetujuan pasangannya, sentuhan ini kerap kali terjadi di bagian dada, bokong dan yang lainnya). Pria lebih sering melakukan tipe kekerasan ini dibandingkan wanita (Hamby, Sugarman, & Boney-McCoy, dalam Heatrich & O`Learry, 2007).

Kekerasan fisikadalah perilaku yang mengakibatkan pacar terluka secara fisik (Murray, 2007). Tipe kekerasan ini dapat dilihat dan diidentifikasi. Perilaku ini

diantaranya adalah memukul, menampar, menggigit, mendorong ke dinding dan mencakar baik dengan menggunakan tangan maupun dengan menggunakan alat. Wanita juga melakukan kekerasan tipe ini dengan pasangannya akan tetapi konsekuensi fisik yang dihasilkan tidak begitu berbahaya seperti yang dilakukan pria terhadap wanita (Cantos, Neidig, & O’Leary, 1994; Cascardi, Langhinrichsen, & Vivian, 1992; Stets & Straus, dalam Heatrich & O`Learry, 2007).

Kelly (2006), menyebutkan bahwa dating violence merupakan masalah sosial yang signifikan dan dapat terjadi pada siapa saja, dengan usia, orientasi seksual, status sosioekonomi, serta lokasi tempat tinggal dimana saja. Selanjutnya Lewis & Fremouw (dalam Rathigan & Street, 2005) menyebutkan bahwa dating violence merupakan masalah yang signifikan bukan hanya karena akan membahayakan dari segi fisik tetapi juga mental; seperti dapat mengakibatkan luka, dan rendahnya self esteem. Terlebih lagi dating violence sendiri bisa mengakibatkan kematian, dan jika terjadi pada masa remaja, maka dating violence akan mengakibatkan terganggunya hubungan romantis dan pola interaksi yang akan terbawa ke masa dewasa.

Dampak dating violence tentu saja tidak hanya dialami oleh perempuan, karena laki-laki pun ada yang mengalami dating violence. Penelitian mengindikasikan bahwa dating violence mempengaruhi perempuan dan laki-laki secara berbeda. Pada perempuan, menjadi korban kekerasan fisik atau seksual dihubungkan dengan resiko penggunaan obat-obatan, perilaku control berat badan yang tidak sehat, perilaku seksual yang berisiko, kehamilan dan bunuh diri. Penelitian mengindikasikan bahwa perempuan yang mengalami kekerasan fisik oleh

pasangannya cenderung lebih menderita secara fisik dan emosional dibandingkan dengan kekerasan yang dialami laki-laki. Perempuan juga cenderung lebih sering menjadi korban dan mengalami dampak dari kekerasan ini termasuk luka-luka, trauma emosional, perempuan lebih sering dipukul atau dipaksa untuk beraktivitas seksual dan mereka merespon dengan menangis, melawan, melarikan diri atau mengabaikan pasangannya. Laki-laki lebih sering dicubit, ditampar, dicakar, atau ditendang, dan mereka lebih suka untuk melupakan dan menertawakan kekerasan tersebut (www.canada.justice.go.ca). Walaupun masih sedikit penelitian hal ini, pelaku juga mengalami dampak negatif dari perilaku mereka. Mereka berisiko untuk menghancurkan hubungannya, dipermalukan, ditolak secara personal dan disalahkan masyarakat. Mereka juga berisiko membahayakan hubungan dimasa depan (www.canada.justice.go .ca).

Menurut Billingham, Riggs & O’Leary (dalam Luthra & Gidycz, 2006) dating violence lebih sering terjadi di hubungan yang lebih serius dan dalam durasi yang cukup lama yaitu setiap pertambahan durasi 6 bulan, maka kekerasan dalam hubungan tersebut akan semakin meningkat. Beberapa wanita menjadi korban pada kencan pertama, tetapi sebagian besar menjadi korban setelah berpacaran dalam waktu yang lama (The National Clearinghouse on Family Violence, 1995). Pelaku dating violence juga merupakan individu dengan pendidikan yang rendah (World Report On Violence and Health, 2002).

World Report On Violence And Health (1999) mengindikasikan faktor-faktor yang menyebabkan dating violence diantaranya adalah faktor individual, penggunaan

alkohol, gangguan kepribadian, faktor dalam hubungan, faktor komunitas, sejarah kekerasan dalam keluarga. Pengaruh keluarga sangat besar dalam membentuk kepribadian seseorang. Masalah-masalah emosional yang kurang diperhatikan oleh orangtua dapat memicu timbulnya permasalahan bagi individu yang bersangkutan dimasa yang akan datang. Misalnya sikap kejam orangtua, berbagai macam penolakan dari orangtua terhadap keberadaan anak, dan juga sikap disiplin yang diajarkan secara berlebihan. Hal-hal semacam ini akan berpengaruh pada model peran yang dianut oleh anak tersebut pada masa remajanya. Bila model peran yang dipelajari pada masa kanak-kanak tidak sesuai dengan model yang normal atau model standar, maka perilaku semacam kekerasan dalam pacaran ini pun akan muncul.

Paradigma Penelitian Sejarah Kekerasan dalam Keluarga Child Abuse Pengabaian Kekerasan Emosional Kekerasan Fisik Kekerasan Seksual Masalah kognitif Masalah perilaku,

sosial, dan emosional

Masalah dalam jangka panjang Dating Violence (kekerasan dalam Pacaran) Kekerasan Fisik Kekerasan Seksual Kekerasan Verbal dan Emotional

Dokumen terkait