GAMBARAN PERILAKU DATING VIOLENCE PADA REMAJA
YANG PERNAH MENGALAMI CHILD ABUSE
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
Oleh :
NOVIRA MITA
061301017
FAKULTAS PSIKOLOGI
LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertandatangan di bawah ini, menyatakan dengan sesungguhnya
bahwa skripsi saya yang berjudul Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja
yang Pernah Mengalami Child Abuse adalah hasil karya sendiri dan belum pernah
diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari
hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma,
kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini,
saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, Januari 2012
Novira Mita
Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja yang Pernah Mengalami Child Abuse
Novira Mita dan Wiwik Sulistyaningsih
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk melihat gambaran perilaku dating violence pada remaja yang pernah mengalami child abuse. Dating violence adalah tindakan atau ancaman yang dilakukan secara sengaja baik melalui perilaku, perkataan maupun mimik wajah yang dilakukan salah satu pihak kepada pihak lain dalam hubungan pacaran, dimana perilaku ini ditujukan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuatan atau kekuasaan dan kontrol atas pasangannya dalam hubungan pacaran
Subjek penelitian ini berjumlah 30 orang remaja akhir korban child abuse. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala perilaku dating violence yang disusun berdasarkan bentuk-bentuk perilaku dating violence yang dikemukakan oleh Murray (2007). Berdasarkan hasil estimasi daya beda aitem dengan menggunakan koefisien Pearson Product Moment terdapat 45 aitem yang valid dengan rxx yang bergerak dari 0,302 hingga 0,678 dan reliabilitas terhadap daya uji coba dengan menggunakan teknik koefisien Alpha Cronbach, maka diperoleh reliabilitas sebesar 0,891.
Data yang diolah dalam penelitian ini yaitu skor minimum, skor maksimum, mean, dan standar deviasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada umumnya perilaku dating violence pada remaja yang pernah mengalami child abuse berada pada kategori rendah dengan kategori sebagai berikut, perilaku dating violence yang tergolong rendah sebanyak 13 orang (43,33%), kategori sedang sebanyak 10 (33,33%), dan kategori tinggi sebanyak 7 orang (23,33%).
Description of Behavior in Adolescent Dating Violence Ever Experienced Child Abuse
Novira Mita dan Wiwik Sulistyaningsih
ABSTRACT
This research is aimed descriptif to see description of the behavior of dating violence in adolescents who had child abused. Dating violence is an act or threat that is done deliberately either through behavioral, speech and facial expression by one party to another in a dating relationship, where the behavior is intended to obtain and maintain the strength or power and control over their partners in dating relationship.
The number of subjects in this study were as many as 30 people late adolescent victims of child abused. The sampling technique was purposive sampling. Measuring instrument used is the scale of dating violence behaviors are based on forms of dating violence behaviors proposed by Murray (2007). Based on the results of different power estimation aitem using Pearson Product Moment coefficients are 45 to rxx aitem yan valid moves from 0.302 to 0.678 and the reliability of the test by using Cronbach alpha coefficient technique, the obtained reliability of 0.891.
The data are processed in this study is the minimum score, maximum score, mean, and standard deviation. The results of this study show that in general the behavior of dating violence in adolescents who had child abused are at a low category by category as follows, dating violence behaviors are relatively low as many as 13 people (43.33%), the categories are as many as 10 (33.33 %), and high categories of 7 people (23.33%).
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti ucapkan kepada Allah SWT karena atas berkat, rahmat,
dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul:
Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja yang Pernah Mengalami Child
Abuse. Penyusunan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat
untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Sumatera
Utara Medan.
Peneliti menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak,
baik dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini sangatlah sulit bagi
peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu peneliti mengucapkan terima
kasih kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Dra. Irmawati, Psikolog, M.Si selaku Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Sumatera Utara.
2. Keluarga peneliti: Papa Jhon Haidi dan Mama Syafrianis. Kakakku Dian
Andariesta Haidi dan adikku Ferdy Septian Haidi. Terima kasih atas segalanya
yang telah kalian berikan, kasih sayang, doa, dukungan moril dan materiil yang
kalian berikan untuk peneliti. Peneliti tidak dapat memberikan apa-apa bagi,
skripsi ini adalah hadiah terindah yang bisa peneliti berikan. Terimakasih buat
3. Ibu Dr. Wiwik Sulistyaningsih, Psikolog selaku dosen pembimbing skripsi.
Terimakasih sebesar-besarnya atas semua bimbingan, arahan, dan bantuan Ibu
untuk Peneliti. Semua kebaikan dan kesabaran Ibu dalam membimbing peneliti
tidak akan mampu peneliti balas dengan apapun dan akan peneliti kenang selalu.
4. Kepada dosen penguji seminar sekaligus juga sebagai dosen penguji skripsi.
Terimakasih atas segala masukan dan arahan yang diberikan sehingga membuat
skripsi ini menjadi lebih baik lagi.
5. Ibu Lili Garliah, M.Psi selaku dosen pembimbing akademik.
6. Seluruh dosen di Fakultas Psikologi USU yang telah memberikan ilmu wawasan
dan pengetahuan yang sangat berharga kepada peneliti, dan seluruh pegawai di
Fakultas Psikologi USU yang setia membantu peneliti menyediakan segala
keperluan selama perkuliahan.
7. Buat para sahabat dan teman-teman peneliti yang membantu peneliti dalam
mengumpulkan sampel penelitian, Helva, Mutek, dan Elsa terima kasih atas segala
bantuan kalian yang sudah mau menemaniku mencari data.
8. Terkhusus buat Helva Rita, terima kasih atas semua dukungan, pengorbanan dan
kesediaanmu yang tulus menemaniku menelusuri semua tempat yang ada di kota
Medan.
9. Buat para teman-teman peneliti di kosan Berdikari 1: Shindy, Intan, Agus, Icha,
Ita, Ajeng, Tria, dan Kak Nelly. Terimakasih selama ini buat kebersamaan kita
10.Buat para sahabat, teman-teman peneliti selama menjalani kehidupan perkuliahan
di Fakultas Psikologi. Wira, Helva, Inggrid, Yenni, Prinst, Junita, Mutek, Herna,
Mona, Dinar, Inur, Yani, Priska, Corry. Terima kasih atas kebersamaan kita
selama ini juga atas semua perhatian, kepercayaan, penerimaan, dan dukungan.
Dan buat semua teman-teman seperjuangan angkatan 2006 yang tak dapat
dituliskan namanya satu persatu, semoga kita semua menjadi manusia yang sukses
di masa depan, Amin.
Akhir kata, peneliti berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas
segala kebaikan saudara-saudara semua. Peneliti menyadari skripsi ini masih jauh
dari sempurna, untuk itu peneliti membuka kesempatan atas masukan, kritikan
dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini. Terimakasih.
Medan, Januari 2012
Peneliti,
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 11
C. Tujuan Penelitian ... 11
D. Manfaat Penelitian... 11
E. Sistematika Penelitian ... 12
BAB II LANDASAN TEORI ... 14
A. Dating Violence ... 14
1. Pengertian Dating Violence... 14
2. Bentuk – bentuk Dating Violence ... 16
B. Child Abuse ... 29
1. Pengertian Child abuse ... 29
2. Bentuk – bentuk Child Abuse ... 30
C. Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja yang Pernah Mengalami Child Abuse ... 32
BAB III METODE PENELITIAN ... 38
A. Identifikasi Variabel Penelitian ... 39
B. Definisi Operasional ... 39
C. Populasi dan Metode Pengambilan Sampel ... 40
D. Metode dan Alat Pengumpulan Data ... 41
E. Uji Coba Alat Ukur ... 44
1. Validitas alat ukur ... 44
2. Uji Daya Beda Aitem ... 44
3. Reliabilitas alat ukur ... 45
F. Hasil Uji Coba Alat Ukur ... 46
G. Prosedur Pelaksanaan penelitian ... 47
1. Tahap persiapan ... 47
2. Tahap pelaksanaan penelitian ... 49
3. Etika penelitian... 49
4. Tahap pengolahan data ... 50
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 51
A. Analisa Data ... 51
1. Gambaran subjek penelitian ... 51
2. Hasil utama penelitian ... 57
3. Hasil tambahan penelitian ... 62
B. Pembahasan ... 70
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 76
A. Kesimpulan ... 76
B. Saran ... 77
1. Saran Metodologis ... 77
2. Saran Praktis ... 78
DAFTAR TABEL
Tabel 1.Blue Print Distribusi Aitem Skala Perilaku Dating Violence Sebelum Uji 43
Tabel 2. Blue Print Skala Perilaku Dating Violence Setelah Uji Coba ... 46
Tabel 3. Penomoran Kembali Skala Perilaku Dating Violence Setelah Uji Coba ... 47
Tabel 4. Gambaran subjek penelitian berdasarkan usia ... 52
Tabel 5. Gambaran subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin ... 52
Tabel 6. Gambaran subjek penelitian berdasarkan tingkat pendidikan ... 53
Tabel 7. Gambaran subjek penelitian berdasarkan lama berpacaran ... 53
Tabel 8. Gambaran subjek berdasarkan frekuensi berpacaran ... 54
Tabel 9. Gambaran subjek berdasarkan penggunaan alkohol ... 54
Tabel 10. Gambaran subjek berdasarkan pengalaman bentuk-bentuk child abuse .... 55
Tabel 11. Hasil uji normalitas ... 58
Tabel 12. Gambaran skor minimum, skor maksimum, mean, dan standar deviasi perilaku dating violence ... 59
Tabel 13. Kategorisasi norma nilai perilaku dating violence ... 60
Tabel 14. Penggolongan perilaku dating violence ... 60
Tabel 15. Kategorisasi perilaku dating violence ... 61
Tabel 17. Gambaran perilaku dating violence berdasarkan jenis kelamin ... 64
Tabel 18. Gambaran perilaku dating violence berdasarkan tingkat pendidikan ... 65
Tabel 19. Gambaran perilaku dating violence berdasarkan lama berpacaran ... 66
Tabel 20. Gambaran perilaku dating violence berdasarkan frekuensi berpacaran ... 67
Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja yang Pernah Mengalami Child Abuse
Novira Mita dan Wiwik Sulistyaningsih
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk melihat gambaran perilaku dating violence pada remaja yang pernah mengalami child abuse. Dating violence adalah tindakan atau ancaman yang dilakukan secara sengaja baik melalui perilaku, perkataan maupun mimik wajah yang dilakukan salah satu pihak kepada pihak lain dalam hubungan pacaran, dimana perilaku ini ditujukan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuatan atau kekuasaan dan kontrol atas pasangannya dalam hubungan pacaran
Subjek penelitian ini berjumlah 30 orang remaja akhir korban child abuse. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala perilaku dating violence yang disusun berdasarkan bentuk-bentuk perilaku dating violence yang dikemukakan oleh Murray (2007). Berdasarkan hasil estimasi daya beda aitem dengan menggunakan koefisien Pearson Product Moment terdapat 45 aitem yang valid dengan rxx yang bergerak dari 0,302 hingga 0,678 dan reliabilitas terhadap daya uji coba dengan menggunakan teknik koefisien Alpha Cronbach, maka diperoleh reliabilitas sebesar 0,891.
Data yang diolah dalam penelitian ini yaitu skor minimum, skor maksimum, mean, dan standar deviasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada umumnya perilaku dating violence pada remaja yang pernah mengalami child abuse berada pada kategori rendah dengan kategori sebagai berikut, perilaku dating violence yang tergolong rendah sebanyak 13 orang (43,33%), kategori sedang sebanyak 10 (33,33%), dan kategori tinggi sebanyak 7 orang (23,33%).
Description of Behavior in Adolescent Dating Violence Ever Experienced Child Abuse
Novira Mita dan Wiwik Sulistyaningsih
ABSTRACT
This research is aimed descriptif to see description of the behavior of dating violence in adolescents who had child abused. Dating violence is an act or threat that is done deliberately either through behavioral, speech and facial expression by one party to another in a dating relationship, where the behavior is intended to obtain and maintain the strength or power and control over their partners in dating relationship.
The number of subjects in this study were as many as 30 people late adolescent victims of child abused. The sampling technique was purposive sampling. Measuring instrument used is the scale of dating violence behaviors are based on forms of dating violence behaviors proposed by Murray (2007). Based on the results of different power estimation aitem using Pearson Product Moment coefficients are 45 to rxx aitem yan valid moves from 0.302 to 0.678 and the reliability of the test by using Cronbach alpha coefficient technique, the obtained reliability of 0.891.
The data are processed in this study is the minimum score, maximum score, mean, and standard deviation. The results of this study show that in general the behavior of dating violence in adolescents who had child abused are at a low category by category as follows, dating violence behaviors are relatively low as many as 13 people (43.33%), the categories are as many as 10 (33.33 %), and high categories of 7 people (23.33%).
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Masa remaja merupakan suatu periode terjadinya perubahan yang besar pada
fisik, emosional, intelektual, akademik, sosial dan spiritual (Williams, 2001). Bagi
sebagian remaja, perubahan dalam peran sosial diartikan sebagai menjadi
pacar/pasangan bagi individu tertentu. Hubungan berpacaran antara pria dan wanita
ini menjadi bertambah penting seiring dengan bertambahnya usia (Bihler, 1986).
Diantara beberapa perubahan yang terjadi pada diri remaja tersebut, ada topik yang
menjadi sumber dari masalah-masalah yang ada dalam hidup remaja yaitu hubungan
romantis dengan lawan jenis (Furman, 2002). Hubungan romantis ini sering juga
disebut dengan pacaran atau dating. Pacarandimulai pada masa remaja. Remaja akan
memperlihatkan perubahan radikal dari tidak menyukai lawan jenis menjadi lebih
menyukai. Remaja ingin diterima, diperhatikan dan dicintai oleh lawan jenis
(Hurlock, 1999).
Menurut Tucker (2004) pacaran dimulai dari berkenalan, berteman dan
kemudian pacaran. Pacaran atau dating didefinisikan sebagai interaksi yang ‘saling’
(dyadic), termasuk didalamnya adalah mengadakan pertemuan untuk berinteraksi dan melakukan aktivitas bersama dengan keinginan secara eksplisit atau implisit untuk
saat ini (Straus, 2004). Tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pacar
disebut dengan dating violence.
Beberapa dekade terakhir, kekerasan dalam pacaran atau dating violence telah
menjadi persoalan kesehatan masyarakat. Bukti-bukti menyatakan bahwa dating
violence diantara pelajar lebih meluas dari pada sebelumnya, dan memiliki
konsekuensi perkembangan yang serius. Meskipun secara terbatas dikonsepkan
sebagai kekuatan fisik, dating violence sekarang lebih luas dikenal sebagai sebuah
kontinum dari abuse dimana mulai dari kekerasan emosional dan verbal sampai pada
perkosaan dan pembunuhan (Hickman et al, 2004).
Menurut Sugarman & Hotaling (dalam Krahe, 2001) dating violence adalah
tindakan atau ancaman untuk melakukan kekerasan, yang dilakukan salah seorang
anggota dalam hubungan dating ke anggota lainnya. Selain itu, menurut The National
Clearinghouse on Family Violence and Dating Violence (2006), dating violence
adalah serangan seksual, fisik, maupun emosional yang dilakukan kepada pasangan,
sewaktu berpacaran. Peneliti di The University of Michigan Sexual Assault
Prevention and Awareness Center Burandt, Wickliffe, Scott, Handeyside, Nimeh &
Cope (dalam Murray, 2007) mendefiniskan dating violence sebagai tindakan yang
disengaja (intentional), yang dilakukan dengan menggunakan taktik melukai dan
paksaan fisik untuk memperoleh dan mempertahankan kekuatan (power) dan kontrol
(control) terhadap pasangan dating-nya. Lebih lanjut dikatakan bahwa perilaku ini
melakukan perilaku ini atau tidak, perilaku ini ditujukan agar sang korban tetap
bergantung atau terikat dengan pasangannya.
The Centers for Disease Control (2000) melaporkan bahwa rata-rata
prevalensi dari dating violence pada pelajar SMA dan mahasiswa adalah 22% dan
32%. Silverman et al (2002) menganalisis data dari Massachusetts Youth Risk
Behavior Survey dan menaksir bahwa 1 dari 5 orang remaja mempunyai pengalaman
dating violence. Youth Risk Behavior Surveillance (dalam Siagian, 2009)
menyebutkan bahwa 9% remaja diperkosa oleh pacarnya. Selanjutnya Cram &
Seymour (dalam Siagian, 2009) menemukan bahwa sebanyak 77% dari remaja putri
dan 67% dari remaja putra mendapatkan pemaksaan secara seksual, termasuk
diantaranya ciuman yang tidak dinginkan, pelukan, kontak kelamin, hubungan
seksual yang tidak diinginkan dan 37% remaja mendapatkan video telanjang atau
semi telanjang dari pacar mereka.
Survey yang dilakukan di Amerika menemukan bahwa 1 dari 10 siswa
sekolah menengah akhir mendapatkan pukulan dan tamparan dari pacar mereka
(Family Prevention Fund, 2009). Laporan tentang kekerasan pada remaja di Amerika
adalah lebih dari 8 miliar remaja putri per tahun menderita akibat kekerasan yang
dilakukan oleh pasangan mereka (Murray, 2007). Berdasarkan Federal Bureau of
Investigation’s (1993-1999) Supplementary Homicide Reports, 10% dari semua
remaja putri usia 12 sampai 15 tahun dan 22% dari semua remaja putri usia 16 sampai
Varia (2006) menyebutkan bahwa 21% remaja memiliki pacar yang
membatasi mereka untuk bertemu dengan keluarga dan teman-teman mereka, 64%
memiliki pacar yang cemburuan dan ingin tahu segalanya tentang pasangannya setiap
waktu. Sebuah lembaga pencegahan terjadinya kekerasan di Amerika Family
Prevention Fund (dalam Siagian, 2009) menemukan bahwa terdapat 26% remaja
putri yang mendapatkan ancaman dari pacar mereka, satu dari empat remaja
mengatakan bahwa dirinya mendapatkan hinaan dan direndahkan melalui telepon dan
pesan singkat di telepon seluler. Zwicker (dalam America Bar Assocciation, 2006),
menyebutkan bahwa 39% dari remaja putri mengaku berpacaran dengan orang yang
selalu mengontrol dan mengatur mereka setiap waktu.
Di Indonesia, menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta,
terdapat satu dari lima remaja yang mengalami kekerasan seksual, kesimpulan ini
didasarkan pada survey terhadap 300 remaja (Rahmawati, 2008). Lebih lanjut, Kota
Medan sendiri sebagai kota metropolitan dengan angka kenakalan remaja tertinggi
bersama-sama dengan DKI Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Sulawesi Selatan,
dan Pontianak, ditemukan bahwa terdapat 800 kasus kekerasan di Medan, dan 30% dilakukan oleh pacar (Siagian, 2009). Berdasarkan data dari National Longitudinal
Study, Halpern et al (2001) menemukan bahwa 32% dari remaja kelas 7-12
melaporkan bahwa mempunyai pengalaman beberapa bentuk kekerasan dalam
hubungan dating-nya.
Menurut Murray (2007) bentuk-bentuk dating violence terdiri atas 3, yaitu (1)
Kekerasan emosional dan verbal adalah ancaman yang dilakukan pasangan terhadap
pacarnya dengan perkataan maupun mimik wajah. Misalnya adalah mengatakan
pacarnya gendut, jelek, malas, bodoh, tidak ada seorangpun yang menginginkan
pacarnya, mau muntah melihat pacarnya, menunjukkan wajah yang kecewa tanpa
mengatakan alasan mengapa ia marah atau kecewa dengan pacarnya, mengatakan
sesuatu mengenai organ tubuh pribadi pacarnya kepada pacarnya di depan
teman-temannya, atau mempermalukan pacarnya di depan teman-temannya.
Kekerasan seksual adalah pemaksaan untuk melakukan kegiatan atau kontak
seksual sedangkan pacar mereka tidak menghendakinya (Murray, 2007). Melakukan
hubungan seks tanpa ijin pasangannya atau dengan kata lain disebut dengan
pemerkosaan, mencium pasangannya tanpa persetujuan pasangannya, hal ini bisa
terjadi di area publik atau di tempat yang tersembunyi, sentuhan yang dilakukan tanpa
persetujuan pasangannya, sentuhan ini kerap kali terjadi di bagian dada, bokong dan
yang lainnya). Pria lebih sering melakukan tipe kekerasan ini dibandingkan wanita
(Hamby, Sugarman, & Boney-McCoy, dalam Heatrich & O`Learry, 2007).
Kekerasan fisikadalah perilaku yang mengakibatkan pacar terluka secara fisik
(Murray, 2007). Tipe kekerasan ini dapat dilihat dan diidentifikasi. Perilaku ini
diantaranya adalah memukul, menampar, menggigit, mendorong ke dinding dan
mencakar baik dengan menggunakan tangan maupun dengan menggunakan alat.
Wanita juga melakukan kekerasan tipe ini dengan pasangannya akan tetapi
terhadap wanita (Cantos, Neidig, & O’Leary, 1994; Cascardi, Langhinrichsen, &
Vivian, 1992; Stets & Straus, dalam Heatrich & O`Learry, 2007).
World Report On Violence And Health (1999) mengindikasikan salah satu
faktor yang menyebabkan dating violence diantaranya adalah sejarah kekerasan
dalam keluarga dimana orangtua yang seharusnya melindungi anaknya dari segala
bentuk kekerasan justru menjadi abuser terhadap anaknya sendiri. Orangtua yang
sering melakukan kekerasanpada anaknya disebabkan banyak faktor yaitu pernahnya
mengalami perlakuan abnormal pada masa kecilnya, dipenuhi rasa frustasi,
kemarahan dari masa kecilnya sehingga pelampiasannya pada anak-anaknya,
keluarga yang tidak harmonis, dan perekonomian yang tidak mendukung.
Dampaknya pada anak, anak akan mengalami berbagai penyimpangan kepribadian
seperti menjadi pendiam, agresif, mudah marah, dan konsep dirinya negatif
(Herlinawati, 2007).
Sebanyak 80% kekerasan yang menimpa anak-anak dilakukan oleh keluarga
mereka, 10% terjadi di lingkungan pendidikan, dan sisanya orang tak dikenal
(Solihin, 2004). Setiap bulannya terdapat 30 kasus kekerasan yang diadukan oleh
korbannya kepada lembaga konseling Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia.
Sebanyak 60% merupakan korban kekerasan ringan, berupa kekerasan verbal atau
caci maki, sedangkan 40% sisanya mengalami kekerasan fisik hingga seksual.
Menurut surat kabar harian Kompas, Kamis 23 Mei 2002, kekerasan domestik atau
kasus kekerasan yang menimpa anak-anak pada rentang usia 3-6 tahun (Solihin,
2004).
Tindakan-tindakan di atas dapat dikategorikan sebagai child abuse atau
perlakuan kejam terhadap anak-anak. Bosoeki (1999) menyatakan child abuse adalah
istilah untuk anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun yang mendapatkan gangguan
dari orangtua atau pengasuhnya yang merugikan anak secara fisik dan mental serta
perkembangannya. Papalia (2004) menyatakan bahwa child maltreatment atau lebih
dikenal dengan child abuse merupakan tindakan yang disengaja dan membahayakan
anak baik yang dilakukan oleh orangtua atau orang lain. Terdapat 4 bentuk child
abuse yang terdiri atas kekerasan fisik, kekerasan emosional, kekerasan seksual,dan
pengabaian.
Kekerasan fisik yaitu kekerasan yang menyebabkan luka-luka diseluruh tubuh
melalui pukulan, gigitan, tendangan, dan pembakaran (Tower, 2003). Kekerasan
seksual yaitu aktivitas seksual yang melibatkan anak dan orang lain. Kekerasan
emosional meliputi tindakan kekerasan atau pengabaian yang menyebabkan
gangguan perilaku, kognitif, emotional, atau mental (Papalia, 2004). Garbarino, dan
kolega (dalam Tower, 2003) memisahkan kekerasan emosional dalam dua bagian,
yaitu kekerasan emosional/psikologis (meliputi serangan verbal atau emotional,
ancaman membahayakan, atau kurungan tertutup) dan pengabaian
emosional/psikologis (meliputi pengasuhan yang tidak cukup, kurang kasih sayang,
menolak memberikan perawatan yang cukup, atau dengan sengaja memberikan
koleganya (dalam Tower, 2003) menyebutkan bahwa pengabaian sebagai tindakan
kelalaian yang dibagi menjadi tiga kategori, yakni pengabaian secara fisik,
pengabaian pendidikan dan pengabaian secara emosional
Child abuse berdampak secara fisik, kognitif, emosional, dan sosial pada anak
(Papalia, 2004). Dubowitz (dalam Papalia, 2004) menyatakan bahwa anak-anak yang
diabaikan tidak tumbuh dengan baik dan sering memiliki masalah kesehatan. Dalam
Hetherington dan Parke (1999), Cichetti dan Toth mengemukakan bahwa jika anak
korban kekerasan tidak meninggal, mereka akan menderita disfungsi otak, kerusakan
neuromotor, kerusakan fisik, terhambat dalam pertumbuhan, dan retardasi mental.
Kekerasan dapat menurunkan perkembangan intelektual dan menyebabkan masalah
psikososial. Pada anak yang telah bersekolah, tidak hanya menunjukkan masalah
dalam hubungan antara teman sebaya, guru, dan pengasuh, namun juga masalah
akademik dan self esteem yang rendah, menunjukkan masalah perilaku, dan menjadi
depresi serta menyendiri. Selain itu, anak tak jarang mengalami tekanan psikologis
seperti takut, stres, bahkan trauma yang akan dibawa hingga individu menjadi
dewasa.
Dutton (dalam Rosenbaum & Leisring, 2003) menemukan bahwa mengalami
kekerasan fisik dan pengabaian dari orangtua selama masa kanak-kanak memprediksi
simptom-simptom trauma kronis pada perilaku saat dewasa. Anak-anak menderita
Post Traumatic Stress Disorder karena seringkali menyaksikan kekerasan dalam
rumah tangga ataupun mengalami penyiksaan fisik (Silva dkk, dalam Davidson,
pengalaman kekerasan dalam rumah tangga tiap tahun (Strauss, Gelles & Steinmetz,
1980), Carlson memperkirakan bahwa sekurang-kurangnya 3,3 juta anak tiap
tahunnya berisiko terhadap pemaparan dari kekerasan antara orangtua.
Anak-anak yang hidup dalam kekerasan dalam rumah tangga meningkatkan
resiko terhadap pemaparan dari kejadian traumatik, pengabaian, korban kekerasan
secara langsung, dan kehilangan salah satu dari orangtua mereka. Semuanya
memberikan dampak negatif terhadap anak dan mempengaruhi kebahagiaan,
keamanan, dan stabilitas mereka (Carlson, 2000; Edleson, 1999; Rossman, 2001).
Masalah pada masa kanak-kanak yang berhubungan dengan pemaparan terhadap
kekerasan dalam rumah tangga dibagi dalam 3 kategori utama, yaitu: (1) Masalah
perilaku, sosial, dan emosional, yaitu tingkat agresi yang lebih tinggi, kemarahan,
permusuhan, perilaku menentang, dan tidak patuh; ketakutan, kecemasan, menarik
diri dan depresi; hubungan dengan teman sebaya, saudara kandung, dan hubungan
sosial yang buruk; dan self esteem yang rendah. (2) Masalah kognitif, yaitu fungsi
kognitif yang rendah, prestasi sekolah yang buruk, kemampuan menyelesaikan
masalah yang terbatas. (3) Masalah dalam jangka panjang, yaitu tingkat depresi dan
symptom trauma yang tinggi pada masa dewasa, melakukan kekerasan dalam
hubungan pada masa dewasanya (dating violence).
Kehidupan masa kecil sangat berpengaruh terhadap sikap mental dan moral
anak ketika dewasa nanti. Stucke (2008) menunjukkan bahwa pengalaman traumatis
selama masa kanak-kanak dapat mempengaruhi individu sewaktu dewasa seperti
sakit jiwa (mental illness), dan meninggal lebih awal. Lebih parahnya, Heyman dan
Slep (2002) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kekerasan menjadi seperti
lingkaran atau disebut cycle of violence. Hasil penelitian tersebut menunjukkan
wanita dan pria yang mengalami kekerasan atau menyaksikan kekerasan yang
dilakukan orangtua mereka semasa kecil akan beresiko melakukan kekerasan saat
dewasa terhadap anak ataupun pasangan mereka. Tambahan lagi, walaupun tidak
menjadi korban kekerasan, Rosenbaum dan O’Leary (dalam Rosenbaum & Leisring,
2003) menyatakan bahwa adanya kekerasan antar orangtua meskipun tidak
melihatnya langsung, dapat menimbulkan sekumpulan masalah emosional dan
perilaku pada anak dan meningkatkan resiko melakukan (memukul), khususnya
laki-laki, dalam hubungan intim mereka saat dewasa atau melakukan kekerasan dalam
pacaran.
Semua tindakan kekerasan kepada anak-anak direkam dalam bawah sadar
mereka dan dibawa sampai kepada masa dewasa, dan terus sepanjang hidupnya.
Orangtua mempengaruhi anak-anak remaja mereka dalam berbagai cara (cf. Collins,
Marcoby, Steinberg, Hetherington, & Bornstein, 2000), termasuk agresi (Sheridon,
1995). Gelles dan Straus memberikan fakta bahwa orangtua yang berperilaku agresif
akan mendorong anaknya berperilaku agresif (cf. Gelles & Straus, 1988; Straus,
Gelles, & Steinmetz, 1980). Intergeneration hypothesis menjelaskan bahwa
anak-anak mungkin menjadi kasar pada masa remajanya karena mereka mengalami abuse
pada masa kanak-kanaknya atau karena mereka melihat kekerasan antara orangtua.
kepribadian anak dikemudian hari. Rata-rata abuser dalam masa kecilnya sering
mendapatkan atau melihat perlakuan kasar dari ayahnya, baik pada dirinya,
saudaranya, atau pada ibunya. Secara logika dia membenci perilaku ayahnya, akan
tetapi secara tidak sadar perilaku itu terinternalisasi dan muncul pada saat dia
menghadapi konflik. Berdasarkan uraian diatas maka akan dilakukan penelitian
untuk melihat bagaimana gambaran perilaku dating violence pada remaja yang
pernah yang mengalami child abuse.
B. Rumusan Masalah
Perumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimana
gambaran perilaku dating violence pada remaja yang pernah mengalami child abuse.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku dating violence
yang dilakukan oleh remaja yang pernah mengalami child abuse.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dalam
memberikan informasi di bidang psikologi perkembangan, khususnya
b. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi peneliti
selanjutnya yang berminat untuk mengkaji tentang perilaku dating violence
pada remaja yang pernah mengalami child abuse.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi berbagai pihak untuk
memahami tentang dating violence pada remaja, pengaruh child abuse pada
perkembangan anak pada masa remajanya. Hal ini diharapkan dapat menjadi
informasi bagi berbagai pihak yang berkepentingan dengan masalah remaja seperti
orangtua, guru, konselor, dan pendamping remaja.
E. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dari penelitian ini adalah:
BAB I : Pendahuluan
Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan
masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.
BAB II : Landasan Teori
Bab ini menguraikan tentang dating violence, child abuse, dan
gambaran perilaku dating violence pada remaja yang pernah
BAB III : Metodologi Penelitian
Pada bab ini dijelaskan mengenai identifikasi variabel, definisi
operasional variabel, sampel penelitian, teknik pengambilan sampel,
pengumpulan data serta analisa data.
BAB IV : Analisa Data dan Pembahasan
Pada bab ini berisi tentang gambaran subjek penelitian dan hasil
penelitian.
BAB V : Kesimpulan dan Saran
Pada bab ini berisi kesimpulan yang berusaha menjawab masalah
yang dikemukakan berdasarkan hasil penelitian. Kemudian
berdasarkan kesimpulan akan diajukan saran bagi penelitian
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Dating Violence
1. Pengertian Dating Violence
Menurut Straus dalam jurnalnya Prevalence of Violence Against Dating
Partners by Male and Female University Students Worldwide (2004), dating
didefinisikan sebagai interaksi yang ‘saling’ (dyadic), termasuk didalamnya adalah mengadakan pertemuan untuk berinteraksi dan melakukan aktivitas bersama dengan
keinginan secara eksplisit dan implisit untuk meneruskan hubungan setelah terdapat
kesepakatan tentang status hubungan mereka saat ini. Collins (dalam Marcus, 2007)
mengatakan bahwa terdapat 5 hal yang dapat menjelaskan sebuah hubungan sebagai
dating. Kelima hal tersebut adalah: (1) involvement – apakah remaja tersebut pacaran,
usia dimana dia memulai pacaran, dan konsistensi serta frekuensi pacaran (2)
partner-selection – siapa yang mereka pilih menjadi pacar mereka (apakah usianya
lebih tua, sama atau dari suku dan sosioekonomi status yang berbeda atau sama) (3)
content – apa yang dilakukan mereka bersama-sama, keberagaman dari aktivitas yang
dilakukan bersama, situasi yang dihindari ketika mereka bersama; (4) quality – hal
dimana hubungan tersebut menghasilkan suatu pengalaman yang menguntungkan,
seperti intimacy, affection, nurturance, antagonism, and high conflict and controlling
behaviors; and (5) cognitive and emotional processes – apakah terdapat partner yang
atas diri sendiri yang lebih didasarkan pada emosi. Definisi violence menurut
VandenBos (dalam Marcus, 2007) merupakan ekspresi kemarahan dengan tujuan
untuk melukai atau merusak seseorang atau properti mereka secara fisik, emosi,
maupun seksual.
Dating violence adalah tindakan atau ancaman untuk melakukan kekerasan,
yang dilakukan salah seorang anggota dalam hubungan dating ke anggota lainnya
(Sugarman & Hotaling dalam Krahe, 2001). Selain itu, menurut The National
Clearinghouse on Family Violence and Dating Violence (2006), dating violence
adalah serangan seksual, fisik, maupun emosional yang dilakukan kepada pasangan,
sewaktu berpacaran. The American Psychological Association (dalam Warkentin,
2008) menyebutkan bahwa dating violence adalah kekerasan psikologis dan fisik
yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam hubungan pacaran, yang mana perilaku
ini ditujukan untuk memperoleh kontrol, kekuasaan dan kekuatan atas pasangannya.
Peneliti di The University of Michigan Sexual Assault Prevention and
Awareness Center Burandt, Wickliffe, Scott, Handeyside, Nimeh & Cope (dalam
Murray, 2007) mendefiniskan dating violence sebagai tindakan yang disengaja
(intentional), yang dilakukan dengan menggunakan taktik melukai dan paksaan fisik
untuk memperoleh dan mempertahankan kekuatan (power) dan kontrol (control)
terhadap pasangan dating-nya. Lebih lanjut dikatakan bahwa perilaku ini tidak
dilakukan atas paksaan orang lain, sang pelaku lah yang memutuskan untuk
melakukan perilaku ini atau tidak, perilaku ini ditujukan agar sang korban tetap
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dating violence adalah
ancaman atau tindakan untuk melakukan kekerasan kepada salah satu pihak dalam
hubungan berpacaran, yang mana kekerasan ini ditujukan untuk memperoleh kontrol,
kekuasaan dan kekuatan atas pasangannya, perilaku ini bisa dalam bentuk kekerasan
emosional, fisik dan seksual.
2. Bentuk-Bentuk Dating Violence
Menurut Murray (2007) bentuk-bentuk dating violence terdiri atas tiga
bentuk, yaitu kekerasan verbal dan emosional, kekerasan seksual, kekerasan fisik.
a. Kekerasan Verbal dan Emosional
Kekerasan verbal dan emosional adalah ancaman yang dilakukan pasangan
terhadap pacarnya dengan perkataan maupun mimik wajah.
Menurut Murray (2007), kekerasan verbal dan emosionalterdiri dari:
1. Name calling
Seperti mengatakan pacarnya gendut, jelek, malas, bodoh, tidak ada
seorangpun yang menginginkan pacarnya, mau muntah melihat pacarnya.
Mereka menerima tipe kekerasan ini, karena mereka tidak memiliki self
esteem yang tinggi, sehingga tidak bisa mengatakan jika saya jelek, mengapa
kamu masih bersama saya sekarang
2. Intimidating looks
Pasangannya atau pacarnya akan menunjukkan wajah yang kecewa tanpa
pihak laki-laki atau perempuannya mengetahui apakah pacarnya marah atau
tidak dari ekspresi wajahnya.
3. Use of pagers and cell phones
Seorang pacar ada yang memberikan ponsel kepada pacarnya, supaya dapat
mengingatkan atau supaya tetap bisa menghubungi pacarnya. Alat komunikasi
ini memampukan pacarnya untuk memeriksa keadaan pacarnya sesering
mereka mau. Ada juga dari mereka yang tidak memberikan ponsel kepada
pacarnya, namun baik yang memberikan ponsel maupun yang tidak
memberikan ponsel tersebut akan marah ketika orang lain menghubungi
pacarnya, meskipun orangtua dari pacarnya, karena itu mengganggu
kebersamaan mereka. Individu ini harus mengetahui siapa yang menghubungi
pacarnya dan mengapa orang tersebut menghubungi pacarnya.
4. Making a boy/girl wait by the phone
Seorang pacar berjanji akan menelepon pacarnya pada jam tertentu, akan
tetapi sang pacar tidak menelepon juga. Pacar yang dijanjikan akan ditelepon,
terus menerus menunggu telepon dari pasangannya, membawa teleponnya
kemana saja di dalam rumah, misalnya pada saat makan bersama keluarga.
Hal ini terjadi berulangkali, sehingga membuat si pacar tidak menerima
telepon dari temannya, tidak berinteraksi dengan keluarganya karena
5. Monopolizing a girl’s/ boy`s time
Korban dating violence cenderung kehabisan waktu untuk melakukan
aktivitas dengan teman atau untuk mengurus keperluannya, karena mereka
selalu menghabiskan waktu bersama dengan pacarnya.
6. Making a girl`s/ boy`s feel insecure
Seringkali orang yang melakukan dating violence memanggil pacarnya
dengan mengkritik, dan mereka mengatakan bahwa semua hal itu dilakukan
karena mereka sayang pada pacarnya dan menginginkan yang terbaik untuk
pacarnya. Padahal mereka membuat pacar mereka merasa tidak nyaman.
Ketika pacar mereka terus menerus dikritik, mereka akan merasa bahwa
semua yang ada pada diri mereka buruk, tidak ada peluang atau kesempatan
untuk meninggalkan pasangannya.
7. Blaming
Semua kesalahan yang terjadi adalah perbuatan pasangannya, bahkan mereka
sering mencurigai pacar mereka atas perbuatan yang belum tentu
disaksikannya, seperti menuduhnya melakukan perselingkuhan.
8. Manipulation / making himself look pathetic
Hal ini sering dilakukan oleh pria. Perempuan sering dibohongi oleh pria, pria
biasanya mengatakan sesuatu hal yang konyol tentang kehidupan, misalnya
pacarnyalah orang yang satu-satunya mengerti dirinya, atau mengatakan
9. Making threats
Biasanya mereka mengatakan jika kamu melakukan ini, maka saya akan
melakukan sesuatu padamu. Ancaman mereka bukan hanya berdampak pada
pacar mereka, tetapi kepada orangtua, dan teman mereka.
10. Interrogating
Pasangan yang pencemburu, posesif, suka mengatur, cenderung
menginterogasi pacarnya, dimana pacarnya berada sekarang, siapa yang
bersama mereka, berapa orang laki-laki atau wanita yang bersama mereka,
atau mengapa mereka tidak membalas pesan mereka.
11. Humiliating her/ him in public
Mengatakan sesuatu mengenai organ tubuh pribadi pacarnya kepada pacarnya
di depan temannya. Atau mempermalukan pacarnya di depan
teman-temannya.
12. Breaking treasured items
Tidak memperdulikan perasaan atau barang-barang milik pacar mereka, jika
pasangan mereka menangis, mereka menganggap hal itu sebuah kebodohan.
b. Kekerasan Seksual
Kekerasan seksual adalah pemaksaan untuk melakukan kegiatan atau kontak
seksual sedangkan pacar mereka tidak menghendakinya (Murray, 2007). Pria lebih
sering melakukan tipe kekerasan ini dibandingkan wanita (Hamby, Sugarman, &
Menurut Murray (2007), sexual abuse terdiri dari:
1. Perkosaan
Melakukan hubungan seks tanpa ijin pasangannya atau dengan kata lain
disebut dengan pemerkosaan. Biasanya pasangan mereka tidak mengetahui
apa yang akan dilakukan pasangannya pada saat itu.
2. Sentuhan yang tidak diinginkan
Sentuhan yang dilakukan tanpa persetujuan pasangannya, sentuhan ini
kerap kali terjadi di bagian dada, bokong dan yang lainnya.
3. Ciuman yang tidak diinginkan
Mencium pasangannya tanpa persetujuan pasangannya, hal ini bisa terjadi
di area publik atau di tempat yang tersembunyi.
c. Kekerasan fisik
Kekerasan fisik adalah perilaku yang mengakibatkan pacar terluka secara fisik,
seperti memukul, menampar, menendang dan sebagainya (Murray, 2007). Wanita
juga melakukan kekerasan tipe ini dengan pasangannya akan tetapi konsekuensi fisik
yang dihasilkan tidak begitu berbahaya seperti yang dilakukan pria terhadap wanita.
(Cantos, Neidig, & O’Leary, 1994; Cascardi, Langhinrichsen, & Vivian, 1992; Stets
Kekerasan fisikterdiri dari (Murray, 2007):
1.Memukul, mendorong, membenturkan
Ini merupakan tipe abuse yang dapat dilihat dan diidentifikasi, perilaku ini
diantaranya adalah memukul, menampar, menggigit, mendorong ke dinding
dan mencakar baik dengan menggunakan tangan maupun dengan
menggunakan alat. Hal ini menghasilkan memar, patah kaki, dan lain
sebagainya. Hal ini dilakukan sebagai hukuman kepada pasangannya. (Mark
McGwire dan Sammy Sosa dalam Murray, 2007)
2. Mengendalikan, menahan
Perilaku ini dilakukan pada saat menahan pasangan mereka untuk tidak
pergi meninggalkan mereka, misalnya menggengam tangan atau lengannya
terlalu kuat.
3. Permainan kasar
Menjadikan pukulan sebagai permainan dalam hubungan, padahal
sebenarnya pihak tersebut menjadikan pukulan-pukulan ini sebagai taktik
untuk menahan pasangannya pergi darinya. Ini menandakan dominasi dari
pihak yang melayangkan pukulan tersebut.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku dating violence
terdiri dari tiga bentuk yakni ancaman yang dilakukan pasangan terhadap pacarnya
dengan perkataan maupun mimik wajah (verbal and emotional abuse), pemaksaan
menghendakinya (sexual abuse), dan perilaku yang mengakibatkan pacar terluka
secara fisik (physical abuse).
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dating Violence Pada Remaja
Murray (2007) dalam bukunya yang berjudul Domestic and Dating Violence:
An Information and Resource Handbook menyatakan bahwa terdapat tujuh faktor
yang berkontribusi dalam dating violence, yaitu:
a. Penerimaan Teman Sebaya
Remaja cenderung ingin mendapatkan penerimaan dari teman sebaya mereka,
misalnya remaja pria dituntut oleh teman sebayanya untuk melakukan kekerasan
sebagai tanda kemaskulinan mereka (Leaver, 2007).
b. Harapan Peran Gender
Pria diharapkan untuk lebih mendominasi sedangkan wanita diharapkan untuk lebih
pasif. Pria yang menganut peran gender yang mendominasi akan lebih cenderung
mengesahkan perbuatan dating violence kepada pasangannya, sedangkan wanita
yang menganut peran gender yang pasif, akan lebih menerima dating violence dari
pasangannya.
c. Pengalaman Yang Sedikit
Secara umum, remaja memiliki sedikit pengalaman dalam berpacaran dan menjalin
hubungan dibandingkan dengan orang dewasa, dan remaja tidak mengerti seperti
apa pacaran yang benar, dan apakah setiap hal yang mereka lakukan saat pacaran
dan sesuatu yang dipersembahkan dari abuser. Karena kurangnya pengalaman,
mereka menjadi kurang objektif dalam menilai hubungan mereka.
d. Jarang Berhubungan dengan Pihak yang Lebih Tua
Nancy Worcester in “A More Hidden Crime: Adolescent Battered Women” (The
Network News, July/August 1993) menyebutkan bahwa remaja selalu merasa bahwa
orang dewasa tidak akan menanggapi mereka dengan serius, dan mereka
menganggap bahwa intervensi dari orang dewasa akan membuat kepercayaan diri
dan kemandirian diri mereka hilang. Inilah yang membuat mereka menutupi dating
violence yang terjadi pada diri mereka.
e. Sedikit akses ke layanan masyarakat
Anak dibawah usia 18 tahun mempunyai akses yang sedikit ke pengobatan medis,
dan meminta perlindungan ke tempat penampungan orang-orang yang menjadi
korban kekerasan. Mereka membutuhkan panduan orangtua, tetapi mereka takut
mencarinya. Hal ini akan menghambat remaja untuk terlepas dari kekerasan dalam
pacaran.
f. Legalitas
Kesempatan legal berbeda antara orang dewasa dan remaja, dimana remaja kurang
memiliki kesempatan legal. Remaja sering kali memiliki akses yang sedikit ke
pengadilan, polisi dan bantuan. Ini merupakan rintangan bagi remaja untuk
g. Penggunaan Obat-obatan
Obat-obatan tidak merupakan penyebab dating violence, tetapi ini dapat
meningkatkan peluang terjadinya dating violence dan meningkatkan
keberbahayaannya. Obat-obatan menurunkan kemampuan untuk menunjukkan
kontrol diri dan kemampuan membuat keputusan yang baik dihadapan wanita
ataupun prianya.
World Report On Violence And Health (1999) mengindikasikan enam faktor yang
menyebabkan dating violence diantaranya:
a. Faktor Individual
Faktor demografi yang dapat menyebabkan seseorang melakukan kekerasan kepada
pasangannya adalah usia yang muda dan memiliki status ekonomi yang rendah. The
Health and Development Study in Dunedin, New Zealand – Dalam satu penelitian
longitudinalnya menunjukkan bahwa seseorang yang berasal dari keluarga yang
melakukan kekerasan- berasal dari keluarga yang umumnya berada pada level
ekonomi yang rendah, memiliki prestasi akademis yang rendah atau pendidikan
yang rendah, maka mereka akan melakukan dating violence.
b. Sejarah Kekerasan dalam Keluarga
Studi yang dilakukan di Brazil, Afrika dan Indonesia menunjukkan bahwa dating
violence cenderung dilakukan oleh laki-laki yang sering mengobservasi ibunya
c. Penggunaan Alkohol
Penelitian Black, dkk yang diadakan di Brazil, Cambodia, Canada, Chile,
Colombia, Costa Rica, El Salvador, India, Indonesia, Nicaragua, Afrika Selatan,
Spanyol dan Venezuela menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara peminum minuman keras dengan menjadi pelaku dating violence. Yaitu
bahwa alkohol dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan individu dalam
menginterpretasikan sesuatu (World Report on Violence and Health, 2002) . Lebih
lanjut Borsary & Carey (dalam Roudsary, Leahy & Walters, 2009) menggunakan
pengukuran penggunan alcohol satu kali seminggu dalam memprediksikan pelaku
dating violence.
d. Gangguan Kepribadian
Penelitian di Canada menunjukkan bahwa laki-laki yang menyerang pasangannya
cenderung mengalami emotionally dependent, insecure dan rendahnya self-esteem
sehingga sulit mengontrol dorongan-dorongan yang ada dalam diri mereka. Mereka
juga memiliki skor yang tinggi pada skala personality disorder termasuk
diantaranya antisocial, aggressive and borderline personality disorders.
e. Faktor dalam Hubungan
O’Kefee (2005) mengatakan bahwa, kurangnya kepuasan dalam hubungan, semakin
banyaknya konflik yang terjadi dalam hubungan tersebut akan meningkatkan
terjadinya dating violence. Lewis & Fremouw, Ray & Gold, Billingham (dalam
Luthra dan Gidycs, 2006) penelitiannya mengatakan bahwa semakin lama durasi
meningkat. Follingstad, Rutledge, Polek, & McNeill-Hawkins (dalam Luthra &
Gidycs, 2006) menyebutkan bahwa dengan pertambahan setiap 6 bulan durasi
dating. Korban dari kekerasan berulang kali akan lebih bisa bertahan dalam
hubungan yang dijalaninya, daripada korban yang mengalami sekali kekerasan atau
dengan kata lain, semakin sering dilakukan suatu kekerasan kepada pasangannya
maka sang pelaku akan semakin merasa bahwa si korban menerima perilaku
kekerasan tersebut.
f. Faktor Komunitas
Dengan tingkat ekonomi yang tinggi, maka orang-orang lebih mampu untuk
melakukan perlindungan ataupun pembelaan terhadap kekerasan yang dialaminnya.
Meskipun tidak selalu benar bahwa kemiskinan meningkatkan kekerasan. Tapi
tinggal dalam kemiskinan dapat menyebabkan hopelessness.
Untuk beberapa pria, tinggal dalam kemiskinan bisa mengakibatkan stress,
frustrasi, dan perasaan tidak mampu untuk memenuhi harapan sosial, atau hidup
sesuai dengan harapan sosial. Peran gender tradisional, ada tidaknya sanksi dalam
komunitas itu, atau daerah tempat tinggal pelaku dan korban merupakan bekas
daerah perang sehingga tersedia peralatan perang juga turut berperan.
Terpapar dengan kekerasan yang terjadi di komunitas berhubungan dengan menjadi
pelaku dating violence dikedua gender (Malik dalam O`Kefee, 2005). Terpapar
dengan kekerasan yang terjadi di komunitas akan meningkatkan kekerasan yang
terjadi, mungkin ini disebabkan oleh penerimaan seseorang mengenai violence
Beberapa ciri orang yang melakukan dating violence adalah:
1. Rendahnya self esteem atau self image yang buruk
Self esteem adalah keseluruhan sikap kepada diri, apakah positif atau negatif
(Rosenberg, dalam Baron, Byrne & Branscombe, 2006). Orang-orang dengan self esteem dan self image yang rendah ingin meningkatkan self esteem dan self image
mereka dengan menunjukkan kekuatan mereka atas pasangan mereka.
2. Toleransi yang sedikit kepada frustrasi
Frustrasi didefinisikan sebagai perasaan yang timbul ketika terdapat situasi yang
merintangi goal (Dollard, Doob, Miller, Mower; & Sears dalam Baron et al., 2006). Roseinzweig (dalam Kellen, 2009) mengatakan bahwa reaksi seseorang kepada
situasi frustrasi bisa favorable atau tidak favorable berdasarkan toleransi frustrasi
seseorang. Kellen (2009) mengatakan bahwa memiliki toleransi frustasi yang
rendah seringkali merupakan faktor yang dapat menciptakan kemarahan dan
kekerasan.
3. Moodyang sering berubah-ubah
Orang dengan tipe ini biasanya kelihatan tenang dalam beberapa menit, dan
tiba-tiba berperilaku agresif kemudian (Adetunji, 2008).
4. Mudah marah
Cenderung mengekspresikan ketakutan atau kecemasan sebagai kemarahan, atau
menolak untuk mendiskusikan perasaan mereka, dan kemudian menunjukkan
5. Kecemburuan yang berlebihan
Kecemburuan terjadi dengan pihak ketiga dalam hubungan, dimana pihak yang
cemburu merasa bahwa pasangan mereka membina hubungan dengan oranglain.
Seseorang yang pencemburu menunjukkan ekspresi cemburu mereka, seperti
kemarahan maupun kekerasan fisik (Peppermint, 2006).
6. Terlalu posesif
Posesif merupakan perasaan takut akan kehilangan seseorang (Hendrick &
Hendrick dalam Baron, Byrne & Branscombe 2006). Perasaan ini membuat
pasangan mereka ingin mengontrol segala sesuatu mengenai pasangannya, dan
tidak jarang kontrol yang dilakukan terlalu berlebihan dan mengekang
pasangannya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa delapan faktor yang
mempengaruhi dating violence pada remaja adalah faktor individual, sejarah
kekerasan dalam keluarga, penerimaan teman sebaya, harapan peran gender,
penggunaan obat-obatan, gangguan kepribadian, faktor dalam hubungan, dan faktor
komunitas. Faktor individual yang dapat menyebabkan seseorang melakukan
kekerasan terhadap pasangannya adalah usia yang muda, berada pada level ekonomi
yang rendah, memiliki prestasi akademis yang rendah, serta seseorang yang sering
mengobservasi ibunya yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, mengalami
emotionally dependent, insecure dan rendahnya self esteem. Semakin banyaknya
konflik yang terjadi dalam hubungan tersebut akan meningkatkan terjadinya dating
B. Child Abuse
1. Pengertian child abuse
Pada awalnya terminologi tindak kekerasan pada anak atau child abuse berasal
dari dunia kedokteran. Sekitar tahun 1946, seorang radiologis Caffey (dalam Tower,
2003) menyebutkan kasus ini dengan Caffey Syndrome. Hendry (dalam Fitri, 2008)
menyebut kasus penelantaran dan penganiayaan yang dialami anak-anak dengan
istilah Battered Child Syndrome, yaitu setiap keadaan yang disebabkan kurangnya
perawatan dan perlindungan terhadap anak oleh orangtua atau pengasuh lain. Selain
Battered Child Syndrome, istilah lain untuk menggambarkan kasus penganiayaan
yang dialami oleh anak-anak adalah Maltreatment Syndrome, meliputi gangguan fisik
seperti diatas, juga gangguan emosi anak, dan adanya akibat asuhan yang tidak
memadai , eksploitasi seksual dan ekonomi, pemberian makanan yang tidak layak
bagi anak atau makanan kurang gizi, pengabaian pendidikan dan kesehatan dan
kekerasan yang berkaitan dengan medis (Gelles dalam Fitri, 2008).
Papalia (2004) menyatakan bahwa child maltreatment atau lebih dikenal
dengan child abuse merupakan tindakan yang disengaja dan membahayakan anak
baik yang dilakukan oleh orangtua atau oranglain. Penganiayaan sendiri terdiri dari
beberapa bentuk. Abuse mengarah pada tindakan yang mengakibatkan kerusakan, dan
neglect merupakan tidak adanya tindakan atau pengabaian pengasuhan yang dapat
mengakibatkan kerusakan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kekerasan terhadap anak
penderitaan pada anak meliputi penelantaran , penganiayaan, eksploitasi seksual dan
ekonomi yang dilakukan oleh orangtua atau pengasuh lain.
2.Bentuk-bentuk child abuse
Terdapat empat bentuk child abuse yakni kekerasan fisik, kekerasan seksual,
kekerasan emosional dan pengabaian(Tower, 2003).
1. Kekerasan fisik: kekerasan yang menyebabkan luka-luka diseluruh tubuh melalui
pukulan, gigitan, tendangan, dan pembakaran.
2. Kekerasan seksual: Aktivitas seksual yang melibatkan anak dan orang lain.
Menurut child abuse prevention act (dalam Tower, 2003) kekerasan seksual
meliputi:
i. Mempekerjakan, menggunakan, membujuk, merangsang, mengajak, atau
memaksa anak untuk ikut dalam perilaku seksual secara nyata (atau berupa
rangsangan perilaku) untuk tujuan menghasilkan gambaran visual dari
perilaku tersebut.
ii. Pemerkosaan, penganiayaan, prostitusi, atau bentuk lain dari eksploitasi
seksual pada anak, ataupun incest pada anak dibawah kondisi yang
mengindikasikan bahwa kesehatan atau kesejahteraan anak dirugikan atau
terancan oleh hal-hal tersebut.
3. Kekerasan emosional
Meliputi tindakan kejam atau pengabaian yang menyebabkan gangguan
(dalam Tower, 2003) memisahkan kekerasan emosional dalam dua bagian, yaitu
kekerasan secara emosional/psikologis (meliputi serangan verbal atau emotional,
ancaman membahayakan, atau kurungan tertutup) dan pengabaian secara
emosional/psikologis (meliputi pengasuhan yang tidak cukup, kurang kasih
sayang, menolak memberikan perawatan yang cukup, atau dengan sengaja
memberikan perilaku maladaptive seperti kejahatan atau penggunaan
obat-obatan).
Tower (2003) mengemukan bahwa kekerasan secara psikologis merupakan
perilaku merusak yang terus-menerus, berulang, dan tidak sesuai ataupun
berkurang esensinya, dan dapat memperngaruhi kemampuan atau proses mental
anak yang meliputi intelegensi ingatan, pengenalan, persepsi, perhatian, bahasa,
dan perkembangan moral. Sedangkan kekerasan emosional merupakan respon
emosional yang terus-menerus, berulang, dan tidak sesuai terhadap ekspresi emosi
anak dan beriringan dengan perilaku ekspresif.
4. Pengabaian
Depanfilis dan koleganya (dalam Tower, 2003) menyebutkan bahwa
pengabaian sebagai tindakan kelalaian yang dibagi menjadi tiga kategori, yakni
pengabaian secara fisik, pengabaian secara pendidikan dan pengabaian emosional.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat empat bentuk
child abuse yang terdiri dari kekerasan yang menyebabkan luka-luka diseluruh tubuh
seksual), tindakan kekerasan yang menyebabkan gangguan perilaku, kognitif, dan
mental(kekerasan emosional), dan tindakan kelalaian (pengabaian).
C. Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja yang Pernah Mengalami
Child Abuse
Hubungan romantis sering juga disebut dengan pacaran. Individu ini juga
tidak ingin dipisahkan dengan orang yang disukai oleh mereka (Aron, Paris, & Aron
dalam Fiske, 2008). Harapan individu untuk tidak dipisahkan dari orang tersebut akan
membuat individu ingin mengekspresikan cinta atau rasa sukanya, dan akhirnya
individu tersebut juga ingin memiliki ikatan yang disebut dengan pacaran atau dating
(Connolly dkk dalam Furman, Mc Dunn & Young, 2005). Menurut Tucker (2004)
dating dimulai dari berkenalan, berteman dan kemudian pacaran. Pacaran atau dating
didefinisikan sebagai interaksi dyadic, termasuk didalamnya adalah mengadakan
pertemuan untuk berinteraksi dan melakukan aktivitas bersama dengan keinginan
secara eksplisit atau implisit untuk meneruskan hubungan setelah terdapat
kesepakatan tentang status hubungan mereka saat ini (Straus, 2004). Kasus-kasus
yang sehubungan dengan kekerasan yang dilakukan oleh pacar disebut dengan dating
violence.
Dating violence adalah serangan seksual, fisik, maupun emosional yang
dilakukan kepada pasangan, sewaktu berkencan (Kelly 2006). National Teen Dating
Violence Awareness and Prevention Month mengatakan bahwa dating violence sering
termasuk penggunaan kata-kata dan tindakan-tindakan yang berbahaya. Meskipun
secara terbatas dikonsepkan sebagai kekuatan fisik, dating violence sekarang lebih
luas dikenal sebagai sebuah kontinum dari kekerasan dimana mulai dari kekerasan
verbal dan emosional sampai pada perkosaan dan pembunuhan (Hickman et al, 2004).
Kekerasan verbal dan emosional adalah ancaman yang dilakukan pasangan
terhadap pacarnya dengan perkataan maupun mimik wajah. Misalnya adalah
mengatakan pacarnya gendut, jelek, malas, bodoh, tidak ada seorangpun yang
menginginkan pacarnya, mau muntah melihat pacarnya, menunjukkan wajah yang
kecewa tanpa mengatakan alasan mengapa ia marah atau kecewa dengan pacarnya,
mengatakan sesuatu mengenai organ tubuh pribadi pacarnya kepada pacarnya di
depan teman-temannya, atau mempermalukan pacarnya di depan teman-temannya.
Kekerasan seksual adalah pemaksaan untuk melakukan kegiatan atau kontak
seksual sedangkan pacar mereka tidak menghendakinya (Murray, 2007). Melakukan
hubungan seks tanpa ijin pasangannya atau dengan kata lain disebut dengan
pemerkosaan, mencium pasangannya tanpa persetujuan pasangannya, hal ini bisa
terjadi di area publik atau di tempat yang tersembunyi, sentuhan yang dilakukan tanpa
persetujuan pasangannya, sentuhan ini kerap kali terjadi di bagian dada, bokong dan
yang lainnya). Pria lebih sering melakukan tipe kekerasan ini dibandingkan wanita
(Hamby, Sugarman, & Boney-McCoy, dalam Heatrich & O`Learry, 2007).
Kekerasan fisikadalah perilaku yang mengakibatkan pacar terluka secara fisik
diantaranya adalah memukul, menampar, menggigit, mendorong ke dinding dan
mencakar baik dengan menggunakan tangan maupun dengan menggunakan alat.
Wanita juga melakukan kekerasan tipe ini dengan pasangannya akan tetapi
konsekuensi fisik yang dihasilkan tidak begitu berbahaya seperti yang dilakukan pria
terhadap wanita (Cantos, Neidig, & O’Leary, 1994; Cascardi, Langhinrichsen, &
Vivian, 1992; Stets & Straus, dalam Heatrich & O`Learry, 2007).
Kelly (2006), menyebutkan bahwa dating violence merupakan masalah sosial
yang signifikan dan dapat terjadi pada siapa saja, dengan usia, orientasi seksual,
status sosioekonomi, serta lokasi tempat tinggal dimana saja. Selanjutnya Lewis &
Fremouw (dalam Rathigan & Street, 2005) menyebutkan bahwa dating violence
merupakan masalah yang signifikan bukan hanya karena akan membahayakan dari
segi fisik tetapi juga mental; seperti dapat mengakibatkan luka, dan rendahnya self
esteem. Terlebih lagi dating violence sendiri bisa mengakibatkan kematian, dan jika
terjadi pada masa remaja, maka dating violence akan mengakibatkan terganggunya
hubungan romantis dan pola interaksi yang akan terbawa ke masa dewasa.
Dampak dating violence tentu saja tidak hanya dialami oleh perempuan,
karena laki-laki pun ada yang mengalami dating violence. Penelitian
mengindikasikan bahwa dating violence mempengaruhi perempuan dan laki-laki
secara berbeda. Pada perempuan, menjadi korban kekerasan fisik atau seksual
dihubungkan dengan resiko penggunaan obat-obatan, perilaku control berat badan
yang tidak sehat, perilaku seksual yang berisiko, kehamilan dan bunuh diri. Penelitian
pasangannya cenderung lebih menderita secara fisik dan emosional dibandingkan
dengan kekerasan yang dialami laki-laki. Perempuan juga cenderung lebih sering
menjadi korban dan mengalami dampak dari kekerasan ini termasuk luka-luka,
trauma emosional, perempuan lebih sering dipukul atau dipaksa untuk beraktivitas
seksual dan mereka merespon dengan menangis, melawan, melarikan diri atau
mengabaikan pasangannya. Laki-laki lebih sering dicubit, ditampar, dicakar, atau
ditendang, dan mereka lebih suka untuk melupakan dan menertawakan kekerasan
tersebut (www.canada.justice.go.ca). Walaupun masih sedikit penelitian hal ini,
pelaku juga mengalami dampak negatif dari perilaku mereka. Mereka berisiko untuk
menghancurkan hubungannya, dipermalukan, ditolak secara personal dan disalahkan
masyarakat. Mereka juga berisiko membahayakan hubungan dimasa depan
(www.canada.justice.go .ca).
Menurut Billingham, Riggs & O’Leary (dalam Luthra & Gidycz, 2006) dating
violence lebih sering terjadi di hubungan yang lebih serius dan dalam durasi yang
cukup lama yaitu setiap pertambahan durasi 6 bulan, maka kekerasan dalam
hubungan tersebut akan semakin meningkat. Beberapa wanita menjadi korban pada
kencan pertama, tetapi sebagian besar menjadi korban setelah berpacaran dalam
waktu yang lama (The National Clearinghouse on Family Violence, 1995). Pelaku
dating violence juga merupakan individu dengan pendidikan yang rendah (World
Report On Violence and Health, 2002).
World Report On Violence And Health (1999) mengindikasikan faktor-faktor
alkohol, gangguan kepribadian, faktor dalam hubungan, faktor komunitas, sejarah
kekerasan dalam keluarga. Pengaruh keluarga sangat besar dalam membentuk
kepribadian seseorang. Masalah-masalah emosional yang kurang diperhatikan oleh
orangtua dapat memicu timbulnya permasalahan bagi individu yang bersangkutan
dimasa yang akan datang. Misalnya sikap kejam orangtua, berbagai macam
penolakan dari orangtua terhadap keberadaan anak, dan juga sikap disiplin yang
diajarkan secara berlebihan. Hal-hal semacam ini akan berpengaruh pada model peran
yang dianut oleh anak tersebut pada masa remajanya. Bila model peran yang
dipelajari pada masa kanak-kanak tidak sesuai dengan model yang normal atau model
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian sangat menentukan suatu penelitian karena menyangkut
cara yang benar dalam pengumpulan data, analisa data, dan pengambilan kesimpulan
hasil penelitian (Hadi, 2000). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode kuantitatif yang bersifat deskriptif.
Menurut Azwar (2000) metode deskriptif merupakan metode yang bertujuan
untuk menggambarkan secara sistematik dan akurat, fakta dan karakteristik mengenai
populasi atau mengenai bidang tertentu. Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan
semata-mata bersifat deskriptif, tidak bermaksud mencari penjelasan, mengenai
hipotesis, membuat prediksi maupun mempelajari implikasi.
Jenis penelitian ini tidak mempersoalkan hubungan antar variabel dan tidak
melakukan pengujian hipotesis. Hasil penelitiannya berupa deskripsi mengenai
variabel-variabel tertentu dengan menyajikan frekuensi, angka rata-rata atau
kualifikasi lainnya untuk setiap kategori di suatu variable. Dalam pengolahan dan
analisa data menggunakan pengolahan statistik yang bersifat deskriptif (Faisal, 1999).
Punch (1998) menyatakan bahwa ada 2 (dua) kegunaan dilakukannya
penelitian deskriptif. Pertama, untuk mengembangkan teori dan area penelitian yang
baru, dimana sebelum merencanakan/melakukan penelitian yang lebih mendalam
(exploratory studies) adalah lebih baik untuk terlebih dahulu memuatkan perhatian
mengenai proses-proses sosial yang kompleks dapat membantu kita untuk memahami
faktor apa yang perlu diteliti lebih lanjut dalam penelitian berikutnya secara lebih
mendalam.
Hasil penelitian ini berupa deskripsi mengenai perilaku dating violence pada
remaja yang pernah mengalami child abuse.
A. Identifikasi Variabel
Variabel diartikan sebagai sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan
penelitian atau faktor-faktor yang berperan dalam gejala yang diamati. Variabel
merupakan sebuah simbol dimana angka-angka atau nilai ditetapkan dan suatu
konsep atau pengertian dapat dikatakan sebagai variabel bila menunjukkan adanya
variasi (Kerlinger, 2000). Sesuai dengan judul penelitian yaitu gambaran perilaku
dating violence pada remaja yang pernah mengalami child abuse, maka terdapat satu
variabel yaitu dating violence.
B. Definisi Operasional
Dating violence adalah tindakan atau ancaman yang dilakukan secara sengaja
baik melalui perilaku, perkataan maupun mimik wajah yang dilakukan salah satu
pihak kepada pihak lain dalam hubungan pacaran, dimana perilaku ini ditujukan
untuk memperoleh dan mempertahankan kekuatan atau kekuasaan dan kontrol atas