• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja yang Pernah Mengalami Child Abuse

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja yang Pernah Mengalami Child Abuse"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN PERILAKU DATING VIOLENCE PADA REMAJA

YANG PERNAH MENGALAMI CHILD ABUSE

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Oleh :

NOVIRA MITA

061301017

FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini, menyatakan dengan sesungguhnya

bahwa skripsi saya yang berjudul Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja

yang Pernah Mengalami Child Abuse adalah hasil karya sendiri dan belum pernah

diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari

hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma,

kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila dikemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini,

saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara

sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Januari 2012

Novira Mita

(3)

Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja yang Pernah Mengalami Child Abuse

Novira Mita dan Wiwik Sulistyaningsih

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk melihat gambaran perilaku dating violence pada remaja yang pernah mengalami child abuse. Dating violence adalah tindakan atau ancaman yang dilakukan secara sengaja baik melalui perilaku, perkataan maupun mimik wajah yang dilakukan salah satu pihak kepada pihak lain dalam hubungan pacaran, dimana perilaku ini ditujukan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuatan atau kekuasaan dan kontrol atas pasangannya dalam hubungan pacaran

Subjek penelitian ini berjumlah 30 orang remaja akhir korban child abuse. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala perilaku dating violence yang disusun berdasarkan bentuk-bentuk perilaku dating violence yang dikemukakan oleh Murray (2007). Berdasarkan hasil estimasi daya beda aitem dengan menggunakan koefisien Pearson Product Moment terdapat 45 aitem yang valid dengan rxx yang bergerak dari 0,302 hingga 0,678 dan reliabilitas terhadap daya uji coba dengan menggunakan teknik koefisien Alpha Cronbach, maka diperoleh reliabilitas sebesar 0,891.

Data yang diolah dalam penelitian ini yaitu skor minimum, skor maksimum, mean, dan standar deviasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada umumnya perilaku dating violence pada remaja yang pernah mengalami child abuse berada pada kategori rendah dengan kategori sebagai berikut, perilaku dating violence yang tergolong rendah sebanyak 13 orang (43,33%), kategori sedang sebanyak 10 (33,33%), dan kategori tinggi sebanyak 7 orang (23,33%).

(4)

Description of Behavior in Adolescent Dating Violence Ever Experienced Child Abuse

Novira Mita dan Wiwik Sulistyaningsih

ABSTRACT

This research is aimed descriptif to see description of the behavior of dating violence in adolescents who had child abused. Dating violence is an act or threat that is done deliberately either through behavioral, speech and facial expression by one party to another in a dating relationship, where the behavior is intended to obtain and maintain the strength or power and control over their partners in dating relationship.

The number of subjects in this study were as many as 30 people late adolescent victims of child abused. The sampling technique was purposive sampling. Measuring instrument used is the scale of dating violence behaviors are based on forms of dating violence behaviors proposed by Murray (2007). Based on the results of different power estimation aitem using Pearson Product Moment coefficients are 45 to rxx aitem yan valid moves from 0.302 to 0.678 and the reliability of the test by using Cronbach alpha coefficient technique, the obtained reliability of 0.891.

The data are processed in this study is the minimum score, maximum score, mean, and standard deviation. The results of this study show that in general the behavior of dating violence in adolescents who had child abused are at a low category by category as follows, dating violence behaviors are relatively low as many as 13 people (43.33%), the categories are as many as 10 (33.33 %), and high categories of 7 people (23.33%).

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti ucapkan kepada Allah SWT karena atas berkat, rahmat,

dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul:

Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja yang Pernah Mengalami Child

Abuse. Penyusunan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat

untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Sumatera

Utara Medan.

Peneliti menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak,

baik dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini sangatlah sulit bagi

peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu peneliti mengucapkan terima

kasih kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Dra. Irmawati, Psikolog, M.Si selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Sumatera Utara.

2. Keluarga peneliti: Papa Jhon Haidi dan Mama Syafrianis. Kakakku Dian

Andariesta Haidi dan adikku Ferdy Septian Haidi. Terima kasih atas segalanya

yang telah kalian berikan, kasih sayang, doa, dukungan moril dan materiil yang

kalian berikan untuk peneliti. Peneliti tidak dapat memberikan apa-apa bagi,

skripsi ini adalah hadiah terindah yang bisa peneliti berikan. Terimakasih buat

(6)

3. Ibu Dr. Wiwik Sulistyaningsih, Psikolog selaku dosen pembimbing skripsi.

Terimakasih sebesar-besarnya atas semua bimbingan, arahan, dan bantuan Ibu

untuk Peneliti. Semua kebaikan dan kesabaran Ibu dalam membimbing peneliti

tidak akan mampu peneliti balas dengan apapun dan akan peneliti kenang selalu.

4. Kepada dosen penguji seminar sekaligus juga sebagai dosen penguji skripsi.

Terimakasih atas segala masukan dan arahan yang diberikan sehingga membuat

skripsi ini menjadi lebih baik lagi.

5. Ibu Lili Garliah, M.Psi selaku dosen pembimbing akademik.

6. Seluruh dosen di Fakultas Psikologi USU yang telah memberikan ilmu wawasan

dan pengetahuan yang sangat berharga kepada peneliti, dan seluruh pegawai di

Fakultas Psikologi USU yang setia membantu peneliti menyediakan segala

keperluan selama perkuliahan.

7. Buat para sahabat dan teman-teman peneliti yang membantu peneliti dalam

mengumpulkan sampel penelitian, Helva, Mutek, dan Elsa terima kasih atas segala

bantuan kalian yang sudah mau menemaniku mencari data.

8. Terkhusus buat Helva Rita, terima kasih atas semua dukungan, pengorbanan dan

kesediaanmu yang tulus menemaniku menelusuri semua tempat yang ada di kota

Medan.

9. Buat para teman-teman peneliti di kosan Berdikari 1: Shindy, Intan, Agus, Icha,

Ita, Ajeng, Tria, dan Kak Nelly. Terimakasih selama ini buat kebersamaan kita

(7)

10.Buat para sahabat, teman-teman peneliti selama menjalani kehidupan perkuliahan

di Fakultas Psikologi. Wira, Helva, Inggrid, Yenni, Prinst, Junita, Mutek, Herna,

Mona, Dinar, Inur, Yani, Priska, Corry. Terima kasih atas kebersamaan kita

selama ini juga atas semua perhatian, kepercayaan, penerimaan, dan dukungan.

Dan buat semua teman-teman seperjuangan angkatan 2006 yang tak dapat

dituliskan namanya satu persatu, semoga kita semua menjadi manusia yang sukses

di masa depan, Amin.

Akhir kata, peneliti berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas

segala kebaikan saudara-saudara semua. Peneliti menyadari skripsi ini masih jauh

dari sempurna, untuk itu peneliti membuka kesempatan atas masukan, kritikan

dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini. Terimakasih.

Medan, Januari 2012

Peneliti,

(8)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 11

C. Tujuan Penelitian ... 11

D. Manfaat Penelitian... 11

E. Sistematika Penelitian ... 12

BAB II LANDASAN TEORI ... 14

A. Dating Violence ... 14

1. Pengertian Dating Violence... 14

2. Bentuk – bentuk Dating Violence ... 16

(9)

B. Child Abuse ... 29

1. Pengertian Child abuse ... 29

2. Bentuk – bentuk Child Abuse ... 30

C. Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja yang Pernah Mengalami Child Abuse ... 32

BAB III METODE PENELITIAN ... 38

A. Identifikasi Variabel Penelitian ... 39

B. Definisi Operasional ... 39

C. Populasi dan Metode Pengambilan Sampel ... 40

D. Metode dan Alat Pengumpulan Data ... 41

E. Uji Coba Alat Ukur ... 44

1. Validitas alat ukur ... 44

2. Uji Daya Beda Aitem ... 44

3. Reliabilitas alat ukur ... 45

F. Hasil Uji Coba Alat Ukur ... 46

G. Prosedur Pelaksanaan penelitian ... 47

1. Tahap persiapan ... 47

2. Tahap pelaksanaan penelitian ... 49

3. Etika penelitian... 49

4. Tahap pengolahan data ... 50

(10)

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 51

A. Analisa Data ... 51

1. Gambaran subjek penelitian ... 51

2. Hasil utama penelitian ... 57

3. Hasil tambahan penelitian ... 62

B. Pembahasan ... 70

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 76

A. Kesimpulan ... 76

B. Saran ... 77

1. Saran Metodologis ... 77

2. Saran Praktis ... 78

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.Blue Print Distribusi Aitem Skala Perilaku Dating Violence Sebelum Uji 43

Tabel 2. Blue Print Skala Perilaku Dating Violence Setelah Uji Coba ... 46

Tabel 3. Penomoran Kembali Skala Perilaku Dating Violence Setelah Uji Coba ... 47

Tabel 4. Gambaran subjek penelitian berdasarkan usia ... 52

Tabel 5. Gambaran subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin ... 52

Tabel 6. Gambaran subjek penelitian berdasarkan tingkat pendidikan ... 53

Tabel 7. Gambaran subjek penelitian berdasarkan lama berpacaran ... 53

Tabel 8. Gambaran subjek berdasarkan frekuensi berpacaran ... 54

Tabel 9. Gambaran subjek berdasarkan penggunaan alkohol ... 54

Tabel 10. Gambaran subjek berdasarkan pengalaman bentuk-bentuk child abuse .... 55

Tabel 11. Hasil uji normalitas ... 58

Tabel 12. Gambaran skor minimum, skor maksimum, mean, dan standar deviasi perilaku dating violence ... 59

Tabel 13. Kategorisasi norma nilai perilaku dating violence ... 60

Tabel 14. Penggolongan perilaku dating violence ... 60

Tabel 15. Kategorisasi perilaku dating violence ... 61

(12)

Tabel 17. Gambaran perilaku dating violence berdasarkan jenis kelamin ... 64

Tabel 18. Gambaran perilaku dating violence berdasarkan tingkat pendidikan ... 65

Tabel 19. Gambaran perilaku dating violence berdasarkan lama berpacaran ... 66

Tabel 20. Gambaran perilaku dating violence berdasarkan frekuensi berpacaran ... 67

(13)

Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja yang Pernah Mengalami Child Abuse

Novira Mita dan Wiwik Sulistyaningsih

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk melihat gambaran perilaku dating violence pada remaja yang pernah mengalami child abuse. Dating violence adalah tindakan atau ancaman yang dilakukan secara sengaja baik melalui perilaku, perkataan maupun mimik wajah yang dilakukan salah satu pihak kepada pihak lain dalam hubungan pacaran, dimana perilaku ini ditujukan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuatan atau kekuasaan dan kontrol atas pasangannya dalam hubungan pacaran

Subjek penelitian ini berjumlah 30 orang remaja akhir korban child abuse. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala perilaku dating violence yang disusun berdasarkan bentuk-bentuk perilaku dating violence yang dikemukakan oleh Murray (2007). Berdasarkan hasil estimasi daya beda aitem dengan menggunakan koefisien Pearson Product Moment terdapat 45 aitem yang valid dengan rxx yang bergerak dari 0,302 hingga 0,678 dan reliabilitas terhadap daya uji coba dengan menggunakan teknik koefisien Alpha Cronbach, maka diperoleh reliabilitas sebesar 0,891.

Data yang diolah dalam penelitian ini yaitu skor minimum, skor maksimum, mean, dan standar deviasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada umumnya perilaku dating violence pada remaja yang pernah mengalami child abuse berada pada kategori rendah dengan kategori sebagai berikut, perilaku dating violence yang tergolong rendah sebanyak 13 orang (43,33%), kategori sedang sebanyak 10 (33,33%), dan kategori tinggi sebanyak 7 orang (23,33%).

(14)

Description of Behavior in Adolescent Dating Violence Ever Experienced Child Abuse

Novira Mita dan Wiwik Sulistyaningsih

ABSTRACT

This research is aimed descriptif to see description of the behavior of dating violence in adolescents who had child abused. Dating violence is an act or threat that is done deliberately either through behavioral, speech and facial expression by one party to another in a dating relationship, where the behavior is intended to obtain and maintain the strength or power and control over their partners in dating relationship.

The number of subjects in this study were as many as 30 people late adolescent victims of child abused. The sampling technique was purposive sampling. Measuring instrument used is the scale of dating violence behaviors are based on forms of dating violence behaviors proposed by Murray (2007). Based on the results of different power estimation aitem using Pearson Product Moment coefficients are 45 to rxx aitem yan valid moves from 0.302 to 0.678 and the reliability of the test by using Cronbach alpha coefficient technique, the obtained reliability of 0.891.

The data are processed in this study is the minimum score, maximum score, mean, and standard deviation. The results of this study show that in general the behavior of dating violence in adolescents who had child abused are at a low category by category as follows, dating violence behaviors are relatively low as many as 13 people (43.33%), the categories are as many as 10 (33.33 %), and high categories of 7 people (23.33%).

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masa remaja merupakan suatu periode terjadinya perubahan yang besar pada

fisik, emosional, intelektual, akademik, sosial dan spiritual (Williams, 2001). Bagi

sebagian remaja, perubahan dalam peran sosial diartikan sebagai menjadi

pacar/pasangan bagi individu tertentu. Hubungan berpacaran antara pria dan wanita

ini menjadi bertambah penting seiring dengan bertambahnya usia (Bihler, 1986).

Diantara beberapa perubahan yang terjadi pada diri remaja tersebut, ada topik yang

menjadi sumber dari masalah-masalah yang ada dalam hidup remaja yaitu hubungan

romantis dengan lawan jenis (Furman, 2002). Hubungan romantis ini sering juga

disebut dengan pacaran atau dating. Pacarandimulai pada masa remaja. Remaja akan

memperlihatkan perubahan radikal dari tidak menyukai lawan jenis menjadi lebih

menyukai. Remaja ingin diterima, diperhatikan dan dicintai oleh lawan jenis

(Hurlock, 1999).

Menurut Tucker (2004) pacaran dimulai dari berkenalan, berteman dan

kemudian pacaran. Pacaran atau dating didefinisikan sebagai interaksi yang ‘saling’

(dyadic), termasuk didalamnya adalah mengadakan pertemuan untuk berinteraksi dan melakukan aktivitas bersama dengan keinginan secara eksplisit atau implisit untuk

(16)

saat ini (Straus, 2004). Tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pacar

disebut dengan dating violence.

Beberapa dekade terakhir, kekerasan dalam pacaran atau dating violence telah

menjadi persoalan kesehatan masyarakat. Bukti-bukti menyatakan bahwa dating

violence diantara pelajar lebih meluas dari pada sebelumnya, dan memiliki

konsekuensi perkembangan yang serius. Meskipun secara terbatas dikonsepkan

sebagai kekuatan fisik, dating violence sekarang lebih luas dikenal sebagai sebuah

kontinum dari abuse dimana mulai dari kekerasan emosional dan verbal sampai pada

perkosaan dan pembunuhan (Hickman et al, 2004).

Menurut Sugarman & Hotaling (dalam Krahe, 2001) dating violence adalah

tindakan atau ancaman untuk melakukan kekerasan, yang dilakukan salah seorang

anggota dalam hubungan dating ke anggota lainnya. Selain itu, menurut The National

Clearinghouse on Family Violence and Dating Violence (2006), dating violence

adalah serangan seksual, fisik, maupun emosional yang dilakukan kepada pasangan,

sewaktu berpacaran. Peneliti di The University of Michigan Sexual Assault

Prevention and Awareness Center Burandt, Wickliffe, Scott, Handeyside, Nimeh &

Cope (dalam Murray, 2007) mendefiniskan dating violence sebagai tindakan yang

disengaja (intentional), yang dilakukan dengan menggunakan taktik melukai dan

paksaan fisik untuk memperoleh dan mempertahankan kekuatan (power) dan kontrol

(control) terhadap pasangan dating-nya. Lebih lanjut dikatakan bahwa perilaku ini

(17)

melakukan perilaku ini atau tidak, perilaku ini ditujukan agar sang korban tetap

bergantung atau terikat dengan pasangannya.

The Centers for Disease Control (2000) melaporkan bahwa rata-rata

prevalensi dari dating violence pada pelajar SMA dan mahasiswa adalah 22% dan

32%. Silverman et al (2002) menganalisis data dari Massachusetts Youth Risk

Behavior Survey dan menaksir bahwa 1 dari 5 orang remaja mempunyai pengalaman

dating violence. Youth Risk Behavior Surveillance (dalam Siagian, 2009)

menyebutkan bahwa 9% remaja diperkosa oleh pacarnya. Selanjutnya Cram &

Seymour (dalam Siagian, 2009) menemukan bahwa sebanyak 77% dari remaja putri

dan 67% dari remaja putra mendapatkan pemaksaan secara seksual, termasuk

diantaranya ciuman yang tidak dinginkan, pelukan, kontak kelamin, hubungan

seksual yang tidak diinginkan dan 37% remaja mendapatkan video telanjang atau

semi telanjang dari pacar mereka.

Survey yang dilakukan di Amerika menemukan bahwa 1 dari 10 siswa

sekolah menengah akhir mendapatkan pukulan dan tamparan dari pacar mereka

(Family Prevention Fund, 2009). Laporan tentang kekerasan pada remaja di Amerika

adalah lebih dari 8 miliar remaja putri per tahun menderita akibat kekerasan yang

dilakukan oleh pasangan mereka (Murray, 2007). Berdasarkan Federal Bureau of

Investigation’s (1993-1999) Supplementary Homicide Reports, 10% dari semua

remaja putri usia 12 sampai 15 tahun dan 22% dari semua remaja putri usia 16 sampai

(18)

Varia (2006) menyebutkan bahwa 21% remaja memiliki pacar yang

membatasi mereka untuk bertemu dengan keluarga dan teman-teman mereka, 64%

memiliki pacar yang cemburuan dan ingin tahu segalanya tentang pasangannya setiap

waktu. Sebuah lembaga pencegahan terjadinya kekerasan di Amerika Family

Prevention Fund (dalam Siagian, 2009) menemukan bahwa terdapat 26% remaja

putri yang mendapatkan ancaman dari pacar mereka, satu dari empat remaja

mengatakan bahwa dirinya mendapatkan hinaan dan direndahkan melalui telepon dan

pesan singkat di telepon seluler. Zwicker (dalam America Bar Assocciation, 2006),

menyebutkan bahwa 39% dari remaja putri mengaku berpacaran dengan orang yang

selalu mengontrol dan mengatur mereka setiap waktu.

Di Indonesia, menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta,

terdapat satu dari lima remaja yang mengalami kekerasan seksual, kesimpulan ini

didasarkan pada survey terhadap 300 remaja (Rahmawati, 2008). Lebih lanjut, Kota

Medan sendiri sebagai kota metropolitan dengan angka kenakalan remaja tertinggi

bersama-sama dengan DKI Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Sulawesi Selatan,

dan Pontianak, ditemukan bahwa terdapat 800 kasus kekerasan di Medan, dan 30% dilakukan oleh pacar (Siagian, 2009). Berdasarkan data dari National Longitudinal

Study, Halpern et al (2001) menemukan bahwa 32% dari remaja kelas 7-12

melaporkan bahwa mempunyai pengalaman beberapa bentuk kekerasan dalam

hubungan dating-nya.

Menurut Murray (2007) bentuk-bentuk dating violence terdiri atas 3, yaitu (1)

(19)

Kekerasan emosional dan verbal adalah ancaman yang dilakukan pasangan terhadap

pacarnya dengan perkataan maupun mimik wajah. Misalnya adalah mengatakan

pacarnya gendut, jelek, malas, bodoh, tidak ada seorangpun yang menginginkan

pacarnya, mau muntah melihat pacarnya, menunjukkan wajah yang kecewa tanpa

mengatakan alasan mengapa ia marah atau kecewa dengan pacarnya, mengatakan

sesuatu mengenai organ tubuh pribadi pacarnya kepada pacarnya di depan

teman-temannya, atau mempermalukan pacarnya di depan teman-temannya.

Kekerasan seksual adalah pemaksaan untuk melakukan kegiatan atau kontak

seksual sedangkan pacar mereka tidak menghendakinya (Murray, 2007). Melakukan

hubungan seks tanpa ijin pasangannya atau dengan kata lain disebut dengan

pemerkosaan, mencium pasangannya tanpa persetujuan pasangannya, hal ini bisa

terjadi di area publik atau di tempat yang tersembunyi, sentuhan yang dilakukan tanpa

persetujuan pasangannya, sentuhan ini kerap kali terjadi di bagian dada, bokong dan

yang lainnya). Pria lebih sering melakukan tipe kekerasan ini dibandingkan wanita

(Hamby, Sugarman, & Boney-McCoy, dalam Heatrich & O`Learry, 2007).

Kekerasan fisikadalah perilaku yang mengakibatkan pacar terluka secara fisik

(Murray, 2007). Tipe kekerasan ini dapat dilihat dan diidentifikasi. Perilaku ini

diantaranya adalah memukul, menampar, menggigit, mendorong ke dinding dan

mencakar baik dengan menggunakan tangan maupun dengan menggunakan alat.

Wanita juga melakukan kekerasan tipe ini dengan pasangannya akan tetapi

(20)

terhadap wanita (Cantos, Neidig, & O’Leary, 1994; Cascardi, Langhinrichsen, &

Vivian, 1992; Stets & Straus, dalam Heatrich & O`Learry, 2007).

World Report On Violence And Health (1999) mengindikasikan salah satu

faktor yang menyebabkan dating violence diantaranya adalah sejarah kekerasan

dalam keluarga dimana orangtua yang seharusnya melindungi anaknya dari segala

bentuk kekerasan justru menjadi abuser terhadap anaknya sendiri. Orangtua yang

sering melakukan kekerasanpada anaknya disebabkan banyak faktor yaitu pernahnya

mengalami perlakuan abnormal pada masa kecilnya, dipenuhi rasa frustasi,

kemarahan dari masa kecilnya sehingga pelampiasannya pada anak-anaknya,

keluarga yang tidak harmonis, dan perekonomian yang tidak mendukung.

Dampaknya pada anak, anak akan mengalami berbagai penyimpangan kepribadian

seperti menjadi pendiam, agresif, mudah marah, dan konsep dirinya negatif

(Herlinawati, 2007).

Sebanyak 80% kekerasan yang menimpa anak-anak dilakukan oleh keluarga

mereka, 10% terjadi di lingkungan pendidikan, dan sisanya orang tak dikenal

(Solihin, 2004). Setiap bulannya terdapat 30 kasus kekerasan yang diadukan oleh

korbannya kepada lembaga konseling Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia.

Sebanyak 60% merupakan korban kekerasan ringan, berupa kekerasan verbal atau

caci maki, sedangkan 40% sisanya mengalami kekerasan fisik hingga seksual.

Menurut surat kabar harian Kompas, Kamis 23 Mei 2002, kekerasan domestik atau

(21)

kasus kekerasan yang menimpa anak-anak pada rentang usia 3-6 tahun (Solihin,

2004).

Tindakan-tindakan di atas dapat dikategorikan sebagai child abuse atau

perlakuan kejam terhadap anak-anak. Bosoeki (1999) menyatakan child abuse adalah

istilah untuk anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun yang mendapatkan gangguan

dari orangtua atau pengasuhnya yang merugikan anak secara fisik dan mental serta

perkembangannya. Papalia (2004) menyatakan bahwa child maltreatment atau lebih

dikenal dengan child abuse merupakan tindakan yang disengaja dan membahayakan

anak baik yang dilakukan oleh orangtua atau orang lain. Terdapat 4 bentuk child

abuse yang terdiri atas kekerasan fisik, kekerasan emosional, kekerasan seksual,dan

pengabaian.

Kekerasan fisik yaitu kekerasan yang menyebabkan luka-luka diseluruh tubuh

melalui pukulan, gigitan, tendangan, dan pembakaran (Tower, 2003). Kekerasan

seksual yaitu aktivitas seksual yang melibatkan anak dan orang lain. Kekerasan

emosional meliputi tindakan kekerasan atau pengabaian yang menyebabkan

gangguan perilaku, kognitif, emotional, atau mental (Papalia, 2004). Garbarino, dan

kolega (dalam Tower, 2003) memisahkan kekerasan emosional dalam dua bagian,

yaitu kekerasan emosional/psikologis (meliputi serangan verbal atau emotional,

ancaman membahayakan, atau kurungan tertutup) dan pengabaian

emosional/psikologis (meliputi pengasuhan yang tidak cukup, kurang kasih sayang,

menolak memberikan perawatan yang cukup, atau dengan sengaja memberikan

(22)

koleganya (dalam Tower, 2003) menyebutkan bahwa pengabaian sebagai tindakan

kelalaian yang dibagi menjadi tiga kategori, yakni pengabaian secara fisik,

pengabaian pendidikan dan pengabaian secara emosional

Child abuse berdampak secara fisik, kognitif, emosional, dan sosial pada anak

(Papalia, 2004). Dubowitz (dalam Papalia, 2004) menyatakan bahwa anak-anak yang

diabaikan tidak tumbuh dengan baik dan sering memiliki masalah kesehatan. Dalam

Hetherington dan Parke (1999), Cichetti dan Toth mengemukakan bahwa jika anak

korban kekerasan tidak meninggal, mereka akan menderita disfungsi otak, kerusakan

neuromotor, kerusakan fisik, terhambat dalam pertumbuhan, dan retardasi mental.

Kekerasan dapat menurunkan perkembangan intelektual dan menyebabkan masalah

psikososial. Pada anak yang telah bersekolah, tidak hanya menunjukkan masalah

dalam hubungan antara teman sebaya, guru, dan pengasuh, namun juga masalah

akademik dan self esteem yang rendah, menunjukkan masalah perilaku, dan menjadi

depresi serta menyendiri. Selain itu, anak tak jarang mengalami tekanan psikologis

seperti takut, stres, bahkan trauma yang akan dibawa hingga individu menjadi

dewasa.

Dutton (dalam Rosenbaum & Leisring, 2003) menemukan bahwa mengalami

kekerasan fisik dan pengabaian dari orangtua selama masa kanak-kanak memprediksi

simptom-simptom trauma kronis pada perilaku saat dewasa. Anak-anak menderita

Post Traumatic Stress Disorder karena seringkali menyaksikan kekerasan dalam

rumah tangga ataupun mengalami penyiksaan fisik (Silva dkk, dalam Davidson,

(23)

pengalaman kekerasan dalam rumah tangga tiap tahun (Strauss, Gelles & Steinmetz,

1980), Carlson memperkirakan bahwa sekurang-kurangnya 3,3 juta anak tiap

tahunnya berisiko terhadap pemaparan dari kekerasan antara orangtua.

Anak-anak yang hidup dalam kekerasan dalam rumah tangga meningkatkan

resiko terhadap pemaparan dari kejadian traumatik, pengabaian, korban kekerasan

secara langsung, dan kehilangan salah satu dari orangtua mereka. Semuanya

memberikan dampak negatif terhadap anak dan mempengaruhi kebahagiaan,

keamanan, dan stabilitas mereka (Carlson, 2000; Edleson, 1999; Rossman, 2001).

Masalah pada masa kanak-kanak yang berhubungan dengan pemaparan terhadap

kekerasan dalam rumah tangga dibagi dalam 3 kategori utama, yaitu: (1) Masalah

perilaku, sosial, dan emosional, yaitu tingkat agresi yang lebih tinggi, kemarahan,

permusuhan, perilaku menentang, dan tidak patuh; ketakutan, kecemasan, menarik

diri dan depresi; hubungan dengan teman sebaya, saudara kandung, dan hubungan

sosial yang buruk; dan self esteem yang rendah. (2) Masalah kognitif, yaitu fungsi

kognitif yang rendah, prestasi sekolah yang buruk, kemampuan menyelesaikan

masalah yang terbatas. (3) Masalah dalam jangka panjang, yaitu tingkat depresi dan

symptom trauma yang tinggi pada masa dewasa, melakukan kekerasan dalam

hubungan pada masa dewasanya (dating violence).

Kehidupan masa kecil sangat berpengaruh terhadap sikap mental dan moral

anak ketika dewasa nanti. Stucke (2008) menunjukkan bahwa pengalaman traumatis

selama masa kanak-kanak dapat mempengaruhi individu sewaktu dewasa seperti

(24)

sakit jiwa (mental illness), dan meninggal lebih awal. Lebih parahnya, Heyman dan

Slep (2002) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kekerasan menjadi seperti

lingkaran atau disebut cycle of violence. Hasil penelitian tersebut menunjukkan

wanita dan pria yang mengalami kekerasan atau menyaksikan kekerasan yang

dilakukan orangtua mereka semasa kecil akan beresiko melakukan kekerasan saat

dewasa terhadap anak ataupun pasangan mereka. Tambahan lagi, walaupun tidak

menjadi korban kekerasan, Rosenbaum dan O’Leary (dalam Rosenbaum & Leisring,

2003) menyatakan bahwa adanya kekerasan antar orangtua meskipun tidak

melihatnya langsung, dapat menimbulkan sekumpulan masalah emosional dan

perilaku pada anak dan meningkatkan resiko melakukan (memukul), khususnya

laki-laki, dalam hubungan intim mereka saat dewasa atau melakukan kekerasan dalam

pacaran.

Semua tindakan kekerasan kepada anak-anak direkam dalam bawah sadar

mereka dan dibawa sampai kepada masa dewasa, dan terus sepanjang hidupnya.

Orangtua mempengaruhi anak-anak remaja mereka dalam berbagai cara (cf. Collins,

Marcoby, Steinberg, Hetherington, & Bornstein, 2000), termasuk agresi (Sheridon,

1995). Gelles dan Straus memberikan fakta bahwa orangtua yang berperilaku agresif

akan mendorong anaknya berperilaku agresif (cf. Gelles & Straus, 1988; Straus,

Gelles, & Steinmetz, 1980). Intergeneration hypothesis menjelaskan bahwa

anak-anak mungkin menjadi kasar pada masa remajanya karena mereka mengalami abuse

pada masa kanak-kanaknya atau karena mereka melihat kekerasan antara orangtua.

(25)

kepribadian anak dikemudian hari. Rata-rata abuser dalam masa kecilnya sering

mendapatkan atau melihat perlakuan kasar dari ayahnya, baik pada dirinya,

saudaranya, atau pada ibunya. Secara logika dia membenci perilaku ayahnya, akan

tetapi secara tidak sadar perilaku itu terinternalisasi dan muncul pada saat dia

menghadapi konflik. Berdasarkan uraian diatas maka akan dilakukan penelitian

untuk melihat bagaimana gambaran perilaku dating violence pada remaja yang

pernah yang mengalami child abuse.

B. Rumusan Masalah

Perumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimana

gambaran perilaku dating violence pada remaja yang pernah mengalami child abuse.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku dating violence

yang dilakukan oleh remaja yang pernah mengalami child abuse.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dalam

memberikan informasi di bidang psikologi perkembangan, khususnya

(26)

b. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi peneliti

selanjutnya yang berminat untuk mengkaji tentang perilaku dating violence

pada remaja yang pernah mengalami child abuse.

2. Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi berbagai pihak untuk

memahami tentang dating violence pada remaja, pengaruh child abuse pada

perkembangan anak pada masa remajanya. Hal ini diharapkan dapat menjadi

informasi bagi berbagai pihak yang berkepentingan dengan masalah remaja seperti

orangtua, guru, konselor, dan pendamping remaja.

E. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dari penelitian ini adalah:

BAB I : Pendahuluan

Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan

masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

BAB II : Landasan Teori

Bab ini menguraikan tentang dating violence, child abuse, dan

gambaran perilaku dating violence pada remaja yang pernah

(27)

BAB III : Metodologi Penelitian

Pada bab ini dijelaskan mengenai identifikasi variabel, definisi

operasional variabel, sampel penelitian, teknik pengambilan sampel,

pengumpulan data serta analisa data.

BAB IV : Analisa Data dan Pembahasan

Pada bab ini berisi tentang gambaran subjek penelitian dan hasil

penelitian.

BAB V : Kesimpulan dan Saran

Pada bab ini berisi kesimpulan yang berusaha menjawab masalah

yang dikemukakan berdasarkan hasil penelitian. Kemudian

berdasarkan kesimpulan akan diajukan saran bagi penelitian

(28)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Dating Violence

1. Pengertian Dating Violence

Menurut Straus dalam jurnalnya Prevalence of Violence Against Dating

Partners by Male and Female University Students Worldwide (2004), dating

didefinisikan sebagai interaksi yang ‘saling’ (dyadic), termasuk didalamnya adalah mengadakan pertemuan untuk berinteraksi dan melakukan aktivitas bersama dengan

keinginan secara eksplisit dan implisit untuk meneruskan hubungan setelah terdapat

kesepakatan tentang status hubungan mereka saat ini. Collins (dalam Marcus, 2007)

mengatakan bahwa terdapat 5 hal yang dapat menjelaskan sebuah hubungan sebagai

dating. Kelima hal tersebut adalah: (1) involvement – apakah remaja tersebut pacaran,

usia dimana dia memulai pacaran, dan konsistensi serta frekuensi pacaran (2)

partner-selection – siapa yang mereka pilih menjadi pacar mereka (apakah usianya

lebih tua, sama atau dari suku dan sosioekonomi status yang berbeda atau sama) (3)

content – apa yang dilakukan mereka bersama-sama, keberagaman dari aktivitas yang

dilakukan bersama, situasi yang dihindari ketika mereka bersama; (4) quality – hal

dimana hubungan tersebut menghasilkan suatu pengalaman yang menguntungkan,

seperti intimacy, affection, nurturance, antagonism, and high conflict and controlling

behaviors; and (5) cognitive and emotional processes – apakah terdapat partner yang

(29)

atas diri sendiri yang lebih didasarkan pada emosi. Definisi violence menurut

VandenBos (dalam Marcus, 2007) merupakan ekspresi kemarahan dengan tujuan

untuk melukai atau merusak seseorang atau properti mereka secara fisik, emosi,

maupun seksual.

Dating violence adalah tindakan atau ancaman untuk melakukan kekerasan,

yang dilakukan salah seorang anggota dalam hubungan dating ke anggota lainnya

(Sugarman & Hotaling dalam Krahe, 2001). Selain itu, menurut The National

Clearinghouse on Family Violence and Dating Violence (2006), dating violence

adalah serangan seksual, fisik, maupun emosional yang dilakukan kepada pasangan,

sewaktu berpacaran. The American Psychological Association (dalam Warkentin,

2008) menyebutkan bahwa dating violence adalah kekerasan psikologis dan fisik

yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam hubungan pacaran, yang mana perilaku

ini ditujukan untuk memperoleh kontrol, kekuasaan dan kekuatan atas pasangannya.

Peneliti di The University of Michigan Sexual Assault Prevention and

Awareness Center Burandt, Wickliffe, Scott, Handeyside, Nimeh & Cope (dalam

Murray, 2007) mendefiniskan dating violence sebagai tindakan yang disengaja

(intentional), yang dilakukan dengan menggunakan taktik melukai dan paksaan fisik

untuk memperoleh dan mempertahankan kekuatan (power) dan kontrol (control)

terhadap pasangan dating-nya. Lebih lanjut dikatakan bahwa perilaku ini tidak

dilakukan atas paksaan orang lain, sang pelaku lah yang memutuskan untuk

melakukan perilaku ini atau tidak, perilaku ini ditujukan agar sang korban tetap

(30)

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dating violence adalah

ancaman atau tindakan untuk melakukan kekerasan kepada salah satu pihak dalam

hubungan berpacaran, yang mana kekerasan ini ditujukan untuk memperoleh kontrol,

kekuasaan dan kekuatan atas pasangannya, perilaku ini bisa dalam bentuk kekerasan

emosional, fisik dan seksual.

2. Bentuk-Bentuk Dating Violence

Menurut Murray (2007) bentuk-bentuk dating violence terdiri atas tiga

bentuk, yaitu kekerasan verbal dan emosional, kekerasan seksual, kekerasan fisik.

a. Kekerasan Verbal dan Emosional

Kekerasan verbal dan emosional adalah ancaman yang dilakukan pasangan

terhadap pacarnya dengan perkataan maupun mimik wajah.

Menurut Murray (2007), kekerasan verbal dan emosionalterdiri dari:

1. Name calling

Seperti mengatakan pacarnya gendut, jelek, malas, bodoh, tidak ada

seorangpun yang menginginkan pacarnya, mau muntah melihat pacarnya.

Mereka menerima tipe kekerasan ini, karena mereka tidak memiliki self

esteem yang tinggi, sehingga tidak bisa mengatakan jika saya jelek, mengapa

kamu masih bersama saya sekarang

2. Intimidating looks

Pasangannya atau pacarnya akan menunjukkan wajah yang kecewa tanpa

(31)

pihak laki-laki atau perempuannya mengetahui apakah pacarnya marah atau

tidak dari ekspresi wajahnya.

3. Use of pagers and cell phones

Seorang pacar ada yang memberikan ponsel kepada pacarnya, supaya dapat

mengingatkan atau supaya tetap bisa menghubungi pacarnya. Alat komunikasi

ini memampukan pacarnya untuk memeriksa keadaan pacarnya sesering

mereka mau. Ada juga dari mereka yang tidak memberikan ponsel kepada

pacarnya, namun baik yang memberikan ponsel maupun yang tidak

memberikan ponsel tersebut akan marah ketika orang lain menghubungi

pacarnya, meskipun orangtua dari pacarnya, karena itu mengganggu

kebersamaan mereka. Individu ini harus mengetahui siapa yang menghubungi

pacarnya dan mengapa orang tersebut menghubungi pacarnya.

4. Making a boy/girl wait by the phone

Seorang pacar berjanji akan menelepon pacarnya pada jam tertentu, akan

tetapi sang pacar tidak menelepon juga. Pacar yang dijanjikan akan ditelepon,

terus menerus menunggu telepon dari pasangannya, membawa teleponnya

kemana saja di dalam rumah, misalnya pada saat makan bersama keluarga.

Hal ini terjadi berulangkali, sehingga membuat si pacar tidak menerima

telepon dari temannya, tidak berinteraksi dengan keluarganya karena

(32)

5. Monopolizing a girl’s/ boy`s time

Korban dating violence cenderung kehabisan waktu untuk melakukan

aktivitas dengan teman atau untuk mengurus keperluannya, karena mereka

selalu menghabiskan waktu bersama dengan pacarnya.

6. Making a girl`s/ boy`s feel insecure

Seringkali orang yang melakukan dating violence memanggil pacarnya

dengan mengkritik, dan mereka mengatakan bahwa semua hal itu dilakukan

karena mereka sayang pada pacarnya dan menginginkan yang terbaik untuk

pacarnya. Padahal mereka membuat pacar mereka merasa tidak nyaman.

Ketika pacar mereka terus menerus dikritik, mereka akan merasa bahwa

semua yang ada pada diri mereka buruk, tidak ada peluang atau kesempatan

untuk meninggalkan pasangannya.

7. Blaming

Semua kesalahan yang terjadi adalah perbuatan pasangannya, bahkan mereka

sering mencurigai pacar mereka atas perbuatan yang belum tentu

disaksikannya, seperti menuduhnya melakukan perselingkuhan.

8. Manipulation / making himself look pathetic

Hal ini sering dilakukan oleh pria. Perempuan sering dibohongi oleh pria, pria

biasanya mengatakan sesuatu hal yang konyol tentang kehidupan, misalnya

pacarnyalah orang yang satu-satunya mengerti dirinya, atau mengatakan

(33)

9. Making threats

Biasanya mereka mengatakan jika kamu melakukan ini, maka saya akan

melakukan sesuatu padamu. Ancaman mereka bukan hanya berdampak pada

pacar mereka, tetapi kepada orangtua, dan teman mereka.

10. Interrogating

Pasangan yang pencemburu, posesif, suka mengatur, cenderung

menginterogasi pacarnya, dimana pacarnya berada sekarang, siapa yang

bersama mereka, berapa orang laki-laki atau wanita yang bersama mereka,

atau mengapa mereka tidak membalas pesan mereka.

11. Humiliating her/ him in public

Mengatakan sesuatu mengenai organ tubuh pribadi pacarnya kepada pacarnya

di depan temannya. Atau mempermalukan pacarnya di depan

teman-temannya.

12. Breaking treasured items

Tidak memperdulikan perasaan atau barang-barang milik pacar mereka, jika

pasangan mereka menangis, mereka menganggap hal itu sebuah kebodohan.

b. Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual adalah pemaksaan untuk melakukan kegiatan atau kontak

seksual sedangkan pacar mereka tidak menghendakinya (Murray, 2007). Pria lebih

sering melakukan tipe kekerasan ini dibandingkan wanita (Hamby, Sugarman, &

(34)

Menurut Murray (2007), sexual abuse terdiri dari:

1. Perkosaan

Melakukan hubungan seks tanpa ijin pasangannya atau dengan kata lain

disebut dengan pemerkosaan. Biasanya pasangan mereka tidak mengetahui

apa yang akan dilakukan pasangannya pada saat itu.

2. Sentuhan yang tidak diinginkan

Sentuhan yang dilakukan tanpa persetujuan pasangannya, sentuhan ini

kerap kali terjadi di bagian dada, bokong dan yang lainnya.

3. Ciuman yang tidak diinginkan

Mencium pasangannya tanpa persetujuan pasangannya, hal ini bisa terjadi

di area publik atau di tempat yang tersembunyi.

c. Kekerasan fisik

Kekerasan fisik adalah perilaku yang mengakibatkan pacar terluka secara fisik,

seperti memukul, menampar, menendang dan sebagainya (Murray, 2007). Wanita

juga melakukan kekerasan tipe ini dengan pasangannya akan tetapi konsekuensi fisik

yang dihasilkan tidak begitu berbahaya seperti yang dilakukan pria terhadap wanita.

(Cantos, Neidig, & O’Leary, 1994; Cascardi, Langhinrichsen, & Vivian, 1992; Stets

(35)

Kekerasan fisikterdiri dari (Murray, 2007):

1.Memukul, mendorong, membenturkan

Ini merupakan tipe abuse yang dapat dilihat dan diidentifikasi, perilaku ini

diantaranya adalah memukul, menampar, menggigit, mendorong ke dinding

dan mencakar baik dengan menggunakan tangan maupun dengan

menggunakan alat. Hal ini menghasilkan memar, patah kaki, dan lain

sebagainya. Hal ini dilakukan sebagai hukuman kepada pasangannya. (Mark

McGwire dan Sammy Sosa dalam Murray, 2007)

2. Mengendalikan, menahan

Perilaku ini dilakukan pada saat menahan pasangan mereka untuk tidak

pergi meninggalkan mereka, misalnya menggengam tangan atau lengannya

terlalu kuat.

3. Permainan kasar

Menjadikan pukulan sebagai permainan dalam hubungan, padahal

sebenarnya pihak tersebut menjadikan pukulan-pukulan ini sebagai taktik

untuk menahan pasangannya pergi darinya. Ini menandakan dominasi dari

pihak yang melayangkan pukulan tersebut.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku dating violence

terdiri dari tiga bentuk yakni ancaman yang dilakukan pasangan terhadap pacarnya

dengan perkataan maupun mimik wajah (verbal and emotional abuse), pemaksaan

(36)

menghendakinya (sexual abuse), dan perilaku yang mengakibatkan pacar terluka

secara fisik (physical abuse).

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dating Violence Pada Remaja

Murray (2007) dalam bukunya yang berjudul Domestic and Dating Violence:

An Information and Resource Handbook menyatakan bahwa terdapat tujuh faktor

yang berkontribusi dalam dating violence, yaitu:

a. Penerimaan Teman Sebaya

Remaja cenderung ingin mendapatkan penerimaan dari teman sebaya mereka,

misalnya remaja pria dituntut oleh teman sebayanya untuk melakukan kekerasan

sebagai tanda kemaskulinan mereka (Leaver, 2007).

b. Harapan Peran Gender

Pria diharapkan untuk lebih mendominasi sedangkan wanita diharapkan untuk lebih

pasif. Pria yang menganut peran gender yang mendominasi akan lebih cenderung

mengesahkan perbuatan dating violence kepada pasangannya, sedangkan wanita

yang menganut peran gender yang pasif, akan lebih menerima dating violence dari

pasangannya.

c. Pengalaman Yang Sedikit

Secara umum, remaja memiliki sedikit pengalaman dalam berpacaran dan menjalin

hubungan dibandingkan dengan orang dewasa, dan remaja tidak mengerti seperti

apa pacaran yang benar, dan apakah setiap hal yang mereka lakukan saat pacaran

(37)

dan sesuatu yang dipersembahkan dari abuser. Karena kurangnya pengalaman,

mereka menjadi kurang objektif dalam menilai hubungan mereka.

d. Jarang Berhubungan dengan Pihak yang Lebih Tua

Nancy Worcester in “A More Hidden Crime: Adolescent Battered Women” (The

Network News, July/August 1993) menyebutkan bahwa remaja selalu merasa bahwa

orang dewasa tidak akan menanggapi mereka dengan serius, dan mereka

menganggap bahwa intervensi dari orang dewasa akan membuat kepercayaan diri

dan kemandirian diri mereka hilang. Inilah yang membuat mereka menutupi dating

violence yang terjadi pada diri mereka.

e. Sedikit akses ke layanan masyarakat

Anak dibawah usia 18 tahun mempunyai akses yang sedikit ke pengobatan medis,

dan meminta perlindungan ke tempat penampungan orang-orang yang menjadi

korban kekerasan. Mereka membutuhkan panduan orangtua, tetapi mereka takut

mencarinya. Hal ini akan menghambat remaja untuk terlepas dari kekerasan dalam

pacaran.

f. Legalitas

Kesempatan legal berbeda antara orang dewasa dan remaja, dimana remaja kurang

memiliki kesempatan legal. Remaja sering kali memiliki akses yang sedikit ke

pengadilan, polisi dan bantuan. Ini merupakan rintangan bagi remaja untuk

(38)

g. Penggunaan Obat-obatan

Obat-obatan tidak merupakan penyebab dating violence, tetapi ini dapat

meningkatkan peluang terjadinya dating violence dan meningkatkan

keberbahayaannya. Obat-obatan menurunkan kemampuan untuk menunjukkan

kontrol diri dan kemampuan membuat keputusan yang baik dihadapan wanita

ataupun prianya.

World Report On Violence And Health (1999) mengindikasikan enam faktor yang

menyebabkan dating violence diantaranya:

a. Faktor Individual

Faktor demografi yang dapat menyebabkan seseorang melakukan kekerasan kepada

pasangannya adalah usia yang muda dan memiliki status ekonomi yang rendah. The

Health and Development Study in Dunedin, New Zealand – Dalam satu penelitian

longitudinalnya menunjukkan bahwa seseorang yang berasal dari keluarga yang

melakukan kekerasan- berasal dari keluarga yang umumnya berada pada level

ekonomi yang rendah, memiliki prestasi akademis yang rendah atau pendidikan

yang rendah, maka mereka akan melakukan dating violence.

b. Sejarah Kekerasan dalam Keluarga

Studi yang dilakukan di Brazil, Afrika dan Indonesia menunjukkan bahwa dating

violence cenderung dilakukan oleh laki-laki yang sering mengobservasi ibunya

(39)

c. Penggunaan Alkohol

Penelitian Black, dkk yang diadakan di Brazil, Cambodia, Canada, Chile,

Colombia, Costa Rica, El Salvador, India, Indonesia, Nicaragua, Afrika Selatan,

Spanyol dan Venezuela menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan

antara peminum minuman keras dengan menjadi pelaku dating violence. Yaitu

bahwa alkohol dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan individu dalam

menginterpretasikan sesuatu (World Report on Violence and Health, 2002) . Lebih

lanjut Borsary & Carey (dalam Roudsary, Leahy & Walters, 2009) menggunakan

pengukuran penggunan alcohol satu kali seminggu dalam memprediksikan pelaku

dating violence.

d. Gangguan Kepribadian

Penelitian di Canada menunjukkan bahwa laki-laki yang menyerang pasangannya

cenderung mengalami emotionally dependent, insecure dan rendahnya self-esteem

sehingga sulit mengontrol dorongan-dorongan yang ada dalam diri mereka. Mereka

juga memiliki skor yang tinggi pada skala personality disorder termasuk

diantaranya antisocial, aggressive and borderline personality disorders.

e. Faktor dalam Hubungan

O’Kefee (2005) mengatakan bahwa, kurangnya kepuasan dalam hubungan, semakin

banyaknya konflik yang terjadi dalam hubungan tersebut akan meningkatkan

terjadinya dating violence. Lewis & Fremouw, Ray & Gold, Billingham (dalam

Luthra dan Gidycs, 2006) penelitiannya mengatakan bahwa semakin lama durasi

(40)

meningkat. Follingstad, Rutledge, Polek, & McNeill-Hawkins (dalam Luthra &

Gidycs, 2006) menyebutkan bahwa dengan pertambahan setiap 6 bulan durasi

dating. Korban dari kekerasan berulang kali akan lebih bisa bertahan dalam

hubungan yang dijalaninya, daripada korban yang mengalami sekali kekerasan atau

dengan kata lain, semakin sering dilakukan suatu kekerasan kepada pasangannya

maka sang pelaku akan semakin merasa bahwa si korban menerima perilaku

kekerasan tersebut.

f. Faktor Komunitas

Dengan tingkat ekonomi yang tinggi, maka orang-orang lebih mampu untuk

melakukan perlindungan ataupun pembelaan terhadap kekerasan yang dialaminnya.

Meskipun tidak selalu benar bahwa kemiskinan meningkatkan kekerasan. Tapi

tinggal dalam kemiskinan dapat menyebabkan hopelessness.

Untuk beberapa pria, tinggal dalam kemiskinan bisa mengakibatkan stress,

frustrasi, dan perasaan tidak mampu untuk memenuhi harapan sosial, atau hidup

sesuai dengan harapan sosial. Peran gender tradisional, ada tidaknya sanksi dalam

komunitas itu, atau daerah tempat tinggal pelaku dan korban merupakan bekas

daerah perang sehingga tersedia peralatan perang juga turut berperan.

Terpapar dengan kekerasan yang terjadi di komunitas berhubungan dengan menjadi

pelaku dating violence dikedua gender (Malik dalam O`Kefee, 2005). Terpapar

dengan kekerasan yang terjadi di komunitas akan meningkatkan kekerasan yang

terjadi, mungkin ini disebabkan oleh penerimaan seseorang mengenai violence

(41)

Beberapa ciri orang yang melakukan dating violence adalah:

1. Rendahnya self esteem atau self image yang buruk

Self esteem adalah keseluruhan sikap kepada diri, apakah positif atau negatif

(Rosenberg, dalam Baron, Byrne & Branscombe, 2006). Orang-orang dengan self esteem dan self image yang rendah ingin meningkatkan self esteem dan self image

mereka dengan menunjukkan kekuatan mereka atas pasangan mereka.

2. Toleransi yang sedikit kepada frustrasi

Frustrasi didefinisikan sebagai perasaan yang timbul ketika terdapat situasi yang

merintangi goal (Dollard, Doob, Miller, Mower; & Sears dalam Baron et al., 2006). Roseinzweig (dalam Kellen, 2009) mengatakan bahwa reaksi seseorang kepada

situasi frustrasi bisa favorable atau tidak favorable berdasarkan toleransi frustrasi

seseorang. Kellen (2009) mengatakan bahwa memiliki toleransi frustasi yang

rendah seringkali merupakan faktor yang dapat menciptakan kemarahan dan

kekerasan.

3. Moodyang sering berubah-ubah

Orang dengan tipe ini biasanya kelihatan tenang dalam beberapa menit, dan

tiba-tiba berperilaku agresif kemudian (Adetunji, 2008).

4. Mudah marah

Cenderung mengekspresikan ketakutan atau kecemasan sebagai kemarahan, atau

menolak untuk mendiskusikan perasaan mereka, dan kemudian menunjukkan

(42)

5. Kecemburuan yang berlebihan

Kecemburuan terjadi dengan pihak ketiga dalam hubungan, dimana pihak yang

cemburu merasa bahwa pasangan mereka membina hubungan dengan oranglain.

Seseorang yang pencemburu menunjukkan ekspresi cemburu mereka, seperti

kemarahan maupun kekerasan fisik (Peppermint, 2006).

6. Terlalu posesif

Posesif merupakan perasaan takut akan kehilangan seseorang (Hendrick &

Hendrick dalam Baron, Byrne & Branscombe 2006). Perasaan ini membuat

pasangan mereka ingin mengontrol segala sesuatu mengenai pasangannya, dan

tidak jarang kontrol yang dilakukan terlalu berlebihan dan mengekang

pasangannya.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa delapan faktor yang

mempengaruhi dating violence pada remaja adalah faktor individual, sejarah

kekerasan dalam keluarga, penerimaan teman sebaya, harapan peran gender,

penggunaan obat-obatan, gangguan kepribadian, faktor dalam hubungan, dan faktor

komunitas. Faktor individual yang dapat menyebabkan seseorang melakukan

kekerasan terhadap pasangannya adalah usia yang muda, berada pada level ekonomi

yang rendah, memiliki prestasi akademis yang rendah, serta seseorang yang sering

mengobservasi ibunya yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, mengalami

emotionally dependent, insecure dan rendahnya self esteem. Semakin banyaknya

konflik yang terjadi dalam hubungan tersebut akan meningkatkan terjadinya dating

(43)

B. Child Abuse

1. Pengertian child abuse

Pada awalnya terminologi tindak kekerasan pada anak atau child abuse berasal

dari dunia kedokteran. Sekitar tahun 1946, seorang radiologis Caffey (dalam Tower,

2003) menyebutkan kasus ini dengan Caffey Syndrome. Hendry (dalam Fitri, 2008)

menyebut kasus penelantaran dan penganiayaan yang dialami anak-anak dengan

istilah Battered Child Syndrome, yaitu setiap keadaan yang disebabkan kurangnya

perawatan dan perlindungan terhadap anak oleh orangtua atau pengasuh lain. Selain

Battered Child Syndrome, istilah lain untuk menggambarkan kasus penganiayaan

yang dialami oleh anak-anak adalah Maltreatment Syndrome, meliputi gangguan fisik

seperti diatas, juga gangguan emosi anak, dan adanya akibat asuhan yang tidak

memadai , eksploitasi seksual dan ekonomi, pemberian makanan yang tidak layak

bagi anak atau makanan kurang gizi, pengabaian pendidikan dan kesehatan dan

kekerasan yang berkaitan dengan medis (Gelles dalam Fitri, 2008).

Papalia (2004) menyatakan bahwa child maltreatment atau lebih dikenal

dengan child abuse merupakan tindakan yang disengaja dan membahayakan anak

baik yang dilakukan oleh orangtua atau oranglain. Penganiayaan sendiri terdiri dari

beberapa bentuk. Abuse mengarah pada tindakan yang mengakibatkan kerusakan, dan

neglect merupakan tidak adanya tindakan atau pengabaian pengasuhan yang dapat

mengakibatkan kerusakan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kekerasan terhadap anak

(44)

penderitaan pada anak meliputi penelantaran , penganiayaan, eksploitasi seksual dan

ekonomi yang dilakukan oleh orangtua atau pengasuh lain.

2.Bentuk-bentuk child abuse

Terdapat empat bentuk child abuse yakni kekerasan fisik, kekerasan seksual,

kekerasan emosional dan pengabaian(Tower, 2003).

1. Kekerasan fisik: kekerasan yang menyebabkan luka-luka diseluruh tubuh melalui

pukulan, gigitan, tendangan, dan pembakaran.

2. Kekerasan seksual: Aktivitas seksual yang melibatkan anak dan orang lain.

Menurut child abuse prevention act (dalam Tower, 2003) kekerasan seksual

meliputi:

i. Mempekerjakan, menggunakan, membujuk, merangsang, mengajak, atau

memaksa anak untuk ikut dalam perilaku seksual secara nyata (atau berupa

rangsangan perilaku) untuk tujuan menghasilkan gambaran visual dari

perilaku tersebut.

ii. Pemerkosaan, penganiayaan, prostitusi, atau bentuk lain dari eksploitasi

seksual pada anak, ataupun incest pada anak dibawah kondisi yang

mengindikasikan bahwa kesehatan atau kesejahteraan anak dirugikan atau

terancan oleh hal-hal tersebut.

3. Kekerasan emosional

Meliputi tindakan kejam atau pengabaian yang menyebabkan gangguan

(45)

(dalam Tower, 2003) memisahkan kekerasan emosional dalam dua bagian, yaitu

kekerasan secara emosional/psikologis (meliputi serangan verbal atau emotional,

ancaman membahayakan, atau kurungan tertutup) dan pengabaian secara

emosional/psikologis (meliputi pengasuhan yang tidak cukup, kurang kasih

sayang, menolak memberikan perawatan yang cukup, atau dengan sengaja

memberikan perilaku maladaptive seperti kejahatan atau penggunaan

obat-obatan).

Tower (2003) mengemukan bahwa kekerasan secara psikologis merupakan

perilaku merusak yang terus-menerus, berulang, dan tidak sesuai ataupun

berkurang esensinya, dan dapat memperngaruhi kemampuan atau proses mental

anak yang meliputi intelegensi ingatan, pengenalan, persepsi, perhatian, bahasa,

dan perkembangan moral. Sedangkan kekerasan emosional merupakan respon

emosional yang terus-menerus, berulang, dan tidak sesuai terhadap ekspresi emosi

anak dan beriringan dengan perilaku ekspresif.

4. Pengabaian

Depanfilis dan koleganya (dalam Tower, 2003) menyebutkan bahwa

pengabaian sebagai tindakan kelalaian yang dibagi menjadi tiga kategori, yakni

pengabaian secara fisik, pengabaian secara pendidikan dan pengabaian emosional.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat empat bentuk

child abuse yang terdiri dari kekerasan yang menyebabkan luka-luka diseluruh tubuh

(46)

seksual), tindakan kekerasan yang menyebabkan gangguan perilaku, kognitif, dan

mental(kekerasan emosional), dan tindakan kelalaian (pengabaian).

C. Gambaran Perilaku Dating Violence pada Remaja yang Pernah Mengalami

Child Abuse

Hubungan romantis sering juga disebut dengan pacaran. Individu ini juga

tidak ingin dipisahkan dengan orang yang disukai oleh mereka (Aron, Paris, & Aron

dalam Fiske, 2008). Harapan individu untuk tidak dipisahkan dari orang tersebut akan

membuat individu ingin mengekspresikan cinta atau rasa sukanya, dan akhirnya

individu tersebut juga ingin memiliki ikatan yang disebut dengan pacaran atau dating

(Connolly dkk dalam Furman, Mc Dunn & Young, 2005). Menurut Tucker (2004)

dating dimulai dari berkenalan, berteman dan kemudian pacaran. Pacaran atau dating

didefinisikan sebagai interaksi dyadic, termasuk didalamnya adalah mengadakan

pertemuan untuk berinteraksi dan melakukan aktivitas bersama dengan keinginan

secara eksplisit atau implisit untuk meneruskan hubungan setelah terdapat

kesepakatan tentang status hubungan mereka saat ini (Straus, 2004). Kasus-kasus

yang sehubungan dengan kekerasan yang dilakukan oleh pacar disebut dengan dating

violence.

Dating violence adalah serangan seksual, fisik, maupun emosional yang

dilakukan kepada pasangan, sewaktu berkencan (Kelly 2006). National Teen Dating

Violence Awareness and Prevention Month mengatakan bahwa dating violence sering

(47)

termasuk penggunaan kata-kata dan tindakan-tindakan yang berbahaya. Meskipun

secara terbatas dikonsepkan sebagai kekuatan fisik, dating violence sekarang lebih

luas dikenal sebagai sebuah kontinum dari kekerasan dimana mulai dari kekerasan

verbal dan emosional sampai pada perkosaan dan pembunuhan (Hickman et al, 2004).

Kekerasan verbal dan emosional adalah ancaman yang dilakukan pasangan

terhadap pacarnya dengan perkataan maupun mimik wajah. Misalnya adalah

mengatakan pacarnya gendut, jelek, malas, bodoh, tidak ada seorangpun yang

menginginkan pacarnya, mau muntah melihat pacarnya, menunjukkan wajah yang

kecewa tanpa mengatakan alasan mengapa ia marah atau kecewa dengan pacarnya,

mengatakan sesuatu mengenai organ tubuh pribadi pacarnya kepada pacarnya di

depan teman-temannya, atau mempermalukan pacarnya di depan teman-temannya.

Kekerasan seksual adalah pemaksaan untuk melakukan kegiatan atau kontak

seksual sedangkan pacar mereka tidak menghendakinya (Murray, 2007). Melakukan

hubungan seks tanpa ijin pasangannya atau dengan kata lain disebut dengan

pemerkosaan, mencium pasangannya tanpa persetujuan pasangannya, hal ini bisa

terjadi di area publik atau di tempat yang tersembunyi, sentuhan yang dilakukan tanpa

persetujuan pasangannya, sentuhan ini kerap kali terjadi di bagian dada, bokong dan

yang lainnya). Pria lebih sering melakukan tipe kekerasan ini dibandingkan wanita

(Hamby, Sugarman, & Boney-McCoy, dalam Heatrich & O`Learry, 2007).

Kekerasan fisikadalah perilaku yang mengakibatkan pacar terluka secara fisik

(48)

diantaranya adalah memukul, menampar, menggigit, mendorong ke dinding dan

mencakar baik dengan menggunakan tangan maupun dengan menggunakan alat.

Wanita juga melakukan kekerasan tipe ini dengan pasangannya akan tetapi

konsekuensi fisik yang dihasilkan tidak begitu berbahaya seperti yang dilakukan pria

terhadap wanita (Cantos, Neidig, & O’Leary, 1994; Cascardi, Langhinrichsen, &

Vivian, 1992; Stets & Straus, dalam Heatrich & O`Learry, 2007).

Kelly (2006), menyebutkan bahwa dating violence merupakan masalah sosial

yang signifikan dan dapat terjadi pada siapa saja, dengan usia, orientasi seksual,

status sosioekonomi, serta lokasi tempat tinggal dimana saja. Selanjutnya Lewis &

Fremouw (dalam Rathigan & Street, 2005) menyebutkan bahwa dating violence

merupakan masalah yang signifikan bukan hanya karena akan membahayakan dari

segi fisik tetapi juga mental; seperti dapat mengakibatkan luka, dan rendahnya self

esteem. Terlebih lagi dating violence sendiri bisa mengakibatkan kematian, dan jika

terjadi pada masa remaja, maka dating violence akan mengakibatkan terganggunya

hubungan romantis dan pola interaksi yang akan terbawa ke masa dewasa.

Dampak dating violence tentu saja tidak hanya dialami oleh perempuan,

karena laki-laki pun ada yang mengalami dating violence. Penelitian

mengindikasikan bahwa dating violence mempengaruhi perempuan dan laki-laki

secara berbeda. Pada perempuan, menjadi korban kekerasan fisik atau seksual

dihubungkan dengan resiko penggunaan obat-obatan, perilaku control berat badan

yang tidak sehat, perilaku seksual yang berisiko, kehamilan dan bunuh diri. Penelitian

(49)

pasangannya cenderung lebih menderita secara fisik dan emosional dibandingkan

dengan kekerasan yang dialami laki-laki. Perempuan juga cenderung lebih sering

menjadi korban dan mengalami dampak dari kekerasan ini termasuk luka-luka,

trauma emosional, perempuan lebih sering dipukul atau dipaksa untuk beraktivitas

seksual dan mereka merespon dengan menangis, melawan, melarikan diri atau

mengabaikan pasangannya. Laki-laki lebih sering dicubit, ditampar, dicakar, atau

ditendang, dan mereka lebih suka untuk melupakan dan menertawakan kekerasan

tersebut (www.canada.justice.go.ca). Walaupun masih sedikit penelitian hal ini,

pelaku juga mengalami dampak negatif dari perilaku mereka. Mereka berisiko untuk

menghancurkan hubungannya, dipermalukan, ditolak secara personal dan disalahkan

masyarakat. Mereka juga berisiko membahayakan hubungan dimasa depan

(www.canada.justice.go .ca).

Menurut Billingham, Riggs & O’Leary (dalam Luthra & Gidycz, 2006) dating

violence lebih sering terjadi di hubungan yang lebih serius dan dalam durasi yang

cukup lama yaitu setiap pertambahan durasi 6 bulan, maka kekerasan dalam

hubungan tersebut akan semakin meningkat. Beberapa wanita menjadi korban pada

kencan pertama, tetapi sebagian besar menjadi korban setelah berpacaran dalam

waktu yang lama (The National Clearinghouse on Family Violence, 1995). Pelaku

dating violence juga merupakan individu dengan pendidikan yang rendah (World

Report On Violence and Health, 2002).

World Report On Violence And Health (1999) mengindikasikan faktor-faktor

(50)

alkohol, gangguan kepribadian, faktor dalam hubungan, faktor komunitas, sejarah

kekerasan dalam keluarga. Pengaruh keluarga sangat besar dalam membentuk

kepribadian seseorang. Masalah-masalah emosional yang kurang diperhatikan oleh

orangtua dapat memicu timbulnya permasalahan bagi individu yang bersangkutan

dimasa yang akan datang. Misalnya sikap kejam orangtua, berbagai macam

penolakan dari orangtua terhadap keberadaan anak, dan juga sikap disiplin yang

diajarkan secara berlebihan. Hal-hal semacam ini akan berpengaruh pada model peran

yang dianut oleh anak tersebut pada masa remajanya. Bila model peran yang

dipelajari pada masa kanak-kanak tidak sesuai dengan model yang normal atau model

(51)
(52)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian sangat menentukan suatu penelitian karena menyangkut

cara yang benar dalam pengumpulan data, analisa data, dan pengambilan kesimpulan

hasil penelitian (Hadi, 2000). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode kuantitatif yang bersifat deskriptif.

Menurut Azwar (2000) metode deskriptif merupakan metode yang bertujuan

untuk menggambarkan secara sistematik dan akurat, fakta dan karakteristik mengenai

populasi atau mengenai bidang tertentu. Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan

semata-mata bersifat deskriptif, tidak bermaksud mencari penjelasan, mengenai

hipotesis, membuat prediksi maupun mempelajari implikasi.

Jenis penelitian ini tidak mempersoalkan hubungan antar variabel dan tidak

melakukan pengujian hipotesis. Hasil penelitiannya berupa deskripsi mengenai

variabel-variabel tertentu dengan menyajikan frekuensi, angka rata-rata atau

kualifikasi lainnya untuk setiap kategori di suatu variable. Dalam pengolahan dan

analisa data menggunakan pengolahan statistik yang bersifat deskriptif (Faisal, 1999).

Punch (1998) menyatakan bahwa ada 2 (dua) kegunaan dilakukannya

penelitian deskriptif. Pertama, untuk mengembangkan teori dan area penelitian yang

baru, dimana sebelum merencanakan/melakukan penelitian yang lebih mendalam

(exploratory studies) adalah lebih baik untuk terlebih dahulu memuatkan perhatian

(53)

mengenai proses-proses sosial yang kompleks dapat membantu kita untuk memahami

faktor apa yang perlu diteliti lebih lanjut dalam penelitian berikutnya secara lebih

mendalam.

Hasil penelitian ini berupa deskripsi mengenai perilaku dating violence pada

remaja yang pernah mengalami child abuse.

A. Identifikasi Variabel

Variabel diartikan sebagai sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan

penelitian atau faktor-faktor yang berperan dalam gejala yang diamati. Variabel

merupakan sebuah simbol dimana angka-angka atau nilai ditetapkan dan suatu

konsep atau pengertian dapat dikatakan sebagai variabel bila menunjukkan adanya

variasi (Kerlinger, 2000). Sesuai dengan judul penelitian yaitu gambaran perilaku

dating violence pada remaja yang pernah mengalami child abuse, maka terdapat satu

variabel yaitu dating violence.

B. Definisi Operasional

Dating violence adalah tindakan atau ancaman yang dilakukan secara sengaja

baik melalui perilaku, perkataan maupun mimik wajah yang dilakukan salah satu

pihak kepada pihak lain dalam hubungan pacaran, dimana perilaku ini ditujukan

untuk memperoleh dan mempertahankan kekuatan atau kekuasaan dan kontrol atas

Gambar

Tabel 1. Blue Print Distribusi Item Skala Dating Violence Sebelum Uji Coba
Tabel 2. Blue Print Distribusi Item Skala Dating Violence Setelah Uji Coba
Tabel 3. Penomoran Kembali Skala Perilaku Dating Violence Setelah Uji Coba
Tabel 4. Penyebaran subjek berdasarkan usia
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dokter gigi berada pada posisi strategis untuk mengenali dan melaporkan anak- anak yang mengalami child abuse karena dokter gigi sering melihat interaksi anak dengan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran self disclosure pada remaja etnis India Tamil berada pada kategori rendah artinya remaja etnis India Tamil kurang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran self disclosure pada remaja etnis India Tamil berada pada kategori rendah artinya remaja etnis India Tamil kurang

study focuses on analyzing male domination in domestic area that can cause domestic violence and child abuse through the male character as the perpetrator.. in

Dari penjelasan bentuk-bentuk dating violence diatas dapat diketahui bahwa perilaku kekerasan yang dimaksud adalah berupa baik fisik yang dapat mebuat luka fisik pada anggota

Aggressive Behavior of Children Exposed to Intimate Partner Violence: an Examination of Maternal Mental Health, Maternal Warmth and Child Maltreatment.. Child Abuse

Berdasarkan hasil penelitian pada ibu yang melakukan parental monitoring pada remaja yang pernah mengakses konten pornografi digambarkan melalui dua temuan dalam

121 INVESTIGATING PARENTAL ALIENATION AS A FORM OF DOMESTIC VIOLENCE, CHILD ABUSE AND HARASSMENT: A LEGAL HYPOTHESIS 1 Introduction “Parental Alienation Syndrome” is the term