BAB VI PEMBAHASAN PENELITIAN
B. Gambaran Perilaku Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu yang
ASI Eksklusif enam bulan adalah pemberian hanya ASI saja kepada
bayi sejak lahir sampai berumur enam bulan, tanpa tambahan cairan lain
seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan
makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan
tim. Peraturan Pemerintah RI No.33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu
Ibu Eksklusif, bahwa ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi
sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa menambahkan dan/atau mengganti
dengan makanan atau minuman lain (Septiani, 2012).
ASI eksklusif bukanlah hal yang baru di kalangan masyarakat,
sebagian masyarakat sudah mengetahui manfaat dan keunggulan dari ASI
eksklusif. Pemberian ASI eksklusif berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan, memiliki manfaat bagi daya tahan hidup bayi, pertumhan, dan
perkembangannya, serta dapat memberi semua energi dan gizi (nutrisi) yang
dibutuhkan bayi selama enam bulan pertama kehidupannya tanpa perlu
tambahan makanan atau minuman lain selain ASI (Septiani, 2012).
Berdasarkan hasil penelitian ini, diketahui bahwa dari 45 orang
responden, sebanyak 2 responden memberikan ASI eksklusif atau sebesar
4,4% dan sebanyak 43 responden tidak memberikan ASI eksklusif atau
sebanyak 95,6%. Lebih lanjut diketahui dari 45 responden, ibu yang tidak
memberikan kolostrum sebanyak 4 orang atau 8,95%, ibu yang memberikan
sebanyak 14 orang atau sebesar 31,1%. Ibu yang memberikan air putih
sebanyak 35 orang atau sebesar 77,8%. Ibu yang memberikan pisang
sebanyak 10 orang atau sebesar 22,2%. Ibu yang memberikan susu formula
sebanyak 30 orang atau sebesar 66,7%, dan ibu yang memberikan makanan
lain sebanyak 10 orang atau sebesar 22,2%.
Pada ibu yang memberikan obat pada bayinya mengatakan bahwa ibu
tidak mengetahui jika ketika bayi sakit, seharusnya tidak diberikan obat.
Mereka juga mengatakan bahwa ketika bayinya sakit dan pergi puskesmas
atau rumah sakit, dokter memberikannya obat dan tidak menganjurkan untuk
memberikan ASI saja kepada bayinya yang sedang sakit. Dari 30 responden
yang memberikan susu formula ketika responden sakit sebesar 35,6%,
sedangkan responden yang memberikan susu formula ketika beraktiftas di luar
rumah sebesar 42,2%, dan responden yang memberikan susu formula tanpa
alasan sebesar 55,6 %.
Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian yang
dilakukan Anggraeni (2012) pada ibu yang melahirkan di puskesmas
Kecamatan Pesanggrahan tahun 2012, ibu yang tidak memberikan ASI
eksklusif sebesar 91,1%. Sedangkan 8,9% ibu memberikan ASI eksklusif.
Hasil penelitian ini juga tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan
oleh Candriasih (2010) di wilayah kerja puskesmas Tambu Kabupaten
Donggala yang menyatakan bahwa 93,7% ibu tidak memberikan ASI
Dari hasil analisis mengenai variable pengetahuan, sikap, dan
kepercayaan didapatkan bahwa reponden rata-rata memiliki pengetahuan,
sikap, dan kepercayaan sedang dan baik. Tetapi, jika melihat perilaku
pemberian ASI eksklusif maka hampir seluruh ibu (95,6%) tidak memberikan
ASI eksklusif. Hal ini dimungkinkan karena persepsi responden tentang ASI
eksklusif yang salah dan pengetahuan tentang jenis makanan tambahan yang
salah. Hal ini terlihat dari banyaknya ibu yang memberikan beberapa jenis
makanan tambahan, seperti banyak responden yang beranggapan bahwa
memberikan air putih masih termasuk ASI eksklusif. sedangkan menurut
Syahdrajat (2009), memberikan cairan sebelum 6 bulan meningkatkan risiko
kekurangan gizi. Dan konsumsi air puth atau cairan lain meskipun sedikit
akan membuat bayi merasa kenyang sehingga tidak mau menyusu. Faktor
kebudayaan dan pengalaman menyusui terdahulu juga diduga menjadi faktor
utama gagalnya perilaku pemberian ASI eksklusif.
C. Hubungan Umur Ibu dan Pemberian ASI Eksklusif
Menurut Huclock (1998) dalam Nursalam (2001:134) dalam
Handayani, dkk (2009) mengatakan semakin cukup umur, tingkat kematangan
dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari
segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang lebih dewasa lebih dipercaya
dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini dilihat dari pengalaman
dan kematangan jiwanya. Sehingga semakin dewasa umur ibu maka ibu akan
sadar dan tahu akan manfaat pentingnya ASI eksklusif, maka ibu dengan
segi produksi ASI, ibu yang berusia 19-23 tahun pada umumnya dapat
menghasilkan ASI yang cukup dibandingkan ibu yang berusia lebih tua. Ibu
yang berusia lebih dari 35 tahun biasanya tidak akan dapat menyusi bayinya
dengan ASI yang cukup. (Lestari 2009).
Hasil analisis umur menunjukkan p-value = 0.476 artinya tidak ada
hubungan antara rata-rata umur ibu dengan perilaku memberikan ASI
eksklusif pada ibu yang melahirkan di luar rumah bersalin puskesmas
Kecamatan Pesanggrahan tahun 2013. Pada responden yang ASI eksklusif
memiliki rata-rata umur 31 tahun, sedangkan responden yang tidak ASI
eksklusif memliki rata-rata umur 29 tahun.
Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian Anggrani
(2012) yang menyatakan tidak ada hubungan antara umur dengan praktik
pemberian ASI eksklusif hal ini dimungkinkan karena teknik dan keadaan
sampel yang dimiliki relatif sama. Berbeda dengan hasil penelitian kualitatif
yang dilakukan Fika dan Syafiq (2009) yang menyatakan bahwa umumnya
informan ASI eksklusif selama 6 bulan lebih tua daripada informan yang tidak
ASI eksklusif dengan perbedaan rata-rata umur 4 tahun. Rata-rata informan
ASI eksklusif berusia 30 tahun dan rata-rata informan ASI tidak eksklusif
berusia 26 tahun.
Hal ini dimungkinkan karena kurangnya pengetahuan tentang ASI
eksklusif, dan pengalaman lama yang salah tentang pemberian ASI eksklusif.
Kurangnya informasi terbaru terkait ASI eksklusif menjadi faktor yang
sebagai ibu rumah tangga biasanya kurang mendapat informasi yang terbaru
khususnya tentang kesehatan kerena ibu tersebut hanya berinteraksi dengan
orang di lingkungan rumahnya saja. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh
Notoadmodjo (2007), seorang yang memiliki pekerjaan dengan informasi
yang lebih luas terdapat kecenderungan mempunyai pengetahuan yang lebih
baik dan dengan berkerja seseorang dapat berbuat sesuatu yang bernilai,
bermanfaat, dan memperoleh berbagai pengalaman yang lebih luas sehingga
informasi yang di peroleh lebih banyak.
D. Hubungan Paritas dan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif
Suradi (2007) dalam Handayani, dkk (2009), bahwa salah satu faktor
yang mempengaruhi pemberian ASI meliputi karakteristik ibu yaitu
pengalaman ibu menyusui. Perbedaan jumlah anak akan berpengaruh terhadap
pengalaman ibu dalam hal menyusui. Seorang ibu yang telah sukses menyusui
pada kelahiran sebelumnya akan lebih mudah serta yakin akan dapat
menyusui pada kelahiran berikutnya. Seorang ibu muda dengan anak pertama
akan merasa sulit untuk dapat menyusui (Solihah, dkk. 2010).
Hasil analisis paritas menunjukkan p-value = 0.545 artinya tidak ada
hubungan antara rata-rata paritas dengan perilaku memberikan ASI eksklusif
pada ibu yang melahirkan di luar rumah bersalin puskesmas Kecamatan
Pesanggrahan tahun 2013. Diketahui dari 30 responden dengan paritas lebih
dari 1, sebesar 6.7% memberikan ASI eksklusif. sedangkan dari 15 orang
Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian Anggrani
(2012) dan yang menyatakan tidak ada hubungan antara umur dengan praktik
pemberian ASI eksklusif hal ini dimungkinkan karena teknik dan keadaan
sampel yang dimiliki relatif sama. Berbeda dengan hasil penelitian kualitatif yang dilakukan Fika dan Syafiq (2009) yang menyatakan bahwa umumnya
informan ASI eksklusif mempunyai paritas rata-rata lebih tinggi (3 anak)
daripada informan ASI tidak eksklusif (2 anak). Perbedaanjumlah anak akan
mempengaruhi terhadap pengalaman ibu dalam hal menyusui.
Hal ini dimungkinkan karena ibu yang memilki paritas lebih dari satu
mengikuti pola menyusui anak sebelumnya dan sudah terbiasa memberikan
makanan dan minuman tersebut kepada anak sebelumnya. Hal ini terlihat dari
banyak ibu yang memberikan makanan dan minuman tambahan seperti air
putih, madu, dan pisang. Sehingga ibu tidak merasa takut atau khawatir
memberikan makanan dan minuman lain karena yakin tidak akan berdampak
negatif terhadap bayinya.
E. Hubungan pendidikan dan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif
Menurut Kusmiati pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin
tinggi pendidikan makin mudah seseorang menerima dan mendapatkan
informasi melalui berbagai media. Pada ibu yang berpendidikan tinggi ia lebih
sadar akan keunggulan ASI dan dampak dari pemberian MP-ASI secara dini
dan menimbulkan motivasi yang kuat pada diri ibu (Suradi,1989).
Hasil analisis pendidikan menunjukkan p-value = 1.00 artinya tidak
eksklusif pada ibu yang melahirkan di luar rumah bersalin puskesmas
Kecamatan Pesanggrahan tahun 2013. Diketahui bahwa dari 25 responden
dengan pendidikan tinggi, sebesar 4% memberikan ASI eksklusif. sedangkan
dari 20 orang responden dengan pendidikan rendah, sebesar 5 % memberikan
ASI eksklusif.
Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian Anggrani
(2012) yang menyatakan tidak ada hubungan antara pendidikan dengan
praktik pemberian ASI eksklusif hal ini dimungkinkan karena teknik dan
keadaan sampel yang dimiliki relatif sama. Begitu juga dengan penelitian
kualitatif yang dilakukan Fika dan Syafiq (2009) yang menyatakan bahwa
pendidikan informan yang melakukan ASI eksklusif 6 bulan hampir tidak
berbeda dengan yang ASI tidak eksklusif.
Hal ini dimungkinkan karena ibu yang berpendidkan rendah kurang
mendapat informasi terbaru terkait ASI eksklusif. Sedangkan ibu yang
berpendidikan lebih tinggi biasanya banyak kesibukan di luar rumah, sehingga
cenderung sering meninggalkan bayinya. Hal ini terlihat dari banyaknya ibu
yang memberikan susu formula ketika berkegiatan di luar rumah. Faktor lain
yang diduga ibu tidak memberikas ASI eksklusif sekalipun berpendidikan
tinggi adalah tidak tergali informasi yang baik tentang ASI eksklusif dan
MP-ASI juga adanya pengalaman memberikan MP-MP-ASI dini sebelumnya dan
F. Hubungan Pekerjaan dan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif
Meningkat jumlah partisipasi wanita dalam ikatan kerja dan adanya
emansipasi dalam segala bidang kerja dan kebutuhan masyarakat
menyebabkan turunya kesedian menyusui dan lamanya menyusui (siregar,
2004). Ibu Rumah Tangga (IRT) memiliki waktu yang cukup/ lebih banyak
untuk memberikan ASI dibanding ibu bekerja yang waktu di rumah lebih
sedikit untuk memberikan ASI (Handayani, dkk. 2009).
Hasil analisis pekerjaan menunjukkan p-value = 1.00 artinya tidak ada
hubungan antara rata-rata pekerjaan dengan perilaku memberikan ASI
eksklusif pada ibu yang melahirkan di luar rumah bersalin puskesmas
Kecamatan Pesanggrahan tahun 2013. Diketahui bahwa dari 6 responden yang
bekerja, tidak ada yang memberikan ASI eksklusif. Sedangkan dari 39 orang
responden yang tidak bekerja, sebesar 5.1 % memberikan ASI eksklusif.
Lebih lanjut dari 6 responden yang bekerja, hanya 1 orang yang disediakan
tempat menyusui di tempat kerja.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Anggraeni (2012) yang
menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan
pemberian ASI eksklusif hal ini dimungkinkan karena teknik dan keadaan
sampel yang dimiliki relatif sama.
Hal ini dimungkinkan karena kurangnya pengetahuan tenang ASI
eksklusif dan makanan tambahan. Sehingga banyak dari responden yang
menganggap memberikan beberapa makanan/minuman sebagai ASI eksklusif,
eksklusif, dari 39 responden yang memberikan makanan tambahan sebanyak
35 orang atau 89,7% responden memberikan air putih. Hal ini juga terlihat
dari banyaknya responden yang salah dalam pernyataan mengenai susu
formula.
G. Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif
Hambatan utama tercapainya ASI eksklusif yang benar adalah karena
kurang sampainya pengetahuan yang benar tentang ASI eksklusif pada para
ibu. Seorang ibu harus mempunyai pengetahuan baik dalam menyusui
(Roesli, 2000). Seorang wanita dengan bayi pertamanya mungkin tidak tahu
cara menaruh bayi pada payudaranya. Karena itu, cara ini harus diketahui.
Bila bayi tidak mengambil puting susu dengan benar, akan menimbulkan
banyak persoalan (Soetjiningsih, 1997).
Hasil analisis pengetahuan menunjukkan p-value = 0.997 artinya tidak
ada hubungan antara rata-rata pengetahuan dengan perilaku memberikan ASI
eksklusif pada ibu yang melahirkan di luar rumah bersalin puskesmas
Kecamatan Pesanggrahan tahun 2013. Diketahui bahwa dari 10 responden
dengan pengetahuan baik, sebesar 10% memberikan ASI eksklusif. sedangkan
dari 35 orang responden dengan pengetahuan sedang, sebesar 2.9 %
memberikan ASI eksklusif. Lebih lanjut dari analisa hasil kuesioner didapati
bahwa 20 ibu salah pada pernyataan terkait pemberian obat pada bayi yang
sakit. Dan 27 ibu salah dalam pernyataan terkait pemberian susu formula saat
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Anggraeni (2012) yang
menyatakan tida ada hubungan signifikan antara pengetahuan dan perilaku
pemberian ASI eksklusif hal ini dimungkinkan karena teknik dan keadaan
sampel yang dimiliki relatif sama.
Hal ini dimungkinkan karena responden tidak mengetahui informasi
terbaru terkait ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI (MP-ASI),
kurang jelasnya informasi, dan kurangnya kemampuan responden dalam
menangkap informasi. Sehingga banyak responden yang mempercayai walau
memberikan beberapa jenis MP-ASI tetap dikatakan ASI eksklusif, seperi
memberikan air putih dan obat ketika sakit. Hal ini terlihat pada penelitian ini,
dari 43 responden yang tidak memberikan ASI eksklusif terdapat 35 resonden
memberikan air putih. Dan dari 43 responen yang tidak memeberikan Asi
eksklusif terdapat 21 responden memberikan obat pada bayi keika sakit. Lebih
lanjut, dari data univariat terlihat rata-rata pengetahuan ibu adalah sedang
sekalipun telah mendapat informasi pada kunjungan ANC ke Puskesmas. Hal
ini dikarenakan kurang efektifnya materi tentang ASI Eksklusif dan waktu
yang dimiliki bidan di puskesmas. Hal ini terlihat dari banyaknya ibu yang
masih keliru tentang pernyataan mengenai pemberian obat, kecukupan zat gizi
H. Hubungan Sikap dan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat
langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku
yang tertutup. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan
tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Dan merupakan
kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu
penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo, 2007).
Hasil analisis sikap menunjukkan p-value = 0.274 artinya tidak ada
hubungan antara rata-rata sikap dengan perilaku memberikan ASI eksklusif
pada ibu yang melahirkan di luar rumah bersalin puskesmas Kecamatan
Pesanggrahan tahun 2013. Diketahui bahwa dari 14 reponden dengan sikap
yang baik sebesar 14.3 % memberikan ASI Eksklusif. sedangkan dari 20
responden dengan sikap sedang dan 11 responden dengan sikap buruk tidak
ada yang memberikan ASI eksklusif.
Responden umumnya memiliki kemauan untuk memberikan ASI
eksklusif. Terbukti dari 45 responden sebesar 71,1 % setuju untuk tidak
memberikan makanan lain selain ASI selama 6 bulan dan sebesar 77,8 %
setuju untuk tidak memberikan susu formula pada bayi usia 0-6 bulan. Tetapi
sebesar 51,1 % responden tidak setuju untuk tidak member obat pada bayi 0-6
bulan ketika sakit, dan sebesar 62,2% setuju memberikan susu formula ketika
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Anggraeni (2012) yang
menyatakn tida ada hubungan signifikan antara sikap dan perilaku pemberian
ASI eksklusif hal ini dimungkinkan karena teknik dan keadaan sampel yang
dimiliki relatif sama.
Hal ini dimungkinkan karena kurangnya informasi terbaru terkait ASI
Eksklusif. Hal ini terlihat dari banyaknya ibu yang keliru tentang pengetahuan
pemberian obat ketika bayi sakit dan pemberian susu fomula ketika ibu
beraktivitas di luar rumah. Hal lain yang diduga mempengaruhi sikap ibu
tentang pemberian ASI eksklusif adalah persepsi ibu yang salah tentang ASI
eksklusif dan MP-ASI sehingga ibu tidak takut untuk memberikan susu
formula ketika beraktivitas di luar rumah karena menganggap pemberian susu
formula tidak berbahaya.
I. Hubungan Kepercayaan dan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif
Menurut Khasanah (2011) Salah satu kendala ibu menyusui adalah
kepercayaan pada mitos, padahal mitos tidak dapat dipercaya kebenarannya.
Prasetyono (2009) mengatakan turunnya angka menyusui secara eksklusif
adalah pengaruh sosial budaya dimasyarakat, yang menganjurkan supaya bayi
diberi makanan tambahan sebelum berusia 6 bulan. Penelitian Yulianah dkk.
(2013) menuturkan bahwa Pengetahun teoritis dan praktis yang rendah
tersebut didukung oleh pengetahuan budaya lokal berupa ideologi makanan
untuk bayi, antara lain pemberian madu kepada bayi.
Hasil analisis kepercayaan menunjukkan p-value = 1.00 artinya tidak
eksklusif pada ibu yang melahirkan di luar rumah bersalin puskesmas
Kecamatan Pesanggrahan tahun 2013. Diketahui bahwa dari 42 reponden
dengan kepercayaan yang baik sebesar 4.8 % memberikan ASI Eksklusif.
sedangkan dari 3 responden dengan kepercayaan sedang tidak ada yang
memberikan ASI eksklusif. Umumnya responden meyakini bahwa sangat baik
memberikan ASI eksklusif kepada bayi 0-6 bulan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Anggraeni (2012) yang
menyatakan tidak ada hubungan signifikan antara kepercayaan dan perilaku
pemberian ASI eksklusif hal ini dimungkinkan karena teknik dan keadaan
sampel yang dimiliki relatif sama. Berbeda dengan hasil penelitian Fika dan
Syafiq (2009) yang menyatakan bahwa sebagian besar ibu mempercayai
bahwa memberikan hanya ASI saja bisa mencukupi kebutuhan bayi sampai
usia 6 bulan.
Hal ini diduga karena responden tidak memiliki pengetahuan yang
benar terkait ASI eksklusif karena masih melekatnya budaya lokal tentang
pemberian makanan pada bayi. sehingga masih banyak responden yang
memberikan makanan tambahan seperti air putih, madu dan obat pada bayi
J. Hubungan Tempat Ibu Bersalin, Rawat Gabung, dan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif
Hubungan antara kesuksesan menyusui dengan tempat persalinan
ditemukan erat karena tidak jarang rumah sakit memberikan susu formula
kepada ibu yang baru melahirkan. Untuk itu, pemerintah sejak tahun 1985
telah mengembangkan rumah sakit sayang bayi serta ada kesepakatan
produsen dan importer makanan produk makanan bayi untuk memasarkan
produknya secara langsung maupun tidak langsung ke pelayanan kesehatan
(soetjiningsih, 1997). Sedangkan Rawat gabung adalah suatu cara perawatan
dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan di
tempatkan dalam sebuah ruangan kamar atau tempat bersama-sama selama 24
jam penuh dalam seharinya (Maryuni, 2009; Rukiyah, 2010).
Hasil analisis tempat ibu bersalin menunjukkan p-value = 1.00 artinya
tidak ada hubungan antara rata-rata tempat ibu bersalin dengan perilaku
memberikan ASI eksklusif pada ibu yang melahirkan di luar rumah bersalin
puskesmas Kecamatan Pesanggrahan tahun 2013. Diketahui bahwa dari 13
reponden yang bersalin di rumah sakit sebesar 7.7 % memberikan ASI
Eksklusif. sedangkan dari 29 responden yang bersalin di klinik sebesar 3.4%
memberikan ASI eksklusif dan dari 3 responden yang bersalin di rumah tidak
ada yang memberikan ASI eksklusif. Diketahui dari 13 responden yang
bersalin di Rumah Sakit sebesar 38,5 % dirawat gabung satu ruangan dengan
bayi. Sedangkan dari 29 responden yang bersalin di klinik sebesar 93,1 %
menunjukkan p-value = 1.00 artinya tidak ada hubungan antara rata-rata rawat
gabung dengan perilaku memberikan ASI eksklusif pada ibu yang melahirkan
di luar rumah bersalin puskesmas Kecamatan Pesanggrahan tahun 2013.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Josefa dkk (2011)
menyatakn tidak ada hubungan signifikan antara tempat ibu bersalin dan
perilaku pemberian ASI eksklusif. Namun berbeda dengan penelitian
Nurjanah (2007) yang memperlihatkan ada hubungan bermakna antara tempat
persalinan dengan nilai OR 1,57 yang berarti ibu yang melahirkan bukan pada
fasilitas kesehatan memiliki peluang 1,57 kali untuk memberikan ASI
eksklusif dibandingkan ibu yang bersalin di fasilitas kesehatan.
Faktor kurangnya informasi terbaru tentang ASI eksklusif, kurang
jelasnya informasi yang diterima responden dan masih melekatnya budaya
lokal tentang pemberian makanan bayi diduga menjadi alasan banyak
responden yang tidak memberikan ASI eksklusif sekalipun bersalin di fasilitas
kesehatan dan dirawat gabung bersama bayi. Sehingga pengalaman yang
didapat ketika dirawat menjadi sia-sia. Hal ini terbukti dari masih banyak
responden yang salah mengenai pemberian obat dan pemberian susu formula
K. Hubungan Tenaga yang Membantu Persalinan dengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif
Kunci keberhasilan menyusui terletak pada penolong persalinan
karena 30 menit pertama setelah bayi lahir umumnya peran penolong
persalinan masih sangat dominan. Bila ibu difasilitasi oleh penolong
persalinan untuk segaera memeluk bayinya diharapkan interaksi ibu dan bayi
akan segera terjadi. Dengan pemberian ASI segera, ibu semakin percaya diri
untuk tetap memberikan ASI, sehingga tidak merasa perlu untuk memberikan
makanan atau minuman apapun kepada bayi karena bayi dapat nyaman
menempel pada payudara ibu atau tenang dalam pelukan ibu segera setelah
lahir (Fikawati, 2003 dalam Lestari, 2009).
Hasil analisis tenaga yang membantu persalinan menunjukkan p-value
= 1.00 artinya tidak ada hubungan antara rata-rata tenaga yang membantu
persalinan dengan perilaku memberikan ASI eksklusif pada ibu yang
melahirkan di luar rumah bersalin puskesmas Kecamatan Pesanggrahan tahun
2013. Diketahui bahwa dari 12 reponden yang bersalin dibantu oleh dokter
sebesar 8.3 % memberikan ASI Eksklusif. sedangkan dari 32 responden yang
bersalin dibantu bidan/perawat sebesar 3 % memberikan ASI eksklusif. Dari
hasil analisa silang antara tempat bersalin dan penolong persalinan didapat ibu
yang melahirkan di rumah sakit 12 orang dibantu dokter dan 1 orang dibantu
bidan /perawat. Sedangkan ibu yang melahirkan di klinik dan rumah
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Nurjanah (2007) yang
memperlihatkan bahwa proporsi pemberian ASI eksklusif pada ibu yang