GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Sejarah Perkembangan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Yogyakarta
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Yogyakarta pada awalnya dibentuk dengan nama Kantor Bendahara Negara (KBN). Setelah itu berganti nama menjadi Kantor Perbendaharaan Negara (KPN) dan Kantor Kas Negara (KKN) pada tahun 1982. Selanjutnya pada tahun 1990 Satuan Kerja tersebut diintegrasikan menjadi Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPKN) berdasarkan surat keputusan Menteri Keuangan tanggal 12 Juni 1989 No.645/KMK.01/1989.
Seiring dengan reorganisasi, Departemen Keuangan yang ditandai dengan penerapan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004, maka KPKN berubah menjadi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) yang merupakan instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor : Kep-202/KMK.01/2004.
Selanjutnya berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor : Kep-172/PB/2007 tanggal 26 Juli 2007 tentang Penetapan KPPN Percontohan terhitung mulai tanggal 30 Juli 2007, KPPN Yogyakarta, resmi beroperasi menjadi KPPN Percontohan dan soft launching dilakukan oleh Bapak Minto Widodo selaku Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjabat pada periode tahun tersebut dan
dilaksanakan bersama 17 KPPN Percontohan lainnya. Sedangkan pada tahun 2013, seluruh KPPN di Indonesia merupakan KPPN Percontohan.
B. Profil Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Yogyakart
Sejalan dengan upaya pemerintah mewujudkan good governancedan peningkatan pelayanan kepada masyarakat, pada tahun 2004 Departemen Keuangan mulai merintis program reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi dicanangkan sebagai program prioritas di Departemen Keuangan yang mencakup penataan organisasi, perbaikan proses bisnis, dan peningkatan manajemen SDM.
Sebagai salah satu instansi vertikal di bawah Departemen Keuangan, Direktorat Jenderal Perbendaharaan mempunyai tugas dan kewajiban untuk mendukung dan ikut melaksanakan program reformasi birokrasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Wujud komitmen Direktorat Jenderal Perbendaharaan terhadap reformasi birokrasi adalah dengan membentuk 17 KPPN Percontohan di 17 ibukota provinsi yang mulai beroperasi pada tanggal 30 Juli 2007, salah satu di antaranya adalah KPPN Yogyakarta. Sehingga dapat memenuhi kriteria pelayanan yang cepat, akurat, tanpa biaya, dan prosesnya dilakukan secara transparan.
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Yogyakarta sebagai salah satu ujung tombak pelayanan publik yang dimiliki oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan memberikan pelayanan berupa pencairan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), penatausahaan penerimaan negara, serta penyusunan laporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban APBN.
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, KPPN Yogyakarta mengedepankan pelayanan prima kepada seluruh mitra kerja dengan tetap
berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku dan berorientasi pada visi misi yang telah ditetapkan. Adapun visi KPPN Yogyakarta adalah “Menjadi Pelaksana fungsi Bendahara Umum Negara di daerah yang profesional, transparan, dan akuntabel untuk mewujudkan pelayanan prima.” Sesuai dengan visi tersebut, KPPN Yogyakarta merumuskan misi yang hendak dicapai dalam kurun waktu tertentu melalui penetapan strategi yang dipilih. Adapun misi KPPN yaitu :
1. Menjamin kelancaran pencairan dana APBN secara tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat jumlah
2. Mengelola penerimaan negara secara profesional dan akuntabel.
3. Mewujudkan pelaporan pertanggungjawaban APBN yang akurat dan tepat waktu.
Dengan pengembangan budaya kerja, maka akan menumbuhkan jiwa semangat, disiplin, etos kerja dan bertanggung jawab moral sebagai aparatur pemerintah yang dilakukan secara konsisten sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Diharapkan dengan membudayakan kerja di lingkungan KPPN Yogyakarta akan muncul kesadaran untuk berperilaku profesional dalam bekerja sehingga pendapat masyarakat terhadap kinerja aparatur pemerintah yang kurang baik, sedikit demi sedikit dapat di minimalkan dan pada akhirnya citra aparatur pemerintah menjadi positif. Oleh karena itu, KPPN Yogyakarta menetapkan moto “Budayakan Kerja Membangun Citra”.
Dalam menjalankan amanah reformasi birokrasi, KPPN Yogyakarta menetapkan konsep pelayanan sepenuh hati atau Excellent Service. Konsep ini
mengandung arti bahwa Satuan Kerja (Satker) dan stakeholder akan mendapatkan pelayanan dan informasi secara tepat, transparan, dan bebas biaya. Maka terbentuklah janji layanan KPPN Yogyakarta, yaitu : “Memberi layanan sepenuh hati, cepat, tepat, transparan dan biaya”.
1. Kondisi Geografis
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Yogyakarta menempati Gedung D di Gedung Keuangan Negara yang beralamat di jalan Kusumanegara 11 Pahlawan Kusumanegara, sebelah utara berdekatan dengan Stadion Mandala Krida, sebelah timur merupakan pertokoan, sedangkan sebelah barat merupakan gedung perkantoran.
2. Wilayah Kerja
Wilayah kerja KPPN Yogyakarta meliputi instansi pemerintah seluruh Kementerian Lembaga Departemen/Non Departemen yang terletak di kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul dengan melayani sebanyak 331 Satker.
3. Sarana dan Prasarana a. Gedung Kantor
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Yogyakarta menempati 3 lantai di Gedung D, Gedung Keuangan Negara Yogyakarta dengan luas bangunan seluas 3.381 m2.
b. Ruang Kerja
Ruang Kerja yang ada terdiri dari : 1) Ruang Kepala Kantor
2) Ruang Seksi Pencairan Dana 3) Ruang Seksi Bank
4) Ruang Seksi Manajemen Satker dan Kepatuhan Internal 5) Ruang Seksi Verifikasi dan Akuntansi
6) Ruang Sub Bagian Umum 4. Ruang Pelayanan
Secara umum ruang pelayanan sudah cukup memadai untuk kenyamanan pelayanan terhadap mitra kerja. Ruang Pelayanan terdiri dari :
a. Loket Front Office b. Ruang tunggu
c. Fasilitas yang berada diruang tunggu antara lain: 1) Bagan Prosedur Pelayanan
2) Struktur Organisasi
3) Banner yang berisi petunjuk mekanisme pencairan dana dan rekonsiliasi
4) Brosur 5) Papan Info 6) Kotak Saran
7) Light-Emitting Diode (LED) untuk menayangkan monitoring penyelesaian SP2D
8) Televisi dengan jaringan TV kabel 9) Surat Kabar
d. Fasilitas Penunjang Pelayanan 1) Aula 2) Ruang Rapat 3) Jaringan Telepon 4) Lahan Parkir 5) Musola 6) Kantin 7) Klinik Dokter 8) Pos Keamanan 9) Toilet 10) Dapur 11) Taman (GKN) 5. Inovasi/Peningkatan Pelayanan
Inovasi yang dilakukan oleh KPPN Yogyakarta untuk meningkatkan fasilitas pelayanan prima antara lain dengan pemasangan jaringan televisi kabel, pembuatan website KPPN Yogyakarta, banner yang berisi petunjuk mekanisme pencairan dana, rekonsiliasi dan lain-lain.
6. Tugas dan Fungsi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Yogyakarta Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.101/PMK.01/2008 tentang organisasi dan tata kerja Instansi vertikal Direktorat Jendral Perbendaharaan, tugas pokok KPPN Yogyakarta adalah melaksanakan kewenangan perbendaharaan dan bendahara umum, penyaluran pembiayaan atas beban anggaran, serta penatausahaan penerimaan dan pengeluaran
anggaran melalui dan dari kas negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan secara umum, tugas KPPN Yogyakarta adalah :
a. Mewujudkan pelayanan prima kepada masyarakat dalam penyaluran dana APBN.
b. Memiliki SDM yang berkualitas, profesional, dan berintegrasi tinggi sebagai aparatur pemerintah yang mampu menghadapi segala tantangan. c. Mewujudkan KPPN Yogyakarta sebagai model kantor pelayanan
percontohan yang bersih dan transparan.
Dalam menjalankan tugas tersebut, KPPN Yogyakarta menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :
a. Penerbitan surat perintah pencairan dana dari kas negara atas nama Menteri Keuangan atau Bendahara Umum Negara.
b. Pengujian terhadap dokumen Surat Perintah Membayar berdasarkan Peraturan Perundang-undangan.
c. Penyaluran pembiayaan atas beban APBN.
d. Penilaian dan pengesahan terhadap penggunaan uang yang telah disalurkan.
e. Penatausahaan penerimaan dan pengeluaran negara melalui dan dari kas negara.
f. Penyusunan Laporan Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
g. Penyusunan Laporan Realisasi Pembiayaan yang berasal dari Pinjaman dan Hibah Luar Negeri.
h. Penatausahaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). i. Penyelenggaraan verifikasi transaksi keuangan dan akuntansi. j. Pembuatan tanggapan dan penyelesaian temuan hasil pemeriksaan. k. Pelaksanaan kehumasan.
l. Menjamin kelancaran pencairan dana APBN secara tepat sasaran, tepat waktu dan tepat jumlah.
m. Mengelola penerimaan negara secara profesional dan akuntabel. C. Visi dan Misi
Sejalan dengan tugas KPPN Yogyakarta yaitu memberikan pelayanan dan pembinaan teknis serta administratif kepada semua unsur instansi/satker di wilayah Yogyakarta, maka KPPN Yogyakarta menetapkan Visi dan Misi
1. Visi
Menjadi pengelolaan perbendaharaan negara di daerah yang profesional, modern, transparan, dan akuntabel.
2. Misi
Mewujudkan pengelolaan kas yang efisien dan optimal, mendukung kinerja pelaksanaan anggaran yang tepat waktu, efektif dan akuntabel, dan mewujudkan akuntansi dan pelaporan keuangan negara yang akuntabel, transparan dan tepat waktu.
D. Struktur Organisasi
Untuk melaksanakan tugas dan fungsi tersebut, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Yogyakarta memiliki struktur organisasi sebagai berikut:
Gambar 3.1
Struktur Organisasi KPPN Yogyakarta
E. Sistem dan Prosedur Kerja
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Yogyakarta dipimpin oleh seorang kepala kantor dengan membawahi lima seksi yang membantu dalam pelaksanaan tugas di KPPN Yogyakarta. lima seksi bagian tersebut memiliki tugas berbeda tetapi saling berkaitan satu sama lain dalam menjalan tugas dan fungsi.
Kepala Kantor bertugas menangani dan bertanggung jawab atas segala urusan di KPPN Yogyakarta. Sub Bagian Umum bertugas menangani urusan dalam dan luar KPPN Yogyakarta. Seksi Pencairan Dana berfungsi mengatur alur keluar masuk dana yang beredar dari luar dan dalam KPPN Yogyakarta . Seksi Manajemen Satker dan Kepatuhan Internal (MSKI) mempunyai tugas pemantauan di bidang manajemen Satker dan kepatuhan Internal. Seksi Bank/Giro Pos berfungsi
Kepala Kantor Seksi Pencaran Dana Seksi MSKI Kepala Seksi Bank/Giro Seksi Vera Sub Bagian Umum
menangani kebutuhan akan Pencairan Dana dan Pengiriman surat-menyurat dalam hal ini berperan sebagai Giro dan Pos. Seksi Verifikasi dan Akuntansi (Vera) berperan dalam menyelesaikan bidang akuntansi, misalnya pendataan surat-menyurat. Tugas dari masing-masing seksi tersebut antara lain :
1. Sub Bagian Umum
Sub Bagian Umum mempunyai tugas melaksanakan urusan kepegawaian, keuangan, tata usaha dan rumah tangga serta penyelesaian temuan hasil pemeriksaan. Dalam melaksanakan tugas pokok Sub Bagian Umum mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Melaksanakan urusan kepegawaian. b. Melaksanakan urusan keuangan.
c. Melaksanakan urusan tata usaha dan rumah tangga.
d. Melaksanakan penyusunan rencana kerja dan laporan kegiatan. e. Melaksanakan penyelesaian temuan hasil pemeriksaan.
f. Melaksanakan urusan kehumasan.
Untuk melaksanakan fungsi tersebut, Sub Bagian Umum terdiri dari : a. Sub Bagian Kepegawaian
b. Sub Bagian Keuangan
c. Sub Bagian Tata Usaha dan Rumah Tangga 2. Seksi Pencairan Dana
Mempunyai tugas melakukan pengelolaan basis data Pelaksanaan Anggaran, Pengujian terhadap dokumen Surat Perintah Membayar (SPM), Penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) atas nama Menteri
Keuangan (Bendahara Umum Negara), Pengelolaan basis data pembayaran gaji, Pengesahan Surat Pengesahan Penghentian Pembayaran (SKPP) dan Penyusunan Laporan Realisasi Anggaran. Sesuai dengan peraturan Menteri keuangan Nomor PMK 169/PMK.01/2012 Tanggal 6 November 2012, Seksi Pencairan Dana mempunyai tugas :
a. Melakukan pengujian resume tagihan dan SPM. b. Penerbitan SP2D.
c. Penerbitan Surat Pengesahan Pendapatan (SPP) dan belanja Badan Layanan Umum (BLU)
d. Penerbitan surat pengesahan atas ralat SPM dari Satker dan nota dinas. e. Pengelolaan data kontrak, data supplier, belanja pegawai Satker, dan
monitoring.
f. Perbaikan dan kesalahan SP2D hasil verifikasi pada KPPN. g. Evaluasi penyerapan anggaran Satker.
3. Seksi Vera
Bertugas untuk membuat jenis laporan berikut : a. LKPP (periode bulanan)
b. BAR Rekonsiliasi (periode bulanan) c. SKTB (periode bulanan)
d. SKP4 (periode bulanan)
e. Laporan Rekapitulasi LPJ Bendahara (periode bulanan) f. Laporan Analisa saldo BLU
Seksi Vera mempunya tugas :
a. Melakukan verifikasi pembayaran b. Rekonsiliasi laporan akuntansi
c. Penyusunan laporan keuangan tingkat kuasa Bendahara Umum Negara. d. Pelaporan dan analisis kinerja anggaran serta analisis data statistik laporan
keuangan. 4. Seksi Bank
Mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Melakukan pencairan dana dan penatausahaannya.
b. Penelitian dan penatausahaan penerimaan dan pengeluaran anggaran melalui dan dari kas negara.
c. Pelaksanaan pengelolaan kas.
d. Pengiriman dan penerimaan kiriman uang.
e. Pembukuan bendahara umum dan penyusunan Laporan Kas Posisi (LKP) 5. Seksi MSKI
Mempunyai tugas sebagai berikut : 1. Tugas di bidang manajemen Satker
a. Fungsi Costumer Service
b. Melakukan pembinaan dan bimbingan teknis pengelolaan perbendaharaan.
c. Supervisi teknis SPAN
d. Pemantauan standar kualitas layanan KPPN dan penyediaan layanan perbendaharaan.
2. Tugas di bidang kepatuhan Internal
a. Pemantauan pengendalian intern, pengelolaan risiko, kepatuhan terhadap kode etik dan disiplin, dan tindak lanjut hasil pengawasan. b. Perumusan rekomendasi perbaikan proses bisnis.
50 BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Pembahasan
1. Manajemen Kas pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara dinilai berdasarkan:
a. Perencanaan Kas (Forecasting)
Perencanaan Kas adalah perencanaan atau estimasi terhadap posisi kas pada suatu saat tertentu dalam suatu periode tertentu yang akan datang (Indriyo Gitosudarmo, 2002 : 65). Untuk mendukung kegiatan Perencanaan Kas yang merupakan bagian dari pelaksanaan Treasury Single Account. Direktorat Jenderal Perbendaharaan mengeluarkan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-59/PB/2007, yang mewajibkan KPPN melakukan permintaan kebutuhan dana berdasarkan perencanaan keuangan setiap harinya. Selain itu, untuk mempermudah dan mendukung kegiatan Perencanaan Kas, Direktorat Jenderal Perbendaharaan memberlakukan sistem aplikasi SPAN pada tahun 2010 yang merupakan sistem berbasis intranet yang terhubung dengan kantor pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk digunakan di setiap KPPN. Pelaksanaan Perencanaan Kas di KPPN Yogyakarta dimulai pada Oktober 2007 bersamaan dengan pelaksanaan Treasury Single Account. Antara Seksi Bank dengan Seksi Pencairan Dana selalu
dilakukan koordinasi dan pelaksanaannya diawasi oleh Kepala KPPN Yogyakarta.
Pada Tabel 4.1 akan diketahui persentase ketepatan Perencanaan Kas dan persentase ketepatan penyediaan dana pada rekening kas negara untuk membiayai pengeluaran negara yang dilakukan oleh KPPN Yogyakarta dengan menggunakan data yang berasal dari Laporan Pagu dan Realisasi Belanja Per Bagian Anggaran Periode Januari 2016 sampai dengan Oktober 2016 yang terdapat di Seksi Bank.
Persentase ketepatan Perencanaan Kas dan persentase ketepatan penyediaan dana menjadi kegiatan yang sangat mutlak dibutuhkan dan saling memengaruhi. Dengan menggunakan data Laporan Pagu dan Realisasi Belanja Per Bagian Anggaran kita akan mengetahui keadaan Manajemen Kas pada KPPN Yogyakarta.
1) Persentase ketepatan Perencanaan Kas
Pada tabel 4.1 memperlihatkan ketepatan Perencanaan Kas Per Bagian Anggaran (BA) periode bulan Januari 2016 sampai dengan Oktober 2016. Hampir semua per Bagian Anggaran mempunyai Persentase melebihi 100% atau pagu lebih besar dari realisasi, kecuali pada Satker dengan Kode BA 060 yang mempunyai persentase ketepatan 95,90% dikarenakan adanya kebijakan penghematan anggaran oleh Kementerian Keuangan,. Jadi, kegiatan Satker yang tidak mendesak, dapat dilaksanakan tahun depan untuk menghemat anggaran sesuai dengan instruksi Kementerian Keuangan.
Tabel 4.1
Perencanaan Kas (Forecasting) dan ketepatan penyediaan dana pada Laporan Pagu dan Realisasi Belanja Per Bagian Anggaran
Periode Januari s/d Oktober 2016 KODE BA PAGU (Rp) Reaslisasi (Rp) Akurasi (%) 1 3 4 5 = (4÷3)× 100 1 004 4.996.239.000 4.314.399.331 115,80 2 015 51.192.630.000 41.549.955.588 123,21 3 023 84.308.637.000 68.073.233.422 123,85 4 024 178.768.447.000 141.897.828.651 125,98 5 025 518.681.581.000 385.569.478.692 134,52 6 042 911.343.205.000 721.262.070.617 126,35 7 054 18.270.285.000 17.475.815.391 104,55 8 060 484.498.245.000 505.211.743.434 95,90 9 063 8.404.411.000 6.601.332.513 127,31 10 080 45.718.389.000 36.983.914.655 123,62 No.
Sumber: Data Sekunder diolah sendiri
Pada saat sebelum terjadi pemotongan anggaran oleh pemerintah, Satker dengan Kode BA 060 sudah melaksanakan atau menjalankan program kerja dan sudah dibayarkan. sehingga Pagu menjadi lebih kecil dari realisasi yang telah ditetapkan oleh Kementerian Keuangan. Permintaan dana untuk pembayaran gaji lebih besar dari PAGU, sehingga jika terjadi kesalahan atau perencanaan,
akan memengaruhi persentase akurasi Forecasting yang dilakukan KPPN Yogyakarta.
2) Persentase ketepatan penyediaan dana
Tabel 4.1 memperlihatkan ketepatan penyediaan dana berdasarkan realisasi penarikan dana yang disediakan. Realisasi penarikan dana berasal dari total jumlah uang SP2D yang diterbitkan KPPN Yogyakarta. Berdasarkan SP2D tersebut, Bank Operasional melakukan penarikan dana yang disediakan pada Rekening Pengeluaran Kuasa Bendahara Umum Negara Pusat (RPK-BUN-P) merupakan hasil Perencanaan Kas yang dilakukan di Seksi Bank. Ketepatan penyediaan dana tergantung dengan Perencanaan Kas yang dilakukan, jika terjadi kesalahan pada Perencanaan Kas maka persentase ketepatannya akan menunjukkan hasil yang tidak sempurna karena berbeda realisasinya.
Pada per Bagian Anggaran periode bulan Januari 2016 sampai dengan Oktober 2016 hampir per Bagian Anggaran menunjukkan angka melebihi 100%, kecuali pada BA 60 sebesar 95,90%. Hal ini sebagai akibat dari kesalahan Perencanaan Kas, di mana dana yang disediakan pada RPK-BUN-P sesuai dengan permintaan atau Perencanaan Kas tetapi dana yang disediakan tersebut tidak sesuai dengan realisasinya. Karena ada perbedaan (penyedia dana) dan realisasi sehingga Satker dengan kode BA 60 membuat berita acara dan menyusun revisi Pagu beserta SP2D.
Dana yang disediakan pada RPK-BUN-P selalu bergantung terhadap Perencanaan Kas yang dilakukan. Sehingga jumlah Perencanaan Kas mempengaruhi ketepatan penyediaan dana. Dari analisis di atas, dapat diketahui bahwa Manajemen Kas pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Yogyakarta baik karena menunjukkan tingkat akurasi yang hampir 100%.
b. Remunerasi
Remunerasi menurut Kamus Bahasa Indonesia (dalam Setianingtias, 2011 : 55) adalah pemberian hadiah (penghargaan atas jasa dsb.) atau imbalan. Remunerasi berasal dari bahasa inggris yaitu remuneration. Secara harafiah Remunerasi adalah payment atau penggajian, bisa juga uang ataupun subtitusi dari uang yang ditetapkan dengan peraturan tertentu sebagai timbal balik suatu pekerjaan dan bersifat rutin. Pada Undang-Undang Perbendaharaan Nomor 1 tahun 2004 pasal 23 ayat 1 disebutkan bahwa pemerintah Pusat memperoleh bunga dan atau jasa giro atas dana yang disimpan pada Bank Sentral. Berdasarkan amanat tersebut, Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia menandatangani keputusan bersama tentang Koordinasi Pengelolaan uang Negara Nomor 11/KEP.GBI/2009 tanggal 30 Januari 2009. Keputusan ini berlaku sejak 1 Januari 2009 sebagai win-win solution, salah satu kesepakatan yang tertuang dalam keputusan bersama tersebut adalah Bank Indonesia akan memberikan Remunerasi dengan tingkat bunga 65% dari BI Rate atas penempatan pemerintah pada Bank Indonesia.
Tabel 4.2
Perhitungan potensi penerimaan negara Januari 2016 ─ Oktober 2016
Bulan Tarif Rate Saldo Kas
(Rupiah) Remunerasi (Rupiah) 1 2 3 4 5 = (2×3)×4 1 Januari 2016 65% 7,25% 35.456.080.521 1.670.867.795 2 Februari 2016 65% 7,00% 34.917.881.941 1.588.763.628 3 Maret 2016 65% 6,75% 34.966.745.636 1.534.165.965 4 April 2016 65% 6,75% 37.165.560.846 1.630.638.982 5 Mei 2016 65% 6,75% 34.295.588.389 1.504.718.941 6 Juni 2016 65% 6,50% 34.213.623.404 1.445.525.589 7 Juli 2016 65% 6,50% 34.032.463.900 1.437.871.600 8 Agustus 2016 65% 5,25% 34.102.336.725 1.163.742.241 9 September 2016 65% 5,00% 33.883.695.720 1.101.220.111 10 Oktober 2016 65% 4,75% 33.759.353.207 1.042.320.030 346.793.330.289 14.119.834.881 Total No.
Sumber: Data sekunder diolah sendiri
Pada tanggal 19 Agustus 2016 di berlakukan BI 7-day (Reverse) Repo Rate menggantikan BI Rate. Perkenalan suku bunga yang baru ini tidak mengubah stance kebijakan moneter yang sedang diterapkan. Berdasarkan keputusan bersama tersebut untuk menghitung besarnya potensi penerimaan atas Remunerasi saldo kas pemerintah akan digunakan data yang berasal dari Bank Indonesia mengenai BI Rate mulai bulan Januari 2016 sampai dengan Oktober 2016 (www.bi.go.id) serta tarik 65%.
Data saldo kas akhir bulan Januari 2016 sampai dengan Oktober 2016 maka diperoleh perhitungan seperti tabel 4.2.
Dapat diketahui dari tabel 4.2 penerimaan kas selama bulan Januari 2016 sampai dengan bulan Oktober 2016 sebesar Rp14.119.834.881,00. Dari analisis tersebut, dapat diketahui bahwa Manajemen Kas pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Yogyakarta dinilai baik, karena penempatan dana pada bank sentral memberikan tambahan penerimaan bagi pemerintah. Dengan kata lain, pengelolaan uang negara yang optimal akan memberikan manfaat bagi pemerintah.
2. Treasury Single Account Pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara dinilai dari Idle Cash.
Idle Cash adalah uang yang mengendap atau menganggur pada bank yang berkaitan dengan pelaksanaan pengeluaran atau penerimaan. Pada saat ini dengan menggunakan data historis saldo kas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) tahun 2007 dapat dianalisis jumlah Idle Cash. Sebelum pelaksanaan Treasury Single Account hingga September 2007 digunakan asumsi kas minimal yang ada di Bank Operasional sebesar Rp10.000.000.000,00 setiap harinya. Pada pelaksanaan Treasury Single Account, saldo kas minimal adalah nihil (nol). Khusus untuk akhir hari Jumat tanggal 28 September 2007 dilakukan penihilan saldo kas akhir karena tanggal 1 Oktober 2007 Treasury Single Account efektif dilaksanakan di KPPN Yogyakarta. Dengan penerapan Treasury Single Account, seluruh saldo kas
disetorkan ke RKUN yang ada pada Bank Sentral (Bank Indonesia) karena pada akhir hari kerja tidak boleh ada uang atau saldo yang mengendap di Bank Operasional dan Bank Persepsi.
Pada tabel 4.3 dengan perhitungan mencari jumlah Idle Cash yang diperoleh dengan mengurangkan saldo akhir dengan saldo kas minimal dapat diketahui besarnya Idle Cash yang merupakan penerapan dari Treasury Single Account. Saldo kas akhir bulan Januari menjadi saldo awal bulan Februari, begitu seterusnya. Sedangkan sebelum pelaksanaan Treasury Single Account, saldo kas minimal sebesar Rp10.000.000.000,00 disediakan di akhir bulan untuk mengisi saldo kas minimal awal bulan berikutnya.
Hasil perhitungan Tabel 4.3 menunjukkan pada bulan Januari 2007 sampai dengan September 2007 Idle Cash tiap bulan mempunyai jumlah yang tidak sedikit. Pada kenyataannya, saldo kas minimal juga menjadi faktor penambah besarnya Idle Cash, karena setiap hari tersedia dana sebesar Rp10.000.000.000,00 untuk mengisi likuiditas Bank Operasional.
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui total Idle Cash selama bulan Januari sampai dengan September sebesar Rp822.567.430.804,00. Perhitungan pada kolom 5 di tabel 4.3 sebenarnya menunjukkan akumulasi dari Idle Cash yang tiap bulan terjadi di Bank Operasional. Perubahan terjadi ketika Treasury Single Account mulai dilaksanakan pada bulan Oktober 2007, di mana di akhir bulan September dan bulan-bulan berikutnya tidak disediakan lagi saldo kas minimal sebesar Rp10.000.000.000,00.
Tabel 4.3 Idle Cash tahun 2007
Bulan Saldo Kas Akhir
(Rp) Saldo Kas Minimal (Rp) Saldo Sisa (Rp) Idle Cash (Rp) 1 2 3 4 = 2─3 5 1 Januari 90.481.065.241 10.000.000.000 80.481.065.241 80.481.065.241 2 Februari 104.517.911.010 10.000.000.000 94.517.911.010 94.517.911.010 3 Maret 91.856.073.304 10.000.000.000 81.856.073.304 81.856.073.304 4 April 108.319.854.789 10.000.000.000 98.319.854.789 98.319.854.789 5 Mei 103.039.534.786 10.000.000.000 93.039.534.786 93.039.534.786 6 Juni 101.380.849.013 10.000.000.000 91.380.849.013 91.380.849.013 7 Juli 101.920.271.355 10.000.000.000 91.920.271.355 91.920.271.355 8 Agustus 98.305.040.643 10.000.000.000 88.305.040.643 88.305.040.643 9 September 102.746.830.663 0 102.746.830.663 102.746.830.663 10 Oktober 94.700.750.435 0*) 94.700.750.435 0 11 November 87.037.365.431 0*) 87.037.365.431 0 12 Desember 108.394.109.091 0*) 108.394.109.091 0 1.192.699.655.761 822.567.430.804 Total No.
Sumber: Data Sekunder diolah sendiri Keterangan: *) mulai diterapkan TSA
Tabel 4.4 Idle Cash Tahun 2016
Bulan Saldo Kas Akhir
(Rupiah) Saldo Kas Minimal (Rupiah) Saldo Sisa (Rupiah) Idle Cash (Rupiah) 1 2 3 4 = 2─3 5 1 Januari 35.456.080.521 0 0 0 2 Februari 34.917.881.941 0 0 0 3 Maret 34.966.745.636 0 0 0 4 April 37.165.560.846 0 0 0 5 Mei 34.295.588.389 0 0 0 6 Juni 34.213.623.404 0 0 0 7 Juli 34.032.463.900 0 0 0 8 Agustus 34.102.336.725 0 0 0 9 September 33.883.695.720 0 0 0 10 Oktober 33.759.353.207 0 0 0 346.793.330.289 0 No. Total
Sumber: Data sekunder diolah sendiri
Setelah bulan September 2007 sudah sepenuhnya dilaksanakan Treasury Single Account, saldo kas minimal adalah nihil dan tidak ada lagi Idle Cash yang terjadi setiap bulannya karena dilakukan pelimpahan dana dari Bank Operasional ke bank Sentral sehingga Idle Cash yang terjadi setelah penerapan Treasury Single Account adalah nihil seperti pada tabel 4.4. Uang yang masuk dan keluar tiap harinya hanya melalui satu rekening yaitu Rekening Kas Umum Negara. Dana yang keluar untuk membiayai pengeluaran berdasarkan
Perencanaan Kas untuk pengeluaran, jika menimbulkan saldo lebih yaitu pengeluaran lebih sedikit daripada Perencanaan Kas, maka akan disetorkan pada Rekening Kas Umum Negara pada hari itu juga.
Dari analisis tersebut dapat diketahui bahwa penerapan Treasury Single Account pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Yogyakarta menghilangkan Idle Cash yang terjadi sebelum diterapkannya Treasury Single Account. Dapat diketahui tujuan Treasury Single Account untuk