HASIL PENELITIAN
B. Gambaran Pola Sidik Jari
Pola sidik jari dibedakan menjadi empat kategori, yaitu arch, ulnar
loop, radial loop, dan whorl. Distribusi pola sidik jari pada kelompok pasien
LES disajikan dalam tabel 4.3 berikut :
Tabel 4.3 Distribusi Pola Sidik Jari pada Kelompok Pasien LES
(Data primer , 2012)
Tabel 4.3 menyajikan distribusi tipe pola sidik jari tangan meliputi empat pola yaitu arch, ulnar loop, radial loop, dan whorl. Pada kelompok pasien LES, frekuensi tipe pola yang paling sering muncul adalah ulnar loop (54.00%), lalu yang kedua adalah whorl (43.67%), dilanjutkan dengan radial
loop (1.67%) dan arch (0.67%).
Adapun distribusi pola sidik jari pada kelompok responden normal disajikan dalam tabel 4.4 berikut :
Digiti Dexter Digini Dexter
Jumlah % I II III IV V I II III IV V Arch 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 2 0.67% Ulnar Loop 15 12 23 14 20 13 12 20 11 22 162 54.00% Radial Loop 0 3 0 0 0 0 2 0 0 0 5 1.67% Whorl 15 15 7 16 10 17 15 9 19 8 131 43.67% Jumlah 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 300 100.00%
Tabel 4.4 Distribusi Pola Sidik Jari pada Kelompok Responden Normal
Digiti Dexter Digini Dexter
Jumlah % I II III IV V I II III IV V Arch 1 2 0 0 0 1 2 1 0 0 7 2.33% Ulnar Loop 25 16 24 13 18 16 15 22 15 23 187 62.33% Radial Loop 0 1 0 0 1 0 2 0 0 0 4 1.33% Whorl 4 11 6 17 11 13 11 7 15 7 102 34.00% Jumlah 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 300 100.00% (Data primer , 2012)
Pada kelompok responden normal juga didapatkan frekuensi tipe pola yang tertinggi adalah ulnar loop (62.33%) disusul dengan tipe pola
whorl (34.00%), arch (2.33%) dan yang terakhir adalah radial loop (1.33%).
Data lengkap mengenai gambaran pola sidik jari pada pasien LES dan responden normal disajikan dalam lampiran 1 dan 2.
Pada pasien LES pola arch adalah pola yang paling jarang ditemukan. Hanya dua pasien LES yang memiliki pola tersebut dan masing-masing memiliki satu pola arch di antara kesepuluh jarinya. Hal berbeda ditemukan pada kelompok responden normal. Terdapat tiga responden normal yang memiliki pola arch. Ditemukan masing-masing satu pola arch pada satu responden normal, dua pola arch pada satu responden normal lainnya, dan empat pola arch pada responden normal yang lain.
Pola radial loop adalah pola yang paling jarang ditemukan pada kelompok responden normal. Terdapat empat orang yang memiliki pola tersebut dan masing-masing ditemukan satu pola radial loop di antara kesepuluh jarinya. Pasien LES yang memiliki pola radial loop juga berjumlah
commit to user
pasien LES dan dua pola radial loop pada satu pasien LES lainnya. Meskipun jumlah responden yang memiliki pola radial loop antara kedua kelompok sama, namun jumlah total pola radial loop pada kelompok pasien LES lebih banyak sehingga persentase pola radial loop pada pasien LES lebih besar dibandingkan responden normal.
Terdapat beberapa responden yang di antara kesepuluh jarinya memiliki pola yang sama. Ditemukan satu pasien LES dengan pola ulnar loop pada kesepuluh jarinya dan dua pasien LES dengan pola whorl pada kesepuluh jarinya. Sedangkan pada kelompok responden normal ditemukan hal yang berbeda. Terdapat dua responden normal dengan pola ulnar loop pada kesepuluh jarinya dan satu responden normal dengan pola whorl pada kesepuluh jarinya.
Meskipun pola ulnar loop memiliki frekuensi kemunculan yang paling sering, namun pola tersebut tidak selalu mendominasi apabila dilihat pada masing-masing individu. Yang dimaksud dengan mendominasi di sini adalah pola dengan jumlah terbanyak di antara 10 jari. Pada pasien LES terdapat sepuluh orang dengan pola whorl yang mendominasi atau dapat dikatakan sepertiga dari kelompok pasien LES memiliki ≥ 6 pola whorl. Sedangkan dua pasien LES memiliki jumlah pola whorl dan ulnar loop yang sama (5:5). Sedangkan 18 sisanya memiliki pola sidik jari yang didominasi oleh ulnar loop.
Hal yang berbeda ditemukan pada responden normal. Pada responden normal hanya terdapat enam orang dengan pola whorl yang
mendominasi atau dapat dikatakan seperlima dari kelompok pasien LES memiliki ≥ 6 pola whorl. Sedangkan tiga responden normal memiliki jumlah pola whorl dan ulnar loop yang sama (5:5). Terdapat lebih dari dua pertiga (21 orang) responden normal yang pola sidik jarinya didominasi oleh pola
ulnar loop.
Pada pasien LES, pola whorl memiliki frekuensi kemunculan paling tinggi pada jari IV, I, II, V, dan III secara berurutan. Sedangkan pada kelompok responden normal frekuensi pola whorl dari yang paling tinggi hingga ke paling rendah adalah pada jari IV, II, V, I, III.
Pola ulnar loop pada pasien LES memiliki frekuensi kemunculan paling tinggi pada jari III, V, I, IV, dan II secara berurutan. Sedangkan pada kelompok responden normal frekuensi pola ulnar loop dari yang paling tinggi hingga ke paling rendah adalah pada jari III, I, V, II, dan IV. Frekuensi pola
ulnar loop pada jari dan I dan V responden normal adalah sama.
Pada pasien LES, pola radial loop hanya ditemukan pada jari II. Sedangkan pada kelompok responden normal pola radial loop hanya ditemukan pada jari II dan V.
Pola arch pada pasien LES hanya ditemukan pada jari II dan III dengan frekuensi kemunculan yang sama. Sedangkan pada kelompok responden normal pola arch ditemukan pada jari II, I, dan III secara berurutan.
commit to user C. Analisis Statistik
Sebelum melakukan analisis statistik maka perlu dilihat karakteristik dari tiap parameter yang diuji. Berikut adalah karakteristik nilai TRC, PII, dan sudut atd telapak tangan kanan dan kiri pada kelompok pasien LES dan kelompok responden normal yang disajikan dalam bentuk tabulasi.
1. Nilai Jumlah Guratan Total (TRC) Sampel pada Dua Kelompok Penelitian Tabel 4.5 berikut ini menyajikan karakteristik jumlah total guratan (TRC) pada dua kelompok penelitian
Tabel 4.5 Karakteristik Jumlah Guratan Total (TRC) pada Dua Kelompok Penelitian
n Mean Median Standard
Deviasi Minimum Maksimum TRC
LES 30 154.10 163 34.60 77 217
Responden
Normal 30 143.13 150 37.64 77 236
(Data primer , 2012)
Berdasarkan tabel 4.5 di atas, rerata jumlah TRC pada kelompok pasien LES adalah 154.10 dengan nilai terendah 77 dan nilai tertinggi 217. Sedangkan pada kelompok responden normal didapatkan reratanya adalah 143.13 dengan nilai terendah 77 dan nilai tertinggi 236. Dengan demikian terdapat perbedaan rerata di mana kelompok pasien lupus memiliki nilai TRC lebih tinggi dibandingkan kelompok responden normal.
2. Nilai Indeks Intensitas Pola (PII) Sampel pada Dua Kelompok Penelitian Adapun karakteristik Indeks Intensitas Pola (PII) pada dua kelompok penelitian dipaparkan pada tabel 4.6 berikut :
Tabel 4.6 Karakteristik Indeks Intensitas Pola (PII) pada Dua Kelompok Penelitian
n Mean Median Standard
Deviasi Minimun Maksimum PII
LES 30 14.30 14 3.13 10 20
Responden
Normal 30 13.17 12.50 3.15 8 20
(Data primer , 2012)
Berdasarkan tabel 4.6 di atas, besar rerata untuk PII pada kelompok LES adalah 14.30 dengan rentang nilai antara 10 hingga 20. Pada kelompok responden normal nilai rerata PII yang didapat adalah 13.17 dengan rentang nilai antara 8 hingga 20. Terdapat perbedaan rerata di mana kelompok pasien LES memiliki nilai PII lebih tinggi dibandingkan kelompok responden normal.
3. Besar Sudut atd Telapak Tangan Sampel pada Dua Kelompok Penelitian Tabel 4.7 di bawah ini menyajikan karakteristik besar sudut atd pada telapak tangan kanan dua kelompok penelitian.
Tabel 4.7 Karakteristik Besar Sudut atd Telapak Tangan Kanan pada Dua Kelompok Penelitian
n Mean Median Standard
Deviasi Minimum Maksimum Sudut atd LES 30 41.330 40.250 5.160 330 560 Responden Normal 30 41.40 0 410 4.730 330 500 (Data primer , 2012)
Sedangkan karakteristik besar sudut atd telapak tangan kiri pada dua kelompok penelitian disajikan pada tabel 4.8 berikut :
commit to user
Tabel 4.8 Karakteristik Besar Sudut atd Telapak Tangan Kiri pada Dua Kelompok Penelitian
n Mean Median Standard
Deviasi Minimum Maksimum Sudut atd LES 30 41.520 400 4.680 350 530 Responden Normal 30 41.77 0 420 3.970 330 47.500 (Data primer , 2012)
Berdasarkan tabel di atas ditemukan bahwa nilai rerata untuk besar sudut atd pada telapak tangan kanan kelompok pasien lupus adalah 41.330 dengan rentang nilai antara 330 hingga 560, dan untuk kelompok responden normal reratanya adalah 41.400 dengan rentang nilai antara 330 hingga 500. Sedangkan untuk besar rerata sudut atd pada telapak tangan kiri kelompok pasien lupus adalah 41.520 dengan rentang nilai 350 hingga 530, dan untuk kelompok responden normal reratanya adalah 41.770 dengan rentang nilai antara 330 hingga 47.500.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik (tipe pola sidik jari) dan uji parametrik (TRC, PII, sudut atd). Uji parametrik menggunakan uji t tidak berpasangan. Bila tidak memenuhi ketentuan maka dilakukan uji alternatifnya. Sedangkan uji non parametrik yang digunakan adalah uji Chi
square atau uji alternatifnya ( Uji Kolmogorov-Smirnov) jika tidak
memenuhi ketentuan.
Nilai derajat kemaknaan yang digunakan adalah 0.05. Apabila nilai p < 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak yang artinya terdapat perbedaan signifikan pola dermatoglifi tangan pada
pasien LES dengan tangan orang normal. Analisis statistik diolah menggunakan Statistical Product and Service Solution (SPSS) 16 for
Windows.
Untuk mengetahui normalitas data pada penelitian ini, digunakan uji Kolmogorov-Smirnov (α = 0.05) karena jumlah sampel yang digunakan adalah 60 orang (> 50). Hasil uji normalitas data dengan Smirnov dapat dilihat pada lampiran 3. Nilai p dari hasil uji Kolmogorov-Smirnov disajikan pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.9 Hasil Uji Normalitas dengan Uji Kolmogorov-Smirnov
TRC PII Sudut atd Dexter Sudut atd dexter Lupus Normal Lupus Normal Lupus Normal Lupus Normal p 0.173 0.2 0.149 0.066 0.089 0.2 0.047 0.2
Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa data nilai TRC, PII, sudut atd dexter dan sudut atd dexter pada kelompok responden normal memiliki nilai p > 0.05 sehingga menunjukkan bahwa sebaran data pada masing-masing variabel adalah normal. Namun nilai p pada sudut atd dexter kelompok lupus adalah 0.047 (< 0.05), maka distribusi data tidak normal sehingga syarat uji parametrik belum terpenuhi. Perlu dilakukan transformasi data untuk memperoleh distribusi data normal. Transformasi yang dilakukan adalah melalui cara 1/square root, selanjutnya dilakukan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan didapatkan nilai p = 0.136 (p > 0.05) sehingga dapat dinyatakan distribusi normal. Setelah distribusi
commit to user
Oleh karena semua ketentuan telah terpenuhi maka uji t tidak berpasangan bisa dilakukan. Apabila ketentuannya tidak terpenuhi maka uji hipotesis alternatif yang dilakukan berupa uji Mann-Whitney.
Hasil uji t tidak berpasangan untuk TRC, PII, besar sudut atd telapak tangan kanan dan kiri dapat dilihat pada lampiran 4. Nilai p dari hasil uji t tidak berpasangan disajikan dalam tabel di bawah ini :
Tabel 4. 10 Nilai p dari Uji t Tidak Berpasangan untuk TRC, PII, dan sudut atd.
Variabel t p
TRC 1.175 0.245
PII 1.397 0.163
Sudut atd dexter -0.052 0.959
Sudut atd sunistra 0.771 0.771
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai p pada TRC, PII, Sudut atd dexter, dan sudut atd dexter lebih besar dari 0.05 sehingga Ha ditolak dan Ho diterima. Ini artinya tidak terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara besar jumlah total guratan ( TRC), Pattern Intensity
Index (PII), dan besar sudut atd baik pada telapak tangan kanan maupun
tangan kiri pada kelompok pasien LES dengan responden normal .
Uji non parametrik untuk mencari perbedaan tipe pola sidik jari antara kelompok LES dan responden normal yang digunakan adalah uji Chi Square. Analisis dilakukan apabila telah memenuhi syarat uji Chi
Square yaitu sel yang mempunyai nilai expected kurang dari 5, maksimal
commit to user
alternatifnya berupa uji Kolmogorov-Smirnov (uji alternatif tabel 2 x k) (Dahlan, 2011).
Berdasarkan uji Chi Square ditemukan terdapat beberapa variabel yang mempunyai nilai expected kurang dari 5 melebihi 20% dari jumlah sel. Karena tidak memenuhi syarat uji Chi Square dan tabel merupakan tabel 2 x K maka uji alternatif yang digunakan adalah uji Kolmogorov-Smirnov. Perbedaan pola sidik jari I, II, dan V pada tangan kanan, serta pola sidik jari I, II, dan III pada tangan kiri diketahui menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Sedangkan perbedaan pola sidik jari III dan IV tangan kanan serta pola sidik jari IV dan V tangan kiri diketahui menggunakan uji Chi Square. Tabel mengenai hasil uji SPSS Chi Square dan uji Kolmogorov-Smirnov ditampilkan dalam lampiran 5 dan 6. Berikut ini tabel 4.11 hingga tabel 4.20 menyajikan nilai p dan frekuensi untuk tipe pola dermatoglifi pada masing-masing jari.
Tabel 4. 11 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov Digiti Dexter I Kategori Tipe Pola Dermatoglifi
p
Arch Ulnar Loop Radial Loop Whorl
n % n % n % n %
LES 0 0 15 50 0 0 15 50 0.035
Normal 1 3.3 25 83.3 0 0 4 13.3
Tabel 4. 12 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov Digiti Dexter II Kategori Tipe Pola Dermatoglifi
p
Arch Ulnar Loop Radial Loop Whorl
n % n % n % n %
LES 0 0 12 40 3 10 15 50 0.586
commit to user
Tabel 4. 13 Hasil Uji Chi Square Digiti Dexter III Kategori Tipe Pola Dermatoglifi
p
Arch Ulnar Loop Radial Loop Whorl
n % n % n % n %
LES 0 0 23 76.7 0 0 7 23.3 0.754
Normal 0 0 24 80 0 0 6 20
Tabel 4. 14 Hasil Uji Chi Square Digiti Dexter IV Kategori Tipe Pola Dermatoglifi
P
Arch Ulnar Loop Radial Loop Whorl
n % n % n % n %
LES 0 0 14 46.7 0 0 16 53.3 0.795
Normal 0 0 13 43.3 0 0 17 56.7
Tabel 4. 15 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov Digiti Dexter V Kategori Tipe Pola Dermatoglifi
P
Arch Ulnar Loop Radial Loop Whorl
n % n % n % n %
LES 0 0 20 66.7 0 0 10 33.3 1.000
Normal 0 0 18 60 1 3.3 11 36.7
Tabel 4. 16 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov Digiti Dexter I Kategori Tipe Pola Dermatoglifi
P
Arch Ulnar Loop Radial Loop Whorl
n % n % n % n %
LES 0 0 13 43.3 0 0 17 56.7 0.952
commit to user
Tabel 4. 17 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov Digiti Dexter II Kategori Tipe Pola Dermatoglifi
p
Arch Ulnar Loop Radial Loop Whorl
n % n % n % n %
LES 1 3.3 12 40 2 6.7 15 50 0.952
Normal 2 6.7 15 50 2 6.7 11 36.7
Tabel 4. 18 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov Digiti Dexter III Kategori Tipe Pola Dermatoglifi
p
Arch Ulnar Loop Radial Loop Whorl
n % n % n % n %
LES 1 3.3 20 66.7 0 0 9 30 1.000
Normal 1 3.33 22 73.3 0 0 7 23.3
Tabel 4. 19 Hasil Uji Chi Square Digiti Dexter IV Kategori Tipe Pola Dermatoglifi
p
Arch Ulnar Loop Radial Loop Whorl
n % n % n % n %
LES 0 0 11 36.7 0 0 19 63.3 0.297
Normal 0 0 15 50 0 0 15 50
Tabel 4. 20 Hasil Uji Chi Square Digiti Dexter V Kategori Tipe Pola Dermatoglifi
p
Arch Ulnar Loop Radial Loop Whorl
n % n % n % n %
LES 0 0 22 73.3 0 0 8 26.7 0.766
Normal 0 0 23 76.7 0 0 7 23.3
Berdasarkan tabel 4. 11 hingga tabel 4. 20 dapat dilihat bahwa pada jari I dexter nilai p yang didapat adalah 0.035 (α < 0.05) sehingga dapat
commit to user
dexter antara kelompok pasien LES dengan responden normal. Sedangkan
pada ke sembilan jari lainnya didapatkan bahwa nilai p > 0.05 sehingga bisa disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan pola sidik jari pada jari tangan kanan nomor II, III, IV, V, dan seluruh jari pada tangan kiri pada kelompok pasien LES dan responden normal.
. Selain itu juga dilakukan uji analisis beda proporsi pola dermatoglifi pada 10 jari (jumlah total) dengan menggunakan uji alternatif Kolmogorov-Smirnov. Berikut adalah tabel mengenai frekuensi dan nilai p dari hasil uji perbedaan pola sidik jari di 10 jari :
Tabel 4. 21 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov Pola Dermatoglifi 10 Jari Kategori Tipe Pola Dermatoglifi
p
Arch Ulnar Loop Radial Loop Whorl
n % n % n % n %
LES 2 0.7 162 54 5 1.7 131 43.7 0.100 Normal 7 2.3 187 62.3 4 1.3 102 34
Berdasarkan tabel 4. 21 bisa dilihat nilai p > 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan proporsi pola sidik jari pada keseluruhan jari (10 jari).
commit to user 60 BAB V PEMBAHASAN
Kelompok penelitian terdiri dari kelompok pasien LES dan kelompok responden normal. Dalam penelitian ini jumlah responden perempuan pada kelompok pasien LES adalah 28 orang (93.3%) dan sampel laki-laki pasien LES berjumlah 2 orang (6.7%). Hal ini sesuai dengan prevalensi penyakit LES yang mana perbandingan antara perempuan dan laki-laki adalah 10: 1 (Manson, 2005). Sedangkan pada kelompok responden normal jumlah sampel perempuan yang didapatkan adalah 26 orang (86.7%) dan sampel laki-laki berjumlah 4 orang (13.3%). Dikarenakan proporsi laki-laki yang sangat sedikit dibandingkan dengan responden perempuan, maka dalam proses analisis tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan.
Distribusi usia responden penelitian yang didapatkan memiliki rentang dari 17 tahun hingga 52 tahun dengan nilai terendah pada kelompok pasien LES adalah 19 tahun dan nilai terendah pada responden normal 17 tahun. Sedangkan nilai tertinggi untuk kelompok pasien adalah 52 tahun dan nilai tertinggi untuk responden normal adalah 22 tahun. Usia terbanyak pada pasien LES adalah 20 hingga 50 tahun (90%). Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa penyakit LES sering mengenai perempuan pada usia produktif (15-45 tahun) (Hahn, 2004). Sedangkan rentang usia pada responden normal adalah 17 hingga 22 tahun dikarenakan seluruh responden normal adalah Mahasiswa FK UNS.
commit to user
Dengan demikian terdapat perbedaan variasi umur antara kedua kelompok. Tetapi seperti yang diketahui bentuk pola sidik jari dan jumlah guratan tidak akan mengalami perubahan seiring berjalannya usia seseorang. Sehingga variasi yang luas dari usia pada sampel tidak akan memberikan pengaruh pada hasil penelitian. Menurut Rafiah et al. (1990) guratan epidermis pada perempuan bersifat lebih halus dibandingkan pada pria dan makin lanjut usia dapat menyebabkan makin kendurnya tegangan dermis sehingga terkadang guratan tidak nampak jelas. Usia 14-16 tahun dianggap sebagai usia saat pola dermatoglifi paling nampak jelas (Okajima, 1966).
Penilaian tipe pola sidik jari pada penelitian ini dibagi menjadi 4 kategori, yaitu arch, ulnar loop, radial loop, dan whorl. Pada pasien LES frekuensi pola yang paling tinggi adalah ulnar loop (54%), lalu yang kedua adalah whorl (43.67%), dilanjutkan dengan radial loop (1.67%) dan arch (0.67%). Pada kelompok responden normal juga didapatkan frekuensi tipe pola yang tertinggi adalah ulnar loop (62.33%) disusul dengan tipe pola whorl (34%), arch (2.33%) dan yang terakhir adalah radial loop (1.33%). Hal ini sesuai dengan penelitian-penelitian terdahulu dimana ulnar loop merupakan tipe pola yang paling sering muncul pada ujung jari. Berikut disampaikan beberapa hasil penelitian mengenai frekuensi pola sidik jari pada orang Indonesia.
Tabel 4. 22 Frekuensi tipe pola sidik jari pada beberapa penelitian
Kelompok n Frekuensi ( % ) Peneliti Arch Ulnar Loop Radial Loop Whorl
Umum 108 2.50 63.31 4.16 31.01 Rafiah et al. (1980) Mahasiswa 106 1.60 58.36 2.73 37.26 Suryadi (1993) Dayak Meratus 65 4.62 67.07 2.7 7 25.54 Rosida et al.
commit to user
(2005)
Verbov (1970) mengatakan bahwa pada umumnya kurang lebih 5% bentuk sidik jari pada ujung jari tangan adalah tipe arch, 65-70 % adalah tipe loop dan 25-30 % adalah tipe whorl. Hasil seperti ini juga didapatkan pada kelompok penelitian responden normal dimana frekuensi pola arch adalah 2.3 %, pola loop adalah 63.6 % dan pola whorl adalah 34 %. Namun terdapat perbedaan frekuensi pola sidik jari pada kelompok pasien LES dimana frekuensi pola arch hanya 0.7%, sedangkan pola loop adalah 55.7 % dan pola whorl sebesar 43.7 %. Dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan frekuensi pola whorl dan penurunan frekuensi pola loop dan archus pada kelompok pasien LES dibandingkan dengan kelompok responden normal dan penelitian-penelitian terdahulu yang telah dilakukan.
Hasil uji Chi Square untuk proporsi tipe pola sidik jari pada 10 jari menunjukkan nilai p adalah 0.04 (p < 0.05). Terdapat syarat uji Chi Square yang tidak terpenuhi maka selanjutnya dilakukan uji alternatifnya, yaitu uji Kolmogorov-Smirnov dan didapatkan nilai p > 0.05 (p = 0.100). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ha ditolak, yaitu tidak terdapat perbedaan signifikan proporsi tipe pola sidik jari pada 10 sidik jari pasien LES dibandingkan dengan responden normal.
Uji statistik juga dilakukan pada masing-masing jari. Pada jari I dexter nilai p < 0.05 (0.035) sehingga bisa disimpulkan Ha diterima yaitu terdapat perbedaan frekuensi yang signifikan pola dermatoglifi pada jari I dexter antara kelompok pasien LES dengan responden normal. Tidak ditemukan perbedaan
commit to user
dapat disimpulkan Ha ditolak dan Ho diterima atau tidak terdapat perbedaan signifikan proporsi pola sidik jari II, III, IV, V dextra dan I, II, III, IV, V sinistra antara pasien LES dengan responden normal.
Pola whorl pada jari I dexter kelompok pasien LES (50%) mengalami peningkatan frekuensi dibandingkan pada kelompok responden normal (13.3 %). Perbedaan frekuensi pola whorl ini signifikan secara statistik. Berdasarkan sebaran frekuensinya, pola whorl paling sering ditemukan pada jari I dan IV dengan frekuensi pada tangan kanan lebih besar dibandingkan tangan kiri. Menurut Bonnevie, pembentukan tipe pola whorl dipengaruhi oleh faktor genetik di mana terutama untuk pola whorl dengan inti berjumlah dua dipengaruhi oleh gen yang bersifat dominan. Sedangkan untuk tipe pola arch gen yang berpengaruh bersifat resesif dan untuk tipe pola ulnar loop gen yang berpengaruh adalah gen yang paling dominan. Itulah mengapa pola ulnar loop memiliki frekuensi pola sidik jari yang paling tinggi (Cummins dan Midlo, 1961). Permulaan onset pembentukan formasi guratan primer pada jari mempengaruhi tipe pola sidik jari yang terbentuk. Tipe pola whorl berkaitan dengan onset pembentukan formasi guratan yang terjadi sejak awal, tipe arch berkaitan dengan proses pembentukan formasi guratan yang belakangan. Sedangkan tipe loop ada di antaranya. Selain itu apabila terdapat sindrom klinis yang menahan proses perkembangan embriologi dan menurunkan maturasi perkembangan maka cenderung akan meningkatkan frekuensi pola arch dan menurunkan frekuensi pola whorl yang terbentuk (Babler, 1991). Pada penelitian kali ini terdapat
peningkatan frekuensi pola whorl maka dua hal di atas kemungkinan tidak terjadi pada pasien LES.
Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Qazi et al. (1974) dengan subjek penelitian orang kulit hitam. Pada penelitian tersebut justru didapatkan peningkatan frekuensi pola ulnar loop dan penurunan frekuensi pola whorl yang signifikan dibandingkan dengan kontrol. Menurut Qazi hasil penelitian tersebut tidak dapat digunakan sebagai landasan penggunaan dermatoglifi sebagai alat diagnosis penyaring untuk LES, namun menggambarkan karakteristik genetik ketika masa intrauterin yang dapat digunakan untuk memahami landasan genetika penyakit LES.
Simpulan yang sama juga didapatkan oleh Schur (1990). Hasil penelitiannya mengatakan terdapat perbedaan secara signifikan pola dermatoglifi telapak tangan dan perubahan tempat triradius lateral kiri antara pasien LES, kerabat pasien, dan responden normal. Menurut Schur investigasi mengenai dermatoglifi tidak memberikan petunjuk yang jelas untuk memahami LES.
Selain menganalisis pola sidik jari yang bersifat kualitatif, pengukuran dermatoglifi secara kuantitatif juga dilakukan pada penelitian ini. Pengukuran kuantitatif dermatoglifi jari tangan yang dilakukan adalah jumlah guratan total (TRC) dan indeks intensitas pola (PII). Jumlah guratan dapat mengartikan seberapa besar ukuran dari pola sidik jari. Sedangkan PII adalah jumlah triradius total yang dimiliki oleh keseluruhan jari tangan sehingga dapat mencerminkan tingkat kompleksitas dari pola dermatoglifi (Verbov, 1970; Zhou, 2001).
commit to user
Rerata jumlah guratan total (TRC) pada kelompok pasien LES (154.10) tidak berbeda secara signifikan dibandingkan dengan rerata jumlah guratan total (TRC) pada kelompok responden normal (143.13) karena p > 0.05 (p = 0.245). Menurut Todd (2006) TRC merupakan parameter dermatoglifi yang sangat tepat