Han Indo Jaya merupakan usaha berskala rumah tangga yang memproduksi minuman lidah buaya dengan merk dagang My Koki. Tempat produksi Han Indo Jaya terletak di perumahan Anggaswangi, Sidoarjo. Han indo Jaya memulai produksi nya pada tahun 2011 dengan menggunakan modal
20
perseorangan.Han Indo Jaya merupakan usaha berskala mikro dengan total asset kurang dari Rp 50 000 000 dan total omzet kurang dari Rp 300 000 000 per tahun.
Produk yang diproduksi oleh Han Indo Jaya ialah minuman siap saji dengan potongan lidah buaya. Minuman di kemas dalam beberapa bentuk dengan ukuran botol ukuran 240 gram, gelas ukuran 120 gram dan 240 gram, serta kemasan plastik 1 kilogram. Minuman lidah buaya yang diproduksi menggunakan perasa anggur dan leci dengan tambahan selasih ataupun tanpa selasih. Han Indo Jaya juga awalnya memproduksi teh lidah buaya namun produksi nya dihentikan karena produsen ingin fokus ke minuman lidah buaya.
Han Indo jaya memiliki kebun lidah buaya untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan baku. Kebun lidah buaya yang dimiliki terletak di beberapa kota di Jawa Timur seperti Madiun, Kertosono, Malang dan Kediri. Jenis lidah buaya yang digunakan untuk produksi ialah jenis Aloevera chinensis. Han Indo Jaya menerapkan sistem plasma kepada petani kecil dalam mengembangkan lidah buaya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku. Sistem ini digunakan untuk pemberdayaan petani lokal dalam pengembangan komoditas lidah buaya.
Han Indo Jaya terdaftar sebagai salah satu UKM binaan Kabupaten Sidoarjo. Han Indo Jaya sudah memiliki beberapa izin seperti Tanda Daftar Perusahaan, Surat Ijin usaha Perdagangan, Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga, dan Ijin Baku Mutu Limbah Cair.
Proses Produksi
Kegiatan Produksi Han Indo Jaya dilakukan pada hari kerja dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 3 orang. Proses produksi diawali dengan proses pencucian lidah buaya yang kemudian dilanjutkan dengan proses pengupasan. Semua proses tersebut dilakukan dengan tenaga tradisional. Han Indo Jaya memproduksi kurang lebih 1ton/minggu lidah buaya yang memiliki nilai rendemen sebanyak 30%.
Setelah lidah buaya selesai dengan proses pengupasan yang menghasilkan nata lidah buaya, maka dilakukan pemotongan sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Setelah proses pemotongan selesai, lidah buaya dibersihkan dari lendir yang terdapat pada daging lidah buaya. Hal ini dilakukan agar tidak terdapat lendir pada lidah buaya yang akan mengurangi kenikmatan minuman lidah buaya. Tahap selanjutnya setelah pencucian lidah buaya dari lendir, yaitu perendaman lidah buaya dengan air. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi lidah buaya menyusut akibat kadar air yang menguap. Setelah itu, lidah buaya yang sudah direndam dilanjutkan dengan tahap perebusan. Setelah tahap perebusan, lidah buaya ditimbang untuk dimasukkan ke dalam kemasan dan dilanjutkan penambahan sirup. Setelah lidah buaya dan sirup dimasukkan kedalam kemasan, maka tahap selanjutnya yaitu penutupan kemasan menggunakan sealer. Setalah proses pres pada kemasan dilakukan, produk di diamkan pada suhu ruangan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan karena proses pengemasan menggunakan pemanas. Kemasan yang telah didiamkan, lalu dimasukkan kedalam karton dan dicantumkan tanggal kadaluarsa produk. Tahap selanjutnya, produk dapat dikirim ke tempat penjualan ataupun kemitraan untuk dipasarkan.
21
Pemasaran
Kegiatan pemasaran minuman My koki dilakukan Han Indo Jaya dengan mengadakan kerjasama dengan toko, apotek, koperasi, dan tempat olah raga untuk menjual produknya dengan sistem konsinyasi. Pemasaran Han Indo Jaya meliputi beberapa kota di Jawa Timur. Kota – kota seperti Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Malang, Probolinggo, Mojokerto, Ngawi, dan Ponorogo. Kota Sidoarjo dan Surabaya merupakan kota dengan penjualan terbanyak. Kota Sidoarjo dan Surabaya merupakan kota dengan penjualan terbanyak. Hal ini dipengaruhi oleh lokasi produksi yang berada di Sidoarjo dan dekat dengan Surabaya.
Pada Tabel 4 terdapat kota dengan jumlah rata – rata penjualan perbulan yang ditampilkan dalam jumlah karton.
Tabel 4 Nama kota dan jumlah penjualan rata - rata perbulan My Koki
Kota Jumlah rata – rata penjualan perbulan (dalam karton)
Sidoarjo 500 Surabaya 300 Gresik 120 Malang 240 Probolinggo 120 Mojokerto 100 Ngawi 40 Ponorogo 40 Jumlah 1460 Sumber : Han Indo Jaya (diolah)
Karakteristik Konsumen
Karakteristik konsumen didapatkan dari hasil wawancara menggunakan panduan kuisioner yang melakukan pembelian minuman lidah buaya My Koki lebih dari satu kali. Karakteristik konsumen didasari oleh kondisi demografis, perilaku dan psikografis menggunakan variabel gaya hidup AIO (activities, interest, dan opinion).
Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan terhadap konsumen minuman lidah buaya My Koki, persentase konsumen wanita lebih banyak dibandingkan dengan konsumen pria dengan persentase 64.70 persen dibanding 35.30 persen. Persentase konsumen minuman lidah buaya dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Jumlah dan persentase konsumen berdasarkan jenis kelamin
Jenis kelamin Jumlah(orang) Persentase(persen)
Pria 12 35.30
Wanita 22 64.70
Dari Tabel diatas terlihat bahwa jumlah konsumen wanita lebih banyak dibandingkan konsumen pria. Hal ini disebabkan konsumen wanita lebih mengutamakan manfaat bagi kesehatan dan lebih peka terhadap produk yang
22
sudah dibelinya. Wanita lebih mengatur produk yang ingin dikonsumsinya dan lebih memilih produk yang bermanfaat bagi keluarganya.
Usia
Hasil yang didapatkan berdasarkan survei yang dilakukan, usia konsumen sangat bervariatif. Berdasarkan hasil yang didapatkan, konsumen minuman lidah buaya berada pada rentang umur 19 tahun hingga 58 tahun. Pada rentang umur 19-25 tahun persentase konsumen sebanyak 5 orang atau 14.70 persen. Untuk rentang umur 26-35 tahun, jumlah konsumen berjumlah 7 orang atau sebanyak 20.58 persen. Pada rentang umur 36- 45 tahun berjumlah sebanyak 11 orang atau 32.35 persen. Pada rentang umur 46-55 tahun, terdapat 10 orang atau dengan persentase 29.41 persen. Pada rentang umur 56-65 tahun, terdapat 1 orang atau dengan persentase 2.94 persen. Sebaran konsumen menurut usia dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 jumlah dan persentase konsumen berdasarkan rentang umur
Rentang umur (tahun) Jumlah(orang) Persentase(persen)
19-25 5 14.71
26-35 7 20.58
36-45 11 32.35
46-55 10 29.41
56-65 1 2.95
Berdasarkan data yang didapatkan dari hasil survei, konsumen terbanyak berada pada rentang umur 36-45 tahun dengan jumlah sebanyak 11 orang. Pada tahap ini, konsumen telah memasuki tahap dewasa akhir dimana pada tahap merupakan tahap peralihan menjadi tahap lansia awal. Tahap ini menjadikan konsumen untuk mulai lebih konsen terhadap kesehatan dan menyaring makanan dan minuman yang baik bagi keluarganya. Konsumen dengan rentang umur 46-45 tahun merupakan konsumen paling banyak setelah konsumen dengan rentang umur 36-45 tahun. Pada tahap ini, manusia telah memasuki tahap lansia awal dimana konsumen sudah harus menjaga kondisi kesehatan dikarenakan kesehatan harus di kelola dengan baik.
Status Pernikahan dan Jumlah Tanggungan Dalam Keluarga
Status pernikahan dan jumlah tanggungan dalam keluarga merupakan salah satu variabel yang dapat mempengaruhi pembelian suatu produk. Produk yang dibeli dipertimbangkan apabila ingin digunakan untuk keluarga. Manfaat dan komposisi produk menjadi acuan dalam mengkonsumsi produk yang dapat dikonsumsi oleh keluarga. Dari hasil survei yang didapatkan sebanyak 24 konsumen atau sebanyak 76.6 persen merupakan konsumen yang sudah menikah, sedangkan 10 konsumen atau 29.4 persen merupakan konsumen yang belum menikah. Sebaran konsumen berdasarkan status pernikahan dapat dilihat pada Tabel 7.
Berdasarkan hasil survei, konsumen terbanyak ialah pembeli yang sudah menikah. Hal ini mengindikasikan bahwa produk ini sebagai minuman yang berkembang dikalangan keluarga dikarenakan produk ini dapat diminum oleh semua umur dan manfaat yang baik bagi semua anggota keluarga.
23 Tabel 7 Jumlah dan persentase konsumen berdasarkan status pernikahan
Status pernikahan Jumlah (orang) Persentase (persen)
Sudah menikah 24 70.6
Belum menikah 10 29.4
Status pernikahan pada konsumen juga berhubungan dengan jumlah tanggungan dalam keluarga yang dimiliki. Dari 24 orang jumlah konsumen yang sudah menikah, 4 konsumen atau 16.67 persen memiliki jumlah tanggungan dalam keluarga sebanyak 1 orang, 7 konsumen atau 29.16 persen memiliki jumlah tanggungan 2 orang, 5 konsumen atau 20.83 persen memiliki jumlah tanggungan 3 orang, 4 konsumen atau 16.67 persen memiliki jumlah tanggungan lebih atau sama dengan 4 orang, dan 4 konsumen atau 16.67 persen tidak memiliki jumlah tanggungan. Data sebaran konsumen berdasarkan konsumen yang sudah menikah dan memiliki tanggungan dalam keluarga dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Jumlah dan persentase konsumen berdasarkan jumlah tanggungan dalam keluarga
Jumlah tanggungan keluarga Jumlah (orang) Persentase (persen)
1 4 16.67
2 7 29.16
3 5 20.83
≥4 4 16.67
0 4 16.67
Pembelian produk yang didasari dengan jumlah tanggungan dalam keluarga didasari oleh pertimbangan produk yang layak dikonsumsi bagi keluarga. Produk My Koki yang layak dikonsumsi bagi seluruh tingkat kalangan umur meningkatkan tingkat konsumsi yang terjadi.
Tingkat Pendidikan
Hasil survei dalam mengelompokkan konsumen minuman lidah buaya berdasarkan tingkat pendidikan menunjukkan bahwa konsumen terbanyak dari minuman lidah buaya berpendidikan Strata-1 (S1) yang berjumlah 18 atau sebanyak 52.94 persen. Pada penelitian ini tidak terdapat konsumen yang berpendidikan Sekolah Dasar, Diploma, dan Strata-3 (S3). Konsumen yang berpendidikan Sekolah Menengah Pertama berjumlah 1 orang atau sebesar 2.95 persen. Pada pendidikan Sekolah Menengah Atas, jumlah konsumen berjumlah 11 orang atau berjumlah 32.35 persen. Jumlah dan persentase profil konsumen berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 9.
Dari hasil survei yang dilakukan menunjukkan bahwa jumlah konsumen minuman lidah buaya dengan latar belakang pendidikan S1 lebih banyak dibandingkan dengan tingkat pendidikan lainnya dilanjutkan dengan tingkat Sekolah Menengah Keatas. Berdasarkan hasil survei, produk My Koki banyak dikonsumsi oleh konsumen dengan pendidikan diatas atau sama dengan SMA. Hal ini mengindikasikan produk ini yang bermanfaat dapat diketahui oleh kalangan pendidikan tertentu yang sadar akan kesehatan.
24
Tabel 9 Jumlah dan persentase konsumen berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat pendidikan Jumlah(orang) Persentase(persen)
SD 0 0.00 SMP 1 2.95 SMA 11 32.35 Diploma 0 0.00 Strata – 1 18 52.94 Strata – 2 4 11.76 Strata – 3 0 0.00 Pekerjaan
Pada penelitian ini, pekerjaan dibagi ke 4 kategori yaitu pegawai negeri sipil, pegawai swasta, wiraswasta dan tidak bekerja. Konsumen dengan pekerjaan sebagai pegawai swasta memiliki jumlah yang lebih banyak dibandingkan lainnya dengan jumlah 13 orang atau sebanyak 38.23 persen yang berbeda sedikit dengan konsumen yang memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil dengan jumlah sebanyak 12 orang atau dengan persentase 35.30 persen. Konsumen dengan pekerjaan wiraswasta berjumlah 6 orang atau sebanyak 17.65 persen. Jumlah konsumen yang tidak bekerja pada konsumen berjumlah 3 orang atau sebanyak 8.82 persen. Sebaran konsumen berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10 Jumlah dan persentase konsumen berdasarkan pekerjaan
Pekerjaan Total(orang) Persentase(persen) Pegawai Negeri Sipil 12 35.30
Pegawai Swasta 13 38.23
Wiraswasta 6 17.65
Tidak bekerja 3 8.82
Berdasarkan hasil survei, minuman My Koki dapat mencakup semua konsumen dengan pekerjaan yang berbeda – beda. Banyaknya variasi harga dengan kemasan yang berbeda membantu produk ini dapat menjangkau berbagai konsumen dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda – beda.
Rata – Rata Pendapatan dan Pengeluaran
Karakteristik konsumen penelitian tentang minuman lidah buaya berdasarkan rata – rata pendapatan menunjukkan bahwa semua kalangan dapat mengkonsumsi My Koki. Perhitungan pendapatan bagi konsumen yang tidak memiliki pekerjaan mengikuti jumlah pengeluarannya dalam sebulan. Hal ini dikarenakan konsumen harus mengeluarkan sejumlah dana untuk membeli produk, sehingga dipastikan konsumen memiliki dana untuk membelikan produk tersebut. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, didapatkan sebanyak 26.47 persen atau 9 orang konsumen memiliki pendapatan sebesar kurang dari Rp 1 700 000, 4 orang konsumen atau 11.76 persen dengan pendapatan lebih besar dari Rp 1 700 000 sampai Rp 2 500 000, 7 orang konsumen atau 20.6 persen dengan pendapatan lebih besar dari 2 500 000 sampai Rp 3 500 000, 3 orang konsumen atau 8.82 persen dengan pendapatan lebih dari Rp 3 500 000 sampai Rp 4 500 000 dan selebihnya sebanyak 11 orang konsumen atau 32.35 persen memiliki
25 pendapatan lebih dari Rp 4 500 000. Sebaran konsumen berdasarkan pendapatan dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Jumlah dan persentase konsumen berdasarkan jumlah pendapatan Jumlah pendapatan (Rupiah) Jumlah (orang) Persentase(persen)
≤ 1 700 000 9 26.47
> 1 700 000 – 2 500 000 4 11.76 > 2 500 000 – 3 500 000 7 20.60 > 3 500 000 – 4 500 000 3 8.82
> 4 500 000 11 32.35
Konsumen dengan pendapatan diatas Rp 4 500 000 merupakan konsumen terbanyak dibandingkan dengan konsumen dengan pendapatan dibawah Rp 4 500 000, tetapi jumlah konsumen dengan pendapatan dibawah Rp 1 700 000 berbeda sedikit dengan konsumen dengan pendapatan diatas Rp 4 500 000. Hal ini mengindikasikan bahwa produk ini dapat menjangkau semua kalangan dengan pembagian kelas sesuai pendapatan.
Survei yang dilakukan juga menghasilkan sebaran konsumen My Koki berdasarkan pengeluaran rata – rata perbulan. Hal ini dapat membantu produsen dalam mempetakan konsumen dengan tingkat pengeluaran dan menjadikan sebagai target pasar yang dituju. Didapatkan 10 orang konsumen atau 29.41 persen memiliki pengeluaran rata – rata perbulan kurang atau sama dengan Rp 1 700 000, 6 orang konsumen atau 17.65 persen memiliki pengeluaran rata – rata perbulan lebih besar dari Rp 1 700 000 sampai Rp 2 500 000, 9 orang konsumen atau 26.47 persen memiliki pengeluaran lebih dari Rp 2 500 000 sampai dengan Rp 3 500 000, 3 orang konsumen atau 8.82 persen memiliki pengeluaran lebih dari Rp 3 500 000 sampai Rp 4 500 000 dan 6 orang atau 17.65 memiliki pengeluaran lebih dari Rp 4 500 000 perbulan. Sebaran konsumen berdasarkan pengeluaran rata – rata perbulan dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Jumlah dan persentase konsumen berdasarkan jumlah pengeluaran Jumlah pengeluaran (Rupiah) Jumlah (orang) Persentase(persen)
≤ 1 700 000 10 29.41
> 1 700 000 – 2 500 000 6 17.65 > 2 500 000 – 3 500 000 9 26.47 > 3 500 000 – 4 500 000 3 8.82
> 4 500 000 6 17.65
Dari data yang didapatkan, konsumen dengan pengeluaran dibawah Rp 1 700 000 merupakan yang paling banyak dibandingkan dengan kelas kategori pengeluaran lainnya dilanjutkan dengan konsumen dengan pengeluaran sebanyak Rp 2 500 000 sampai dengan Rp 3 500 000.
Perilaku Pembelian
Berdasarkan survei yang dilakukan dengan mengelompokkan konsumen sesuai dengan perilaku yang berhubungan dengan produk lidah buaya dibagi menjadi beberapa variabel seperti pengenalan awal mengenai produk minuman lidah buaya My Koki, lama konsumsi, manfaat yang dicari dari minuman lidah
26
buaya My Koki, intensitas konsumsi, perencanaan pembelian, dan tingkat loyalitas konsumen terhadap minuman lidah buaya My Koki. Daftar sebaran konsumen berdasarkan pengenalan produk dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13 Jumlah dan persentase konsumen berdasarkan pengenalan produk Pengenalan Jumlah(orang) Persentase(persen)
Teman 8 23.52
Keluarga 3 8.82
Toko atau Warung 6 17.65
Apotek 7 20.60
Iklan 2 5.89
Lainnya 8 23.52
Hasil yang didapatkan mengenai pengetahuan konsumen tentang produk terbagi menjadi 6 pilihan yaitu teman, keluarga, toko atau warung, apotek, iklan dan lainnya. Berdasarkan hasil survei produk My Koki menghasilkan 8 orang atau sebanyak 23.52 persen mengetahui produk dari temannya. Konsumen yang mengetahui produk dari keluarga ada sebanyak 3 orang atau 8.82 persen. Pengenalan produk melalui toko atau warung dipilih konsumen sebanyak 6 orang atau 17.65 persen. Tempat lain untuk pengenalan awal minuman ini seperti apotek dipilih konsumen sebanyak 7 orang atau 20.60 persen. Iklan yang dibuat oleh konsumen seperti dalam pamflet, media sosial, pameran dan web dipilih konsumen sebanyak 2 orang atau 5.89 persen. Pengenalan melalui media atau tempat lainnya dipilih sebanyak 8 orang atau 23.52 persen yang terbagi menjadi beberapa tempat seperti melalui koperasi dan pengenalan produk melalui kemitraan.
Hasil yang didapatkan dari survei mengenai tempat pengenalan konsumen My Koki terbanyak berasal dari teman, koperasi dan kemitraan. Pengenalan produk melalui teman disebabkan oleh produk My Koki terkenal akan manfaatnya. Konsumen yang telah merasakan manfaatnya bercerita ke teman – temannya dan merekomendasikan produk tersebut. Sehingga pengenalan melalui teman cukup banyak dibandingkan dengan lainnya. Pengenalan dengan tahap lainnya termasuk ke dalam koperasi dan kemitraan. Produsen mendistribusikan produk ke koperasi institusi ataupun melalui pengenalan untuk menjadi mitra kerja. Pengenalan produk ini dipengaruhi oleh pihak produsen yang mendistribusikan produknnya melalui koperasi – koperasi yang ada dan kerjasama yang terjadi pada mitra kerja untuk pendistribusian produknya. Iklan yang dipilih 2 konsumen sebagai media pengenalan produk dianggap sedikit dikarenakan promosi melalui iklan untuk produk My Koki belum terlalu difokuskan. Hal ini disebabkan kurangnya tenaga kerja dalam mempromosikan produk tersebut melalui media sosial, web ataupun media promosi lainnya.
Variabel lama konsumsi termasuk kedalam bagian perilaku pembelian. Lama konsumsi mengindikasikan terhadap tingkat loyalitas konsumen terhadap suatu produk. Dari hasil survei yang dilakukan, terdapat 5 sebaran dengan jarak lama konsumsi yaitu 0-7 bulan, 8-14 bulan, 15-22 bulan, 23-29 bulan, dan 30-36 bulan.
Hasil survei menghasilkan jumlah konsumen dengan lama konsumsi minuman My Koki. Lama konsumsi 0-7 bulan untuk minuman lidah buaya
27 sebanyak 16 orang atau 47.00 persen. Pada lama konsumsi antara 8-14 bulan, sebanyak 7 orang atau 20.60 persen. Sebanyak 2 konsumen atau 5.90 konsumen mengkonsumsi minuman lidah buaya selama 15-22 bulan kebelakang. Pada lama konsumsi 23-29 bulan, terdapat 7 konsumen atau 20.6 persen dan pada lama konsumsi 30-36 bulan, terdapat 2 respoden atau sebanyak 5.90 persen. Sebaran konsumen berdasarkan lama konsumsi dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14 Jumlah dan persentase konsumen berdasarkan lama konsumsi
Lama konsumsi (dalam bulan) Jumlah (orang) Persentase (persen) 0-7 16 47.00
8-14 7 20.60
15-22 2 5.90
23-29 7 20.60
30-36 2 5.90
Dari hasil survei yang dilakukan, dapat diperhatikan bahwa jumlah konsumen dengan lama konsumsi 0-7 bulan merupakan yang terbanyak dibandingkan dengan lainnya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya konsumen yang baru mengenal produk ini. Semakin banyaknya tempat penjualan lidah buaya My Koki pun menjadi salah satu faktor semakin banyaknya konsumen baru yang mengkonsumsi minuman lidah buaya My Koki.
Lidah buaya merupakan tanaman yang menawarkan banyak manfaat. Konsumen yang mengkonsumsi minuman lidah buaya mencari manfaat tersebut dengan mengkonsumsi minuman lidah buaya My Koki. Beberapa konsumen mengkonsumsi My Koki dengan mencari manfaat seperti kandungan gizi yang baik bagi tubuh sehingga menjaga kondisi badan, manfaat segar yang diperoleh setelah mengkonsumsi My Koki dan digunakan sebagai obat untuk mengatasi berbagai penyakit.
Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 15 orang atau 44.12 persen konsumen mengkonsumsi My Koki dengan tujuan kandungan gizi yang terdapat pada minuman lidah buaya My Koki baik tubuh. Selain itu sebanyak 13 orang atau 38.24 persen mengkonsumsi My Koki dengan tujuan kesegaran yang didapatkan setelah mengkonsumsi My Koki. Selebihnya sebanyak 6 orang atau 17.64 persen menjadikan My Koki sebagai obat dalam mengatasi berbagai penyakit. Daftar sebaran konsumen berdasarkan manfaat yang dicari dari minuman My Koki dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15 Jumlah dan persentase konsumen berdasarkan manfaat yang dicari Manfaat yang dicari Jumlah (orang) Persentase (persen)
Kandungan gizi 15 44.12
Kesegaran 13 38.24
Obat 6 17.64
Manfaat minuman lidah buaya yang paling dicari dari hasil survei adalah kandungan gizi yang terdapat pada My Koki. Banyaknya kandungan gizi yang terdapat pada lidah buaya seperti serat menjadikan My koki banyak dicari dengan tujuan kandungan gizi yang terdapat di lidah buaya. Selain manfaat kandungan gizi nya, kesegaran merupakan manfaat lainnya yang dicari. Selebihnya, My Koki dijadikan obat untuk beberapa penyakit tertentu. Banyak konsumen yang cocok
28
dalam menyembuhkan penyakit seperti maag dan sariawan sehingga My Koki juga dapat dijadikan sebagai obat.
Keberagaman intensitas konsumen dalam mengkonsumsi minuman lidah buaya sangat beragam. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan produk, manfaat yang dicari, dan kesempatan untuk mengkonsumsi. Dari hasil survei yang dilakukan, sebanyak 22 konsumen atau 64.70 persen mengkonsumsi minuman My Koki 1-2 kali per minggu, sebanyak 6 orang atau 17.64 persen mengkonsumsi 3-4 kali perminggu,3 orang atau 8.83 persen mengkonsumsi 5-6 kali perminggu dan 3 orang mengkonsumsi lebih atau sama dengan 7 kali perminggu. Data sebaran konsumen berdasarkan intensitas konsumsi dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16 Jumlah dan persentase konsumen berdasarkan intensitas konsumsi Intensitas (gelas) Jumlah (orang) Persentase (persen)
1-2 22 64.70
3-4 6 17.64
5-6 3 8.83
≥ 7 3 8.83
Berdasarkan hasil yang diperoleh, menunjukkan bahwa konsumen yang mengkonsumsi dengan intensitas 1-2 gelas perminggu lebih banyak dibandingkan dengan lainnya. Kebiasaan konsumen dalam mengkonsumsi My Koki dengan intensitas 1-2 kali perminggu menunjukkan bahwa konsumen tidak menjadikan My Koki sebagai minuman yang harus diminum melainkan terdapat kesempatan untuk mengkonsumsinya. Perbedaan jumlah konsumsi dengan konsumen yang mengkonsumsi dengan intensitas 3-4 kali dan 5-6 perminggu menunjukkan bahwa konsumen memiliki jadwal rutin untuk mengkonsumsi minuman My Koki. Konsumen yang mengkonsumsi My Koki hinga 7 kali atau lebih dalam seminggu merupakan konsumen yang menjadikan My Koki sebagai minuman wajib konsumsi setiap harinya.
Variabel lainnya berdasarkan komponen perilaku adalah perilaku perencanaan pembelian. Konsumen diberi pertanyaan mengenai kondisi mereka sebelum melakukan pembelian seperti perencanaan terlebih dahulu sebelum melakukan pembelia atau pembelian yang dilakukan secara mendadak. Dari hasil survei yang dilakukan menunjukkan bahwa 5 konsumen atau 14.70 persen membeli My Koki dengan perencanaan terlebih dahulu sehingga dijadwalkan tanggal pembelian selanjutnya, selebihnya sebanyak 29 konsumen atau 85.30 persen memilih untuk membeli langsung tanpa ada perencanaan sebelumnya. Sebaran konsumen berdasarkan kondisi pra pembelian dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17 Jumlah dan persentase konsumen berdasarkan kondisi pembelian Kondisi pembelian Jumlah (orang) Persentase (persen) Perencanaan terlebih dahulu 5 14.70 Tanpa perencanaan 29 85.30
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan menunjukkan bahwa konsumen dengan pembelian mendadak atau tanpa perencanaan pada saat pembelian lebih banyak dibandingkan dengan konsumen dengan pembelian dengan perencanaan
29 terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas konsumen merupakan pembeli spontan atau dengan kondisi keinginan terhadap produk tersebut. Sebaran konsumen berdasarkan tingkat loyalitas dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18 Jumlah dan persentase konsumen berdasarkan kondisi produk apabila tidak tersedia
Kondisi produk tidak tersedia Jumlah (orang) Persentase (persen) Membeli dengan merek berbeda 10 29.4 Tidak membeli merek berbeda 24 70.6
Berdasarkan hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 10 konsumen atau 29.4 persen memilih membeli minuman lidah buaya dengan merek yang berbeda apabila produk My koki tidak tersedia di pasar karena suatu kondisi. Selebihnya sebanyak 24 konsumen atau 70.6 konsumen memilih tidak membeli minuman lidah buaya dengan merek yang berbeda. Konsumen tersebut sudah terbiasa dengan produk My Koki sehingga tidak menggantikan minuman lidah buaya dengan merek lainnya selain My Koki.