• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran IPB dalam Menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi

Undang Undang Perguruan Tinggi 12/2012 mengamanatkan Perguruan Tinggi untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang mencakup tiga unsur, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Gambar 9 memperlihatkan peran IPB dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya di bidang kewirausahaan. Dari Gambar 9 terlihat bahwa pendidikan kewirausahaan khususnya dikembangkan melalui Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen (Dept. AGB), Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian (Dept. TIN), Program Pasca Sarjana Manajemen Bisnis (MB-IPB), dan program Building Entrepreneur Student Activity (BEST) Fakultas Peternakan.

Gambar 9 Peran IPB di bidang kewirausahaan Sumber: Mudde (2015)

Dalam rangka mendorong pelaksanaan Tri Dharma, IPB membentuk lembaga yang dapat mengembangkan program pemberdayaan berbasis penelitian dan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, yaitu Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM-IPB). LPPM-IPB merupakan gabungan dari Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) dan Lembaga Penelitian (LP) yang berdiri sejak tahun tahun 19795. LPPM-IPB memiliki berbagai payung penelitian dan pengabdian masyarakat yang terkait pada aspek sosial, ekonomi, keuangan, budaya dan kelembagaan dengan pembangunan pertanian dan ekonomi.

Dharma pengabdian masyarakat dilaksanakan LPPM melalui berbagai kegiatan pelatihan misalnya, pelatihan kualitas mutu pangan bagi pedagang kaki lima, pelatihan pengembangan e-market dan green technology untuk UKM, serta pelatihan budidaya dan penanganan pasca panen komoditas tertentu. IPB juga mengembangkan berbagai Satuan Usaha berupa Satuan Usaha Akademik (SUA), Satuan Usaha Penunjang, dan Satuan Usaha Komersil (SUK). Tercatat dalam

5 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Sejarah LPPM-IPB. http://LPPM-

IPB.ipb.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=46&Itemid=59 [Februari 2015]

CIVITAS AKADEMIK

IPB PENDIDIKAN Dept. AGB, Dept. TIN,

MB-IPB, Program BEST-Fapet PENELITIAN LPPM-IPB PENGABDIAN MASYARAKAT LPPM-IPB, Satuan Usaha, Organisasi Kemahasiswaan

Mudde (2015), sedikitnya ada tujuh SUK milik IPB seperti ditampilkan pada Tabel 8 sebagai berikut:

Tabel 8 Satuan Usaha Komersial IPB per April 2014

No SUK Produk/Jasa

1 PT Bogor Life Science and Technology IPB holding company

2 PT IPB Press Percetakan buku

3 PT Primakelola Agribisnis Agroindustri Konsultasi

4 PT Biofarindo Produk bio-pharmaceutical

5 PT IPB Shigeta Vaksin flu burung

6 Serambi Botani Outlet produk-produk IPB

7 PT BPR Syari’ah Bina Rahmah Perbankan syariah Sumber: Mudde (2015)

Di samping lembaga penelitian dan satuan usaha yang telah dipaparkan di atas, IPB juga memiliki organisasi-organisasi kemahasiswaan di bidang kewirausahaan seperti KOPMA (Koperasi Mahasiswa), CENTURY (Center of Entrepreneurship Development for Youth), maupun LES (Leadership and Entrepreneurship School). Organisasi-organisasi kemahasiswaan inipun seringkali mengadakan kegiatan pelatihan terkait pemberdayaan masyarakat. Hal tersebut membuktikan bahwa IPB memberikan perhatian khusus diberikan kepada perkembangan sosial ekonomi masyarakat desa wilayah lingkar kampus.

Program Mitra Agribisnis

Program Mitra Agribisnis merupakan bagian dari kolaborasi Netherlands Initiative for Capacity Development in Higher Education (NICHE) dan departemen Agribisnis, sebagai inisiatif pelaksanaan darma pengabdian terhadap masyarakat. Program ini berupa bantuan pinjaman kredit dan pengembangan usaha untuk masyarakat desa yang tinggal dan menjalankan usaha di wilayah lingkar kampus IPB, dengan perhatian khusus kepada wirausaha perempuan.

Program Mitra Agribisnis dilaksanakan selama satu bulan penuh antara Februari sampai dengan Maret 2014. Sasaran dari program ini adalah wirausaha perempuan yang memiliki usaha dan bertempat tinggal di desa lingkar kampus IPB. Mitra Agribisnis dilaksanakan melalui penyaluran kredit modal, pemberian pelatihan pengembangan usaha, dan disertai penelitian terhadap wirausaha perempuan dengan skala gurem di desa wilayah lingkar kampus. Peserta Mitra Agribisnis merupakan 30 wirausaha perempuan yang ada di Desa Cihideung Ilir.

Mitra Agribisnis diberikan kredit tanpa jaminan dengan nominal Rp500.000 per orang. Nominal kredit diberikan sesuai dengan skala usaha para perempuan. Mitra Agribisnis menerapkan bunga sebesar 5 persen dengan jangka waktu selama tiga puluh hari. Sistem pengembalian kredit dilakukan harian, menyesuaikan dengan karakteristik usaha perempuan. Sebelum pelaksanaan, peserta mendapatkan pelatihan manajemen usaha dengan materi: motivasi kewirausahaan, pembukuan keuangan dan konsep pemasaran sederhana. Gambar 10 menunjukkan proses penyaluran kredit Mitra Agribisnis.

Gambar 10 Proses penyaluran kredit Mitra Agribisnis Sumber: Safitri (2014)

6

GAMBARAN UMUM WIRAUSAHA PEREMPUAN

Usia Peserta

Program Mitra Agribisnis di Desa Cihideung Ilir mayoritas dijalankan wirausaha perempuan yang berusia antara 36 hingga 40 tahun sebanyak 27 persen. Pada Gambar 11 dapat dilihat bahwa persentase perempuan yang berusia di antara 21 sampai 25 tahun sebanyak 7 persen, usia di antara 26 sampai 30 tahun sebanyak 3 persen, usia di antara 31 sampai 35 tahun sebanyak 20 persen, usia di antara 41 sampai 45 tahun sebanyak 20 persen, usia 46 hingga 50 tahun sebesar 3 persen, usia di antara 51 sampai 55 tahun sebanyak 7 persen dan usia 55 hingga 60 tahun sebanyak 13 persen.

Gambar 11 Sebaran persentase responden berdasarkan usia 21/25! 7%! 26/30! 3%! 31/35! 20%! 36/40! 27%! 41/45! 20%! 46/50! 3%! 51/55! 7%! 56/60! 13%! Departemen Agribisnis, FEM, IPB Netherlands Initiative for

Capacity Development in Higher Education

Kader Desa

Dosen dan Mahasiswa Peneliti Wirausaha Perempuan

Dapat disimpulkan bahwa perempuan di desa Cihideung Ilir yang banyak berwirausaha adalah perempuan yang berusia di atas 36 tahun sebanyak 70 persen. Faktor peningkatan kebutuhan keuangan pribadi dan rumah tangga merupakan salah satu pendorong perempuan berwirausaha. Peningkatan kebutuhan rumah tangga ini terkait dengan pertambahan jumlah tanggungan dalam keluarga. Maka untuk memenuhi kebutuhan keuangan baik pribadi maupun rumah tangga, dibutuhkan sumber pemasukan keuangan baru yang dapat dilakukan perempuan dengan berwirausaha.

Latar Belakang Pendidikan

Mayoritas peserta program Mitra Agribisnis memiliki latar belakang pendidikan tamat SD/sederajat sebanyak 60 persen, sementara tidak tamat SD sebanyak 10 persen, tamat SMP/sederajat sebanyak 20 persen, dan SMA/sederajat sebanyak 10 persen (Gambar 12). Keterbatasan pendidikan membuat pengetahuan dan keterampilan usaha dari perempuan peserta Mitra Agribisnis terbatas. Produk yang dihasilkan dan dijual oleh mereka merupakan produk pangan olahan yang cenderung sederhana dan dijual secara terbatas. Mayoritas peserta menyatakan tidak pernah mengikuti pelatihan terkait kewirausahaan lain selain yang diberikan oleh program Mitra Agribisnis. Hal ini membuat pengetahuan dan kemampuan manajerial terbatas. Peserta program tidak mementingkan perkembangan usaha mereka melalui inovasi maupun pengembangan usaha.

Gambar 12 Sebaran persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan Keterbatasan pendidikan dan kurangnya pelatihan membuat wirausaha perempuan cenderung lebih menyukai menggunakan kredit informal seperti Bank Keliling dibandingkan kredit formal, karena dianggap memiliki prosedur lebih mudah walaupun memiliki bunga pinjaman yang sangat tinggi. Peserta program Mitra Agribisnis sangat terbiasa dengan pinjaman. Sebagian besar dari mereka meminjam untuk dapat memiliki benda-benda rumah tangga dengan cara mencicil kepada para penjual dengan sistem kredit.

Lama Usaha

Sebanyak 50 persen wirausaha perempuan peserta program Mitra Agribisnis memiliki pengalaman 0 hingga 5 tahun, antara 6 hingga 10 tahun sebanyak 20 persen, dan pengalaman usaha lebih dari 10 tahun sebanyak 30 persen (Gambar 13). Pada wirausaha perempuan di Desa Cihideung Ilir, pengalaman usaha tidak

Tidak!tamat!SD! 10%! SD!/sederajat! 60%! SMP/sederajat! 20%! SMA/sederajat! 10%!

berpengaruh terhadap kondisi usaha peserta program Mitra Agribisnis. Hal ini disebabkan skala usaha yang dijalani oleh perempuan di desa Cihideung Ilir tergolong sangat mikro atau gurem. Sehingga walaupun memiliki pengalaman usaha yang lama, namun jenis usaha yang dijalani sering berganti sehingga lama usaha tidak berpengaruh terhadap kemampuan untuk menjalankan dan mengembangkan usaha.

Gambar 13 Sebaran persentase responden berdasarkan lama usaha

Jumlah Tanggungan Keluarga

Jumlah tanggungan keluarga wirausaha perempuan beragam, mulai dari satu orang sampai dengan enam orang. Suami sebagai kepala rumah tangga tidak termasuk ke dalam tanggungan keluarga. Mayoritas jumlah tanggungan keluarga wirausaha perempuan di Desa Cihideung Ilir adalah kurang dari 4 sebanyak 50 persen, jumlah tanggungan keluarga 4 hingga 6 orang sebesar 40 persen, dan jumlah tanggungan keluarga lebih dari 6 sebanyak 10 persen (Gambar 14).

Faktor peningkatan kebutuhan keuangan pribadi dan kebutuhan keuangan rumah tangga merupakan faktor pendorong perempuan berwirausaha. Peningkatan kebutuhan rumah tangga ini terkait dengan jumlah tanggungan dalam sebuah keluarga. Untuk memenuhi kebutuhan keuangan keluarga, dibutuhkan sumber pemasukan keuangan lain selain dari pendapatan suami, hal ini dapat dilakukan perempuan dengan melakukan kegiatan wirausaha.

Gambar 14 Sebaran persentase responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga 0!/!5!tahun! 50%! 6!/!10!tahun! 20%! >!10! tahun! 30%! <!4! 50%! 4!/!6! 40%! >!6! 10%!

Pekerjaan Suami

Seluruh wirausaha perempuan di Desa Cihideung Ilir peserta program Mitra Agribisnis telah berkeluarga. Peran sebagai wirausaha serta ibu dan istri di dalam rumah dijalankan oleh seluruh perempuan. Suami dari perempuan yang bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 35 persen, supir sebanyak 24 persen, karyawan sebanyak 5 persen, pedagang sebanyak 3 persen, dan lainnya sebanyak 33 persen. Dapat dilihat pada Gambar 15 sebagian dari pekerjaan suami merupakan profesi yang memiliki pendapatan tidak tetap dan tergolong rendah. Sehingga sebagian motivasi wirausaha perempuan adalah keuangan. Mereka menjalankan usaha atas dorongan ekonomi, untuk menambah penghasilan rumah tangga melalui kegiatan wirausaha.

Gambar 15 Sebaran persentase responden berdasarkan pekerjaan suami

Status Perkawinan

Keseluruhan wirausaha perempuan di Desa Cihideung Ilir berstatus kawin dan sekitar 10 persen responden berstatus janda. Status janda terdapat pada responden pada kelompok usia di atas 45 tahun karena suami yang meninggal dunia. Kondisi tersebut menjadi pendorong bagi perempuan yang sudah tidak memiliki suami untuk hidup mandiri dan berwirausaha. Sementara itu, 90 persen perserta program Mitra Agribisnis berstatus kawin, dengan beberapa responden mengalami perceraian dan kembali menikah (Gambar 16).

Gambar 16 Sebaran persentase responden berdasarkan status perkawinan Wiraswasta! 35%! Pedagang! 3%! Karyawan! 5%! Supir! 24%! Lainnya! 33%! Kawin! 90%! Meninggal! 10%!

Jenis Usaha

Mayoritas jenis usaha yang dijalankan oleh perempuan peserta program Mitra Agribisnis di Desa Cihideung Ilir adalah usaha olahan makanan dan minuman dengan persentase sekitar 53 persen. Olahan makanan yang paling banyak dijual adalah aneka gorengan, seperti tempe goreng, bakwan, tahu isi, pisang goreng, risoles, pastel, dan lain-lain. Harga jual dari gorengan berkisar Rp500 hingga Rp1.000 per buah. Selain itu sebagian diantara mereka menjual aneka minuman berupa es rasa buah, kopi, teh, dan lain-lain. Para wirausaha perempuan makanan dan minuman menyatakan bahwa daya beli masyarakat di Desa Cihideung Ilir tergolong rendah sehingga mereka harus menyesuaikan harga produk yang dijual dengan cara menekan biaya produksi. Ini menyebabkan kualitas produk yang dijual tidak dapat berkembang. Salah satu usaha untuk meningkatkan penghasilan usaha adalah dengan menjual produk mereka ke desa di luar Cihideung Ilir, dengan cara menitipkan produk mereka ke warung-warung di sekitar desa dan kampus. Dengan cara ini mereka dapat menjual produk mereka dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan di Desa Cihideung Ilir.

Usaha warung kelontong dijalankan perempuan peserta Program Mitra Agribisnis sebanyak 17 persen. Warung kelontong ini menjual aneka sembako, kebutuhan rumah tangga, dan rokok. Para pemilik warung kelontong ini membeli barang-barang untuk dijual di warung dari Pasar Anyar dan Pasar Ciampea. Para pemilik warung kelontong mengeluhkan sering merasa kekurangan modal karena harga barang persediaan yang mereka beli biasanya cukup tinggi dan mereka tidak bisa mengambil keutungan besar dari penjualan mereka. Perputaran modal usaha mereka terganggu akibat sering diutangi oleh para pembeli.

Usaha lain adalah kredit retail sebanyak 13 persen, usaha ini terdiri dari penjualan perabot rumah tangga, pakaian, dan kosmetik dengan cara kredit, baik harian, mingguan maupun bulanan. Penjualan barang secara kredit ini cukup diminati oleh masyarakat Desa Cihideung Ilir. Berdasarakan observasi di lapangan, kredit merupakan gaya hidup dan kebiasaan di Desa Cihideung Ilir. Pemilikan barang-barang berharga rumah tangga pada umumnya dilakukan dengan cara mencicil. Bentuk jenis usaha lain yang dijalankan oleh perempuan peserta Mitra Agribisnis adalah penjualan usaha olahan kain sebanyak 7 persen. Usaha ini terdiri dari penjualan gordyn, kasur, bantal, dan guling. Sementara usaha warnet sebanyak 3 persen (Gambar 17).

Gambar 17 Sebaran persentase responden berdasarkan jenis usaha dimiliki Olahan!Makanan! dan!Minuman! 53%! Hasil!Pertanian/ Barang!Mentah! 7%! Warung! Kelontong! 17%! Olahan!Kain! 7%! Kredit!Retail! 13%! Warnet! 3%!

Lokasi Usaha

Terdapat perbedaan mencolok antara perempuan peserta Mitra Agribisnis yang menjual produknya di dalam dan di luar desa, terutama dalam harga dan kualitas produk. Gambar 18 menunjukkan 37 persen usaha dilakukan perempuan menyatu dengan tempat tinggal mereka. Sedangkan lokasi usaha yang terpisah dari tempat tinggal sebanyak 63 persen.

Gambar 18 Sebaran persentase responden berdasarkan lokasi usaha

Omset Harian Usaha

Omset harian usaha dari peserta program Mitra Agribisnis relatif kecil. Usaha yang dimiliki wirausaha perempuan dengan omset harian kurang dari Rp50.000 sebanyak 30 persen. Jenis ini sebagian merupakan usaha olahan makanan dan minuman dan retail kredit barang. Terdapat usaha dengan omset harian antara Rp50.000 hingga Rp250.000 sebanyak 33 persen. Usaha ini terdiri dari usaha olahan makanan minuman yang dijual di luar desa, warung sembako, kain olahan, dan warnet. Usaha dengan omset harian antara Rp251.000 hingga Rp500.000 sebanyak 27 persen. Jenis usaha yang memiliki omset ini antara lain warung kelontong, makanan olahan dan minuman, dan hasil pertanian. Terdapat usaha yang memiliki omset harian lebih dari Rp500.000, sebanyak 10 persen. Jenis usaha ini merupakan warung kelontong dan penjualan hasil pertanian (Gambar 19).

Gambar 19 Sebaran persentase responden berdasarkan omset harian Menyatu!dengan! tempat!?nggal! 37%! Terpisah!dari! tempat!?nggal! 63%! <50.000! 30%! 50.000!/! 250.000! 33%! 251.000!/!500.000! 27%! >500.000! 10%!

Modal Awal Usaha

Modal usaha dari peserta program Mitra Agribisnis relatif kecil. Peserta yang berwirausaha dengan modal kurang dari Rp500.000 sebanyak 13 persen, antara Rp500.000 hingga Rp999.999 sebanyak 27 persen, antara Rp1.000.000 hingga Rp2.000.000 sebanyak 47 persen, dan lebih dari Rp2.000.000 sebanyak 13 persen. Hal ini sejalan dengan mayoritas jenis usaha yang dijalankan oleh perempuan peserta Program Mitra Agribisnis yang merupakan usaha dengan skala mikro seperti usaha olahan makanan dan minuman, sehingga tidak memerlukan modal usaha yang besar (Gambar 20).

Gambar 20 Sebaran persentase responden berdasarkan besar modal awal

Sumber Modal Usaha

Mayoritas dari modal usaha bersumber dari tabungan dan/atau dari suami masing-masing sebesar 43 persen. Sebagian lainnya memanfaatkan program maupun lembaga yang memberikan dana pinjaman khusus di wilayan pedesaan. Adapun program dan atau lembaga pemberi dana pinjaman tersebut diantaranya adalah PNPM Mandiri, Posdaya dan MBK.

Terdapat 23 persen perempuan peserta program Mitra Agribisnis menggunakan modal dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. PNPM Mandiri adalah program pemerintah untuk pengentasan kemiskinan berupa pinjaman modal untuk usaha sebesar Rp500.000 hingga Rp.2.000.000, dengan lama pengembalian selama 10 bulan dan tingkat bunga 10 persen.

Sumber modal lain yang diikuti 17 persen perempuan adalah Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya). Program ini juga memberikan pinjaman modal usaha dengan besaran antara Rp500.000 sampai Rp1.000.000 dengan lama pengembalian selama sepuluh bulan dan besaran bunga sebesar 10 persen. Selain itu juga terdapat sebuah lembaga pembiayaan non perbankan, yaitu PT. Mitra Bisnis Keluarga (MBK) Ventura yang diikuti 17 persen perempuan. Lembaga ini memberikan pinjaman mulai dari Rp500.000 dengan lama pengembalian hingga 50 minggu dengan tingkat bunga variatif mulai 20 hingga 25 persen (Gambar 21).

<500,000! 13%! 500,000!/! 999,999! 27%! 1,000,000!!/! 2,000,000! 47%! >!2,000,000! 13%!

Gambar 21 Sebaran persentase responden berdasarkan sumber modal usaha

7

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakter Pribadi dan Modal Sosial Wirausaha Perempuan

Pengukuran indikator dari tiap variabel karakter pribadi, modal sosial, dan kemampuan wirausaha dilakukan dengan skala ordinal yang mengacu pada prinsip skala Likert dengan skala satu sampai dengan lima: Sangat Setuju (SS) diberi skor 5; Setuju (S) diberi skor 4; Cenderung Setuju (CS) diberi skor 3; Tidak Setuju (TS) diberi skor 2; serta Sangat Tidak Setuju (STS) diberi skor 1. Skala ini mengukur persepsi responden terhadap serangkaian pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner.

Karakter Pribadi

Karakter pribadi wirausaha perempuan di Cihideung Ilir dapat dilihat dari identifikasi, tujuan usaha, orientasi usaha, inovasi, dan tanggung jawab. Karakter pribadi adalah penilaian perempuan mengenai karakter yang dimiliki, terbagi ke dalam 5 kategori karakter (1 = sangat rendah, 5 = sangat tinggi) dan seluruhnya sudah termasuk kategori tinggi. Tabel 9 menunjukkan sebaran rataan skor berdasarkan karakter pribadi.

Identifikasi personal memiliki rataan skor 3,90 yang menandakan perempuan peserta program Mitra Agribisnis di Cihideung Ilir memahami bahwa pendidikan berperan terhadap usaha (83,3% setuju). Adapun pelatihan memiliki rataan skor 3,83 (80,0% setuju). Hal ini menandakan bahwa pendidikan informal berupa pelatihan atau penyuluhan juga dianggap penting terhadap kemajuan usaha.

Usia dianggap memiliki peran penting dalam mendorong kemajuan usaha dengan rataan skor sebesar 3,70 (86,7% setuju). Begitu pun dengan dan lama pengalaman usaha yang dianggap berperan penting dalam kemajuan usaha dengan rataan skor sebesar 3,83 (80,0% setuju).

Suami! 43%! PNPM! Mandiri! 23%! Posdaya! 17%! PT!MBK!Ventura! 17%!

Tabel 9 Sebaran rataan skor berdasarkan karakter pribadi

Indikator Rataan Skor Kategori

Identifikasi Personal: 1. Pendidikan 3,90 Tinggi 2. Pelatihan 3,83 Tinggi 3. Usia 3,70 Tinggi 4. Pengalaman 3,83 Tinggi Motivasi Usaha: 1. Kemandirian 3,00 Rendah 2. Keseimbangan 2,77 Rendah 3. Prestasi 2,57 Rendah 4. Inovasi 3,40 Tinggi

5. Status sosial 3,00 Rendah

Orientasi Usaha:

1. Pengembangan 3,40 Tinggi

2. Profitabilitas 3,70 Tinggi

Inovasi

1. Diferensiasi 3,45 Tinggi

2. Pengembangan produk 4,00 Tinggi

3. Preferensi pasar 4,00 Tinggi

Tanggung Jawab

1. Kualitas produk 3,93 Tinggi

2. Pengembalian kredit 3,83 Tinggi

3. Manajemen keuangan 2,47 Rendah

Keterangan kategori: 1,00≤sangat rendah<2,00; 2,01≤rendah<3,00; 3,01≤tinggi<4,00; 4,01≤sangat tinggi<5,00

Berdasarkan tujuan usaha, sebanyak 56,7 persen perempuan setuju untuk menjadi mandiri dengan rataan skor 3,00. Tujuan keseimbangan hidup dengan berwirausaha memiliki nilai rata-rata 2,77 dengan disetujui 50 persen responden. Tujuan prestasi memiliki rata-rata 2,57 dengan persentase sebesar 53,7 persen setuju. Tujuan inovasi memiliki rata-rata 3,40 dengan persentase sebesar 50 persen setuju. Tujuan status sosial memiliki rata-rata 3,00 dengan persentase 50 persen setuju. Sebagaian tujuan usaha termasuk ke dalam kategori rendah hal ini diakibatkan sebagian besar dari perempuan di desa Cihideung Ilir melihat wirausaha bukan sebagai media untuk mengembangkan diri namun sebagai usaha yang mereka jalani untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

Berdasarkan orientasi usaha, pengembangan usaha memiliki nilai rata-rata 3,40 dengan. Pengembangan usaha termasuk sebagai kategori sedang, sebagian dari perempuan di Desa Cihideung Ilir menginginkan usahanya dapat maju dan berkembang dengan lebih baik, namun lainnya merasa usaha yang dimiliki pada saat ini telah cukup. Tujuan profitabilitas memiliki nilai rata-rata 3,70 dan termasuk sebagai kategori tinggi. Hal ini disebabkan mayoritas dari perempuan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan usaha.

Berdasarkan inovasi usaha, diferensiasi produk memiliki nilai rata-rata 3,45. Sebanyak 73,4 persen wirausaha perempuan setuju mereka perlu menjual produk yang berbeda kepada pelanggan. Pengembangan produk memiliki nilai rata-rata

4,00. Sebanyak 93,4 persen responden memahami bahwa mereka perlu mengembangkan produk mereka untuk meningkatkan penjualan, namun hal ini tidak dapat mereka laksanakan kerena kekurangan modal usaha. Preferensi pasar memiliki nilai rata-rata 4,00. Sebanyak 86,6 persen responden menyatakan mereka memperhatikan keinginan pelanggan. Hal ini dilakukan dengan menyediakan produk yang sering ditanyakan oleh pelanggan mereka sebelumya.

Berdasarkan tanggung jawab usaha, kualitas produk memiliki nilai rata-rata 3,93 dengan persentase 83,3 persen responden setuju. Pengembalian kredit memiliki nilai rata-rata 3,83 dengan persentase 86,7 persen setuju. Namun manajemen keuangan memiliki nilai rata-rata 2,47 dan termasuk ke dalam kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar wirausaha perempuan di Desa Cihideung Ilir tidak mampu atau tidak melakukan pengelolaan terpisah antara keuangan usaha dan keuangan rumah tangga. Hal ini juga terkait dengan kebiasaan kredit yang biasa mereka lakukan untuk memenuhi baik kebutuhan harian, keinginan khusus memiliki barang rumah tangga, maupun untuk membayar utang sebelumnya yang telah jatuh tempo.

Modal Sosial Perempuan

Modal sosial perempuan di Cihideung Ilir dapat dilihat dari dukungan kelompok, kemampuan sosial, dan dukungan keluarga. Modal sosial adalah penilaian perempuan mengenai modal sosial yang dimiliki oleh responden, terbagi ke dalam 5 kategori karakter (1 = sangat rendah, 5 = sangat tinggi).

Tabel 10 Sebaran rataan skor berdasarkan modal sosial

Indikator Rataan Skor Kategori

Dukungan kelompok:

1. Motivasi usaha 3,03 Tinggi

2. Dorongan usaha 2,97 Rendah

3. Pandangan kelompok 2,83 Rendah

Kemampuan sosial:

1. Kemampuan bergaul 3,33 Tinggi

2. Keterbukaan 3,43 Tinggi

3. Aktifitas dalam kelompok 2,83 Rendah

Dukungan keluarga:

1. Dukungan orang tua 4,13 Sangat tinggi

2. Dukungan keluarga inti 4,27 Sangat tinggi

Keterangan kategori: 1,00≤sangat rendah<2,00; 2,01≤rendah<3,00; 3,01≤tinggi<4,00; 4,01≤sangat tinggi<5,00

Berdasarkan dukungan kelompok, perempuan di Cihideung Ilir menyadari bahwa lingkungan ikut memberikan motivasi usaha dengan rataan skor sebanyak 3,03. Dorongan usaha memiliki rataan skor sebanyak 2,97 menandakan bahwa kelompok sosial kurang memberikan dorongan bagi perempuan untuk mendapatkan kemajuan usaha. Pandangan kelompok memiliki rataan skor sebanyak 2,83. Hal ini menandakan bahwa kelompok kurang menghargai atau mendukung perempuan dalam menjalankan usaha mereka.

Secara keseluruhan, rataan skor dukungan kelompok di Desa Cihideung Ilir tergolong rendah. Kondisi tersebut diakibatkan oleh kurang aktifnya kelompok sosial pendukung wirausaha. Sehingga wirausaha perempuan di Desa Cihideung Ilir kurang merasakan manfaat atau dukungan yang berasal dari kelompok sosial.

Berdasarkan kemampuan sosial, kemampuan bergaul perempuan di Desa Cihideung Ilir tergolong tinggi dengan rataan skor sebanyak 3,33. Sikap keterbukaan yang dimiliki responden tergolong tinggi dengan rataan skor sebanyak 3,43. Aktifitas responden dalam kelompok tergolong rendah dengan rataan skor sebanyak 2,83. Secara keseluruhan perempuan di Desa Cihideung Ilir memiliki kemampuan sosial yang baik dan memiliki sikap terbuka. Sikap ini sangat baik untuk mendorong kemajuan usaha mereka. Namun aktifitas responden dalam kelompok tergolong rendah. Kondisi ini juga terkait dengan kondisi pada

Dokumen terkait