IV. GAMBARAN UMUM
4.3. Gambaran Sektor Pertanian di Provinsi Jawa Timur
Potensi sumber daya alam sangat bervariasi, seperti pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, peternakan serta perkebunan. Luas lahan sawah adalah 1.178.283 ha, terdiri atas lahan beririgasi seluas 907.274 ha, sawah tadah hujan seluas 243.899 ha, dan sawah lainnya atau irigasi lodesa seluas 27.110 ha. Luas lahan palawija, hortikultura dan sayur mayur seluas 4.046.971 ha. Panjang saluran irigasi teknis primer 3.633.093 km, dan panjang saluran teknis sekunder 3.445.093 km. Panjang saluran irigasi semi teknis primer adalah 446.848 km dan panjang saluran semi teknis sekunder 47.151 km. Panjang saluran irigasi sederhana primer 216.636 km dan panjang saluran sederhana sekunder 75.749 km (Indonesia Tanah Airku, 2007). Gambaran umum mengenai sub sektor pertanian di Provinsi Jawa Timur dijelaskan sebagai berikut:
4.3.1. Sub Sektor Tanaman Bahan Makanan
Lahan persawahan yang ada, areal panen rata rata seluas 1.692.729 ha dengan rata rata produktivitas 53,17 kuintal/ha, jumlah produksi padi kering giling yang diperoleh sebanyak 900.215 ton/tahun atau beras sebanyak 5.688.510 ton/tahun. Tanaman jagung dengan luas areal produksi mencapai 1.144.349 ha, dapat memproduksi sebanyak 4.240.308 ton. Tanaman kedelai dengan luas areal produksi mencapai 257.170 ha, dapat memproduksi sebanyak 343.150 ton. Jumlah produksi untuk padi tahun 2007 adalah 9.007.265 ton, jagung 4.390.850 ton, ubi kayu 4.023.614 ton, dan kacang 950.527 ton (Indonesia Tanah Airku, 2007).
Keadaan ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2004 yaitu produksi padi 9.002.618 ton, jagung 4.134.762 ton, ubi kayu 3.961.662 ton, kacang hijau 212.325 ton. Ketersediaan pangan beras sebesar 1.745.841 ton, jagung 3.444.480 ton, ubi kayu 2.615,42 ton, ubi jalar 23.009 ton, kacang tanah 160.658 ton, kacang hijau 66.137 ton, daging 83.508 ton, telur 19.841 ton, susu 77.633 ton, dan ikan 6.302 ton. Ketersediaan pangan di Jawa Timur merupakan keberhasilan teknologi pertanian, perluasan lahan panen meningkatkan intensifikasi petani (Indonesia Tanah Airku, 2007).
Berdasarkan Tabel Input-Output (Lampiran 3) dapat diketahui bahwa output sub sektor tanaman bahan makanan paling banyak dijadikan input oleh sektor industri pengolahan yaitu industri makanan, minuman, dan tembakau, sedangkan tidak digunakan sebagai input oleh sub sektor kehutanan, sektor pertambangan dan penggalian, sektor listrik, gas, dan air minum, serta sektor bangunan.
Permintaan input untuk sub sektor tanaman bahan makanan paling banyak diperoleh dari sektor itu sendiri artinya tidak membutuhkan input dari sektor yang lain, sedangkan tidak membutuhkan input yang berasal dari sub sektor perikanan, serta sektor pertambangan dan penggalian (BPS Provinsi Jawa Timur, 2008).
4.3.2. Sub Sektor Tanaman Perkebunan
Luas seluruh perkebunan di Provinsi Jawa Timur seluas 952.933 ha dengan jumlah total seluruh produksi perkebunan sebanyak 1.658.528,71 ton/tahun. Jenis-jenis perkebunan yang ada yaitu sebagai berikut (Indonesia Tanah Airku, 2007): 1. Perkebunan teh dengan luas areal 2.711 ha dapat memproduksi sebanyak
16.695,46 ton/tahun.
2. Perkebunan tembakau dengan luas areal 109.918 ha dapat memproduksi sebanyak 77.421 ton/tahun.
3. Perkebunan kakao dengan luas areal 35.328 ha dapat memproduksi sebanyak 19.880,81 ton/tahun.
4. Perkebunan vanili dengan areal 535 ha dapat memproduksi sebanyak 15,50 ton/tahun.
5. Perkebunan tebu dengan luas areal 169.317 ha dapat memproduksi sebanyak 1.048.734,83 ton/tahun.
6. Perkebuanan jambu mete dengan luas areal 52.995 ha dapat memproduksi sebanyak 12.213 ton/tahun.
7. Perkebunan kelapa dengan luas areal 285.180 ha dapat memproduksi sebanyak 265.452,56 ton/tahun.
Berdasarkan Tabel Input-Output (Lampiran 3) dapat diketahui bahwa output sub sektor tanaman perkebunan paling banyak dijadikan input oleh sektor industri pengolahan yaitu industri makanan, minuman, dan tembakau, sedangkan tidak digunakan sebagai input oleh sub sektor kehutanan, sub sektor perikanan, sektor pertambangan dan penggalian, sektor listrik, gas, dan air minum, serta sektor bangunan. Permintaan input untuk sub sektor tanaman perkebunan paling banyak diperoleh dari sektor industri pengolahan yaitu industri pupuk dan pestisida, sedangkan tidak membutuhkan input yang berasal dari sektor pertambangan dan penggalian (BPS Provinsi Jawa Timur, 2008).
4.3.3. Sub Sektor Peternakan dan Hasil-hasilnya
Sektor peternakan dibagi dalam dua jenis yaitu sektor peternakan produksi utama ternak dan sektor peternakan produksi untama unggas. Jenis-jenis peternakan yang ada pada sektor dengan produksi utama ternak antara lain peternakan sapi potong dengan populasi 2.524.476 ekor setiap tahunnya dapat memotong sebanyak 336.595 ekor, peternakan sapi perah dengan populasi 134.043 ekor, setiap tahunnya dapat menghasilkan susu sebanyak 239.908 liter. Peternakan kambing dengan populasi 2.400.750 ekor, dapat memproduksi daging sebanyak 7.772 ton/tahun, peternakan domba demgam populasi 1.407.116 ekor, dapat memproduksi daging sebanyak 4.334 ton/tahun, dan peternakan babi dengan populasi 35.958 ekor, dapat memproduksi daging sebanyak 398 ton/tahun (Indonesia Tanah Airku, 2007).
Sektor peternakan dengan produksi utama unggas adalah peternakan ayam buras dengan jumlah populasi 39.673.982 ekor dapat memproduksi 13.734
ton/tahun, peternakan ayam petelur dengan jumlah populasi sebanyak 30.051.763 ekor dapat memproduksi telur sebanyak 139.786 ton/tahun, peternakan ayam pedaging dengan jumlah populasi 29.377.200 ekor dapat memproduksi daging sebanyak 71.301.200 ton/tahun, dan peternakan itik dengan jumlah populasi sebanyak 2.425.129 ekor dapat memproduksi telur sebanyak 8.512 ton/tahun (Indonesia Tanah Airku, 2007).
Berdasarkan Tabel Input-Output (Lampiran 3) dapat diketahui bahwa output sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya paling banyak dijadikan input oleh sektor industri pengolahan yaitu industri makanan, minuman, dan tembakau, sedangkan tidak digunakan sebagai input oleh sub sektor kehutanan, sektor pertambangan dan penggalian, sektor listrik, gas, dan air minum, serta sektor bangunan. Permintaan input untuk sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya paling banyak diperoleh dari sektor perdagangan, restoran, dan hotel dengan yang terbanyak di sub sektor perdagangan, sedangkan tidak membutuhkan input yang berasal dari sub sektor perikanan (BPS Provinsi Jawa Timur, 2008).
4.3.4. Sub Sektor Kehutanan
Luas kawasan hutan sekitar 1.357.206,36 ha atau 28 persen dari luas dararan Provinsi Jawa Timur, terdiri atas beberapa jenis hutan. Hutan-hutan yang ada menurut jenisnya antara lain hutan produksi seluas 811.452,70 ha (59,79 persen), hutan lindung seluas 312.636,50 ha (23,04 persen), hutan konservasi seluas 233.117,16 ha (17,18 persen). Hasil produksi yang didapat dari hutan non HPH antara lain kayu bulat sebanyak 265.844 m³, kayu gergagian 1.237 m³, kayu
olahan jati yang terdiri atas veneer sayat (3.079.321 m²), TOP (7.656 m³), dan penempelan veneer (444.790 m²) (Indonesia Tanah Airku, 2007).
Berdasarkan Tabel Input-Output (Lampiran 3) dapat diketahui bahwa output sub sektor kehutanan paling banyak dijadikan input oleh sektor industri pengolahan yaitu industri lainnya dengan nilai paling besar pada industri bambu, kayu, dan rotan, sedangkan tidak digunakan sebagai input oleh sektor pengangkutan dan komunikasi. Permintaan input untuk sub sektor kehutanan paling banyak diperoleh dari sektor perdagangan, restoran, dan hotel dengan yang terbanyak di sub sektor perdagangan, sedangkan tidak membutuhkan input yang berasal dari sub sektor tanaman bahan makanan, sub sektor tanaman perkebunan, sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya, sub sektor perikanan, serta sektor pertambangan dan penggalian (BPS Provinsi Jawa Timur, 2008).
4.3.5. Sub Sektor Perikanan
Kegiatan perikanan dapat dibedakan atas sektor perikanan laut dan perikanan darat. Sektor perikanan laut, jumlah kapal penangkap ikan yang beroperasi sebanyak 53.889 unit dengan jumlah rumah tangga perikanan sebanyak 91.979 kepala keluarga, jumlah tempat pelelangan ikan sebanyak 45 buah. Jumlah produksi ikan yang dihasilkan setiap tahunnya berkisar 334.162,50 ton. Kegiatan perikanan pada sektor perikanan darat dibagi atas beberapa jenis, yaitu (Indonesia Tanah Airku, 2007):
1. Tambak, dengan luas areal 54.812,42 ha dapat memproduksi sebanyak 81.228,10 ton setiap tahunnya.
2. Kolam, dengan luas areal 1.980,65 ha dapat memproduksi sebanyak 31.025,60 ton setiap tahunnya.
3. Keramba, dengan jumlah sebanyak 23,7 unit dapat memproduksi sebanyak 2.797,70 ton setiap tahunnya.
4. Mina padi, dengan luas areal 498,95 ha dapat memproduksi sebanyak 175,03 ton setiap tahunnya.
5. Sawah tambak, dengan luas areal 33.577,36 ha dapat memproduksi sebanyak 51.103,40 ton setiap tahunnya.
Berdasarkan Tabel Input-Output (Lampiran 3) dapat diketahui bahwa output sub sektor perikanan paling banyak dijadikan input oleh sektor perdagangan, restoran, dan hotel, dengan yang terbanyak di sub sektor restoran dan hotel, sedangkan tidak digunakan sebagai input oleh sub sektor tanaman bahan makanan, sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya, sub sektor kehutanan, sektor pertambangan dan penggalian, sektor listrik, gas, dan air minum, serta sektor bangunan. Permintaan input untuk sub sektor perikanan paling banyak diperoleh dari sektor perdagangan, restoran, dan hotel dengan yang terbanyak di sub sektor perdagangan, sedangkan tidak membutuhkan input yang berasal sub sektor tanaman perkebunan serta sektor pertambangan dan penggalian (BPS Provinsi Jawa Timur, 2008).