BAB VI PEMBAHASAN
3. Gambaran Tingkat Pengetahuan Osteoporosis Secara Umum
Perilaku yang baik akan terbentuk melalui hubungan yang berkesinambungan antara faktor eksternal (pengalaman, fasilitas, sosial-budaya) dengan faktor internal (persepsi, pengetahuan, keyakinan, keinginan, motivasi, niat dan sikap) (Notoatmodjo, 2010).
Pada pokok pembahasan sebelumnya, peneliti sudah menjelaskan dengan rinci hasil penelitian mengenai tingkat pengetahuan osteoporosis responden berdasarkan item-item pertanyaan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa responden telah memiliki tingkat pengetahuan yang begitu baik, mulai dari informasi mengenai definisi osteoporosis hingga informasi mengenai terapi pencegahan osteoporosis.
Pada pokok bahasan selanjutnya yakni untuk mengetahui hasil penelitian terhadap tingkat pengetahua responden mengenai osteoporosis secara umum. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswi memiliki persentase sebagai berikut
a) Responden dengan pengetahuan kategori baik 72%
b) Sebagian kecil masih ada yang memiliki tingkat pengetahuan sedang (21%)
c) Responden dengan tingkat pengetahuan kurang baik (7%).
Hal ini seiring dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Rizka (2012) pada wanita pre-menopause yang dilakukan di Surakarta menyebutkan bahwa:
a) Tingkat pengetahuan wanita pre-menopause tersebut dalam mencegah osteoporosis sebagian besar memiliki pengetahuan yang baik (81.6%) b) Sebagian kecil memiliki pengetahuan cukup baik (16.7%) dan sisanya
1.7% responden memiliki pengetahuan yang kurang biak dalam mencegah osteoporosis.
Berdasarkan uji analisa data statistik yang dilakukan dengan α = 5% didapatkan nilai korelasi 0.04, dimana terdapat hubungan antara tingkat
pengetahuan dengan perilaku osteoporosis dengan kekuatan korelasi yang lemah. Hal ini sejalan dengan penelitian yangn dilakukan oleh Rizka (2012), dimana terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan osteoporosis.
4. Gambaran Perilaku Pencegahan Osteoporosis Berdasarkan Item Pernyataan
Perilaku dapat dilihat melalui berbagai aspek, yakni aspek biologis, psikologis maupun sosio-psikologis. Berdasarkan aspek biologis perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk hidup yang bersangkutan. Skinner (1938) dalam Notoatmodjo (2010) perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar).
Perilaku kesehatan adalah respons seseorang terhadap terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhi sehat-sakit. Perilaku pencegahan osteoporosis merupakan salah satu bentuk perilaku kesehatan. Penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa responden telah dapat melakukan pencegahan osteoporosis dengan cukup baik.
Berdasarkan hasil penelitian mengenai perilaku berjalan 1000 langkah setiap hari menyebutkan bahwa sebagian besar (52%) responden dapat melakukan perilaku pencegahan osteoporosis dengan baik. Hal ini dikarenakan masih banyak reponden yang jika berpergian dengan menggunakan kendaraan. Penelitian lainnya yang membahas tentang perilaku berjalan adalah penelitian Larkey, dkk (2003) yang menyatakan bahwa hanya
9 % responden yang rutin melakukan olahraga dengan berjalan kaki. Kedua hasil penelitian tersebut dapat menunjukan bahwa masih banyak individu yang kurang memperhatikan pentingnya olahraga dengan berkalan kaki.
Berdasarkan data yang diperoleh mengenai perilaku terpaparnya sinar matahari pada pagi hari (jam 7-9) menyebutkan bahwa perilaku pencegahan responden dengan terpaparnya sinar matahari tergolong dalam kategori kurang baik (50%). Penelitian lain yang membahas mengenai perilaku paparan sinar matahari yang dapat mencegah osteoporosis yakni dilakukan oleh Larkey, dkk (2003) yang menyebutkan 46% responden yang melakukan perilaku terpapar sinar matahari sebagai pencegahan osteoporosis.
Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian pada tabel 5.11 mengenai perilaku pemeriksaan densitas tulang menyebutkan bahwa sebagian besar (46%) responden kurang dapat melakukan perilaku pencegahan osteoporosis sedangkan hasil penelitian mengenai perilaku meminum-minuman keras menyebutkan bahwa sebagian besar (99%) responden dapat melakukan perilaku pencegahan osteoporosis dengan baik. Hal ini telah menunjukan bahwa masyarakat peduli akan kesehatan tubuhnya terutama pada tulang. Penelitian lainnya yang membahas mengenai perilaku konsumsi alkohol dilakukan oleh Chang et al (2011), dimana dalam penelitiannya terdapat 96% responden tidak mengkonsumsi alkohol. Penelitan-penelitian tersebut menunjukan bahwa masyarakat sadar akan bahaya yang ditimbulkan dari konsumsi alkohol terhadap pertumbuhan tulang.
Rokok memiliki banyak dampak negatif termasuk dampak pada tulang. Hasil penelitian mengenai perilaku merokok menyebutkan bahwa sebagian
besar (99%) responden dapat melakukan perilaku pencegahan osteoporosis dengan baik. Hasil penelitian diatas sangat berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Larkey. Larkey,dkk (2003) menyatakan bahwa 28% rata-rata responden penelitiannya pernah merokok sedangkan pada wanita pre dan post menopause terdapat 40% dan 27% pernah merokok.
Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian pada tabel 5.14 mengenai perilaku mengonsumsi soft-drink menyebutkan bahwa sebagian besar (50%) responden dapat melakukan perilaku pencegahan osteoporosis dengan cukup baik. Lain halnya dengan penelitisn mengenai perilaku rutinitas olahraga yang menyebutkan bahwa sebagian besar (44%) responden kurang dapat melakukan perilaku pencegahan osteoporosis. Larkey, dkk (2003) berpendapat bahwa 50% wanita post-menopause kurang melakukan aktivitas fisik (olahraga). Larkey pun melakukan penelitian pada wanita dengan ras hispanic dan non-hispanic. Dimana penelitian tersebut menghasilkan 51% wanita hispanic senang melakukan aktivitas fisik (olahraga) kurang dari 150 menit dan 40% wanita non-hispanic melakukan aktivitas fisik kurang dari 150 menit. Berdasarkan kedua hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat telah sadar akan pentingnya melakukan aktivitas fisik untuk kesehatan tulang.
Begitu banyak manfaat yang terkandung dalam sayuran hijau termasuk untuk kesehatan tulang. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian pada tabel 5.16 mengenai perilaku mengonsumsi sayuran hijau menyebutkan bahwa sebagian besar (42%) responden dapat melakukan perilaku pencegahan osteoporosis dengan cukup baik. Larkey, dkk (2003) menyatakan
bahwa 82% responden mengkonsumsi sayuran hijau. Hal tersebut menunjukan bahwa masyarakat sadar akan pentingnya mengkonsumsi sayuran hijau untuk kesehatan mereka, terutama untuk kesehatan tulang.
Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian pada tabel 5.17 mengenai perilaku mengonsumsi susu menyebutkan bahwa sebagian besar (39%) responden dapat melakukan perilaku pencegahan osteoporosis dengan cukup baik. Hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh Karolina (2009) menyatakan bahwa 27,3% responden sering mengkonsumsi susu yang mengandung kalsium dan 33% kadang-kadang mengkonsumsi susu.
Selain dapat membantu menyehatkan mata karena kandungan vitamin A di dalamnya, wortel pun dapat mengurangi resiko terkena osteoporosis. Hasil penelitian mengenai perilaku mengonsumsi wortel menyebutkan bahwa sebagian besar sebagian besar (34%) responden dapat melakukan perilaku pencegahan osteoporosis dengan baik. Selain wortel, tumbuhan lainnya pun dapat mencegah osteoporosis. Brokoli merupakan salah satu sayuran hijau yang dapat membantu mengurangi resiko terkena osteoporosis. Hasil penelitian mengenai perilaku mengonsumsi brokoli menyebutkan bahwa sebagian besar (41%) responden dapat melakukan perilaku pencegahan osteoporosis dengan baik, sedangkan sebagian kecil lainnya responden dengan perilaku kurang baik sebesar 31% dan perilaku dengan cukup baik dalam mengonsumsi brokoli sebesar 28%.
Osteoporosis dapat dicegah dengan latihan fisik. Latihan fisik yang teratur dapat membantu dalam pencegahan terjangkitnya penyakit kronis seperti diabetes, jantung maupun osteoporosis. Hasil penelitian mengenai perilaku
melakukan jogging menyebutkan bahwa Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian pada tabel 5.20 mengenai perilaku melakukan jogging menyebutkan bahwa sebagian besar (51%) responden dapat melakukan perilaku pencegahan osteoporosis dengan kurang baik. Walaupun perilaku dalam melakukan jogging masih kurang diperhatikan oleh responden, namun masih ada perilaku pencegahan yang lain, yang menunjukkan perilaku yang baik dalam mencegah osteoporosis.
Hasil penelitian mengenai rutinitas mengonsumsi suplemen kalsium menunjukkan hasil yang kurang memuaskan dimana sebagian besar (54%) responden dapat melakukan perilaku pencegahan osteoporosis dengan kurang baik. Penelitian lain yang dilakukan oleh Gammage dan Klentrou (2011) menghasilkan bahwa 8% wanita post-menopause dan 16 % remaja wanita melakukan pencegahan osteoporosis dengan mengkonsumsi kalsium. Dengan begitu, masih banyak wanita yang kurang memperhatikan pentingnya konsumsi kalsium dalam pencegahan osteoporosis. Data Internasional Osteoporosis Foundation (2009) menyebutkan, hasil penelitian di 14 negara Asia mencerminkan rendahnya asupan kalsium orang Asia, yaitu rata-rata hanya 450 mg dari 1300 mg yang dibutuhkan per hari.
5. Gambaran Perilaku Pencegahan Osteoporosis Secara Umum
Manusia dapat hidup sehat bila dapat menerapkan perilaku hidup sehat. Perilaku sehat merupakan perilaku yang berkaitan dengan upaya mdalam mempertahankan kesehatan (Notoatmodjo, 2010). Perilaku sehat tersebut dapat dibentuk melalui berbagai cara diantaranya dengan mengonsumsim makanan dengan menu seimbang dan juga melakukan pencegahan terhadap
penyakit. Perilaku pencegahan osteoporosis merupakan salah satu dari sekian banyak perilaku hidup sehat. Namun banyak individu yang kurang memperhatikan perilaku hidup sehatnya.
Berdasarkan penyajian data penelitian pada tabel 5.3, perilaku responden dalam mencegah osteoporosis secara umum dapat dilihat pada point dibawah ini:
a) Secara umum, mahasiswi memiliki perilaku pencegahan osteoporosis dalam kategori cukup (53%).
b) Sedangkan sebagian kecil lainnya perilaku responden tergolong dalam kategori baik (24%)
c) Mahasiswi yang memiliki perilaku kurang dalam mencegah osteoporosis ini terdapat 23%.
Dengan kata lain, mahasiswi Fakultas Agama Islam Universitas Singaperbangsa ini sudah cukup baik dalam melakukan pencegahan osteoporosis. Hal ini seiring dengan penelitian yang dilakukan oleh Rizka (2012), dimana penelitiannya ini dilakukan pada wanita pre-menopause di Surakarta. Berdasarkan penelitiannya menyebutkan bahwa responden memiliki perilaku cukup baik (53.3%) sebagian kecil lainnya memiliki perilaku yang baik dalam mencegah osteoporosis (26.7%) dan sisanya memiliki perilaku yang kurang dalam mencegah osteoporos
Berdasarkan penelitian lain, dari Chang et.al (2011) dengan judul “Global computer-assisted appraisal of osteoporosis risk in Asian women: an innovative study” didapatkan bahwa pasien dengan riwayat keluarga osteoporosis terdapat 16,3%, pasien dengan pascamenopause 90%. Sementara
itu, sebagian besar peserta tidak minum alkohol (96%), minum obat endokrin (61%). Dengan kata lain, responden penelitian yang dilakukan oleh Chang et al sudah memiliki perilaku yang baik dalam mencegah osteoporosis.
Pada hakikatnya, pencegahan lebih efektif bila dilakukan pada usia dini atau usia muda. Hal ini dikarenakan apabila dilakukan di usia yang lanjut atau mendekati usia lanjut maka resiko yang ditimbulkan akan semakin lebih berat. Oleh karena itu, peneliti mengambil responden pada wanita usia muda. 6. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Pencegahan
Osteoporosis
Pengetahuan merupakan faktor internal terbentuknya perilaku kesehatan. Dengan adanya pengalaman maka akan terbentuk pengetahuan yang baik, dan adanya pengetahuan yang baik inilah akan membentuk perilaku yang baik pula. Menurut teori “ PRECED-PROCEED” yang dikembangkan oleh Lawrence Green ( 1980) menyebutkan bahwa perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni: faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor pendorong. Dalam faktor predisposis ini terdiri dari pengetahuan,sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010). Dengan demikian, perilaku dapat terbentuk melalui pengetahuan.
Berdasarkan hasil uji statistik dengan Spearman rank didapatkan bahwa nilai signifikansi 0.041< 0.05 yang artinya terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku pencegahan osteoporosis. Hal ini sejalan dengan nilai korelasi yang dihasilkan yakni 0.204, dimana hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif (+) antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan osteoporosis yang
bersifat searah (berbanding lurus). Artinya, semakin tinggi atau besar tingkat pengetahuan akan semakin bertambah besar atau tinggi pula nilai perilaku pencegahan osteoporosis. Namun bila dilihat dari nilai korelasi (0.204), hal ini menunjukkan bahwa kekuatan korelasi dalam kategori lemah.
Penelitian lain yang memiliki hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan osteoporosis yakni dilakukan oleh Rizka tahun 2012. Dalam penelitian tersebut terdapat korelasi yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan osteoporosis.
7. Keterbatasan Penelitian
Segala sesuatu pasti ada kekurangan dan kelebihan. Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Pada penelitian ini terdapat beberapa kekurangan yang menjadi keterbatasan penelitian. Keterbatasan tersebut akan dijabarkan pada point di bawah ini:
a) Dalam penelitian ini, peneliti hanya membahas satu faktor intern saja yang dapat mempengaruhi perilaku. Padahal faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor intern saja, namun juga dipengaruhi oleh faktor ekstern.
b) Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, dimana penelitian dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Sehingga peneliti hanya melihat hasil penelitian dalam satu waktu saja, tidak melihat hasil selanjutnya. c) Alat pengukuran penelitian ini hanya sebatas menggunakan kuesioner saja
dan tidak ada respon timbal balik kepada responden sehingga responden tidak mengetahui jawaban yang benar dari kuesioner tersebut.
83
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada mahasiswi Fakultas Agama Islam Universitas Singaperbangsa Karawang dapat disimpulkan bahwa:
1. Responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 72%. Hal ini merupakan prevalensi pertama diantara tingkat pengetahuan yng lain, yakni sedang 21% dan kurang 7%.
2. Responden yang memiliki persentase perilaku pencegahan tertinggi yakni responden dengan perilaku yang cukup (53%) dalam mencegah osteoporosis. Sedangkan perilaku pencegahan yag lain, yakni perilaku baik (24%) dan kurang baik (23%).
3. Pada penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku pencegahan osteoporosis pada mahasiswi Universitas Singaperbangsa Karawang.
B. Saran 1. Mahasiswi
Pada penelitian ini mahasiswi sudah menunjukkan tingkat pengetahuan yang baik mengenai pencegahan osteoporosis dan seharusnya mahasiswi dapat mempertahankan pengetahuannya ini. Namun untuk perilaku kesehatannya sebaiknya mahasiswi lebih meningkatkan kembali perilaku pencegahannya. Hal ini dikarenakan perilaku pencegahan mahasiswi
masih dalam kategori cukup baik. Perilaku ini dapat dilikakukan dengan mengkonsumsi susu atau lebih memperhatikan gerak sehat seperti jalan kaki dan jogging.
2. Penelitian Selanjutnya
Osteoporosis merupakan pengeroposan tulang. Pengeroposan tulang ini disebabkan oleh berbagai macam factor termasuk penurunan kadar hormone dan terjadinya menopause. Namun penurunan hormone ini tidak hanya terjadi pada laki-laki pun dapat mengalami penurunan hormon. Sehingga laki-laki pun memegang peranan dalam mengalami osteoporosis. Selain itu, penelitian mengenai pencegahan osteoporosis pada wanita sudah banyak yang mengkaji dan meneliti. Dengan demikian, kepada peneli selanjutnya dapat meneliti dan mengkaji mengenai pencegahan osteoporosis pada kaum pria.
a. Multiple modes exist. The smallest is Shown usia Usia Semester N Valid Missing Mean Median Mode Std.Deviation Variance Minimum Maximum Sum 100 0 19.4700 19.5000 18.00 1.16736 1.363 18.00 21.00 1947.00 100 0 3.0000 3.0000 2.00a 1.00504 1.010 2.00 4.00 300.00
Frequency Percent Valid
Percent Cumulative Percent Usia 18 19 20 21 Total 29 21 24 26 100 29.0 21.0 24.0 26.0 100.0 29.0 21.0 24.0 26.0 100.0 29.0 50.0 74.0 100.0 Semester
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent Semester
2 50 50.0 50.0 50.0
4 50 50.0 50.0 100.0
Correlations
pengetahuan perilaku Spearman's rho Pengetahuan Correlation Coefficient 1.000 .204*
Sig. (2-tailed) . .041
N 100 100
Perilaku Correlation Coefficient .204* 1.000 Sig. (2-tailed) .041 .
N 100 100
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Pengetahuan
Pengetahuan*Perilaku Crosstabulation
Pengetahuan Perilaku r p Cukup Baik Kurang Total
Sedang Baik Kurang 71,4 9,5 22,2 23 28,6 81 47,2 53 0 9,5 30,6 24 100 100 100 100 0,204 0,041 Total
Pengetahuan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid kurang 7 7.0 7.0 7.0 sedang 21 21.0 21.0 28.0 baik 72 72.0 72.0 100.0 Total 100 100.0 100.0 Perilaku
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid kurang baik 23 23.0 23.0 23.0
cukup 53 53.0 53.0 76.0 baik 24 24.0 24.0 100.0 Total 100 100.0 100.0 Statistics pengetahuan perilaku N Valid 100 100 Missing 0 0 Mean 2.6500 2.0100 Median 3.0000 2.0000 Mode 3.00 2.00 Std. Deviation .60927 .68895 Variance .371 .475 Minimum 1.00 1.00 Maximum 3.00 3.00 Sum 265.00 201.00
Statistics Definisi osteoporosis Tanda dan gejala osteo Faktor resiko osteo Sebab-akibat osteo Makanan dan Asupan gizi Terapi pencegah osteo Jalan 1000 langkah Terpapar sinar matahari Pemeriksa an densitas tulang N Valid 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Missing 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Mean 1.8800 1.0800 1.1200 1.0100 1.3600 1.6600 1.8000 1.7300 1.7300 Median 2.0000 2.0000 1.0000 1.0000 2.0000 2.0000 2.0000 1.5000 2.0000 Mode 2.00 2.00 1.00 1.00 2.00 2.00 1.00 1.00 1.00 Std. Deviation .47737 .99168 .57349 .75872 .93765 .60670 .85280 .81470 .76350 Variance .228 .983 .329 .576 .879 .368 .727 .664 .583 Minimum .00 .00 .00 .00 .00 .00 1.00 1.00 1.00 Maximum 2.00 2.00 2.00 2.00 2.00 2.00 3.00 3.00 3.00 Sum 188.00 108.00 112.00 101.00 136.00 166.00 180.00 173.00 173.00
100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.9800 2.9800 2.0400 1.7500 1.9000 1.8700 1.9900 2.1000 1.7600 1.6200 3.0000 3.0000 2.0000 2.0000 2.0000 2.0000 2.0000 2.0000 1.0000 1.0000 3.00 3.00 2.00 1.00 2.00 1.00 1.00 3.00 1.00 1.00 .20000 .20000 .70953 .75712 .75879 .78695 .83479 .84686 .85422 .74914 .040 .040 .503 .573 .576 .619 .697 .717 .730 .561 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 3.00 3.00 3.00 3.00 3.00 3.00 3.00 3.00 3.00 3.00 298.00 298.00 204.00 175.00 190.00 187.00 199.00 210.00 176.00 162.00 Definisi Osteoporosis
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid kurang baik 6 6.0 6.0 6.0
baik 94 94.0 94.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid kurang 45 45.0 45.0 45.0 sedang 2 2.0 2.0 47.0 baik 53 53.0 53.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Faktor resiko osteo
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid kurang 11 11.0 11.0 11.0 sedang 66 66.0 66.0 77.0 baik 23 23.0 23.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Valid kurang 28 28.0 28.0 28.0 sedang 43 43.0 43.0 71.0 baik 29 29.0 29.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Makanan dan Asupan gizi
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid kurang 32 32.0 32.0 32.0
baik 68 68.0 68.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Valid kurang 7 7.0 7.0 7.0 sedang 20 20.0 20.0 27.0 baik 73 73.0 73.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Perilaku Jalan 1000 langkah
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid kurang baik 48 48.0 48.0 48.0
cukup 24 24.0 24.0 72.0 baik 28 28.0 28.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Valid kurang baik 50 50.0 50.0 50.0 cukup 27 27.0 27.0 77.0 baik 23 23.0 23.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Pemeriksaan densitas tulang
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid kurang baik 46 46.0 46.0 46.0
cukup 35 35.0 35.0 81.0 baik 19 19.0 19.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Valid kurang baik 1 1.0 1.0 1.0 baik 99 99.0 99.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Perilaku merokok
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid kurang baik 1 1.0 1.0 1.0
baik 99 99.0 99.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Valid kurang baik 23 23.0 23.0 23.0 cukup 50 50.0 50.0 73.0 baik 27 27.0 27.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Perilaku rutinitas olahraga
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid kurang baik 44 44.0 44.0 44.0
cukup 37 37.0 37.0 81.0 baik 19 19.0 19.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Valid kurang baik 34 34.0 34.0 34.0 cukup 42 42.0 42.0 76.0 baik 24 24.0 24.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Perilaku Konsumsi susu
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid kurang baik 38 38.0 38.0 38.0
cukup 37 37.0 37.0 75.0 baik 25 25.0 25.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Valid kurang baik 35 35.0 35.0 35.0 cukup 31 31.0 31.0 66.0 baik 34 34.0 34.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Perilaku Konsumsi Brokoli
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid kurang baik 31 31.0 31.0 31.0
cukup 28 28.0 28.0 59.0 baik 41 41.0 41.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Valid kurang baik 51 51.0 51.0 51.0 cukup 22 22.0 22.0 73.0 baik 27 27.0 27.0 100.0 Total 100 100.0 100.0
Perilaku Konsumsi Suplemen
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid kurang baik 54 54.0 54.0 54.0
cukup 30 30.0 30.0 84.0 baik 16 16.0 16.0 100.0 Total 100 100.0 100.0