• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Aktivitas Ekonomi Masyarakat

Dalam dokumen Komunitas Karo di Kawasan Relokasi Siosar (Halaman 36-40)

Bertani adalah mata pencaharian utama yang digeluti oleh sebahagian besar warga di kawasan relokasi Siosar. Meskipun terdapat beberapa warung di kawasan ini, namun hanya sedikit yang mengandalkannya sebagai mata pencaharian utama. Hanya pada hari-hari Libur dan/atau hari Minggu, warung-warung menjadi lebih ramai. Darwin Prinst (2004: 66) menuliskan masyarakat Karo adalah masyarakat tani yang oleh karena itu mereka sangat jujur termasuk terhadap alam. Kejujuran itu diketahui dari ungkapan adat mbuah page nisuan, merih manuk niasuh (hasil pertanian dan berkembang biak ayam yang diternakkan), yang maknanya harus ada

upaya atau uasaha yang terlebih dahulu baru ada hasilnya. Mereka tidak mengatakan

mbuah page la erjuma atau merih manuk la niasuh (berlimpah padi tanpa menanam

dan berkembang ayam tanpa beternak). Hal ini berbeda dengan nelayan yang mempunyai kebiasaan memanen tanpa menanam (rani la erjuma, merih ikan la nisuan).

Bertani sebagai mata pencaharian utama, menjadikan warga Karo di kawasan relokasi Siosar sangat bergantung pada hasil ladang. Pesta tahunan sebagai ungkapan syukur atas hasil ladang diadakan pada bulan 9 atau bulan 8 di Jambur. Siapapun boleh menghadirinya. Pada pesta tahun lalu dihadiri sekitar 1.000 jiwa dan berakhir pada pukul 16.00 WIB. Bapak menuturkan,

“Kan nanam padi, bilangnya kita mohon sama Tuhan supaya padi yang kita tanam berbuah. Nah kalo padi udah membesar nanti kan, kita kasih juga nanti istilahnya makanannya, ada nanti daun-daunan, pokok pisang kita potong-potong sama bunga-bunga. Jadi nantikan ada yang kita bawa dari pesta itu, kita tampilkan juga, jadi pas nanti habis pestanya, kita bawak ke ladang, kita taburkan nanti ke padi itu. Itu ada adatnya.” (Wawancara, 18 Februari 2017)

Ada doa-doa yang juga dipanjatkan beriringan dengan bunga-bunga atau dedaunan yang ditaburkan di ladang. Doanya berdasarkan niat masing-masing orang, yakni pada apa yang diharapkannya dari hasil ladang tersebut. Perayaan tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan pada waktu tertentu. Lebih lagi karena penanaman tanaman tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Bila dilakukan penanaman tanaman setiap bulan, besar kemungkinan untuk tidak berhasil atau menghasilkan. Penanaman tanaman padi umumnya dilaksanakan pada bulan Juni atau Juli setiap tahunnya. Tapi kalau di Siosar, paling tidak pesta tahun diselenggarakan pada bulan Oktober. Memanam padi dilakukan pada bulan Agustus, ketika padi sudah

mulai memiliki bulirnya, pada saat itulah dilaksanakan pesta tahun. Umur padi sampai menguning menghabiskan waktu selama enam bulan, berbeda dengan padi sawah yang lebih cepat menghasilkan pada usia tiga bulan. Hal tersebut karena tanah daerah pengunungan tidak memiliki subsidi air yang melimpah seperti di sawah. Maka panen diperkirakan sekitar bulan Februari.

Padi ladang bisa dipanen setelah berumur 6 bulan. Padi ladang memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dan bulir yang lebih besar daripada padi sawah. Meskipun memungkinkan untuk ditanam sebanyak dua kali dalam satu tahun, masyarakat Karo tidak melakukannya. Hal ini dikhawatirkan tidak akan menghasilkan dengan baik, tetapi lahan tidak akan pernah kosong. Untuk mengisi waktu yang kosong selama 6 bulan, ladang akan ditanami dengan tanaman pengganti lainnya (bukan padi), seperti sayur-sayuran dan jagung. Setelah tanaman pengganti di panen, siklusnya akan kembali lagi. Itulah mengapa pesta tahunan diadakan sekali dalam setahun, yaitu karena masa tanam padi ladang hanya sekali dalam satu tahun.

Padi yang telah menjadi beras diperdagangkan dengan hitungan per tumba. Di kota lain, seperti Padang Sidempuan dihitung per tabung dan kota Medan misalnya perhitungan beras dihitung per kilo. Jadi hitungan tumba bila dikonversi ke kilo maka 1 tumba sama dengan 1,5 kilo.

Hasil dari ladang pertanian milik warga sendiri kurang lebih Rp 1.000.000,00 sampai dengan Rp 1.500.000,00 per bulan. Hasil dari lahan seluas 0,5 hektar tersebut tidak dapat diandalkan, apalagi karena kondisi tanahnya yang kurang subur. Sementara di desa dulu, pendapatan masih melimpah karena ladang yang luas, ditambah pula dengan adanya tanaman tua. Dahulu, tanaman tua menjadi penyokong

pendapatan keluarga. Tanaman ini berasal dari kebun-kebun seperti kopi dan jeruk, sementara tanaman muda juga bisa ditanam di kebun diantaranya seperti kentang dan cabai. Sekarang kebun sudah tidak ada, setiap keluarga hanya bisa mengandalkan ladang sebagai sumber pendapatan. Terlebih karena kondisi tanah di kawasan relokasi lebih buruk daripada tanah di desa awal. Menurunnya pendapatan berimbas pada menurunnya tingkat kesejahteraan keluarga. Bapak menuturkan,

“A… itu udah jelas, itu udah jelas menurun sekali. Karena gini, tadi kan dah kubilang tadi kalau biasanya dari jam bulan 9 sampek bulan 12 ada artinya kopi itu e… harapan untuk biaya kerumah. A…

otomatis karena sampai saat ini kami belum nanam kopi… adapun

nanam kopi pun berhasil. Otomatis kan sekarang mengharapkan istilahnya dari ladang itu masih satu jenis tanaman aja, misalkan kentang. A… satu jenis lagi yang perlu ditambahi, dulunya kami disana nanam padi. Kalau musim sekarang ini udah panen (Februari). Kalo sampai relokasi kami sini, bisa dikatakan, yah belum nanam padi la. Otomatis kan beli beras, a… jadi kalo masalah kesejahteraan, itu memang udah agak menurun. Itu dia masalah ekonomi tadi, jadi berkuranglah ekonomi.” (Wawancara, 16 Februari 2017)

Penghasilan dari ladang milik sendiri sangat pas-pasan dengan rata-rata tiap keluarga memiliki 3 orang anak. Kalau pendapatan kurang, maka tambahan bisa didapatkan dengan bekerja di ladang orang lain. Pendapatan masyarakat dari bekerja di ladang orang lain kurang lebih sebesar Rp 80.000/hari. Sementara pendapatan dari bekerja di ladang orang lain hanya dapat dilakukan pada hari-hari tertentu ketika ada orang lain yang membutuhkan tenaga untuk mengerjakan ladang.

Upah untuk mengerjakan ladang di desa dulu tidak setinggi sekarang, kisarannya masih sekitar Rp 40.000/hari. Dihitung biasanya mulai dari jam kerja yaitu pukul 09.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Waktu kerja ini diselingi istirahat sekitar pukul 11.00 WIB atau 12.00 WIB. Jadi jam kerjanya sekitar lima sampai enam jam

per harinya. Menaiknya upah pekerja disebabkan karena naiknya kebutuhan masyarakat.

Di hari minggu, kawasan relokasi Siosar menjadi lebih ramai karena adanya pengunjung. Ada yang membuka warung seperti makanan dan minuman juga pakaian. Warung-warung inilah yang sebelumnya disebut sebagai pasar lokal. Pekerjaan lainnya adalah menyewakan kuda yang dipandu oleh seseorang mengelilingi kawasan relokasi pada jalur-jalur yang sudah ditentukan.

Gunung Sinabung Buatan yang terdapat di desa Siosar merupakan ikon wisata di kawasan ini. Bagi pengunjung yang ingin merasakan bagaimana berada di gunung buatan ini harus merogoh kocek yang sangat murah, yaitu Rp 2.000,00. Sementara untuk penduduk setempat tidak akan dikenakan biaya sepeserpun.

Dalam dokumen Komunitas Karo di Kawasan Relokasi Siosar (Halaman 36-40)

Dokumen terkait