4.1. Pertumbuhan Ekspor Indonesia di Pasar Dunia
Ekspor merupakan kegiatan transaksi barang dan jasa antara penduduk Indonesia dengan penduduk negara lain, yang meliputi ekspor barang, jasa pengangkutan, jasa asuransi, komunikasi, pariwisata, dan jasa lainnya. Termasuk juga dalam ekspor adalah pembelian langsung atas barang dan jasa di wilayah domestik oleh penduduk negara lain. Ekspor barang dinilai menurut harga free on board (fob), dan kurs dolar Amerika Serikat untuk ekspor dibedakan penggunannya terhadap rupiah. Untuk ekspor, digunakan rata-rata kurs beli dolar AS (dari Bank Indonesia) yang ditimbang dengan nilai nominal transaksi ekspor bulanan (BPS, 2008).
Secara kuantitatif dalam kurun waktu tahun 2000 hingga 2006, data menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan ekspor Indonesia mencapai 8.92 persen. Dari nilai tersebut, pertumbuhan nilai ekspor yang signifkan terjadi pada tahun 2004 hingga 2006, yaitu masing-masing 17,24 persen, 19,66 persen dan 17,67 persen dengan total nilai ekspor untuk masing- masing tahun adalah sebesar US$ 71.584.608.796 pada tahun 2004, US$ 85.659.952.615 pada tahun 2005 dan US$ 100.798.624.280 pada tahun 2006 (Gambar 3).
Pertumbuhan nilai ekspor Indonesia pada kurun waktu 3 tahun terakhir dapat disebabkan oleh volume ekspor Indonesia yang meningkat, namun peningkatan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh harga komoditi, terutama komoditi-komoditi primer, di tingkat internasional yang mengalami peningkatan. Hal
tersebut tentu saja menguntungkan Indonesia mengingat sebagian besar ekspor Indonesia merupakan komoditi primer.
Nilai Ekspor (dalam US$)
0 2E+10 4E+10 6E+10 8E+10 1E+11 1,2E+11 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Sumber: Comtrade, 2007
Gambar 3. Perkembangan Nilai Ekspor Indonesia Tahun 2000-2006
4.2. Pertumbuhan Ekspor Produk Indonesia yang Sensitif Terhadap Lingkungan
4.2.1. Pertumbuhan Ekspor Wood and articles of wood (Kayu dan Artikel Kayu)
Komoditi hasil hutan terutama jenis kayu, merupakan salah satu ekspor penting bagi Indonesia karena nilainya yang besar. Namun perlu diperhatikan juga eksplorasinya, karena komoditi ini mempunyai kecenderungan tinggi dalam
kerusakan lingkungan jika tidak ada pengawasan dan tindakan tegas dari pemerintah. Berdasarkan Gambar 4, tampak bahwa terjadi kecenderungan penurunan nilai ekspor Wood and articles of wood selama periode 2000-2006, hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh semakin merebaknya isu lingkungan dan diterapkannya ecolabeling semenjak tahun 2000, sehingga berdampak pada fluktuasi nilai ekspornya di pasar dunia. Kenyataannya menunjukan bahwa industri kayu sedang menghadapi berbagai permasalahan, yakni disamping langkanya bahan baku berkualitas tinggi, juga hambatan perdagangan, terutama dengan hadirnya negara-negara produsen kayu lapis baru seperti Malaysia. Pada kondisi tersebut dikhawatirkan komoditi Ekspor Wood and articles of wood yang akan datang akan menghadapi persaingan pasar yang lebih berat lagi, baik harga, kualitas maupun jumlah yang dapat diekspor.
Nilai Ekspor (dalam US$)
0 500.000.000 1.000.000.000 1.500.000.000 2.000.000.000 2.500.000.000 3.000.000.000 3.500.000.000 4.000.000.000 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Sumber: Comtrade, 2007
Gambar 4. Perkembangan Nilai Ekspor Wood and articles of wood (Kayu danArtikel Kayu) Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006
Dalam rentang waktu 2000-2006, pertumbuhan ekspor kayu Indonesia cenderung mengalami pertumbuhan yang negatif dari tahun ke tahun. Penurunan volume ekspor kayu Indonesia yang terbesar terjadi pada tahun 2001, dengan penurunan sebesar 7.80 persen, jumlah ekspor menjadi hanya US$ 3,353,568,000. Di tahun 2004, ekspor kayu Indonesia sempat mengalami pertumbuhan yang positif. Pertumbuhan sebesar 2.86 persen memang bisa dibilang pertumbuhan yang tidak terlalu besar, namun angka positif pada pertumbuhannya mampu membuat ekspor kayu Indonesia kembali melaju dengan total ekspor pada tahun tersebut sebesar US$ 3,271,420,594. Pertumbuhan yang positif tersebut tidak bertahan lama karena di tahun berikutnya yaitu pada tahun 2005, ekspor kayu Indonesia ke pasar dunia kembali mengalami penurunan sebesar 4.89 persen.
Sumber : Comtrade, 2007
Gambar 5. Perkembangan Ekspor Plywood consisting solely of sheets
Salah satu ekspor kayu terbesar Indonesia ke pasar dunia adalah jenis kayu lapis atau Plywood consisting solely of sheets. Namun dalam kurun waktu 2000-2006, ekspor produk kayu jenis kayu lapis cenderung mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 5. Penurunan volume ekspor kayu lapis Indonesia yang sangat signifikan dialami pada tahun 2001 dan 2005. Pada tahun 2001 terjadi penurunan volume ekspor ke pasar dunia sebesar 11.37 persen dengan jumlah total ekspor pada tahun tersebut adalah US$ 1,330,285.568 dari sebelumnya US$ 1,501,021.458 pada tahun 2000. Penurunan tersebut karena Indonesia baru menerapkan dan mengikuti persyaratan standarisasi perlindungan lingkungan hidup internasional yaitu ecolabelling yang mana baru diterapkan pada tahun 2000. Penurunan tersebut terus terjadi, penurunan terbesar terjadi pada tahun 2005, dimana ekspor Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) Indonesia mengalami penurunan sebesar 17.31 persen menjadi hanya US$ 974,424.627 pada tahun tersebut. Walaupun pada tahun berikutnya yaitu tahun 2006, ekspor Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) Indonesia ke pasar dunia mengalami peningkatan sebesar 3.80 persen.
Jenis kayu serabut atau Coniferous of Wood juga merupakan salah satu jenis kayu Indonesia dengan nilai ekspor terbesar. Perkembangan ekspor produk kayu jenis ini sangat fluktuatif dari tahun-tahun. Seperti terlihat pada Gambar 6. dimana pada tahun 2000-2001 terjadi peningkatan ekspor sebesar 39.98 persen yang diikuti penurunan ekspor sebesar 39.42 persen pada tahun berikutnya. Peningkatan ekspor terbesar terjadi pada tahun 2003, dimana peningkatan volume ekspor Coniferous of Wood (kayu serabut) adalah sebesar 109.69 persen menjadi US$ 13,126.892 dibandingkan tahun sebelumnya (US$ 6,260.231). Penurunan
terbesar terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 97.22 persen yang pada tahun sebelumnya juga mengalami penurunan cukup besar yaitu 83.20 persen. Penurunan tersebut mengakibatkan volume ekspor Coniferous of Wood (kayu serabut) Indonesia ke pasar dunia pada tahun 2005 menjadi US$ 61.235. Penurunan yang signifikan tersebut diperkirakan terjadi karena Indonesia masih belum bisa menerapkan standarisasi lingkungan hidup secara penuh. Pada tahun berikutnya yaitu tahun 2006, volume ekspor produk ini mengalami peningkatan sebesar 661.34 persen.
Sumber : Comtrade, 2007
Gambar 6. Perkembangan Ekspor Coniferous of Wood (Kayu Serabut) Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006
4.2.2. Pertumbuhan Ekspor Pulp (Bubur Kertas)
Tidak dapat dipungkiri bahwa peran ekspor Pulp bagi perekonomian Indonesia sangat strategis. Dengan tidak mengimpor pulp dan kertas, yang telah dilakukan sejak tahun 1995 tentu akan menghemat cadangan devisa. Selain itu,
industri pulp mampu menciptakan lapangan kerja baru. Namun hal tersebut tentu saja harus turut juga memperhitungkan dampak terhadap lingkungan. Diperkirakan adanya isu-isu lingkungan seperti penerapan ecolabeling dan standarisasi lingkungan hidup lainnya kembali menyebabkan fluktuasi nilai eksport Pulp di pasar dunia (Gambar 7).
Nilai Ekspor (dalam US$)
0 200.000.000 400.000.000 600.000.000 800.000.000 1.000.000.000 1.200.000.000 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Sumber: Comtrade, 2007
Gambar 7. Perkembangan Ekspor Pulp Indonesia ke Pasar Dunia Tahun 2000-2006
Pertumbuhan ekspor Pulp Indonesia di pasar dunia dalam kurun waktu 2000-2006 terbilang sangat fluktuatif. Pada tahun 2001 terjadi penurunan ekspor produk tersebut ke pasar dunia sebesar 17.69 persen, dari sebelumnya total nilai ekspor Pulp Indonesia ke pasar dunia sebesar US$ 714,024,082 di tahun 2000, menjadi US$ 566,732,288 di tahun 2001. Penurunan tersebut tidak berlanjut di dua tahun berikutnya. Di tahun 2004, ekspor Pulp kembali mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu sebesar 25.53 persen, dan nilai ekspor pada tahun tersebut menjadi US$ 591,032,262. Terjadi peningkatan yang sangat besar pada
ekspor Pulp Indonesia di tahun 2005 dan 2006 yaitu sebesar 58.06 persen dan 20.58 persen.
Sumber : Comtrade, 2007
Gambar 8. Perkembangan Ekspor Semi Bleached or Bleached Pulp of paper (Bubur Kertas) Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006
Salah satu jenis pulp dengan nilai ekspor yang terbesar adalah ekspor pulp jenis Semi Bleached or Bleached Pulp of paper. Seperti terlihat pada Gambar 8. nilai ekspor produk ini cukup berfluktuasi dari tahun ke tahun selama periode 2000-2006. Penurunan volume ekspor sempat terjadi pada tahun 2001 dan 2004 dimana penurunan terbesar terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar 25.78 persen. Pada tahun tersebut volume ekspor produk Semi Bleached or Bleached Pulp of paper hanya mencapai US$ 585,659.163. Volume ekspor tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan dengan volume ekspor pada tahun sebelumnya yang mencapai US$ 789,079.873.
Pada komoditi Vegetable Fats and Oils (minyak nabati), Indonesia mengalami trend pertumbuhan yang sangat terus meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Rata-rata nilai pertumbuhan ekspor komoditi ini ke pasar dunia yaitu sebesar 26.68 persen, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata ekspor Indonesia secara keseluruhan yang hanya 14.28 persen. Terlihat pada grafik di Gambar 9, ekspor Vegetable fats and oils Indonesia ke pasar dunia secara umum dalam kurun waktu 2000-2006 terus mengalami pertumbuhan yang cukup positif, walaupun sempat terjadi penurunan pada tahun 2001.
Terjadi penurunan sebesar 17.69 persen pada tahun 2001, dari yang semula nilai total ekspor Vegetable fats and oils Indonesia adalah sebesar US$ 1,763,577,012 di tahun 2000, menjadi sebesar US$ 1,451,684,096 di tahun 2001 akibat penurunan tersebut. Disinyalir penurunan tersebut diakibatkan karena mulai diberlakukannya standarisasi internasional tentang lingkungan yang secara tegas diterapkan oleh pasar internasional sejak awal tahun 2000, sedangkan produsen Indonesia belum terlalu siap dalam memenuhi persyaratan tersebut.
Nilai Ekspor (dalam US$) 0 1.000.000.000 2.000.000.000 3.000.000.000 4.000.000.000 5.000.000.000 6.000.000.000 7.000.000.000 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Sumber: Comtrade, 2007
Gambar 9. Ekspor Vegetable fats and Oils Indonesia ke Pasar Dunia Tahun 2000-2006
Produk Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) Indonesia merupakan jenis produk atau sub produk Vegetable fats and oils (minyak nabati) yang merupakan komoditi unggulan Indonesia dengan volume ekspor yang sangat besar. Di pasar dunia sendiri, Indonesia merupakan pemasok utama komoditi ini yang bersaing ketat dengan Malaysia. Perkembangan ekspor produk Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) Indonesia selama periode 2000-2006 cukup fluktuatif.
Terlihat pada Gambar 10. penurunan volume ekspor Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) Indonesia sempat terjadi di tahun 2001 sebesar 33.98 persen dengan nilai volume ekspor sebesar US$ 111,937.376 yang semula sebesar US$ 169,550.221 pada tahun 2000. Penurunan ini diduga terjadi akibat peningkatan pajak ekspor dan penerapan standarisasi perlindungan lingkungan hidup yang merupakan isu penting bagi negara-negara maju yang
merupakan negara peng-impor utama komoditi Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) karena seperti yang diketahui, kebanyakan lahan perkebunan kelapa sawit untuk produksi Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) di Indonesia merupakan lahan alih fungsi dari yang semula hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Alih fungsi lahan sebenarnya bisa berlangsung dengan tertib tanpa mengakibatkan eksternalitas negatif jika pada pengalihan fungsinya, hutan yng dijadkan subjek merupakan hutan yang benar-benar difungsikan untuk hutan industri dan bukan merupakan hutan lindung yang dijadikan sebagai kawasan suaka margasatwa.
Sumber : Comtrade, 2007
Gambar 10. Perkembangan Ekspor Palm kernel or babassu oil and frac
(minyak sawit) Indonesia di Pasar Dunia Tahun 2000-2006
4.3. Perkembangan Impor Dunia
4.3.1. Perkembangan Impor Plywood Consisting Solely of Sheets (Kayu Lapis) Dunia
Perkembangan impor dunia atas produk hasil hutan terutama impor kayu jenis kayu lapis atau Plywood Consisting Solely of Sheets selama periode 2000-2006 relatif mengalami peningkatan.
Sumber : Comtrade, 2007
Gambar 11. Perkembangan Impor Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) Dunia Tahun 2000-2006
Berdasarkan Gambar 11, dari tahun ke tahun impor dunia akan produk Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) relatif meningkat. Walaupun pernah terjadi beberapa kali penurunan pertumbuhan impor produk tersebut oleh pasar dunia. Penurunan terjadi pada tahun 2001, dimana terjadi penurunan impor dunia sebesar 9.33 persen dari yang sebelumnya volume impor dunia akan produk Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) mencapai US$ 2,551,931,382 pada tahun 2000 menjadi US$ 2,334,076,770 di tahun berikutnya, namun penurunan yang terjadi terbilang relatif kecil. Pada periode 2002, 2003 dan 2004, impor dunia produk Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) terus mengalami peningkatan dengan rata-rata peningkatan sebesar 15 persen.
Peningkatan pertumbuhan impor tertinggi terjadi pada tahun 2004 dimana terjadi peningkatan pertumbuhan impor sebesar 17 persen. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan permintaan dunia akan produk kayu lapis. Namun di tahun berikutnya terjadi penurunan pertumbuhan impor dunia akan kayu lapis sebesar 5.21 persen, walaupun penurunannya tidak sebesar penurunan pertumbuha impor Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) pada tahun 2001. Pada tahun 2006, impor dunia akan produk ini mencapai US$ 4,016,581,698 atau mengalami pertumbuhan sebesar 11.24 persen.
4.3.2. Perkembangan Impor Coniferous of Wood (Kayu Serabut) Dunia Jenis kayu serabut atau Coniferous of Wood merupakan jenis kayu dengan nilai impor yang relatif tinggi terkait dengan jenisnya yang digunakan sebagai bahan baku industri kertas. Namun volume impor dunia akan produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) cenderung berfluktuasi, seperti yang terlihat pada Gambar 12.
Selama periode 2000-2006, terjadi peningkatan dan pertumbuhan impor dunia atas produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) secara signifikan. Penurunan pertumbuhan impor terjadi pada tahun 2001 dan 2004, dimana pada tahun 2001 penurunan pertumbuhan impor terjadi sebesar 9.52 persen. Dari total volume impor dunia produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) pada tahun sebelumnya yang mencapai US$ 17,162,695,809 menjadi US$ 15,670,658,961.
Sumber : Comtrade, 2007
Gambar 12. Perkembangan Impor Coniferous of Wood (Kayu Serabut) Dunia Tahun 2000-2006
Penurunan pertumbuhan impor tertinggi selama periode 2000-2006 terjadi pada tahun 2004, dimana penurunan impor dunia atas produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) mencapai 7014.52 persen. Dari volume impor dunia yang pada tahun sebelumnya mencapai US$ 17,372,269,788 menjadi hanya US$ 243,547,878 di tahun 2004. Penurunan yang sangat besar tersebut dikarenakan terjadi penurunan nilai ekspor produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) dari negara-negara eksportir ke pasar dunia, yang diakibatkan oleh kenaikan pajak ekspor dan persyaratan perdagangan khususnya standarisasi lingkungan yang diperketat. Penurunan impor dunia akan produk ini tidak berlangsung lama, karena di tahun berikutnya terjadi peningkatan pertumbuhan impor dunia atas produk Coniferous of Wood (Kayu Serabut) sebesar 98.9 persen. Hal ini dikarenakan oleh permintaan pasar dunia atas produk tersebut yang masih besar terkait dengan kepentingan impor produk tersebut sebagi bahan baku industri kertas yang besar pula. Hingga tahun 2006, impor dunia produk Coniferous of
Wood (Kayu Serabut) masih terus meningkat hingga mencapai US$ 22,903,112,610.
4.3.3. Perkembangan Impor Semi Bleached or Bleached Pulp of paper (Bubur Kertas) Dunia
Selama periode 2000-2006 perkembangan impor dunia atas produk Semi Bleached or Bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) cenderung mengalami peningkatan (Gambar 13), walaupun sempat terjadi penurunan yang relatif besar pada tahun 2001. Terjadi penurunan pertumbuhan impor dunia atas produk Semi Bleached or Bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) sebesar 30 persen. Penurunan pertumbuhan produk tersebut disebabkan oleh kecenderungan antisipasi pasar akibat baru diberlakukannya persyaratan standarisasi perdagangan terkait lingkungan seperti ecolabelling dan ISO. Penurunan pertumbuhan impor dunia pada tahun 2001 tersebut merupakan penurunan yang relatif besar dengan nilai impor dunia atas produk Semi Bleached or Bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) yang hanya sebesar US$ 5,855,162,746 dari nilai impor dunia yang mencapai US$ 7,636,873,112 pada tahun sebelumnya yaitu tahun 2000.
Sumber : Comtrade, 2007
Gambar 13. Perkembangan Impor Semi Bleached or Bleached Pulp of paper (Bubur Kertas) Dunia Tahun 2000-2006
Selama periode selanjutnya yaitu 2002-2006, rata-rata pertumbuhan impor dunia atas produk Semi Bleached or Bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) terus mengalami pertumbuhan sebesar 10 persen dengan pertumbuhan impor yang tertinggi terjadi pada tahun 2004. Pada tahun tersebut impor dunia atas produk Semi Bleached or Bleached Pulp of Paper (Bubur Kertas) mengalami pertumbuhan sebesar 15.20 persen dengan total nilai mimpor dunia mencapai US$ 8,034,214,755. Peningkatan pertumbuhan impor dunia ini lebih disebabkan oleh peningkatan permintaan dunia akan produk ini yang sangat pesat, disamping juga adanya peningkatan kualitas standarisasi lingkungan yang sudah diterapkan para produsen yang lebih memudahkan para eksportir untuk memasarkan produknya di pasar dunia.
4.3.4. Perkembangan Impor Palm kernel or Babassu oil and Frac (minyak sawit) Dunia
Selama periode 2000-2006 perkembangan impor dunia atas produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (Minyak Sawit) relatif mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Walaupun sempat terjadi penurunan pertumbuhan impor dunia pada tahun 2001 sebesar 24 persen, namun penurunan tersebut tidak berlangsung lama dan diikuti oleh peningkatan pertumbuhan di tahun-tahun berikutnya.
Sumber : Comtrade, 2007
Gambar 14. Perkembangan Impor Palm kernel or babassu oil and frac
(minyak sawit) Dunia Tahun 2000-2006
Peningkatan pertumbuhan impor dunia tertinggi atas produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (Minyak Sawit) terjadi pada tahun 2002. Setelah sempat terjadi penurunan pertumbuhan di tahun sebelumnya, peningkatan impor dunia
atas produk tersebut kembali terjadi sebesar 31.80 persen dan mencapai nilai impor sebesar US$ 343,148,244. Peningkatan pertumbuhan terus terjadi selama periode 2002-2006, dengan total nilai impor produk Palm Kernel or Babassu Oil and Frac (Minyak Sawit) yang mencapai US$ 766,807,103 pada tahun 2006.
V. ANALISIS DAYA SAING PRODUK INDONESIA YANG
SENSITIF TERHADAP LINGKUNGAN DAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
5.1. Analisis Daya Saing Produk Indonesia yang Sensitif Terhadap Lingkungan
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa produk (1) Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) dan (2) Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (bubur kertas), lebih memiliki keunggulan komparatif daripada keunggulan kompetitif. Sedangkan Produk Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit) merupakan produk yang memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dengan daya saing paling tinggi, terlihat dari nilai RCA (Revealed Comparative Advantage) produk tersebut yang relatif lebih tinggi dibandingkan produk lainnya. Namun hasil estimasi untuk produk Coniferous of Wood (kayu serabut) memperlihatkan bahwa produk tersebut tidak mempunyai keunggulan komparatif maupun kompetitif.
Analisis CMS (Constant Market Share) mengindikasikan bahwa faktor pertumbuhan impor dan faktor komposisi komoditi merupakan faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan ekspor (1) Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), (2) Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (bubur kertas) dan (3) Coniferous of Wood (kayu serabut). Sedangkan untuk produk Palm kernel or
babassu oil and frac (minyak sawit), faktor yang paling mempengaruhi pertumbuhan ekspornya adalah faktor pertumbuhan impor saja.
5.1.1. Analisis Keunggulan Komparatif (Revealed Comparative Advantage) Daya saing suatu negara pada suatu produk atau komoditi dapat diestimasi melalui keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif. Analisis keunggulan komparatif pada penelitian ini menggunakan analisis RCA (Revealed Comparative Advantage). Nilai RCA merupakan gambaran dari kinerja ekspor suatu komoditi. Nilai RCA yang lebih besar dari satu dianggap memiliki kinerja ekspor yang baik. Komoditi dengan nilai RCA lebih dari satu tersebut dapat dikatakan memiliki keunggulan komparatif sehingga disarankan untuk terus dikembangkan dengan melakukan spesialisasi pada komoditi tersebut.
Berdasarkan hasil estimasi RCA dapat diketahui bahwa Indonesia mempunyai keunggulan komparatif pada komoditi (1) Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), (2) Semi-bleached or bleached Pulp of Paper (bubur kertas), dan (3) Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit), terlihat dari nilai RCA yang selalu lebih dari satu selama periode 2000-2006. Namun produk Coniferous of Wood (kayu serabut) tidak mempunyai keunggulan komparatif, karena hasil estimasi RCA memperlihatkan bahwa produk ini mempunyai nilai estimasi yang selalu kurang dari satu selama periode 2000-2006.
5.1.1.1. Analisis Produk Plywood consisting solely of sheets (Kayu Lapis) Selama periode 2000-2006, hasil estimasi RCA memperlihatkan bahwa produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) yang merupakan sub
produk dari wood and article of wood (kayu dan artikel kayu) memiliki keunggulan komparatif, terlihat dari nilai RCA yang selalu lebih dari satu selama periode 2000-2006 dengan rentang nilai RCA 49.74-70.25 (Tabel 5).
Tabel 5. Estimasi RCA Produk Plywood consisting solely of sheets
(Kayu Lapis) Year Trade Value
in World Trade Value Growth (%) RCA Value RCA Growth (%) 2000 1,501,021,458 - 66.37 - 2001 1,330,285,568 -11.37 70.24 5.50 2002 1,289,258,255 -3.08 68.02 -3.25 2003 1,235,127,450 -4.20 70.25 3.16 2004 1,178,467,834 -4.59 63.15 -11.24 2005 974,424,627 -17.31 53.89 -17.19 2006 1,011,491,745 3.80 49.74 -8.32
Pada tahun 2000, nilai RCA produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) adalah 66.37 dengan total ekspor ke pasar dunia sebesar US$ 1, 501,021,458. Selama periode 2001-2006, ekspor produk kayu lapis Indonesia di pasar dunia terus mengalami penurunan kecuali di tahun 2006. Nilai RCA produk ini pun cenderung mengalami penurunan, karena terjadi kenaikan volume ekspor produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) negara-negara pesaing lainnya di pasar dunia disertai kenaikan total ekspor Indonesia di pasar dunia dilihat dari rasio nilai ekspor komoditi I Indonesia ke dunia per nilai total ekspor Indonesia ke dunia (Lampiran 6). Nilai RCA mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2004 dan 2005. Nilai RCA pada tahun 2004 adalah 63.15 atau mengalami penurunan pertumbuhan RCA sebesar 11.24 persen dengan jumlah ekspor Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) Indonesia di tahun
tersebut sebesar US$ 1,178,467,834 yang juga mengalami penurunan pertumbuhan sebesar 4.59 persen.
Pada tahun 2005, nilai RCA produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) Indonesia adalah 53.89 atau turun sebesar 17.19 persen. Hal ini terjadi karena volume ekspor total Indonesia ke pasar dunia mengalami peningkatan yang sangat signifikan, yaitu US$ 85,659,952,615 dari total ekspor tahun sebelumnya yang hanya US$ 71,584,608,796. Hal ini bisa diartikan bahwa di tahun tersebut, produk-produk Indonesia lainnya lebih mendominasi pangsa ekspor Indonesia di pasar dunia, karena ekspor produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) Indonesia sendiri mengalami penurunan sebesar 17.31 persen. Walaupun tergolong masih mempunyai keunggulan komparatif namun penurunannya adalah yang tertinggi selama periode 2000-2006. Namun sempat juga terjadi kenaikan nilai RCA pada tahun 2001 dan 2003.
Pada tahun 2001 terjadi penurunan ekspor produk Plywood consisting solely of sheets Indonesia yang cukup besar yaitu 11.37 persen dari total tahun sebelumnya, tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi keunggulan komparatif dari produk ini karena hasil estimasi RCA memperlihatkan bahwa Plywood consisting solely of sheets masih mempunyai daya saing yang cukup bagus dengan nilai RCA yang tumbuh sebesar 5.50 persen menjadi 70.24. Hal tersebut disinyalir terjadi karena adanya penurunan volume ekspor komoditi kayu lapis negara-negara pesaing lainya. Sedangkan penurunan ekspor total negara-negara-negara-negara pesaing di pasar dunia masih lebih kecil dibandingkan penurunan volume ekspor total Indonesia (Lampiran 6), sehingga pada tahun tersebut nilai RCA/daya saing produk kayu lapis Indonesia bisa mengalami peningkatan.
Pertumbuhan nilai RCA yang positif juga terjadi pada tahun 2003 dengan nilai 70.25 atau tumbuh sebesar 3.16 persen. Pada tahun 2006, terjadi peningkatan volume ekspor produk Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis) Indonesia