• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.1. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang terdiri dari data Time Series tahunan. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan UN Commodity and Trade Database. Juga dilakukan pencarian data yang diperoleh dari berbagai macam literatur dan jurnal baik dari media cetak maupun elektronik. Alat analisis yang digunakan untuk melakukan pengolahan data menggunakan bantuan software XAMP, D-Batic, WITS Ver. 6 (World Integrated Trade Solutions) dan Microsoft Excel.

3.2. Metode Analisis dan Pengolahan Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Metode kuantitatif Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Export Product Dynamic (EPD), digunakan untuk menganalisis posisi daya saing dan keunggulan komparatif serta kompetitif produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan. Untuk mengetahui faktor/determinan yang mempengaruhi pertumbuhan ekspor produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan, digunakan metode pangsa pasar konstan atau Constant Market Share Analysis (CMS).

Pengolahan data dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah pengelompokan data. Tahap kedua adalah pengolahan data dalam model analisis. Pada penelitian ini pengolahan data dilakukan dengan bantuan software Microsoft Excel 2003, D-Batic dan XAMP.

3.2.1. Revealed Comparative Advantage (RCA)

Revealed Comparative Advantage digunakan dengan obyektif untuk menganalisis keunggulan komparatif atau daya saing suatu komoditi dalam suatu negara, yang cukup sering digunakan. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Ballasa pada tahun 1965, yang menganggap bahwa keunggulan komparatif suatu negara direfleksikan atau terungkap dalam ekspornya (Syahresmita dalam Pramudito, 2004).

Metode RCA didasarkan pada suatu konsep bahwa perdagangan antar wilayah sebenarnya menunjukkan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh suatu wilayah. Variabel yang diukur adalah kinerja ekspor suatu produk terhadap total ekspor suatu wilayah yang kemudian dibandingkan dengan pangsa nilai produk dalam perdagangan dunia.

Dengan metode RCA, posisi daya saing dan ekspor produk Indonesia yang sensitif terhadap lingkungan di pasar dunia dapat diketahui. Variabel yang diukur adalah kinerja ekspor (1) Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), (2) Semi-bleached or bleached non-c pulp of paper (bubur kertas), (3) Coniferous of Wood (kayu serabut) , (4) Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit), di pasar dunia, dengan menghitung nilai pangsa produk ekspor Indonesia terhadap total ekspor ke luar negeri yang kemudian dibandingkan dengan pangsa nilai ekspor lima produk tersebut di dunia.:

Xij / Xit

RCA = 1(3.2.1.1) Wj / Wt

Xit = Nilai total ekspor Indonesia ke dunia Wj = Nilai ekspor komoditi i dunia ke dunia Wt = Nilai total ekspor dunia ke dunia

Jika nilai RCA lebih besar dari satu (RCA>1), maka negara tersebut mempunyai keunggulan komparatif dalam produknya.

Keunggulan metode Revealed Comparative Advantage adalah mengurangi dampak pengaruh campur tangan pemerintah sehingga kita dapat melihat keunggulan komparatif yang jelas suatu produk dari waktu ke waktu. Sedangkan kelemahannya yaitu :

1. Asumsi bahwa suatu negara dianggap mengekspor semua komoditi.

2. Indeks RCA tidak dapat menjelaskan apakah pola perdagangan yang sedang berlangsung tersebut sudah optimal.

3. Tidak dapat mendeteksi dan memprediksi produk - produk yang berpotensi di masa yang akan datang.

3.2.2. Constant Market ShareAnalysis (CMS)

Penelitian ini menggunakan metode pangsa pasar konstan (Constant Market Share) untuk mengetahui faktor/ determinan yang mempengaruhi pertumbuhan ekspor (1) Plywood consisting solely of sheets (kayu lapis), (2) Semi-bleached or bleached non-c pulp of papern (bubur kertas), (3) Coniferous of Wood (kayu serabut) , (4) Palm kernel or babassu oil and frac (minyak sawit),. Pendekatan Constant Market Share (CMS) didasarkan pada pemahaman bahwa laju pertumbuhan ekspor suatu negara bisa lebih kecil, sama, atau lebih tinggi daripada laju pertumbuhan ekspor rata-rata dunia.

Variabel yang diukur yaitu efek ekspansi (sisi permintaan) yang terbagi menjadi dua yaitu efek pangsa makro (pertumbuhan impor) dan pangsa mikro (efek komposisi komoditi) kemudian efek persaingan atau efek daya saing (sisi penawaran). Rumusnya adalah sebagai berikut :

Xij2 – Xij1 = mXij1 + {(mi - m)Xij1} + {Xij2 – Xij1 – mi Xij1} (3.2.2.1) (1) (2) (3)

Dimana: Xij1 = Ekspor komoditi i Indonesia ke dunia tahun ke-(t-1) Xij2 = Ekspor komoditi i Indonesia ke dunia tahun ke-(t) m = Persentase peningkatan impor umum di dunia mi = Persentase peningkatan impor komoditi i di dunia (1) = Efek pertumbuhan impor; (2) = Efek komposisi; (3) = Efek daya saing

3.2.3. Export Product Dynamics (EPD)

Pendekatan Export Product Dynamic digunakan untuk mengidentifikasi daya saing/keunggulan kompetitif suatu produk, juga mengetahui apakah suatu produk tersebut merupakan produk dengan performa yang dinamis atau tidak. Walaupun beberapa produk mungkin bukan merupakan bagian yang besar pada ekspor suatu negara, namun terdapat beberapa alasan untuk mengidentifikasi produk yang dinamis (pertumbuhannya cepat) dalam ekspor suatu negara. Jika pertumbuhannya di atas rata-rata secara kontinu selama waktu yang panjang, maka produk ini mungkin menjadi sumber pendapatan ekspor yang penting bagi negara tersebut. Selanjutnya, jika produk dinamis tersebut mempunyai karakteristik produksi yang spesifik, maka hal ini juga menjadi informasi yang penting dalam kesempatan ekspor, dalam hubungannya dengan produk yang

serupa. Terdapat ketertarikan untuk mengidentifikasi produk-produk dinamis sehingga negosiasi multilateral atau bilateral untuk mengatasi berbagai hambatan perdagangan beberapa produk di pasar ekspor bisa terfokuskan. Metode yang paling sering digunakan untuk mengidentifikasi produk-produk dinamis adalah dengan memilih produk-produk berdasarkan tingkat pertumbuhannya selama periode yang ditetapkan.

Penambahan fungsional indikator pangsa pasar adalah posisi pangsa pasar (Estherhuizen, 2006). Perusahaan-perusahaan dan industri-industri suatu negara dianggap bersaing dalam produk ketika pangsa pasar mereka meningkat. Sebuah produk ekspor dianggap dinamis dalam perdagangan dunia jika pangsa pasarnya meningkat lebih cepat daripada rata-rata pangsa pasar dunia.

Posisi pasar ideal bertujuan untuk memperoleh pangsa ekspor tertinggi sebagai “Rising Star”, ditandai dengan negara tersebut memperoleh pangsa pasar untuk produk-produk yang berkembang cepat. “Lost Opportunity” dihubungkan dengan penurunan pangsa pasar pada produk dinamis. “Falling Star” juga tidak diinginkan, terjadi ketika ada peningkatan, tetapi bukan pada produk-produk dinamis. Sementara itu, “Retreat” tidak diinginkan lagi di pasar. Hal ini adalah hal yang paling tidak diinginkan. “Retreat” bisa diinginkan kembali jika pergerakannya jauh dari produk stagnan dan bergerak mendekati peningkatan pada produk dinamis. Tabel 5 menggambarkan empat dekomposisi umum ekspor (berdasarkan posisi pangsa pasar). Empat dekomposisi indikator daya saing perdagangan tersebut diterapkan pada banyak penyusunan indikator kuantitatif.

Tabel 4. Matriks Posisi Pasar

Share of country’s export in world trade

Rising (Dynamic) Falling (Stagnant) Rising (Competitiveness)

Rising Stars Falling Stars Falling

(non-competitiveness)

Lost Opportunity Retreat

Dokumen terkait