• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN DAN RESPONDEN

3 KERANGKA PEMIKIRAN

NO KECAMATAN STRATA JUMLAH 1 2

5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN DAN RESPONDEN

Karakteristik Wilayah Kabupaten Garut

Gambar 6 Peta Kabupaten Garut

Kondisi Geografis Kabupaten Garut

Kabupaten Garut merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Luas wilayah Kabupaten Garut sekitar 306.519 ha. Secara geografis Kabupaten

Garut terletak diantara 6°57‟34” – 7°44‟57” Lintang Selatan dan 107°24‟3” – 108°24‟34” Bujur Timur. Batas wilayah Kabupaten Garut meliputi:

 Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan

Kabupaten Sumedang

 Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya

 Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Samudra Indonesia

 Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan

Kabupaten Cianjur.

Topografi

Kabupaten Garut merupakan kabupaten yang sebagian wilayahnya merupakan dataran tinggi dan pegunungan. Kabupaten Garut merupakan

32

kabupaten yang memiliki tingkat kesuburan lahan yang baik, sehingga kabupaten ini terkenal dengan mensuplai sayuran bagi kota-kota besar sekitarnya. Curah hujan rata-rata tahunan di Kabupaten Garut berkisar antara 2.589 mm dengan bulan basah 9 bulan dan bulan kering 3 bulan, sedangkan di sekeliling daerah pegunungan mencapai 3.500-4.000 mm. Variasi temperatur bulanan berkisar antara 24ºC - 27ºC. Iklim tropis yang dimiliki dan ditunjang dengan curah hujan yang cukup tinggi, hari hujan yang banyak dan banyaknya aliran sungai baik yang bermuara ke pantai selatan maupun ke pantai utara Jawa, menjadikan wilayah kabupaten ini sebagai sentra pertanian di Jawa Barat.

Ketinggian wilayah Kabupaten Garut bervariasi, ketinggian dibawah 500 mdpl terletak di Kecamatan Cibalong dan Pameungpeuk. Wilayah dengan ketinggian 500-1000 mdpl terletak di Kecamatan Pakenjeng, sedangkan wilayah dengan ketinggian diatas 1000 mdpl terletak di Kecamatan Cikajang dan Pamulihan.

Karakteristik Peternak

Karakteristik peternak berdasarkan 2 kecamatan sampel yaitu Kecamatan Selaawi dan Kecamatan Malangbong. Diharapkan kedua daerah ini menggambarkan karakteristik peternak yang ada di Kabupaten Garut. Karakteristik peternak yang diamati dalam penelitian ini meliputi posisi dalam keluarga, usia, pendidikan dan pendapatan sumber lainnya. Karakteristik peternak secara keseluruhan dapat dilihat dalam Tabel 12.

Tabel 12 Jumlah dan persentase peternak di Kabupaten Garut berdasarkan karakteristik peternak responden

Karakteristik Peternak Kategori Jumlah % Total (%)

Posisi dalam Keluarga Kepala Keluarga 59 98,33

100

Ibu Rumah Tangga 1 1,67

Usia 100

Masa dewasa awal (19 – 30 tahun)

5 8,33 Usia pertengahan (31 – 50 tahun) 35 58,33 Usia tua (>50 tahun) 20 33,33

Pendidikan Tidak Sekolah 2 3,33 100 SD 38 63,33 SMP 15 25,00 SMA 4 6,67 Diploma 1 1,67 Sumber-sumber Pendapatan lainnya Buruh/kuli 17 34,00 100 Usaha tani 13 26,00 Ojeg 11 22,00 PNS 1 4,00 Pengrajin 2 12,00 Pedagang 6 12.00

Sumber: Data Primer, 2013

Posisi dalam Keluarga (Penanggungjawab Peternakan)

Keluarga merupakan kumpulan dari kepala rumah tangga, istri dan anak- anaknya. Usaha ternak sapi potong yang berbasis kerakyatan biasanya

33 dilaksanakan dalam lingkungan satu keluarga. Rata-rata yang memelihara ternak dalam satu keluarga adalah kepala keluarganya (suami) dibantu oleh anggota keluarga lainnya seperti istri dan anak-anak mereka. Dari 40 respoden, peternak yang berposisi sebagai kepala keluarga sebesar 98,33 persen.

Usaha ternak yang memerlukan fisik yang kuat tidak hanya dapat dilakukan oleh kepala keluarga yang rata-rata berjenis kelamin pria. Bagi kaum wanita juga dapat melakukan usaha ternak sapi potong. Dalam penelitian terdapat 1,67 persen peternak adalah seorang wanita yang berstatus sebagai ibu rumah tangga (istri) sebagai penanggungjawab peternakan sapi potong. Biasanya istri yang ikut dalam berternak adalah membantu suami dalam mencari rumput atau memelihara sapi seperti pemberian pakan dan minum, sehingga dapat membantu pendapatan keluarga dengan penghematan biaya tenaga kerja di luar keluarga.

Usia Peternak

Usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitasnya. Sektor pertanian merupakan sektor yang mengandalkan kemampuan fisik dengan memanfaatkan tenaga manusia lebih banyak untuk mengolah tanah pertanian dan aktivitas lainnya. Tenaga manusia dipengaruhi faktor usia yang juga akan berpengaruh terhadap produktivitas peternak.

Usia merupakan salah satu variabel yang menentukan didalam melakukan usaha. Usia berhubungan dengan kemampuan fisik dan kemampuan pikir peternak. Semakin tua umur seseorang peternak kemungkinan akan menyebabkan semakin lemah kemampuan fisik dan semakin lamban kemampuan berpikirnya. Menurut UU No. 13 tahun 2003 disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Pengelompokan penduduk dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Penduduk yang tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia kerja. Batas usia kerja yang berlaku di

Indonesia berdasarkan UU di atas adalah berumur 15 tahun – 64 tahun.

Karakateristik peternak berdasarkan usia yang diamati pada penelitian ini dikelompokkan berdasarkan rentang usia Havighurst dalam Mugniesyah (2009). Karakteristik usia peternak dapat dilihat dalam Gambar 6.

Gambar 7 Persentase peternak berdasarkan usia

Masa dewasa awal (19 – 30 tahun) 8% Usia pertengahan (31 – 50 tahun) 59% Usia tua (>50 tahun) 33%

34

Berdasarkan data dari 40 peternak yang menjadi responden dalam penelitian ini diperoleh data bahwa usia peternak responden relatif heterogen. Gambar 4 menunjukkan bahwa peternak di Kabupaten Garut didominasi oleh peternak yang berusia 31-50 tahun (usia pertengahan), yaitu 58,33 persen secara keseluruhan. Mayoritas peternak merupakan peternak yang berusia 40-an tahun. Usia tua juga terdapat cukup banyak yang beternak dengan persentase sebesar 33,33 persen. Mayoritas usia tua yang mendominasi adalah peternak yang berusia 50-an tahun. Beberapa peternak mengakui bahwa mereka beternak tidak kenal usia, karena beternak terutama beternak sapi potong merupakan suatu usaha atau investasi yang sangat potensial. Apabila dilakukan saat muda dengan tenaga yang masih prima maka kehidupan tua seorang peternak bisa sangat terjamin tetapi semua tergantung usaha dan kemauan dari pribadi peternak masing-masing Kadang kala pilihan mereka, mengembangkan usaha ternak sapi potong dari usia tua hingga usia lanjut. Salah satu penyebab peternak memiliki rentang usia yang beragam dan lebih besar saat usia pertengahan adalah karena orang yang masih muda masih bekerja diluar peternakan. Selain itu, beternak diaggap suatu usaha sampingan sehingga hanya orang-orang dengan usia pertengahan yang memiliki modal saja yang memelihara sapi potong.

Pendidikan Peternak

Pendidikan berperan penting sebagai sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan ketrampilan sumber daya manusia suatu bangsa. Pengembangan sumber daya manusia yang bertumpu pada tingkat pendidikan ini, pada dasarnya untuk meningkatkan kinerja dan kesejahteraan manusia. Pendidikan menanamkan tata nilai baru yang akan merubah perilaku manusia untuk bergerak kearah kemajuan dan perkembangan yang lebih baik. Tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi dapat meningkatkan kesejahteraan manusia termasuk peternak.

Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh peternak. Peternak rata-rata pernah memperoleh pendidikan formal. Pendidikan formal yang pernah diperoleh diharapkan peternak lebih terbuka terhadap inovasi baru yang dapat meningkatkan efisiensi usaha ternak sapi potongnya, sehingga dapat lebih menguntungkan. Karakteristik pendidikan ini terdiri dari yang tidak sekolah, SD, SMP, SMA dan Diploma. Karakteristik peternak berdasarkan pendidikan dapat dilihat dalam Gambar 7.

Gambar 8 Persentase peternak berdasarkan pendidikan terakhir

Tidak Sekolah 3% SD 63% SMP 25% SMA 7% Diploma 2%

35 Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa 63,33 persen peternak memiliki pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan 25 persen merupakan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sisanya untuk Sekolah Menengah Atas dan Diploma sebesar 6,67 persen dan 1,67 persen. Ada pula beberapa peternak yang tidak tamat SD atau tidak sekolah sebesar 3,33 persen. Jika dilihat secara keseluruhan peternak di Kabupaten Garut masih memiliki pendidikan yang rendah. Oleh sebab itu, diperlukan peran dinas terkait untuk memberikan penyuluhan kepada peternak agar usaha ternak sapi potong mereka dapat berkembang dan menghasilkan keuntungan.

Sumber Pendapatan lain Peternak

Pendapatan utama adalah kegiatan yang dilakukan oleh peternak sebagai sumber utama dalam menghasilkan uang. Kegiatan ekonomi rumah tangga yang ditekuni di pedesaan sangat beraneka ragam. Di daerah penelitian masih banyak anggota rumah tangga yang bekerja lebih dari satu jenis pekerjaan artinya mereka mempunyai sumber pendapatan lain selain dari beternak. Karakteristik peternak berdasarkan sumber pendapatan lainnya terdapat pada Gambar 8.

Gambar 9 Persentase sumber pendapatan lain peternak

Sebagian besar responden mendapatkan pendapatan lainnya sebagai buruh/kuli sebesar 34 % dan usaha tani sebesar 26 %. Sumber pendapatan lainnya tersebut bisa lebih besar dari pendapatan yang berasal dari beternak sapi, seperti pendapatan dari PNS yang didapatkan secara rutin tiap bulan.

Kepemilikan Lahan

Lahan merupakan salah satu komponen penting bagi keberlangsungan usaha ternak sapi potong. Lahan menjadi tempat tinggal dan tempat hidup dari hewan ternak, terutama dalam penyediaan pakan hijauan. Ketersediaan pakan yang cukup akan membuat sapi semakin produktif dalam menghasilkan output berupa penambahan berat badan. Lahan yang mendukung dari usaha ternak antara lain lahan garapan pertanian, lahan rumput dan lahan kebun.

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peternak memiliki lahan garapan pertanian sendiri. Luas lahan garapan beragam dari yang paling kecil luas lahannya yaitu sebesar 1 hektar hingga 5.6 hektar. Para peternak menganggap

Buruh/kuli 34% Usaha tani 26% Ojeg 22% PNS 2% Pengrajin 4% Pedagang 12%

36

bahwa usaha tanam-tanaman dengan usaha ternak merupakan simbiosis mutualisme. Usaha garapan pertanian (sawah) dapat menghasilkan jerami yang dapat menjadi pakan bagi hewan ternak, kemudian hewan ternak dapat menghasilkan kotoran ternak yang dapat menjadi pupuk kompos yang bermanfaat untuk kesuburan tanaman pertanian.

Selain lahan garapan pertanian terdapat pula lahan rumput dan lahan kebun yang menjadi sumber pakan hijauan. Tidak banyak dari peternak responden yang memiliki lahan rumput pribadi. Sebagian besar mereka secara berkelompok memanfaatkan lahan orang lain sekitar 10-15 hektar atau lahan milik negara sekitar 15-20 hektar. Peternak juga sedikit sekali yang mempunyai lahan kebun pribadi sebagai sumber pakan hijauan ternak mereka. Setidaknya ada 2 reponden peternak yang memiliki lahan kebun pribadi sebesar 1.4 hektar.

Sarana Produksi dan Sistem Pemeliharaan Sapi Potong Perkandangan

Kandang merupakan salah satu sarana produksi dalam pemeliharaan sapi potong. Tipe kandang yang digunakan peternak sapi potong di Kabupaten Garut terbagi menjadi 2 jenis, yaitu dengan kandang pribadi dan kandang komunal. Sistem kandang pribadi merupakan bentuk sistem pemeliharaan ternak sapi potong secara mandiri dan tidak secara kolektif dalam usaha memelihara hewan ternak. Sistem kandang komunal merupakan bentuk sistem pemeliharaan ternak sapi potong secara bersama-sama dari beberapa peternak dan kolektif dari pengadaan biaya-biaya hingga pemeliharaannya.

Sebagian besar peternak memilih kandang pribadi dalam usaha ternaknya. Peternak menganggap bahwa dengan kandang pribadi, peternak hanya perlu memikirkan sapi potong mereka saja dan dapat dengan leluasa memelihara hewan ternak sesuai kemampuan mereka sendiri. Selain itu, lokasi kandang yang sebagian besar berdekatan dengan rumah memudahkan pemeliharaan ternak mereka.

Sistem kandang komunal dipilih dengan anggapan bahwa sistem komunal ini lebih praktis dan menghemat beberapa biaya investasi seperti pembuatan kandang dan lain-lain. Sistem ini juga dapat menyewa orang (tenaga kerja) untuk mengurus hewan ternaknya sehingga pemilik ternak tidak perlu repot mengurus hewan ternak mereka.

Pemeliharaan sapi potong dengan sistem kandang pribadi biasanya dikenal dengan sistem kereman. Sistem ini mengharuskan sapi terus menerus berada di dalam kandang dan tidak digembalakan. Pemeliharaan sapi dengan sistem kereman dilaksanakan dengan cara menempatkan sapi-sapi didalam kandang secara terus menerus selama beberapa bulan. Sistem kereman ini tidak memperkerjakan sapi selama proses penggemukan berlangsung supaya berat badan sapi cepat bertambah. Seluruh kegiatan dari pemberian pakan dan air serta pembersihan sapi dilakukan dalam kandang. Pakan yang diberikan terdiri dari hijauan dan bahan konsentrat dengan perbandingan tergantung pada ketersediaan pakan hijauan dan bahan konsentrat. Di daerah yang masih memiliki potensi dalam menyediakan pakan, biasanya responden hanya memberikan pakan hijauan saja kepada hewan ternaknya. Namun, di daerah yang pakan hijauannya sedikit menggunakan bahan konsentrat dengan porsi yang lebih besar.

37 Fungsi kandang yang paling penting dalam sistem kereman adalah memudahkan pelaksanaan pemeliharaan, terutama dalam pemberian pakan, minum, mempermudah pengawasan kesehatan dan melindungi sapi potong dari gangguan cuaca, seperti panas matahari, hujan dan udara dingin. Cuaca yang ekstrem dapat mengganggu penambahan berat badan sapi serta dapat menimbulkan penyakit seperti flu dan demam pada sapi.

Rata-rata luas kandang sapi potong responden sebesar 2,5 x 2 m2 untuk

satu ekor sapi dan dilengkapi dengan tempat penyimpanan/pengolahan kotoran, penyimpanan pakan dan fasilitas penunjang lainnya. Pembangunan kandang responden bersifat permanen. Bahan-bahan untuk pembuatan kandang yang dipilih bersifat tahan lama, tidak mudah lapuk, mudah diperoleh dan harganya terjangkau. Beberapa responden lantai kandangnya dibuat dari semen, ada juga yang menggunakan papan/kayu bahkan ada yang hanya menggunakan tanah yang dipadatkan. Tempat pakan dan air minum dibuat dari tembok beton atau kayu. Bentuk tempat pakan dan minum dibuat cekung untuk memudahkan sapi potong menggapai makanan dan minuman. Sebagian responden menggunakan ember sebagai tempat minum untuk menekan biaya pengeluaran.

Pembersihan kandang di daerah penelitian dilakukan setiap hari yaitu pagi dan sore dengan menggunakan sapu lidi dan sekop. Kotoran sapi selalu dibuang ditempat yang telah disediakan. Kotoran sapi dikumpulkan di lubang sementara yang biasanya terdapat di sekitar kandang. Frekuensi pemberian pakan yang terus menerus menyebabkan kotoran sapi pun akan banyak. Terkadang responden menggunakan air untuk membersihkan kandang namun jarang menggunakan desinfektan dan ada pula yang tanpa menggunakan air. Setelah dikumpulkan beberapa hari, kotoran sapi akan dijual sebagai pupuk kandang atau dipergunakan sendiri untuk lahan pertaniannya.

Perbaikan Kandang rata-rata dilaksanakan sekali dalam setahun dengan mengganti papan/kayu kandang yang lapuk. Papan/kayu kandang rusak kadang- kadang disebabkan oleh injakan atau tendangan kaki sapi.

Kepemilikan Sapi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan sapi potong sebagian besar merupakan kepemilikan pribadi. Beberapa peternak menganggap usaha tersebut merupakan investasi yang dapat dipakai sewaktu-waktu saat mereka membutuhkan. Selain itu, pemeliharaan dengan hak kepemilikan sapi potong milik orang lain juga ditemukan di daerah penelitian. Sapi potong dipelihara oleh peternak dengan perjanjian keuntungan dari penjualan dibagi dengan pemilik sapi sesuai kesepakatan bersama atau yang disebut sistem gaduh/ bagi hasil.

Bangsa Sapi yang dipelihara

Bangsa sapi potong yang dipelihara di beberapa lokasi penelitian yaitu Peranakan Ongole (PO), Simental, Limousin dan lokal (sapi Rancah). Responden memelihara bangsa PO karena mereka menganggap bangsa sapi ini lebih mudah ditemukan dan dipelihara. Sapi PO memiliki postur dan ciri yang menyerupai sapi Ongole tetapi kemampuan reproduksi PO lebih rendah. Berat badan maksimal sapi jantan dewasa berkisar 400-600 kg dan sapi betina dewasa berkisar 300-400 kg. Persentase karkas sapi ini berkisar 45-58 persen.

38

Selain PO, bangsa sapi Simental juga menjadi primadona. Menurut responden bangsa sapi ini mudah dalam pemeliharaannya dan mudah digemukkan, namun menurut mereka bangsa sapi yang paling baik untuk digemukkan adalah bangsa sapi Limousin karena memiliki tingkat produksi yang baik. Berat badan sapi jantan dewasa bangsa Simental dan Limousin bisa mencapai 850 kg sedangkan pada sapi betina dewasa dapat mencapai 650 kg. Sapi ini sering menjadi pilihan untuk usaha penggemukan ternak sapi potong karena sapi ini cepat besar dan menghasilkan daging yang optimal

Umur Sapi yang dipelihara

Umur sapi dalam usaha ternak sapi potong sangat berpengaruh pada kualitas daging. Mereka biasanya menjual sapi jantan saat berumur sekitar 2-3

tahun bahkan kadang-kadang berumur 18 – 24 bulan (1,5 – 2 tahun) sudah di

afkir/dipotong. Sapi jantan juga lebih cepat gemuk dibanding sapi betina sehingga responden lebih memilih sapi jantan untuk dipelihara. Sapi betina jarang di potong sebelum afkir, karena sapi betina masih dimanfaatkan untuk perkembangbiakan (dijadikan indukan). Sapi betina biasanya mereka afkir saat

berumur 78 - 144 bulan (6.5 – 12 tahun). Saat sapi betina memasuki masa afkir

(sapi sudah tua dan tidak mampu bereproduksi lagi) maka sapi tersebut mereka sembelih/dijual. Umur sapi jantan dalam penelitian sekitar 17 bulan, betina 26 bulan dan pedet 8-9 bulan.

Lama Pemeliharaan Sapi

Lama pemeliharaan sapi yang dilakukan responden tergantung pada umur sapi dan cara pemberian pakan. Penggemukan dengan umur sapi dibawah 1 tahun akan memerlukan waktu yang lebih lama dibanding dengan sapi yang berumur 2- 2,5 tahun. Sapi dengan umur dibawah 1 tahun rata-rata memerlukan waktu penggemukan selama 6-7 bulan, sedangkan sapi yang berumur 2-2,5 tahun memerlukan waktu penggemukan selama 4 bulan. Demikian pula dengan sapi yang diberikan pakan dalam bentuk hijauan saja, waktu penggemukannya akan lebih lama dibandingkan dengan sapi yang diberi hijauan dan bahan konsentrat.

Rata-rata responden apabila menggunakan tenaga kerja upahan untuk mengelola sekitar 3-6 ekor sapi cukup menggunakan 1 tenaga kerja saja dengan ketentuan tenaga kerja upahan dilibatkan dalam pencarian hijauan. Menurut Soekardono (2009) apabila tenaga kerja upahan tidak dilibatkan dalam penyediaan hijauan seperti pencarian rumput maka 1 tenaga kerja dapat mengelola 8-10 ekor sapi yang dipelihara untuk digemukkan.

Pengembangbiakan Sapi

Pengembangbiakan berkaitan erat dengan kesehatan sistem reproduksi. Sistem Reproduksi merupakan suatu fungsi tubuh secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual, tetapi sangat penting bagi kelanjutan keturunan bangsa hewan. Pada umumnya sistem reproduksi dapat berlangsung sempurna sesudah hewan mencapai masa pubertas sehingga kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon- hormon yang dihasilkan berfungsi optimal. Produktivitas reproduksi ternak sapi potong sangat dipengaruhi oleh jarak beranak (calving interval), yang ideal adalah 365 hari. Umumnya hal ini sulit dicapai oleh suatu kelompok sapi potong, namun dapat dijumpai pada individu sapi potong yang dipelihara dengan tatalaksana yang baik. Produktivitas reproduksi ternak sapi potong yang tinggi merupakan kunci

39 keberhasilan produksi, terutama jumlah anak yang dapat dilahirkan selama hidup induk. Empat hal yang menjadi kendala reproduksi sapi potong, yaitu lama bunting yang panjang, panjangnya interval dari lahir hingga estrus pertama, tingkat konsepsi yang rendah dan kematian anak sampai umur sapih yang tinggi (Soekardono 2009).

Data lapangan menunjukkan bahwa pengembangbiakan sapi potong dilakukan oleh pemilik ternak. Bakalan sapi potong yang jantan ataupun yang betina diperoleh di daerah sekitar dengan proses jual beli antar peternak atau di pasar hewan. Proses seleksi bakalan berdasarkan informasi antar peternak dan

body scoring perkiraan „belantik‟ saat transaksi di pasar. Sapi potong betina akan

birahi pertama kali paling cepat saat berumur 9 bulan dan paling lama 24 bulan. Pemacekan pertama kali paling cepat dilakukan saat berumur 9 bulan dan paling lama 24 bulan pada saat sapi birahi. Lama kebuntingan sapi potong sekitar 9 bulan, dan frekuensi bunting berkisar 8-9 kali.

Perawatan Rutin Sapi Potong

Sapi potong memerlukan perawatan yang baik agar sapi menghasilkan output berupa daging yang berkualitas. Perawatan sapi potong dilaksanakan setiap hari dengan melakukan pembersihan sapi, kandang, dan pemberian pakan. Cara berternak yang dilakukan responden belum optimal, hal ini terlihat dari perawatan dan pembersihan kandang yang hanya sekedarnya saja, bahkan terkadang sapi hanya dilepas dan diinapkan di perkebunan terutama di daerah Kecamatan Cibalong. Jenis pakan yang diberikan berupa hijauan (rumput). Ada juga yang menambah hijauannya dengan limbah pertanian (jerami) dan bahan konsentrat. Bahan konsentrat yang biasa diberikan berupa dedak, onggok dan lain-lain. Pemberian pakan oleh responden rata-rata mencapai 30 kg per ekor tergantung berat badannya. Semakin besar berat badan sapi akan membutuhkan pakan yang banyak untuk menghasilkan berat yang besar pula. Penambahan berat badan sapi dalam penelitian rata-rata mencapai 8 ons perhari. Frekuensi pemberian pakan dilakukan 2-3 kali per hari tergantung ketersediaan pakan.

Produktivitas ternak dipengaruhi dua faktor yaitu faktor genetik sebesar 30 persen dan lingkungan sebesar 70 persen. Diantara faktor lingkungan tersebut 60 persen dipengaruhi oleh pemberian pakan. Jumlah pakan yang dibutuhkan sapi berupa hijauan maupun konsentrat didasarkan pada berat badan sapi itu sendiri. Komposisi hijauan pakan untuk 1 ekor hewan ternak per hari sebesar 30 persen dari berat badan sapi dan komposisi pakan konsentrat sebesar 10 persen dari hijauan per hari (Abrianto 2011). Berat badan sapi dapat diketahui dengan penimbangan. Akan tetapi, responden jarang sekali yang memiliki alat timbangan karena harganya relatif mahal sehingga dalam penaksiran berat badan sapi biasanya memanfaatkan pedagang hewan ternak yang sudah berpengalaman atau

biasa disebut “belantik”. Dengan kemampuan dan pengalaman bertahun-tahun si belantik mampu menaksir berat badan sapi tanpa harus menimbangnya. Di samping itu, ada cara lain untuk menaksir berat badan sapi salah satunya dengan pita ukur. Alat ini untuk mengukur lingkar dada sapi, kemudian berat badan sapi dapat diketahui dengan menggunakan suatu rumus, namun cara ini tidak pernah dilakukan oleh responden.

Untuk mencegah penyakit seharusnya sapi dimandikan secara rutin, namun sebagian responden ada yang masih jarang memandikan sapinya secara

40

rutin. Sapi dimandikan saat kotor saja, padahal sapi yang selalu bersih akan terhindar dari penyakit. Memandikan sapi sering dilakukan di luar kandang. Genangan air bekas memandikan sapi di dalam kandang senantiasa dikeringkan oleh responden supaya tidak ada jentik nyamuk.

Jenis penyakit yang menyerang sapi menurut responden biasanya berupa cacingan, sakit perut/mencret, mencret, kudis, demam/masuk angin, batuk dan sebagainya. Penyakit biasanya terjadi minimal sekali dalam setahun, oleh sebab

Dokumen terkait