3 KERANGKA PEMIKIRAN
Pendapatan 40 responden per tahun
(Rp)
Prosentase terhadap pendapatan keluarga peternak (%) Usaha Ternak 9.809.623 49,90 Usaha Lainnya : Buruh 772.500 3,93 Usaha tani 6.336.050 32,23 Ojeg 84.000 0,43 PNS 150.000 0,76 Pengrajin 180.000 0.92 Pedagang 2.326.250 11,83 Total 19.658.423 100,00
Sumber: Data Primer Diolah, 2013
Berdasarkan hasil analisis share pendapatan bahwa usaha ternak memberikan kontribusi sebesar 49,90 persen terhadap pendapatan keluarga peternak. Untuk usaha tani memberikan kontribusi sebesar 32,23 persen terhadap pendapatan keluarga. Selain pekerjaan tadi kontribusi terbesar ketiga adalah pekerjaan wiraswasta atau berdagang yaitu sebesar 11,83 persen. Pekerjaan buruh yang dilakukan oleh peternak meliputi: buruh pengrajin, buruh tani, buruh bangunan. Pekerjaan menjadi buruh memberikan kontribusi sebesar 3,93 persen terhadap pendapatan keluarga. Dengan demikian usaha ternak sapi potong dapat
49 dikatakan sebagai usaha pokok, hal ini dikarenakan pendapatan keluarga peternak hampir setengahnya dihasilkan dari usaha berternak, sebagaimana terlihat pada Gambar 10 berikut.
Gambar 10 Share pendapatan usaha ternak terhadap pendapatan keluarga
Analisis Input Optimal Faktor Produksi dari Usaha Ternak Sapi Potong
Analisis optimasi penggunaan input produksi menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglass dengan koefisien regresi (bi) yang merupakan elastisitas produksi. Elastisitas produksi adalah sebuah konsep yang mengukur derajat respons output terhadap input. Wilayah produksi yang relevan secara ekonomi
adalah 0 ≤ bi ≤ 1. Hasil analisis regresi fungsi produksi Cobb-Douglass diperoleh
sebagai berikut (Tabel 25):
Tabel 25 Hasil analisis regresi fungsi produksi Cobb-Douglass Model
Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
t Significant B Std. Error Beta (Constant) -0,316 0,137 -2,297 0,028 BSB 0,616 0,082 0,630 7,488 0,000 PBK 0,211 0,085 0,208 2,480 0,018 PH 0,187 0,010 0,357 18,434 0,000
Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Keterangan:
BSB = Berat Sapi Bakalan (kg/ekor)
PBK = Pakan bahan Konsentrat (kg/ekor/periode) PH = Pakan Hijauan (kg/ekor/periode)
Koefisien regresi berat bakalan sebesar 0,616 berarti setiap penambahan 1 kg berat bakalan dalam masa pertumbuhan akan meningkatkan produksi sebesar
0,616 kg. Elastisitas produksi bernilai positif karena berada di antara 0 ≤ bi ≤ 1,
menunjukkan berat bakalan berada pada daerah produksi rasional (Fase II), berarti secara teknis berat sapi bakalan dimanfaatkan secara efisien.
Koefisien regresi pakan bahan konsentrat sebesar 0,211 berarti setiap penambahan 1 kg pakan bahan konsentrat yang diberikan kepada 1 ekor sapi pada masa pertumbuhan, akan meningkatkan produksi sebesar 0,211 kg. Elastisitas
produksi bernilai positif karena berada di antara 0 ≤ bi ≤ 1, menunjukkan pakan
Usaha Ternak 50% Buruh 4% Usaha tani 32% Ojeg 0% PNS 1% Pengrajin 1% Pedagang 12%
50
bahan konsentrat berada pada daerah produksi rasional (Fase II), berarti secara teknis pakan bahan konsentrat dimanfaatkan secara efisien.
Koefisien regresi pakan hijauan sebesar 0,187 berarti setiap penambahan 1 kg pakan hijauan yang diberikan kepada 1 ekor sapi pada masa pertumbuhan, akan meningkatkan produksi sebesar 0,187 kg. Elastisitas produksi bernilai positif
karena berada di antara 0 ≤ bi ≤ 1, menunjukkan pakan hijaun berada pada daerah
produksi rasional (Fase II), berarti secara teknis pakan hijauan dimanfaatkan secara efisien.
Penggunaan faktor produksi yang optimal dapat dilihat pada tabel 26.
Tabel 26 Optimasi penggunaan Input Produksi
Variabel Elastisitas (bi) rata-rata input aktual (Xi*) MPP PY VMPxi PX VMP/PX Input Optimal BB 0,616 235 0,785216 35000 27482,55 35.000 0,7852 185 PBK 0,211 464 0,136 4767,5 1100 4,3341 2.010 PH 0,187 1521 0,036917 1292,097 350 3,6917 5.615
Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Keterangan :
MPP = Marginal Physical Product
PY = Harga output
VMP = Value of The Marginal Product
PX = Harga input
Berdasarkan hasil analisis optimasi penggunaan input produksi sapi
potong, didapatkan bahwa nilai VPM/PX didapatkan sebesar 0,785 (VPM/PX < 1)
artinya bahwa berat sapi bakalan berada di daerah elastisitas III dan perlu
pengurangan berat sapi bakalan yang dipergunakan. Nilai VPM/PX untuk
pemberian pakan bahan konsetrat sebesar 4,334 (VPM/PX > 1) artinya bahwa
pemberian pakan bahan konsentrat berada pada daerah elastisitas II atau perlu adanya penambahan pemberian pakan bahan konsetrat. Untuk nilai NMP/PX
pemberian pakan hijauan sebesar 3,692 (VPM/PX > 1) artinya bahwa pemberian
pakan hijauan berada pada daerah elastisitas II atau perlu adanya penambahan pemberian pakan hijauan.
Produksi optimal sapi potong di Kabupaten Garut berdasarkan penggunaan input aktual adalah:
ln Y = ln b0 + b1 ln X1 + b2 ln X2 + b3 ln X3 = -0,316 + 0.616 ln X1 + 0,211 ln X2 + 0,187 Ln X3 = - 0,316 + 0,616 ln 235 + 0,211 ln 464 + 0,187 ln 1521 = 5,712792 Maka Y = e5,7 = 302,7152 kg
Jika menggunakan input optimal maka di hasilkan
ln Y = ln b0 + b1 ln X1 + b2 ln X2 + b3 ln X3 = -0,316 + 0.616 ln X1 + 0,211 ln X2 + 0,187 Ln X3 = - 0,316 + 0,616 ln 185 + 0,211 ln 2010 + 0,187 ln 5615 = 6,11899 Maka Y = e6,1 = 454,4054 kg
51 Adapun untuk perbandingan antara penggunaan input aktual dan penggunaan input optimal dapat dilihat pada tabel 27.
Tabel 27 Perbandingan Penggunaan Input Aktual dengan Input Optimal
Keterangan Kondisi Input Aktual Kondisi Input Optimal Fase Elastisitas
Rata-rata berat akhir sapi potong (Kg) 302,71 454,4 Rata-rata penggunaan berat sapi bakalan (Kg) 235 185
VMP < 1 elastisitas daerah III, Perlu pengurangan Faktor Produksi
Rata-rata penambahan berat badan (Kg) 67,71 269,4 Rata-rata penambahan per Hari (Kg) 0,8 1,2 Rata-rata lama waktu penggemukan (Hari) 81 225 Rata-rata pemberian pakan bahan konsentrat
(Kg/hari) 7 9
VMP > 1 elastisitas daerah II, Perlu penambahan Faktor Produksi
Rata-rata pemberian pakan hijauan (Kg/hari) 19 24
VMP > 1 elastisitas daerah II, Perlu penambahan Faktor Produksi
Sumber: Data Primer Diolah, 2013
Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan bahwa penggunaan input optimal untuk berat sapi bakalan seberat 185 kg, sedangkan penggunaan berat sapi bakalan secara aktual seberat 235 kg. Hal ini berarti penggunaan berat sapi bakalan harus dikurangi sebesar 50 kg. Penambahan berat sapi potong disaat optimal sekitar 269,4 Kg, sedangkan penambahan berat sapi saat aktual sekitar 67,71 Kg. Jika penambahan berat diasumsikan kondisi input aktual sebesar 0,8 Kg/hari dan kondisi input optimal yaitu sebesar 1,2 Kg/hari, maka waktu pemeliharaan sapi potong untuk kondisi aktual sekitar 81 hari dan saat kondisi input optimal sekitar 225 hari. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa pemberian pakan harian (pakan bahan konsentrat dan pakan hijauan) sebesar ± 30 kg/hari. Rata-rata pemberian pakan bahan konsentrat per hari saat kondisi aktual sebanyak 7 Kg/hari, sedangkan saat kondisi input optimal sebanyak 9 Kg/hari atau perlu dilakukan penambahan sebanyak 2 kg/hari. Rata-rata pemberian pakan hijauan saat kondisi aktual sebanyak 19 kg/hari, sedangkan kondisi input optimal sebanyak 24 kg/hari atau perlu ada penambahan sebanyak 5 kg/hari.
Implikasi Kebijakan Pengembangan Sapi Potong
Hasil analisis peluang pengembangan usaha penggemukan sapi potong di Kabupaten Garut terdapat 12 Kecamatan di Kabupaten Garut yang memiliki peluang pengembangan. Lima kecamatan yang potensial meliputi Kecamatan Bungbulang, Cikelet, Cisompet, Pamulihan dan Cibalong. Potensi total pengembangan sapi potong di daerah tersebut sebanyak 45.003,90 satuan ternak. Untuk kesejahteraan peternak, minimal pemeliharaan sapi potong sebanyak 5-6 ekor, dengan penghasilan per bulan sebesar Rp 1.687.085. Penghasilan tersebut diatas Upah Minimum Kabupaten (UMK) Kabupaten Garut sebesar Rp. 1.085.000 per bulan yang ditetapkan Gubernur Jawa Barat melalui Surat Keputusan no.561/Kep.1636-Bangsos/2013 tentang Upah Minimum Kabupaten/Kota di Jawa Barat tahun 2014. Dalam memaksimalkan keuntungan (penghasilan) yang optimal maka pengkajian terhadap penggunaan input yang
52
optimal sangat diperlukan. Adapun penggunaan input optimal, berat optimal sapi bakalan seberat 185 kg. Jika penambahan berat sapi optimal sebesar 1,2 kg/hari dengan lama penggemukan selama 225 hari maka dibutuhkan pakan bahan konsentrat secara optimal sebesar 9 kg/hari dan pemberian pakan hijauan oleh peternak rata-rata sebanyak 24 kg/hari.
Berdasarkan hasil beberapa analisis di atas, maka akan didapatkan
implikasi kebijakan dalam pengembangan sapi potong di Kabupaten Garut. Adapun implikasi kebijakan yang diambil meliputi 3 pilar pembangunan berkelanjutan yaitu aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Adapun kebijakan berdasarkan aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut:
A. Aspek Ekonomi
Kebijakan aspek ekonomi ini diambil menyangkut pengembangan harga dan pasar. Adapun kebijakannnya adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan daerah sentra ternak sapi potong.
Lima daerah yang masih memiliki KPPTR positif bisa meningkatkan populasi hingga 45.000 ekor yaitu Kecamatan Bungbulang (mampu menambah 14.527 ekor sapi), Cikelet (mampu menambah 9.959 ekor sapi), Cisompet (mampu menambah 7.981 ekor sapi), Pamulihan (mampu menambah 6.507 ekor sapi) dan Cibalong (mampu menambah 6.030 ekor sapi). Lima kecamatan tersebut berada di Kabupaten Garut bagian selatan.
2. Peningkatan skala usaha ternak.
Kebijakan ini sejalan dengan kebijakan peningkatan daerah sentra ternak yang telah dianalisis ketersediaan pakan dan peningkatan jumlahnya. Kebijakan ini memerlukan peran serta pemerintah dalam memberikan modal kepada petani. Misalnya berupa kredit pembelian sapi potong dengan mininal 5-6 ekor pemeliharaan supaya kesejahteraan peternak meningkat dengan pendapatan perbulan sebesar Rp 1.687.085.
3. Pengembangan pakan bahan konsentrat murah dan berkualitas
Kebijakan ini bertujuan memberikan kemudahan bagi peternak dalam mendapatkan bahan konsentrat murah dan berkualitas dan menunjang kebijakan sebelumnya. Hal ini mengingat pemberian pakan bahan konsentrat dan pakan hijaun perlu dilakukan penambahan agar mendapatkan hasil yang optimal. Kebijakan ini dapat diterapkan dengan mendirikan atau memberikan bantuan alat pengolahan pakan sederhana di sentra-sentra ternak.
B. Aspek Sosial
Kebijakan aspek sosial ini ditujukan untuk pengembangan sumberdaya peternak, agar memiliki kemampuan beternak yang baik. Adapun kebijakan aspek sosial meliputi:
1. Peningkatan tenaga penyuluh yang kompeten melalui sekolah lapang bagi
peternak.
Kebijakan ini untuk meningkatkan pengetahuan peternak mengenai sistem usaha ternak sapi potong terutama dalam pengendalian penyakit, produktivitas sapi, dan lain-lain. Hal ini mengingat rendahnya pendidikan para peternak di Kabupaten Garut. Metode sekolah lapang dengan tenaga penyuluh yang handal diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.
2. Mengarahkan kelompok usaha agribisnis peternakan terpadu dengan kandang
53 Sistem kandang komunal ini memberikan ruang kepada peternak untuk saling bekerjasama dalam hal produksi dan pemasaran hasil ternak untuk
mengantisipasi kecurangan dari para “belantik”.
C. Aspek Lingkungan
Kebijakan dari aspek lingkungan dilakukan agar peternakan sapi potong memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup. Adapun kebijakan aspek lingkungan adalah sebagai berikut:
1. Penetapan kawasan pakan hijauan di setiap daerah sentra peternakan.
Hal ini untuk menjaga ketersediaan pakan hijauan ternak dan memaksimalkan penggunaan lahan dalam kegiatan peternakan terutama di kecamatan yang potensial dikembangkan, terutama di Kecamatan Bungbulang, Cikelet, Cisompet, Pamulihan dan Cibalong. Penetapan kawasan tersebut perlu disesuaikan pula dengan pembangunan sektor yang lainnya.
2. Pengembangan budidaya rumput gajah di sentra peternakan.
Adanya daerah yang telah terjadi over population yaitu Kecamatan Cigedug, Cisurupan, Cikajang, Malangbong dan Bayongbong maka menyebabkan
terjadinya over grazing di daerah tersebut sehingga diperlukan kebijakan ini
untuk mengantisipasinya.
3. Peningkatan sistem integrasi usaha tani antara tanaman dengan ternak.
Kebijakan ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah pertanian maupun peternakan sebagai tambahan bahan produksi input yang murah dan terjangkau dengan cara memanfaatkan jerami padi sebagai sumber serat kasar untuk sapi dan menyediakan pupuk organik dari kotoran sapi untuk tanaman.
4. Pengembangan pemanfaatan limbah ternak.
Kebijakan ini akan berjalan secara maksimal dengan penerapan sistem kandang komunal sehingga limbahnya tidak mencemari lingkungan dan dapat diolah menjadi biogas, kompos dan sebagainya.