I. B.P.U TAMBANG TIMAH
6. GAMBARAN UMUM DAN TINDAKA.N 2 PENTING TENTANG
PENGERAHAN FUND & FORCES SWASTA. I). Keadaan sekarang :
Sepandjang jang menjangkut modal dan tenaga swasta, Manipol Dekon, Ketetapan2 M.P.R.S, 1I/60, Ketetapan2 M.P.R S. VI/
1965, telah menentukan 3 hal pokok jakni :
1). Partisipasi funds and forces swasta dalam pembangunan.
2). Membedakan watak funds and forces swasta jang progressif de- ngan jang retrogresif.
3). Setjara funksionil funds and forces Domestik jang progressif disamakan dengan funds and forces Nasional jang progressif. Dalam kenjataannja sedjak lahirnja Manipol hingga sekarang, funds and forees swasta Nasional jang progresif termasuk Do- mestik belum dapat dikerahkan dalam pembangunan seperti jang ditjita-tjitakan. Jang menjebabkan pengerahan modal dan tenaga tersebut mengalami kesulitan, karena belum adanja pengertian jang tepat tentang pengerahan funds and forces itu sendiri. Se- mentara orang mengartikan pengerahan funds and forces se- bagai „funds-raising” (mengumpulkan dana) belaka jang kemu- dian akan diinvestir dalam matjam2 projek. Keadaan ini me-
nimbulkan ketjenderungan dalam praktek untuk semata-mata memikirkan projek2 baru sedangkan industri2 jang sudah lama
ada diterlantarkan.
Pengertian jang belum „clear” itu tentunja tidak dapat menarik massa pengusaha swasta bahkan sebaliknja menimbulkan rasa bingung dan tidak simpatik.
Harus dilepaskan harapan dan chajalan jang masih terdapat dikalangan sementara pedjabat bahwa akan dapat dikumpulkan dana jang tjukup dengan djalan „funds-raising” untuk menaik- kan produksi. Usaha pemerintah untuk menarik uang dari ma sjarakat dengan djalan mendjual obligasi2 tidak mentjapai hasil
jang direntjanakan sebagai akibat jang menjebabkan nilai rupi- ah merosot.
Mengerahkan setjara tepat funds and forces swasta, tidak berarti mengumpulkan modalnja, melainkan membiarkan massa pengusa- ha swasta sendiri bekerdja menurut kemampuannja masing2 dan
kondisi2 setempat dalam rangka mengembangkan industri swasta
jang sudah ada dan mengalihkan modal dagang kebidang pro- duksi.
Artinja mengerahkan setjara massa dan massal modal dan ten- tang massa pengusaha swasta.
mengerahkan funds and forces, timbul pemikiran kemana me- reka harus digerakkan dan dibimbing. Kita hams setjara seren- tak mengerahkan alat2 produksi jang sudah ada, dan modal
serta tenaga swasta jang menganggur kebidang produksi, dengan titik berat pada membikin lebih produktip alat2 jang sudah ada.
Pendirian industri2 swasta jang bare tidak boleh mengganggu
kelangsungan serta kapasitas alat2 produksi jang sudah ada,
Pokoknja tiap industri jang sudah ada maupun jang baru, ha- rus didjamin akan kelangsungan berproduksi.
Tentang bidang produksi. jang sangat luas itu perlu ada ketegasan
setjara terperintji apa jang diartikan dengan industri Besar dan Ringan (Ringan-Besar, Ringan-Sedang, Ringan-Ketjil) menurut apa jang ditentukan dalam Ketetapan M.P.R.S. 1I/1960. Hingga sekarang dikalangan pengusaha swasta maupun Pemerintah sen- diri belum terdapat gambaran dan pengertian jang djelas tentang bidang2 tersebut. djuga mangenai arti vital atau menguasai ha-
djat hidup rakjat banjak dirasa perlu adanja ketegasan.
Untuk mendjamin berhasilnja pengerahan funds and forces na- sional jang progresip termasuk domestik, sangat tergantung pa-da ada tidaknja iklim jang baik.
lklim jang balk tidak terbatas pada tertjiptanja iklim ekonomi sadja melainkan djuga iklim politis, karena jang satu tak ter- pisahkan dari jang lain.
Berdasarkan pengalaman2 jang objektip jang selama ini mendja
di penghalang kelantjaran pengerahan funds and forces, maka sangat perlu ditjiptakan kondisi2 jang favourable baik ekonomis
maupun politiknja.
2) Tindakan2 penting jang perlu diambil.
Setjara konkrit dirasa perlu dipikirkan setjara serius tindakan2
dan tjara jang dapat memperlantjar pengerahan funds and for- ces swasta dan membangkitkan kegairahan bekerdja dengan djalan :
a) Mentjabut Bedrijfsreglemeneringsordonantie 1934 serta verorde- ningnja 1935 dan diganti dengan Undang2 Perusahaan sebagai
pelaksanaan prinsip „Berdikari” disektor produksi jang antara lain harus menentukan :
1) memparlantjar perizinan berusaha dengan prinsip :
dirikan dulu izin belakangan, ketjuali bagi beberapa djenis in- dustri tertentu,
2) memperintji djenis2 usaha dan industri dibidang produksi jang
disediakan bagi Perusahaan Negara.
Koperasi. swasta nasional progresip termasuk domestik dan usa- ha bersama antara Pemerintah dengan swasta (joint enterprise).
Undang2 Perusahaan tersebut hares didjadikan sumber bagi pe-
raturan2 disektor. lainnja seperti distribusi, transport dll.
b). Membuat plan produksi dan plan import untuk mendjamin kelangsungan berproduksi dengan menjediakan bahan baku/pe- nolong serta spare-parts (termasuk replacement) jang tjukup dan kontinu untuk mana hams diambil kebidjaksanaan tegas me- njetop sama sekali import barang2 mewah dan mengurangi ber-
angsur-angsur import barang jang sudah dapat dihasilkan di dalam negeri.
c). Membuat plan distribusi, terutama jang menjangkut barang2 ke-
butuhan pokok sebagai pelaksanaan dari pada Dewan Pertim- bangan Agung dan P.P. 140/1963, jang untuk kelantjarannja ter- utama ditugaskan pada Perusahaan2 Negara.
d). Plan produksi, plan distribusi dan plan penggunaan devisen satu dengan jang lain harus merupakan suatu integrerend deal. Untuk mentjegah kesimpang siuran pelaksanaan planning terse- but, maka penggunaan devisen harus benar2 tertib dan ditudju-
kan untuk mendorong pelaksanaan prinsip „Berdikari”.
e). Menangguhkan untuk sementara import mesin2 baru bagi swas-
ta jang bahan2 bakunja sebahagian terbesar masih harus di-
datangkan dari luar negeri, guna memungkinkan usaha memper- besar kapasitet produksi jang sekarang ternjata bekerdja rata2
20 s/d 25 pct, dari kapasitet penuh dan guna mengembangkan usaha pengolahan bahan2 didalam negeri.
f). Menertibkan dengan segera berbagai - bagai bentuk pungutan2/
sumbangan2 jang bersifat paksaan jang pada hakekatnja meru-
pakan padjak dan langsung mempengaruhi pembentukan harga (prijsvorming) jang pada taraf terachir mendjadi beban konsu- men. Pungutan2 dalam bentuk apapun djuga jang dikenakan
terhadap swasta hares dilakukan berdasarkan Undang - undang untuk memudahkan social control jang efektif dan untuk mem- perhebat kegairahan membangun jang bermanfaat bagi usaha menjehatkan sektor ekonomi swasta nasional progressif.
g). Menindjau kembali matjam2 peraturan dan kebidjaksanaan se-
tempat jang tidak sehat sebagai sisal warisan zaman liberal se-
perti a.l.
1). Peraturan wadjib asuransi bagi semua pengusaha swasta jang berlaku dibeberapa kola dan jang pelaksanaannja diserahkan pada Asuransi Swasta.
2). Peraturan partisipasi sukarela jang praktis diwadjibkan dalam pe- rusahaan jang sudah ada dan menentukan adanja keharusan berkongsi antara warga negara Indonesia keturunan „asli” dan keturunan „asing”.
Pemerintah didalam pembangunan dan usaha memperkuat ru- piah dalam rangka membikin planning perkembangan harga jang disusun setjara seimbang dengan perkembangan gadji/upah jang dapat memelihara kegairahan berproduksi serta mendjamin ke- tenangan bekerdja bagi Perusahaan2 dibidang produksi,
i). Mendemokrasikan dan meretool pengurus2 OPS dan Gabungan2
Sedjenis semi Pemerintah untuk memungkinkan adanja inventa- risasi dari pada alat2 produksi sebagai dasar pembuatan suatu
plan produksi dan mendjamin adanja social control jang effektif. j). Menindjau kembali Undang2 No. 3/1958 tenjang penempatan
tenaga domestik-asing, jang dalam praktek mempersulit penge- rahan tehnical skill dan menagerial know-how tenaga domestik asing/kenjataannja telah mendjadi penduduk tetap disini, karena permintaan/perpandjangan izin bagi mereka banjak waktu jang merugikan kelantjaran proces-produksi.
k).Mempertegas pengertian modal domestik asing jang menurut Manipol, Dekon dll., harus diikut-sertakan dalam pembangunan dan menurut PP No, 6/,1965 dinjatakan tidak termasuk dalam
kategori modal asing jang kini dibawah pengawasan dan pengua- saan Pemerintah, dengan menentukan bahwa modal domestik- asing selain tidak berhak transfer djuga harus berasal dari Indonesia sebagai hasil dari pada „local accumulated capital.”
B. K E R T A S K E R D J A
Tentang