Kondisi Industri Jasa Penerbangan Indonesia
Industri jasa penerbangan Indonesia dimulai pada tahun 1949 ketika perusahaan penerbangan milik Belanda KLM Interinsulair Bedrijf diserahkan ke Indonesia sesuai dengan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB). Akhirnya, nama
KLM Interinsulair Bedrijf diubah menjadi Garuda Indonesia Airways oleh Presiden Soekarno dan menjadi maskapai penerbangan komersial pertama di Indonesia. Industri penerbangan nasional terus mengalami perkembangan seiring peningkatan permintaan masyarakat, sehingga pada tahun 1952, pemerintah
membentuk “Djawatan Penerbangan Sipil” (pada tahun 1963 diubah menjadi
Direktorat Penerbangan Sipil) yang bertugas untuk menangani administrasi pemerintah, pengusahaan dan pembangunan bidang perhubungan udara.
Selain Garuda Indonesia Airways, pemerintah juga membentuk maskapai penerbangan lainnya pada tahun 1962 dengan nama Merpati Nusantara Airlines yang ditugaskan untuk penerbangan dalam negeri. Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah mengenai multiairlines system, maka pada tahun 1970an bermunculanlah perusahaan-perusahaan maskapai penerbangan swasta nasional. Maskapai-maskapai swasta ini turut membantu pemerintah dalam melaksanakan program -program pemerintah seperti transmigrasi, membuka daerah terisolir dan lainnya.
Maskapai-maskapai penerbangan nasional terbagi-bagi ke dalam beberapa segmen yakni maskapai niaga berjadwal, niaga berjadwal kargo, niaga tidak berjadwal, niaga tidak berjadwal kargo dan non niaga. Maskapai niaga berjadwal merupakan maskapai yang melayani jasa penerbangan penumpang dengan jadwal yang telah disediakan atau ditetapkan setiap harinya. Maskapai niaga berjadwal kargo adalah maskapai yang melayani jasa penerbangan pengiriman barang atau kargo dengan jadwal yang telah ditetapkan setiap harinya. Maskapai niaga tidak berjadwal dan kargo tidak berjadwal merupakan maskapai yang menyediakan jasa rental atau carteran pesawat. Maskapai non niaga adalah maskapai yang tidak bergerak untuk tujuan komersial atau maskapai milik pribadi atau kelompok. Saat ini ada sekitar 17 maskapai yang merupakan maskapai niaga berjadwal, 3 maskapai niaga berjadwal kargo, 45 maskapai niaga tidak berjadwal, 4 maskapai niaga tidak berjadwal kargo dan 25 maskapai non niaga.
26 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Rute 131 134 134 166 202 189 206 187 170 175 199 217 261 Kota 78 77 77 88 96 101 100 90 88 85 100 107 110 0 50 100 150 200 250 300 Ju m lah ( Satu an )
Bandar udara atau bandara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara, naik turun penumpang/barang serta dilengkapi dengan fasilitas keamanan dan keselamatan penerbangan. Untuk menunjang pelayanan terhadap masyarakat pengguna jasa penerbangan, maka kemampuan, kinerja dan fasilitas bandara harus selalu ditingkatkan sampai pelayanan maksimum yang mampu diberikan. Dalam rangka peningkatan efektifitas dan efisiensi layanan bandara, pemerintah memberikan izin kepada pemerintah daerah, swasta maupun koperasi untuk memanfaatkan setiap lahan bandara. Pemerintah melalui Kementrian Keuangan dan Kementrian Perhubungan saat ini tengah mempersiapkan pelepasan hak pengelolaan beberapa bandara untuk dikelola oleh pihak swasta secara penuh.
Hal yang paling penting dalam urusan industri jasa penerbangan adalah masalah pembagian rute penerbangan karena dari pengoperasian rute penerbangan inilah didapatkan revenue perusahaan. Pembagian rute penerbangan telah diatur oleh pemerintah melalui Kementrian Perhubungan. Menurut Keputusan Mentri Perhubungan No. KM. 126 tahun 1990 tentang rute penerbangan, disebutkan bahwa pembagian rute penerbangan dilakukan dengan pertimbangan status atau sifat perusahaan, keseimbangan supply-demand, kepemilikan atau penguasaan pesawat, pangkalan induk dan kemampuan bandara.
Menurut Noviansyah (2008) dalam tulisannya yang berjudul
“Perkembangan Industri Penerbangan di Indonesia” disebutkan bahwa jalur atau rute penerbangan di Indonesia terdiri dari jalur penerbangan dalam negeri
(domestik), jalur penerbangan perintis dan jalur penerbangan luar negeri (internasional). Seiring dengan semakin meningkatnya permintaan atas jasa angkutan udara, rute penerbangan dalam negeri terus mengalami peningkatan. Rute-rute penerbangan perintis telah banyak bermetamormofosa menjadi rute penerbangan domestik.
Sumber: Buku Statistik Angkutan Udara (2012)
Gambar 5 Grafik perkembangan rute penerbangan nasional
Berdasarkan gambar di atas, diketahui bahwa jumlah rute penerbangan nasional mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2000, jumlah rute
27 0 10000000 20000000 30000000 40000000 50000000 60000000 70000000 80000000 2008 2009 2010 2011 2012 Domestik Internasional
penerbangan dalam negeri mencapai 131 rute yang melayani sekitar 78 kota. Jumlah tersebut terus bertambah sampai pada tahun 2004 yakni sebanyak 202 rute yang melayani 96 kota. Pada tahun 2005 terjadi penurunan jumlah rute meskipun
terjadi kenaikan jumlah kota yang dilayani dimana jumlah rute yang tersedia adalah sebanyak 189 yang melayani 101 kota. Jumlah rute yang dilayani terus mengalami penurunan hingga tahun 2009. Pada tahun 2010, jumlah rute penerbangan nasional kembali meningkat dengan 199 rute yang melayani 100 kota. Pada tahun 2012, jumlah rute penerbangan nasional tumbuh sampai 261 rute yang melayani 110 kota di seluruh Indonesia.
Sumber: Kementrian Perhubungan (2012)
Gambar 6 Grafik permintaan jasa penerbangan nasional
Berdasarkan Gambar 6 di atas, permintaan pasar domestik industri jasa penerbangan nasional jauh lebih tinggi daripada permintaan internasional. Pasar dometik merupakan kekuatan pasar para pelaku industri jasa penerbangan nasional. Meskipun permintaan penerbangan internasional tidak sebesar
Jum lah pe rmint aa n (or an g )
28
permintaan domestik, namun permintaan penerbangan internasional tetap mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ini diprediksi akan semakin meningkat di tahun-tahun ke depan seiring meningkatnya pelayanan yang diberikan para pelaku usaha jasa penerbangan nasional.
Sumber: Bank Indonesia (2014)
Gambar 7 Grafik pertumbuhan ekspor jasa penerbangan Indonesia
Seperti yang ditunjukan Gambar 7 di atas, dari tahun 2005, pertumbuhan ekspor jasa penerbangan nasional mengalami fluktuatif yang cukup tinggi. Pertumbuhan ekspor jasa penerbangan yang sampai 33 persen pada tahun 2005 mengalami penurunan hingga minus 20 persen pada tahun 2006. Lalu naik lagi sampai tahun 2008 senilai 60 persen dan turun lagi pada tahun 2009 hingga minus 40 persen. Pertumbuhan kembali meningkat pada tahun 2010 dan 2011 dengan nilai 45 persen dan 57.7 persen. Pertumbuhan kembali turun pada tahun 2012 dimana hanya tumbuh sekitar 9.4 persen.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kekuatan industri jasa penerbangan adalah dari permintaan dalam negeri yang sangat besar. Namun dalam beberapa tahun terakhir, nilai ekspor jasa penerbangan terus mengalami pertumbuhan. Hal ini akibat semakin meningkatnya pelayanan dan daya saing yang dimiliki oleh industri jasa penerbangan nasional.
Kondisi Industri Jasa Penerbangan ASEAN 1. Permintaan Jasa Penerbangan Negara-Negara ASEAN
P erse ntase pe rtumbuha n (%)
29
Sumber: ASEAN-Japan Transport Partnership (2012)
Gambar 8 Permintaan jasa penerbangan negara-negara ASEAN
Negara-negara dengan permintaan jasa penerbangan tinggi di ASEAN
adalah Thailand, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Pada tahun 2008 permintaan jasa penerbangan Thailand mencapai 57.7 juta kursi. Permintaan tertinggi kedua ditempat oleh Malaysia dengan jumlah permintaan 48.2 juta kursi, lalu diikuti oleh Indonesia dengan 41.5 juta kursi. Namun, negara dengan pertumbuhan permintaan teringgi adalah Indonesia. Dalam kurun waktu 5 tahun permintaan jasa penerbangan Indonesia mampu bertumbuh hingga 96 persen. Pada tahun 2012, Indonesia menempati urutan kedua permintaan tertinggi dengan total permintaan mencapai 81.3 juta kursi. Jumlah ini masih di bawah Thailand dengan total permintaan mencapai 82.6 juta kursi.
Sumber: ASEAN-Japan Transport Partnership (2012)
30
Karakteristik permintaan jasa penerbangan tiap negara ASEAN berbeda-beda. Singapura dan Brunei Darussalam merupakan negara dengan keseluruhan permintaan jasa penerbangan internasional. Hal ini dikarenakan karena kedua negara tersebut berukuran kecil dan hanya memiliki satu bandara. Sehingga permintaan penerbangan domestik tidak ada. Indonesia dan Filipina memiliki karakteristik permintaan domestik yang jauh lebih besar dibandingkan permintaan internasional. Thailand, Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Laos memiliki karakteristik permintaan yang relatif berimbang antara permintaan domestik dan internasional.
2. Pergerakan Pesawat Berpenumpang di ASEAN Sumber: ASEAN-Japan Transport Partenrship (2012)
Gambar 10 Pergerakkan pesawat berpenumpang di ASEAN tahun 2008 dan 2012 Secara keseluruhan terdapat sekitar 2.3 juta pergerakan pesawat berpenumpang pada tahun 2008 di seluruh wilayah ASEAN. Pergerakan pesawat tertinggi terjadi di Filipina dengan 567.813 pergerakan pesawat. Pergerakan terbanyak kedua terdapat di Malaysia lalu diikuti oleh Thailand. Pada tahun 2008 pergerakan pesawat di Indonesia baru mencapai 378.282. Pada tahun 2012 terjadi sekitar 3.1 juta kali pergerakan pesawat di wilayah ASEAN. Indonesia menjadi negara dengan pergerakkan pesawat terbanyak di tahun 2012 yang mencapai 684.658 kali. Pertumbuhan pergerakkan pesawat di Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun mencapai 50 persen.
3. Maskapai Penerbangan ASEAN
Pada tahun 1998 terdapat sekitar 31 perusahaan maskapai penerbangan yang
tersebar di negara-negara anggota ASEAN. Filipina memiliki maskapai penerbangan reguler terbanyak dengan 8 maskapai penerbangan. Indonesia saat itu memiliki 6 maskapai penerbangan reguler. Seiring dengan bertumbuhnya perekonomian ASEAN, jumlah maskapai penerbangan juga mengalami peningkatan hingga mencapai 63 maskapai penerbangan reguler pada tahun 2012. Indonesia memiliki maskapai penerbangan reguler terbanyak dengan 13 maskapai. Pertumbuhan jumlah maskapai tertinggi terjadi di Thailand yang pada tahun 1998 hanya memiliki 2 maskapai penerbangan, bertambah menjadi 10 maskapai pada tahun 2012 seperti yang terlihat pada Gambar 11.
31
Sumber: ASEAN Strategic Transport Plan (2012)
Gambar 11 Jumlah maskapai negara-negara ASEAN tahun 1998 dan 2012 Tabel 6 Statistik finansial maskapai besar ASEAN tahun 2012 (dalam juta dollar Amerika)
Maskapai Total Pendapatan Total Pengeluaran Total Aset Singapore Airlines (SIN) Garuda Indonesia (INA) Malaysia Airlines (MAL) Thai Airways (THA) Phillipines Airlines (PHI) 12.078 3.472 4.466 6.870 1.708 11.895 3.304 4.598 6.641 1.815 17.942 2.517 NA 9.784 NA Sumber: Bloomberg Bussinessweek (2012)
Berdasarkan data statistik finansial lima maskapai besar milik pemerintah di Asia Tenggara di atas diketahui bahwa Singapore Airlines sebagai maskapai terbesar dengan total pendapatan pada tahun 2012 mencapai US$12.078 juta. Maskapai penerbangan Thailand Thai Airways berada di posisi kedua dengan total pendapatan US$6.870 juta lalu Malaysia Airlines berada di posisi ketiga dengan pendapatan US$4.466 juta. Maskapai penerbangan milik Indonesia Garuda Indonesia berada di posisi keempat dengan total pendapatan sebesar US$ 3.472 juta dan terakhir Philippina Airlines dengan pendapatan US$1.708 juta.
Keuntungan terbesar diperoleh oleh Thai Airways dengan keuntungan mencapai US$ 200 juta lalu diikuti Garuda Indonesia dengan keuntungan sebesar US$168 juta. Malaysia Airlines dan Philippines Airlines mengalami kerugian pada tahun 2012. Kerugian Malaysia Airlines mencapai US$132 juta. Malaysia Airlines merupakan maskapai besar skala dunia yang telah mengalami kerugian selama tiga tahun terakhir.
32
4. Bandara Utama di ASEAN
Tabel 7 Bandara utama ASEAN Bandara Panjang Lintasan
(P x L, m)
Penumpang per tahun (orang)
Bandar Seri Begawan (Bru) Pochentong (Kam)
Soekarno-Hatta (Ina) Vientiane (Lao) Kuala Lumpur (Mal) Yangon (Mya) Ninoy Aquino (Fil) Changi (Sin)
Survarnabhumi (Tha) Noi Bai (Vie)
3.658 x 46 3.000 x 44 3.600 x 60 3.600 x 60 3.600 x 45 4.056 x 60 4.124 x 60 3.413 x 61 3.737 x 60 2.258 x 45 4.000 x 60 4.000 x 60 2.748 x 59 4.000 x 60 3.700 x 60 3.700 x 60 3 Juta 3 Juta 53 Juta 1.4 Juta 37 Juta 2 Juta 31 Juta 46 Juta 47 Juta 15 Juta Sumber: ASEAN Strategic Transport Plan (2012)
Bandara-bandara utama ASEAN pada umumnya telah memiliki standar fasilitas dan keamanan yang sesuai standar internasional. Panjang lintasan rata-rata bandara telah melebihi standar yang ditetapkan oleh badan internasional. Pihak otoritas bandara masing-masing negara juga telah melakukan pengembangan bandara untuk meningkatkan fasilitas-fasilitas bandara dalam rangka menyambut kebijakan open sky policy. Bandara Changi Singapura merupakan bandara terbesar dan termegah di ASEAN yang telah memiliki 3 terminal lintasan. Lalu, bandara Soekarno-Hatta menjadi bandara dengan jumlah pergerakkan penumpang tertinggi dibandingkan dengan bandara-bandara utama lainnya.
33
HASIL DAN PEMBAHASAN
Daya Saing Industri Jasa Penerbangan Nasional (Keunggulan Komparatif) Analisis daya saing industri jasa penerbangan nasional menggunakan pendekatan Revealed Comparative Advantage (RCA). Metode ini didasarkan pada suatu konsep yang menyatakan bahwa perdagangan antar wilayah sebenarnya menunjukkan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh suatu wilayah. Variabel yang diukur dalam analisis RCA ini adalah total nilai ekspor jasa angkutan udara dan total nilai ekspor seluruh jasa Indonesia yang akan dibandingkan dengan variabel sama dengan nilai seluruh dunia. Apabila nilai RCA lebih besar dari satu berarti negara tersebut memiliki keunggulan komparatif untuk industri jasa penerbangan. Sebaliknya jika nilai RCA kurang dari satu, maka negara tersebut tidak memiliki keunggulan komparatif.
Metode analisis RCA dapat ditafsirkan bahwa jika pangsa ekspor industri jasa penerbangan Indonesia dalam ekspor seluruh jasa Indonesia lebih besar dibandingkan dengan pangsa ekspor industri jasa penerbangan dunia dalam ekspor seluruh jasa dunia maka dapat dikatakan bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam industri jasa penerbangan. Analisis daya saing industri jasa penerbangan nasional ini dihitung sejak tahun 2004 hingga tahun 2011. Range
waktu yang relatif singkat dari 2004 hingga 2011 ini disebabkan oleh terbatasnya data yang tersedia serta perkembangan industri jasa Indonesia yang baru mulai bergerak pada awal 2000-an.
Tabel 8 Hasil perhitungan RCA dan indeks RCA
Tahun RCA Daya Saing Jasa
Penerbangan Nasional Indeks RCA 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 1.05777 1.24629 1.10204 1.08032 1.43061 1.10063 1.20148 1.50259 1.55984 Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat - 1.17822 0.88425 0.98029 1.32424 0.76934 1.09163 1.25061 1.03809 Perkembangan industri jasa penerbangan Indonesia yang sempat mengalami peningkatan hingga pada tahun 1996 akhirnya menurun pada tahun 1997 akibat krisis moneter yang melanda negeri. Pada masa-masa pemulihan ekonomi nasional, industri jasa penerbangan mangalami penurunan permintaan yang cukup besar hingga tahun 2000. Awal tahun 2000an merupakan momen kebangkitan industri jasa penerbangan. Secara keseluruhan, daya saing industri jasa penerbangan nasional sejak tahun 2004 hingga 2012 selalu kuat. Pada tahun 2004, level RCA industri jasa penerbangan nasional kuat yakni bernilai 1.05777. Nilai ekspor jasa penerbangan nasional bernilai sekitar 428 juta dollar AS, sementara total ekspor keseluruhan jasa nasional adalah sebesar 12 miliar dollar AS. Di sisi
34
lain ekspor jasa penerbangan dunia bernilai sekitar 77 miliar dollar AS, dan nilai ekspor jasa dunia sebesar 2298 miliar dollar AS.
Pada tahun 2005 daya saing industri jasa penerbangan nasional memiliki nilai RCA sebesar 1.24629. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan nilai ekspor jasa penerbangan Indonesia yang mencapai 33 persen sementara pertumbuhan ekspor jasa nasional hanya sekitar 7 persen. Pada tahun 2005 ini, ekspor jasa penerbangan nasional bernilai 572 juta dollar AS dan ekspor jasa nasional sekitar 13 miliar dollar AS. Nilai indeks RCA yang juga lebih dari satu menunjukan daya saing industri jasa penerbangan lebih meningkat dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini tidak lepas dari pertumbuhan ekonomi nasional yang signifikan serta semakin stabilnya kondisi politik nasional setelah berlangsungnya pemilihan umum presiden secara langsung pada tahun 2004. Meskipun mengalami beberapa tekanan seperti kebijakan pemerintah mengurangi subsidi bahan bakar pada akhir tahun 2005, pelemahan nilai tukar rupiah serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam negeri yang dapat menyebabkan berkurangnya permintaan jasa penerbangan internasional seperti bencana Tsunami di Aceh dan Bom Bali II, namun industri jasa penerbangan nasional masih bisa memiliki daya saing yang kuat dikarenakan oleh pertumbuhan ekspor jasa penerbangan dunia yang hanya sekitar 10 persen dan pertumbuhan ekspor jasa dunia hanya sebesar 12 persen. Pertumbuhan yang sedikit itu, membuat pangsa ekspor jasa penerbangan dunia terhadap ekspor jasa secara menyeluruh menjadi lebih kecil.
Tingkat daya saing industri jasa penerbangan nasional tahun 2006 masih kuat namun, indeks RCA menunjukan nilai dibawah 1 yang artinya daya saing jasa penerbangan nasional tahun ini lebih rendah dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2006, ekspor jasa penerbangan nasional mengalami penurunan yang cukup besar dari tahun sebelumnya yakni sebesar 22 persen. Penurunan ini juga diikuti penurunan ekspor jasa secara keseluruhan yang turun sebesar 10 persen. Indonesia hanya mengekspor jasa penerbangan senilai 442 juta dollar AS sepanjang tahun dan mengekspor jasa keseluruhan sebesar 11.5 miliar dollar AS. Penurunan nilai ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain warisan kebijakan ekonomi tahun sebelumnya dimana subsidi bahan bakar minyak yang dicabut pemerintah menyebabkan inflasi yang cukup tinggi sehingga mengurangi daya beli dan keinginan masyarakat untuk bepergian ke luar negeri. Selain itu, peristiwa Bom Bali II di akhir 2005 lalu mengurangi minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia serta kejadian kecelakaan pesawat salah satu maskapai nasional Garuda Indonesia menyebabkan kepercayaan masyarakat internasional terhadap maskapai dalam negeri jadi berkurang. Di sisi lain, ekspor jasa penerbangan dunia mengalami peningkatan yang cukup tinggi yakni sekitar 25 persen, dan ekspor jasa dunia secara keseluruhan juga mengalami peningkatan sebesar 20 persen dari tahun sebelumnya. Pada tahun ini ekspor jasa penerbangan dunia mencapai 100 miliar dolar AS dan ekspor jasa dunia sebesar 2.8 triliun dollar AS. Tingkat daya saing yang masih kuat pada tahun 2006 disebabkan oleh rendahnya pangsa ekspor jasa penerbangan dunia terhadap ekspor jasa secara keseluruhan.
Nilai indeks RCA pada tahun 2007 masih kecil dari 1. Hal ini menunjukan pada tahun 2007, kekuatan daya saing industri jasa penerbangan nasional lebih rendah dari tahun 2006. Namun pelemahan ini lebih baik dari pelemahan tahun sebelumnya. Maskapai-maskapai nasional berhasil mengekspor jasa penerbangan
35 senilai 485 juta dollar AS, nilai ini tumbuh sekitar 9 persen dari tahun sebelumnya. Ekspor jasa Indonesia secara keseluruhan juga mengalami pertumbuhan sekitar 8 persen. Industri penerbangan nasional mulai mengalami pertumbuhan lagi seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional, pertumbuhan wisatawan mancanegara dan kembalinya kepercayaan masyarakat internasional terhadap maskapai penerbangan nasional setelah berbagai upaya perbaikan pelayanan yang dilakukan oleh maskapai-maskapai nasional. Salah satu tantangan berat yang harus dihadapi industri perdagangan adalah kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) yang terus meningkat secara signifikan. Peningkatan harga bahan bakar ini memaksa setiap maskapai penerbangan melakukan berbagai tindakan efisiensi seperti fuel conservation program dan lainnya serta harus menerapkan fuel surcharge sebagai salah satu usaha untuk menutupi membengkaknya biaya operasional akibat kenaikan harga bahan bakar.
Pada tahun 2008, daya saing industri jasa penerbangan nasional kembali meningkat dengan memiliki nilai RCA sebesar 1.4306 dan indeks RCA sebesar 1.32424. Penguatan daya saing ini didasari oleh peningkatan nilai ekspor jasa penerbangan nasional senilai 773 juta dollar AS atau naik sekitar 59 persen dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekspor jasa penerbangan ini juga diiringi pertumbuhan ekspor jasa secara menyeluruh sebesar 22 persen. Petumbuhan yang dialami industri jasa penerbangan nasional ini merupakan suatu pencapaian yang luar biasa karena pertumbuhan yang besar terjadi di saat dunia tengah mengalami krisis akibat krisis suprime mortgage yang berasal dari Amerika Serikat. Meskipun dilanda krisis, ekspor jasa penerbangan dunia tetap mengalami pertumbuhan sebesar 15 persen, namun beberapa maskapai besar dunia mengalami kerugian yang besar. International Air Transport Association (IATA) mencatat industri penerbangan dunia mengalami kerugian hingga 8 miliar dollar Amerika yang disebabkan oleh penurunan permintaan penerbangan domestik mereka. Tantangan bagi industri jasa penerbangan nasional pada tahun ini adalah kenaikan bahan bakar yang masih terus terjadi (meningkat 51.7 persen dari tahun sebelumnya), ketatnya persaingan bisnis baik itu dengan maskapai luar negeri maupun maskapai dalam negeri. Perekonomian Indonesia secara umum tidak mengalami dampak krisis yang terjadi di dunia, ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang terus tumbuh sebesar 6.1 persen. Serta semakin banyaknya wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia membuat permintaan terhadap industri jasa penerbangan nasional mengalami peningkatan apalagi setelah salah satu maskapai nasional yaitu Garuda Indonesia menerima sertifikat keselamatan penerbangan bertaraf internasional IATA Operational Safety Audit (IOSA) oleh IATA. Persaingan dengan maskapai asing masih terus terjadi dimana dari sekitar 13.1 juta pergerakan penumpang penerbangan internasional di setiap bandara internasional Indonesia baik yang dari dan ke luar negeri, maskapai penerbangan nasional berhasil mengangkut sekitar 4.1 juta orang diantaranya.
Pada tahun 2009 kekuatan daya saing industri jasa penerbangan nasional kembali menurun dengan nilai indeks RCA sebesar 0.7693. Nilai ekspor jasa penerbangan Indonesia turun sekitar 41persen dari tahun sebelumnya. Tahun ini ekspor jasa penerbangan nasional hanya bernilai sekitar 456 juta dollar Amerika. Penurunan juga terjadi pada ekspor jasa Indonesia yang turun sebesar 13 persen. Dampak krisis yang terjadi pada tahun 2008 masih mengahantui perekonomian dunia pada tahun ini. Ekspor jasa penerbangan dunia maupun ekspor jasa dunia
36
mengalami penurunan masing-masing sebesar 19 persen dan 9 persen. Bahkan pada tahun 2009, ada sekitar 26 maskapai penerbangan dunia yang mengalami kebangkrutan. Industri penerbangan dunia menghadapi cobaan berat berupa kenaikan avtur yang meningkat tajam dan di sisi lain terjadi penurunan permintaan baik dari segi penumpang maupun barang. Akibatnya, industri penerbangan global mengalami penurunan pendapatan hingga 14 persen dan total kerugian mencapai 9.4 miliar dollar AS. Industri jasa penerbangan dalam negeri mengalami pertumbuhan permintaan untuk penerbangan internasional sebesar 21 persen, namun karena dikarenakan depresiasi Rupiah yang cukup tinggi pada tahun 2009 yakni hingga Rp. 10 390/dollar AS, maka nilai ekspor jasa penerbangan dalam negeri mengalami penurunan. Kondisi industri jasa penerbangan nasional pada tahun 2009 cukup mengembirakan. Tantangan yang dihadapi para pelaku usaha jasa penerbangan mulai berkurang seiring telah diturunkannya harga avtur. Beberapa maskapai penerbangan mulai berlomba-lomba meningkatkan produktivitas mereka dengan meningkatkan jumlah armada. Beberapa maskapai besar seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air dan beberapa maskapai lainnya menambah jumlah armada mereka dari 5 hingga 15 unit pesawat. Selain itu, Garuda Indonesia selaku maskapai pelat merah nasional telah mendapatkan izin kembali untuk penerbangan ke wilayah Eropa dan menjadi satu-satunya maskapai nasional yang terbang ke Eropa.
Industri jasa penerbangan nasional mengalami penguatan daya saing pada tahun 2010 dengan nilai RCA sebesar 1.2014 dan indeks RCA sebesar 1.0916. Penguatan ini berasal dari pertumbuhan signifikan ekspor jasa penerbangan nasional sebesar 44 persen diiringi pertumbuhan ekspor jasa nasional sebesar 27 persen. Pergerakan penumpang penerbangan internasional di seluruh bandara Indonesia pada tahun 2010 baik yang pergi atau masuk ke dalam negeri mencapai 15.8 juta penumpang. Maskapai penerbangan nasional berhasil mengangkut sekitar 6.6 juta penumpang diantaranya. Jumlah ini meningkat cukup tinggi dari tahun sebelumnya yakni sebesar 32 persen. Keberangkatan pesawat untuk penerbangan luar negeri juga mengalami pertumbuhan sebesar 18.5 persen dengan