BAB III METODE PENELITIAN
D. Gambaran Umum Desa Ajijulu
a. Letak Geografi
Desa Ajijulu merupakan salah satu desa yaang berada di Kecamatan Tigapanah Kabupaten Karo. Secara geografis Desa Ajijahe berbatasan dengan dua kecamatan lain di luar dari Kecamatan Tigapanah. Di sebelah timur Desa Ajijulu berbatasan dengan Desa Sugihen Kecamatan Dolat Rayat, di sebelah selatan Desa Ajijulu Berbatasan dengan Dengan Desa Ajijahe Kecamatan Tigapanah, di sebelah utara berbatasan dengan Desa Ujung Aji dengan Kecamatan Berastagi, dan di sebelah selatan desa Ajijulu berbatasan langsung dengan Desa Raya dengan Kecamatan Berastagi.
Desa Ajijulu berada pada ketinggian 1326 di atas permukaan laut. Desa Ajijulu memiliki jarak 9 Km ke ibu kota Kecamatan dan jarak ke ibu kota Kabupaten adalah 17 Km.
b. Luas Wilayah
Desa Ajijulu adalah desa pertanian dengan luas wilayah ± 551 Ha/m2
1) Pemukiman : 10 Ha/m
, dengan pembagian luas wilayah menurut penggunaan adalah sebagai Berikut:
2) Persawahaan : 200 Ha/m 2
3) Luas pemakaman : 1 Ha/m 4) Luas pekarangan : 2 Ha/m 2
5) Luas tegal/ ladang : 295 Ha/m 2
6) Tanah Hutan Rakyat : 30 Ha/ m 2
7) Fasilitas umum dll : 13 Ha/m 2
2
c. Pemerintahan
Pemerintahan Desa Ajijulu Kecamatan Tigapanah memiliki 1 unit kerja yang terdiri dari 12 orang aparat pemerintahan desa. Tingkat pendidikan aparatur desa rata-rata adalah tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA). Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang diketuai oleh Aditia Amos Perangin-angin memiliki 7 orang anggota di dalamnya dengan pendidikan rata-rata adalah tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA).
d. Penduduk
Jumlah penduduk Desa Ajijulu adalah 1650 jiwa dengan jumlah laki-laki adalah 796 jiwa dan jumlah perempuan 854 jiwa dengan 450 jumlah Kepala keluarga. Penduduk Desa Ajijulu mayoritas bekerja sebagai petani dengan jumlah laki-laki 300 orang dan perempuan 500 orang, penduduk yang bekerja sebagai buruh tani dengan jumlah laki-laki 50 orang dan jumlah perempuan 100 orang, jumlah Pegawai Negeri Sipil dengan jumlah laki-laki 10 orang dan perempuan 17 orang, Pensiunan PNS dengan jumlah laki-laki 3 orang dan perempuan 1 orang, Karyawan perusahaan Swasta dengan jumlah 10 orang laki-laki dan 11 orang perempuan.
e. Suku dan Agama
Suku yang ada di Desa Ajijulu mayoritas suku Karo. Penduduk desa yang bersuku Karo berjumlah 751 orang laki-laki dan 774 Perempuan, suku Jawa berjumlah 32 orang laki-laki dan 51 orang perempuan, suku Batak berjumlah 10 orang laki-laki dan 15 orang perempuan, suku Aceh berjumlah 9 laki-laki dan 8 perempuan.
Di Desa ajijulu terdapat 3 agama yang dianut oleh penduduk desa, yaitu: Islam, Kristen Protestan, dan Kristen Katholik. Kristen Protestan adalah agama yang dianut mayoritas penduduk Desa Ajijahe. Jumlah penduduk yang menganut agama Kristen Protestan adalah 745 orang laki-laki dan 645 orang perempuan, Jumlah penduduk yang menganut agama Katholik adalah 50 orang laki-laki dan 80 orang perempuan, dan penduduk yang menganut agama Islam berjumlah 60 laki-laki dan 70 perempuan.
BAB V
PENYAJIAN DATA
V.1 Gambaran Umum Kebijakan Alokasi Dana Desa
Bantuan Alokasi Dana Desa yang selanjutnya disebut Alokasi Dana Desa adalah bantuan keuangan yang diterima oleh pemerintahan desa/ kelurahan dari pemerintah kabupaten, dalam hal ini adalah Pemerintah Kabupaten Karo, yang dimaksudkan untuk membiayai program pemerintahan desa/kelurahan dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat desa/ kelurahan. Tujuan diberikannya dana Alokasi Dana Desa antara lain meliputi:
a. Menanggulangi kemikiskinan dan mengurangi kesenjangan;
b. Meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan di tingkat desa dan pemberdayaan masyarakat;
c. Meningkatkan pembangunan infrastruktur perdesaan;
d. Meningkatkna pengamalan nilai-nilai keagamaan, sosial budaya dalam rangka mewujudkan peningkatan sosial;
e. Meningkatkan ketentraman dan ketertiban masyarakat;
f. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat desa dalam rangka pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat;
g. Mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong-royong masyarakat; h. Meningkatkan pendapatan desa dan masyarakat desa melalui Badan
i. Meningkatkan penyelenggaraan pemerintah desa/ kelurahan dalam melaksanakan pelayanan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan sesuai dengan kewenangannya;
j. Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan di desa/ kelurahan dalam perencanaan, pelaksanaan dari pembangunan secara partisipatif sesuai dengan potensi desa/kelurahan, dan
k. Meningkatkan pemerataan pendapatan, kesempatan kerja dari kesempatan berusaha bagi masyarakat desa/kelurahan.
Penggunaan bantuan langsung Alokasi Dana Desa yang diterima oleh masing-masing desa dibagi menjadi empat komponen, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Honor Penghasilan Tetap Pemerintah Desa
Honor penghasilan tetap pemerintah desa yaitu untuk Kepala Desa Sekretaris Desa, Kepala Urusan (KAUR), Bendahara Desa, Ketua BPD, Wakil Ketua BPD, Sekretaris BPD, dan Anggota (berdasarkan keputusan yang berlaku dan sah) dan khusus kepada Sekretaris Desa yang telah diangkat menjadi PNS tidak diperkenankan menerima honor/penghasilan tetap sejak yang bersangkutan menerima gaji Sekretaris sebagai PNS.
b. Biaya Operasional Pemerintah Desa
Biaya operasional pemerintah desa dapat dipergunakan untuk kelancaran pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan tugas-tugas kemasyarakatan desa. Biaya operasional pemerintah desa ini terdiri dari biaya ATK pemerintah desa, biaya ATK BPD, biaya rapat desa, biaya penunjang
desa, biaya operasional dan pengelola atau tim pelaksana Alokasi Dana Desa/Kelurahan pemberdayaan masyarakat, biaya pemeliharaan kendaraan, serta hal-hal lain yang dianggap perlu.
c. Biaya Pemberdayaan Masyarakat
Biaya Pemberdayaan Masyarakat digunakan untuk membangun prasarana dan sarana untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesehatan masyarakat seperti pembangunan/pemeliharaan jalan, Pembangunan/perbaikan irigasi, pembangunan/perbaikan pasar desa, pembangunan MCK, sarana air bersih, dan pembangunan/pemeliharaan sanitasi. Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat yang di danai oleh dana Alokasi Dana Desa, meliputi:
1) Pendidikan dan Pelatihan Masyarakat Desa,
2) Peningkatan kapasitas dan kelompok masyarakat (Karang Taruna dan PKK),
3) Peningkatan peranan gender, 4) Peningkatan Kader SDM desa,
5) Penyelenggaraan Promosi Kesehatan dan gerakan hidup bersih dan sehat, dan
6) Pengembangan seni budaya lokal.
Larangan dalam pengelolaan dari bantuan Alokasi Dana Desa, antara lain:
1. Memanfaatkan dana pemberdayaan masyarakat untuk kebutuhan yang sifatnya konsumtif,
2. Memanfaatkan dana untuk gaji/upah lebih besar daripada pembangunan sarana dan prasarana,
3. Mengingat bahwa Alokasi Dana Desa/Kelurahan adalah untuk mendorong partisipasi/swadaya masyarakat, maka dilarang mengontrakkannya kepada pihak rekanan,
4. Dilarang tumpah tindih dengan kegiatan lain,
5. Perangkat desa/kelurahan kecuali bendahara desa/kelurahan dilarang menjadi Tim Pelaksana Tingkat Desa/Kelurahan.
Prinsip pemberian Alokasi Dana Desa adalah sebagai bantuan stimulant bagi pemerintah desa/kelurahan, sehingga sangat diharapkan kontribusi dan partisipasi masyarakat untuk mendukukung penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan. Prinsip pemberian Alokasi Dana Desa harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Penyaluran dana harus langsung ditujukan kepada penerima/pengelola, dalam hal ini rekening Pemerintah desa;
2. Pengelolaan keuangan Alokasi Dana Desa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan keuangan yang terintegrasi dalam APBDesa, sedangkan untuk kelurahan tetap berpedoman kepada ketentuan yang berlaku;
3. Seluruh kegiatan Alokasi Dana Desa/Kelurahan direncanakan, dilaksanakan, dievaluasi secara terbuka (transparan) dan akuntabel dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat desa/kelurahan,
4. Seluruh kegiatan harus dapat dipertanggungjawabkan secara administratif, teknis, dan hukum;
6. Apabila sampai bulan desember tidak/belum melaksanakan kegiatan, maka sisa dana tersebut dikembalikan ke Rekening Desa dan menganggarkannya kembali ke APBDesa/Kelurahan tahun anggaran berikutnya.
7. Apabila surat pertanggungjawaban Alokasi Dana Desa/Kelurahan tahun anggaran berjalan tidak disampaikan atau tidak melaksanakan kegiatan Alokasi Dana Desa/Kelurahan tersebut, maka pengalokasian Alokasi Dana Desa/Kelurahan untuk tahun berikutnya akan menjadi bahan pertimbangan.
Organisasi Pengelola Bantuan Alokasi Dana Desa terdiri dari pengelola tingkat kabupaten, pengelola tingkat kecamatan, serta pengelola tingkat desa. Adapun yang menjadi Tim Pembina Pengelola Bantuan Alokasi Dana Desa pada tingkat kabupaten terdiri dari:
1. Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Karo;
2. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Kabupaten Karo;
3. Kepala Bagian Hukum dan Organisasi Sekretariat Wilayah Kabupaten Karo;
4. Inspektorat Kabupaten Karo;
5. Kepala Bagian Pemerintahan Kabupaten Karo;
6. Kepala Bagian Program Sekretariat Wilayah Daerah Kabupaten Karo; 7. Dinas PU Kabupaten Karo;
8. Bidang Pemerintahan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Karo;
9. Bidang Pemberdayaan Usaha Ekonomi masyarakat Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Karo. Tugas Tim Pembina pengelola Bantuan Alokasi Dana Desa tingkat Kabupaten terdiri dari:
1. Melaksanakan desimasi/sosialisasi tentang kebijakan Alokasi Dana Desa/Kelurahan;
2. Membantu Tim Pendamping Tingkat Kecamatan untuk memberikan pelatihan kepada Tim Pelaksana Alokasi Dana Desa/Kelurahan di tingkat desa/kelurahan;
3. Merumuskan besaran dana Alokasi Dana Desa yang diterima oleh tiap-tiap desa/kelurahan;
4. Melakukan kegiatan pembinaan, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan kegiatan Alokasi Dana Desa/Kelurahan bersama Tim Pendamping Tingkat Kecamatan,
5. Melakukan fasilitasi pemecahan masalah berdasarkan pengaduan masyarakat serta pihak lain;
6. Menyusun dan membuat pedoman umum pelaksanaan kebijakan Alokasi Dana Desa/Kelurahan Kabupaten Karo.
Tim Pendamping Tingkat Kecamatan beranggotakan camat dan unsur kepala seksi/ staff pada kantor camat dan/atau perangkat lainnya di kecamatan sesuai dengan keputusan camat atas nama Bupati Kabupaten Karo. Tingkat desa/kelurahan sendiri terdiri dari kepala desa/ lurah sebagai Pembina/ Pengendali, Panitia Tim Pelaksana Kegiatan yang terdiri dari Penanggung Jawab
serta Tim Pelaksana Tingkat Desa/ Kelurahan. Tim Pelaksana Tingkat Desa/ Kelurahan dipilih dari Perangkat Desa/ Kelurahan Staff, Anggota BPD, Anggota Lembaga Karang Taruna, Tim Penggerak PKK, Tokoh Masyarakat yang terdiri dari satu orang ketua, satu orang bendahara, dan tiga orang anggota.
Tugas Tim Pelaksana Tingkat Desa/ Kelurahan sebagai berikut:
a. Menyusun Usulan Rencana Kerja (URK) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) seta Rencana Penggunaan Dana (RPD) tentang penggunaan dana yang bersumber dari Alokasi Dana Desa/ Kelurahan.
b. Melaksanakan kegiatan sebagaimana ditetapkan dalam URK dan RAB; dan;
c. Menyampaikan laporan perkembangan pelaksana kegiatan kepada kepala desa/ lurah dan sebelum laporan dimaksud disampaikan kepala kepala desa/ lurah, harus terlebih dahulu dievaluasi dan disetujui oleh Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK)
V.2 Alur Proses Pelaksanaan ADD Kabupaten Karo TIM PENDAMPING
KECAMATAN
TIM PELAKSANA DESA TIM PEMBINA
KABUPATEN
Gambar V.1. Struktur Organisasi Pelaksana Alokasi Dana Desa
Kebijakan Alokasi Dana Desa di Kabuaten Karo merupakan kebijakan yang diamanatkan dari pemerintah pusat sebagaimana termuat dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang peraturan pelaksanaan undang-undang no. 6 tahun 2014 tentang desa. Dalam kedua kebijakan di atas mengamanatkan bahwa Alokasi Dana Desa merupakan salah satu unsur dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang bersumber dari bagian dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk desa paling sedikit 10% (sepuluh Persent) yang pembagiannya untuk setiap desa secara Proporsional.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2014 Pasal 97, sumber anggaran untuk ADD berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten/Kota. Komponen APBD yang dialokasikan sekurang-kurangnya 10 persen bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah setelah dikurangi dengan Dana Alokasi Khusus (DAK).
ADD = (Dana Perimbangan- Dana Alokasi Khusus) x minimal 10%
Kabupaten Karo Menganggarkan dana bantuan Alokasi Dana Desa sebesar Rp. 72.016.389.300,- (Tujuh Puluh Dua Miliar Enam Belas Juta Tiga Ratus
Gambar V.3. Rumus Penghitungan ADD Kabupaten Karo (Perbup No. 8
Delapan Puluh Sembilan Ribu Tiga Ratus Rupiah). Untuk saat ini Alokasi Dana Desa yang akan di alokasikan adalah sebesar Rp 42. 212.797.230,- (Empat Puluh Dua Miliar Dua Ratus Dua Belas Juta Tujuh Ratus Sembilan Puluh Tujuh Ribu Dua Ratus Tiga Puluh Rupiah). Alokasi dana Desa yang ditampung pada perubahan APBD adalah sebesar Rp. 29.803.592.070 (Dua Puluh Sembilan Miliar Delapan Ratus Tiga Juta Lima Ratus Sembilan Puluh Dua Ribu Tujuh Puluh Rupiah). Dana ADD tersebut kemudian dialokasikan ke 16 Kecamatan dengan 251 Desa/Kelurahan secara proporsional.
Adapun langkah awal yang menjadi alur proses pelaksanaan kebijakan Alokasi Dana Desa di Kabupaten Karo adalah dengan dikeluarkannya Peraturan Bupati Karo Nomor 8 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pengalokasian dan Penetapan Rincian Alokasi Dana Desa Setiap Desa Kabupaten Karo Tahun Anggaran 2015. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) selaku organisasi pengelola kebijakan Alokasi Dana Desa di tingkat Kabupaten merumuskan besaran dana Alokasi Dana Desa yang diterima oleh tiap –tiap desa/kelurahan. Besaran dana Alokasi Dana Desa yang diterima oleh masing-masing desa/kelurahan yang ada di Kabupaten Karo kemudian dikeluarkan dalam Keptusan Bupati (KEPBUP).
Proses Selanjutnya yang dilakukan adalah sosialisasi Kebijakan Alokasi Dana Desa ke Kecamatan. Pemerintah Kabupaten melakukan sosialisasi dengan membagi 16 kecamatan menjadi 6 wilayah yang menjadi pusat sosialisasi sehingga setiap kecamatan yang ada di wilayah tersebut datang dengan Tim Pendamping Kecamatan, Kepala Desa, Ketua PKK, dan BPD tiap-tiap Desa
sehingga Tim Pembina dari kabupaten dapat melakukan sosialisasi secara efektif dan efisien.
Sosialisasi di tiap wilayah hanya dilakukan sekali dengan jadwal yang berbeda-beda di setiap wilayahnya. Dalam pelaksanaan sosialisasi di kecamatan, yang turut hadir dari tim pembina tingkat kabupaten adalah perwakilan Badan Perencanaan Pembanguanan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Karo, Dinas Pendapatan , Pengolahan Keuangan dan Asset Daerah Kabupaten Karo (Dinas PPKAD), Kepala bagian Hukum dan Organisasi Sekretariat Wilayah Daerah (Hukor Setwilda) Kabupaten Karo, Inspektorat Kabupaten Karo, Kepala Bagian Pemerintahan Desa Kabupaten Karo, Kepala Bagian Program Setwilda Kabupaten Karo, Dinas PU Kabupaten Karo, Kepala Bidang Pemerintahan desa dan Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Ekonomi Masyarakat Desa di Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Kabupaten Karo.
Pada Acara Sosialisasi di Kecamatan, Perwakilan Bappeda Kabupaten Karo menyampaikan materi tentang pembuatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan rencana Pembangunan Jangka Pendek Desa (RPJPDes). Dinas PPKAD Kabupaten Karo menyampaikan bagaimana tata cara penarikan dana ADD, pencairan, pengadministrasian dari pembuatan surat pertanggungjawaban dan buku kas sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kepala Bagian Hukum dan Organisasi Sekretariat Wilayah Daerah Kabupaten Karo menyampaikan tata cara pembuatan Peraturan Desa (PERDES) sesuai dengan kebutuhan dan sebagai dasar hukum. Inspektorat berfungsi meyampaikan funngsi dari Pengawasan dan Pembinaan Administrasi agar pelaksanaan Alokasi Dana
Desa/Kelurahan (ADD/K) terhindar dari konflik dan pelanggaran lainnya. Kepala Bagian Pemerintahan dalam Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Kabupaten Karo mensosialisasikan aplikasi pemerintahan umum dengan pemerintahan desa dan fungsi tugas kelembagaan di desa, dan juga menyampaikan tugas dan fungsi pemerintah desa demi mencapai satu persepsi dalam membuat satu keputusan desa. Kepala Bagian Program dalam Sekretariat Wilayah Daerah Kabupaten Karo mensosialisasikan program kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan desa, termasuk di dalamnya program jangka menengah dan pendek. Dinas PU menyampaikan sosialisasi tentang teknik pengerjaan fisik di lapangan.
Sesuai proses sosialisasi di kecamatan, maka pemerintah desa melaksanakan sosialisasi kebijakan Alokasi Dana Desa di desanya masing-masing. Sosialisasi dilakukan melalui acara musrenbangdes yang dihadiri masyarakat. Kemudian Tim Pelaksana Kegiatan desa mengajukan berkas Rencana Anggaran Biaya (RAB), Usulan Rencana Kerja (URK) dan Rencana Pembangunan Dana (RPD). Hal ini merupakan salah satu syarat pencairan dana Alokasi Dana Desa dari Kabupaten. Begitu dana ADD cair, pelaksanaan kegiatan pun dilaksanakan oleh Tim Pengelola dan Tim Pelakasana Kegiatan di Desa sesuai dengan apa yang telah disepakati pada Usulan Rencana Kerja. Setelah Pelaksanaan Kegiatan Selesai, maka Tim Pengelola dan Tim Pelaksana Kegiatan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pekerjaan yang telah dikerjakan.
Kemudian, penyampaian surat pertanggungjawaban disampaikan oleh Tim Pengelola Desa kepada Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa
(BPMPD) Kabupaten Karo melalui Kecamatan. Ketika surat pertanggungjawaban pelaksana kegiatan Alokasi Dana Desa disampaikan oleh tiap desa/kelurahan sesuai tanggal yang telah ditentukan, maka Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa Kabupaten Karo memverifikasi surat pertanggungjawaban tersebut. Jika surat pertanggungjawaban sudah sesuai, maka Badan Pemberdayaan masyarakat dan Pemerintah Desa menyampaikannya ke Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah (PPKAD) Kabupaten Karo selaku Bendahara Umum daerah Kabupaten Karo.
V.3 Deskripsi Hasil Wawancara Implementasi Program Alokasi Dana Desa (ADD) di Kecamatan Tigapanah
1. Komunikasi
Pelaksanaan Alokasi Dana Desa di tingkat Kecamatan Tigapanah berawal dari kegiatan Sosialisasi ADD/K yang diselenggarakan tingkat kabupaten ke tingkat kecamatan dengan mengundang pihak desa dalam rapat sosialisasi. Berdasarkan wawancara dengan ibu Ledianita Br Tarigan, SH yang menjabat sebagai Kepala Bidang Perencanaan Program pada Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Kabupaten karo yang mengatakan bahwa:
sosialisasi di wilayah Kecamatan Tigapanah disatukan dengan dua kecamatan lainnya yaitu Kecamatan Merek dan Kecamatan Barus Jahe. Sosialisasi dilaksanakan dengan mengundang pihak Pendamping Kecamatan dan perwakilan desa kedalam Rapat sosialisasi ADD/K ke dalam satu wilayah yang sudah ditentukan yaitu di Kecamatan Merek. Anggota Rapat sosialisasi ADD/K dengan pihak kecamatan beranggotakan. Tim Pembina Kabupaten, Tim Pendamping Kecamatan, dan perwakilan desa. Tim Pembina Kabupaten terdiri dari perwakilan Badan Perencanaan Pembanguanan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Karo, Dinas Pendapatan , Pengolahan Keuangan dan Asset Daerah Kabupaten
Karo (Dinas PPKAD), Kepala bagian Hukum dan Organisasi Sekretariat Wilayah Daerah (Hukor Setwilda) Kabupaten Karo, Inspektorat Kabupaten Karo, Kepala Bagian Pemerintahan Desa Kabupaten Karo, Kepala Bagian Program Setwilda Kabupaten Karo, Dinas PU Kabupaten Karo, Kepala Bidang Pemerintahan desa dan Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Ekonomi Masyarakat Desa di Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Kabupaten Karo. Sedangkan Perwakilan desa terdiri dari Kepala Desa, ketua PKK, dan BPD. Hal yang persis sama dikatakan oleh ibu Rosmenda, SH yang menjabat sebagai Kepala Seksi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa/Kelurahan (PPMD/K) Kecamatan Tigapanah. (Wawancara
pada tanggal, 14 September 2015)
Sosialisasi harus benar-benar disampikan dengan baik sehingga dapat dipahami oleh semua pihak yang bersangkutan dengan ADD/K, Sesuai wawancara dengan Kabid Perencanaan Program BPMPD Kabupaten karo yang menyampaikan bahwa:
Pada Acara Sosialisasi di Kecamatan, Perwakilan Bappeda Kabupaten Karo menyampaikan materi tentang pembuatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana Pembangunan Jangka Pendek Desa (RPJPDes). Dinas PPKAD Kabupaten Karo menyampaikan bagaimana tata cara penarikan dana ADD, pencairan, pengadministrasian dari pembuatan surat pertanggungjawaban dan buku kas sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kepala Bagian Hukum dan Organisasi Sekretariat Wilayah Daerah Kabupaten Karo menyampaikan tata cara pembuatan Peraturan Desa (PERDES) sesuai dengan kebutuhan dan sebagai dasar hukum. Inspektorat berfungsi meyampaikan funngsi dari Pengawasan dan Pembinaan Administrasi agar pelaksanaan Alokasi Dana Desa/Kelurahan (ADD/K) terhindar dari konflik dan pelanggaran lainnya. Kepala Bagian Pemerintahan dalam Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Kabupaten Karo mensosialisasikan aplikasi pemerintahan umum dengan pemerintahan desa dan fungsi tugas kelembagaan di desa, dan juga menyampaikan tugas dan fungsi pemerintah desa demi mencapai satu persepsi dalam membuat satu keputusan desa. Kepala Bagian Program dalam Sekretariat Wilayah Daerah Kabupaten Karo mensosialisasikan program kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan desa, termasuk di dalamnya program jangka menengah dan pendek. Dinas PU menyampaikan sosialisasi tentang teknik pengerjaan fisik di lapangan. Dalam Penyampaian tersebut dinilai baik oleh pihak kecamatan yang dibuktikan dengan perkataan Kasi PPMD/K Kecamatan Tigapanah bahwa penyampaian dari Tim Pembina kecamatan sudah sangat jelas dan sangat mudah dimengerti sehingga tidak terlalu banyaknya anggota rapat yang bertanya. ( Wawancara Pada tanggal, 4 September 2015)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi di tingkat Tingkat Kecamatan, hal ini dibuktikan dengan hadirnya para perwakilan desa dan tim pendamping kecamatan. Sosialisasi yang di paparkan oleh pihak kabupaten pun dinilai sangat baik dan jelas dan dapat dimengerti.
2. Sumber Daya
Sumber Daya adalah faktor yang sangat penting dalam pelaksanaan Alokasi Dana Desa, sumber daya yang cukup dan memadai sagat dibutuhkan sehingga tujuan dari Prograam Alokasi Dana Desa Dapat tercapai dengan baik. Sumber daya yang dimaksud adalah Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pelaksana, Sumber Daya Modal sebagai dana, dan fasilitas-fasilitas pendukung.
Pelaksana adalah faktor yang mempengaruhi jalan dari implementasi,
dengan kualitas pelaksana yang baik, maka implementasi program ADD akan terlaksana dengan maksimal. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Seksi PPMD/K Kecamatan Tigapanah mengatakan bahwa:
Pelaksana ADD tingkat kecamatan sangatlah sedikit sehingga pelaksanaan cenderung lambat, begitu juga pelaksana tingkat desa dinilai lambat dalam menyelesaikan administrasi untuk pencairan ADD sehingga pencairan menjadi terhambat. Fasilitas-fasilitas dikecamatan pun dinilai kurang memenuhi kriteria baik, namun Tim Pendamping Kecamatan tetap melaksanakan ADD dengan baik. Fasilitas-fasilitas di desa sangatlah kurang memadai sehingga peyelesaian administrasi juga menjadi lambat dan Sumber Daya Manusia di Desa juga dinilai masih banya yang kurang mencukupi sehingga masih perlunya bimbingan yang datang dari kepala desa. Namun jika dilihat dari sumber daya modal atau ADD dinilai sudah mencukupi dan sesuai dengan jumlah yang tertera pada Keputusan Bupati Kabupaten Karo. ( Wawancara pada tanggal 14 september 2015)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa sumber daya di tingkat kecamatan masih kurang baik dikarenakan SDM yang kurang sehingga memperlambat kegiatan ADD. Fasilitas-fasilitas di tingkat kecamatan juga dinilai masih rendah dan banyak yang sudah tidak dapat yang dipergunakan seperti peralatan kantor yang sudah rusak. Contohnya adalah lemari penyimpan