bekas di Yogyakarta
GAMBARAN UMUM DAN PROFIL RESPONDEN
A. Gambaran umum
Gambar 1.3
Outlet Pakaian Bekas
Baju bekas atau yang lebih dikenal dengan sebutan “baju PJ” saat ini menjadi barang andalan diberbagai kalangan di masyarakat. Mereka yang memilih barang-barang ini mempunyai berbagai alasan yang beragam, ada yang menganggap barang impor tersebut memiliki kualitas yang lebih bagus, ada juga yang ingin memilikinya karena harga barang-barang tersebut lebih terjangkau.
Seringkali dijumpai produk impor lebih murah dibandingkan produk lokal sehingga banyak masyarakat yang lebih memilih produk impor tersebut. Kenapa produk kita lebih mahal? Beberapa orang pintar beralasan karena tingginya ongkos produksi yang melibatkan pungutan liar dan karena upah buruh di indonesia lebih mahal dibandingkan upah buruh di negara-negara semacam Vietnam atau Cina. Namun bidang usaha konveksi ada gejala lain yang perlu diperhatikan. Sekarang semakin berkembang luas fenomena pakaian bekas!
Sejak masa reformasi atau sekitar tahun 1997 – saat krisis moneter, pakaian-pakaian bekas masuk ke indonesia, dan di saat itulah masyarakat Indonesia lebih memilih membeli pakaian bekas yang banyak dijual bebas
32
di mana-mana. Kemunculan pasar baju bekas ini tidak berjalan merata. Pasar baju bekas di Sumatera, Batam, Kalimantan, dan Sulawesi misalnya, lebih dulu muncul daripada di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan sekitarnya. Untuk di Provinsi Riau sendiri, menjamurnya baju bekas terlebih dahulu di mulai di daerah Tembilahan dan baru berangsur-angsur ke daerah lainnya termasuk Kota pekanbaru.
Walaupun ada larangan baju bekas impor masuk ke Indonesia, namun penyelundupan pakaian bekas masih tetap marak. Pakaian bekas itu rata-rata memang masih layak pakai, seringkali berasal dari Singapura atau Malaysia, dan harganya memang murah dibandingkan pakaian baru. Jenis barang yang dijual produk ini pun bermacam-macam, mulai dari sepatu, sendal, kaos, hem, jaket, ikat pinggal, celana panjang, sampai selimut-selimut tebal dan bed cover dan bahkan underwear (pakaian dalam).
Barang – barang yang berkualitas yang didatangkan langsung dari luar negeri ini membuat seluruh lapisan masyarakat lebih memlih untuk menggunakannya. Apalagi barang-barang tersebut ditawarkan dengan harga yang murah. Di pekanbaru saja, terdapat pasar khusus yang menjual pakaian-pakaian bekas ini. Pasar Senapelan, atau yang lebih dikenal dengan pasar Kodim merupakan tempat yang tidak asing lagi bagi para “pencinta” barang-barang bekas ini. Di kios-kios yang berukuran 3 x 4 meter itulah para pedagang baju bekas mengais rezeki untuk menjajakan barang dagangannya dan ditempat itu pulalah para pembeli seakan terbius oleh keunikan dan keragaman pakaian-pakaian yang
33
terkadang di Indonesia saja model pakaiannya belum ada. Aroma khas pakaian bekas pun telah tercium ketika kita menginjakkan kaki ditempat tersebut.
Walaupun para pedagang mencari rezeki dengan jalan halal, memperjual belikan baju bekas inipun tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi barang-barang bekas ini didatangkan secara ilegal dan telah dilarang oleh pemerintah Indonesia dalam peredarannya.
Kejelian dan kecermatan dalam memperhitungkan untung rugipun harus tinggi. Jika tidak, para pedagang bisa mengalami kerugian yang cukup besar. Hal ini dikarenakan modal yang dikeluarkan untuk membeli barang bekas ini tidak sedikit. Satu bal baju yang berisi 300 helai baju saja harganya bisa mencapai 3juta/bal itupun tidak semuanya dalam kondisi bagus. Kadang penjual menumukan baju dalam kodisi rusak dan tidak layak pakai. Khusus untuk pakaian dalam, modal awal yang ditawarkan sangat tinggi. Satu bal bra atau celana dalam saja modalnya bisa mencapai 8juta/bal, sedangkan untuk celana short modalnya bisa mencapai 10-12juta/bal. Para peminat pakaian dalam ini pun cukup banyak. Hal ini karena kualitas yang ditawarkan oleh pakaian bekas ini sangat bagus produk yang dijual pada umumnya berasal dari luar negeri dan bila dibanding dengan produk Indonesia kualitas pakaian dari luar lebih baik. Andila, 2011 ” Made in Indonesia VS Pakaian Bekas”. https://tulisandila.wordpress.com
34
Toko pakaian bekas yang ada di Yogyakarta diantaranya :
1. Outlet Pujha Fashion yang berada di beberapa tempat diantaranya
a. Pujha Fashion Ring Road Selatan(daerah menuju Madukismo)
b. Pujha Fashion Taman Siswa (seberang Bakso Idolaku) c. Pujha Fashion Jl. Godean (depan Indomaret Godean) d. Pujha Fashion Jl. Kaliurang KM 6,5
e. Pujha Fashion Kledokan, Senturan f. Pujha Fashion Jl. Mataram
2. Toko Pinggir Jalan (Busana Impor Korea)
a. Pusat Impor Korea Jl. Menteri Supeno No. 86 perempatan ke arah XT Square
b. Pusat Impor Korea Jl. Menteri Supeno sebelah RM Rata-Rata seberang Indomaret
c. Toko Tanpa Nama di Jl. Parangtritis dekat perempatan Jogokaryan
d. Mayong (Spanduk sudah agak pudar) Jl. KH. Wachid Hasyim di sisi timur jalan
3. Skaten
Dari masing masing outlet sendiri memiliki beberapa jenis pakaian yang dijual diantaranya adalah :
35
Tabel IV.1
Jenis pakaian yang tesedia Jenis pakaian Pakaian wanita
(Harga)
Pakaian laki=laki (harga)
Kemeja 35-70 ribu 45-70 ribu
Blus: 30-45 ribu
Kaos 10-25 ribu 10-25 ribu
Celana Panjang Jeans 70-100 ribu 70-100 ribu Celana Hotpants Jeans
dan Rok Mini Jeans
20-50 ribuan 45 ribu
Hoodie/Jaket 35-100 ribu
B. Profil Responden
Peneliti mengambil 100 orang sebagai responden yang semuanya adalah mahasiswa Universitas Sanata Dharma dengan karakteristik konsumen yang pernah membeli pakaian bekas di Yogyakarta meliputi umur, pekerjaan, pakaian yang dibeli dan corak/motif pakaian.
a. Umur
Berdasarkan umur responden dalam penelitian ini dibedakan dari umur >17 tahun, 18 s/d 25 tahun dan >25 tahun. Hasil analisis data disajikan dalam tabel berikut
Tabel IV.2
Karakteristik Responden Berdasarkan Umur No Umur Jumlah Presentase (%)
1 <17 tahun 5 5
2 18 s/d 25 tahun 95 95
3 >25 tahun 0 0
36 b. Pekerjaan
Berdasarkan pekerjaan responden dalam penelitian ini hanya terdiri dari mahasiswa, karena penelitian di ambil di kampus 1 Universitas Sanata Dharma. Dengan hasil disajikan dalam tabel berikut :
Tabel IV.3
Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan No Perejaan Jumlah Presentase (%)
1 Mahasiswa 100 100
Total 100 100
c. Pakaian yang dibeli
Berdasarkan pakaian yang dibeli responden dalam penelitian ini dibedakan berdasarkan jenis pakaian yang dibeli baju/kemeja, celana, jaket, rok, jas, dress, kaos, dll. Hasil disajikan dalam tabel berikut
Tabel IV.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Pakaian yang dibeli No Pakaian Jumlah Presentase (%)
1 Baju/kemeja 44 44 2 Celana 13 13 3 Jaket 28 28 4 Rok 3 3 5 Jas 4 4 6 Dress 1 1 7 Kaos 7 7 Total 100 100
37 d. Corak/motif pakaian
Berdasarkan corak/motif pakaian yang dibeli responden dalam penelitian ini dibedakan berdasarkan motif polos, polkadot, bunga-bunga, garis-garis, kotak-kotak, belang-belang, macan, batik. Hasil penelitian disajikan dalam tabel berikut :
Tabel IV.5
Karakteristik Responden Berdasarkan Corak,motif Pakaian No Pakaian Jumlah Presentase (%)
1 Polos 60 60 2 Polkadot 5 5 3 Bunga-bunga 15 15 4 Garis-garis 5 5 5 Kotak-kotak 11 11 6 Belang-belang 0 0 7 Macan 4 4 8 Batik 0 0 Total 100 100
38 BAB V