• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Kelurahan Padang Matinggi Lestari Kota Padangsidimpuan

TINJAUAN UMUM TENTANG PEMBUATAN E-KTP DI KELURAHAN PADANG MATINGGI LESTARI KOTA PADANGSIDIMPUAN

A. Gambaran Umum Kelurahan Padang Matinggi Lestari Kota Padangsidimpuan

Keadaan Geografis

Kelurahan PadangMatinggi Lestari adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan Kota Padangsidimpuan Propinsi Sumatera Utara, dengan luas wilayah + 88.64 Ha dan terdiri dari 8 lingkungan, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

Sebelah Utara: Kelurahan Sitamiang Sebelah Timur: Kelurahan Aek Tampang Sebelah : Kelurahan Ujung Padang Sebelah Barat : Kelurahan Silandit

Wilayah dan Pemerintahan

Berdasrkan data-data yang dihimpun pada bulan Januari 2011 susunan Kecamatan Padangsidimpuan Selatan penduduk sebagai berikut:

No. Lingkungan Jumlah KK Jumlah Jiwa

1. Lingkungan I 309 1,886

2. Lingkungan II 420 2,757 3. Lingkungan III 329 1,743

4 .Lingkungan IV 353 1,533

5. Lingkungan V 483 2,342

6. Lingkungan VI 376 2,062

7. Lingkungan VII 466 2,332

8. Lingkungan VIII 412 2,433 3.148 17,088

Keadaan Penduduk

Berdasarkan hasil pendataan penduduk tahun 2008 jumlah penduduk Kelurahan Padang Matinggi Lestari Kota Padangsidimpuan sebanyak 2, 878 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 1, 457 jiwa dan perempuan 1, 421 jiwa.

Struktur Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

Jenis Mata Pencaharian Jumlah (orang)

Petani 255

Pegawai Negeri Sipil 352

Karyawan Swasta 432

Bidan 62

Pedagang 243

Petemak 102

Nelayan 44

Tukang 106

Dokter 8

Jumlah 1, 604

a. Data penduduk menurut jenis kelamin:

1) Laki-laki: 1, 457 orang 2) Wanita: 1, 421 orang

b. Data Penduduk Menurut Pekerjaan:

1) Islam: 967 orang

2) Kristen Protestan: 370 orang 3) Katholik: 19 orang

4) Hindu: - 5) Budha: 8 orang

c. Data Penduduk Menurut Golongan Darah:

1) A: 132 orang 2) B: 180 orang 3) AB: 62 orang 4) O: 781 orang

5) Tidak Tahu: 1, 723 orang Jumlah: 2,878

Jumlah Penduduk Kelurahan Padang Matinggi lestari yang Wajib ktp Per Januari 2014: 22.634 Jiwa

Laki –laki: 1.087 jiwa Perempuan: 1.647 jiwa

Jumlah Penduduk Kelurahan Padang Matinggi lestari Yang Telah Merekam e-ktp:

19.243 Jiwa

Laki : 1,435 jiwa Permpuan : 1.508 jiwa

Kota Padangsidimpuan Kecamatan Padangsidimpuan selatan terdiri dari 6 Kelurahan yaitu:

1.Kelurahan Sitamiang 2. Kelurahan Silandit

3. Kelurahan Padang Matinggi Lestari 4. Kelurahan Aek Tampang

5 Kelurahan Ujung Padang 6. Kelurahan Sitamiang Baru 7. Kelurahan Wek V

Dikarenakan perekaman data e-ktp di lakukan di Kantor Camat maka dibuatlah undangan agar supaya proses pembuatan dapat terjadwal dengan baik dan menghindari membludaknya warga yang mengantri di kantor Camat. Tidak semua warga yang namanya tertera di daftar Penduduk Wajib ktp yang datang untuk merekam data e-ktp dengan berbagai alas an antara lain:

1. Bekerja /kuliah di luar kota

2. Tidak mempunyai waktu untuk merekam data (bekerja full time) 3. Tidak dapat undangan perekaman E-KTP

4. KTP lamanya (KTP manual) maih panjang masa berlakunya.

5. Belum/tidak membutuhkan KTP.

6. Sudah pindah ke daerah lain.

Kependudukan menurut Undang-Undang Kependudukan

Dalam sistem kependudukan di Indonesia banyak sekali masalah-masalah yang dialami oleh dinas kependudukan Indonesia. Tidak baiknya sisitem pelayanan publik tentang administrasi kependudukan mengakibatkan banyaknya masyarakat yang tidak terdaftar sebagai warga negara Indonesia.

Pendataran penduduk menjadi tugas bagian administrasi kependudukan yang sangat penting bagi warga negara Indonesia.Pengertian pendafataran penduduk adalah tidak dapat disangkal bahwa sistem administrasi kependudukan merupakan sistem yang mengatur seluruh administrasi yang menyangkut masalah kependudukan pada umumnya.

Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang administrasi kependudukan, Administrasi kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan dalam penerbitan dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pengelolaan informasi administrasi kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan pembangunan sektor lain.

Pemerintah kabupaten/kota berkewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan urusan administrasi kependudukan, yang dilakukan oleh bupati/walikota dengan kewenangan meliputi koordinasi penyelenggaraan administrasi kependudukan, pembentukan Instansi Pelaksana yang tugas dan fungsinya di bidang administrasi kependudukan, pengaturan teknis

penyelenggaraan administrasi kependudukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan,pembinaan dan sosialisasi penyelenggaraan administrasi kependudukan, pelaksanaan kegiatan pelayanan rnasyarakat di bidang administrasi kependudukan, penugasan kepada desa untuk menyelenggarakan sebagian urusan administrasi kependudukan berdasarkan asas tugas pembantuan, pengelolaan dan penyajian data kependudukan berskala kabupaten/kota dan koordinasi pengawasan atas penyelenggaraan administrasi kependudukan

Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang administrasi kependudukan yang seharusnya mampu menjamin pemenuhan akta kelahiran bagi anak justru disisi lain menjadi penghambat. Dalam UU No. 23 Tahun 2006 terdapat pasal-pasal yang dianggap bermasalah dan menghambat pemenuhan hak atas identitas atau akta kelahiran, yaitu:

Pasal 3 UU No. 23 Tahun 2006 yang berbunyi: “Setiap Penduduk wajib melaporkan Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting yang dialaminya kepada Instansi Pelaksana dengan memenuhi persyaratan yang diperlukan dalam Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.” Pasal ini menggunakan pendekatan kewajiban warga negara. Sebagaimana di ketahui bahwa pencatatan kelahiran adalah hak anak yang paling dasar yang seharusnya diberikan negara.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak untuk diakui sebagai manusia di manapun di depan hukum. Hal itu juga dipertegas dalam Kovenan Internasional mengenai Hak Sipil dan Politik.

Dalam perspektif HAM, sebuah nama bersifat universal, terlepas dengan latar belakang politik, agama, dari orangtua mereka. Dalam perspektif seperti itu, pencatatan kelahiran merupakan kewajiban negara untuk mencatat kelahiran anak-anak di Indonesia.

Hak identitas anak harus merupakan stelsel aktif dari pemerintah. Anak tidak minta, Negara wajib memberikan. Selain Pasal 3 tersebut terdapat juga Pasal 27 ayat (1) yang menunjukkan kewajiban penduduk untuk mendaftarkan

kelahiran, bukan peran aktif pemerintah. Bunyi pasal 27 ayat (1) adalah sebagai berikut: Setiap kelahiran wajib dilaporkan oleh Penduduk kepada Instansi Pelaksana di tempat terjadinya peristiwa kelahiran paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak kelahiran. Pasal 32 ayat (2) UU No. 23 Tahun 2006 yang berbunyi:

“Pencatatan kelahiran yang melampaui batas waktu 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan berdasarkan penetapan pengadilan negeri.”

Dasar filosofis adanya kewajiban permohonan penetapan pengadilan negeri sebenarnya adalah legitimasi pembuktian. Hal tersebut sebenarnya juga merupakan salah satu bentuk perlindungan terhadap hak anak dimana hak anak untuk mengetahui asal usulnya dengan jelas.

Ditakutkan identitas atau asal usul anak dapat dengan mudah dipalsukan.

Namun pasal ini merupakan tembok besar penghalang pemenuhan hak anak atas identitas dikarenakan kondisi peradilan baik dari segi akses maupun sistem peradilan membuat masyarakat sulit untukmelakukan permohonan penetapan ke pengadilan. Terlebih terdapat lebih dari 50 juta anak yang tidak memiliki akta dan terlambat melakukan permohonan pencatatan.

Jika menggunakan asas manfaat dalam permasalahan pemenuhan hak anak atas identitas Pasal 32 ayat (2) ini sudah seharusnya dibatalkan, terlebih lagi pasal tersebut sangat sulit dijalankan. Pasal 90 ayat (1) a dan ayat (2) yang berbunyi: “(1) Setiap Penduduk dikenai sanksi administratif berupa denda apabil amelampaui batas waktu pelaporan Peristiwa Penting dalam hal: a. kelahiran sebagaimana Dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) atau Pasal 29 ayat (4) atau Pasal 30 ayat (6) atau Pasal 32 ayat (1) atau Pasal 33 ayat (1); (2) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling banyak Rp1.000.000,00(satu juta rupiah). Dengan berlakunya Pasal 3, Pasal 27 ayat (1) dan (2) serta pasal 32 ayat (2) UU No. 23 Tahun 2006 menyebabkan jutaan anak saat ini tidak memiliki akta kelahiran karena sulitnya akses terhadap akta tersebut. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menunjukan bahwa 50 juta dari 78 juta anak Indonesia yang berusia dibawah 18 tahun tidak memiliki

akta kelahiran. Selain masalah pencatatan kelahiran masih banyak lagi masalah yang dihadapi Indonesia tentang administrasi kependudukan yaitu masalah Pendaftaran Kependudukan atau Pendaftaran KTP.

Belakangan ini Indonesia membuat suatu program baru yaitu E-KTP atau yang biasa disingkat E-KTP.Dalam pembuatan E-KTP masyarakat banyak sekali menemukan kendala-kendala. Pengurusan E-KTP tidak sesuai dengan target, ternyata banyak kendala dan masalah yang dihadapi oleh warga yang mau mengurus E-KTP tersebut.

B. Prosedur Pembuatan E-KTP di Kelurahan Padang Matinggi lestari