MENGATASI HAMBATAN
Dalam pelaksanaannya, penggunaan E-KTP terbukti masih memiliki kelemahan. Misalnya tidak tampilnya tanda tangan sipemilik di permukaan KTP.
Tidak tampilnya tanda tangan di dalam E-KTP tersebut telah menimbulkan kasus tersendiri bagi sebagian orang. Misalnya ketika melakukan transaksi dengan lembaga perbankan, E-KTP tidak di akui karena tidak adanya tampilan tanda tangan.
Sering sekali muncul berbagai masalah dalam pelayanan pemerintah terhadap masyarakat yang mencerminkan ketidak puasan masyarakat terhadap pelayanan publik pemerintah, antara lain yaitu Pelayanan yang mahal, kaku dan berbelit-belit, sikap dan tindakan aparat, pelayanan yang suka menuntut imbalan, kurang ramah, arogan, lambat dan fasilitas pelayanan.
Ada beberapa kasus pemegang E-KTP tidak bisa bertransaksi dengan pihak bank karena tidak adanya tanda tangan. Tanda tangan yang tercetak dalam chip itu tidak bisa dibaca bank karena tak punya alat (card reader). Akhirnya pihak pemegang E-KTP terpaksa harus meminta rekomendasi dari kepala dinas Kependudukan dan Catatan Sipil untuk meyakinkan bank.
Mendagri Gamawan Fauzi telah menyampaikan melalui surat edaran resmi nomor: No. 471.13/1826/SJ bahwa E-KTP tidak diperkenankan difotokopi untuk menghindari kesalahan fatal terkait pembacaan menggunakan card reader.
Informasi administrasi kependudukan memiliki nilai strategi bagi penyelenggara pemerintahan, pembangun dan pelayanan kepada masyarakat sehingga perlu pengelolaaninformasi administrasi kependudukan secara terkordinasi dan berkesinambungan, sehingga untuk menjamin akan stabilitas pelayanan kepada masyarakat dibidang kependudukan sehingga pemerintah
menetapkan kebjiakan akan sistem informasi administrasi kependudukan dan akta catatan sipil. Dibentuknya suatu pemerintahan, pada hakekatnya adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pemerintahan tidaklah dibentuk untuk melayani diri sendiri tetapi untuk melayani masyarakat, menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap individu dapat mengembangkan kemampuan dan kreatifitasnya untuk tujuan bersama.
Pemerintah merupakan manifestasi dari kehendak rakyat, karena itu harus memperhatikan kepentingan rakyat dan melaksanakan fungsi rakyat melalui proses dan mekanisme pemerintahan. Pemerintah, memiliki peran untuk melaksanakan fungsi pelayanan danpengaturan warga negara.
Untuk mengimplementasikan fungsi tersebut, pemerintah melakukan aktivitas pelayanan, pengaturan, pembinaan, koordinasi dan pembangunandalam berbagai bidang. Layanan itu sendiri disediakan pada berbagai lembaga atau institusi pemerintah dengan aparat sebagai pemberi layanan secara langsung kepada masyarakat.
Di bidang pemerintahan, masalah pelayanan tidaklah kalah penting, perannya lebih besar karena menyangkut kepentingan umum, bahkan menjadi kepentingan rakyat secara keseluruhan. Pelayanan yang diselenggarakan oleh pemerintah semakin terasa dengan adanya kesadaran bernegara dan bermasyarakat, maka pelayanan telah meningkat kedudukannya dimata masyarakat menjadi suatu hak, yaitu hak atas pelayanan.
Perhatian terhadap eksistensi pelayanan semakin berkembang pula seiring dengan munculnya berbagai masalah dalam pelayanan pemerintah kepada rakyat, seperti pembuatan ktp, akta, perizinan sampai pada penyediaan sarana dan prasarana umum dan sosial. Informasiyang ditemukan secara langsung dan melalui berbagai media massa (cetak dan elektronik) seringkali mengungkapkan berbagai kelemahan pelayanan pemerintah yangmencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan tersebut.
Pelayanan yang mahal, kaku dan berbelit-belit, sikap dan tindakan aparat, pelayanan yang suka menuntut imbalan, kurang ramah, arogan, lambat dan fasilitas pelayanan yang kurang memuaskandan sebagainya adalah merupakan fenomena-fenomena yang kerap kali mewarnai proses hubungan antara pemerintah dan masyarakat berkaitan dengan proses pelayanan. Hal ini memberi isyarat bahwa kajian dan analisis masalah pelayanan masyarakat merupakansalah satu fenomena penting, relevan dan aktual untuk diteliti.
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah yang ditemui dalam proses pelayanan publik di Kelurahan Padang Matinggi Lestari Kota Padangsidimpuan sebagai berikut:37
1. Warga masyarakat enggan untuk mengurus kartu tanda penduduk karena pelayanan terlalu jauh
2. Biaya terlalu tinggi karena transpor dari desa, kecamatan ke Ibu kota kabupaten
3. Maraknya praktik percaloan dalam pengurusan KTP dan akta catatansipil 4. Urusan/ kebutuhan masyarakat kadang-kala terhambat akibat KTP dan
aktacatatan sipil, karena tidak memiliki KTP dan akta kelahiran
5. Pendapatan daerah dari ritribusi KTP dan akta catatan sipil tidak maksimal 6. Masih banyaknya warga Kelurahan Padang Matinggi Lestari yang belum
terdata untuk perekaman E-KTP dan belum mengertinya masyarakat tentang prosedur pembuatan E-KTP
7. Kesibukan warga yang sangat padat, sehingga tidak bisa hadir pada waktu yang telah ditetapkan.
8. Warga tidak diketemukan di alamat yang tertera di E-KTP dikarenakan warga tersebut telah pindah ke daerah lain tapi tidak melaporkan kepindahannya ke Kepala Lingkungan / Kelurahan setempat dengan
37 Hasil wawancara dengan Suban, Sekretaris Kelurahan Kelurahan Padang Matinggi Lestari Kota Padangsidimpuan, tanggal 4 April 2016
berbagai alasan antara lain warga sering berpindah-pindah tempat tinggal dikarenakan mengontrak rumah.
Melihat dari masalah tersebut di atas apabila tidak mendapat penanganan dan perhatian oleh pemerintah dan aparat terkait, maka persoalan ini akan berlangsung terusmenerus sehingga masyarakat tidak ada lagi yang memiliki kartu tanda penduduk danakta catatan sipil (akta kelahiran) dan pendapatan asli daerah di sector KTP dan aktacatatan sipil akan menurun bahkan tidak ada.
Dari masalah yang dikemukakan ini sudah berlangsung beberapa tahun lamanyasehingga masyarakat banyak yang tidak memiliki kartu tanda penduduk dan akta kelahiran, dan juga mempengaruhi pendapatan asli daerah yang tidak pernah tercapai sesuai target.
Melihat dari beberapa manfaat dan kegunaan kartu tanda penduduk dan akta catatan sipil bagi warga masyarakat serta manfaat bagi pemerintah dalam memacu pendapatan aslidaerah dan pelaksanaan persyaratan pelayanan dan pembuatannya, serta dampak negatif yang ditimbulkan maka pemerintah menetapkan kebijakan dalam bentuk peraturandaerah yang mengatur masalah masalah pembuatan pelayanan dan retribusi biaya kartutanda penduduk dan akta catatan sipil (akta kelahiran).
Kartu tanda penduduk dan akta catatan sipil (akta kelahiran) merupakan suatu hal yang mendasar yang sangat dibutuhkan oleh semua penduduk, namun tidak semua pendudukdapat memiliki kartu tanda penduduk (KTP) dan akta catatan sipil (akta kelahiran) terutama kepadakeluarga yang kurang mampu karena tingginya biaya dalam pengurusan KTP dan akta catatan sipil.
Masalah pembuatan dan retribusi KTP dan akta catatan sipil sudah merupakan perhatianyang sangat mendasar bagi publik di Pemko Padangsidimpuan, karena menyusahkan masyarakat yang berdampak tidak memiliki KTP bertahun-tahun bahkan sejak lahir hingga akhirhayatnya tidak memiliki KTP dan akta catatan sipil. Masalah ini tidak teratasi oleh pihak
pemerintah akibat dalam menjalankan peraturan daerah pelayanan kurang maksimal, aturan atau Perda ada akan tetapi pemerintah tidak mampu melaksanakan dengan baik karena:
1. Sarana dan prasarana kurang tersedia 2. Sumber daya manusia belum memadai
3. Kurangnya kesadaran bagi aparat akan tanggungjawabnya
Hambatan-hambatan yang ada dalam melaksanakan penyelenggaraan pelayanan publik di pemerintahan Kelurahan Padang Matinggi Lestari Kota Padangsidimpuan adalah hal-hal yang bersifat teknis diantaranya:
1. Masih rendahnya kesadaran pegawai untuk berbuat dan bersikap disiplin
2. Kurangnya perangkat peraturan kedisiplinan, misalnya kurang tegasnya pimpinan dalam menjatuhkan sanksi pada setiap pelanggaran kedisiplinan
3. Kurangnya sarana dan prasarana dengan suatu peralatan yang kurang memadai dapat menghambat lancarnya kegiatan atau pegawai dalam melakukan pekerjaannya
4. Kurangnya sistem pengawasan, perangkat pengawasan dan upaya tindak lanjut yang kurang akan dapat membuka peluang pegawai untuk melakukan berbagai pelanggaran
Beberapa hal-hal tersebut diatas yang merupakan hambatan-hambatan yang ada dalam melaksanakan penyelenggaraan pelayanan publik di lingkungan pemerintah Kelurahan hal ini harus mendapat perhatian lebih dari atasan pemrintahan Kelurahan dan kepada petugas penyelenggara pelayanan publik agar dapat melaksanakan tugas nya dengan penuh rasa tanggung jawab serta melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar sesuai dengan prosedur.
Setelah melakukan pembahasan terhadap pelayanan E-KTP yang diukur dari kepuasan pelanggan beserta indikator-indikatornya maka juga akan dibahas tentang aspekaspek yang mempengaruhi aparatur pemerintah kecamatan dalam pelayanan E-KTP.
Adapun konteks-konteks yang dapat memberikan kondisi bagi tercapainya kepuasan pengguna layanan E-KTP yang merupakan indikator untuk mengetahui peran aparatur dalam pelayanan E-KTP di Kecamatan Amurang Timur akan diuraikan sebagai berikut:
A. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan kunci dari pelayanan publik. Tanpa sumber daya manusia yang memadai semua program tidak dapat berjalan dengan baik. Unluk itu program peningkatan kemampuan pegawai untuk menangai berbagai masalah akan sangat membantu kelancaran pelayanan publik. Seperti dalam penerapan Citizens' Charter dalam pelayanan EKTP, pegawai yang biasanya dalam melayani pengguna layanan bersikap kurang ramah dituntut untuk mengubah sikap. Adapun indikator untuk menilai sumber daya manusia di Kecamatan adalah sebagai berikut:
1) Tingkat Pendidikan Formal 2) Keterampilan Pegawai 3) Pengalaman Kerja pegawai.
B. Sarana dan Prasarana Dalam sebuah pelayanan public
Sarana dan prasarana juga rnerupakan faktor yang tidak kalah pentingnya dalam menentukan kepuasan pelanggan yang merupakan indicator peran aparatur dalam kualitas pelayanan publik. Sarana dan prasarana pelayanan yang dimaksud disini adalah segala jenis peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas lain yang
berfungsi sebagai alat utama/bantu dalam rangka kepentingan orang-orang yang sedang berhubungan dengan organisasi kerja. Sarana dan Prasarana, dapat diukur dengan indikatorindikator sebagai berikut:
1. Ketersediaan fasilitas yang berhubungan langsung dengan proses pelayanan Merupakan alat utama dalam pelayanan publik. Dengan fasilitas yang lengkap diharapkan dapat memperlancar pelayanan publik. Namun pada kenyataannya tidak setiap organisasi kerja mampu menyediakan sarana yang dibutuhkan. Keberadaan peralatan dan perlengkapan kerja sangat penting unluk mendukung pelaksanaan tugas suatu organisasi. Bagi kantor Kecamatan Amurang Timur keberadaan peralatan dan perlengkapan kerja sangat penting untuk menunjang aktifitas pelayanan Kecamatan Amurang Timur yang sangat padat setiap harinya. Peralatan dan perlengkapan kerja yang ada harus memadai. Tidak hanya dari jumlahnya saja tetapi juga dari segi kualitasnya karena peralatan dan perlengkapan kerja akan sangat berpengaruh terhadap produk-produk pelayanan yang dihasilkan suatu organisasi pelayanan publik.
2. Ketersediaan Fasilitas Penunjang Dalam Kelancaran Pelayanan Selain dari peralatan dan perlengkapan kerja, sarana kerja juga dapat dilihat adanya fasilitas kerja. Yang dimaksud fasilitas kerja dalam kegiatan pelayanan publik adalah semua sarana kerja yang berfungsi memperlancar aktifitas pelayanan publik sekaligus memberikan kenyamanan dan kepuasan bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, baik bagi pemberi layanan maupun penerima layanan.
3. Pemeliharaan Fasilitas Yang Ada Fasilitas yang digunakan dalam pelayanan publik perlu perawatan agar dapat bekerja dengan baik dan tidak menggangu pelayanan publik. Biaya pemeliharaan fasilitas pelayanan publik memang tidak sedikit namun hal tersebut harus dilakukan demi kelancaran pelayanan publik.
4. Kemampuan Pengadaan Fasilitas Yang Sangat Dibutuhkan. Untuk dapat memperlancar pelayanan kepada masyarakat, Kecamatan harus dapat menyediakan sarana dan prasarana pelayanan. Seperti pengadaan komputer dan
fasilitas ruang tunggu yang memadai. Dengan kebijakan satu kecamatan satu komputer ditambah dengan satu Kecamatan hal tersebut sangat ketinggalan zaman.
Upaya Mengatasi Hambatan Dengan Meningkatkan Pelayanan Publik Dalam Hal Pembuatan E-KTP Di Kelurahan Padang Matinggi Lestari Kota Padangsidimpuan
Bagi masyarakat, KTP merupakan dokumen paling vital karena umumnya menjadi dokumen persyaratan untuk mengurus berbagai keperluan, seperti membuat kartu keluarga, paspor, perizinan, mengurus surat keterangan tidak mampu, mengurusdokumen pernikahan, melanjutkan pendidikan, melamar pekerjaan, dan lainnya.
Perkembangan beberapa tahun terakhir, peran KTP juga makin vital karena diperlukan jika ingin mendapat bantuan dari berbagai program penanggulangan krisis/ kemiskinan, seperti Raskin (Beras untuk Masyarakat Miskin) atau BLT (Bantuan Langsung Tunai).
Bahkan pada tahun-tahuan belakangan KTP juga telah memasuki ranah politik karena dianggap sebagai bukti dukungan bagi seorang calon kepala daerah dari jalur independen (non partai) dalam Pemilihan Langsung Kepala Daerah (Pilkada) atau pencalonan sebagaianggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam Pemilu.
Administrasi kependudukan ini dapat dianggap sebagai salah satu pelayanan publik dasar (seperti halnya pelayanan kesehatan dan pendidikan) yang harus dipenuhi oleh pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan tersebut.
Terlebih, jenis pelayanan ini merupakan kewenangan pemerintah sepenuhnya karena memang tidak dimungkinkan adaalternatif lain yang dapat digunakan masyarakat seperti pada pelayanan kesehatan dan pendidikan. Merujuk ketentuan pada UU Nomor 23 Tahun 2006, pemerintah kabupaten/kota
berkewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan urusan administrasi kependudukan, yang diantaranya berupa:
(a) pelaksanaan kegiatan pelayanan rnasyarakat di bidang administrasi kependudukan;
(b) enugasan kepada desa untuk menyelenggarakan sebagian urusan administrasi kependudukan berdasarkan asas tugas pembantuan;
(c) pengelolaan dan penyajian data kependudukan berskala kabupaten/kota;
dan
(d) koordinasi pengawasan atas penyelenggaraan administrasi kependudukan.
Sedangkan bila merujuk pada Undang-undang Nomor 38 Tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah, pemerintahan daerah provinsi, dan pemerintahan daerah kabupaten/ kota, pada lampiran mengenai pembagian urusan pemerintahan bidang kependudukan dan catatan sipil, disebutkan bahwa pemerintah kabupaten/ kota sebagai penyelenggara pelayanan pencatatan sipil dalam sistem administrasi kependudukan skala kabupaten/ kota, yang salah satutugas/ kewenangannya adalah menerbitkan dokumen kependudukan hasil pencatatan sipil di lingkup kabupaten/ kota.
Meskipun peran ktp sedemikian penting, namun masih banyak anggota masyarakat yang sesungguhnya telah memenuhi syarat tetapi belum memiliki ktp.
Menurut data SUPAS 2005, hanya 81,7 persen penduduk Indonesia yang berusia 17 tahun keatas yang memiliki ktp.
Proporsi masyarakat perkotaan yang memiliki ktp lebih besar dibandingkan perdesaan, yaitu 88,5 persen berbanding 76,4 persen. Data di tingkat daerah menunjukkan provinsi yang proporsi kepemilikan ktp-nya paling tinggiyaitu di atas 90 persen dari penduduk berusia 17 tahun adalah DI Yogyakarta, DKI. Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Kepulauan Bangka Belitung.
Sementara provinsi dengan proporsi terendah atau di bawah 80 persen adalah Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan paling sedikit di Maluku Utara. Keharusan bagi masyarakat yang telah memenuhi syaratuntuk memiliki ktp masih belum sepenuhnya dapat diwujudkan.
Patut diduga sebagian besar diantara mereka yang tidak memiliki ktp berasal dari kelompok masyarakat miskin, baik di perkotaan maupun di perdesaan. Disisi lain, banyak pula ditemui kasus adanya penduduk yang memiliki ktp ganda atau banyak.
Hal ini tentunya dapat mengacaukan data kependudukan dan menimbulkan potensi penyalahgunaan ktp untuk kegiatan yang melanggar hukum. Oleh karenanya terdapat sejumlah pertanyaan yang mengganjal sehubungan dengan pelayanan ktp seperti apakah yang menyebabkan masyarakat, terutama masyarakat miskin, tidak memiliki ktp? Apakah hal ini disebabkan oleh sulitnya akses ke pelayanan ktp atau memang merupakan pilihan masyarakat itu sendiri.
Data Governance and Decentralization Survey (GDS) tahun 2006 dapat memberikan sebagian jawaban sehubungan dengan beberapa dimensi pelayanan ktp berdasarkan pengalaman masyarakat selama kurun waktu 2004-2006, sebelum berlakunya UU Nomor 23 Tahun 2006. Ada empat keluaran (output) pelayanan yang akan dikaji dalam makalah ini:
(a) pengetahuan masyarakat akan prosedur/tatacara pengurusan ktp
(b) preferensi masyarakat untuk menggunakan perantara saat mengurus ktp (c) peluang masyarakat untuk membayar lebih mahal dari ketentuan yang berlaku, dan
(d) peluang masyarakat untuk menunggu atau memperoleh ktp lebih lama dari Ketentuan yang ada dalam penulisan skripsi ini penulis berusaha untuk memberikan gambaran praktik pelayanan ktp serta perbedaan yang terjadi antar daerah maupun antar masyarakat berdasarkan dari golongan ekonominya. Telaah
analitik diarahkan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keluaran tersebut dengan tujuan untukmemberikan masukan bagi perbaikan pelayanan KTP pada masa mendatang.
Pembuatan ktp (Karta Tanda Penduduk) dan Akte kelahiran gratis yang akan segera diberlakukan di Kota Padangsidimpuan mendapat sambutan postif dari berbagai pihak. Camat dan Lurah di Kota Padangsidimpuan meminta sebelum di berlakukannya pembuatan ktp gratis tersebut, untuk segera dilakukan sosialisasi sampai ke tingkat bawah, sehingga tidak terjadi salah persepsi di masyarakat. Jadi, jangan sampai terjadi salah paham di masyarakat. Artinya untuk siapa saja ktp dan akte kelahiran gratis itu diberlakukan.
Sebagai bentuk kepedulian dan bukti pengabdian yang tulus kepada seluruh penduduk Kota Padangsidimpuan, Pemerintah Kota Padangsidimpuan setelah sebelumnya melakukan koordinasi dan rapat tertulis bersama Dewan Perwakilan Rakyat Kota Padangsidimpuan telah mengeluarkan sebuah kebijakan dalam rangka pembuatan kartu tanda penduduk (ktp) gratis bagi penduduk Kota Padangsidimpuan yang masih berada di bawah garis kemiskinan.
Peraturan ini segera diberlakukan di Kota Padangsidimpuan menyusul disahkannya peraturan daerah (perda) tentang perubahan atas perda tentang retribusi biaya cetak pelayanan kependudukan oleh DPRD Kota Padangsidimpuan dalam sidang paripurna DPRD.
Dalam perda disebutkan, bahwa pembuatan ktp gratis hanya berlaku untuk pembuatan ktp bagi parapemula, keluarga miskin dan penggantian ktp yang dilakukan dalam kurun waktu 14 hari setelah ktp lama masa berlaku habis.
Demikian pula dengan pembuatan akte kelahiran, pembebasan hanya diberlakukan bagi wni yang berdomisili di Kota Padangsidimpuan.Itupun hanya berlaku sepanjang 60 hari kerja sejak tanggal kelahiran bayi yang bersangkutan.
Sedangkan untuk pembuatan surat keterangan tempat tinggal yang diminta oleh warga negara asing, tetap dikenakan retribusi sebesar Rp 250 ribu.
Sedangkan surat keterangan tinggal sementara yang diminta oleh warga negara Indonesia yang berasal dari daerah lain retribusinya ditetapkan sebesar Rp 100 ribu.
Dengan adanya persayaratan-persayaratan seperti itu, maka diharapkan perda ini akan tetap mampumenjadi bagian dari mekanisme pengendalian penduduk pendatang di Kota Padangsidimpuan.
Upaya pemerintah kota Padangsidimpuan terkhusus Di Kelurahan Padang Matinggi Lestari dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik. Beberapa upaya-upaya yang dilakukan dalam meningkatkan pelayanan publik yang baik bagi masyarakat, diataranya adalah:
1. Memberikan sarana dan prasarana yang lengkap dan memadai untuk dapat menunjang pelaksanaan yang baik terhadap masyarakat, dengan cara menyediakan peralatan-peralatan yang lengkap serta memadai untuk memberikan kelancaran terhadap pegawai Kota Padangsidimpuan dalam melaksanakan tugasnya.
2. Menyediakan perangkat kedisiplinan, yaitu pemerintah Kota Padangsidimpuan menggunakan absensi elektronik (finger Print) hal ini bertujuan agar tidak ada pegawai Kota Padangsidimpuan yang terlambat untuk melaksanakan tugasnya di kantor Kota Padangsidimpuan.
3. Menerima keluhan masyarakat terhadap setiap pelanggaran dalam hal siikap aparatur dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
4. Profesionalisme kerja pegawai, meliputi, Kemahiran dalam mempergunakan peralatan yang ada dalam mendukung pekerjaan, yaitu proses pembuatan E-KTP.
5. Kesiapan dalam pelaksanaan pelayanan pengurusan E-KTP yaitu disiplin dalam memulai dan menyelesaikan pelayanan.
6. Tekun dan rajin dalam mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
7. Mentaati segala peraturan yang melandasi bidang pekerjaan.
Dari beberapa masalah-masalah yang dijelaskan pada bab terdahulu mengenai pelaksanaan pembikinan/pembuatan dan penggantian retribusi kartu tanda penduduk dan akta catatan sipil yang timbul dan dirasakan oleh masyarakat maka untuk mengatasi halhal tersebut ada beberapa alternatif yang harus dilakukan sebagai berikut:
1. Pemerintah harus memperpendek alur pelayanan pemberian pembuatan kartutanda penduduk dan akta catatan sipil dengan pusat pelayanan pada tingkat kecamatan masing masing, sehingga pelayanan pemberian kartu tanda penduduk dan akta catatan sipil dapat maksimal.
2. Pemerintah perlu melaksanakan aturan/Perda yang telah ditetapkansecara tegas, dan mengaktualisasi implementasi pelaksanaannya.
3. Pemerintah seharusnya menggalakkan sosialisasi tentang akan pentingnya kartu tanda penduduk dan akta catatan sipil lainnya.
4. Memberikan pemahaman/pelatihan kepada aparat pelaksana pelayanan kartutanda penduduk dan akta catatan sipil, agar dalam melaksanakan pelayanankepada masyarakat.
5. Dengan memusatkan pelayanan pemberian kartu tanda penduduk dan akta catatan sipil padatingkat kecamatan disamping mempermudah/
mempercepat pelayanan juga mengurangi beban biaya melalui transport ke tingkat kabupaten/ kota.
6. Untuk memaksimalkan alternatif tersebut perlu adanya pemantauan yang lebihketat dari pemerintah kabupaten dan tingkat kecamatan, demi terwujudnya pelayanan prima dalam pelaksanaan kebijakan pemerintah, serta perlunya laporanpemantauan dalam pelaksanaan pelayanan tersebut, sehingga kita dapatmemastikan berjalan tidaknya aturan yang diterpakan serta alternatif yang dipilihdalam pelaksanaan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah.
Tuntutan masyarakat pada era desentralisasi terhadap pelayanan publik yang berkualitas akan semakin menguat. Oleh karena itu, kredibilitas pemerintah sangat ditentukan oleh kemampuannya mengatasi berbagai permasalahan di atas sehingga mampu menyediakan pelayanan publik yang memuaskan masyarakat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Dari sisi makro, hal-hal yang dapat mengatasi masalah-masalah tersebut peningkatan kualitas pelayanan publik dapat dilakukan melalui pengembangan model-model pelayanan publik. Dalam hal-hal tertentu, memang terdapat pelayanan publik yang pengelolaannya dapat dilakukan secara private untuk menghasilkan kualitas yang baik.
Beberapa model yang sudah banyak diperkenalkan antara lain: contracting out, dalam hal ini pelayanan publik dilaksanakan oleh swasta melalui suatu proses lelang, pemerintah memegang peran sebagai pengatur; franchising, dalam hal ini pemerintah menunjuk pihak swasta untuk dapat menyediakan pelayanan publik tertentu yang diikuti dengan price regularity untuk mengatur harga maksimum.
Dalam banyak hal pemerintah juga dapat melakukan privatisasi.
Disamping itu, peningkatan kualitas pelayanan publik juga perlu didukung adanya restrukturisasi birokrasi, yang akan memangkas berbagai kompleksitas pelayanan publik menjadi lebih sederhana. Birokrasi yang kompleks menjadi ladang bagi tumbuhnya kkn dalam penyelenggaraan pelayanan.
Sedangkan dari sisi mikro, hal-hal yang dapat diajukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
Penetapan Standar Pelayanan
Standar pelayanan memiliki arti yang sangat penting dalam pelayanan publik. Standar pelayanan merupakan suatu komitmen penyelenggara pelayanan untuk menyediakan pelayanan dengan suatu kualitas tertentu yang ditentukan atas
dasar perpaduan harapan-harapan masyarakat dan kemampuan penyelenggara pelayanan.
Penetapan standar pelayanan yang dilakukan melalui proses identifikasi
Penetapan standar pelayanan yang dilakukan melalui proses identifikasi