HASIL PENELETIAN
A. Gambaran Umum Lokasi dan Obyek Penelitian
Pada pembahasan ini, penulis akan menguraikan tentang hasil penelitian. Namun sebelum terlalu jauh membahas mengenai hasil penelitian ini, terlebih dahulu peneliti memberikan gambaran tentang obyektif lokasi penelitian sebagai berikut:
1. Sejarah singkat Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa
Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa. Kecamatan ini terletak sekitar 14 km dari kota Makassar, yakni dihuni oleh penduduk sebanyak 31.753 jiwa yang umumnya terdiri dari suku Makassar yang tersebar dari seluruh desa di Kecematan Bontomarannnu. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 1:
Jumlah Kelurahan /Desa di Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa
No. Kelurahan / Desa Jumlah Dusun Ket.
1. Kel. Borongloe 3
2. Kel. Bontomanai 3
3. Kel. Romanglompoa 2
4. Desa Sokkolia 4
5. Desa Pakatto 2
6. Desa Romangloe 3
7. Desa Nirannuang 3
8. Desa Mata Allo 3
9. Desa Bili-Bili 2
Sumber Data: Kantor Urusan Agama 2016
45
2. Keadaan Alam dan Iklim
Kecamatan Bontomarannu umumnya daratan rendah, yang beriklim tropis yaitu yakni musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan biasanya terjadi pada bulan November sampai bulan April, sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan Mei sampai bulan Oktober. Walaupun kedua musim ini sering datang tidak tepat pada waktunya, namun tak menjadi masalah bagi masyarakat di Kecamatan Bontomarannu.
Menurut salah satu tokoh masyarakat setempat bahwa:
Daratan di Desa Nirannuang sebagian dapat digunakan sebagai lokasi perkebunan untuk memenuhi kebutuhan rakyat, baik tanaman jangka pendek maupun tanaman jangka panjang.
Didaratan rendah dapat dijadikan daerah persawahan yang menanam padi dengan berbagai macam tekhnik pengairan.
Keadaan daerah persawahan di Desa Nirannuang umumnya menggunakan sistem pengairan irigasi. (Arifin Bunga, wawancara:
09 Maret 2016 Desa Nirannuang).
3. Agama dan Kepercayaan
Penduduk wilayah Desa Nirannuang 99% beragama Islam yang diterima secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Adapun besar jumlah pemeluk agama di Desa Nirannuang dapat dilihat pada tabel berikut:
46
Tabel 2:
Jumlah penganut agama di Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa No. Dusun Islam Protestan Katolik Hindu Ket
Sumber Data: Kantor Urasan Agama 2016
Kepala KUA Bontomarannu mengatakan bahwa:
Masih ada diantara mereka yang belum melaksanakan ajaran agamanya kedalam aspek kehidupannya. Bahkan tidak jarang diantara mereka masih banyak yang mempercayai tentang roh-roh nenek moyang mereka, karena mereka beranggapan bahwa kita perlu mengadakan sesajen kepadanya. Hal ini terjadi dikalangan yang masih lemah kadar imannya serta masih dangkal pemahaman yang dimiliki terhadap terhadap ajaran agama Islam.
(H. Darul Aqsa, wawancara: 09 Maret 2016 Kel. Bontomanai).
Mereka yang beragama Islam masih sering nampak mengintegrasikan antara ajaran agamanya dengan ajaran nenek moyang yang dalam bahasa daerahnya disebut “Patturioloang”.
Menurut Supriadi salah satu tokoh agama setempat mengatakan bahwa:
Dalam era sekarang ini, misalnya dengan adanya gerakan ajaran Islam seperti Muhammadiayah, dan utamanya hadirnya para penyuluh agama, maka sebagian dari kepercayaan patturioloang itu berangsur-angsur dapat dihilangkan. (Supriadi, wawancara: 09 Maret 2016 Desa Nirannuang).
47
Pola pelarangan terhadap kepercayaan sesat itu tidak dapat secara spontan dilakukan dengan berbagai macam pertimbangan.
Selanjutnya dari Penyuluh Agama bekerjasama dengan pihak pemerintah Kecamatan Bontomarannu dan instansi-instansi terkait melakukan pelarangan terhadap masyarakat yang akan berkunjung ke tempat-tempat yang dianggap keramat. Padahal kalau ditinjau lebih dekat lagi, tempat ibadah di desa-desa Kecematan Bontomarannu sudah cukup memadai, untuk lebih jelasnya dapat dilihaat pada tabel berikut:
Tabel 3:
Jumlah Tempat Ibadah di Kecematan Bontomarannu
No. Kel. / Desa Mesjid Mushallah Gereja Ket.
1. Kel. Borongloe 11 1
2. Kel. Bontomanai 7 5
3. Kel. Romanglompoa 6 1 1
4. Desa Sokkolia 9 2
5. Desa Pakatto 8 3
6. Desa Romangloe 8 4 1
7. Desa Nirannuang 4 3 1
8. Desa Mata Allo 4 2
9 Desa Bili-Bili 3 2
Jumlah 60 21 5
Sumber Data, Kantor Urusan Agama, 2016
Kecematan Bontomarannu telah diadakan pemurnian agama Islam, dan juga karena munculnya Jamaah Tabligh di desa-desa terpencil (di mesjid-mesjid) dan utamanya pembinaan keagamaan yang dilakukan oleh penyuluh agama, maka masyarakat di Kecematan Bontomarannu sudah sebagian besar meninggalkan ajaran sesat dari nenek moyangnya.
48
Peranan da’i (muballigh), dan peranan Penyuluh Agama yang membawakan misi Islam sangat besar dalam mengarahkan dan mendidik mereka dalam mengetahui yang halal dan haram, yang hak dan yang bathil, yang dilandasi dengan satu keyakinan akidah Islam, tentang Nabi dan Rasul, tentang hari kiamat, tentang musibah-musibah kematian, dan pengatahuan aqidah Islam lainnya, semua ini merupakan pembinaan masyarakat yang stabil.
4. Penyuluh Agama Di Desa Nirannuang Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa.
Pembahasan ini penulis akan menguraikan tentang hasil penelitian, namun sebelum terlalu jauh membahas mengenai hasil penelitian ini, terlebih dahulu peneliti memberikan gambaran tentang obyektif lokasi penelitian sebagai berikut:
a. Sejarah singkat Penyuluh Agama di Desa Nirannuang Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa
Sebagai langkah awal dalam pembahasan ini akan dikemukakan sejarah singkat Penyuluh Agama di Desa Nirannuang Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa yang dijadikan sebagai objek penelitian. Penyuluh Agama di Desa Nirannuang Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa merupakan salah satu lembaga naungan dari Departemen Agama yang berorientasi pada bidang
49
Kaagamaan yang terletak di Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa.
Sejak hadirnya Penyuluh Agama maka perkembangan moral keagamaan masyarakat semakin membaik dari yang sebelumnya.
Sejak berdirinya Penyuluh Agama sampai pada saat ini, telah mengalami beberapa kali pergantian kepala penyuluh dan saat ini yang menjabat sebagai kepala Penyuluh Agama adalah H. Darul Aqsa.
b. Keadaan pegawai Penyuluh Agama
Penyuluh Agama adalah para juru penerang penyampai pesan bagi masyarakat mengenai prinsip-prinsip dan etika nilai keberagamaan yang baik. Hasil akhir yang ingin dicapai dari penyuluh agama, pada hakekatnya ialah terwujudnya kehidupan masyarakat yang memiliki pemahaman mengenai agamanya secara memadai yang ditunjukkan melalui pengamalannya yang penuh komitmen dan konsistensi seraya disertai wawasan multikultur untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang harmonis dan saling menghargai satu sama lain.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka tantangan tugas para Penyuluh Agama Islam semakin berat, karena dalam kenyataan kehidupan ditataran masyarakat mengalami perubahan pola hidup yang menonjol.
50
Situasi demikian, dalam menuju keberhasilan kegiatan penyuluhan tersebut, maka perlu sekali keberadaan Penyuluh Agama atau juru dakwah salah satunya Penyuluh Agama fungsional tingkat terampil untuk memiliki kemampuan, kecakapan yang memadai sehingga mampu memutuskan menentukan sebuah proses kegiatan bimbingan dan penyuluhan dapat berjalan sistematis, berhasil guna, berdaya guna dalam upaya pencapaian tujuan yang diinginkan.
Mengenai keberadaan Penyuluh Agama di Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa, peneliti memberikan gambaran sebagaimana tercantum dalam tabel berikut ini:
Tabel 4:
Keadaan Penyuluh Agama di Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa. Sumber data: Kantor Kantor Urusan Agama 2016.
B. Pembinaan Keagamaan Masyarakat di Desa Nirannuang