Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kondisi Fisik dan Demografi
Program pemberdayaan Kampoeng Ternak di Wilayah Sukabumi yang masih bertahan hingga saat ini yaitu berada pada empat desa. Desa tersebut adalah Desa Palasari Girang, Desa Walangsari, Desa Pulosari yang termasuk dalam wilyah Kecamatan Kalapanunggal dan Desa Tugu Bandung yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Kabandungan.
Secara keseluruhan, keempat desa yang menjadi lokasi program pemberdayaan peternak termasuk dalam wilayah dataran tinggi. Lokasi desa yang berada dekat dengan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan perkebunan PTPN VIII, menjadi faktor pendukung tersendiri karena tersedia banyak lahan hijauan yang melimpah untuk pakan ternak, meskipun terkadang mengalami kesulitan ketika musim kekeringan.
Aksesbilitas untuk menuju keempat desa cukup sulit dijangkau. Jalan untuk menuju desa tersebut, sebagian besar masih berupa tanah dan bebatuan sehingga ketika hujan cukup sulit untuk dilalui. Desa yang cukup mudah untuk dijangkau adalah Desa Palasarigirang dan Desa Tugu Bandung karena lokasinya dekat dengan jalan utama yang menghubungkan antar desa dan untuk transportasi sudah tersedia kendaraan umum yang melewati desa. Aksesbilitas yang cukup sulit dilalui yaitu menuju Desa Walangsari dan Desa Pulosari karena belum ada kendaraan umum dan jalan menuju ke desa sebagian besar berupa batu-batuan dan tanah.
Pada keempat desa tersebut, sebagian besar lahan dimanfaatkan untuk pertanian. Jenis komoditi pertanian utama pada Desa Palasari Girang adalah Padi, sedangkan pada tiga desa lainnya jenis komoditi utamanya yaitu tanaman palawija (jagung, kacang-kacangan dan umbi-umbian). Potensi sumberdaya alam yang dimiliki oleh keempat desa tersebut adalah salah satunya sungai. Keberadaan sungai dimanfaatkan oleh penduduk untuk pengairan/ irigasi lahan pertanian. Tabel 3 Jumlah dan persentase penduduk desa berdasarkan jenis kelamin
Jumlah Penduduk
Desa Palasari
Girang Walangsari Pulosari Tugu Bandung
N % N % N % N %
Laki-laki 3558 57.6 2993 53.32 4523 49.96 4575 50.2 Perempuan 2620 42.4 2620 46,68 4531 50.04 4543 49.8 Total 6178 100.0 5613 100.00 9054 100.00 9118 100.0 Sumber: Potensi Desa (Podes) 2011
Berdasarkan Tabel 3, dapat diketahui bahwa persentase penduduk laki-laki pada keempat desa lebih besar dibandingkan persentase jumlah penduduk perempuan. Jumlah kepala keluarga (KK) di masing-masing desa adalah pada Desa Palasari Girang terdapat 1880 KK, Desa Walangsari memiliki 1506 KK, Desa Pulosari memiliki 2604 KK dan Desa Tugu Bandung memiliki 2480 KK.
Kondisi Sosial dan Ekonomi
Sebagian besar jumlah penduduk di keempat berasal dari suku Sunda yang beragama islam sehingga penduduk tidak terlalu beragam. Secara keseluruhan, kehidupan sosial di keempat desa penelitian memiliki interaksi yang tergolong dekat dan kuat. Hal ini terbukti dengan jaringan kekerabatan yang terjalin cukup kuat dan diantara masyarakat desa masih mau melakukan gotong royong bersama atau bersifat “guyub”. Masyarakat desa juga saling tolong menolong satu sama lain apabila ada kegiatan di desa atau ketika salah satu warga mengadakan sebuah acara. Apabila masa panen tiba, seperti saat panen buah-buahan dan sayuran, biasanya warga akan membaginya ke tetangga disekitar rumahnya.
Selanjutnya dari aspek kependudukan, mobilitas keluar masyarakat desa jarang dilakukan. Pada umumnya, masyarakat desa tetap berada di desa dan tidak merantau keluar dari desanya untuk bekerja atau untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pernikahan sesama warga desa yang tinggal berdekatan. Mobilitas keluar yang rendah menyebabkan pendidikan masyarakat desa cenderung tergolong rendah, karena hanya berinteraksi dengan sesama warga yang dekat dengan tempat tinggalnya.
Tabel 4 Jumlah dan persentase keluarga pertanian
Jumlah Keluarga
Desa
Palasari Girang Walangsari Pulosari Tugu Bandung
N % n % n % N % Keluarga Pertanian 940 36.55 225 17.9 1562 42.85 1800 72.58 Keluarga yang ada ART menjadi buruh tani 1632 63.45 1031 82.1 2083 57.15 680 27.42 Total 2572 100.00 1256 100.0 3645 100.00 2480 100.00 Sumber: Potensi Desa (Podes) 2011
Mata pencaharian utama, sebagian besar penduduk adalah sebagai petani dan buruh tani. Sektor pertanian menjadi penghasilan terbesar bagi penduduk. Tabel 4 menunjukkan jumlah dan persentase keluarga pertanian. Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah dan persentase keluarga yang ada anggota
rumah tangga menjadi buruh tani lebih besar dibandingkan jumlah dan persentase keluarga petani pada ketiga desa yaitu Desa Palasari Girang, Desa Walangsari, dan Desa Pulosari. Sementara, pada Desa Tugu Bandung jumlah dan persentase keluarga petani lebih besar dibandingkan dengan jumlah dan persentase keluarga yang ada anggota rumah tangga menjadi buruh tani. Tidak semua petani memiliki penguasaan atas lahan, beberapa petani hanya menyewa lahan dari perusahaan selama jangka waktu tertentu.
“…Kalau bapak mah, selain miara kambing juga jadi petani sayur- sayuran seperti timun, tomat, cabe, sawi dan lain-lain. Lahan yang bapak gunakan, bapak nyewa selama beberapa tahun ke
perusahaan…”(Bapak M, petani-peternak Desa Pulosari) Tabel 5 Jumlah fasilitas pendidikan di setiap desa
Fasilitas Pendidikan
Desa
Palasari Girang Walangsari Pulosari Tugu Bandung N N n n TK 2 2 9 - SD 3 2 8 4 SMP 2 1 1 2 SMA/ SMK 2 - - 1 Ponpes 1 - - 7 Madrasah 8 4 7 8 Total 18 9 25 22
Sumber : Potensi Desa (Podes) 2011
Tabel 5 menunjukkan jumlah fasilitas pendidikan di setiap desa. Sarana dan prasarana pendidikan sangat mendukung kegiatan pendidikan di setiap desa. Semakin baik kualitas dan kuantitas dari fasilitas pendidikan yang tersedia, maka kualitas pendidikan akan lebih baik. Namun, pada umumnya tingkat kesadaran pendidikan penduduk desa cenderung rendah. Selain itu, diketahui bahwa dibandingkan dengan desa lainnya Desa Palasari Girang memiliki fasilitas gedung pendidikan yang lengkap pada tiap jenjang pendidikan.
Gambaran Umum Program Pemberdayaan Kampoeng Ternak Sejarah Singkat Kampoeng Ternak
Kampoeng Ternak merupakan organisasi atau jejaring community entrepreneurship di bawah naungan Dompet Dhuafa yang bertujuan untuk memberdayakan petani peternak. Awal mula terbentuknya Kampoeng Ternak Nusantara (KTN) yaitu pada tahun 1994, Dompet Dhuafa (DD) memulai program
penyebaran hewan-hewan kurban ke wilayah-wilayah miskin di Indonesia. Pada tahun 1997 nama program ini diganti menjadi Tebar Hewan Kurban (THK).
Pada tahun 2000 program Tebar Hewan Kurban mulai disinergikan dengan program pemberdayaan peternak yang menyiapkan hewan kurban di daerah- daerah sasaran. Melalui program ini, masyarakat dhuafa tidak hanya menerima manfaat dalam bentuk daging kurban, tetapi juga manfaat ekonomi karena pemeliharaan ternak yang dilakukan. Tahun 2002, dimulai program Ternak Domba Sehat (TDS) yang berlokasi di Kabupaten Bogor. Program ini mengusung konsep peternakan Tiga Strata yakni breeding (pemuliaan), multiplier (pembiakan), dan commercial (komersil). Posisi TDS sendiri berada pada strata satu yang memiliki fungsi sebagai pusat pembibitan Domba Garut. Bibit unggul dari TDS ini kemudian akan dikembangkan di sentra-sentra program pemberdayaan peternak.
Pada Juni 2005, dibentuk Kampoeng Ternak sebagai jejaring Dompet Dhuafa yang bertugas mengembangkan program peternakan yang berbasis pada peternakan rakyat (peternak mustahik dan tradisional). Saat ini, nama organisasi Kampoeng Ternak diganti menjadi Kampoeng Ternak Nusantara. Program yang dilakukan Kampoeng Ternak Nusantara tidak hanya program pemberdayaan peternak saja, tetapi juga program Research and Development serta Marketing Board.
Program Research and Development bertujuan untuk memberikan dukungan bagi peternakan tradisional (peternakan rakyat) agar lebih efektif dan efisien dalam beternak. Pada program ini, Kampoeng Ternak Nusantara baik secara pribadi maupun kerjasama dengan perguruan tinggi, perusahaan swasta, lembaga pemerintahan maupun asosiasi peternak melakukan terobosan dan pengembangan sarana produksi peternakan.
Program Marketing Board adalah program yang membingkai seluruh aktifitas Kampoeng Ternak Nusantara agar mampu diserap pasar. Posisi marketing board berfungsi sebagai channeling (perantara) antara peternak dengan pasar, sehingga harga ternak di petani peternak akan mengikuti harga pasar. Selain itu, program ini juga meliputi sosialisasi hal-hal yang berhubungan dengan peternakan dan pelatihan untuk peningkatan kapasitas SDM peternakan.
Program pemberdayaan peternak hingga tahun 2014 sudah mencapai 22 provinsi di Indonesia, diantaranya yaitu Oku Timur, Lampung, Banten, Bogor, Sukabumi, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Karawang, Nusa Tenggara Barat, dan lain-lain. Program ini juga sudah melibatkan 1.475 kepala keluarga petani- peternak dhuafa dan tradisional. Selain mendapatkan pembinaan teknis beternak dan pembangunan etos kerja, semangat untuk mandiri dan pendalaman pemahaman spiritual.
Visi, Misi, Tujuan dan Prinsip Kampoeng Ternak
Kampoeng Ternak sebagai suatu organisasi atau jejaring, memiliki sasaran yang ingin dicapai dan aturan dalam pelaksanaan setiap program. Kampoeng Ternak memiliki visi yang ingin dicapai yaitu menjadi organisasi terdepan dalam bisnis peternakan berbasis pemberdayaan masyarakat. Visi tersebut dicapai melalui misi yang dimiliki Kampoeng Ternak yaitu:
1. Menumbuhkembangkan entitas dan iklim social entrepreneurship dalam komunitas peternakan rakyat;
2. Meningkatkan kualitas kesejahteraan peternak;
3. Membangun jaringan peternakan rakyat yang terbaik di Indonesia; dan 4. Menyelenggarakan bisnis peternakan dan turunannya yang profit,
tumbuh, sinambung dan berkah.
Selanjutnya, tujuan yang ingin dicapai Kampoeng Ternak yaitu: (1) terbangunnya etos kemandirian dalam komunitas peternakan rakyat; (2) terbangunnya kelembagaan komunitas peternakan rakyat yang tumbuh dan berkembang; (3) meningkatnya kesejahteraan peternak sasaran dan meningkatnya kepemilikan aset produktif peternak sasaran; (4) terbangunnya sentra produksi peternakan untuk memenuhi pasar dalam dan luar negeri dan (5) terwujudnya kemandirian lembaga melalui penyelenggaraan bisnis peternakan dan turunannya yang profit, tumbuh, sinambung dan berkah.
Pada setiap aktivitas pelaksanaan program, Kampoeng Ternak memiliki prinsip-prinsip organisasi yang menjadi landasan dalam bekerja, yaitu
1. Landasan: amanah dan ihsan;
2. Prinsip kedudukan: obyektif dan independen;
3. Prinsip manajemen: transparan, akuntabilitas, profesional, efektif dan efisien, berorientasi pada perbaikan terus menerus;
4. Prinsip pengembangan: iovatif, kreatif, berorientasi pada social entrepreneurship dan investasi sosial; dan
5. Prinsip aktivitas inti: bisnis peternakan berbasis pemberdayaan masyarakat.
Mekanisme Pelaksanaan Program Pemberdayaan Kampoeng Ternak
Pemberdayaan peternak dibangun dengan pembentukan kelompok- kelompok peternak di daerah sasaran dan melalui proses pendampingan. Kampoeng Ternak memperhatikan empat unsur dalam melaksanakan pemberdayaan peternak agar program tersebut berkelanjutan, keempat unsur tersebut yaitu:
1. Program pemberdayaan dilakukan secara terarah dan terencana;
2. Program pemberdayaan berusaha mengembangkan sumber daya baik yang berada di internal maupun eksternal komunitas peternak;
3. Program pemberdayaan diarahkan untuk membangun kemandirian; dan
4. Program pemberdayaan melakukan seluruh prosesnya dengan partisipasi masyarakat.
Keempat unsur tersebut merupakan keterpaduan yang mengarahkan program pemberdayaan Kampoeng Ternak untuk mencapai tujuan dan maksudnya sehingga pelaksanaan program pemberdayaan dapat dipertahankan keberlanjutannya dan mampu menciptakan kemandirian bagi peternak penerima program. Pada pelaksanaan program pemberdayaan di daerah sasaran, Kampoeng Ternak melakukan berbagai tahapan dari perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi. Tahapan tersebut digambarkan dalam skema berikut.
Gambar 3 Mekanisme tahapan program
Pada tahap perencanaan, dilakukan beberapa tahapan yaitu pemetaan, studi kelayakan wilayah dan rekutment pendamping. Pada tahap ini bertujuan untuk menggali potensi wilayah, sosial, pasar dan peternakan di daerah sasaran. Proses ini dilakukan dengan menggunakan metode transek, pemetaan, diskusi bersama masyarakat, FGD, dan survei. Selama proses tersebut juga dilakukan rekrutment pendamping yang akan ditempatkan pada daerah sasaran selama satu tahun. Calon pendamping terlebih dahulu diberikan pelatihan selama tiga hari terkait dengan teknik beternak, penjelasan terntang program, bagaimana cara berhubungan dengan masyarakat dan lain-lain. Selanjutnya, apabila daerah sasaran dikatakan layak sebagai daerah program maka dilanjutkan pada tahap berikutnya yaitu tahap persiapan.
Pada tahap persiapan terdapat beberapa tahapan yaitu sosialisasi program ke masyarakat, studi kelayakan mitra, latihan wajib kelompok dan pembentukan kelompok. Setelah dilakukan sosialisasi program, maka dilakukan Studi Kelayakan Mitra (SKM). SKM dimaksudkan agar peternak yang tergabung tidak salah sasaran. Kriteria untuk menjadi mitra program yaitu peternak mustahik (yang tidak memiliki ternak) dan juga peternak tradisional. Pada tahap SKM, pendamping mendatangi rumah-rumah calon mitra untuk melihat kondisi rumah calon mitra. Calon mitra yang ingin bergabung, diwajibkan mengisi formulir yang berisi seperti tingkat pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, pengalaman beternak setelah itu pendamping yang akan menentukan apakah peternak tersebut layak menjadi mitra. Setelah tahap SKM, dilakukan juga Latihan Wajib Kelompok (LWK). Pada tahap ini peternak masih menjadi calon mitra dan diwajibkan terlebih dahulu mengikuti LWK selama lima hari. Selama proses LWK, calon mitra diberikan materi selama empat hari terkait pengenalan program, motivasi berusaha, motivasi membentuk kelompok, sistem bagi hasil, teknik dasar pemeliharaan ternak, dan lain-lain. Setelah itu, pada hari kelima calon mitra harus mengikuti ujian dari materi-materi yang telah diberikan. Selanjutnya, settelah mengikuti LWK, peternak tersebut sudah menjadi mitra
Kampoeng Ternak dan dibentuk kelompok-kelompok peternak yang beranggotakan 7-10 orang.
Kemudian, dilakukan tahap pelaksanaan. Pada tahap pelaksanaan, dilakukan pendampingan intensif. Pendamping ditempatkan selama satu tahun di daerah sasaran dan mendampingi proses pemberdayaan kelompok tersebut. Pendampingan dilakukan baik secara teknis maupun nonteknis. Setiap minggu diadakan rapat atau pertemuan kelompok, waktu pertemuan ditentukan berdasarkan kesepakatan anggota kelompok dan pendamping. Disetiap pertemuan disampaikan laporan setiap perkembangan ternak yang diperlihara oleh mitra dari perkembangan bobot badan, kelahiran, kematian dan kesehatan ternak atau kejadian lainnya. Selain memberikan laporan perkembangan ternak, pada pertemuan tersebut mitra juga diberikan materi untuk menguatkan mental dan keagamaan serta etos kerja. Selain pertemuan mingguan, dilakukan juga kontrol langsung ke kandang dan rumah peternak. Hal ini dilakukan untuk mengetahui masalah yang mungkin muncul di setiap peternak, baik masalah terkait peternakan maupun masalah individu atau keluarga. Adanya kunjungan tersebut meningkatkan kedekatan pendamping dengan peternak mitra, sehingga ketika ada permasalahan bisa dengan segera ditangani. Selama dilakukan pendampingan, program pemberdayaan ini diarahkan untuk kemandirian peternak yang pada akhirnya membentuk sebuah lembaga atau paguyuban. Pada masa mendatang, daerah-daerah program pemberdayaan diharapkan akan tumbuh menjadi sentra produksi peternakan yang berbasis pada peternakan rakyat.
Tahap terakhir yaitu monitoring dan evaluasi. Tahap ini dilakukan oleh pendamping dengan memberikan laporan perkembangan kelompok dan aktivitas yang dilakukan selama pendampingan. Laporan tersebut dibuat setiap bulan dan setiap satu tahun. Hal-hal yang dievaluasi dalam pelaporan tersebut yaitu aspek penguatan kelembagaan, pengembangan kapasitas, pengembangan usaha, pengembangan jaringan kerja, dan perkembangan teknis beternak. Pada aspek penguatan kelembagaan indikator yang dilaporkan yaitu pertemuan mitra, organisasi kelompok, kegiatan-kegiatan lembaga, peran struktur kelompok dalam menjamin kemandirian manajemen, kepercayaan pihak luar terhadap kelompok dan manfaat kelompok untuk masyarakat disekitar. Selanjutnya, pada aspek penguatan kapasitas indikator yang dilihat adalah pemahaman terhadap kelompok, peningkatan keterampilan dan sikap, serta penerapan kemampuan. Kemudian, pada aspek pengembangan usaha, indikator yang dievaluasi adalah pengembangan modal kelompok, jenis dan karakteristik usaha, skala dan pendapatan usaha, dan alokasi dana pendapatan serta pengelolaan usaha yang dilakukan. Selanjutnya, indikator yang digunakan pada aspek pengembangan jaringan kerja yaitu jumlah dan sebaran jaringan kerja, tingkat hubungan dan keeratan berjejaring serta pola kerjasama yang dikembangkan. Pada aspek perkembangan teknis berternak indikator yang digunakan yaitu teknik produksi dan reproduksi ternak serta keberadaan kader teknis.
Pelaksanaan Program Pemberdayaan di Wilayah Penelitian
Pelaksanaan program pemberdayaan Kampoeng Ternak di wilayah penelitian sudah berjalan dari tahun 2009. Program pemberdayaan pada awal mulanya berhasil membentuk empat kelompok peternak yang tersebar di tiga desa
yaitu satu kelompok peternak (Bashorun Fuadhun) di Desa Palasari Girang, dua kelompok peternak di Desa Walangsari yaitu kelompok peternak Jaya Mekar dan Gajah Lumaku serta satu kelompok di Desa Tugu Bandung yaitu kelompok peternak Tipar Jaya. Seiring dengan berjalannya waktu, program pemberdayaan peternak oleh Kampoeng Ternak bercita-cita untuk membentuk kelembagaan agar peternak mitra mampu mandiri yaitu dengan dibentuk Koperasi Peternak Riung Mukti. Koperasi ini dibentuk oleh Kampoeng Ternak pada tahun 2011. Pada tahun yang sama, dibentuk dua kelompok yaitu kelompok Panggugah Lumaku di Desa Palasari Girang dan kelompok peternak Tutugan Gunung Wayang di Desa Pulosari. Hingga saat ini, kelompok peternak yang tergabung dalam koperasi Riung Mukti terdapat enam kelompok peternak yang tersebar di empat desa (lihat Tabel 6).
Tabel 6 Jumlah kelompok dan peternak di setiap desa
Desa Jumlah Kelompok Jumlah Peternak
Palasari Girang 2 18
Walangsari 2 26
Pulosari 1 7
Tugu Bandung 1 11
Selama proses pemberdayaan berlangsung, terdapat empat pendamping dari Kampoeng Ternak yang mendampingi kelompok peternak dari awal mula terbentuk. Proses pendampingan dilakukan bersama pendamping yang menetap dan bertugas di wilayah tersebut selama satu tahun dan setiap satu tahun pendamping diganti. Hingga saat ini terdapat empat pendamping yang sudah mendampingi kelompok peternak. Selama proses pendampingan, pendamping bekerja bersama peternak, memberikan materi pengetahuan dan keterampilan kepada peternak, melakukan pertemuan kelompok dan melakukan kontrol ke lapangan langsung dengan mendatangi rumah-rumah peternak. Pada proses berjalannya program mengalami berbagai kendala seperti permasalahan dana dan kendala internal. Namun, meskipun mengalami berbagai kendala tersebut, hingga saat ini program masih tetap berjalan dan mampu membentuk koperasi sebagai lembaga yang mandiri untuk memajukan peternak yang tergabung di dalamnya.
Saat ini, program pemberdayaan sudah berjalan selama enam tahun dan sudah berhasil membentuk lembaga mandiri yaitu Koperasi Peternak Serba Usaha (KPSU) Riung Mukti. Koperasi ini dibentuk agar peternak mampu mandiri saat pendampingan dari Kampoeng Ternak tidak dilakukan secara intensif lagi. KPSU Riung Mukti sudah terbentuk selama empat tahun dan sudah melakukan tiga ART pada tiap tahunnya. Struktur organisasi koperasi terdiri atas ketua, sekertaris, bendahara, ketua divisi Pengembangan Sumber Daya Anggota (PSDA), juru ternak koperasi, hubungan masyarakat (humas), badan pengawas dan manajer/ tenaga ahli. Pengurus koperasi merupakan peternak yang terlibat dalam program pemberdayaan, sedangkan untuk manajer koperasi merupakan tenaga ahli yang merupakan pendamping program dari Kampoeng Ternak.
KPSU Riung Mukti memiliki visi yaitu menjadi koperasi yang praktis, amanah, modern, sehat organisasi, sehat usaha dan sehat mental serta unggul ditingkat nasional. Sedangkan, misi yang dimiliki KPSU Riung Mukti yaitu sebagai berikut; (1) taat dan patuh terhadap Al qur’an dan Hadits rosulullah SAW,
Undang-undang Perkoperasian serta peraturan pelaksanaannya, peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan melaksanakan amanah keputusan rapat anggota; (2) memotivasi anggota secara mandiri untuk meningkatkan harkat derajat sendiri, sekaligus mengangkat citra KPSU Riung Mukti;; (3) meningkatkan kopetensi sumber daya KPSU Riung Mukti; (4) melaksanakan tata kelola KPSU Riung Mukti yang baik, efektif, dan efisien; (5) menjadi laboratorium KPSU Riung Mukti di tingkat kecamatan; (6) mengimplementasikan inovasi, ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan.
Karakteristik Responden
Peternak yang dijadikan responden dalam penelitian ini diambil dari lima kelompok peternak yang terdapat di empat desa, yaitu dua kelompok peternak di Desa Palasari Girang, satu kelompok peternak di Desa Walangsari, satu kelompok peternak di Desa Pulosari dan satu kelompok peternak di Desa Tugu Bandung. Kondisi peternak mitra yang menjadi sampel dalam penelitian ini memberikan pengaruh yang sangat berarti dalam melakukan kegiatan usaha peternakannya. Adapun karakteristik responden yang menjadi pokok utama dalam pengamatan ini adalah usia, pendidikan, pengalaman beternak dan jumlah tanggungan keluarga.
Usia
Hasil survei di lapangan menunjukkan bahwa usia peternak mitra berkisar antara 25 tahun hingga 70 tahun. Dilihat dari rata-rata usia peternak mitra yang menjadi sampel dalam penelitian ini maka dapat digolongkan bahwa para responden tersebut masih termasuk dalam kelompok usia produktif. Untuk lebih rincinya lagi pembagian responden berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Jumlah dan persentase responden berdasarkan kelompok umur
No Golongan Umur (Tahun) Jiwa (n) Persentase (%)
Usia Produktif 36 90.0 1 25-29 2 5.0 2 30-34 2 5.0 3 35-39 7 17.5 4 40-44 8 20 5 45-49 7 17.5 6 50-54 6 15.0 7 55-59 3 7.5 8 60-64 1 2.5 Usia Nonproduktif 9 65+ 4 10.0 Total 40 100.0
Tabel 7 menunjukkan bahwa mayoritas usia responden umumnya berada pada kisaran 35-39 tahun dan 40-49 tahun. Sebanyak 90% petani sampel termasuk dalam kategori usia kerja atau usia produktif. Sedangkan 10% lainnya termasuk dalam kategori bukan usia kerja atau usia nonproduktif. Penduduk usia kerja atau usia produktif didefinisikan sebagai penduduk yang berada pada rentang usia 15- 64 tahun.
Berdasarkan data tersebut, dapat dikatakan bahwa mayoritas (90%) responden dalam penelitian ini termasuk dalam ketegori usia produktif. Hal ini mengindikasikan bahwa peternak mitra tersebut masih memiliki kemampuan fisik untuk bekerja dan melakukan tanggung jawab sosial untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Pendidikan
Tingkat pendidikan peternak mitra akan mempengaruhi cara berpikir peternak dalam berpikir dan bertindak. Semakin tinggi pendidikan peternak maka akan semakin cepat pula peternak mampu menyerap dan memanfaatkan teknologi dalam mengembangakan usaha peternakannya dan mampu memanfaatkan peluang-peluang yang ada untuk memajukan usahanya. Sebaliknya, jika pendidikan tergolong rendah, umumnya akan sulit menerima teknologi-teknologi baru dalam mengembangkan usaha peternakannya dan kurang mampu memanfaatkan peluang yang ada untuk memajukan usaha peternakannya, dan kalaupun bisa diperlukan suatu upaya penyadaran dan pemampuan dengan memberikan pelatihan dan pemahaman kepada peternak.
Hasil survei di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan responden dalam penelitian ini masih tergolong rendah dan belum memenuhi wajib belajar sembilan tahun. Untuk lebih rinci lagi dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan
No Tingkat pendidikan Jumlah (n) Frekuensi (%)
1 Tidak Sekolah 1 2.5 2 SD 32 80.0 3 SMP 3 7.5 4 SMA 3 7.5 5 PT 1 2.5 Total 40 100.0
Tabel 8 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden adalah tidak sekolah, tamat Sekolah Dasar (SD), tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP), tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Perguruan Tinggi (PT). Berdasarkan Tabel 8, sebanyak 80% atau 32 responden hanya sampai pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), tiga responden (7,5%) tamat SMP dan SMA, serta 1 responden tidak sekolah dan jenjang pendidikan yang paling tinggi yaitu